Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Tuesday, June 21, 2016

Menjadi Pribadi yang besar.



Menjadi Pribadi yang besar
Pribadi yang besar adalah pribadi yang memiliki disiplin diri. Simbol kesiapan mental  seseorang menghadapi tantangan  yang terus berlaku dan berliku. Dan tantangan  hidup  adalah  untuk  dihadapi, bukan dikeluhkan. Berkeluh  tidak berfungsi apa-apa, jika tidak dilanjuti kesiapan  menghadapinya. ( The power of spiritual, 2016)
Sobat, disiplin diri  adalah  penolakan  akan  kegembiraan  sesaat demi  memperoleh  sesuatu yang  jauh lebih baik. Disiplin  berarti  menolak  menikmati  kesenangan  dan kepuasan sesaat  demi  tercapainya  peluang baik  atau  penghargaan yang jauh lebih  penting dan  lebih berharga di masa  depan. Disiplin diri  adalah  kemampuan  mengatasi  sulitnya  mengulangi  sebuah  aktivitas  secara  terus-menerus  sampai keahlian  atau  kemampuan  anda  meningkat.

Sobat, pribadi yang besar itu adalah pribadi yang senantiasa memupuk rasa syukur dalam kehidupannya. Rasa  syukur itu ditunjukkan dengan  meningkatkan kinerja kita. Kita terus mengembangkan usaha kita  dengan tetap besandar  kepada nilai-nilai  ajaran agama. Harapan kita,  Allah  terus menambah  nikmat kita,  sehingga kita bisa  berbuat lebih banyak kepada  sesama. Imam Al-ghazali  menjelaskan bahwa syukur itu  meliputi tiga hal : Pertama. Syukur qalbi, mengakui  nikmat-nikmat Allah  dan  mencintai-nya. Kedua. Syukur  lisan,  memuji Allah  atas  segala  karunia-Nya. Dan ketiga. Syukur Jawarih, menggunakan  nikmat  dalam  rangka  memperoleh  keridhoan-Nya.

Sobat, adapun ciri-ciri pribadi yang  besar selanjutnya adalah sebagai berikut :
·         Siap  menghadapi tantangan  hidup.  Keruwetan dan tantangan bukan ia  hindari, tapi  ia hadapi. Ia selesaikan, bukan  sekedar ia keluhkan. Memang adakalanya  berkeluh, tapi  keluh  itu dibarengi  sharing, dialog,  dan tukar  pikiran  untuk  menemukan  jalan  penyelesaian.
·         Mau  menghadapi  resiko.  Level tinggi dalam agama maupun  karier, selalu  berbanding   lurus  dengan  resiko  yang  semakin  tinggi. Itulah  rahasia para nabi  dan utusan, selalu  menghadapi resiko yang tinggi. Zakaria  digergaji, Yahya  disembelih, Isa  diburu, untung Allah  menyelamatkan, Nabi Muhammad dikatakan  tukang  sihir  dan pemecah belah umat dan kaum Quraisy,  gigi  serinya  dipatahkan, dan seterusnya. Demikian  pula dalam  bisnis, jualan kecil-kecilan, resikonya tidak besar, namun  untungnya  juga kecil-kecilan.
·         Toleran  terhadap  kegagalan. Gagal adalah biasa. Yang tidak biasa  ialah gagal  kemudian tidak bangkit lagi.  Mula-mula Rasulullah  gagal  dakwah  di Makkah, hingga  beliau hijrah ke madinah. Gagal di thaif, hingga ia  panjatkan doa  agar Allah  munculkan   keislaman  dari cucu-cucu  kaum  yang didakwahinya.  Dalam  bisnis juga demikian, tak  selamanya  bisnis  untung. Untung rugi  adalah biasa.  Yang menjadi tragedi  ialah  jika  sekali bangkrut, kemudian trauma, lantas  tak  mau  berbuat.
·         Mempunyai  Visi, Misi dan cita-cita yang besar.  Kata saydina Ali , “ Siapa  yang cita-citanya mulia, kualitasnya agung.” Jadilah  seseorang  yang kakinya di sebuah bintang dan impiannya di bintang lain. Tidaklah manusia  menjadi  beda , selain  karena impiannya. Siapa yang impiannya tinggi, martabatnya berakhir tinggi. Tentu bukan  sekedar   cita-cita  semata, namun  terus memantaskan diri  dengan  amaliah nyata, dengan  penuh  kesungguhan, kegigihan,  berkali-kali  dan tak  patah  arang.
·         Suka  dialog  dan  bergaul   dengan  orang-orang yang  berjiwa  besar. Kegemaran  bergaul  dengan  orang  yang berjiwa besar, menjadikannya  termotivasi  untuk  menaklukkan  tantangan. Bukan  menghindari tantangan. Dan itulah  rahasia  mengapa Nabi  menganjurkan untuk  duduk  dengan  orang shalih. Umar bin Khattab mengatakan, “Kalau  bukan  karena  tiga hal, aku lebih baik mati saja, pertama, aku  berjihad fi sabilillah, kedua,  aku  tundukkan  kepalaku  untuk  bersujud, ketiga,  bergaul   dengan  orang shalih dan  mendengarkan majelis  mereka.

Sobat, di penghujung  tulisan  yang singkat ini, kami kemukakan nasehat  Malik bin Anas ra, “ Jagalah  moralitas  mulia dan kemuliaan, dan hindari moralitas  rendahan  yang  murahan, sebab Allah  menyukai moralitas  mulia dan  membenci  segala kerendahan.”  Syukuri  waktu  yang  masih  diberikan Allah  kepada  kita untuk tetap bisa  menjalani serta melanjutkan aktivitas kehidupan.

Sobat, yakinlah, bahwa  setiap  momen kehidupan  yang kita  alami, jalani, dan rasakan  adalah  momen  penting  yang  memiliki nilai dan makna. Baik  ataupun  buruk  momen kehidupan  yang kita lalui, di dalamnya  tersimpan pelajaran  berharga  bagi  kehidupan kita  selanjutnya. Hanya dengan cara  seperti  ini, yaitu  menikmati  setiap momen  dalam hidup kita, perasaan  bersyukur  akan  dapat  kita wujudkan.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa !
( Spiritual Motivator – DR. N. Faqih Syarif H,M.Si. Penulis buku The Power of Spirituality-Meraih Sukses Tanpa Batas. www.faqihsyarif.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co