Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Thursday, March 28, 2013

Kerja Keras adalah KUnci meraih Sukses

Kerja Keras kunci meraih Sukses
Al-Kitab khayru jalis[in] (Buku adalah kawan duduk terbaik),” demikian kata Imam al-Ghazali. Apa yang beliau ungkap tidaklah berlebihan. Sebab, saat kecil, saat anak-anak lain sebayanya bermain-main, al-Ghazali kecil konon malah sering ’bercengkerama’ dengan buku. Karena itu, wajarlah jika al-Ghazali kemudian tumbuh dalam suasana intelektual dan keilmuan yang sangat kental. Beliau lalu menjelma menjadi ulama besar yang disegani dan penulis buku yang mumpuni. Tak kurang dari 100 judul buku lahir dari tangan kreatifnya.
Sama dengan al-Ghazali, Imam al-Bukhari, ulama terkemuka di bidang hadis, juga sejak kecil dididik dalam suasana keagamaan dan keilmuan yang kental. Wajar jika dalam usia 10 tahun, al-Bukhari kecil sudah tertarik dengan ilmu hadis yang sulit dan rumit itu. Dengan berguru kepada banyak ulama besar pada zamannya, dalam usia 16 tahun beliau sudah hapal dan menguasai sejumlah kitab. Lalu pada usia 18 tahun beliau mampu menerbitkan kitab pertamanya, Qudhaya ash-Shahabat wa at-Tabi’in. Kemudian bersama gurunya Syaikh Ishaq, al-Bukhari menghimpun satu juta hadis dari 80.000 perawi dalam satu kitab, yang pada akhirnya, setelah disaring secara ketat, hanya tinggal 7.275 hadis.
Imam al-Bukhari memang memiliki daya hapal tinggi. Ini diakui oleh kakaknya, Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah al-Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah ulama Balkh. Tidak seperti murid lainnya, al-Bukhari tidak pernah membuat catatan. Karena itu, ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat.
Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, al-Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah tersebut. Tercenganglah mereka semua lantaran al-Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000 hadis, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.
Karena ketinggian ilmunya, amat wajar jika Imam al-Bukhari mampu melahirkan banyak karya, khususnya di bidang hadis. Selain kitab di atas, karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami’ ash-Shahih, Al-Adab al-Mufrad, At-Tarikh as-Shaghir, At-Tarikh al-Awsat, At-Tarikh al-Kabir, At-Tafsir al-Kabir, Al-Musnad al-Kabir, Kitab al-‘Ilal dan puluhan kitab lainnya.
Pendahulu Imam al-Bukhari, yakni Imam Syafii, tak kalah istimewanya. ‘Pendekar fikih’ ini, saat berusia 9 tahun telah menghapal seluruh ayat al-Quran. Setahun kemudian, kitab Al-Muwatha’ karya Imam Malik yang berisikan 1.720 hadis pilihan juga berhasil beliau hapal. Dengan berguru kepada banyak ulama besar pada masanya, wajar jika dalam usia yang sangat muda (15 tahun), ia telah duduk di kursi mufti kota Makkah.
*****

Mungkin selama ini kita beranggapan, wajar saja Imam Syafii, Imam al-Bukhari, Imam al-Ghazali, dll menjadi ulama besar karena mereka adalah orang-orang jenius yang dianugerahi kecerdasan luar biasa oleh Allah SWT. Anggapan ini tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, sesungguhnya ada aspek lain yang lebih luar biasa dari diri mereka, yakni: kerja keras dalam belajar dan menuntut ilmu. Itulah sesungguhnya yang mengantarkan sosok-sosok di atas menjadi figur-figur terkemuka dalam hal keilmuan.
Tengoklah Sahabat Nabi saw. yang mulia, Abu Hurairah ra., misalnya, jauh sebelum para ulama terkemuka di atas. Beliau menghapal hampir seluruh hadis Nabi saw. Semua itu adalah hasil kerja kerasnya dalam membagi waktu malamnya menjadi tiga: untuk shalat malam, menghapal dan sedikit untuk tidur.
Generasi setelahnya, Ahmad bin Hanbal, menghapal sekitar 1.000.000 hadis dan menulis 40.000 hadis dalam Musnad-nya. Ibn Hibban meriwayatkan hadis dari 2000 syaikh/ulama besar. Jarir bin Abdillah ra. pernah pergi ke Mesir selama satu bulan hanya untuk mencari satu hadis.
Ulama besar lain, Al-Muzni, mengulang-ulang membaca dan mengkaji Ar-Risalah karya Imam Syafii sebanyak 500 kali. Abu Ishaq asy-Syirazi mengulang setiap bab pelajarannya tak kurang dari 100 kali. Karena kebiasaannya itu, wajar jika ia mampu mengarang tak kurang dari 100 judul buku.
Karena kerja kerasnya dalam belajar pula, Imam Ibn Taimiyah sudah bisa berfatwa pada usia 18 tahun. Beliau pun sanggup menulis 4 buku dalam sehari, karena ia memang mampu menulis satu buku hanya dalam satu kali duduk.
Karena kerja keras dalam menuntut ilmu pula, Ibn Jarir sanggup menulis 100 ribu halaman, Ibn al-Jauzi sanggup menulis 1000 judul buku dan Ibn al-Anbari sanggup menghapal 400 kitab tafsir (Lihat: Aidh al-Qarni, Miftah an-Najah, hlm. 13).
Bagaimana dengan Imam al-Bukhari? Beliau ternyata pernah mengulang-ulang dan mengkaji Ar-Risalah karya Imam Syafii sebanyak 700 kali! Kerja keras beliau juga tercermin dari apa yang pernah beliau ungkapkan, “Aku menyusun kitab Al-Jami’ yang dipilih dari 600.000 hadis selama 16 tahun!”
Bagaimana dengan Imam Syafii sendiri? Meski sudah menjadi mufti pada usia 15 tahun, beliau tak pernah puas menuntut ilmu. Begitu kerasnya beliau menuntut ilmu sehingga guru-guru beliau banyak jumlahnya, hampir setara dengan jumlah murid-muridnya!
*****

Merenungkan fenomena kehebatan para ulama di atas, mungkin benar kata Thomas Alfa Edison, sukses itu 1% bakat/kecerdasan, 99% sisanya adalah kerja keras. Adagium ini ia buktikan sendiri. Konon Edison menjadi penemu lampu pijar (listrik) setelah melakukan percobaan tidak kurang 1000 kali!
Kata-kata bernas Edison di atas sering dikutip oleh para motivator dan trainer saat ini. Sayang, kata-kata sarat hikmah ini sering hanya dikaitkan dengan orientasi-orientasi yang berdimensi duniawi dan profan; jarang dikaitkan dengan orientasi-orientasi yang lebih berdimensi agamis dan keilmuwan. Padahal apa yang ditegaskan Edison sebenarnya telah dipraktikan oleh para ulama besar Islam generasi salafush-shalih terdahulu, sebagaimana sedikit kisahnya terpapar di muka.
Bagaimana dengan kita? Berapa puluh atau ratus kali kita mengulang membaca Kitab Nizham al-Islam, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, An-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, dan puluhan kitab lainnya yang merupakan aset berharga yang kita miliki? Tampaknya, mayoritas kita telah merasa cukup kitab-kitab itu dikaji satu atau dua kali hanya dalam halaqah mingguan. Pantaslah jika kita tak akan pernah bisa menjadi orang-orang hebat seperti mereka.
Wama tawfiqi illa bilLah.

Wednesday, March 27, 2013

Menjadi Pribadi yang Senantiasa Bersyukur

Menjadi Pribadi Yang Senantiasa Bersyukur

Sikap syukur meciptakan berkah.Membantu diri sendiri dengan membantu orang lain. Anda memiliki senjata yang paling kuat di bumi yaitu cinta dan do’a. Belajar syukur menjadikan hidup terasa lebih makmur,belajar ikhlas menjadikan hidup terasa lebih indah dan bergairah.(Faqihsyarif,2013)

Sobat, penghargaan dan rasa syukur terhadap apa yang kita miliki membantu kita mengirimkan lebih banyak getaran positif yang dahsyat. Ketika kita menghargai anugerah Allah yang kita terima, seperti melihat pekerjaan saat ini, sesungguhnya kita telah memancarkan getaran positif yang dapat melahirkan kebahagiaan yang murni. Seorang komposer pianis dunia Arthur Rubinstein mengatakan, “Tentu tidak ada formula sukses,kecuali menerima hidup secara tak bersyarat dan segala sesuatu yang didatangkannya.”

Sobat, menerima hidup secara tak bersyarat artinya dapat mensyukuri segala yang diterima dalam kehidupan.Meluangkan waktu untuk menghargai dan mesyukuri anugerah Allah SWT setiap hari, berarti dengan sadar kita telah memancarkan getaran positif yang kuat dan memenuhi hati dengan perasaan syukur yang nikmat.

Manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk senantiasa bersyukur atas nikmat dan rezeki yang diperolehnya. Pribadi yang beretos kerja terbaik dan mulia adalah pribadi yang pandai bersyukur atas apa yang diperolehnya selama ini. Dalam dunia kerja dan bisnis,aplikasi dari rasa sykur diwujudkan dalam beberapa sikap berikut:
  1. Sikap Rendah hati. Pribadi yang tetap memiliki sikap rendah hati. Meskipun mungkin dirinya memiliki kelebihan dan keunggulan, seperti pendidikan tinggi,jabatan yang tinggi, atau keunggulan lain, ia tidak menyombongkan diri atas kelebihan-kelebihan yang telah diperolehnya. Karena ia menyadari sepenuhnya bahwa semua itu hanya titipan yang diberikan oleh Allah kepada dirinya. Sikap rendah hati ini diwujudkan dengan menghargai orang lain dalam bekerja dan memperlakukan orang lain dengan baik.
  2. Tidak melalaikan ibadah. Aplikasi rasa syukur dalam dimensi spiritual adalah meskipun seseorang disibukkan oleh berbagai kesibukan aktivitas profesionalnya, ia tidak pernah melalaikan menunaikan kewajiban menjalankan ibadah yang telah diperintahkan Allah. Karena ia menyadari semua aktivitas baik dalam pekerjaan dan kehidupannya hanyalah untuk mencari ridho Allah semata. Pekerjaan dan semua aktivitas profesionalnya adalah bentuk pengabdian dirinya kepada Allah SWT semata.
  3. Berorientasi manfaat Kebaikan. Dalam dimensi sosial, rasa sukur dalam bekerja diwujudkan melalui bekerja penuh ketulusan hati,ikhlas dan berorientasi untuk memberikan manfaat kebaikan bagi sesama.Mereka merasa bahagia dalam memberikan pelayanan,memiliki kesediaan hati membantu orang lain, dan dalam bekerja berorientasi memberikan manfaat kebaikan bagi sesama.
Sobat, dengan membiasakan bersukur kita akan menjadi orang yang berpikir besar dan berjiwa besar. Berpikir besar dan berjiwa besar adalah pilihan yang harus dimiliki oleh manusia di atas rata-rata. Kita percaya dengan berpikir besar, dalam hidup, kita akan selalu melihat peluang daripada masalah-masalah.Sementara,jika kita berjiwa besar maka kita akan bahagia dan berada di jalan-jalan kemuliaan.
Berikut sobat, untuk melatih agar kita memiliki pikiran besar dan jiwa besar:
  • Pikirkan Solusi, bukan masalah-masalah. Setiap masalah selalu punya solusi.Yang jadi soal dalam menghadapi masalah adalah karena kita hanya berfokus pada masalah itu, bukan pada solusinya. Padahal Allah telah berjanji bahwa Dia tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
  • Berpikir dengan rumus IPB: Ini Pasti Berlalu. Jika Anda mempraktikkan resep “Ini Pasti Berlalu”, Anda akan menemukan ketenangan dan senyuman dalam hidup. Kesadaran anda akan bangkit bahwa kesulitan tidak pernah abadi.
  • Biasakan berpikir positif.awalnya untuk melakukan Anda perlu memaksakan diri. Berpikir positif adalah perilaku orang-orang yang beriman kuat. Mereka sadar dan percaya bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup anugerah yang harus kita syukuri.
  • Miliki bahasa tubuh yang positif. Tak sedikit dari kita masih kurang percaya bahwa bahasa tubuh bisa berdampak langsung kepada orang lain. Saya menyarankan Anda untuk menjaga bahasa tubuh anda ketika anda bertemu dengan banyak orang. Bahasa tubuh anda menentukan penilaian orang lain kepada Anda.
  • Hindari ucapan negatif. Kata-kata yang kita keluarkan tidak mencapai lima persen dari yang kita pikirkan. Dalam otak kita banyak pikiran-pikiran negative yang tidak kita ucapkan,kita tahan, dan hanya menunggu keadaan sehingga pikiran itu diucapkan.
  • Milikilah mentor Anda. Hal itu akan mempermudah Anda mencapai kesuksesan.Kita belajar dari kesalahan orang lain agar kita tidak mengalaminya.
  • Afirmasi dan syukur. Berpikir dan berjiwa besar adalah mukjizat untuk menjadi manusia di atas rata-rata.Mereka yang berhasil berpikir demikian akan lebih mudah menjalani kehidupan. Saatnya kita berdiri dan membuka lebar tangan kita sambil mengatakan,” Saya Ikhlas, Saya berpikir positif”
  • Saya adalah spesial!
  • Saya adalah juara!
  • Saya Pasti Bisa!
Sobat, menghidupkan rasa syukur terhadap apa yang kita peroleh dapat dilakukan dengan merasa berkecukupan atau memiliki kepuasan hati (Sikap qona’ah). Sikap Qona’ah itu mengandung arti: dapat menerima dengan rela apa yang ada, memohonkan kepada Allah tambahan yang pantas dengan berikhtiar, menerima dengan sabar akan ketentuan Allah, bertawakkal kepada Allah, tidak menjadikan materialism duniawi sebagai tujuan utama.

Sobat, sebagai penutup dari artikel ini ingatlah selalu bahwa memenuhi hati dengan rasa syukur memungkinkan kita lebih menghargai pekerjaan dan mampu melihat pekerjaan dengan kaca mata positif dan lebih optimis.

Salam Dahsyat dan luar biasa!
(Spiritual Motivator - N.Faqih Syarif H, Penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah, Thanks God menebar rahmat meraih nikmat, dan Never Give Up! www.faqihsyarif.com)




Tuesday, March 26, 2013

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un.

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un.

Akhir hidup kita di dunia adalah awal kehidupan abadi kita di akherat. Mulai dari saat segalanya telah berakhir.
Kita perlu ta'ziah agar hati tergugah.Rajin melayat setiap saat. Aktif melawat di banyak tempat.Tapi ingat jgn ngelayap di sembarang tempat
Jangan ngelayap di sembarang tempat.Sebab kematian bisa menyergap di mana-mana.Bisa terjadi kapan saja.
Lihatlah orang-orang yang mati. Bahkan banyak yg "mati" sebelum mati. Bukan hanya seseorang tapi buanyak.
Negeri kita pun sedang "mati",minimal sekarat karena penduduknya banyak maksiat.Berkali-kali di hajar musibah tapi tak juga sgr bangkit.
MUsibah demi musibah terjadi salah satunya krn dosa-dosa dan maksiat menutup hati kita shg terlelap dlm nafsu duniawi.
Musibah adalah sinyal agar kita tersadar.Bangun kesadaran diri,jangan mabuk duniawi tetaplah bersyukur
Dan jauhi perkataan yg ngelantur,pandangan yg kabur,pikiran dan nalar yg ngawur,nggak teratur,agar kita selamat saat masuk kubur.

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un.

Mari jujurkan diri, bersihkan nurani dan haluskan budi.
Amal apa yg sudah kita ukir? Kegagalan sejati bukanlah saat kita jatuh tapi kegagalan sejati saat kita menolak utk bangkit.
Deadline waktumu untuk menggugah jiwamu dan lahirkan karya gemilangmu.
Salam Dahsyat dan luar biasa!


Spiritual Motivator
N.Faqih Syarif H
www.faqihsyarif.com

Saturday, March 23, 2013

Saling Mencintai Karena ALLAH SWT

Keutamaan Saling Mencintai karena Allah SWT

Cinta yang paling tinggi dan mutlak bagi seorang Muslim sejatinya adalah cinta kepada Allah SWT semata. Karena itu segala jenis cinta seorang Muslim kepada siapa pun dan kepada apapun sejatinya harus dilandaskan semata-mata pada cinta kepada Allah SWT. Rasulullah SAW  bersabda, “Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR at-Tirmidzi).
Cinta karena Allah SWT bahkan menjadi ciri kesempurnaan iman seorang Muslim, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Siapa saja yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Ada beberapa faktor yang dapat mengokohkan kecintaan kita di jalan Allah SWT kepada saudara kita sesama Muslim. Pertama: memberitahukan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintai dia karena Allah SWT. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW  bersabda, “Apabila ada seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia mendatangi rumahnya dan mengabarinya bahwa ia mencintai dirinya karena Allah SWT.” (HR Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd, hlm. 712)
Kedua: Saling memberi hadiah. Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR al-Bukhari dan al-Baihaqi).
Ketiga: Saling mengunjungi. Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana pula dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Wahai Abu Hurairah! berkunjunglah engkau dengan baik, tidak terlalu sering dan terlalu jarang, niscaya akan bertambah sayang.” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).
Keempat: Saling mengucapkan salam. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman. Tidakkah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang apabila kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)
Kelima: Jangan berprasangka buruk dan melakukan ghibah. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Jangan pula sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian akan merasa jijik (TQS al-Hujurat: 12).
Keenam: Memiliki empati. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang Mukmin itu ibarat satu jasad; apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR Muslim).
Berdasarkan penjelasan Rasulullah dalam beberapa haditsnya dinyatakan bahwa buah dan hasil dari saling mencintai di jalan Allah di antaranya adalah: mendapatkan kecintaan dan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT; mendapatkan naungan Allah pada Hari Kiamat pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah, merasakan manisnya iman, meraih kesempurnaan iman dan akan masuk surga. Rasulullah SAW, misalnya bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai.” (HR Muslim).
Rasulullah SAW  pun bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Allah berfirman pada Hari Kiamat, ‘Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.’” (HR Muslim).
Rasulullah SAW juga menceritakan dari Rabb-nya melalui sabdanya, “Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.”
Rasulullah SAW pun menceritakan dari Rabb-nya yang berfirman, “Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.” Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya. (HR Ahmad).
Rasulullah SAW pun bersabda, sebagaimana penuturan Muadz bin Jabal, bahwa Allah telah berfirman, “Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi).
Semoga kita bisa meraih semua keutamaan itu. Amin. [] abi.

Wednesday, March 20, 2013

Temukan Kekuatan Utama Anda!



 Temukan Kekuatan Utama Anda!
Sobat, kehidupan selalu apa adanya.Ia tidak pernah mengkhianati kita.Kitalah yang tanpa sadar seringkali menghianatinya. Kejujuran cermin adalah bacaan kita. Semakin Anda menjauh dari cermin hidup Anda, semakin samar anda melihat potret diri anda sendiri.(Faqih Syarif, 2013)

Sobat, coba bayangkan di hadapan Anda ada cermin besar yang mencerminkan apa pun yang Anda lakukan. Cermin selalu memantulkan kebenaran secara utuh, kecuali  jika cermin itu retak. Kebenaran yang ditangkap pun akan pudar. Sobat, sadarlah bahwa di sekeliling kita ada sebuah cermin hidup yang tidak terlihat. Ia selalu memantulkan menangkap apa pun yang kita perbuat. Jika kita berkata negative maka ia akan memantulkan perkataan negative lebih banyak dari apa yang kita katakan. Mereka yang senantiasa berpikir dan bertindak positif adalah orang-orang yang beruntung dalam kehidupannya.

Sobat, pikiran ibarat tanaman,jika tidak dirawat yang tumbuh akan banyak ilalang. Pikiran kita membuat batas-batas yang tak mampu kita lalui, dan lupa bahwa kitalah yang membuat batas-batas itu. Kita membuang ikan besar hanya karena ukuran kuali kita kecil. Barangkali sobat, tanpa kita sadari, kita pernah membuang peluang dan kesempatan hanya karena kita merasa tidak mampu dan belum layak.

Sobat, pikiran adalah potensi luhur yang dimiliki manusia. Namun kitalah yang sering membatasinya, membuat kita terkotak-kotak dalam ketidakmampuan yang kita buat sendiri. Sekali lagi renungkanlah! Berapa banyak kata negative yang kita lontarkan dalam sehari. Mungkin kita tidak pernah menghitungnya. Padahal, setiap ucapan negative akan memantul kepada yang mengucapkan.

Sobat, berikut ini penyebab kita terkurung dalam kotak pikiran yang menjadikan Anda  tidak bisa menemukan kekuatan utama Anda :

  1. Sering berprasangka buruk kepada diri sendiri dan orang lain. Inilah faktor utama yang mengurung atau mempenjarakan manusia. Setiap prasangka buruk memantul kepada pelakunya. Bisa dirasakan.Ia seperti angin yang  tak kasat mata dan hanya terasa.
  2. Berkumpul dengan orang-orang negative. Anda orang baik namun, akan terpengaruh buruk jika anda berkumpul dengan orang-orang buruk. Seperti memegang tali ikan di pasar. Meskipun, anda telah membuangnya, baunya masih tertinggal.
  3. Memiliki believe system yang salah. Keyakinan yang keliru namun dipertahankan tanpa sadar, lalu mendarah daging akan menjadi penjara bagi mental kita.
  4. Terbiasa menyerak kepada masalah.  Terkadang kita merasakan, bukannya semakinkecil, masalah justru semakin besar. Hanya ada dua sikap orang menghadapi masalah: Menyerah atau melawan. Yang manakah sikap Anda ketika menghadapi masalah?
  5. Berharap tidak ada masalah dalam hidup. Harapan yang mustahil terwujud. Selama hidup di dunia, anda tidak akan bisa melepaskan diri dari masalah.Yang mesti Anda lakukan adalah menjadikan masalah sebagai lompatan tinggi untuk mengubah hidup. 
  6. Belajar kepada orang-orang kalah. Orang-orang kalah akan lebih senang berbagi kepada kita tentang kekalahannya. Mereka lebih senang ketika Anda mendengarkan kisah kekalahannya dibandingkan kisah kemenangannya.

INgatlah selalu sobat, Hidup itu pilihan. Tapi untuk memilih ayang baik, Anda harus tahu siapa diri Anda dan apa yang anda perjuangkan, ke mana tujuan ANda, dan mengapa Anda ke sana.

Sobat, milikilah mental positif dan mental positif itu sangat erat hubungannya dengan antusiasme. Mental positif melahirkan Action. Jadilah orang yang membuat sesuatu terjadi atau menorehkan sejarah emas hidup anda dengan cara merencanakan, membuat strtegi dan metode  untuk meraih sukses dan peningkatan diri Anda.

Berikut ini adalah bagaimana agar kita bisa mengetahui kekuatan utama dan pembeda abadi diri ini? Ada lima pertanyaan yg membantu kita menemukannya.

  • Apakah yang paling Anda minati? minat akan memunculkan gairah.
  • Apakah yang paling anda kuasai? setidaknya, dibanding orang-orang di sekitar Anda,Anda dianggap lebih menguasainya.
  • Apakah sesuatu yg anda minati dan kuasai itu menghasilkan?
  • Apakah sesuatu yg anda minati dan kuasai itu membahagiakan?
  • Apakah sesuatu yg anda minati dan anda kuasai itu sesuai dengan persepsi publik terhadap anda?

Kalau anda mampu menjawab lima hal di atas. Berarti anda telah menemukan kekuatan utama dan pembeda abadi anda. Selamat! Salam dahsyat!
Tanpa kekuatan utama Anda,tanpa pembeda abadi, anda hanya akan menjadi orang rata-rata, kurang bergairah,bergerak lambat, gampang dilupakan
Fokuslah pada kelebihan Anda punya ! anda akan menjadi orang yang di atas rata-rata. Salam dahsyat dan luar biasa!

(Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, Penulis Buku Al Quwwah ar ruhiyah kekuatan spirit tanpa batas dan buku Thanks God Menebar rahmat meraih nikmat. www.faqihsyarif.com )

Wednesday, March 13, 2013

Say NO to Penundaan !


Say NO to Penundaan!
Penundaan adalah kebiasaan yang berbahaya;penundaan akan menghambat pengembangan diri Anda.Penundaan adalah cara termudah untuk menghentikan kemajuan Anda dan akan menjauhkan diri Anda dari cita-cita dan impian Anda. Jangan biarkan diri Anda membuat alasan-alasan untuk tidak mengambil tindakan sekarang. (N.Faqih Syarif H,2013)

Sobat, ingatlah bahwa penundaan itu berujung pada kecemasan. Ini akan membuat kita berkutat pada masa lalu, padahal untuk meraih sukses, kita perlu menutup celah antara posisi kita sekarang dan masa depan kita. Membatalkan sesuatu atau terburu-buru mengejar tenggat waktu di menit-menit terakhir hanya akan meningkatkan kegelisahan dan kecemasan kita sehingga meningkatkan stress diri kita.

Sobat,ingatlah penundaan adalah salah satu perampok waktu kita, bukankah waktu memiliki Ciri-ciri ; Waktu tidak bisa disewa, dipinjam, atau dibeli, Waktu tidak berubah, Waktu tidak bisa disimpan dan dikumpulkan,Waktu tidak ada penggantinya, kalau sudah lewatlah sudah tidak bisa diputar kembali seperti dalam sinteron lorong waktu. Sehingga disinilah pentingnya kita memahami prioritas amal ;Wajib laksanakan, Sunah upayakan, Mubah - lakukan yang paling bermanfaat, Makruh hindarkan, Haram tinggalkan.

Sobat, Penyakit utama orang adalah menunda-nunda aktivitas.Kalau itu yang kita lakukan akan membuat aktivitas itu batal dilaksanakan, kalau  toh bisa dilaksanakan aktivitas itu, bisa dilakukan tetapi tidak optimal, hal lain yang sebenarnya dapat dilakukan jadi terabaikan,              ” Kenapa ya di usia kita sekarang ini kita Cuma bisa jadi seperti ini …..”, Orang yang melakukannya akan semakin merasa beban yang dipikulnya bertambah berat. Itulah sobat, beberapa kerugian jika kita melakukan penundaan.

Sobat, berikut ini tips mengatasi penundaan :

  1. Hindari “thulul amal” (= panjang angan-angan) : Jangan merasa masih akan hidup lama pada waktu mendatang, padahal realitasnya, kematian selalu siap menjemput kita. “Jika engkau berdiri dalam shalatmu, maka lakukanlah shalat sebagai shalat seseorang yang akan meninggal!” (HR. Ahmad)
  2. Hindari lebih percaya dugaan daripada realitas : Percaya Diri (PD) itu bagus, tapi jangan lantas menunda-nunda, siapa tahu kondisi eksternal berubah tiba-tiba. “Shadaqah apa yang terbesar pahalanya?” Rasul: “Shadaqah saat kau masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya.  Dan jangan tunda hingga nyawa di tenggorokan, dan kau baru berkata ‘untuk si fulan sekian, dan untuk si anu sekian’ padahal harta itu sudah hak ahli warisnya”(HR. Bukhari & Muslim) 
  3. Hindari menjadikan orang lain sebagai tolok ukur negatif . “Alhamdulillah, si anu juga belum ngerjain tugas … “ Tiap-tiap manusia bertanggungjawab dengan apa yang dikerjakannya. (Qs. 52:21).  Harusnya : “Orang lain aktivis dakwah, tapi juga cum-laude, kenapa saya tidak?” Orang lain bisa “gaul” tapi juga menjauhi maksiat, kenapa saya tidak?”
  4. Hindari “Wah lagi malas nih …” Cara termudah: paksakan diri melawan malas.Banyak berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang menggoda dengan bentuk rasa malas. “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesusahan,dari sifat lemah dan malas, dari sifat pengecut dan bakhil,dari dari bergelimang hutang dan dikuasai orang lain”
  5. Penundaan sangat mungkin karena ketidaktahuan tentang apa yang harus dikerjakan.Jadinya …. melamun saja …. Rasulullah telah memberi contoh, agar setiap aktivitas penggunaan waktu direncanakan dengan seksama. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Qs. 94:7).Rencanakan jauh ke depan … sampai akherat !!! 
  6. Jangan melebihi kapasitas diri sendiri . Kita sehari sama-sama dibekali 24 jam!Skala prioritas tolok ukurnya jelas: hukum syara’. Aktivitas utama adalah yang fardhu, baru yang mandub (sunnah), baru yang mubah.Pengalaman, banyak aktivitas yang la yamutu(tidak bermutu), misalnya nonton TV banyak-banyak. “Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apapun yang tidak berguna baginya” (HR Turmudzi) 
  7. Segera buat komitmen untuk melakukan hal-hal yang telah Anda tunda. Secara realisitis, jadwalkan aktivitas yang harus Anda lakukan ke dalam buku harian atau yang lebih baik lagi, kerjakan sekarang juga satu dari daftar Anda. Visualisasikan target Anda secara utuh dan gunakan afirmasi. Lihat kembali target Anda. Ingatlah bahwa target-target tersebut harus realitis dan dapat dicapai.
  8. Hadiahi diri Anda sendiri. Gunakan cara ini untuk menjaga agar Anda tetap termotivasi dan menghindarkan diri Anda jatuh ke dalam godaan menunda-nunda.

Sobat, Pertahankan suatu sikap positif untuk mengelola perubahan. Antusiasme yang berkobar, didukung dengan pertimbangan cerdas dan ketekunan, adalah hal-hal yang akan mengantarkan pada gerbang kesuksesan. Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

(Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, Penulis Buku Al Quwwah Ar ruhiyah kekuatan spirit tanpa batas, Penulis buku Thanks God Menebar Rahmat dan Meraih nikmat. www.faqihsyarif.com )

Al-Iman yazid wa yanqus (Iman bertambah dan berkurang).



Al-Iman yazid wa yanqus (Iman bertambah dan berkurang).
Demikian sabda Baginda Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Majah, al-Baihaqi dan Ibn Hibban dari penuturan Abu Hurairah ra.

Dalam kitab Fath al-Bari li Ibn Rajab (I/5) dalam bab Al-Iman disebutkan, bahwa iman bertambah saat kita sedang mengingat Allah SWT sekaligus takut kepada-Nya. Sebaliknya, saat kita lalai dan lupa kepada Allah SWT berarti iman kita berkurang. Dikatakan juga oleh sebagian ulama, iman bertambah dengan ketaatan kita kepada Allah SWT, dan bekurang karena kemaksiatan kita kepada-Nya.

Terkait hadis di atas, dalam suatu kesempatan Imam ats-Tsauri menyampaikan bahwa beliau selama lima bulan tidak mampu mengerjakan qiyamul-lail. Menurut ats-Tsauri hal itu disebabkan karena dosa yang beliau kerjakan. Saat Imam ats-Tsauri ditanya mengenai dosa itu, beliau menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki menangis, sedangkan aku berkata dalam hati bahwa laki-laki ini menangis dalam rangka riya.” (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum ad-Ddin, IV/239).

Dari kisah di atas bisa diambil pelajaran bahwa perbuatan dosa bisa  membuat seorang berat melakukan amal-amal shalih, di antaranya shalat malam. Kisah itu juga menunjukkan betapa pekanya Imam ats-Tsauri terhadap amalan hati. Karena amat pekanya, beliau memandang dosa su’uzhan sebagai sebuah perkara yang amat besar. Beliau memandang bahwa hal itulah yang menyebabkan beliau tidak mampu melaksanakan shalat malam.

Shalat malam adalah salah satu ibadah sunnah yang utama. Meski sunnah, shalat malam telah menjadi tradisi para ulama salafush-shalih. Namun demikian, amal dakwah—karena merupakan kewajiban setiap Muslim—tetap saja lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah, termasuk shalat malam. Maka dari itu, jika shalat malam yang sunnah saja sudah menjadi tradisi di kalangan ulama salaf, apalagi amal dakwah mereka, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Jangankan yang sunnah seperti shalat malam, sebagian kita bahkan masih banyak yang meninggalkan amal dakwah. Padahal boleh jadi, ada yang sudah lama menjadi bagian dari sebuah harakah dakwah dan sering dijuluki sebagai hamilud-da’wah. Boleh jadi semua itu karena kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa kita, baik dosa kecil seperti su’uzhan, apalagi dosa besar seperti melakukan transaksi ribawi, misalnya. Inilah di antaranya yang membuat kita malas berdakwah termasuk melaksanakan amalan-amalan sunnah seperti shalat malam.

Sayangnya, kebanyakan kita tidak seperti Imam ats-Tsauri yang memiliki kepekaan spiritual yang tinggi. Kebanyakan kita tidaklah peka terhadap dosa-dosa kecil, bahkan kadang-kadang terhadap dosa-dosa besar. Akibatnya, kita pun tidak merasa bahwa kelalaian kita dalam amal dakwah ataupun amalan-amalan sunnah seperti shalat malam adalah akibat dari dosa-dosa dan kemaksiatan kita.
Karena itu, jelas penting bagi setiap pengemban dakwah untuk sejauh mungkin menghindari dosa, baik yang kecil apalagi yang besar.

Dalam hal ini, tampaknya kita perlu belajar banyak kepada para ulama salafush-shalih terdahulu. Salah satunya kepada Imam Abdurrahman, salah seorang ulama Syafiiyah yang terkenal dengan sifat wara’-nya. Sebagaimana pernah diceritakan oleh istri beliau yang bernama Khurrah binti Abdurrahman as-Sinjawi, Imam Abdurrahman bertahun-tahun tidak memakan nasi. Hal itu karena penanaman padi membutuhkan banyak air, sedangkan amat sedikit petani saat itu yang tidak melakukan kezaliman terhadap yang lainnya demi untuk mengairi lahannya (Thabaqat asy-Syafiiyah al-Kubra, V/102).

Imam Abdurrahman memilih menghindari memakan nasi karena kemungkinan ia dihasilkan dengan didukung kezaliman. Pasalnya, di wilayah yang ditinggali Imam Abdurrahman di Marwa, air bukan sesuatu yang mudah diperoleh hingga tidak heran jika para petani melakukan berbagai macam cara untuk memperoleh air untuk mengairi sawah mereka.

Kita pun harus belajar kepada Imam Abu Hanifah. Dikisahkan bahwa beliau pernah menahan diri tidak memakan daging kambing sekian lama sejak mendengar bahwa di kampungnya ada seekor kambing dicuri. Beliau menahan diri untuk tidak memakan daging kambing selama beberapa tahun sesuai dengan usia kehidupan kambing pada umumnya hingga diperkirakan kambing itu telah mati (Ar-Raudh al-Faiq, hlm. 215).

Demikianlah sifat wara’ Imam Abu Hanifah dalam hal menjaga diri dari memakan yang haram atau syubhat.
Dengan sikap wara’ para ulama yang demikian hebat, tentu tidak aneh jika mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersemangat dalam melakukan amal-amal shalih, tidak bermalas-malasan. Imam Abu Fath al-Baghdadi dan murid-murid beliau adalah salah satu contohnya. Imam Abu Fath al-Baghdadi adalah seorang ulama mazhab asy-Syafii yang merupakan murid Imam al-Ghazali. Beliau dikenal sebagai ulama yang menyibukkan diri pada malam hari dengan ilmu. Bahkan saat ada sekelompok pencari ilmu datang untuk meminta waktu belajar Ihya’ Ulum ad-Din beliau mengatakan, “Saya sudah tidak punya waktu untuk kalian.”

Akhirnya, mereka berusaha memberikan alternatif waktu. Namun, Imam Abu Fath menyatakan, “Itu waktu saya mengajar pelajaran si fulan.”
Para pencari ilmu itu tidak patah semangat. Mereka masih mencari celah waktu Imam Abu Fath. Akhirnya, ditemukan juga waktu dimana Imam Abu Fath bisa mengajar mereka, yakni pada tengah malam (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, 6/30).

Demikian besar semangat Imam Abu al-Fath dalam menebarkan ilmu. Demikian kuat pula semangat para pencari ilmu waktu itu untuk belajar meskipun pada tengah malam.

Bagaimana dengan kita yang masih malas-malasan menghadiri halaqah atau majelis ilmu? Bagaimana pula kita yang masih ogah-ogahan mengamalkan dan mendakwahkan ilmu? Jangan-jangan, selama ini kita terlalu banyak berbuat dosa dan maksiat kepada Allah SWT. Itulah yang menjadi sebab utama kita acap kehilangan gairah dalam melakukan amal-amal shalih, baik hadir di dalam halaqah atau majelis ilmu, melakukan kontak dakwah, termasuk menjalankan ibadah-ibadah sunnah seperti shalat malam, berzikir, membaca al-Quran dan sebagainya. Semoga saja tidak demikian.

Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib. [ABI]

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co