Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Tuesday, September 30, 2014

JERUK ( Jangan Berbuat Buruk )

Jeruk
(Jangan Berbuat Buruk)

Sobat, diantara cobaan yang kita hadapi masyarakat kaum muslimin di zaman sekarang ini adalah banyaknya kemaksiatan dan perbuatan dosa serta tersebar luasnya kemungkaran dengan berbagai macam bentuknya.

Judul bab ini adalah Jangan berbuat buruk maksudnya adalah jangan berbuat maksiat. Sebab kemaksiatan-kemaksiatan itu merusak hati seperti racun yang merusak badan dengan berbagai macam tingkat kerusakan yang ditimbulkannya. Seluruh kejahatan dan penyakit yang ada di dunia dan di akherat penyebabnya adalah kemaksiatan dan dosa. Bukankah karena kemaksiatan dan dosa yang menyebabkan Ibu bapak kita (Nabi Adam dan Hawa) dikeluarkan dari surga, tempat berbagai kenikmatan dan kebahagiaan menuju tempat yang penuh dengan rasa sakit, kesedihan dan musibah? Siapa yang mengeluarkan Iblis dari kerajaan langit hingga Allah mengusirnya dan melaknatnya serta mengganti rahmat dengan laknat, keimanan dengan kekufuran? Siapa yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi hingga air mencapai puncak-puncak gunung? Siapa yang menundukkan angin kepada kaum ‘Adz hingga mereka menemui kematian bergelimpangan seperti pohon kurma yang tumbang? Siapa yang mengirimkan suara yang demikian keras kepada kaum tsamud hingga memotong hati mereka dan mereka pun tewas seketika? Siapa yang menenggelamkan Fir’aun dan balatentaranya lalu memindahkan ruh-ruh mereka ke neraka jahannam, jasadnya ditenggelamkan sedangkan ruhnya dibakar? Siapa yang membuat Qarun ditelan bumi beserta rumah dan seluruh hartanya? Penyebab semua itu adalah kemaksiatan dan dosa !

Sobat, sebagian orang menganggap remeh perbuatan maksiat dan dosa. Dia berkata,” Selama saya melaksanakan rukun Islam dan kewajiban yang lain, maka dosa itu masalah kecil, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” Sikap seperti ini kelihatannya rohani tapi sebenarnya roh halus karena bisyikan syetan

Sobat,Memang benar Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang, akan tetapi Allah SWT juga Maha Pedih siksanya bagi siapa pun yang bermaksiat kepada-Nya dan melanggar perintah-Nya.

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr :49-50)
Allah SWT pun mengingatkan kita untuk tidak melakukan maksiat dengan firman-Nya :

“ Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-nuur :63)

“ (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS An-Nuur : 15).

Sobat, Inagtlah satu kemaksiatan telah mengeluarkan Adam dari surga. Seorang penyair berkata :
Engkau terus melakukan dosa demi dosa.
Lalu engkau berharap mendapat surga.
Lupakah engkau bahwa Rabbmu mengeluarkan Adam dari surga hanya karena satu dosa.

Satu kemaksiatan telah menjadi sebab kekalahan para sahabat di perang uhud. Yaitu ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan mereka untuk tidak turun dari gunung apapun yang terjadi. Namun mereka melanggarnya dan tetap turun gunung tergiur harta yang ditinggalkan musuh. Maka terbunuhlah 70 orang shahabat sebagaimana diceritakan dalam kita shohih bukhari.

Sobat, jangan melihat pada kecilnya kemaksiatan, tapi lihatlah keagungan Dzat yang engkau durhakai. Ibnul qayyim menyebutkan dalam kitabnya Al Jawaabul Kaafi liman Sa’ala anid- Dawa’sy Syaafi bahwa hukuman bagi kemaksiatan itu jumlahnya banyak diantaranya adalah :

1. Menyebabkan kehinaan bagi pelakunya. Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnat hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda : “ Dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku.” ( HR Imam Ahmad). Imam Ahmad pun berkata, “ Ya Allah, Muliakan kami dengan ketaatan dan jangan hinakan kami oleh kemaksiatan.”
Demikian juga Allah berfrman :
“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” (QS. Al A’raaf:152)
Sobat, Ibnul Mubarak berkata: “ Saya melihat dosa itu mematikan hati. Timbulnya kehinaan adalah akibatnya. Meninggalkan dosa akan menghidupkan hati. Akan berakibat bagi jiwamu jika engkau melawannya.”

2. Kemaksiatan itu menyebabkan kerisauan dan kemurungan. Meskipun terhimpun ada diri seseorang hamba berbagai kenikmatan dunia, tidak akan sanggup menghilangkan kerisauan tersebut. Abdullah bin Abbas berkata, “ Sesungguhnya kebaikan itu menyebabkan timbulnya sinar di wajah, cahaya di dalam hati, keluasan rezeki,kekuatan badan, dan rasa cinta di hati makhluk. Sedangkan keburukan itu menyebabkan kemurungan di wajah, kegelapan di hati dan kubur, kelemahan badan, kekurangan rezeki, dan rasa benci di hati makhluk.” Dan itu senada dengan apa yang difirmankan Allah SWT :
“ Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".
berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam Keadaan buta, Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (QS. Thaahaa: 124-125)

Sebaliknya Allah memberikan jaminan dan garansi kepada Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh baik laki-laki maupun wanita di beri kehidupan yang baik dan pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana firman-Nya :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl:97).

Sobat, mari kita tutup artikel ini dengan doa yang diajarkan oleh Imam Ahmad.
“ Ya Allah, Muliakan kami dengan ketaatan dan jangan hinakan kami oleh kemaksiatan.”
Salam Dahsyat dan Luar Biasa !!! www.faqihsyarif.com ( Spiritual Motivator - N.Faqih Syarif H, Penulis Buku Take Action ! dan buku Never Give Up !)

Sunday, September 28, 2014

Kiat Menghadapi Tantangan Dakwah



Kiat Menghadapi Tantangan Dakwah
Dakwah bukanlah jalan tol yang bebas hambatan. Dakwah adalah jalan perjuangan yang terjal, namun di dalamnya banyak kemuliaan. Apalagi di era cengkeraman penjajahan Kapitalisme sudah demikian menggurita, tantangan dakwah terasa makin jelas. Tidak mengherankan apabila di sana-sini terdapat pengemban dakwah yang gugur di tengah jalan. Lantas, apa yang harus dilakukan?
Dakwah: Pilihan Hidup
Hal pertama yang penting dilakukan adalah pengokohan sikap bahwa dakwah ini merupakan pilihan dan poros kehidupan. Kita telah memilih dakwah sebagai poros kehidupan. Rasulullah saw. mencontohkan betapa dakwah menjadi poros hidup beliau. Ketika para pembesar Quraisy mendatangi pamannya untuk meminta beliau menghentikan aktivitas dakwah, beliau menyatakan dengan tegas, “Andai mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini maka hingga Allah memenangkannya atau aku binasa di jalannya, aku tak akan meninggalkan dakwah ini.” (Ibnu Hisyam, Sîrah Ibnu Hisyâm, I/266).
Sejatinya, umat Islam menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan mereka. Dengan demikian rintangan, tantangan dan hambatan apapun di jalan dakwah akan disikapi sebagai bunga-bunga perjuangan.
Dakwah sangat urgen dan merupakan kewajiban. Tidak melakukan dakwah berarti meninggalkan kewajiban. Orang yang melakukan dakwah akan terpagari perilakunya. Dakwah akan membentuk diri pelakunya bertambah salih. Dakwah juga sangat urgen dalam membangun keluarga pejuang. Allah SWT memerintahkan kepada umat Nabi Muhammad saw. untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (TQS at-Tahrim [66]: 6). Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Rasulullah saw. melakukan dakwah pertama kali kepada istrinya, keponakannya, pembantunya dan kawan terdekatnya. Tanpa dakwah, Islam tidak akan tegak. Rasulullah saw. menyampaikan bahwa bila dakwah tidak dilakukan maka akan turun azab, doa tidak dikabulkan (HR Ahmad, at-Tirmidzi) serta umat dikuasai oleh orang zalim dan buruk (HR Abu Dawud). Berdasarkan hal ini jelas bahwa dakwah merupakan pilar kebaikan individu, keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan merupakan suatu keniscayaan.
Dakwah merupakan aktivitas besar untuk membangun peradaban agung. Pada sisi lain, kewajiban menafkahi, mendidik anak, dll pun harus dilakukan. Untuk memadukan hal tersebut diperlukan manajemen aktivitas kehidupan. Bahkan dakwah kadang harus mengerem yang lain untuk kepentingan yang lebih besar.

Mengatasi Tantangan
Tantangan dalam diri pengemban dakwah yang umumnya dirasakan dalam era Kapitalisme saat ini adalah masalah rezeki. Apalagi ketika melihat orang lain yang sebaya sudah banyak yang sukses dan mapan dari segi ekonomi. Anak-anak pun mulai besar sehingga membutuhkan biaya yang semakin besar. Hati kadang ciut. Namun, bagi seorang beriman, hal itu tidak menjadi penghambat dakwah. Mengapa? Sebab, dia meyakini bahwa rezeki itu dari Allah SWT. Dialah Yang memberikan rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa ada hitung-hitungan (TQS al-Baqarah [2]: 212; an-Nur [24]: 38). Kita semua tentu pernah mengalami saat rezeki datang tanpa disangka-sangka dan dari arah yang tidak terduga-duga. Tidak jarang, ada pengemban dakwah yang hidupnya biasa-biasa saja, tetapi dia mendapatkan rezeki sehingga bisa haji dan umrah. Ada juga pengemban dakwah kesulitan rumah, tiba-tiba ada yang meminjamkan rumahnya dengan gratis. Memang, ada juga kesulitan. Namun, bukankah Allah SWT telah menggariskan bahwa kesulitan selalu bergandengan dengan kemudahan?
Para Sahabat adalah contoh terbaik dalam hal ini. Salah satu contoh yang jelas adalah saat mereka berhijrah dari Makkah ke Madinah. Mereka tidak tahu kelak akan tinggal dimana, bisa bekerja atau tidak, makan apa, dsb. Namun, dengan dorongan iman dan ketaatan, mereka berangkat meninggalkan kampung halaman, handai taulan dan harta kekayaan. Demi ketaatan kaum Muhajirin rela hidup dalam kefakiran (TQS al-Hasyr [59]: 8). Lalu apa yang terjadi? Perjuangan mereka berbuah manis. Mereka tetap bisa makan, minum dan punya tempat tinggal, bahkan menjadi orang-orang pertama pendukung peradaban Islam di Madinah.
Sudah merupakan sunnatullâh, jalan dakwah itu terjal. Dulu para Sahabat ditimpa kesulitan yang luar biasa, kesempitan, bahaya dan berbagai peristiwa yang mengguncangkan. Begitu beratnya cobaan yang menimpa kaum beriman di jalan dakwah tersebut mereka bertanya kepada Nabi saw., “Kapan pertolongan Allah itu tiba, matâ nashrullâh?” Allah pun cukup menjawab dengan menyatakan, “Ingatlah, pertolongan Allah itu dekat.” (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 214. Para Sahabat pun bersabar dalam kondisi demikian. Mereka menyadari betul bahwa tidak ada sesuatu pun yang menimpa mereka kecuali hal tersebut terbaik dari Allah SWT bagi mereka sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat at-Taubah [9]: 51.
Oleh sebab itu, tidak ada rasa kekhawatiran dalam diri seorang pengemban dakwah mendapatkan perlakuan semena-mena oleh penguasanya, namun tidak berarti juga berlaga sombong menantang datangnya cobaan baginya. Dia berprinsip, ‘musuh jangan dicari; kalau ada, hadapi’, dan ‘kalau ingin selamat, ketika ada kemungkaran, hadapi dan jangan lari’.
Ubahlah pola pikir! Perkokoh keimanan bahwa rezeki dan kematian berasal dari Allah SWT. Sadarlah bahwa dakwah adalah poros kehidupan dan sangat urgen bagi diri, keluarga dan masyarakat. Lalu aktivitas dimenej sedemikian rupa hingga tantangan dakwah apapun akan disikapi secara proporsional. Pikiran pada waktu menghadapi tantangan itu pun tetap jernih. Insya Allah.
Mengundang Pertolongan Allah SWT
Selain mengubah pola pikir, tantangan dakwah dapat dihadapi dengan semakin dekat kepada Allah SWT. Pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT akan menjadikan kita kekasih-Nya. Semakin kita mendekat kepada Allah, Dia pun semakin dekat kepada kita. Pada saat itulah pertolongan, bantuan dan kemudahan akan diberikan oleh Allah Rabbul ‘alamîn. Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu hadis qudsi: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada Diri-Ku. Aku bersama dia ketika dia mengingat Aku dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila ia mengingat Diri-Ku di dalam suatu forum maka Aku mengingat dirinya di dalam forum yang lebih baik daripada mereka. Apabila ia mendekat kepada Diri-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepada dia sehasta. Apabila ia mendekat kepada Diri-Ku sehasta maka Aku mendekat kepada dia sedepa. Apabila ia mendekat kepada Diri-Ku sedepa maka Aku mendekat kepada dia semil. Apabila ia datang kepada Diri-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepada dia dengan berlari.” (HR al-Bukhari).
Dengan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah berarti kita telah mengundang bantuan, pertolongan dan pemeliharaan dari Diri-Nya. Di antara taqarrub kepada Allah SWT adalah salat tahajud (salat malam). Abdullah bin Umar ra. sangat rajin dalam tahajud. Rasulullah saw. memuji beliau sebagai orang salih yang selalu melewati malam dengan shalat dan hanya sedikit tidur (HR al-Bukhari).
Baginda Rasulullah saw. juga bersabda, “Pada setiap malam Rabb kami tabaraka wa ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada Diri-Ku, Aku akan memperkenankan doanya. Siapa saja yang meminta kepada Diri-Ku, Aku akan memngabul-kan permintaannya. Siapa meminta ampunan kepada Diri-Ku, Aku pun akan mengampuni dia.’” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Pada saat tahajud inilah setiap orang bisa mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Insya Allah, Allah akan memberi dia solusi.
Taqarrub kepada Allah juga dapat berupa shalat dhuha, membanyak zikir, berdoa, shaum sunnah, tilawah al-Quran dan banyak ber-muhasabah.
Pada sisi lain, tantangan dakwah akan dapat diatasi dengan sikap menerima apa yang ada (qana’ah), syukur, sabar dan tawakal. Sering orang tidak memahami bahwa sikap-sikap tersebut sebenarnya dapat mendatangkan solusi. Hanya saja, solusinya tidak langsung dari manusia, melainkan langsung dari Allah SWT sesuai dengan cara yang Dia kehendaki. Sebagai contoh, Allah SWT akan menambah kenikmatan bagi orang yang bersyukur (TQS Ibrahim [14]: 7). Artinya, semakin banyak bersyukur maka akan semakin banyak pula kenikmatan yang diperoleh.
Begitu juga ketika ada kesulitan dan tantangan, lalu dihadapi dengan penuh kesabaran. Dalam kesabaran, Allah akan memberikan bantuan sehingga kesulitan dan tantangan itu akan dapat diselesaikan. Memang, kalau menggunakan logika boleh jadi sulit dipahami, apa hubungan sabar dengan solusi. Padahal bukan sabar itu sendiri yang menjadi solusi, melainkan dalam keadaan sabar tersebut Allah SWT memberikan pertolongan-Nya. Pertolongan Allah SWT itulah yang menjadikan solusi itu datang. “Wahai, orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar,” begitu makna firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 153.
Selain itu, dengan tawakal kepada Allah SWT berarti kita meyakini dan menyerahkan urusan untuk diselesaikan oleh Allah SWT, tanpa berpangku tangan. Allah pun telah berjanji kepada siapa saja yang bertawakal kepada Diri-Nya bahwa Dialah yang akan menyelesaikan persoalan yang dihadapi (TQS ath-Thalaq [65]: 3). Rasulullah saw. bersabda, “Andaikata kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, sungguh kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Di pagi hari keluar dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad).
Ketika bertawakal kepada Allah, menyerahkan urusan untuk diselesaikan oleh Allah SWT, sebagai seorang Muslim sudah selayaknya kita meyakini bahwa persoalan apapun yang dihadapi akan ada jalan keluar terbaik karena Allah Yang Mahagagah yang menyelesaikan persoalan tersebut.
Mengokohkan Tindakan
Sikap yang kokoh dan aktivitas ruhiah untuk mengundang pertolongan Allah SWT akan sempurna apabila diikuti dengan memperkokoh tindakan dalam dakwah. Di antara upaya untuk mengokohkan tindakan dalam dakwah adalah terus berdakwah bersama dengan jamaah dakwah. Kita perlu belajar dari lidi. Apabila lidi itu hanya satu atau dua, mudah sekali patah. Berbeda dengan itu, lidi yang diikat menjadi sapu lidi sangat kokoh dan tidak mudah dipatahkan. Begitu juga apabila dakwah hanya seorang diri. Oleh karena itu, kekokohan dakwah akan diperoleh dengan tidak keluar dari jamaah dakwah. Berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah saw. bersabda, “Kalian harus berpegang pada jamaah dan menjauhi perpecahan. Sebab, sesungguhnya setan bersama dengan orang sendirian, dan lebih jauh terhadap orang yang berdua. Siapa saja yang menghendaki surga maka berpegang teguhlah pada jamaah. Siapa saja yang merasa senang dengan kebaikannya dan merasa buruk dengan kesalahannya maka ia adalah Mukmin.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).
Hal lain yang penting dilakukan adalah mempersiapkan keluarga (istri, anak) untuk sama-sama memahami pentingnya dakwah sebagai poros hidup. Dakwah merupakan proyek besar dan perjalanan panjang. Risiko pun bukan hanya sekadar dihadapi oleh pengembannya saja, melainkan juga oleh anak dan istrinya. Anak dan istri harus turut menanggung beban sosial dari masyarakat apabila suami dan ayahnya yang pengemban dakwah dicap negatif sebagai ‘garis keras’, misalnya. Mereka harusnya menjadi orang-orang pertama yang membela dakwah. Merekalah orang-orang pertama yang terus memompakan semangat perjuangan. Itulah yang dilakukan oleh Rasul dan para Sahabat. Khadijah ra. adalah istri Rasulullah saw. yang menghabiskan hartanya untuk mendukung dakwah suaminya. Dia orang yang beriman saat orang lain kufur kepada beliau, mencintai beliau ketika orang lain membenci beliau dan membela beliau saat kaum Quraisy berupaya untuk membunuh beliau. Yasir dan Sumayah adalah pasangan suami-istri yang berjuang di jalan Allah. Begitu juga Amar bin Yasir ra. Ia merupakan putra mereka yang menjadi sahabat dekat Rasulullah saw. Umar bin al-Khaththab adalah sahabat yang menjadi khalifah setelah Abu Bakar. Sementara itu, Abdullah bin Umar adalah anak beliau yang berjuang bersama beliau dan menjadi salah satu rujukan di kalangan sahabat. Dengan cara seperti itu, tantangan sebesar apapun akan dihadapi bersama oleh keluarga. Konsekuensinya, risiko yang dirasakan lebih ringan. Sebaliknya, tanpa mempersiapkan keluarga dalam satu barisan dakwah Islam, tantangan justru boleh jadi datang dari keluarga sendiri. Terkait masalah ini kita perlu banyak belajar meneladani prilaku Rasulullah saw., sahabat dan orang-orang shalih.
Last but not least, tantangan dakwah akan dapat diselesaikan dengan cara terus menjalankan karakter kepartaian dakwah (tabi’ah hizbiyah). Orang akan dapat merasakan manisnya gula apabila dia memakan gula tersebut. Tidak cukup sekedar diberi tahu bahwa rasa gula itu manis. Begitu juga dakwah. Dakwah akan terasa manis apabila aktivitas dakwah dilakukan. Untuk itu, proses pembinaan (halqah) harus dijalani dengan penuh antusias. Sikap para Sahabat dalam mengikuti pembinaan di Darul Arqam mencerminkan keseriusan dalam pembinaan. Begitu pula apabila ada seseorang tidak sempat mengikuti majelis Nabi saw. maka orang yang hadir akan menyampaikan isinya kepada mereka yang tidak hadir. Di samping menambah tsaqafah, halqah akan menjadikan ikatan dakwah makin erat. Meninggalkan halqah laksana membiarkan diri dimakan serigala.
Namun, halqah saja tidak cukup, not sufficient. Para Sahabat tidak hanya mengikuti kajian dengan Nabi saw. Mereka pun menyebarkan Islam yang telah mereka pahami itu kepada masyarakat dengan melakukan kontak. Dengan melakukan dakwah berarti kita menolong agama Allah SWT. Padahal siapapun yang menolong agama-Nya niscaya Dia akan memberikan pertolongan kepada dirinya (TQS Muhammad [47]: 7).
Pengorbanan pun harus terus dilakukan. Salah satu wujud pengorbanan itu adalah menginfakkan hartanya di jalan dakwah. Para Sahabat Nabi tidak segan mengeluarkan harta. Mereka menggemgam harta seperti menggemgam tanah. Sekadar contoh, suatu waktu Nabi Muhammad saw. mengirim utusan kepada Utsman bin Affan agar ia dapat membantu pasukan al-’usrah.  Tanpa berpikir dua kali, Utsman menyerahkan uang senilai sepuluh ribu dinar (sekitar Rp 12,975 miliar) melalui utusan tersebut (diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi, Daruquthni, Abu Nu’aim, dan Ibnu Asakir; al-Muntakhab, V/ 12).  Salman al-Farisi selalu menyisihkan sepertiga hasil usahanya untuk berinfak (Ibnu Sa’ad, IV/ 64). Betapa ringan para Sahabat dalam berinfak di jalan Islam.
Tanpa disadari, infak harta yang diberikan di jalan Allah SWT akan dibalas sebanyak tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Baqarah [2] ayat 261.
Ringkasnya, tantangan dakwah akan dapat diatasi dengan cara mengokohkan keimanan, mengundang pertolongan Allah SWT dengan cara ber-taqarrub kepada-Nya, serta melakukan aktivitas dakwah itu sendiri dengan penuh kesungguhan. Ketiga hal tersebut merupakan langkah praktis dalam menghadapi segala tantangan dakwah. Wallâhu a’lam.

Tuesday, September 23, 2014

STRAWBERRY

Strawberry
(Selalu Taat & Rajin Memberi)

Sobat, jika kita selalu taat kepada Allah danRasul-Nya, maka yakinlah pasti Allah akan memberikan kehidupan yang jauh lebihbaik  dan kita akan benar-benar merasakankenikmatan beribadah.  Kelezatanberibadah yang saya maksud adalah  apayang dirasakan oleh seorang muslim dari ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati,serta kelapangan dada dalam menjalankan suatu ibadah, dan kelezatan tersebutakan berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya, tergantung  pada kekuatan dan kelemahan imannya. AllahSWT berfirman :

“Barangsiapa yang mengerjakanamal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, MakaSesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[1]dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebihbaik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS An-Nahl:97)

Itulah yang disebutkeberkahan sobat, adalah layak bagi setiap muslim meminta kepada Allah SWTuntuk memberkahinya dalam ilmu dan amalnya, dalam waktu dan hartanya, dalamkeluarga dan anak-anaknya, dan juga dalam kehidupan dunia dan akheratnya, sertahendaknya ia selalu berusaha membuka jalan yang membawa keberkahan itukepadanya.
Ar Raghib mengatakan,“keberkahan adalah kelanggengan kebaikan Ilahi pada sesuatu.”[2].Keberkahan itu jika terdapat pada sesuatu yang sedikit ia akan menjadi banyak,dan jika banyak ia akan bermanfaat, dan sesungguhnya salah satu buah terbesardari keberkahan dalam segala sesuatu adalah penggunaannya untuk ketaatan kepadaAllah SWT. Allah SWT berfirman :


“Jikalau Sekiranya penduduknegeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepadamereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” ( QS. Al A’raaf:96)

Banyak cara untukmendapatkan keberkahan. Diantaranya yang paling utama adalah :

1.      Ketakwaankepada Allah SWT, tidak seorang hamba pun yang bertakwa kepada Allah SWT dalamsegala urusannya, melainkan ia akan diberkahi oleh Allah SWT dalam urusannyatersebut, sesuai dengan kadar ketakwaannya atau bahkan lebih besar. Sebagaimanayang dijelaskan dalam ayat di atas.

2.      Dengando’a. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk mendapatkan keberkahan dalambanyak hal. Beliau mengajarkan kita untuk mendo’akan orang yang menikah denganmengatakan, “ Semoga Allah SWT memberkahimu, dan memberikan berkah atasmu,serta mengumpulkan kalian dalam kebaikan.” ( HR. At Tirmidzi). Beliau jugamengajarkan kepada kita untuk mendoakan orang yang member kita makan denganmengatakan, “ Ya Allah berkahilah mereka pada apa-apa yang telah engkau berikankepada mereka, ampunilah mereka, dan sayangilah mereka.” (HR. Muslim). Danbeliau juga mengajarkan kepada kita untuk mendoakan keberkahan pada makanankita dengan mengatakan, “ Ya Allah berkahilah kami pada makanan ini.” (HR.  Abu Dawud).

3.      Mengumpulkanharta dengan hati yang baik, tanpa menuruti kejahatannya dan tanpa memaksakankehendak. Nabi Muhammad SAW berkata kepada Hakim bin  Hizam ra : “ Wahai Hakim, sesungguhnya hartaitu indah dan manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan berlapang hati, makaakan diberikan berkah padanya. Dan barangsiapa yang mengmbilnya dengankerakusan, maka Allah tidak akan memberikan berkah kepadanya, danperumpamaannya ( orang yang meminta dengan kerakusan) bagaikan orang yangmakan, tetapi tidak pernah kenyang.”[3]

4.      Diikutidengan menginfaqkan harta kita dalam jalan kebaikan dan mengeluarkan zakat,serta memberikan hak-hak dari harta tersebut dengan ikhlas dan hati yang baik.Bukankah Allah SWT telah memberikan jaminan dalam Al Qur’an,  


“Katakanlah:"Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yangdikehendaki-Nya)". dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allahakan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”
( QS. Saba’:39)

Dari Abu Hurairah ra,ia berkata Nabi SAW bersabda, “ Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”Dalam sebuah Hadits qudsi dari Abu hurairah ra, ia berkata Nabi SAW bersabda, “Allah SWT Berfirman: “ Wahai anak adam, berinfaqlah maka Aku akan berinfaqkepadamu.” ( HR. Muslim )

5.      Berlaku jujur dalam jual beli, perniagaan, persyarikatan, dan bentuk muamalahlainnya.
Dari Hakim bin Hizam ra, ia berkat, “Nabi SAW bersabda, “ Orang yang bertransaksi jual belimasing-masing memiliki hak khiyar ( Membatalkan atau melanjutkan transaksi)selama keduanya belum berpisah, Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanyaakan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dantidak terbuka, maka keberkhan jual beli antara keduanya akan hilang.”[4]

6.      Dengan melakukan pekerjaan danperniagaan pada pagi hari. Diriwayatkan dari Shakhr Al Ghamidi ra Nabi SAWberkata, “ Ya Allah, berkatilah umatku pada waktu pagi hari mereka.” Karena ituRasulullah SAW hendak mengirim sebuah ekspedisi militer maka beliau akanmengirimnya pada waktu pagi. Shakhr itu adalah seorang pedagang, dan dia tidakakan mengirim pembantu-pembantunya kecuali pada waktu pagi, hingga hartanyamenjadi banyak sampai-sampai ia tidak tahu harus meletakkan hartanya dimana.

7.      Dengan Beristikharah kepada Allah SWTdalam segala hal, dengan keyakinan bahwa apa yang dipilihkan Allah SWT untukhambanya lebih baik daripada pilihannya untuk dirinya sendiri, baik di duniamaupun di akherat. Dan Nabi Muhammad SAW karena kegigihan beliau dalamberistikharah, maka beliau mengajarkan kepada para sahabatnya sebagaimanabeliau mengajarkan ayat-ayat Al Qur’an kepada mereka. Beliau bersabda, “ Jikasalah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, makakerjakanlah sholat dua rokaat selain sholat fardhu, lalu hendaklah ia berdoa : “

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu,aku memohon kekuasaan-Mu ( Untuk mengatasi permasalahanku) dengan kuasa-Mu, akumeminta kepada-Mu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, Sesungguhnya Engkau MahaKuasa sedangkan aku tidak kuasa. Engkau Yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak.Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahuibahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir urusan ku,atau baik dalam urusanku di dunia dan di akherat, maka takdirkanlah haltersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Namun, jikaEngkau mengetahui bahwa perkara tersebut buruk bagi agamaku, kehidupanku, danakhir urusanku, atau buruk bagiku dalam urusanku di dunia dan akherat, makapalingkanlah ia dariku, dan takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itukemudian limpahkan keridhoan-Mu kepadaku.” (HR Bukhari)

Sobat Sebagai penutup dari artikel ini, saya kembalimengingatkan bahwa Obat kecemasan dan kesedihan itu tidak lain adalah Iman danAmal sholeh silahkan baca QS An-Nahl ayat 97. Do'a pun merupakan obat mujarabuntuk melenyapkan rasa cemas dan kesedihan. " Ya Allah aku berlindungkepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, darisifat bakhil dan penakut, dan dari lilitan hutang dan penindasan." (HRBukhori ). Bertawakkal kepada Allah membuat kita berkecukupan.Bukankah Allahtelah berjanji dalam QS. Ath-Thalaq ayat 3. Maka siapa saja yang membacaAl-Aqur'an dan mentaddaburinya, akan hilang darinya rasa cemas dan kesedihan.Silahkan baca QS Al-Israa' ayat 82 dan QS Fushshilat:44.
Salam Dahsyat dan LuarBiasa !  ( Spiritual Motivator – N.FaqihSyarif H Penulis Buku Tak Action! www.faqihsyarif.com)


[1]Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-lakidan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harusdisertai iman.
[2]Dalam kita Mu’jam Mufradat alfazh Al Qur’an Al Karim (41)
[3]  Bisa di baca kitab Shahih Al Bukhari (I/456)nomor(1472) dan Shahih Muslim (2/717).
[4]Shahih Al Bukhari (2/92) Nomor (2110) shahih Muslim (3/1164) nomor (1532)

Sunday, September 21, 2014

Merdeka Untuk Berkarya

Merdeka untuk Berkarya

Al-Khawarizmi, perintis algebra dan algorithma dalam sebuah perangko Uni Soviet.
Al-Khawarizmi, perintis algebra dan algorithma dalam sebuah perangko Uni Soviet.

Dr. Fahmi Amhar

Merdeka itu untuk apa? Setiap tahun, peringatan hari 17 Agustus di Indonesia menjadi rutinitas untuk dua hal: pertama untuk mengibarkan bendera & upacara bendera; dan kedua untuk berbagai lomba, dan yang paling top adalah makan kerupuk, balap karung dan panjat pinang!
Ritual pertama tentu saja boleh diperdebatkan. Di banyak negara maju, ritual semacam itu tidak ada, atau sudah lama tak ada lagi. Kalaupun ada, yang melakukan tinggal dinas kemiliteran saja. Tapi di negeri ini, dengan alasan menjaga nasionalisme, ritual itu seakan-akan manjur, walaupun fakta membuktikan, makin banyak industri dan sumberdaya alam kita beralih ke asing, dan makin banyak produk asing yang mendominasi pasar negeri ini.
Adapun ritual kedua diyakini sebagai arena untuk bersuka ria mensyukuri kemerdekaan, sekaligus mempererat persaudaraan dan mengingat perjuangan, karena semua perlombaan itu memerlukan perjuangan. Namun tentu saja wajar bila ada anak bangsa yang bertanya-tanya, mengapa wujud mensyukuri kemerdekaan itu dari dulu selalu itu-itu saja? Apakah kita ini merdeka memang untuk sekadar makan kerupuk dan balap karung?
Tentu saja, di setiap peringatan kemerdekaan, negeri ini juga menunjukkan perhatiannya pada anak-anak bangsa yang dianggap berjasa. Sederet tokoh nasional dianugerahi bintang tanda jasa. Demikian juga ratusan guru teladan, dokter teladan, penyuluh teladan, dan lain-lain diundang ke istana ikut mensyukuri kemerdekaan bersama presiden. Namun di masyarakat kita sekarang, perhatian kepada para teladan ini nyaris tak ada. Padahal merekalah sebenarnya yang memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat, bukan pemenang makan kerupuk atau juara balap karung.
Sebenarnya banyak ilmuwan dan technopreneur di negeri ini yang membuat karya-karya besar yang dirasakan masyarakat secara langsung maupun tak langsung dan bahkan diakui oleh dunia internasional. Tetapi karya mereka jarang disorot media massa. Masyarakat jadi tak kenal, sehingga tak merasa bangga sebagai anak bangsa. Dan pemerintah juga tidak memberi penghargaan yang pantas. Walhasil, sekarang ini, peneliti yang paling senior pun, profesor doktor yang sekolahnya susah di luar negeri, gaji dan tunjangannya masih lebih rendah daripada artis atau politisi.
Padahal di dunia Islam, kita lama pernah sangat percaya diri sebagai sebuah bangsa. Itu pada zaman ketika belum ada arena pertandingan antar bangsa atau olimpiade ala Yunani kuno belum dihidupkan lagi.
Kunci dari rasa bangga sebagai bangsa dan percaya diri itu muncul semata-mata karena karya. Ada suatu masa di dunia ini ketika tidak ada kemajuan kecuali ada kontribusi kaum Muslim dan negara Islam di dalamnya. Mereka bangga dengan karya kolektifnya, bangga karena ada jejak amal shalihnya.
Bagaimana tidak, saat itu apa saja yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, dipelopori, ditemukan atau dimutakhirkan oleh para ilmuwan Islam. Mulai dari sabun untuk mandi, piring porselin untuk makan, tekstil untuk menutup auratnya, mesin-mesin pembangkit energi, teknologi konstruksi untuk membangun gedung-gedung, kapal untuk berlayar, aljabar untuk menghitung, ilmu pengobatan, musik untuk terapi kejiwaan, hingga geografi untuk merencanakan apa yang ada di bumi dan astronomi untuk bernavigasi dengan apa yang tampak di langit.
Semua kontribusi para ilmuwan itu dinikmati umat manusia selamanya, bahkan tidak hanya di negeri itu saja. Bandingkan dengan prestasi atlet di arena olahraga atau artis di ajang bakat, yang mungkin dua tahun lagi sudah dilupakan, karena akan tertutup oleh yang lebih muda.
Tetapi kontribusi karya yang lebih besar itu tidak mungkin tanpa sinergi banyak pihak. Seorang ilmuwan besar lebih mudah dimunculkan pada masyarakat yang merdeka, gemar belajar dan menghargai ilmu. Dan masyarakat yang seperti itu lebih mudah dikondisikan oleh media massa yang menyebarkan opini yang konstruktif. Seorang ilmuwan besar juga lebih mudah dimunculkan jika ada kemauan politik dari penguasa negara yang diikuti langkah nyata. Misalnya mengalokasikan anggaran yang cukup untuk aktivitas pendidikan dan riset, serta membuat aturan yang ramah terhadap hasil riset agar lebih mudah diterapkan dalam pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah.
Dan itu semua dikerjakan selama masa yang panjang di era Khilafah Abbasiyah dan Utsmaniyah. Khalifah secara sistematis menggerakkan mesin pendidikan. Rakyat dimudahkan untuk belajar. Negara membayar guru-guru hingga berkecukupan dan mengadakan perpustakaan, di mana rakyat bebas membaca buku-bukunya sepuasnya.
Negara mensponsori riset-riset awal dan perjalanan ilmiah yang menjelajahi dunia baru. Inilah yang membuat seorang Al-Khawarizmi (780-850 M) bisa leluasa menulis bukunya yang mengubah cara dunia dalam berhitung, yaitu Kitab Aljabar wa al-Muqobalah. Banyak hal dalam kitab itu yang baru terasa manfaatnya setelah ratusan tahun! Tetapi itulah, negara khilafah tidak melihat keuntungan jangka pendek dari sebuah karya ilmiah. Demikian juga dengan penemuan fisika optika (camera obsicular) dari Ibn al-Haitsam, yang barangkali di saat hidupnya belum memiliki aplikasi praktis. Atau catatan perjalanan sang geografer penjelajah, Ibnu Batuthah.
Kehebatan sebagian dari ilmuwan-ilmuwan itu ada yang sempat dikenali semasa hidupnya, sehingga khalifah atau para sulthan (gubernur) menghadiahi mereka emas seberat buku yang ditulisnya. Tetapi sebagian yang lain terhargai dengan sendirinya ketika setiap ilmu yang mereka wariskan digunakan oleh orang-orang sesudahnya. Mereka mendapatkan pahala yang tak putus-putusnya.
Dan umat Islam juga bangga dengan karya-karya mereka. Bagaimana tidak bila orang-orang asing berduyun-duyun sekolah di universitas di dunia Islam, termasuk Sylvester II yang kemudian menjadi Paus di Vatikan tahun 999 – 1003 M dan memperkenalkan “angka” Arab di Eropa, ternyata juga alumni universitas Islam di Cordoba.
Mensyukuri merdeka dengan karya ini lebih mendasar, “lebih sesuatu”, tidak sekadar upacara atau pengibaran bendera. Itulah yang membuat rakyat khilafah dengan percaya diri berdakwah ke seluruh penjuru dunia. Dan berbagai negeri menerima dakwah Islam karena takjub pada sebuah negara dan masyarakatnya yang luar biasa. Para pangeran dari negara paling hebat di Nusantara yaitu Majapahit saja memandang takjub para pedagang yang datang dari dunia Islam, sehingga mereka kemudian masuk Islam, menyebarkan Islam dan mengganti negara Majapahit yang mereka warisi menjadi negara Islam juga.
Mereka mensyukuri kemerdekaan dengan beriman dan beramal shalih (berkarya), untuk dunia yang lebih baik.

Friday, September 19, 2014

Bergaullah dengan baik nan santun

Pergaulan yang Baik dan Santun
Di tengah-tengah masyarakat setidaknya ada tiga golongan manusia. Pertama: orang yang bergaul dengan baik di masyarakat dan sabar menghadapi keburukan mereka sehingga dia cenderung disukai oleh mereka. Kedua: orang yang buruk pergaulannya di masyarakat sehingga cenderung tidak disukai oleh mereka. Ketiga: orang yang enggan bergaul dengan masyarakat, baik karena niat baik (misal: menghindari ragam keburukan yang muncul di masyarakat), karena tak sabar menghadapi keburukan masyarakat ataupun sekadar karena rasa malas saja.
Terkait dengan itu, Ibn Umar ra menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang Muslim yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat serta bersabar atas keburukan mereka adalah lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar dengan keburukan mereka.” (HR at-Tirmidzi).
Dengan redaksi berbeda Rasul SAW juga bersabda, “Seorang Mukmin yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat dan bersabar atas keburukan mereka adalah lebih besar pahalanya daripada seorang Mukmin yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas keburukan mereka.” (HR Ibn Majah).
Tentang pentingnya bergaul secara baik dengan masyarakat, Sayyid al-Musayyab ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puncak akal setelah keimanan kepada Allah SWT adalah bergaul dengan baik di masyarakat. Seseorang tidak akan pernah merugi selama dia sering bermusyawarah dengan orang lain. Pelaku kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat.” (HR Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Bahkan bergaul baik dengan masyarakat dipandang sebagai sedekah. Jabir bin Abdillah ra menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Bergaul baik dengan masyarakat adalah sedekah.” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Dalam sebuah hadits marfu’ dari Zaid bin Rafi’ dituturkan bahwa Rasul SAW pun bersabda, “Aku diperintahkan untuk bergaul secara baik dengan masyarakat sebagaimana aku diperintahkan shalat fardhu.” (HR Ibn Abi Syaibah).
Nazzal bin Sabrah pun menuturkan hadits marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang jika ketiganya ada pada diri seseorang, ia berada dalam kedamaian: ilmu, yang dengan ilmu itu kebodohan orang bodoh bisa dihilangkan; akal, yang dengan akal itu orang bergaul secara baik dengan masyarakat; sikap wara’ yang bisa mencegah seseorang dari bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Salah satu pergaulan yang baik di tengah masyarakat adalah dengan selalu menunjukkan sikap santun dan lembut. Siapakah orang yang santun atau lembut? Kata Amr bin al-‘Ash ra, “Orang yang santun (lembut) bukanlah orang yang santun (lembut) terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya. Akan tetapi, orang yang santun (lembut) adalah orang yang santun (lembut) baik terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya ataupun yang bersikap kasar terhadap dirinya.” (HR Ibn Abi Syaibah).
Terkait sikap santun dan lembut ini Rasulullah SAW bersabda, “Manakala Allah SWT mengumpulkan seluruh makhluk pada Hari Kiamat, seseorang menyeru, ‘Dimana pelaku keutamaan?’ Rasul bersabda, “Tiba-tiba sekelompok orang berdiri. Mereka lalu berjalan dan bergegas menuju surga. Malaikat lalu menyambut mereka. Mereka kemudian ditanya, ‘Siapa kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah pelaku keutamaan itu.’ Mereka ditanya lagi, ‘Apa keutamaan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Jika kami dizalimi, kami berusaha bersabar. Jika kami diperlakukan buruk, kami memohonkan ampunan bagi pelaku keburukan tersebut. Jika kami dikasari, kami berusaha tetap bersikap lembut terhadap orang yang mengasari kami.’ Selanjutnya dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam surga sebagai balasan terbaik bagi para pelaku kebaikan.’” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Sebaliknya, Islam mencela sikap buruk atau kasar hingga membuat orang-orang tidak suka. Rasul SAW bersabda kepada Aisyah ra, “Wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang cenderung dijauhi atau ditinggalkan oleh manusia karena mereka khawatir terhadap keburukannya.” (HR Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Dalam redaksi lain Rasul SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia terburuk pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang (di dunia) paling dikhawatirkan lisannya atau keburukannya oleh manusia.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Nabi SAW juga bersabda kepada Aisyah ra, “Manusia terburuk adalah siapa saja yang menjadikan orang takut berkumpul dengan dia karena keburukannya.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Karena itulah Salim bin Abdillah berkata, “Di antara kebaikan adalah takut melakukan keburukan (terhadap orang lain).” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Wa ma tawfiqi illa bilLah. [] abi

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co