Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Sunday, August 5, 2012

Mengapa Harus Bisnis Islami ?

Mengapa harus bisnis islami? “Aku tidak memasukkan secuil pun makanan ke dalam mulutku, kecuali aku tahu dari mana makanan itu berasal dan darimana ia keluar.” Itulah kalimat dahsyat yang keluar dari sahabat nabi,panglima Islam yang tangguh di medan perang yang doanya terkenal mustajabah. Dia adalah Sa’ad bin Abi Waqqas. Sobat,jelas sekali perkataan beliau, ia tidak makan apa pun selain tahu benar kualitas kehalalannya.Dari mana makanan itu diperleh, atau dari mana makanan itu dihasilkan dan bagaimana pula membelanjakan.Kata “berasal” dan “keluar” dalam kalimat di atas menunjukkan sebuah pelajaran ketelitian, keterusterangan, transparency, kejujuran dan kredibilitas tingkat tinggi. Kalau itu dibahasakan modern sekarang, “Aku tidak akan memakan harta secuil pun, sebelum harta itu diaudit keabsahannya. Apakah ia terindikasi korupsi ataukah tidak.” Ya , ‘diaudit’ itulah kata kuncinya untuk menguji kualitas sebuah rezeki. Teridentifikasi tidaknya kehalalan sebuah rezeki pastilah setelah diaudit oleh lembaga yang kredibel. Itulah pelajaran yang bisa kita ambil dari perkataan Sa’ad bin Abi Waqas. Sobat, tidak diragukan lagi, salah satu kewjiban seorang muslim yaitu mencari nafkah yang suci dan halal untuk diri, keluarga dan umatnya. Rasulullah Saw pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “ Duhai umatku! Allah itu maha suci ( At-tayyib) dan Dia tidak menerima kecuali hanya yang suci! Allah telah menyuruh orang-orang beriman agar mengerjakan apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul-Nya.Dia berfirman,’Wahai orang-orang yang beriman! Dia juga berfirman,’wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari makanan yang halal lagi suci yang telah kami berikan.” Sobat, dahsyat dan luar biasa pesan Rasul waktu itu. Beliau berfatwa saat kondisi perniagaan dan transaksi perekonomian sedang dikepung ketidakjujuran, penipuan gampang sekali dilakukan. Ibarat kata sekarang, sulit sekali pokoknya menjemput rezeki yang halal. Orang bilang,”mencari yang haram saja susah,apalagi mencari yang halal.” Luar biasa godaan mencari harta yang halal saat itu. Pesan dahsyat Rasul itu begitu diresapi dan dipahami oleh para sahabat sehingga menelorkan seorang sahabat yang sekualitas Sa’ad bin Abi Waqqas. Meski susah mencari harta yang halal, ia tidak gentar kelaparan.Baginya, lebih baik mati berkalang tanah daripada memakan rezeki yang tidak berkah, rezeki yang tidak halal atau rezeki yang haram. Waspadalah sobat! Sesungguhnya memakan harta yang haram itu mengakibatkan doa,permohonan, atau permintaan kita tidak dikabulkan oleh Allah SWt. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi,Imam Muslim dan Imam Ahmad dikatakan : Suatu hari, Rasulullah menyebut tentang seorang musafir yang pakaiannya kumal, compang-camping dan berdebu.Musafir itu berdoa pada Allah.Ia menegadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, “ Duhai Allah, Tuhanku! Wahai Engkau Yang Maha Pemberi Rezeki…….” Lanjut Rasulullah, musafir itu berdoa sdangkan makanannya haram, minumnya haram, pakaiannya haram dan ia makan dari nafkah yang haram; bagaimana doanya bisa dikabulkan? Sobat, kita semua, bahkan para nabi sekalipun, diperintahkan menjemput rezeki yang halalan tayyibah(halal lagi baik/suci). Sementara halal lagi baik/suci bisa diperoleh dengan cara yang baik/suci dan membelanjakannya pun dengan baik/suci. Jadi, jika kita membeli makanan yang baik tetapi dengan uang hasil curian, maka makanan itu tidak halal hukumnya. Begitu pula sebaliknya, jika kita mencari uang dengan cara yang baik, tapi kemudian membelanjakannya untuk mengonsumsi barang haram, maka hal ini juga termasuk jenis yang haram. Gamblangnya, mangga itu halal hukumnya, tapi karena kita memakannya dari hasil mencuri, maka mangga itu termasuk makanan yang haram. Itu contoh yang pertama. Contoh yang kedua, duit kita itu benar-benar halal.Bukan dari mencuri tapi dari hasil mengajar matematika, kemudian duit itu kita gunakan untuk membeli sate babi atau minuman keras, maka itu juga termasuk makanan haram.karena makanan yang kita beli itu haram hukumnya. Alhasil sobat, jika kedua syarat tersebut telah kita penuhi ( cara memperoleh dan membelanjakan harta), kita berhak memperoleh reward berupa keridhoan Allah dan doa kita pasti terkabulkan. Rasulullah jaminannya. Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan : “Barangsiapa bersedekah satu biji kurma dan hartanya yang suci,niscaya Allah akan menerimanya dengan tangan kanan, dan Dia akan memberi makan keluarganya karena sedekahnya itu, seperti kalian memberi makan kuda kalian sehingga ia menjadi seperti gunung.” Jadi, sedekah yang diberikan dari harta yang tidak suci, tidak akan diterima oleh Allah walau sebanyak apapun. Sedangkan sedekah yang diberikan dari penghasilan yang suci, akan diterima Allah walaupun Cuma sebesar biji kurma. Sobat, semua hal di atas menunjukkan kepada kita bahwa mencari nafkah yang halal dan membelanjakannya ke jalan-jalan yang halal merupakan kewajiban kita umat islam. Ya wajib hukumnya,mencari dan membelanjakan harta yang halal. Tidak hanya itu Rasulullah dengan sendirinya juga mewajibkan kita untuk bekerja. Mencari makan sendiri. Mencari nafkah sendiri. Tidak menjadi parasit bagi orang lain. Tidak menggantungkan nasib pada orang lain. Jangan mengemis dan meminta-minta. Bekerjalah sekeras-kerasnya, secerdas-cerdasnya, sebaik-baiknya, sesuci-sucinya dan sehalal-halalnya! Itulah spirit utama yang hendak dikatakan Rasulullah SAW. Dan hanya kita yang mau berpikir, bertakwa, dan beramallah yang bisa menangkap spirit yang mulia ini. Subhaanallah! Salam Dahsyat dan luar biasa! ( Spiritual motivator - N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si,)

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co