Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Monday, December 29, 2014

Catatan Dakwah saat ngisi Refleksi Akhir Tahun 2014 di Turen Kab. Malang



Dakwah = BISNIS ,karena kita sedang bertransaksi dengan Allah SWT.
Sobat, Ibn Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan cukup bagus mengenai Jihadum Nafs yang bermakna terhadap jihad terhadap diri. Beliau membaginya ke dalam 5 hal jihad terhadap diri yang meliputi : Mengimani petunjuk Allah dan agama kebenaran, mengilmuinya, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan bersabar dalam mengimani, mengilmui, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

Beriman adalah jihad, sebab Iman kadang adalah mata yang harus terbuka, mendahului datangnya cahaya. Ia adalah keyakinan hati yang menyusur jalan bukti. Berilmu adalah jihad, sebab ia menghajatkan kesungguhan mengerahkan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan kesabaran untuk berpayah memahami. Beramal adalah jihad. Sebab setiap ilmu yang ada pada diri mengejar-ngejar jiw dan raga yang kadang disergap lelah dan malas agar ia dikerjakan dan dibaktikan. Berdakwah adalah jihad. Sebab menyampaikan ilmu, membawakan kebenaran, memerintahkan yang baik, serta mencegah yang mungkar, kesemuanya itu acapkali membawa bahaya.

Sobat, Bersabar dalam mengimani, mengilmui, mengamalkan, serta mendakwahkan petunjuk dan agama kebenaran adalah jihad.  Sebab ke-empat hal itu hanya bisa ditanggung oleh jiwa-jiwa yang kokoh.Dakwah Jaringan.Dakwah = Bisnis “ Sesungguhnya Allah telah membeli diri-diri dan harta-harta orang-orang beriman bahwa bagi mereka adalah Surga!” ( At-Taubah 111)
“Siapa saja yg menyeru manusia pada petunjuk(Islam), dia pasti akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala yg diperoleh orang yg mengikuti petunjuk itu tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Majah ). Diantara materi yang saya sampaikan saat acara Refleksi dan kontemplasi Akhir tahun bersama para syabab dakwah di Masjid Turen kabupaten Malang Jawa Timur.

Bersabar dalam mengimani adalah jihad. Sebab ujian iman yang saking beratnya kadang membuat hamba harus memejamkan mata. Seperti Nabi Ibrahim ketika diperintahkan menyembelih sang putra. Seperti Rasulullah Muhammad saw dipadang Badar saat berhadapan dengan kekafiran nan jemawa.

Bersabar dalam mengilmui adalah jihad. Seperti Imam Al-Bukhari harus mengembarai ratusan negeri untuk mendapatkan hadits yang kelak kebanyakan harus dia gugurkan. Seperti Imam Asy-Syafi'i menjaga hafalan, merumuskan Fiqh, mengistimbath ahkam, dan menghadapi fitnah cobaan.

Bersabar mengamalkan adalah jihad. Seperti Abdullah Ibn 'Amr Ibn Al'Ash berpuasa Dawud dalam menghatamkan Al-Qur'an tiap 3 hari meski usia telah lanjut hingga akhir hayat beliau. Seperti Sa'id ibn Al-Musayyib tak pernah ketinggalan Takbiratul ihramnya imam sholat fardhu di Masjid Nabawi dan tak meninggalkan qiyamullail selama 40 tahun. Subhaanallah !

Bersabar dalam mendakwahkan Islam adalah jihad. Seperti Mush'ab ibn 'Umair mendekati satu demi satu pemimpin 'Aus dan Khazraj dengan siasat demi mengislamkan Madinah. Seperti Ibn Al- Jauzy yang di majelisnya nan agung, ribuan ahli kitab mengucap syahadat. Seperti para penebar dan pengemban dakwah Islam di Nusantara yang luar biasa. Amat sukar menemukan capaian dakwah seperti yang mereka catatkan.

Sebuah pernyataan yang cukup bagus sebagai renungan dan pelajaran bagi kita dari Ibn Abbas , "Setiap sesuatu itu ada bencananya. Bencana ilmu adalah lupa. Bencana ibadah adalah kemalasan. Bencana kecerdasan adalah ujub (merasa bangga terhadap kecerdasan yg dimilikinya). Bencana penampilan menarik adalah bualan. Bencana dagang adalah bohong. Bencana dermawan adalah keborosan. Bencana keindahan adalah kesombongan. Bencana agama adalah riya'. Bencana Islam adalah hawa nafsu”Selalu berhati-hati dan semoga kita terhindar darinya. Aamiin

Sobat, Pastikan setiap hari-hari kita  selalu membayangkan orang-orang yang kita presentasikan Islam dan kebenaran ajarannya kepadanya, akan menerima dengan antusias tawaran  kita.Rasulullah SAW dan para sahabat  mencotohkan teladan yang hebat bahwa Hayatul Islam adalah hayatuddakwah.
Banyak mengingat Allah SWT di setiap langkah kita dan yakini bahwa Allah SWT telah mentakdirkan kita menjadi seorang Pengemban Dakwah sukses dunia dan akherat, tinggal seberapa cepat kita mengejarnya. Penuhi yang wajib dan kerjakan yang sunnah dengan terus berdo’a.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa ! ( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, Penulis Buku-buku Motivasi Spiritual dan Buku KOmunikasi Bisnis Islam Kontemporer. www.faqihsyarif.com )

Thursday, December 25, 2014

Keutamaan Ilmu dibanding Harta



Keutamaan Ilmu dibanding Harta

Dalam keberkahan sobat, Ilmu adalah pengikat kebajikan. Sebaliknya jika ilmu itu tiada, maka kebajikan pun pergi dari para hamba. Tanpa ilmu si kaya tak lagi mampu bertaqwa. Tanpa ilmu, harta-harta kehilangan guna dan makna. Tanpa ilmu dan taqwa, hawa nafsu tak terkendali untuk menjadikan harta sebagai pemuas syahwat dalam berbagai maksiat. Kerusakan terjadi bagi diri, keuarga, dan sesama. Berkah telah lari, sebab ilmu yang mengikatnya tiada lagi.
Pesan Saydina Ali Ibn Abi Tahlib : " Ilmu lebih utama daripada harta, awal-awal sebab ia adalah warisan para Rasul dan Nabi-nabi. Sementara harta berupa emas, perak, dan permata dilunsurkan Fir'aun, Qarun dan raja-raja."
yang kedua, ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu menjaga pemiliknya, sedang pemilik harta bersusah payah memelihara kekayaannya. yang ketiga, ilmu lebih utama daripada harta, karena jika ilmu menguasai harta, akan menjadi mulialah kedua-duanya. Sebaliknya, jika harta menguasai ilmu, kan menjadi hinalah keduanya.
yang keempat, ilmu lebih utama dibanding harta, karena ilmu setia menyertai pemiliknya menuju kematian, kebangkitan dan akhiratnya. Adapun harta tak mau ikut dan tetap tinggal di dunia. yang kelima, ilmu lebih utama dari harta, sebab kekayaan akan berkurang jika dibelanjakan, sedangkan pengetahuan bertambah jika dibagikan.
yang keenam, ilmu lebih utama dibanding harta, sebab pemilik ilmu terhormat dan diperlukan oleh semua insan;dari rakyat jelata hingga para raja. Adapun harta hanya berguna dalam kebutuhan para faqir dan dhu'afa. Yang ketujuh, ilmu lebih utama daripada harta, sebab bagi pemilik harta, akan bermunculan musuh jahat dan kawan tak tulus. Adapun empunya ilmu, berarti memperbanyak saudara dan kawan serta mengurangi seteru.
Yang kedelapan, Ilmu lebih utama daripada harta, sebab pemilik harta hanya digelari yang baik-baik jika mau memberi. Adapun ahli ilmu digelari yang baik-baik sejak belajar, terlebih ketika mengajar.
Yang kesembilan, ilmu lebih utama daripada harta, sebab ketamakan pada ilmu memuliakan mereka yang masih bodoh maupun para cendekia. Sebaliknya, tamak terhadap harta menistakan yang miskin juga yang sudah kaya.
Yang kesepuluh, Ilmu lebih utama daripada harta, sebab di akherat, pemilik harta akan rumit urusan dan berbelit hisabnya, sedangkan pelajar dan pengajar ilmu akan mendapat kemudahan dan syafa'at Nabinya.
Yang kesebelas, Ilmu lebih utama dibanding harta, sebab kemuliaan pemilik harta ada pada pernak-pernik kekayaan yang terletak di luar dirinya. Adapun keluhuran ahli ilmu adalah pengetahuan yang menyatu bersama sosoknya. Yang kedua belas, Ilmu lebih utama dibanding harta, sebab semua ibadah dan ketaatan pada Allah, harus dilakukan dengan ilmu. Tapi banyak kemaksiatan keji dan mungkar, dapat dilakukan dengan harta.
yang ketiga belas, Ilmu lebih utama dibanding harta, sebab Adam diciptakan, lalu dibekali Ilmu, dan bukannya harta, yang membuatnya unggul di hadapan para malaikat dan menerima sujud penghormatan mereka. Yang keempat belas, Ilmu lebih utama dibandingkan harta, sebab mencintai ilmu, baik bagi yang memilikinya maupun tidak, adalah mata air kebajikan. Adapun mencintai harta, baik di kala berpunya maupun papa, adalah sumber keburukan.
Yang kelima belas, Ilmu lebih utama daripada harta,karena harta menyergapkan kesedihan sebelum mendapatkannya dan mencekamkan kekhawatiran setelah memperolehnya. Adapun Ilmu adalah kegembiraan dan keamanan, kapan pun dan di mana pun berada.
Yang keenam belas, Ilmu lebih utama daripada harta, karena agak sukar menemukan kemaksiatan yang ditujukan untuk memperoleh ilmu. Namun, bertabur banyaknya dosa-dosa yang ditujukan demi mendapatkan harta.
Yang ketujuh belas, Ilmu lebih utama dibandingkan harta, Sebab Rabb kita menciptakan makhluk pertamanya berupa Pena, menurunkan wahyu pertama pada Nabi-Nya dengan kalimat " Iqra' - Baca ", dan menjadikan mukjizat utama Rasulullah SAW adalah Kitab-Nya.
Yang kedelapan belas, Ilmu lebih utama dibandingkan Harta, Sebab Harta bisa mulia dan membawa ke surga jika dimakmumkan kepada Ilmu. Adapun Ilmu tak harus disertai harta untuk menjadikan pemiliknya begitu.
Yang kesembilan belas, Ilmu lebih utama dibandingkan harta, sebab orang yang berharta lagi berilmu yang berinfaq, pahalanya disamakan oleh Rasulullah SAW dengan orang berilmu yang miskin yang baru niat untuk itu.
Yang kedua puluh, Ilmu lebih utama dibandingkan harta, sebab para pemilik harta mudah dijangkiti kesombongan hingga mengaku tuhan. Adapun para pemilik Ilmu dikaruniahi sifat takut kepada Allah dan rendah hati terhadap sesama insan. Demikian penjelasan Saydina Ali ra mengenai keutamaan Ilmu dibandingkan denga harta.
Sobat, Dalam keberkahan, Gairah kita untuk ilmu adalah semangat agar hidup kita diperbaiki. Gelora kita untuk Ilmu adalah hasrat agar perjalanan kita di dunia dijelitakan. Segala puji bagi Allah, Rabb Yang Mencipta dan Memberi Pengajaran.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa ! ( Spiritual Motivator – N. Faqih Syarif H Penulis Buku-buku Motivasi dan Spiritual. www.faqihsyarif.com )

TOMAT ( BerTobat dan Tidak kembali Maksiat)



Sobat, diantara hikmah yang selalu melekat pada setiap musibah adalah pertanyaan,“ Apa kesalahanku sehingga cobaan ini menimpa?” Selanjutnya sobat, memang kepekaan hatilah yang menentukan jawab dan tindakan yang aka diambil. Maka berbahagialah yang segera merundukkan diri di hadapan keagungan Allah, serta berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kesilapan, dan kehinaan.
“Allah mencitakan manusia dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Demikian kata Dr. Abdul Karim Zaidan dalam bukunya Al-Mustafad min Qashashil Qur’an. Tapi dengan kasih-Nya. Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.

Maka demikianlah sobat, yang dilakukan oleh Nabi Yunus AS. Di perut ikan Nun, dalam gelap yang mencekik hingga ke hati, dia menangisi kelemahannya, menekuni hari-harinya, dan mengaku telah berbuat aniaya. Lisan beliau tak pernah berhenti berucap ,” Laa ilaaha illaa Anta, Subhaanaka, innii kuntu minadhzaalimiin. Tiada Ilah sesembahan yang haq selain Engkau. Maha suci Engakau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” Ucapan beliau ini diabadikan dalam QS Al-Anbiyaa’ (21) : 87.
Sobat, doa  Nabi Yunus AS begitu sederhana. Tapi indah dan mesra. Akrab dan hormat. Takdzim dan syahdu. Tak ada di sana pinta untuk mengeluarkannya dari perut ikan, apalagi desakan agar segera. Tak ada di sana rajuk-rajuk manja, iba-iba memelas, apalagi kalimat perintah yang pongah. “ Doa Dzun Nun, ‘Alaihissalam adalah diantara seagung-agung doa dalam Al-Qur’an.” Begitulah menurut Ibn Taimiyah.  Doa itu mengandung dua hal saja, merunduk-runduk mengakui keagungan Allah SWT dan berlirih-lirih mengadukan kelemahan diri.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[1].” ( QS. Al-A’raaf (7):55)

Maka doa Yunus, yang tidak rinci, yang tidak dibayang-bayangkan bahkan tak tergambar apa yang dimintanya, dijawab oleh Allah SWT dengan kelimpahan karunia yang membawa kejayaan. Dia hanya mengakui ketidakberdayaan dan laku aniayanya pada diri sendiri; maka Allah yang Maha kuat, Maha gagah, Maha perkasa, mengulurkan pertolongan-Nya, pembelaan-Nya, dan bantuan-Nya.  Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan. Dia bahkan tak perluh berpayah-payah berenang karena diantar oleh sang ikan sampai tepian. Dan tempatnya didamparkan bukanlah sembarang daratan, bahwa Yunus dibaringkan di hamparan tanah yang kemudian ditumbuhi suatu tanaman dari jenis labu. Demikian penjelasan Imam Ibn Katsir riwayat dari Ka’ab Al-Ahbar dan Ibn ‘Abbas.

“ kemudian Kami lemparkan Dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam Keadaan sakit.
 dan Kami tumbuhkan untuk Dia sebatang pohon dari jenis labu.” ( QS. Ash-Shaaffaat (37) : 145-146)

Sobat, sebagaimana lazimnya seorang yang terkurung dalam gelap di kedalaman laut selam waktu yang panjang, maka Yunus pun sakit. Beliau bagaikan bayi yang baru dilahirkan; ringkih, tak terlindung, rumih, dan rentan.” Menurut Ibn ‘Abbas.  Ketika Yunus siuman, secara naluriah dia menggapai buah yang ada di dekatnya kemudian memakannya. Buah tanaman itu, yang mengandung air, gizi, dan zat-zat yang bermanfaat, amat mudah dicerna oleh tubuhnya. Khasiatnya menjalari seluruh pembuluh dan sendi, merasuki semua sumsum dan pori, memulihkan tenaga dan kesentausaannya. Sakit, payah, dan terganggunya faal badan akibat berpuluh hari di dalam perut ikan dan di dasar lautan, kini mulai pulih kembali sehat wal afiat.

Sobat, Nabi yunus pun bugar kembali, bersemangat, dan berjanji kepada Allah untuk nanti teguh, istiqomah, dan tak menyerah dalam berdakwah kepada kaumnya; apa pun yang akan terjadi di hadapannya. Subhaanallah, alangkah takjub dan penuh syukur beliau ketika kembali ke kaumnya, seluruh kaumnya justru telah beriman kepada Allah SWT dan menantikan kedatangan Nabi Yunus, jumlah mereka lebih dari 100 ribu orang.

Sobat, betapa berkah doa Yunus. Bukan hanya menjadi karunia keselamatan dirinya, doa itu bahkan menjadi anugerah hidayah bagi begitu banyak manusia dari kaumnya. Dakwh Yunus Berjaya, tepat pada saat dia merasa dan mengaku bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Dakwah Yunus Berjaya, ketika dia mengakui dirinya aniaya dan hatinya tunduk memuliakan Allah SWT. Dakwah Yunus Berjaya, ketika dia merasa tak berdaya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa.  Berjayalah hamba yang merasa tak berdaya tanpa-Nya. Maka Maha Suci Dzat yang menjadikan berhina pada-Nya sebagai kemuliaan, berfaqir kepada-Nya sebagai kekayaan, tunduk pada-Nya sebagai keluhuran, dan bersandar pada-Nya sebagi kecukupan.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari kisah Nabi Yunus tuk mengarungi samudera kehidupan dengan menjadikan Hayatul Islam adalah Hayatuddakwah tuk meraih keberkahan hidup dan mengundang pertolongan Allah SWT.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa ! ( Spiritual Motivator – N. Faqih Syarif H Penulis Buku The secret of  Happiness dan Buku Never Give Up ! www.faqihsyarif.com )



[1] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.

Wednesday, December 24, 2014

Berburu Berkah dan Pertolongan Allah di jalan-Nya



Berburu Berkah dan pertolongan Allah di Jalan-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, " Sesungguhnya, pertolongan itu mengiringi kesabaran,sesungguhnya kelapangan itu mengiringi kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan menyertainya." ( HR Imam Ahmad ). Ingatlah hadits di atas sobat, membuat kita tetap semangat dan istiqomah di jalan-Nya. Di jalan Allah, betapa beratnya beriman, betapa lelahnya berislam, dan betapa susahnya berihsan. Di jalan Allah, alangkah sukarnya ridha, alangkah peliknya ikhlas, alangkah mahalnya syukur, dan alangkah pedihnya sabar. Di jalan Allah, betapa sibuknya amal, betapa lelahnya dakwah, betapa mengurasnya jihad, dan betapa langkanya tawakkal. Di jalan Allah, alangkah menyita dzikir, alangkah penatnya tafakkur, alangkah mengirisnya qana'ah, dan alangkah repotnya tawadhu'. Berburu berkah itu alangkah berat sobat, tapi syukurlah kita tahu, bahwa di dalamnya ada banyak rasa nikmat.

Imam Asy-syafi'i pernah berpesan, " Jika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah kencang, Jika sulit, maka tetaplah berlari meski langkahmu kecil berselang. Bila engkau lelah, maka berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kaulakukan, tetaplah maju meski harus merangkak nyalang, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang." Allahu Akbar !!!!!

Sobat, orang yang paling bertaqwa adalah orang yang paling berhati-hati, mereka berjuang menjaga dirinya agar tak jatuh ke dalam dosa. Tetapi adalah mereka juga orang-orang yang paling merasa berdosa. Sebab mereka tahu, justru amat berbahaya jika diri merasa suci. Sebab mereka mengerti tak ada manusia yang sanggup lepas dari mendurhakai Rabb-nya, kecuali hamba-hamba yang disayangi-Nya. Mereka terus bergiat untuk mengulurkan tangan menebar kemanfaatan semata-mata karena mereka masih terus merasa kotor sehingga selalu ingin mensucikan dirinya. Ridha dari Sang Pencipta,Penguasa,Pemelihara Pemberi Rezki, serta Pengatur urusan Yang Maha Tinggi adalah satu-satunya yang mereka harapkan. Mereka senantiasa merasa kotor agar dapat terus beramal demi meraih kesucian.

Insan yang bertaqwa dan peraih keberkahan adalah pejuang kebenaran dan pembawa cahaya. Mereka hidup menghantar manfaat, menempuh jalan yang mendaki lagi sukar, kemudian saling menasehati dalam kesabaran dan cinta. Teladan mereka adalah Rasulullah SAW. yang dipanggil dari langit ketika menyelubungkan kain menutupi wajah dan kepalanya untuk bangkit dan memberi peringatan. Wahyu memerintahkannya menganggungkan Rabbnya, mensucikan pakaiannya, dan menjauhi perbuatan dosa. Berjuang adalah berkorban. Dan sang pejuang, sejak awal diperingatkan untuk tak mengharap balasan lebih banyak daripada berapa-berapa yang dia persembahkan. Inilah Azas bakti bagi pembawa cahaya, Insan bertaqwa nan mulia.

Sungguh sobat, Taqwa dan lisan yang lurus lebih patut menjadi andalan kita untuk mewariskan nilai-nilai kebajikan pada generasi setelah kita, anak dan cucu kita. Mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaul sadiid;Kata-kata yang lurus lagi jujur, benar lagi bernas, sebagaimana yang diamanatkan dalam QS An-nisaa' ayat 9 ?

Sobat, dekatkan diri kepada-Nya, sedekat-dekatnya. Raihlah peluang untuk menjadi hamba dan kekasih-Nya. Bila itu kita lakukan, Insya Allah jalan keluar dari segala macam kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka akan kita dapatkan. Jalan Taqwa akan menuntun kita menjadi hamba yang dicintai Allah SWT. Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka jalan ke surga akan Dia mudahkan untuknya.

Ya Allah jadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari ini sebagai butir kemuliaan, Ya Allah jadikan tiap kata yang berbaris mesra di kalimat ini menjadi tali temali keberkahan yang menghubungkanku dengan ridha-Mu di tiap helaan. Ya Allah ampunilah segala dosa dan kesalahan kami,jadikan kami hamba-hamba-MU yang senantiasa sujud dan bersyukur hanya kepada-Mu.
Salam dahsyat dan luar biasa ! ( Spiritual motivator – N. Faqih Syarif H, Penulis buku Never Give Up !  dan buku Take Action ! www.faqihsyarif.com )

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co