Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Saturday, January 19, 2013

Salah Satu Tulisan Santriku di Al-Amri Leces

Let’s Be The Extraordinary People, Not The Ordinary People! Ada sebuah pertanyaan yang kadang mengganggu pikiran kita, “mengapa ada orang yang bisa mendapat semua kainginannya, sukses, berhasil, mempunyai jabatan tinggi, bekerja sebagai dosen, insinyur, pejabat tinggi, direktur. Namun ada orang yang hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, syukur- syukur ada keinginan yang tercapai, kerjanya tiap hari nyangkulin sawah, mandiin ternak, motongin rumput. Dunia ini seperti tak adil!”. Dari pernyataan tadi, terdengar kabar burung yang menjawab pernyataan tadi, “dunia ini adil, ada yang kaya dan ada yang miskin, kalau semua orang kaya, trus siapa yang akan membersihkan selokan mampet? Siapa yang akan membuang sampah yang numpuk depan rumah? Siapa yang akan motongin ilalangdepan rumah?, kalau tak ada si miskin, dunia ini bakal kumuh dan kotor!”. Memang tidak seluruh pernyataan tadi salah, juga tidak semuanya benar, tapi permasalahannya, apa yang membuat adanya orang kaya dan orang miskin? Apa yang menjadi pembeda antara si jas licin dan si kaos bolong? Apa yang menjadi jurang pemisah antara yang sarapan roti dan susu dan yang sarapan karak dan air putih berjentik jentik nyamuk?. Jawabannya, yang menjadi penyebab adanya kaya dan miskin, yang menjadi pembeda antara si jas licin dan si kaos bolong, yang menjadi jurang pemisah antara yang sarapan roti dan susu dengan yang sarapan karak dan air putih berjentik nyamuk hanya satu, yakni habit-nya. Habit atau kebiasaan ini bukan kebiasaan karena sering memakai jas licin tanpa alasan yang pasti, bukan pula karena sering sarapan roti dan susu, bukan pula karena sering bertamasya bersama cangkul ke sawah, namun kebiasaan di sini deraarti kebiasaan memberi kontribusi. Si kaya, si sukses, si jas licin, dkk. terbiasa menyumbangkan kontribusi positif pada dirinya, lingkungan, maupun dunia, namun bukan berarti para petani, buruh, dkk. tidak memberi kontribusi kepada dirinya, lingkungannya, maupun dunia, tapi kualitas dan kuantitas yang disumbangkan para petani dkk. masih di bawah para pengusaha sukses, para pengubah dunia, dkk., jangan berpikir bahwa orang-orang sukses ini berkontribusi banyak dan memiliki kualitas yang tinggi karena bekerja pada sebuah instansi dengan jabatan tinggi, bahkan banyak dari para kontributor pengubah dunia yang pengangguran seumur hidupnya. Para kontributor pengubah dunia ini tidak memberi kontribusi ketika mereka bekerja saja, tapi mereka memberi kontribusi ketika mereka bernafas, berjalan, bergerak, berpikir, diam, sendiri, bersama orang lain, bahkan ketika koma sekalipun mereka masih memberikan kontribusi nyata. Hal yang selalu ada pada pikiran orang-orang sukses itu hanya “Jangan pernah menunggu kesuksesan datang menjemput, nanti yang datang duluan malah maut, pergilah tuk menjemput, jangan cuma dalam mulut, berilah kontribusi yang patut, jangan Cuma bisa menyulut, terakhir kepastian yang didapat adalah hasil, mahakarya, dan kesuksesan yang pastinya salut!” Kita sebagai seorang muslim diperintahkan oleh Allah untuk berusaha sebagaimana dalam QS. Ar-Ra’du ayat 12 yang berbunyi: “sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa-apa (keadaan) dari suatu kaum hingga mereka merubah-nya sendiri”. Para ulama muslim meyakini betul ayat tadi, mereka berpikir bahwa umat Islam tidak akan pernah maju, mulia, dan berubah lebih baik jika tidak di rubah oleh umat muslim itu sendiri, sehingga muncul banyak ilmuan muslim dan ulama ulung pada masa “The Dark Age” di hamparan negara-negara Eropa dan “The Golden Age” di hamparan negeri Khilafah. Mereka adalah Al-Khawarizmi sang penemu aljabar yang sampai sekarang terus di gunakan oleh khalayak ramai, Abbas Ibn Firnas orang yang pertama kali bisa terbang jauh sebelum Wright bersaudara berpikir untuk membuka bengkel sepeda, Ibnu Sina yang terkenal sebagai Aveccena sang bapak ilmu kedokteran modern. Apakah dunia “The Golden Age” hanya diwarnai oleh kaum laki-laki? Katanya Islam memuliakan wanita?. Tentu, ada Maryam Ijliya Al-Asturlabi, penemu alat astronomi yang bernama astrolube, lalu ada Al-Firhi bersaudara, Fathimah Al-Firhi, dan adiknya Maryam Al-Firhi, mereka memberi kontribusi kepada dunia dunia sesuai kemampuan masing-masing. Fathimah lebih memilih untuk membangun sebuah universitas Al-Qarawiyyin(Al-Karaouine) yang diperkirakan masih terus berjalan sampai 1200 tahun kemudian dan menginspirasi universitas-universitas terkemuka di dunia. Maryam memilih untuk membengun masjid agung Al-Andalus, masjid tersebut membantu teknik membangun masjid menawan lainnya. Caranya? Cara memberi kontribusi yang berkualitas dan berkuantitas tinggi sebagaimana dalam beberapa training motivasi itu mengacu pada rumus “D.U.I.T.”. Tapi, jangan mengira D.U.I.T. disini berarti fulus bin money alias uang bin arto, tapi Do’a, Usaha, Istiqomah, dan Tawakkal. Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa senjata seorang muslim adalah do’a, bekan berarti do’a sebagai tembak ataupun pedang, tapi mu’min berdo’a agar diberi kemenangan dan kemudahan dalam menjalani hidup. Usaha, sebagaimana telah disebutkan dalam ayat tadi , Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum atau seseorang melainkan mereka yang akan merubah nasib atau keadaan mereka sendiri, berarti Allah mewajibkan orang-orang islam untuk berusaha menjadikan keadannya lebih baik. Istiqomah, inilah rumus kesuksesan yang paling sulit untuk dilakukan, selain membutuhkan waktu yang tidak sedikit, juga membutuhkan biaya, tenaga, kesabaran, serta keikhlasan yang tak kalah banyaknya, tapi inilah yang menjadi kunci utama kesuksesan. Tawakkal, bukan berarti menyerahkan segalanya kepada Allah tanpa ada usaha sedikitpun, juga bukan berarti menyerahkan segalanya kepada Allah tanpa dibarengi dengan usaha yang mentok, melainkan Tawakkal berarti menyerahkan hasil akhir kepada Allah sepenuhnya dengan disertai kejujuran, keikhlasan, dan telah melewati masa usaha yang nganti mentok,sebagaimana dalam Al-Qur’an QS. Ali Imran, ayat 159 yang berbunyi: “Dan ketika kalian telah bertekat(setelah memutuskan atau mengerjakan perkara) maka bertakwalah pada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal” Tapi ingat bahwa setiap apa-apa yang dilakukan oleh seorang muslim harus ada kontribusi positif kepada dunia muslim yang sedang terpuruk ini, entah bernafas, bergerak, berpikir, beraktivitas, bertindak- tanduk, berjalan, hingga koma pun tetap memberi kontribusi positif kepada dunia. Dikisahkan Imam Al-Ghazali ketika ia sedang membaca suatu kita, beliau sakit perut, kemudian beliau menyuruh asistennya untuk membacakan kitab tersebut selagi Imam Al-Ghazali buang hajat. Ada lagi, seorang yang dia dalam keadaan koma selama beberapa hari, setelah orang tersebut sadar dari komanya, dia meminta bolpoin dan kertas untuk menulis karyanya. Sampai begitunya orang-orang yang “LUAR BIASA” ini walaupun dalam keadaan koma, malah mendapat inspirasi untuk karyanya. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak bisa? Caranya?. Jadikan setiap nafas, pikiran, perasaan, tidur, bangun, berjalan, duduk, hingga hal-hal yang sepele seperti, makan, minum, dll. hanya demi kemuliaan islam dan kaum muslim, selalu memikirkan cara agar Islam bisa menerangi Alam semesta, Islam bisa memayungi jagat raya, Islam memberi keselamatan bagi seluruh ciptaan-Nya. “Jangan lihat dirimu hari ini, tapi lihat apa yang terjadi padamu besok”. Takbir! Takbir! Takbir!!! (Haidar Azzamuddin - Santri PP Al-Amri Leces )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co