Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, September 26, 2012

Jadikan Bekerja sebaga ladang menjemput Surga


Jadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga
Abdullah bin Mas’ud Ra pernah berkata, “ Iman itu ada dua bagian, setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi adalah syukur.” ( Ihya Ulumuddin IV/316)

Sobat, banginda Rasulullah SAW pernah mengatakan, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung, bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang yang merugi.Dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang yang celaka.” Lihatlah sobat, begitu pandainya beliau mendorong umatnya untuk maju dengan bahasa yang teramat mudah dicerna oleh siapapun juga. Sehingga bagi penulis Rasulullah merupakan the great motivator bagi umatnya. Kalimat yang begitu singkat, tapi seolah menampung seluruh spirit kemajuan di dalamnya. Menjadi orang suksesnya ukurannya sangat mudah;kalau hari ini lebih baik dari yang kemarin, dan kalau hari yang akan datang lebih baik dari hari ini. Ya inilah pertanda kalau orang itu sukses. Apa pun itu baik dalam persoalan ibadah maupun semangat dalam bekerja.

Sobat, Rasulullah bukan hanya seseorang yang pandai berkata-kata,tapi pandai pula dalam merealisasikan kata-kata. Bahkan lebih dari itu, realisasi beliau selalu saja mendahului kata-kata beliau. Ketika beliau menganjurkan pentingnya kemajuan per detik, maka beliau sungguh telah merealisasikannya. Lihatlah apakah dalam kehidupan rasulullah, kadar prestasi yang dicapainya semakin menurun setiap harinya atau malah semakin naik. Begitu pula ketika beliau memfatwakan pentingnya giat dalam bekerja. Maka beliau adalah orang yang paling rajin dalam bekerja.

Sobat, sejarahwan manapun, baik yang beriman kepada Rasulullah maupun yang tidak, susah untuk menolak kenyataan sejarah bahwa di tangan Rasulullah, masyarakat Makkah dan Madinah yang semula terkenal sebagai masyarakat rendah yang tak berperadaban menjadi masyarakat yang sesdemikian maju penuh keadaban yang luar biasa. Rasulullah telah menjadi pencerah dan cahaya bagi umatnya. Sejarah mencatat, tentang begitu semangatnya Rasulullah bersama para sahabat dalam membangun kota Makkah. Semangat yang terus berlanjut saat beliau hijrah ke kota Madinah. Di kota Madinah ini, kecanggihan manajemen Rasulullah teruji dalam membuat landasan yang adil antara golongan yang beraneka warna; seperti kaum badui,Quraish, yahudi dan Nasrani.

Sobat,spirit itulah yang diajarkan dan diwariskan kepada umatnya dan layak kita mengambilnya sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita. Spirit yang mengajarkan untuk selalu memperbaiki prestasi, spirit yang mengajarkan untuk berani bersaing untuk mendapatkan yang terbaik dalam persoalan-persoalan yang positif, spirit yang mengajarkan karakter kemandirian, tanpa menggantungkan kepada orang lain. Bahkan Rasul pernah menyebut orang yang tidak menggantungkan kepada orang lain sebagai sebaik-baiknya orang dan menyebut makanan yang diperoleh dari jerih payah sendiri sebagai sebaik-baik makanan.

Sobat, simaklah beberapa sabda Rasulullah dan atsar sahabat yang memiliki spirit yang luar biasa dalam konteks di atas :
·         “Sesungguhnya Allah sangat senang jika salah satu diantara kamu mengerjakan suatu pekerjaan yang dilakukannya dengan tekun dan sungguh-sungguh.”
·        
“    "Barangsiapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di waktu sore itulah ia terampuni dosanya.” ( HR. Thabrani dan Baihaqi)
·        
      “sekiranya salah seorang dari kamu mengambul tali,lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu menjualnya, hal itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang, baik ia diberi atau ditolak.” ( HR. bukhari).

·         “Berbuatlah untuk duniamu, seolah engkau akan hidup selamanya, dan berbuatlah engkau untuk akheratmu seolah engkau akan meninggal esok pagi.”

Dari hal-hal di atas Rasulullah SAW sama sekali tidak membedakan aspek dunia dan akherat. Dunia dan akherat laksana hubungan sebab-akibat. Kalau dunianya baik, maka otomatis akhiratnya baik. Inilah rahasianya doa sapu jagad yang diajarkan Rasulullah SAW : “ Ya Allah, berikanlah kepada kami kehidupan dunia yang baik dan kehidupan akherat yang baik, dan cegahlah kami dari api neraka.”
Dunia adalah laksana sawah ladang,kalau akherat diumpamakan tempat menuai hasil/benih, maka dunia adalah tempat menanamnya. Baik buruk hasilnya tergantung dari seberapa baik benih yang ditanam, seberapa bagus ladang yang digunakan untuk menanam, dan seberapa bermutu pupuk yang diberikan pada tanaman itu. Maka itulah analog dunia dan akherat.

Sobat, Allah Maha Pemberi Rizki ( Al-Razzaq) kata ‘Ar-Razzaq’ di dalam Al quran hanya ditemukan 1 kali sedangkan kata “khairurraziqin” diulang sebanyak 5 kali. Sebagai Pemberi Rezeki, Allah menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi manusia untuk selalu berusaha menjemput rezeki dari Yang Maha Pemberi rezeki dengan berbasis Syukur dan Sabar. Abdullah bin Mas’ud Ra pernah berkata, “ Iman itu ada dua bagian, setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi adalah syukur.” ( Ihya Ulumuddin IV/316)

Ar-Razzaq sumber landasan sikap dan mental agar kita :
1.      
       Mengharap Rezeki hanya dari Allah dan berorientasi pada rezeki yang halal.
2.       Bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah.
3.       Membelanjakan rezeki di jalan-Nya seperti membayar zakat,nafkah,infaq dan shodaqah.
4.       Meyakini bahwa rezeki itu telah disediakan oleh Allah.
5.       Memaksimalkan ikhtiar dalam menjemput rezeki dari-Nya melalui pemberdayaan potensi yang dimiliki. Caranya dengan mengoptimalkan fungsi akal,ilmu,pikiran dan anggota tubuh yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dengan penuh kesabaran.
6.       Menyediakan saran untuk proses sampainya rezeki kepada kita.
7.       Bersedia dan berupaya keras menjadi pengantar sampainya rezeki Allah kepada pihak lain.(makelar rezeki).

Sobat, para Nabi Allah, para sahabat juga ulama salafush-shalih meski memiliki kekayaan yang melimpah, mereka sama sekali tidak diperbudak oleh hartanya. Sebaliknya mereka malah menggunakan hartanya untuk menopang dakwah, ibadah dan berjuang di jalan Allah. Mereka telah menjadikan dunia sebagai pintu menjemput surga. Dan mereka benar-benar telah menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga. Karena itulah wajar sekali mereka bekerja keras, karena dengan bekerja keras itulah, pintu surga makin mudah dibuka. Subhaanallah sungguh teladan yang layak kita ikuti dan teladani.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa! Allahu Akbara

(Spiritual Motivator – N. Faqih Syarif H, Penulis Buku Never Give Up melejitkan potensi diri dan semangat berprestasi. www.faqihsyarif.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co