Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Thursday, November 28, 2013

TAKE ACTION !!!!!

Mohon doanya Buku terbaru saya akan segera terbit "TAKE ACTION! Berpikir Dahsyat Bertindak Hebat Plus BOnus CD MP3 Spiritual Motivation diterbitkan oleh Al-azhar Jkt dan satunya lagi 9 Magnet Rezeki sgr menyusul juga, diterbitkan oleh Rosdakarya Bandung. MOhon doanya juga diberi kekuatan dan kesabaran untuk mulai menulis Buku "365 Pesan Terakhir" Untuk Anak-anakku Tercinta di negeri zamrud Khatulistiwa. Insya Allah Buku "365 Pesan Terakhir" terbit dan beredar saat saya udah menghadap ke haribaan Allah SWT. itulah yg saya pesankan kepada keluarga (Isteri dan anak-anak). "Ya Allah, Ampuni segala dosa-dosaku, Ampuni pula Kedua Orang tua kami, dan beri kami kekuatan untuk membuat tanda di alam semesta, meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan berkah bagi generasi setelah kami, Wafatkanlah kami dalam keadaan Khusnul Khotimah."

Sunday, November 17, 2013

Jadilah Global Champion !!!!


Kecermelangan yang hakiki adalah silahkan simak dan baca QS Ali -imran ayat 185. Kesempurnaan nikmat adalah masuk surga.Islam tidak memandang kecil kecemerlangan di dunia.Kecermelangan di dunia juga penting.Namun,kecemerlangan di dunia hanya akan memiliki arti jika kecermelangan ini dijadikan alat untuk meraih kecermelangan di akherat.
Imam ghazali dalam Ihya ulumuddin Bab Syukur Menceritakan kecemerlangan puncak di akherat dengan ciri-ciri kebahagiaan di akherat yang tidak ada di dunia dibagi menjadi 4 perkara :
1.Keadaan yang kekal abadi.
2.Kegembiraan yang kekal
3. Tidak adanya kejahatan,dan
4. Tidak adanya kemiskinan. Sehingga benar yang disabdakan Nabi," Kesempurnaan nikmat adalah masuk surga." (HR ImamTirmidzi)

Hanya dengan mengikuti formula dalam Al-Qur'an saja dan dibantu dengan sunnah,Umat Islam akan cemerlang dan berhasil di dunia dan di akherat. Bagaimana agar kita umat Islam kembali menjadi Global Champion? Inilah materi pagi ini yang saya sampaikan kepada para mahasiswa saya Di STAIL Hidayatullah.

Ciri penting yang harus ada pada umat Islam untuk menjadi Global Champion ( Umat Yang terbaik - QS Ali Imraan 110) antara lain sebagai berikut :
1. Islam Adalah Produk Yang Istemewa. Islam adalah ideologi,ajaran dan sistem hidup yang tidak ada bandingannya. Inilah yg wajib diyakini dan didakwahkan Islam sebagai pandangan hidup.
2.Berikir seperti Pemimpin, bukan pengikut. Ingat Doa yang tersebut dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 74,...." Dan,Jadikanlah kami Imam (pemimpin) untuk orang-orang yang bertakwa." yang dimaksud di sini adalah pemimpin yang berkualitas tinggi itu adalah pemimpin yg bertakwa dan menjadi Imam untuk orang-orang yg bertakwa.
3.Perpaduan nilai-nilai utama yaitu Shiddiq,Amanah, Fathonah, dan Tabligh.
4. Fokus pada inovasi,kajian dan pengembangan. Di dalam Al-Qur'an surat al-kahfi,dicontohkan Zulkarnaen beliau menguasai dunia dengan perencanaan yang rapi,Inovatif dan kreatif untukmencapai tujuan.
5. Mengedepankan kualitas. Silahkan Baca juga QS Al-mulk ayat 2. Amal yang Ihsan.
6.Tidak merasa inferior atau rendah diri. Allah berfrman dalam QS Ali-Imran ayat 139, " Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati,padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya),jika kamu orang-orang yang beriman."
7. Dapat bekerja sama.Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa. Silahkan baca QS Al-maidah ayat 2.
Khalifah Umar Bin Khattab pernah berkata: "Kita adalah golongan yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan agama selain Islam,Allah akan menimpakan kehinaan kepada kita."
Inilah Closing Statemen di akhir perkuliahan tadi pagi Di STAIL Hidayatullah. Semoga Bermanfaat dan membawa berkah. Salam Dahsyat dan Luar Biasa! Allahu Akbar !!!
www.faqihsyarif.com

Thursday, November 14, 2013

Siapakah Orang yang Cerdas itu? Dan Siapakah Orang Yang bodoh itu?



Siapakah Orang yang Cerdas itu? Dan Siapakah Orang Yang bodoh itu?
Suatu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra. melihat seekor burung yang hinggap di sebuah pohon. Sepontan beliau berkata, “Wahai burung, betapa nikmatnya kamu. Kamu makan dan minum, sementara kamu tidak dihisab. Andai saja aku menjadi burung seperti kamu.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, II/345; as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, I/41; Kanz al-‘Umal, XII/528).
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah salah seorang Sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk surga. Namun, beliau tetap merasa khawatir akan hisab Allah SWT pada Hari Akhir nanti. Begitu khawatirnya, beliau berandai-andai ditakdirkan menjadi seekor burung agar tidak dihisab oleh Allah SWT. Namun, justru karena kekhawatiran akan hisab Allah SWT itu pula, beliau berusaha menjadi pribadi yang selalu bertakwa.
Berupaya selalu bertakwa tentu adalah pilihan amat cerdas. Sebaliknya, banyak melakukan dosa dan maksiat adalah pilihan sangat bodoh. Itu pula yang dinyatakan oleh Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra., “Inna akyas al-kays at-taqwa wa ahmaq al-humqi al-fujur (Sungguh, kecerdasan yang paling cerdas adalah takwa, dan kebodohan yang paling bodoh adalah maksiat).” (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VI/353).
Mengapa demikian? Sebab, takwa akan meringankan pelakunya dari hisab Allah SWT sekaligus memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya. Sebaliknya, dosa dan maksiat akan menyulitkan pelakunya dari hisab Allah SWT sekaligus memasukkan  dirinya ke dalam azab neraka.
Alhasil, orang cerdas bukanlah orang yang ber-IQ tinggi, atau mempunyai catatan prestasi akademik di bangku kuliah dengan nilai IPK yang mumpuni, atau memiliki gelar akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi bergengsi di dalam atau luar negeri. Orang cerdas adalah orang yang selalu bertakwa kepada Allah SWT; orang yang hidupnya selalu diisi dengan ketaatan kepada Allah SWT, bukan dengan ragam dosa dan kemaksiatan.
Terkait itu, Baginda Nabi saw. pernah bersabda, “Al-Kays man dana nafsahu wa ‘amila li ma ba’da al-mawt, wa al-‘ajiz man atba’a nafsahu hawahu wa tamanna ‘alalLah (Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal setelah mati. Orang lemah [bodoh] adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah).” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah, al-Baihaqi, al-Hakim dan ath-Thabrani).
Karena itu, meski bergelar doktor sekaligus menduduki jabatan elit dengan gaji di atas 100 juta rupiah, betapa bodohnya jika orang seperti ini masih saja korupsi. Tentu karena ia telah memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu tidak lain adalah segala keinginan atau kecenderungan—dalam wujud ucapan maupun tindakan—yang bertentangan dengan wahyu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya): Apa yang diucapkan oleh Muhammad itu tidaklah bersumber dari hawa nafsunya, melainkan berasal dari wahyu yang Allah wahyukan kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 5).
Ayat ini memang berbicara tentang sifat Rasulullah saw., yang segala ucapan dan tindakannya pasti bersumber dari wahyu, bukan dari hawa nafsu (Abu Bakar al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, III/526).
Namun, dari ayat ini bisa dipahami, bahwa hawa nafsu berlawanan dengan wahyu. Alhasil, segala hal, baik ucapan atau tindakan, yang  bertentangan dengan wahyu Allah SWT pasti bersumber dari hawa nafsu. Kata-kata jorok dan kasar, sumpah palsu, ghibah, fitnah (tuduhan keji), berbohong dll pasti bersumber dari hawa nafsu. Korupsi, suap, memakan riba, merampok, membunuh, mengobral aurat, berzina, menzalimi rakyat, dll pasti bersumber dari hawa nafsu. Sebab, semua ucapan dan tindakan tersebut berlawanan dengan wahyu. Begitu pun segala kebijakan, hukum atau undang-undang yang berlawanan dengan wahyu; semua itu pasti bersumber dari hawa nafsu. Karena itu siapa saja yang ucapannya dan tindakannya—termasuk kebijakan, hukum maupun undang-undangnya—bertentangan  dengan wahyu Allah SWT maka mereka adalah orang-orang yang telah memperturutkan hawa nafsu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang bodoh meski mereka menyandang gelar akademik tinggi dan menduduki jabatan  bergengsi.
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. melanjutkan pernyataannya, “Wa inna ashdaq ash-shidqi al-amanah wa akdzab al-kadzibi al-khiyanat (Sungguh, kejujuran yang paling jujur adalah sikap amanah, dan kedustaan yang paling dusta adalah sikap khianat).” (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VI/353).
Banyak orang yang tidak suka berbohong alias biasa jujur dalam ucapan, tetapi kadang tak bisa bersikap amanah dalam tindakan. Padahal sikap amanah adalah tanda nyata dari kejujuran seseorang.
Amanah itu banyak. Menjadi Muslim adalah amanah. Menjadi anak atau orangtua adalah amanah. Menjadi suami atau istri adalah amanah. Menjadi guru, dosen, pegawai, buruh, direktur perusahaan, dll adalah amanah. Menjadi pengemban dakwah juga amanah.
Sebagai amanah, semua itu tentu wajib dijalankan sesuai dengan yang dituntut oleh syariah. Melalaikan semua amanah yang memang secara syar’i wajib dijalankan terkategori khianat. Khianat, kata Abu Bakar ash-Shiddiq ra., adalah kedustaan yang paling dusta.
Khianat itu banyak ragamnya, sebanyak sikap mengabaikan amanah. Dalam konteks dakwah, jika seorang pengemban dakwah sering melalaikan aktivitas dakwah—jarang kontak dakwah, enggan menerima taklif-taklif dakwah, dsb—maka ia berarti tidak amanah dalam dakwah. Dengan kata lain ia telah mengkhianati dakwah. Alhasil, meski julukannya ‘pengemban dakwah’, ia hakikatnya adalah ‘pengkhianat dakwah’. Saat ia telah menjadi ‘pengkhianat dakwah’ sesungguhnya ia telah benar-benar melakukan—meminjam Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.—kedustaan yang paling dusta atas klaimnya sebagai pengemban dakwah.
Tentu kita berlindung kepada Allah SWT dari yang demikian. Sebaliknya, kita berharap menjadi pengemban dakwah yang paling jujur dalam berdakwah, yakni yang selalu bersikap amanah dalam dakwah; tidak pernah lalai dalam menjalankan aktivitas dakwah dengan terus melakukan kontak-kontak dakwah, menjalankan taklif-taklif dakwah, dsb.
Alhasil, dengan takwa dan sikap amanah itulah sejatinya kita menjadi orang yang cerdas sekaligus jujur, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra. di atas.
Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

Wednesday, November 13, 2013

Hijrah, Negara Islam, dan Kebangkitan Umat

Hijrah, Negara Islam, dan Kebangkitan Umat

Tentu bukan tanpa alasan ketika Khalifah Umar bin Khaththab, saat menjadi kepala negara, menetapkan hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah sebagai dasar penetapan tahun pertama dalam penanggalan Hijriyah. Peristiwa itu begitu penting, antara lain sebagai tonggak awal penegakan daulah Islam (negara Islam) dan pilar kebangkitan umat Islam sebagai negara adidaya.
Rasulullah SAW dengan bimbingan wahyu dari Allah SWT tentu sangat menyadari pentingnya kekuasaan guna menerapkan seluruh syariah Islam yang mengatur segala aspek kehidupan. Dengan kekuasaan itu pula, keamanan umat Islam bisa dijaga dari serangan musuh-musuhnya yang buas. Kekuasan pun dibutuhkan agar Islam bisa disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Untuk itu Rasulullah SAW dengan gigih mendatangi pemimpin-pemimpin kabilah yang merupakan ahlul quwwah, yang memiliki kekuatan politik riil.
Setelah Rasul SAW mendapat nushrah (pertolongan) dari penduduk Madinah, yakni setelah Baiat Aqabah II—dikenal sebagai baiat atas pemerintahan–, Madinah menjadi Dar al-Islam (negara Islam) secara de jure. Sebab kekuatan yang terealisasi di sana adalah milik Islam dan kaum Muslimin. Dan Madinah menunggu kedatangan Rasulullah SAW untuk menjadi Dar al-Islam secara de facto di mana di situ ditegakkan hukum Islam.
Sebagaimana lazimnya sebuah negara, negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW ini adalah sebuah wilayah politik di mana Rasulullah SAW sebagai kepala negaranya. Beliau menerapkan hukum tertentu yang berdasarkan kepada akidah Islam yaitu syariah Islam, yang mengatur segenap aspek kehidupan masyarakat. Terdapat pula rakyat yang rela dan patuh diatur dengan hukum-hukum Islam tersebut.
Sebagaimana lazimnya sebuah negara, Rasulullah SAW sebagai kepala negara menjalankan fungsi-fungsi kenegaraan yang penting dengan membangun struktur/lembaga kenegaraan baik di bidang pemerintahan maupun administrasi. Abu Bakar ra dan Umar bin Khaththab diangkat sebagai pembantu beliau dalam bidang pemerintahan (muawwin at tafwidh) yang memiliki kewenangan yang sifatnya umum.
Bersamaan dengan meluasnya kekuasaan daulah Islam, Rasulullah SAW mengangkat para wali yang menjadi pemimpin untuk satu wilayah (setingkat provinsi) tertentu. Muadz bin Jabal diangkat Rasulullah SAW sebagai wali di wilayah Janad, Ziyad bin Walid di wilayah Hadhramaut, dan Abu Musa al ‘Asy’ari di wilayah Zabid dan ‘Adn.
Rasulullah SAW menyelesaikan persoalan-persoalan perselisihan di tengah masyarakat, mencegah hal-hal yang membahayakan  melalui mahkamah pengadilan (al Qadha). Rasulullah SAW mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai qadhi (hakim) di Yaman, Muadz bin Jabil di Janad.
Di medan perang, Rasulullah SAW sendiri merupakan panglima perang tertinggi negara yang riil bukan hanya simbol. Rasulullah SAW pernah mengutus Zaid bin Haritsah sebagai amir (pemimpin)  dalam perang Mu’tah. Rasulullah SAW pun membentuk datasemen pasukan dan mengangkat komandannya seperti Usamah bin Zaid. Untuk menjaga keamanan dalam negeri Qais bin Saad diangkat sebagai sebagai komandan kepolisian (asy syurthah).
Sebagai sebuah negara, pastilah daulah Islam di Madinah akan berhadapan dengan urusan-urusan luar negeri baik dalam aspek politik dalam  bentuk perjanjian, kesepakatan damai, gencatan senjata, perundingan, tukar menukar duta, pendirian kedutaan, konsulat dan lain-lain serta ekonomi dan perdagangan.
Untuk itu Rasulullah SAW pernah mengangkat Utsman bin Affan untuk berunding dengan Quraisy. Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW mengirim sejumlah utusan diplomatik kepada para raja. Sebagaimana Rasulullah SAW juga menerima utusan para raja dan pemimpin luar negeri lainnya.
Semua itu menunjukkan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah membangun sebuah negara Islam. Setelah wafatnya beliau, kepemimpinan negara ini dilanjutkan para Khalifah seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan khalifah-khalifah berikutnya dalam negara yang disebut khilafah.
Perkara penting kedua dari peristiwa hijrah ini, adalah keberadaan negara Islam di Madinah yang menjadi pilar penting kebangkitan umat Islam. Hampir tidak bisa dibayangkan sebuah bangsa bisa bangkit tanpa memiliki negara. Bersamaan dengan kebangkitan umat Islam, negara khilafah menjadi menjadi negara adidaya di dunia.
Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah merupakan titik balik perubahan. Dengan keberadaan Daulah Islamiyah di Madinah, Islam mengalami perkembangan luar biasa. Bahkan hanya dalam kurun waktu 10 tahun kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah, Islam telah tersebar di seluruh jazirah Arab.
Pada masa Khulafaur Rasyidin, kekuasan Islam semakin merambah ke luar jazirah Arab. Pada masa Kekhalifahan Umayah, Abasiyah, dan Utsmaniyah yang terakhir, kekuasaan Islam hampir meliputi 2/3 dunia.
Islam menyebar hingga ke Afrika dan Asia Tengah; bahkan mampu menembus ke jantung Eropa. Kekuasaan Islam bahkan pernah berpusat di Andalusia, Spanyol.
Saat itu Khilafah Islamiyah menjadi negara adidaya yang mampu mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin melalui penerapan syariah secara kâffah dalam pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, hukum, hubungan luar negeri, dakwah, jihad, dan sebagainya.
Walhasil, peristiwa hijrahnya ini haruslah membangun kesadaran kita, tentang penting dan wajibnya negara Islam yang diperjuangkan Rasulullah SAW. (Farid Wadjdi)

Monday, November 11, 2013

Wahai Pemimpin, Sadarlah !!!!

Pemimpin, sadarlah!

Negeri kita mah ada pemimpin atau tidak, tetap saja bisa berjalan.” Begitu di antara isi obrolan saya dengan beberapa tokoh awal Oktober lalu. Sebenarnya, ungkapan tersebut lebih mencerminkan betapa harapan dan kepercayaan kepada pemimpin di negeri Muslim terbesar ini nyaris lenyap, kalau tidak boleh dikatakan hilang sama sekali.
Pandangan ini wajar belaka. Sebagai gambaran, Presiden AS Barack Obama beberapa kali menunda kunjungannya ke luar negeri. Alasannya, kondisi dalam negeri lebih memerlukan dirinya. Pada Maret 2010, Obama membatalkan kunjungannya ke Indonesia. Rencana itu batal lantaran Presiden Obama tengah membahas masalah undang-undang tentang perawatan dan asuransi kesehatan bagi warga AS. “Saat ini AS sedang berada dalam posisi kritis,” ujar Presiden Paman Sam tersebut menyampaikan alasan.
Penundaan terulang kembali pada Juni 2010. Saat itu AS sedang menghadapi masalah tumpahan minyak yang parah di perairan AS.
Pada Oktober 2013, Obama membatalkan hadir pada forum APEC di Bali. Lagi-lagi, alasannya kondisi dalam negeri yang tidak memungkinkan. AS sedang shutdown. Bahkan Obama telah menjadikan agenda-agendanya di Afganistan, nuklir Iran dan Korea Utara, serta konflik Timur Tengah untuk kepentingan nasionalnya. Apa yang dia rancang di Asia Pacifik, termasuk APEC, hanyalah untuk menciptakan pekerjaan dan kepentingan rakyat AS. Jauh sebelumnya, Obama mengatakan, “Here, we see the future. As the world’s fastest-growing region-and home to more than have the global economy—the Asia Pacific is critical to achieving my highest priority: creating jobs and opportunity for the American people.” Demikian kata dia di depan Parlemen Australia (17/11/2011). Realitas ini sekadar untuk menunjukkan bahwa pemimpin negara imperialis saja memperhatikan rakyatnya.
Berbeda dengan itu, Presiden SBY memang senang blusukan; bukan ke Aceh, Poso, Papua, atau daerah miskin lainnya melainkan blusukan ke luar negeri. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menyatakan bahwa untuk tahun 2010 saja rata-rata biaya jalan-jalan ke luar negeri sebesar Rp 179 miliar pertahun, atau sekitar Rp 14 miliar perbulan. Padahal asuransi kesehatan masyarakat miskin hanya Rp 1 triliun pertahun untuk 32.53 juta rakyat miskin, atau Rp 12.809 perorang. Kepentingan rakyat diabaikan. Bahkan di depan peserta APEC CEO Summit di Nusa Dua, Bali, Ahad (6/10/2013), SBY menyatakan dirinya sebagai Kepala Penjualan Perusahaan Indonesia  (Chief Salesperson of Indonesia Inc). Seakan-akan beliau menegaskan bahwa hubungan rakyat dan penguasa adalah hubungan antara pemilik modal dengan konsumen. Beliau pun menyiapkan landasan helipad Obama dengan biaya Rp 2 miliar. Uang sebanyak itu pun hangus begitu saja karena Obama urung datang. Bila uang itu digunakan untuk memberi makan orang miskin sehari Rp 20000 akan ada 100.000 orang mendapat bagian. Kekerasan sebagaimana terjadi di Papua pun kurang mendapatkan perhatiannya. Perhatian terlihat demikian cepat bila persoalan menyangkut partai atau dirinya.
Rasa keadilan pun nyaris tidak ada lagi. Penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar sebagai tersangka korupsi sungguh mempertontonkan puncak mafia peradilan secara telanjang. Hukum dipermainkan. Konstitusi ditarik ke sana ke mari sesuai dengan besaran uang. Kasus pembunuhan yang menyangkut pejabat segera diselesaikan. Namun, ketika yang terbunuh rakyat jelata. pengusutan pun membisu seribu bahasa.
Di Bandung, saya bertemu dengan seorang tua yang anaknya meninggal sebelum Ramadhan 1434 H lalu. “Anak saya meninggal karena disiksa, dipelonco. Perutnya bocor. Pelakunya adalah tentara. Anak itu saya besarkan, sekolahkan, dicarikan pekerjaan, dan setelah itu mereka bunuh ia,” keluhnya kepada saya.
“Kini sedang dalam persidangan. Namun, belum tahu apa yang terjadi. Di dunia seperti ini memang tidak bisa mencari keadilan. Keadilan itu hanya untuk orang yang punya duit atau dekat dengan kekuasaan,” tambahnya. Lagi-lagi, rakyat diabaikan.
Ironis. Pemimpin lebih mementingkan dirinya, kelompoknya, atau pihak asing dengan membiarkan rakyatnya. Berkaitan dengan hal ini, Abu Dawud, al-Baihaqi dalam Al-Kubra dan Ash-Shaghir, dan Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang ditakdirkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk menjadi pemimpin yang mengurusi urusan kaum Muslim, lalu ia menghindar dari kebutuhan, kekurangan dan kefakiran rakyatnya, Allah pasti akan menutup diri darinya ketika ia kekurangan, membutuhkan dan fakir.”
Imam Ahmad dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Syuraik, dari Abu Hushain, dari al-Wabili sahabat dekat Muadz bin Jabal, dari Muadz, yang berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang ditakdirkan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk menjadi pemimpin yang mengemban urusan orang banyak, lalu ia menghindar dari orang yang lemah dan yang membutuhkan, pasti Allah akan menutup diri darinya pada Hari Kkiamat.
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hadis tersebut terdapat ancaman keras terhadap orang yang menjadi penguasa bagi rakyat. Ancaman tersebut berlaku pada penguasa yang menghalangi diri untuk memenuhi hak-hak masyarakat atau jika ia menyia-nyiakan rakyatnya tanpa uzur. Syaikh Faishal bin Abdil Aziz al-Mubarak menuturkan, “Ini adalah ancaman yang keras bagi orang yang menutup diri dari rakyatnya sehingga ia tidak menunaikan hajat-hajat rakyatnya; baik ia seorang raja, menteri, hakim, pemimpin, kepala bagian ataupun tingkatan yang lebih rendah lagi selama termasuk orang yang mengurusi urusan masyarakat.” (Tathriz Riyadh ash-Shalihin, hlm. 427).
Selain itu, Nabi saw. menegaskan, “Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala adalah yang kasar terhadap hewan gembalaannya.” (HR Muslim).
Penguasa adalah penggembala. Penguasa yang kasar dan abai pada kepentingan rakyatnya merupakan penguasa yang sejelek-jeleknya. Berkaitan dengan kehidupan pemimpin Islam, Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Seorang khalifah tidak halal memiliki harta dari Allah, kecuali dua piring saja. Satu piring untuk kebutuhan makannya bersama keluarganya. Satu piring lagi untuk ia berikan kepada rakyatnya.” (HR Ahmad).
Kapankah penguasa kaum Muslim akan sadar? [MR Kurnia]

Saturday, November 2, 2013

Hijrah dan Perubahan Besar dunia menuju Khilafah



Kita sebentar lagi akan memasuki tahun baru 1435 hijriyah. Tentu tidak seharusnya kesemarakan menyambut tahun baru hijriyah ini hanya sekadar perayaan seperti halnya semarak penyambutan tahun baru masehi.
Keputusan Umar bin al-Khaththab yang menjadikan tahun hijrah Nabi dan para sahabat dari Makkah ke Madinah sebagai awal penanggalan tahun hijriyah dan kemudian disepakati oleh para sahabat, tentu memiliki makna besar. Pasalnya, dengan hijrah itulah berdiri Daulah Islam dan terbentuk masyarakat Islam di Madinah. Karena itu makna hijrah inilah yang harus direnungkan dan direfleksikan ke tataran riil sat ini.

Jahiliyah Modern

Kondisi masyarakat modern saat ini jika dibandingkan dengan kondisi masyarakat jahiliyah pra hijrah tampak banyak kemiripan, dan bahkan dalam beberapa hal justru lebih buruk. Ciri utama masyarakat jahiliyah dahulu adalah kehidupan diatur dengan aturan dan sistem jahiliyah, yaitu aturan dan sistem buatan manusia sendiri. Pada masyarakat Quraisy, aturan dan sistem kemasyarakatan dibuat oleh para pemuka kabilah. Hal itu mereka rumuskan melalui pertemuan para pembesar dan tetua kabilah di Dar an-Nadwah. 

Kondisi yang sama persis juga berlangsung saat ini. Kehidupan diatur dengan aturan dan sistem buatan manusia yang dibuat oleh para wakil yang berkumpul di gedung parlemen.
Dalam aspek ekonomi, riba, manipulasi, kecurangan dalam timbangan dan takaran, penimbunan, eksploitasi oleh pihak ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah, konsentrasi kekayaan pada segelintir orang, dsb, kental mewarnai kehidupan ekonomi masyarakat jahiliyah. Hal yang sama juga mewarnai kehidupan ekonomi modern saat ini. Bahkan saat ini riba justru menjadi pilar sistem ekonomi dan negara menjadi salah satu pelaku utamanya.

Pada aspek sosial, masyarakat jahiliyah pra hijrah identik dengan kebobrokan moral yang luar biasa. Mabuk, pelacuran dan kekejaman menyeruak di mana-mana. Anak-anak perempuan yang baru lahir pun dibunuh. Kondisi itu juga terjadi saat ini bahkan lebih buruk. Perzinaan difasilitasi dengan lokalisasi. Jika dahulu anak perempuan yang dibunuh, sekarang banyak anak tanpa pandang laki-laki atau perempuan dibunuh bahkan sebelum lahir. Lihat saja data menunjukkan lebih dari dua juta aborsi terjadi setiap tahunnya di negeri ini.

Dalam aspek politik dan konstelasi internasional, bangsa Arab jahiliyah pra hijrah bukanlah bangsa yang istimewa. Dua negara adidaya saat itu, Persia dan Byzantium, sama sekali tidak melihat Arab sebagai sebuah kekuatan politik yang patut diperhitungkan. Begitu pula saat ini. Negeri-negeri kaum Muslim, termasuk negeri ini, juga tidak pernah diperhitungkan oleh negara-negara lain; kecuali sebagai obyek penjajahan. Kekayaan alam negeri kita dijadikan jarahan oleh negara-negara penjajah dan para kapitalis. Jutaan kilometer persegi perairan dan jutaan hektar daratan negeri ini sudah dikapling-kapling untuk perusahaan-perusahaan yang kebanyakan asing. Sampai-sampai dalam eksploitasi migas, hampir sulit sekali menemukan bendera sendiri.
Karena itu tepat jika kondisi kehidupan saat ini disebut jahiliyah modern. Maju secara sains dan teknologi, namun aturan dan sistemnya tetap aturan dan sistem jahiliyah, aturan dan sistem buatan manusia, yang menentukan format, corak dan kondisi kehidupan masyarakat.

Sebab Utama: Kapitalisme, Demokrasi dan Pengaruh Asing

Kondisi jahiliyah modern saat ini pada dasarnya kembali kepada tiga sebab utama, yaitu ideologi kapitalisme, demokrasi dan pengaruh asing. Ideologi kapitalisme berlandaskan akidah pemisahan agama dari kehidupan dan negara. Agama dibatasi tidak lebih pada batas-batas tembok masjid. Akidah ini mengharuskan penyerahan pengaturan berbagai interaksi kehidupan kepada manusia.

Pelaksanaannya dilakukan melalui sistem demokrasi. Inti demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Artinya, rakyatlah yang berhak membuat dan menetapkan aturan, hukum dan sistem. Tidak ada demokrasi tanpa kedaulatan rakyat. Karena tidak mungkin semua rakyat berkumpul setiap kali ingin membuat aturan, maka dicetuskanlah konsep perwakilan. Rakyat memilih wakil untuk mewakili mereka membuat dan menetapkan hukum. Pada akhirnya, pembuatan dan penetapan hukum sejatinya berada di tangan para wakil itu. Dengan begitu demokrasi menjadi pintu sekaligus mekanisme masuk dan lahirnya aturan dan sistem jahiliyah. Akibat aturan dan sistem jahiliyah itulah segala kebobrokan, keburukan, kerendahan dan masalah jahiliyah modern sekarang ini terjadi. Karena itu sebab utama dari semua kejahiliyah modern saat ini adaah sistem demokrasi itu sendiri. Sistem demokrasi itulah yang menjadi sebab utama segala bentuk kebobrokan, keburukan, problem dan penderitaan yang dialami dan menimpa masyarakat modern sekarang ini.

Sementara pengaruh asing, negeri-negeri kaum Muslimin sejak lepas dari penjajahan fisik, pengaruh asing tetap dipertahankan dan dijadikan sandaran. Bahkan eksistensi dan keberlangsungan para penguasanya banyak bergantung kepada pengaruh asing itu. Dengan pengaruh asing itulah, aturan dan sistem penjajah dipaksakan dan dipertahankan.

Hal itu membuat orang-orang kafir mempunyai jalan untuk menguasai kaum Muslimin. Orang –orang kafir barat memperalat negeri kaum Muslimin termasuk negeri ini demi kepentingan-kepentingan mereka. Mereka merampas kekayaan alam kita dengan transaksi-transaksi ilusif, dan merampok migas kita dengan perjanjian-perjanjian yang tidak fair dan manipulatif. Jadilah orang-orang kafir itu bisa meracuni akal-akal kita dengan tsaqafah dan kultur mereka, merusak kehidupan kita dengan peradaban mereka, membuat keamanan kita tergadai pada pengaruh mereka dan lebih dari itu mereka merampas kehendak kita. Melalui pengaruh itulah, asing penjajah memaksakan sistem demokrasi kepada kita. Dan melalui sistem demokrasi itu sendiri, asing penjajah terus memaksakan dan mempertahankan pengaruhnya atas kita agar makin menancap dalam. Banyaknya UU dan aturan yang dipaksakan, didektekan, dirumuskan, dan diarahkan oleh asing melalui Bank Dunia, ADB, IMF, USAID, berbaga lembaga dan oleh negara asing adalah buktinya.

Perubahan Besar Sebuah Keharusan

Di tengah kungkungan kehidupan jahiliyah modern inilah penting bagi kita merefleksikan makna hijrah pada tataran riil. Dalam hal itu, perjuangan merealisasi hijrah seperti yang dilakukan Nabi saw dan para sahabat untuk saat ini tentu sangat relevan, bahkan merupakan keniscayaan. Sebab, hal itu memungkinkan kaum Muslim untuk: meninggalkan kekufuran dan dominasi kaum kafir menuju iman dan kekuasaan Islam; meninggalkan darul kufur menuju Darul Islam; meninggalkan sistem jahiliah menuju ideologi dan sistem syariah; meninggalkan kekalahan menuju kemenangan dan kemuliaan Islam; dan merubah penindasan menjadi tebaran kerahmatan.

Untuk itu mutlak harus dilakukan perubahan. Perubahan itu tidak akan datang begitu saja. Akan tetapi perubahan itu harus kita usahakan. Sebab Allah SWT berfirman:
 … إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ …
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (TQS ar-Ra’du []: 11)

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan: “Allah dalam ayat ini memberitahukan bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga terjadi perubahan dari mereka sendiri, baik dari mereka atau dari orang yang mengatur/mengurusi mereka atau dari sebagian mereka dengan sebab tertentu.”

Perubahan yang harus diwujudkan itu bukan sembarang perubahan, tetapi haruslah perubahan besar. Yaitu perubahan besar untuk merubah kejahiliyahan modern ini menjadi kehidupan yang Islami dan Allah ridhai. Perubahan besar dari akidah sekulerisme menjadi akidah tauhid; dari ideologi kapitalisme menjadi ideologi Islam; dari demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya menjadi Islam dengan kedaulatan syara’; dan perubahan besar dari aturan dan sistem jahiliyah buatan manusia menjadi aturan, hukum dan sistem Islam dengan syariahnya yang sumbernya wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Sang Pencipta dan Maha Bijaksana. Allah SWT berfirman:
 أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ 
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)

Menyongsong Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah

Perubahan besar itu hanya bisa direalisasikan dengan mencampakkan sekulerisme kapitalisme berikut sistem ekonominya dan sistem demokrasinya. Dan selanjutnya menggantinya dengan akidah Islam dengan hukum-hukum syariah yang diterapkan ecara total dan menyeluruh dalam sistem Islam yaitu al-Kilafah ar-Rasyidah.

Saat ini, dunia Islam tengah dan terus memproses perubahan. Masing-masing negeri berlomba untuk merealisasi perubahan besar yang diridhai Allah SWT itu. Karena itu, kita yang ada di negeri ini tentu saja tidak boleh tertinggal dalam perlombaan merealisasi perubahan besar dari sistem jahiliyah kapitalisme demokrasi menuju penerapan syariah Islam dalam bingkai al-Khilafah ar-Rasyidah ini.
Masing-masing dari kita wajib ambil bagian dalam proses dan perjuangan merealisasi perubahan besar dunia menuju Khilafah Rasyidah ini. Selain untuk merefleksikan makna hijrah pada tataran praktis, hal itu juga menjadi manifestasi dan pembuktian atas kebenaran keimanan kita.
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ 
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]:24)
Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co