Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Tuesday, January 24, 2017

Mewujudkan Islam Rahmatan lil al-'Alamin



Mewujudkan  Islâm Rahmat[an] li al-‘Alamîn


Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad[1] untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, diri dan sesamanya.[2]Karena itu, Islam adalah agama yang sempurna, dan mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Kita pun diperintahkan oleh Allah SWT agar memeluk Islam secara kaffah, tidak setengah-setengah:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[سورة البقرة: 208]

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(Q.s. al-Baqarah [02]: 208)

Sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT, Dzat yang Maha Sempurna, maka Islam diturunkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Allah SWT menegaskan dalam kitab suci-Nya:

﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ[سورة الأنبياء: 107]

“Kami tidak mengutus Kamu [Muhammad], kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Q.s. al-Anbiya’ [21]: 107)

Ayat ini, menurut al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, rahimahu-Llah menjelaskan, bahwa tujuan diutusnya Rasulullah saw. adalah agar risalahnya menjadi rahmat bagi manusia. Konsekuensi menjadi “rahmat bagi manusia”, maka risalah ini diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashalih] mereka, dan mencegah kemafsadatan [dar’u al-mafasid] dari mereka.[3]

Meskipun tampak ayat ini menjelaskan, bahwa menjadi “rahmat” [rahmat[an]] adalah tujuan [ghayah], namun tujuan syariat Islam untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashalih] bagi manusia, dan mencegah kemafsadatan [dar’u al-mafasid] dari diri mereka dalam konteks ayat ini tidak terletak pada satu per satu hukum, melainkan syariat Islam sebagai satu kesatuan. Karena itu, terwujudnya kemaslahatan [jalb al-mashalih], dan tercegahnya kemafsadatan [dar’u al-mafasid] dalam konteks ini tidak bisa disebut sebagai ‘illat[alasan hukum] disyariatkannya hukum syariah.

Dengan kata lain, terwujudnya kemaslahatan [jalb al-mashalih], dan tercegahnya kemafsadatan [dar’u al-mafasid] merupakan hasil dari penerapan syariat Islam secara kaffah, bukan ‘illat[alasan hukum] disyariatkannya hukum syariah. Hasil [natijah] jelas berbeda dengan alasan [sabab] disyariatkannya hukum. Sebab, hasil merupakan konsekuensi dari penerapan syariah, sedangkan alasan disyariatkannya hukum ada sebelum hukum tersebut disyariatkan dan menyertainya setelah hukum itu ada. Bukan hasil yang menjadi konsekuensi dari penerapannya.[4]

Terjaganya agama [hifdz ad-din], jiwa [hifdz an-nafs], akal [hifdz al-‘aql], harta [hifdz al-mal], keturunan [hifdz an-nasl], kehormatan [hifdz al-karamah], keamanan [hifdz al-amn] dan negara [hifdz ad-daulah] yang nota bene merupakan kemaslahatan bagi individu dan publik, misalnya, bisa disebut sebagai hasil penerapan syariah. Semuanya itu juga tidak bisa diwujudkan sendiri-sendiri, tetapi harus diwujudkan dalam sistem syariah secara kaffah. Sebagai contoh, hukum potong tangan tidak bisa diterapkan sendiri, agar harta terjaga, sementara problem kemiskinan dan ketimpangan ekonomi tidak diselesaikan dengan sistem ekenomi syariah. Sedangkan sistem ekonomi syariah, dan hukum potong tangan tidak bisa dijalankan, kecuali di dalam Negara Khilafah.

Karena itu, kerahmatan Islam bagi alam semesta [Islâm rahmat[an] li al-‘âlamîn] merupakan konsekuensi logis dari penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Bukan Islam yang hanya diambil sebagai simbol, slogan, asesoris dan pelengkap “penderita” yang lain. Bukan Islam yang hanya diambil ajaran spiritual dan ritualnya saja, sementara ajaran politiknya ditinggalkan. Saat yang sama, paham politiknya diambil dari Kapitalisme maupun Sosialisme, yang nota bene bertentangan dengan Islam.

Inilah Islâm rahmat[an] li al-‘âlamînyang sesungguhnya. Islam sebagaimana yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya, Muhammad saw. Islam yang benar-benar pernah diterapkan selama 14 abad di seluruh dunia. Memimpin umat manusia, dari Barat hingga Timur, Utara hingga Selatan. Di bawah naungannya, dunia pun aman, damai dan sentausa, dipenuhi keadilan. Muslim, Kristen, Yahudi, dan penganut agama lain pun bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai selama berabad-abad lamanya.

Oleh karena itu sudah waktunya kita berpaling dari sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan dan dipaksakan oleh penjajah dan antek-anteknya kepada kaum muslimin, kembali  kepada Islam yang telah Allah jadikan  sebagai solusi  bagi setiap  permasalahan kaum muslimin. Hal ini  ditegaskan  dalam ayat berikut :
tPöqtƒur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøŠn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& ( $uZø¤Å_ur šÎ/ #´Íky­ 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4 $uZø9¨tRur šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uŽô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ  
89. (dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS an-Nahl (16) : 89 )

Menurut Al-Jazairi (II/84), frasa  tibyan(an) li kulli syay(in)  bermakna menjelaskan  segala sesuatu  yang  dibutuhkan oleh umat. Ayat di atas juga  menegaskan bahwa Al-Quran merupakan petunjuk ( hud(an) ),  rahmat (rahmat(an) ),  dan  Sumber kegembiraan (busyra) bagi umat.

Begitulah Islâm rahmat[an] li al-‘âlamîn, yang telah terbukti membawa kerahmatan bagi seluruh alam. Inilah Islam yang dirindukan oleh umat manusia untuk kembali memimpin dunia. Membebaskan umat manusia dari perbudakan dan penjajahan oleh sesama manusia. Menebarkan kebaikan, keadilan dan kemakmuran di seluruh penjuru dunia. Islam yang hidup sebagai peradaban di tengah umat manusia, diterapkan, dipertahankan dan diemban oleh umat manusia di bawah naungan Khilafah Rasyidah.
( Spiritual Motivator – DR.N. Faqih Syarif H, M.Si  Penulis Buku Al-Quwwah ar ruhiyyah – Kekuatan Spirit Tanpa Batas. www.faqihsyarif.com )



[1]     Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’: ‘Arabi-Injelisi-Inransi, Dar an-Nafa’is, Beirut, cet. I, 1426 H/1996 M, hal. 48.
[2]     Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzam al-Islam, Dar al-Ummah, Beirut, edisi Muktamadah, cet. VI, 1422 H/2001 M, hal. 70.
[3]     Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz’u at-Tsalits, Dar al-Ummah, Beirut, edisi Muktamadah, cet. III, 1426 H/2005 M, hal. 381.
[4]     Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz’u at-Tsalits, Dar al-Ummah, Beirut, edisi Muktamadah, cet. III, 1426 H/2005 M, hal. 381.

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co