Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Friday, May 30, 2014

Bedah Buku "Take Action!" di Islamic Book Fair Surabaya 2014


"Tidak sedikit orang yang punya keinginan dan cita-cita akhirnya hanya berhenti di angan-angan. Bagaimana mewujudkan apa yang sudah dicita-citakan? Bagaimana jika nantinya keinginan itu tak terwujud?

Anda harus datang di acara ini, karena disinilah Anda akan temukan jawabannya .....

Bedah Buku "Take Action"
bersama: Ust.DR.N Faqih Syarief,H. M.Si.
(Spiritual Motivator Nasional)

Selasa, 3 Juni 2014 | 16.00-18.00 WIB
di Arena Islamic Book Fair Surabaya
Gedung DBL Arena (Jl. A. Yani  88 Surabaya)

- Dapatkan diskon menarik saat acara
- Doorprize mengejutkan dari panitia

Tuesday, May 13, 2014

Kerapuhan Argumentasi Pro Demokrasi



Kerapuhan Argumentasi Pro Demokrasi ( KH Shiddiq Al-jawi )
Banyak argumentasi pro demokrasi yang terus dipropagandakan di tengah umat Islam. Argumentasi-argumentasi itu tak jarang dibarengi dengan tikaman terhadap syariah dan Khilafah Islam. Ini tak boleh dibiarkan karena merupakan kemungkaran yang dapat menyimpangkan umat Islam dari jalan yang lurus (Lihat: QS al-Maidah [5] : 49).
Lagi pula, setiap argumentasi serapuh apapun, selalu ada potensi untuk dipercayai. Pepatah Arab mengingatkan, “Li kulli saqith laqith (Setiap barang yang jatuh, pasti ada yang memungutnya).”

Demokrasi: Memberikan Jalan kepada Islam?

Demokrasi diklaim memberikan jalan kepada semua ideologi termasuk Islam untuk berkembang, sementara Khilafah hanya membolehkan ideologi Islam. Yang melontarkan argumentasi itu biasanya kaum liberal. Jawabannya dua poin. Pertama: benar demokrasi memberikan jalan kepada semua ideologi, termasuk ideologi Islam, tetapi itu semu belaka. Mengapa? Sebab, selalu ada batas-batas tertentu yang tak dapat dilampaui oleh ideologi Islam. Batas ini merupakan garis demarkasi ideologis absolut yang tak mengenal toleransi, yaitu tuntutan penegakan Negara Islam (Khilafah). Jika garis demarkasi ideologis itu masih aman, kelompok dengan ideologi Islam dibolehkan berkembang. Namun, begitu garis “sakral” itu nyaris terlanggar atau terlampaui, demokrasi mempunyai mekanisme politik yang sangat kejam dan brutal untuk memberangus ideologi Islam. Contohnya, di Aljazair ketika FIS sebagai parpol Islam telah memenangkan pemilu tahun 1990-an lalu. Militer Aljazair, yang didukung Prancis, kemudian secara brutal membatalkan kemenangan tersebut. Contoh terakhir di Mesir, ketika Partai Kebebasan dan Keadilan (PKK) pimpinan Mursi memenangkan Pemilu tahun 2012. Militer Mesir di bawah Jenderal Abdul Fatah as-Sisi yang didukung AS, lalu melakukan kudeta terhadap Presiden Mursi pada tahun 2013, guna menghancurkan kemenangan kelompok Islam tersebut.

Kedua: benar Khilafah hanya membolehkan ideologi Islam, karena memang itulah yang menjadi tuntutan akidah dan syariah Islam. Sebab, Khilafah adalah negara berasaskan akidah Islam. Wajar dalam Khilafah tidak boleh ada kelompok atau parpol yang tidak berasaskan Islam.
Namun, itu tak berarti aspirasi dan kritik dari warga negara non-Muslim (ahludz-dzimmah) menjadi terlarang secara mutlak dalam Khilafah. Ada dua saluran formal  yang dapat digunakan non-Muslim untuk menyampaikan kritik/aspirasi. Saluran pertama: Lembaga wakil rakyat, baik Majelis Umat, yakni suatu lembaga wakil rakyat pada level negara, maupun Majelis Wilayah, yaitu suatu lembaga wakil rakyat pada level propinsi (semacam DPRD). Lewat dua lembaga formal itu aspirasi atau kritik warga non-Muslim dapat disalurkan. Warga negara non-Muslim boleh menjadi anggota Majelis Umat atau Majelis Wilayah. Hanya saja, wewenangnya dibatasi hanya untuk menyampaikan pengaduan (syakwa) atau penyalahgunaan kekuasaan atas non-Muslim. Saluran kedua: Media massa karena media massa boleh dimiliki oleh setiap warga negara, baik Muslim atau non-Muslim. Tentu kritik yang disampaikan tidak boleh keluar dari bingkai Syariah Islam (Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, 1/291-295).

Demokrasi Minim Risiko?

Jalan demokrasi dikatakan lebih minim risiko daripada jalan revolusioner yang mungkin berdarah-darah. Biasanya ini argumentasi yang disampaikan aktivis Muslim yang masuk dalam sistem demokrasi. Mereka sadar, perubahan itu perlu, tetapi mereka selalu menolak perubahan sistem secara revolusioner.
Jawabannya ada tiga poin. Pertama: benar jalan demokrasi minim risiko. Namun ingat, hasilnya juga minim. Mungkin hanya mengganti menteri, mengganti anggota DPR, atau mungkin menjadi presiden. Namun, tak mungkin terjadi perubahan signifikan lewat demokrasi, misalnya mengganti sistem demokrasi-kapitalis menjadi negara Khilafah.

Padahal perubahan yang diperlukan umat saat ini bukanlah perubahan kecil yang sekadar mengganti rezim (sosok pemimpin) yang ada, melainkan perubahan sistem menuju tegaknya Negara Islam (Khilafah). Jadi, perubahan yang dituju harus dua-duanya: mengganti pemimpin dan sistemnya. Imam Taqiyuddin an-Nabhani pernah menegaskan, “Umat Islam telah mengalami tragedi karena dua musibah. Pertama: penguasanya telah menjadi antek-antek kafir penjajah. Kedua: di tengah-tengah umat telah diterapkan apa-apa yang tidak diturunkan Allah, yaitu diterapkan sistem kufur.” (Taqiyuddin An-Nabhani, Nida` Har ila al-Muslimin min Hizb at-Tahrir, hlm. 48)

Maka dari itu, perubahan yang diperlukan umat sekarang ini bukanlah sekadar perubahan kecil (mengganti rezim), melainkan juga perubahan yang besar, yaitu mengganti sistem yang ada menuju Khilafah. Jika dalam perubahan besar ini muncul risiko yang juga besar, tentu itu wajar.

Kedua: perubahan revolusioner memang sering dikonotasikan perubahan yang berdarah-darah. Namun sebenarnya yang dimaksudkan dengan perubahan revolusioner adalah perubahan yang bersifat menyeluruh dan segera, bukan perubahan bertahap (gradual/tadarruj), atau parsial pada aspek tertentu saja, misal aspek ekonomi saja. Dalam perubahan revolusioner seperti ini mungkin muncul ekses atau risiko. Itu adalah konsekuensi perjuangan. Apakah ada perjuangan yang tanpa risiko?

Ketiga: tidak tepat dikatakan perubahan lewat jalan demokrasi minim risiko, dalam arti tidak berdarah-darah. Perubahan lewat demokrasi juga bisa berdarah-darah. Contohnya, lengsernya Presiden Soeharto tahun 1998. Kendati awalnya pelengseran Soeharto berasal dari desakan luar parlemen, toh akhirnya dianggap legal secara demokrasi. Bukankah pelengseran Soeharto itu berdarah-darah? Sebelum itu suksesi Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto tahun 1967 juga berdarah-darah. Toh itu pun akhirnya dianggap legal menurut demokrasi. Jadi, demokrasi juga bisa berdarah-darah, bukan?

Demokrasi Kompromis?

Demokrasi sering dikatakan bersifat kompromis sehingga memberikan ruang bagi semua pihak. Sering dikatakan inilah prinsip “take and give”, yaitu mengambil dan memberi. Artinya, tak bisa satu golongan mengambil semuanya, melainkan hanya mengambil sebagian, sedangkan sebagian lainnya harus diberikan kepada golongan lainnya. Tujuannya agar tercipta kompromi yang pada gilirannya akan menimbulkan harmonisasi masyarakat dan stabilitas politik.
Tampaknya argumentasi itu sangat indah dan luhur. Namun, dalam praktiknya, justru umat Islam yang lebih banyak menjadi korban. Yang dikorbankan acapkali bukan hanya soal kedudukan atau jabatan, melainkan ajaran Islamnya itu sendiri. Sebagai contoh: Dalam sidang-sidang BPUPKI menjelang kemerdekaan RI tahun 1945, ada dua aspirasi mengenai bentuk negara. Sebagian menginginkan Negara Islam yang menerapkan syariah Islam. Sebagian lagi menolak syariah Islam dengan aspirasi negara nasional yang sekular. Akhirnya, ditempuh kompromi sehingga lahir sila pertama Piagam Jakarta 1945 yang berbunyi: Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya. Jadi, syariaht Islam tidak diterapkan kepada semua warga negara, juga tidak ditolak sama sekali, melainkan dicari komprominya, yakni diterapkan kepada Muslim saja.
Padahal sila pertama yang kompromistis ini sebenarnya tidak sesuai dengan Islam. Sebabnya, Islam mestinya diterapkan kepada seluruh warga negara, bukan hanya kepada warga negara Muslim. Kepada non-Muslim diterapkan syariah Islam yang mengatur hukum publik (public order), seperti sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, dan seterusnya. Adapun dalam urusan privat, seperti dalam masalah akidah, ibadah, pernikahan, busana, makanan, minuman, warga non-Muslim dipersilakan menganut dan menjalankan agamanya masing-masing, dalam bingkai syariah Islam (Muqaddimah ad-Dustur, Taqiyuddin An-Nabhani, 1/27-35).
Jadi, sifat kompromis dalam demokrasi terbukti telah mengorbankan norma syariah Islam, bukan hanya mengorbankan jabatan atau kedudukan seseorang. Yang lebih menyedihkan lagi, pasal kompromistis yang ditetapkan 17 Agustus 1945 itu hanya berumur satu hari. Pada hari berikutnya, 18 Agustus 1945, pasal itu mengalami perubahan lagi atas prakarsa Bung Hatta yang berpaham sekular, dengan menghapuskan tujuh kata, yaitu “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya.” Walhasil, demokrasi yang kompromis telah terbukti mengorbankan norma syariah Islam, sesuatu yang wajib dihindari oleh umat Islam.
Demokrasi Universal?
Demokrasi diklaim lebih bersifat universal, yaitu bisa diterima oleh semua kelompok, sementara Khilafah Islam dikatakan sektarian, yaitu hanya mementingkan kelompok Islam saja.
Argumentasi itu tidak sesuai dengan kenyataan. Pasalnya, justru sifat sektarian itu dapat kita temukan di negara-negara Eropa yang menerapkan demokrasi. Praktik demokrasi di sana membuktikan kekuasaan hanya diprioritaskan bagi sekte tertentu dalam agama Kristen, sedangkan sekte lainnya cenderung dicegah untuk menduduki kekuasaan. Di Italia, misalnya, kekuasaan selalu dipegang pemeluk Katolik. Tak diijinkan sama sekali ada penganut sekte Kristen Protestan untuk menduduki kekuasaan. Itulah sebabnya mengapa partai yang selalu berkuasa di Italia adalah Partai Demokrasi Masehi yang didukung oleh gereja Katolik. Demikian pula di Spanyol. Kekuasaannya selalu dipegang penganut Katolik. Bahkan hak memilih dalam Pemilu pun hanya diberikan kepada penganut Katolik saja. Sebaliknya di Norwegia, yang mendominasi kekuasaan adalah para penganut Kristen Protestan. Raja yang berkuasa dan minimal setengah dari jumlah menteri, diharuskan beragama Kristen Protestan. Demikian pula di Swiss. Konstitusinya secara resmi membuat peraturan yang membatasi kekuasaan hanya pada penganut Kristen Protestan saja, dan sebaliknya sangat mempersulit masuknya orang Katolik dalam kekuasaan (Lihat Abdul Aziz Shaqr, An-Naqdh al-Gharbiy li al-Fikrah ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 26-27).
Adapun dalam Khilafah, yang terjadi dalam sejarah bukanlah dominasi sekte tertentu, melainkan dominasi keturunan tertentu, seperti Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Bani Utsmaniyyah. Itu fakta sejarah yang tak dapat dibantah. Namun, fakta sejarah tersebut tidak mewakili norma ideal yang sesungguhnya dari syariah Islam. Yang benar dalam Syariah Islam adalah, kekuasaan itu ada di tangan umat (as-sulthan li al-ummah), bukan di tangan keturunan atau keluarga tertentu. Khalifah seharusnya adalah jabatan hasil pilihan umat, bukan jabatan yang diwariskan dari ayah kepada anaknya. Islam tidak mengakui dan tidak mengenal sistem pewarisan kekuasaan yang lazim dalam sistem monarki/kerajaan (Abdul Qadim Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 28-29).
Demokrasi Modern dan Beradab?
Demokrasi dikatakan sistem politik modern dan lebih beradab. Sebaliknya, kembali kepada Khilafah Islam berarti kembali ke zaman terbelakang.
Jawabannya ada tiga poin. Pertama: sebagai sistem pemerintahan memang demokrasi baru eksis pada ke-18 M di Eropa. Namun, secara ide dan filsafat, demokrasi sesungguhnya berakar pada sejarah Yunani kira-kira lima abad sebelum Masehi. Demokrasi sudah diperbincangkan dan diperdebatkan oleh para filosof Yunani yang hidup pada abad ke-5 SM, seperti Thrasymachus, Otanes, Megabyse, dan Xenophon. Demokrasi juga diperbincangkan oleh Sokrates (469-399 SM) hingga Aristoteles (384-322 SM). (Abdul Aziz Shaqr, An-Naqdh al-Gharbi li al-Fikrah ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 20-22). Jadi, bagaimana mungkin demokrasi dikatakan sistem modern jika benih-benih idenya sudah dibicarakan sejak lima abad sebelum Masehi?
Kedua: jika dikatakan demokrasi lebih beradab, memang seakan-akan ada benarnya meskipun hakikatnya tidaklah demikian. Biasanya yang dicontohkan adalah sejarah Timur Tengah modern yang banyak dikuasai diktator. Seperti Irak pada masa Saddam Hussain, Iran pada masa Syah Iran, Libya pada masa Muammar Khadafi, Tunisia pada masa Burguiba, dan sebagainya.
Lalu demokrasi digambarkan telah datang sebagai dewa penolong yang menyelamatkan negara-negara tersebut dari kediktatoran. Seakan-akan Barat dengan demokrasinya betul-betul hebat dan mulia. Padahal justru negara-negara Baratlah (khususnya AS) yang menjadi pendukung di balik layar para diktator itu. Jadi, bagaimana mungkin negara pensponsor kediktatoran seperti AS, dikatakan sebagai negara beradab?
Kalau kita melihat sejarah, katakanlah mulai Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) hingga kini, terbukti bahwa klaim demokrasi sebagai sistem beradab adalah klaim dusta. Bahkan demokrasi sebenarnya lebih tepat disebut sistem biadab, bukan sistem beradab. Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap tewasnya puluhan juta manusia pada PD I dan PD II jika bukan negara-negara demokrasi seperti Inggris, Prancis, dan Jerman? Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap tewasnya ratusan ribu jiwa manusia ketika AS sebagai negara demokrasi mengebom Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945? Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap tewasnya lebih dari satu jiwa Muslim di Irak sejak invasi militer AS pada tahun 2003?
Ketiga: jika yang dimaksud modern adalah sains dan teknologi, maka secara faktual memang kemajuan sains dan teknologi saat ini masih didominasi oleh negara-negara Barat yang notabene demokratis. Namun sesungguhnya, sains dan teknologi bukanlah produk dari ideologi demokrasi, melainkan produk dari penelitian ilmiah berdasarkan metode ilmiah (scientific method) yang bersifat universal dan netral-nilai. Jadi, ditinjau secara epistemologi, sains dan teknologi adalah sesuatu yang netral-nilai, bukan sesuatu yang terikat-nilai (value-bond), misalnya lahir dari paham demokrasi. Jadi, demokasi itu tak ada urusannya dengan sains dan teknologi.

Demokrasi Memberikan Kebebasan Ekspresi dan Kritik?

Demokrasi dikatakan memberikan jalan kepada semua orang untuk berperan, berekspresi dan melakukan kritik; sementara Islam tidak demikian. Argumentasi ini tak dapat diterima. Pasalnya, kebebasan berpendapat yang diserukan demokrasi itu sangat bertentangan dengan Islam. Ini ide yang berlebihan dan tak bertanggung jawab. Dikatakan berlebihan, karena demokrasi membolehkan berbicara apa saja; sesuai Islam atau tidak; mendukung atau menentang Islam. Semuanya boleh dalam demokrasi. Apakah umat Islam harus menerima kebebasan berpendapat dengan standar yang rusak seperti ini?
Dikatakan tak bertanggung jawab, karena penguasa dalam demokrasi merasa tak berkewajiban memberikan satu pendapat yang benar, atau melarang pendapat yang sesat, kepada masyarakat. Rakyat dibolehkan berbicara apa saja; boleh memilih pendapat apa saja, entah sesuai Islam atau tidak, entah sesat atau tidak. Semua terserah kepada rakyat. Apakah umat Islam harus menerima kebebasan berpendapat yang tak bertanggung jawab seperti ini?
Dalam Islam setiap perkataan atau kritik harus benar, yaitu sesuai syariah Islam, karena semua akan dicatat oleh malaikat dan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah pada Hari Kiamat nanti (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 70; Qaf [50]: 18).  
WalLahu a’lam.

5 Syarat Perubahan Mendasar



Lima Syarat Perubahan Mendasar
Oleh. Farid Wadjdi
Wajah Dewan Perwakilan Rakyat periode 2014-2019, diperkirakan tidak lebih baik dibanding DPR sebelumnya. Menurut, Andar Nubowo, pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah, yang menjadi penyebabnya antara lain 30 persen dari 560 anggota DPR yang terpilih karena faktor uang dan popularitas.
Di samping faktor individual, DPR yang merupakan pilar penting demokrasi, juga bermasalah secara sistem. Keputusan yang didasarkan kepada suara mayoritas, kerap kali lebih berpihak kepada pemilik modal, bukan rakyat. Demokrasi mahal yang menjadikan uang sebagai panglima  menciptakan lingkungan yang subur untuk jual beli kebijakan dan korupsi. Semua ini menciptakan simbiosis mutualisme politisi dan pemilik modal yang membahayakan rakyat.

Karena itu, berulang-ulang kita tegaskan tidak akan terjadi perubahan yang berarti, selama Indonesia  mengadopsi sistem kapitalisme. Kita juga tidak kenal lelah, mengingatkan yang dibutuhkan oleh rakyat adalah perubahan yang mendasar (asasiyah) dan menyeluruh (inqilabiyah). Perubahan totalitas ini (taghyiir) membutuhkan beberapa prasyarat penting.

Pertama, kejelasan basis ideologi. Persoalan ideologi ini penting, karena merupakan dasar yang dibangun di atasnya sistem kehidupan. Ideologi juga akan mengarahkan perubahan. Karena itu, ketidakjelasan ideologi apalagi tanpa ideologi, akan membuat perubahan mendasar menjadi utopis dan tidak tentu arah.
Bagi kita tentu saja pilihan basis ideologinya adalah Islam. Karena Islamlah yang memiliki akidah yang shahih (benar) yang akan melahirkan sistem hidup yang shahih pula. Akidah dan syariah Islam yang berasal dari Allah SWT merupakan jaminan bagi kebenaran Islam dan akan memberikan kebaikan bagi setiap umat manusia (rahmatan lil ‘alamin).

Kedua, perubahan mendasar juga membutuhkan musuh bersama (common enemy) yang jelas. Kesalahan menetapkan musuh akan menyebabkan kesalahan dalam bersikap terhadap musuh. Untuk itu, perlu kita tegaskan, musuh utama umat Islam adalah ideologi kapitalisme dan sosialisme-komunis. Karena penerapan ideologi kapitalisme inilah yang menjadi pangkal penyebab kerusakan di tengah masyarakat.

Ketiga, harus ada konsepsi dan arah perubahan yang jelas, terarah, dan terukur. Karena itu perubahan yang kita lakukan harus jelas mengarah pada upaya melanjutkan kehidupan Islam (al isti’naf alhayatil islamiyah) dengan menerapkan syariah Islam melalui institusi politik Khilafah Islam. Ketegasan dan kejelasan arah perubahan ini penting. Tentu sulit diterima akal sehat, kita menginginkan perubahan namun tidak  mengetahui arahnya.

Di samping itu harus terukur, di mana keberhasilan penegakan Khilafah Islam akan tergantung pada dua hal. Sejauhmana kesadaran umat untuk mendukung penegakan khilafah dan mencampakkan sistem kapitalisme. Dan yang kedua, sejauh mana kelompok kekuatan riil (ahlul quwwah) di tengah masyarakat mendukung perubahan ini. Kesadaran masyarakat yang menjadikan mereka siap berkorban dan dukungan ahlul quwwah yang ikhlas dan didasarkan kepada Islam, akan membuat perubahan ke arah Islam tidak bisa dibendung.

Tidak hanya itu, agen-agen perubahan, tentu harus mempersiapkan sistem pengganti kalau perubahan itu terjadi. Karena itu, konsepsi tentang sistem Islam harus benar-benar dikuasai. Hal inilah yang sudah disiapkan Hizbut Tahrir, yang mengusung perubahan yang mendasar ini. Hizbut Tahrir sudah siap dengan konsepsi sistem pemerintahan (nidzam hukmi fi al islam), sistem ekonomi (an nidzam al iqtishadi fil al islam), sosial (an nidzam al ijtima’i), keuangan (al amwal fi daulatil khilafah) dan konsepsi lain yang dibutuhkan untuk mengurus masyarakat dan negara.

Keempat, harus ada kepemimpinan umat. Tanpa kepemimpinan tentu sulit menggerakkan dan mengarahkan umat. Karenanya, kelompok/partai, yang melakukan perubahan harus menjadi pemimpin di tengah umat. Namun bukan sembarangan kepemimpinan. Akan tetapi kepemimpinan yang sifatnya ideologis (mabda’i) yang dibangun berdasarkan Islam. Bukan didasarkan kepada ikatan kemashlahatan duniawi. Sehingga perubahan ini terjadi melalui jalan umat dan bersama-sama umat yang sadar (‘an thariqil ummah).

Kelima, perubahan akan semakin matang ketika ada peristiwa politik (political event), yang ditandai dengan penolakan masyarakat terhadap pemimpin dan sistem politik yang ada. Ini terjadi ketika rakyat sangat menderita akibat kebijakan elite politik yang menerapkan sistem kapitalisme yang rakus dan menindas.

Ini mirip dengan saat-saat genting, ketika masyarakat bergerak menentang rezim Soeharto di Indonesia, atau rezim Husni Mubarak di Mesir. Peristiwa politik ini pasti terjadi dan berulang,  sebagai buah dari sistem kapitalisme.
Dalam kondisi kritis seperti ini, masyarakat akan bergerak menuntut perubahan yang benar, yaitu perubahan yang  didasarkan pada Islam. Sebelumnya, umat telah tercelup dakwah Islam sehingga mampu menghasilkan kesadaran umat.
Mereka marah secara ideologis, bukan sekadar kemarahan akibat dorongan perut. Mereka menuntut penegakan Khilafah Islam. Kesadaran umat yang  disertai dukungan ahlul quwwah (pemilik kekuasaan riil), akan menjadikan perubahan tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Allahu Akbar.

Saturday, May 10, 2014

Catatan dakwah ziarah dan kontak di PP Maskumambang



Catatan dakwah LKI Jatim Ziarah dan kontak di PP Maskumambang  Dukun gresik Jawa Timur

Sabtu, 10 mei 2014 Tim LKI (Lajnah khusus Intelektual) DPD HTI  jatim Faqih Syarif dan ust. Firdauz dengan didampingi humas DPD 2 HTI Gresik melakukan ziarah dan kontak dakwah di salah satu Pesantren tertua di jatim yaitu PP Maskumambang Dukun Gresik Jatim. Tepat jam 13.15 sampailah rombongan di pesantren  Maskumambang. Diterima langsung oleh  Drs.KH Fatihuddin Munawir, M.Ag. selaku pemangku pesantren sekaligus Rektor Sekolah Tinggi Maskumambang beserta staff dan Dosen. Pertemuan berlangsung penuh kekeluargaan sebagai sebuah saudara yang sama-sama  mengemban dakwah islam dan menegakkan kalimat  Allah di muka bumi ini. Dalam sambutannya KH Fatih sangat senang dan berterima kasih atas kunjungan teman-teman DPD 1 HTI jatim untuk menjalin silah ukhuwah sesama pejuang dan penegak syariah. Beliau memberikan penjelasan bahwa PP Maskumambang memiliki ikon Moslem Personality Insurance yang merupakan refleksi dari Visi Pesantren, Beraqidah Shohihah, Beramal shaleh, Berilmu manfaat dan Berakhlaq karimah.

Dalam pertemuan itu pula Ust.Faqih Syarif  menjelaskan berbagai persoalan yang menimpa kaum muslimin saat ini secara umum di dunia wabilkhusus di Indonesia. Persoalan utamanya (qadhiyah mashiriyah) adalah tidak adanya kehidupan Islam di mana di dalamnya diterapkan syariah dan dipimpin oleh seorang khalifah
Persoalan utama itu melahirkan banyak sekali problematika cabang sebagai fasad (kerusakan) (ar-Rum : 40)
Bagaimana caranya atau apakah Solusinya? Sekadar mengganti pemerintahan dan mengganti birokrat yang tidak  amanah, korup dan tidak cakap? Mengganti sistem sekuler? Atau mengganti kedua-duanya?
Sistem mana yang dipilih untuk dilakukan perubahan? Memilih sosialisme-komunisme yang telah bangkrut? Memilih kapitalisme berarti mempertahankan  krisis. Atau memilih Islam sebagai satu-satunya alternatif Untuk mewujudkannya diperlukan DAKWAH……Dakwah li isti’nafi al-hayati al-islamiyyah (melanjutkan kehidupan Islam) dengan audatu al-muslimin ila al-amal bijamii ahkami al-islami (mengajak kaum muslimin kepada pengamalan seluruh hukum-hukum Islam). Dengan jalan menegakkan syariah dan khilafah.   

Untuk itulah kami HTI terus secara istiqomah melakukan dakwah sebagaimana thoriqoh dakwah Rasulullah SAW berikut penjelasan ust. Faqih Syarif dengan menggunakan presentasi LCD Proyektor beliau juga menjelaskan dengan gamblaaang bagaimana penjajahan modern yang menimpa negeri-negeri Islam termasuk Indonesia yang merupakan negeri dengan penduduk kaum muslimin terbesar di dunia.

Beliau juga menjelaskan bagaimana metode dakwah yang diterapkan oleh hizbut tahrir ?  Apa yang dilakukan HTI adalah semata-mata mengikuti thariqah dakwah Rasulullah. Dimulai pembentukan kader yang bersyakhshiyyah Islamiyyah, melalui pembinaan intensif (halqah murakkazah) dengan materi dan metode tertentu. Pembinaan  umat (tatsqif jamaiy) untuk terbentuknya pendapat masyarakat (al-wa’yu al-amy) tentang Islam. Pembentukan kekuatan politik melalui pembesaran tubuh jamaah (tanmiyatu jizmi al-hizb) yang membuat kegiatan pengkaderan dan pembinaan umum dapat dilakukan dengan lebih intensif, hingga terbentuk kekuatan politik (al-quwwatu al-siyasiya).  Dan Karakter dakwah Rasulullah SAW itu adalah : Tanpa kekerasan, Pemikiran, Aktivitas politik dan tholabun nushrah untuk melakukan perubahan yang total dan menyeluruh.

Di Akhir Presentasinya Ust. Faqih Syarif kembali mengingatkan bahwa kunci perubahan masyarakat itu adalah :
  1. Terdapat Jamaah Dakwah
  2. Terdapat ide Islam yang jelas dan komprehensip
  3. Terdapat kader dakwah yang tangguh
  4. Kesadaran masyarakat
  5. Mendapatkan dukungan pemilik kekuasaan melalui aktivitas Thalabun Nushrah
Oleh karena itu Hizbut tahrir senantiasa mengajak umat lebih-lebih para ulama, intelektual dan penguasa untuk kembali melanjutkan kehidupan islam dengan tegaknya syariah dan khilafah. Di Akhir pertemuan diakhiri dengan makan bersama yang disediakan PP Maskumambang dan KH  Fatih dan KH Abduh berjanji untuk membawa santrinya untuk hadir KIP 1435 H di Gresik  yang diadakan HTI di 68 Kota di Indonesia termasuk kota pudak gresik.  ( LKI DPD 1 HTI Jawa timur)

Sunday, May 4, 2014

Dekati Allah dan Hanya beribadah kepada-Nya, maka segalanya akan jadi Indah.


Dekati Allah dan hanya beribadah kepada-Nya, maka segalanya akan jadi Indah.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya, dan dari kejahatan apa yang turun dari langit, dari kejahatan yang naik ke langit, dan dari kejahatan fitnah malam dan siang serta dari setiap jalan kejahatan kecuali jalan yang menghantarkan pada kebaikan wahai Zat yang Maha Pengasih.”


Sobat, banyak diantara kita kepingin hidupnya mulia dan berkah tapi justru cara-cara dan tindakan yang kita lakukan jauh dari keberkahan. Barokah itu adalah bertambahnya kebaikan karena ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.  Ilmu yang kita peroleh menjadi berkah ketika semakin bertambah ilmu kita semakin meningkat amal ibadah kita, semakin bermanfaat ilmu kita, semakin dekat dengan Allah dan Rasul-Nya, semakin semangat dalam mengemban dakwah. Demikian juga Harta kita semakin barokah, ketika semakin bertambah kebaikan dan ketaatan kita kepada Allah SWT. Usia kita pun menjadi barokah ketika semakin bertambah usia, semakin arif dan bijaksana dan semakin matang dan semangat dalam mengakkan kalimat Allah. Demikian pula tubuh yang Allah anugerahkan ini menjadi barokah ketika semakin sehat dan menggunakannyauntuk beribadah kepada Allah SWT.

Sobat, Bagaimana agar hidup kita menjadi mulia dan berkah? Syarat pertama dan utama dekati Allah dan hanya beribadah kepada-Nya, Perbaiki hubungan bisnis kita dengan Allah maka yakinlah bisnis-bisnis kita yang lainnya akan jadi mudah dan segalanya akan jadi indah. Subhaanallah!. Mengabdi dan beribadah berarti menjalani kehidupan sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar melakukan ritual semata. Manusia diciptakan hanya untuk menyembah Allah, bukan untuk menyembah barang-barang mewah bermerk, wanita cantik, rumah besar, jabatan tinggi, ataupun atasan. bukan pula untuk menyembah keglamoran, kemasyhuran, ilmu,makanan dan semacamnya. Menyembah Allah berarti tunduk, takut, syukur, taat, dan cinta kepada-Nya. ( Al Quwwah ar ruhiyah -Kekuatan Spirit tanpa batas, 2009,hal.48)

Sobat, yang kedua adalah jalani hidup ini dengan penuh keikhlasan. Ikhlas berarti sengaja bersandar kepada Allah sang Khalik. Ikhlas juga berarti ikhtiar tanpa mengharap hasil dengan perasaan sudah mendapat hasil. Ikhlas juga berarti memberi dengan senang, seolah tidak ada hartanya yang berkurang. Giat meraih sesuatu tanpa ngotot karena merasa cukup dengan yang sudah didapat. Atau tekun mengejar yang lepas atau hilang tanpa harap kembali karena tetap merasa cukup dengan yang masih ada. (Quantum Ikhlas, 2008).

Sobat, Allah adalah segala-galanya, karena semua yang ada, termasuk alam semesta ini, datang dari-Nya. Karenanya, kekuatan yang seharusnya diutamakan dan dimiliki oleh umat Islam adalah iman dan takwa, bukan  sains dan teknologi. Kenapa demikian? Karena iman dan takwa mengajarkan pada kita tentang Allah, termasuk bagimana tunduk kepada-Nya. Sehingga apabila iman  dan takwa tumbuh subur dan terus mekar di dalam hati kita, maka secara otomatis akan lahir sikap dan cara berpikir yang benar. Bukankah telah terbukti? Dengan berbekal aqidah yang kuat umat Islam berhasil memerintah dunia dan menyelamatkannya sekaligus melejitkan ilmu-ilmu sains.

Sobat, Berikut ini tips dalam upaya mendekatkan diri kita kepada Allah SWT melalui optimasi asma’ul husna : Pertama, Mengenal Allah lebih dekat lagi melalu nama dan sifat-sifat-Nya. Allah secara kasat mata tidak bisa kita lihat dan tidak bisa kita raba. Jalan satu-satunya untuk mengenal Allah adalah dengan cara diberi tahu oleh Allah siapa Dia melalui asma’-nya dan melalui serangkaian informasi yang diwahyukan kepada Rasul-Nya. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui seluruh ciptaan dan makhluk-Nya, yang harus ditafakkuri dan ditadabburi oleh kita sang makhluk.

Kedua, Memohon. Dengan Do’a asmaul husna kita memohonkan segala kebutuhan kita kepada Allah karena Dia adalah Al-Sami’ dan Al-Bashir, Tuhan yang Maha Mendengar dan lagi Maha Meliohat segala kebutuhan hamba-Nya.  Silahkan baca QS Al-A’raf(7) : 180 :  ……” Allah memiliki asma’ul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama yang baik itu…”

Ketiga, Mengadukan. Kita dapat mengadukan segala keluh –kesah dan penderitaan karena Dia begitu lembut dengan sifatnya yang al-Lathif . Allah bersedia mendengarkan keluh kesah kita karena Dia-lah a very good listener.

Keempat, Meminta perlindungan dari segala kekhawatiran dan bahaya. Allah Tuhan yang mampu member perlindungan penuh (full protection) atas segala bahaya dan kedzaliman hamba-hamba-Nya yang jahat, karena Dia-lah Allah yang Al-Qowiyy, Tuhan yang Mahakuat, Al-Matin Tuhan yang Mahakokoh, Al Azis Tuhan yang Maha Perkasa dan Al-Qahhar Tuhan yang mampu memaksakan kehendaknya. Dia juga Zat yang sangat senang menolong hamba-Nya karena Dia lah Allah Al-Waliyy (yang Maha Melindungi).

Kelima, Tingkat tertinggi sobat, yang mampu dicapai oleh seorang hamba terhadap Allah melalui Asma’ul husna adalah belajar dari sifat-sifat-Nya yang mulia dan berakhlak mulia serta meneladani karakter-Nya yang terpuji. Diharapkan dari proses belajar ini manusia akan sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhannya Al- Khaliq (yang Maha pencipta), Al-Bari’ ( yang Maha Mengadakan dari tidak ada) dan Al-Mushawwir (yang Maha Membentuk reka). Semua insane harus berlaku adil karena Tuhannya Yang Mahaadil (Al-Adl). Manusia tidak boleh cepat marah dan naik pitam karena Tuhannya yang Mahasabar 9Al-Shabur). Manusia juga harus berlaku lembut kepada sesame karena Tuhannya Yang Mahalembut (Al-Lathif).

Demikian sobat, tulisan singkat ini semoga menambah iman dan takwa kita serta teruslah kita berusaha dan berupaya meraih keberkahan dan kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akherat.

Jangan gagal Melihat . Tidak sedikit dari kita yang tidak mampu melihat peluang dan kesempatan, sehingga peluang dan kesempatan berlalu begitu saja. Inilah yang disebut gagal melihat.

Jangan gagal Melakukan. Dalam perjalanannya, banyak juga orang yang berhasil melihat peluang dan kesempatan, tetapi tidak memiliki semangat untuk mengambil dan melakukan tindakan nyata. Ini yang disebut gagal melakukan.

Jangan gagal Menyelesaikan . Dan yang ketiga, bisa jadi mereka sudah melakukan, tetapi kegagalan membuat mereka berhenti, frustasi, dan tidak menyelesaikan.

Jangan gagal mensyukuri. Keempat. Apa pun yang Anda terima saat ini patut disyukuri, dinikmati, dan menjadi pemicu Anda untuk melakukan perbaikan terus-menerus.

Itulah 4 M ( Melihat, Melakukan, Menyelesaikan dan Mensyukuri) yang merupakan kunci membuka gembok " dalih nasib" saya pernah tulis hal ini di Buku saya yang berjudul "Al Quwwah ar ruhiyah Kekuatan Spirit Tanpa Batas" Terbitan imprint gramedia hal. 132.

Sukses untuk kita semua. Salam Dahsyat dan Luar Biasa ! ( N.Faqih Syarif H – Spiritual Motivator Penulis Buku Take Action ! www. Faqihsyarif.com )

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co