Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Thursday, April 28, 2016

Bangkitkan Spiritualitas Anda & Nikmati perjalanannya !



Bangkitkan Spiritualitas Anda & Nikmati Perjalanannya.
Sobat, kita diberikan 86.400 detik  setiap  hari. Waktu ini  tidak dapat digantikan esok hari. Sekali detik-detik  tersebut hilang, mereka  akan  hilang selamanya. Maka  manfaatkan  setiap  detik sebaik-baiknya. Ingatlah kata-kata  tanpa tindakan tiada artinya; Lakukan sesuatu!
Salam Dahsyat dan Luar biasa ! ( Faqih Syarif, 2016 )

Sobat, saat  mengisi penutupan Peningkatan Tupoksi dan Penguatan Manajemen Strategis 26 april 2016. Dinas Perhubungan dan DLLAJ Provinsi Jatim angkatan ke-3 Jalan A.Yani. Saya menyampakan materi layaknya  pola sepak bola 1-3-4-3 yaitu ; 1 bangun etos kerja dengan kekuatan Iman. Pantaskan diri dengan kerja Profesional meliputi 3 hal expert, etos kerja yg tinggi dan amanah. Bergerak dgn 4-ON. Vision, Action, Passion dan Collaboration. Terus tingkatkan kompetensi dg 3 hal; knowledge,skill, dan character. Beberapa sudah saya  bahas  di SMART  88.9 FM Surabaya untuk merefresh lagi.
Kali ini  saya  akan  membahas aspek yang pertama yaitu  bangun etos kerja dengan kekuatan Iman. Iman  itu bukan sekedar percaya tetapi yakin  akan  adanya Allah dan Pertolongan-Nya serta rela ridho dan taat kepada-Nya.  Bagaimana  kita  membangkitkan Spiritualitas  kita :
  1.  Lihatlah  dengan  “mata hati”  kita. Setiap  menghadapi persoalan hidup atau  mau melakukan sesuatu  hendaknya  kita menjadikan Aqidah menjad landasan berfikir ini benar atau salah? Apakah ini  sesuai dengan keridhoan Allah atau tidak?
  2. Terbukalah  dengan  intuisi  pengalaman indera keenam. Seringkali kita  mendapat pelajaran dan hikmah  yang berharga dari Allah  melalui suatu kejadian yang itu  membuat  pengalaman spiritual yang membahagiakan  yang tidak bisa diukur dengan  materi.
  3. Kita  semua  tertawa dan  menangis  dalam  bahasa  yang sama. Artinya  nikmati dan jangan terlalu gembira dan juga jangan terlalu bersedih itulah rona-rona  kehidupan yang mesti kita jalani.
  4. Hapuslah  “debu”   dari  “Cermin”. Sering-seringlah  kita  melakukan  muhasabah  diri. Kata Umar bin Khaththab, “Hisab-hisablah dirimu, sebelum datangnya yaumul hisab.”
  5. Ciptakan  keseimbangan  dengan  memberi waktu  untuk terus membangun spiritualitas / kedekatan diri kepada Allah SWT  dalam  hari-hari  kita. Kehidupan  adalah  misteri yang  harus  dijalani, bukan  untuk dipecahkan. Nikmatilah  ketidaktahuan, di situlah Allah senantiasa  hadir.
  6. Berikan  nilai spiritual  pada  tugas-tugas atau pekerjaan kita. Sholat dan kontemplasi akan  mengembalikan  kita  pada  alam sejati.
  7. Pada  akhirnya, kita  semua  akan  mati  dan menghadap Allah. Apa  yang sudah kita persiapkan ketika nanti  menghadap  ke  haribaan-Nya.  Layaknya  aroma  bunga, walau  tidak terlihat  tetapi ada,  begitu pula  jiwa yang ada  pada setiap orang. Jalani hidup  kita  sepert yang  kita harapkan saat kita sekarat.
Sobat, kita  hidup di dunia ini  ada di antara  dua titik yakni  titik kelahiran  dan titik  kematian   dan di situlah ladang  amal shalih di mana Allah  banyak  mengundang kita  untuk  melakukan  kebajikan  sebagai  bekal hidup  setelah  mati.
Sobat,  nikmati  perjalanannya. Hari ini adalah  takdir kita. Tak ada hari kemarin  atau esok lakukan yang terbaik hari ini.  Waktu akan  berkembang jika  kita  menjalani setiap saatnya.
Sobat, bukanlah apa  yang kita  miliki, melainkan jati diri kita. Lakukan satu hal pada satu waktu, dan nikmatilah. Hidup  itu  singkat,  bagaikan  kedipan mata. Setiap  saat  merupakan  berkah  yang tak terhingga nilainya.
Sobat, kubur  kesedihan  kita dalam pasir. Saatnya  untuk  berbahagia , sekarang. Mulailah  kembali  hari-hari  yang segar. Kita tidak bisa  mentransfer  86.400  detik hari ini ke masa depan. Kebahagiaan  bukanlah  tujuan, melainkan  sebuah proses. Jangan  menunggu  hingga  saat yang tepat  untuk bahagia.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa !
( Spiritual Motivator – DR. N.Faqih Syarif H, M.Si.  Penulis  Buku The Power of Spirituality- Meraih Sukses Tanpa Batas. www.faqihsyarif.com )

Tuesday, April 19, 2016

Jangan Sampai Kehilangan Harapan !



Jangan sampai kehilangan Harapan !
Hidup  ibarat  berselancar. Ketika Anda  terjebak  dalam zona dampak ( impact zone), anda  perlu bangun  dan bersiap karena anda tidak pernah tahu apa yang ada dalam ombak berikutnya....

Sobat,  mungkin  pernah anda melihat atau mendengar mengenai kisah Helen Keller sejak umur 8 tahun dia mengalami cacat; buta, tuli, dan bisu yang dia  terus maju melangkah dan akhirnya  bisa  memberikan inspirasi ke seluruh dunia. Ada kunci rahasia keberhasilan dia dalam kisahnya yaitu semangat, optimisme dan percaya diri yang luar biasa.

Sobat, dia  memiliki seorang guru yang luar biasa dan mengasihinya tanpa syarat dialah Anne sullivan. Kasih sayang Anne kepada Helen  memang luar biasa. Ia benar-benar  sahabat  sejati  yang  mencurahkan kesabaran,ketulusan, pengertian, penghayatan, energi dan waktu, serta keseluruhan hidupnya  untuk  membuat helen  berdaya, menjadi manusia  seutuhnya  yang bisa memberikan inspirasi  kepada manusia di seluruh dunia melampaui zamannya sendiri.

Sobat, kasih adalah  kunci kesuksesan dari setiap orang di dunia ini. Pertanyaannya, siapakah  yang telah  memberikan kasih yang tanpa syarat  kepada anda sampai anda bisa  menjadi orang  yang sukses seperti sekarang ini?

Bagi saya, orang tersebut pertama-tama adalah kedua orang tua saya lebih-lebih almarhum ibunda.  Merekalah  yang  telah  berjuang  dengan keringat  dan air  mata  untuk membesarkan saya, mendidik, memaklumi saya, mengasihi dengan penuh kasih, dan  memahami saya. Dan alhamdulillah perjuangan mereka  membuahkan hasil seperti yang bisa  saya nikmati sekarang ini. Semua keberhasilan, saya kembalikan  kepada  mereka dan semoga Allah akan  memuliakan mereka di akherat  sebagaimana mereka telah memuliakan saya di dunia ini.

Sobat, kembali kita belajar dari kisah Hellen Keller selain kasih di atas, yang menarik  dari Helen Keller ini adalah Optimisme. Kita bisa lihat pengertian optimisme menurut Helen Keller : “ Optimism is  the  faith that leads  to achievement. Nothing can be done without hope  and  confidence.”  Optimisme adalah keyakinan yang  mengarahkan  kita  kepada pencapaian. Tidak ada hal  apapun  yang  bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan.

Sobat, dari pernyataan Helen ini kita bisa ambil kesimpulan bahwa optimisme itu terdiri dari dua unsur yaitu pertama adalah Harapan dan kedua adalah keyakinan diri.  Tentu saja dalam hal ini kita berharap  kepada sesuatu yang bisa  membantu kita, dan sesuatu  itu harus  lebih besar dan kuat daripada diri kita sendiri. Semakin lebih  besar  sesuatu itu dibandingkan dengan diri kita, maka  harapan  kita  akan  menjadi  lebih besar. Kalau demikian, maka harapan  itu seharusnya tidaklah sekedar  digantungkan pada orang lain yang lebih besar daripada kita. Tetapi harus digantungkan  pada Yang Maha Besar yaitu Allah SWT. Dan unsur yang kedua dari optimisme yang juga tidak kalah penting adalah  keyakinan diri.

Sobat, Menurut saya  keyakinan dan kepercayaan diri ini adalah hal yang sangat penting. Ketika kita hanya  mengandalkan kekuatan di luar kita, tetapi  tidak percaya pada kekuatan diri sendiri maka kita  tidak  akan  berjalan  ke mana-mana, dan otomatis  nasib kita juga tidak pernah  berubah.

Sobat, bayangkan  orang  yang  menderita sakit parah. Dia percaya bahwa Tuhan  pasti akan  bisa  menyembuhkannya. Tetapi dia tidak melakukan upaya  apapun  yang dibutuhkan karena  tidak  yakin  bahwa ia bisa memperbesar  peluangnya  untuk sembuh. Jadi dia  hanya  memiliki hope tetapi tidak  mempunyai  confidence. Tentu saja hal ini tidak bisa disebut  sebagai  opitmisme.

Jadi Rumus Optimisme adalah :  Optimism = Hope x Confidence,  sedangkan Hope = Believe in  God.   Dan Confidence = Believe in yourself. Dan jangan  lupa  sobat, Believe in God  harus   muncul  lebih  dulu  daripada Believe in yourself.

Sobat, “karakter  tidak dapat  dibangun dalam  kemudahan dan kesunyian. Hanya melalui  pengalaman  dalam  mencoba dan melalui penderitaanlah jiwa bisa diperkuat, ambisi bisa ditularkan dan  sukses bisa dicapai.” Kata-kata Helen Keller  yang layak kita hayati. Pernyataan Helen ini  menggambarkan  mengenai  perjuangan  hidupnya  yang luar biasa yang  perlu juga kita teladani. Yaitu bahwa  apapun  yang terjadi kita harus terus  melakukan  sesuatu  karena hanya  dengan  melakukan sesuatu kita  akan  beroleh  pengalaman. Pengalaman terutama  pengalaman yang pahit  akan  memperkuat jiwa kita.

Sobat, iman adalah sesuatu  yang  mudah dikatakan – bukankah semua orang  akan  mengatakan  bahwa  dirinya  beriman kepada Allah? Tetapi  iman  sesungguhnya  bukanlah  apa  yang dikatakan  tetapi  apa  yang  kita  yakini, apa yang tersimpan  jauh di dalam diri kita. Iman  adalah suatu  kekuatan dahsyat  yang dapat  mengubah  apapun,  serta  membuat  yang tidak mungkin  menjadi  mungkin.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !

( Spiritual Motivator – DR. N. Faqih Syarif H, M.Si. Penulis  buku The Power  of Spirituality – Meraih Sukses Tanpa Batas. Pengasuh tetap  acara Thank God Tommorow  is Friday tiap kamis jam 17.00 -18.00 hanya di Radio SMART 88.9 FM Surabaya. www.faqihsyarif.com )

Saturday, April 16, 2016

Syariah Islam Menjaga Aqidah Umat dan Kebutuhan Rakyat



SYARIAH ISLAM MENJAGA AQIDAH UMMAT DAN KEBUTUHAN RAKYAT

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw. dengan membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Seluruh interaksi antarmanusia diatur sedemikian rupa oleh syariah Islam sehingga bisa mewujudkan kebahagian bagi manusia dan harmoni seluruh alam semesta. 
Wujud kerahmatan Islam itu bisa tampak manakala Islam diterapkan secara sempurna (kâffah) dalam Negara Khilafah. Umat, baik secara individu dan berjamaah, akan terlindungi oleh Islam. Sebaliknya, jika umat tidak dijaga dengan penerapan syari’at oleh Negara Khilafah, maka kondisi umat menderita di dunia dan di akheirat akan terancam dengan siksa neraka.
Bagaimana gambaran penjagaan Negara Khilafah terhadap rakyatnya tersebut? Berikut ini akan diberikan beberapa contoh gambaran penjagaan Negara Khilafah terhadap berbagai aspek kehidupan rakyatnya.

1. Negara Khilafah Menjaga Aqidah Umat.
Aqidah atau keimanan adalah perkara yang sangat penting bagi umat Islam. Karena, ia akan menentukan surga atau nerakanya seseorang. Masalahnya adalah, seseorang yang telah memeluk aqidah Islam, tidak ada jaminan bahwa ia akan terus memeluk Islam hingga meninggal dunia.
Keimanan seseorang bisa naik, bisa juga turun. Bahkan, iman seseorang juga bisa tercerabut dari dalam dirinya. Oleh karena itulah, keimanan seseorang, bahkan keimanan dari ummat Islam secara keselurhan itu perlu dijaga. Siapa yang mampu menjaga iman, baik secara individu, dalam keluarga, masyarakat, bahkan untuk seluruh umat Islam? 
Islam telah memiliki mekanisme penjagaan yang berlapis untuk melindungi aqidah umat Islam secara keseluruhan. Penjagaan yang pertama dan yang utama akan diberikan oleh Negara Khilafah.
Mengapa Negara Khilafah wajib menjaga aqidah umatnya? Peran Negara Khilafah dalam menjaga aqidah ummatnya harus dipandang sebagai wujud cinta dan kasih sayang yang tinggi, agar jangan sampai ada (walaupun hanya satu) dari ummatnya ada yang tersentuh api neraka. Jangan sampai ada yang keimanan dari umat ini terus mengalami kemerosotan, bahkan keluar (murtad) dari agama Islam. Sebab, jika manusia itu sampai mati dalam keadaan kafir, maka dia akan bisa masuk neraka untuk selama-lamanya, sebagaimana Firman Allah SWT:
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS al=Baqarah [2]: 217).

Bagaimana cara Negara Khilafah menjaga aqidah umatnya? Ada beberapa cara yang harus dilakukan Negara Khilafah dalam menjaga aqidah umatnya, diantaranya adalah:

1. Pemahaman dan pembinaan Islam akan terus diajarkan dan ditanamkan secara formal di seluruh jenjang pendidikan oleh Negara Khilafah.
2. Pemahaman dan pembinaan Islam juga akan terus didakwahkan oleh Negara Khilafah melalui berbagai media, tempat ibadah, majlis ta’lim, dan lain-lain yang ada di tengah-tengah masyarakat.
3. Negara Khilafah juga akan terus mendorong kepada seluruh kaum muslimin untuk berperan aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar, agar aqidah dan pemahaman Islam di tengah-tengah masyarakat dapat terus terjaga.
4. Aqidah dan pemahaman ummat Islam Insya Allah juga akan dapat terus terjaga dengan penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari oleh Negara Khilafah, sehingga akan nampak keagungan dan kemuliaan Islam di mata ummat.
Oleh karena itu, jika semua upaya telah dilakukan oleh Negara Khilafah, tetapi masih ada juga yang mencoba murtad dari Islam, maka hukumannya tidak main-main. Jika ada orang Islam yang mencoba murtad, mengaku sebagai nabi, atau menistakan Islam dan syariahnya, maka hukumannya adalah akan dibunuh. Nabi saw. bersabda:
Siapa saja yang murtad dari agamanya, bunuhlah! (HR at-Tirmidzi).

Cara Islam ini akan menjadi semacam imunitas bagi seluruh kaum Muslim. Dengan cara ini pula pemurtadan akan menghadapi tembok tebal. Virus kemurtadan yang ingin ditularkan oleh orang-orang murtad seperti saat ini tidak akan terjadi. Mengapa? Karena tak akan ada orang murtad yang hidup dan menjadi misionaris. 
Penjagaan Negara Khilafah yang luar biasa terhadap agama ini tidak akan memungkinkan munculnya aliran-aliran sesat, seperti yang terjadi di negeri ini. MUI Pusat mencatat ada lebih dari 300 aliran sesat di Indonesia. Tidak mungkin ada Gafatar yang menipu ribuan orang dengan nabi palsunya. Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya juga tidak akan bisa hidup dan menyebarkan ajaran sesatnya seperti sekarang. Negara Khilafah pasti akan menghentikan dan menghabisi ajarannya sampai ke akar-akarnya. 
Penjagaan Negara Khilafah atas agama ini pun tidak akan memungkinkan munculnya orang-orang liberal yang merusak Islam dari dalam. Khilafah akan menghentikan mereka sebelum mereka menyebarkan pemikiran rusak dan sesat mereka. Negara Khilafah tak akan memberikan ruang sedikitpun bagi pemikiran Barat (liberalisme, sekularisme, pluralisme dan kapitalisme) berkembang di dunia pendidikan. Penistaan terhadap Islam, al-Quran dan Nabi  saw. juga tidak akan muncul. Syariah Islam telah memiliki sejumlah sanksi keras atas penistaan ini.  
Selain menjaga aqidah orang yang sudah beraqidah Islam, negara khilafah juga mengajak pemeluk aqidah lainnya untuk masuk Islam. Negara mendakwahi mereka dan menjelaskan kebenaran aqidah Islam serta kebatilan aqidah selainnya. Dengan begitu, diharapkan mereka mau meninggalkan aqidah kufur mereka dan meyakini Islam dengan sukarela dan kemauan sendiri. 
Kendati demikian, mereka tidak boleh dipaksa untuk masuk Islam. Allah SWT berfirman: 
﴿لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ﴾ 
Tidak ada paksaan dalam memeluk agama [Islam] (QS al-Baqarah [2]: 256).

Jika mereka mau tunduk hukum hukum Islam dan membayar jizyah sebagai bukti kesediaanya menjadi kafir dzimmi, maka darah, harta, dan kehormatannya pun dilindungi. Nabi saw. bersabda: 
كَتَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ، أَنَّهُ مَنْ كَانَ عَلَى يَهُودِيَّةٍ أَوْ نَصْرَانِيَّةٍ، فَإِنَّهُ لا يُفْتَنُ عَنْهَا، وَعَلَيْهِ الْجِزْيَةُ 
Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Yaman, bahwa siapa saja yang tetap memeluk Yahudi atau Nasrani, dia tidak boleh dihasut [untuk meninggalkan agamanya], dan dia wajib membayar jizyah (HR Ibn Hazm dalam kitabnya, Al-Muhalla).
Ketentuan ini dipraktikkan sejak masa Nabi saw. Di Madinah ketika itu hidup beberapa komunitas berbeda yakni Islam, Yahudi, dan orang-orang musyrik. Demikian pula kekuasaan Islam meluas ke seluruh Jazirah Arab, terdapat komunitas Nasrani di Najran. Kondisi itu terus berlangsung hingga masa Khilafah di sepanjang masa keberadaannya. Ketika Islam berkuasa di Spanyol, Islam bisa mengayomi Nasrani dan Yahudi sehingga saat itu Andalusia dikenal dengan sebutan negara dengan tiga agama. Pengakuan Islam terhadap pluralitas masyarakat ini tentu saja tidak lepas dari ajaran Islam itu sendiri. 


2. Negara Khilafah Menjamin Kebutuhan Rakyat
Selain menjaga aqidah, Negara Khilafah juga wajib menjamin kebutuhan seluruh rakyatnya. Jangan sampai ada sebagian rakyat yang ada dalam Negara Khilafah yang hidup dalam kondisi yang miskin, tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara sebagian yang lain hidup dalam kondisi yang kaya raya, dengan harta yang sangat berlimpah, sebagaimana yang terjadi pada saat ini. 
Allah SWT telah memerintahkan kepada Penguasa Islam untuk mengatur ekonomi negaranya agar seluruh rakyat dapat memenuhi kebutuhannya, bahkan seluruhnya dapat hidup dalam keadaan yang makmur makmur dan sejahtera. Allah SWT berfirman:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ ﴿٧﴾
Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu (QS al-Hasyr: 7).

Bagaimana cara Khilafah menjamin agar harta kakayaan itu dapat terdistribusi secara adil di tengah-tengah manusia? Peran Negara Khilafah yang penting dalam mewujudkan hal itu adalah dengan menerapkan konsep kepemilikan dalam Islam yang membagi kepemilikan menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Kepemilikan individu, yaitu hukum syara' yang berlaku bagi zat atau manfaat tertentu, yang memungkinkan bagi yang memperolehnya untuk memanfaatkannya secara langsung atau mengambil kompensasi (iwadh) dari barang tersebut.
2. Kepemilikan umum, yaitu ijin Asy-Syari’ kepada suatu komunitas untuk bersama-sama memanfaatkan suatu benda. Contohnya adalah: pertambangan, minyak bumi, gas, kehutanan dsb.
3. Kepemilikan negara, yaitu harta yang tidak termasuk kategori milik umum melainkan milik individu, namun barang-barang tersebut terkait dengan hak kaum muslimin secara umum. Contohnya adalah: jizyah, kharaj, ghanimah, fa’i, ‘usyur dsb.

Individu-individu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, telah diatur mekanismenya dalam Islam. Peran negara adalah menjaga dan mengatur agar urutan pemenuhan kebutuhan hidup masing-masing individu dapat terpenuhi sesuai dengan aturan Islam. Urutan pemenuhan kebutuhan tersebut adalah:
1. Islam menetapkan tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan pokok individu, yaitu terpenuhinya kebutuhan akan sandang, papan dan pangan kepada individu
2. Islam telah mewajibkan setiap pria, yang baligh, berakal dan mampu untuk bekerja memenuhi kebutuhan dirinya dan orang yang menjadi tanggungannya, seperti anak, isteri, ibu, bapak dan saudaranya. 
3. Jika individu tersebut tidak mampu dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya, maka beban tersebut dibebankan kepada ahli waris dan kerabat dekatnya. 
4. Jika ini juga tidak ada, maka beban tersebut barulah berpindah ke pundak negara. 
Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dalam bentuk pendidikan, kesehatan dan keamanan juga merupakan kebutuhan asasi dan harus ditempuh negara dengan mekanisme langsung,  Artinya, negara memberikan fasilitas pendidikan dan kesehatan secara cuma-cuma atau semurah mungkin, serta menciptakan stabilitas dalam negeri demi terciptanya rasa aman warga negara. Ini berlaku bagi seluruh rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim; baik kaya maupun miskin—mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama. 
Dalam hal pengelolaan kepemilikan umum, Negara Khilafah juga akan menjaga dan mengelola harta milik umum. Dalam hal menjaga harta milik umum itu, yang pertama: Negara Khilafah akan menetapkan harta tertentu sebagai milik umum. Kedua, harta milik umum itu tidak boleh dikuasakan, diserahkan atau diberikan kepada swasta. Dan ketiga, Negara Khilafah harus mengelolanya langsung mewakili rakyat dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk berbagai pelayanan.
Islam menetapkan tiga jenis harta sebagai milik umum. Pertama, adalah harta-harta yang menjadi fasilitas publlik, yang jika tidak ada maka masyarakat akan mengalami dharar dan persengketaan dalam mencarinya. Rasul saw bersabda:
«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Kedua, harta yang tabiat pembentukannya menghalanginya untuk dikuasai oleh individu. Misalnya, laut, sungai, danau, jalan umum, masjid dan sebagainya.  Ketiga, barang tambang yang jumlah depositnya besar.  Hal itu berdasarkan penuturan Abyadh bin Hamal.

أَنَّهُ وَفَدَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَاسْتَقْطَعَهُ الْمِلْحَ - قَالَ ابْنُ الْمُتَوَكِّلِ الَّذِى بِمَأْرِبَ - فَقَطَعَهُ لَهُ فَلَمَّا أَنْ وَلَّى قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ أَتَدْرِى مَا قَطَعْتَ لَهُ إِنَّمَا قَطَعْتَ لَهُ الْمَاءَ الْعِدَّ. قَالَ فَانْتَزَعَ مِنْهُ
“Ia datang kepada Rasulullah saw. Ia meminta (tambang) garam –Ibn al-Mutawakkil berkata “yang ada di Ma’rib”-. Maka Beliau memberikannya kepadanya. Ketika ia pergi, seseorang di majelis itu berkata: “apakah Anda tahun apa yang Anda berikan, melainkan Anda memberinya (sesuatu laksana) air yang terus mengalir”. Ibn al-Mutawakkil berkata: “maka Rasul menarik kembali darinya (Abyadh bin Hamal) (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Baihaqi)

Dengan hukum-hukum ini, maka harta milik umum itu akan tetap menjadi milik seluruh rakyat secara hakiki, dimana seluruh rakyat bisa mendapatkan dan merasakan manfaat dari harta-harta milik umum itu. 
Selain semua itu, sistem Islam akan menerapkan sistem moneter berbasis emas dan perak atau Dinar dan Dirham. Emas dan perak (Dinar dan Dirham) memiliki nilai intrinsik sehingga nilainya senantiasa terjaga. Negara dalam sistem ini tidak bebas mencetak uang. Akan tetapi negar aboleh mencetak uang asalnya ada emas atau perak yang memback-up nya secara penuh. Kekuatan mata uang berbasis emas dan perak ini bersandar pada nilai intrinsiknya, bukan pada kekuatan perekonomian negara. Sehingga, sistem mata uang ini justru bisa menjadi faktor untuk meguatkan perekonomian negara. Berbeda dengan sistem moneter saat ini yaitu sistem uang kertas fiat money yang tidak memiliki nilai intrinsik sebaliknya nilainya ada karena ditetapkan dengan undang-undang. Kekuatan nilainya bergantung pada kekuatan perekononomian negara. Negara juga bisa mencetak uang kapan saja dan berapa saja. Akibatnya, mata uang kertas fiat money ini terus menerus mengalami inflasi karena nilainya menurun akibat jumlahnya yang terus bertambah selain karena pencetakan juga karena sistem reserve banking, riba transaksi di sektor non riil dan transaksi derivatif. Maka mata uang kertas fiat money tidak bisa menjadi faktor untuk mengokohkan perekonomian, sebaliknya justru menjadi faktor ketidakstabilan perekonomian.

Itulah beberapa contoh bagaimana Negara Khilafah akan menjaga aqidah dan menjamin kebutuhan rakyanya dengan sangat sempurna. Dengan itu kehidupan masyarakat pun menjadi tenang, tenteram dan bahagia serta dijauhkan sejauh-jauhnya dari hal-hal yang bisa merusak ketenteraman dan kebahagiannya. Itulah kerahmatan Islam bagi masyarakat, dari urusan agama hingga harta benda. []



Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co