Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, August 29, 2012

Jangan Mau Seumur-umur Tersingkir dan Terpinggir

Jangan Mau Seumur-umur Tersingkir dan Terpinggir Kita selayaknya menjebol kemalasan dan keogah-ogahan. Saat keduanya terus menggelindingi kita, maka nasib kita hanyalah kebobolan bola.Bola itu namanya keterpinggiran dan keterbelakangan. Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Sobat, mereka yang mempunyai ‘nama besar’, karena mereka telah menggergaji dan memotong-motong yang namanya kemalasan dan keogah-ogahan, untuk meraih cita-cita dan impian.Malas, enggan melakukan sesuatu, dan lemah,tidak sanggup melakukan sesuatu, adalah dua PR yang kedua-duanya sama-sama harus dijebol. Itulah rahasia mengapa Rasulullah SAW mengajari doa bagi kita yang saya letakkan di lead artikel ini. Allahumma inni a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali. (Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas) Sobat, sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa keberuntungan selalu memihak mereka yang aktif, dinamis dan inspiratif. Imam Abu Hanifah terpaksa harus menjual beberapa atap rumahnya yang ketika itu terbuat dari pelepah pohon demi mencari meneruskan perburuan ilmunya. Sofyan Ats-Tsauri pernah tiga hari kelaparan karena mencari hadits. Imam Sibawaih harus berlelah-lelah menyusuri perkampungan orang –orang Arab badui,nomaden-berpindah-pindah, berinteraksi sosial bersama mereka untuk menelusuri dan mendalami bahasa arab fusha’ mereka. Ibnu As’Asakir perlu waktu 60 tahun untuk menulis kitab Tarikhnya, “Tarikh Damaskus”, sehingga kitab sejarahnya melegenda dan mengabadi sepanjang abad. Ibnul Mubarak mengulang-ulang hafalan satu haditsnya dari malam hingga fajar, padahal beliau seorang ulama. Itu semua dalam rangka mengakarkuatkan hafalannya dalam otak. Agar terus terjaga dan melembaga dalam ruang ingatannya. Subhaanallah! Bagaimana dengan kita? Imam Syafi’i yang tingkat kecerdasannya tujuh tahun sudah hafal Al-Qur’an harus menghabiskan sepuluh tahun untuk mempelajari satu dialek Arab,bani hudzail. Untuk menulis, beliau merelakan diri menjadi pemulung kulit,tulang dan tembikar karena kertas pada masa itu suatu yang langka. Imam Ahmad mau tak mau harus menghadapi siksa dan penjara agar pendapatnya diterima. Sobat, sukses secara jamak ternyata harus terlebih dahulu menabrak derita dan tantangan, kemudian mengalahkannya. Sukses secara alamiah dan sunnatullah harus berpayah-payah duluan. Pelita atau cahaya motivasi harus terus-menerus menyala laksana api yang terus berkobar untuk mengalahkan teror tantangan yang pantang menyerah dan pandai menyembunyikan diri. Saat motivasi lemah, jangan harap jala peroleh panenan sukses. Sobat, kesuksesan akan teraih, mayoritas setelah seseorang terlebih dahulu harus menjebol rintangan. Rintangan bagi tiap orang adalah pasti, hanya berbeda varian dan bentuknya. Hanya semangat dan optimeslah yang menjadikan seseorang berhasil. Saat optimis dan semangat sudah mati, sekaligus kesuksesan sudah diambang kematian. Sobat, orang-orang agung selalu muncul setelah melalui proses yang begitu panjang. Dari satu cobaan ke cobaan yang lain. Dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kerasnya kehidupan, akan menempa mereka menjadi manusia yang langka. Sungguh, suatu yang mengada-ada jika muncul seorang yang agung secara serta merta. Karena sesunguhnya, hakikat keagungan adalah akumulasi dari kelebihan-kelebihan kecil yang menggumpal menjadi satu.Hakikat keagungan adalah sebuah kemampuan yang bisa ditunjukkan ketika menghadapi kerasnya dunia. Sobat, kita tidak bisa membayangkan, apakah Imam Nawawi dikenal dunia jika tidak berpayah-payah mengarang dan menulis kitab Riyadhus Shalihin? Apakah Umar bin Abdul Azis dikenal sejarah jika tidak menjadi Khalifah? Apakah Abu Hurairah menjadi legenda punggawa hadits jika tidak berlelah-lelah dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi? Apakah Khalid bin Walid menghiasi buku shirah jika tidak beberapa kali memberanikan diri turun dalam medan jihad? Sobat, pengarang besar, khalifah, periwayat hadits,Jenderal atau panglima perang, bukanlah lahir kebetulan. Ada benang merah yang sangat kuat antara tindakan dan impian. Antara sabab musabab dan menjadi. Antara perjuangan dan hasil. Antara obsesi dan kualitas diri. Antara Impian dan Action. Sobat, keberuntungan selalu memihak mereka yang mau menjebol gawang kemalasan. Mereka yang berusaha berkali-kali, berbagai cara, berbagai teknik. Kesuksesan terus membela bagi mereka yang mau berusaha, kreatif,dinamis dan inspiratif. Tak kenal putus asa dan frustasi.Antipati terhadap sikap wegahan dan mutungan. Jangan lupa sobat, peliharalah TUYUL (Tabah,Ulet,Yakin, maka Insya Allah Usaha anda akan Lancar). Never Give Up! Sobat, sungguh yang terpenting bukanlah sudah beberapa lama kita hidup, namun sejauhmana kualitas hidup kita. Maka teruslah kita mengupgrade diri atau meningkatkan valensi diri kita,jika tak mau tersingkir dan terpinggir. Salam Dahsyat dan Luar Biasa! (Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si, Penulis buku Al Quwwah Ar ruhiyah Kekuatan spirit tanpa batas dan Buku Menjadi Dai Yang dicinta. www.faqihsyarif.com )

Tuesday, August 28, 2012

Nikmat Allah itu begitu Banyak nan Indah.

Nikmat Seorang bapak paruh baya suatu saat bertutur, “Ya Allah, aku memohon izin kepada Engkau, hendak menggunakan akal-pikiran dan tubuhku hari ini untuk bekerja mencari nafkah yang halal demi memenuhi kebutuhan keluargaku.” Mungkin kedengarannya aneh. Namun, demikianlah kata-kata itu hampir setiap pagi ia lafalkan sebelum berangkat ke tempatnya bekerja. Ketika ia ditanya, sebegitu pentingkah memohon izin kepada Allah SWT untuk sekadar berangkat kerja? Ia menjawab, “Nak, kita sering mengklaim, harta kita milik Allah; istri dan anak-anak kita milik Allah; tubuh dan jiwa kita pun milik Allah; semua milik Allah. Jadi, apa salahnya kita memohon izin dan ridha Allah saat kita memanfaatkan semua itu? Toh, semuanya memang milik-Nya yang kebetulan Dia titipkan kepada kita,” jawabnya serius, tanpa sedikitpun menyiratkan kepura-puraan. “Ya, tapi bukankah Allah SWT memang telah menganugerahkan semua yang ada di dunia ini untuk kita, manusia?” kembali ia ditanya. “Betul, tidak salah. Tapi, itu bukan berarti tanpa syarat. Seperti seseorang yang meminjamkan kendaraannya kepada kita untuk berbelanja, misalnya, tentu tak pantas kendaraan itu kita pakai untuk merampok. Engkau mengerti, kan?” katanya balik bertanya. “Demikian pula dengan kita. Allah SWT menganugerahkan akal-pikiran dan tubuh kita untuk beribadah kepada Diri-Nya. Allah SWT menyediakan segala karunia-Nya di dunia ini, juga untuk bekal manusia mengabdi kepada Diri-Nya. Masalahnya, apakah semua yang Allah ‘pinjamkan’ kepada kita itu benar-benar telah dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya itu? Ataukah semua yang hakikatnya milik Allah itu malah kita gunakan untuk bermaksiat dan melanggar perintah-Nya? Sudahkah mata yang Allah titipkan kepada kita, misalnya, benar-benar hanya digunakan untuk melihat yang halal; atau seringnya malah digunakan untuk melihat hal-hal yang haram? Sudahkah lisan kita digunakan hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat serta mengandung hikmah dan nilai dakwah; atau seringnya malah untuk mengucapkan kata-kata yang sia-sia tak berguna?” ***** Di lain waktu, seorang kiai sepuh yang amat wara’ dan zuhud di suatu daerah terpencil pernah ditanya oleh seorang anak muda, mengapa ia tidak pernah berniat menambah koleksi pakaiannya yang hanya beberapa potong saja di rumahnya, tak lebih dari 3-5 potong pakaian saja? Sang kiai sepuh menjawab, “Nak, yang lima potong saja sebagiannya masih sering tergantung begitu saja, jarang dipakai. Saya sering khawatir seandainya nanti hal itu ditanyakan oleh Allah SWT di akhirat nanti. Saya khawatir ditanya, ‘Kamu telah Aku beri nikmat, mengapa tak kamu syukuri; mengapa kamu sia-siakan?’” Terkait kisah di atas, Allah SWT berfirman: Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang nikmat itu (TQS at-Takatsur [102]: 8). Ayat ini tentu sering kita baca atau kita dengar. Namun, entah mengapa, saat ayat itu dibacakan kembali oleh guru saya, Al-Mukarram KH Hafidz Abdurrahman, dalam suatu kesempatan halaqah, saya tersentak dan tersadar. Saat itu, beliau menceritakan, bahwa Baginda Rasulullah saw. itu sering dilanda rasa lapar karena seringnya beliau tidak mendapati makanan di rumahnya. Saat tak punya makanan di rumahnya, beliau pun berpuasa. Beliau tidak sedih atau galau karena ‘musibah’ rasa lapar itu. Lalu pada saat ada sahabat yang mengirim kurma kepada beliau, bukannya bergembira. beliau malah kelihatan sedih dan galau, seraya mengingatkan kembali ayat di atas. Begitulah sikap Rasulullah saw. saat mendapatkan nikmat. Mengapa? Karena terkait nikmat yang Allah berikan kepada manusia, sekecil apapun, akan dimintai pertanggung-jawaban. Nikmat yang dimaksud tentu saja adalah seluruh kelezatan dunia (Lihat: As-Suyuthi, Durr al-Mantsur, X/337). Sebaliknya, Allah SWT tidak akan meminta pertanggungjawaban atas musibah yang Dia timpakan kepada manusia. Karena itu, Baginda Rasulullah saw. tidak bersedih karena suatu musibah yang menimpa. Namun, kita memang jauh berbeda dengan Baginda Rasulullah saw. Kita sering amat sedih saat kenikmatan lepas dari diri kita dan terlalu bergembira saat kenikmatan itu menghampiri kita; lupa jika dengan kenikmatan itu kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. ***** Terkait dengan nikmat pula, kita tentu sering diingatkan dengan sebuah sabda Baginda Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan oleh Ibn Mas’ud ra., “Kaki anak Adam tidak akan bergeser di hadapan Rabb-nya pada Hari Kiamat nanti sebelum ditanya tentang lima perkara (yaitu): umurnya, bagaimana ia lalui; masa mudanya, bagaimana ia habiskan; hartanya darimana ia dapatkan dan bagaimana ia belanjakan; serta tentang apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang ia miliki.” (HR at-Tirmidzi). Dalam hadis lain penuturan Ibn Abbas disebutkan bahwa Baginda Rasulullah saw. pun pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu: nikmat sehat dan waktu luang.” (HR al-Bukhari). Padahal, terkait nikmat kesehatan dan waktu luang, kita pun akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban: sejauh mana kesehatan dan waktu luang itu kita manfaatkan; apakah untuk kebaikan atau keburukan; apakah untuk memperbanyak amal salih atau amal salah; apakah untuk memperbanyak amal dakwah atau melulu untuk urusan ma’isyah; dst. Bagaimana dengan nikmat harta? Terkait sedikitnya harta kita, ia tetap akan dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawaban: darimana dan untuk apa? Apalagi jika harta kita berlimpah-ruah, tentu akan lebih banyak lagi pertanyaan Allah SWT kepada kita pada Hari Akhir kelak. Itulah mengapa, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda tentang Abdurrahman bin Auf ra., seorang sahabat yang kaya-raya, “Nanti Abdurrahman bin Auf (karena hartanya yang banyak, pen.) akan masuk surga dalam keadaan merangkak.” Mendengar sabda Baginda Rasulullah saw. demikian, seketika Abdurrahman bin Auf ra. pun menyedekahkan seluruh hartanya (termasuk emas dan perak) yang diangkut dengan 700 ekor unta (berikut seluruh untanya itu). Padahal harta itu baru saja tiba di Madinah sebagai hasil berbulan-bulan ia berbisnis di luar Kota Madinah. Ia melakukan itu tidak lain karena sangat khawatir atas lamanya penghisaban Allah SWT atas dirinya di akhirat kelak karena hartanya yang melimpah itu. Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib. [Arief B. Iskandar]

Monday, August 27, 2012

Takwa dan Junnah

Takwa dan Junnah Alhamdulillah umat Islam di seluruh dunia telah meyelesaikan shaum Ramadhan. Tentu yang diharapkan dari shaum kita adalah ketakwaan (lihat: QS al-Baqarah [2]: 183). Taqwâ berasal dari kata waqâ yang berarti melindungi. Orang yang bertakwa berarti melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT dengan cara menjalankan setiap kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi setiap larangan-Nya. Takwa inilah yang menjadi ukuran apakah shaum kita berhasil atau tidak. Ketakwaan yang dituntut dari kita tentulah ketakwaan totalitas, berupa ketaatan pada seluruh hukum Allah SWT. Untuk itu kita mutlak membutuhkan institusi negara, yaitu Khilafah, untuk menerapkan seluruh syariah Islam. Beberapa hukum syariah Islam memang bisa kita laksanakan meskipun tanpa ada Khilafah seperti shalat, shaum, ibadah haji. Namun, hukum-hukum Allah yang lain terutama dalam aspek muamalah dan ‘uqubat (sanksi) tidak bisa dilakukan tanpa adanya negara Khilafah. Hukum yang berkaitan dengan sanksi seperti hukuman ta’zir bagi yang tidak melaksanakan shaum atau shalat, rajam sampai mati pagi pezina yang sudah menikah atau cambuk seratus kali bagi yang belum menikah, potong tangan bagi pencuri, ta’zir bagi koruptor, hukuman mati bagi pelaku pembunuhan tentu tidak bisa diwujudkan tanpa adanya Khilafah sebagai institusi negara. Demikian juga dengan aspek muamalah seperti penetapan dinar dan dirham sebagai mata uang negara, kebijakan tentang kepemilikan umum seperti barang tambang yang jumlahnya melimpah seperti minyak, gas, emas, batubara harus dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kepentingan rakyat, kebijakan ekonomi negara untuk menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat seperti sandang, pangan, dan papan. Demikian juga jaminan pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat, tentu membutuhkan negara Khilafah. Apalagi politik luar negeri untuk menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan melaksanakan futuhat (pembebasan) tentu membutuhkan negara. Karena itu, tidak sempurna ketakwaan kita hingga tegak Khilafah yang menerapkan seluruh syariah Islam. Ditegaskan oleh Ibnu Taimiyyah, “Wajib menjadikan kepemimpinan (Khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Taqarrub kepada Allah di dalam kepemimpinan itu, dengan menaati Allah dan Rosulnya termasuk dalam taqarrub yang paling utama. Selama bulan Ramadhan yang lalu, shaum kita adalah junnah (perisai) untuk menciptakan ketakwaan itu. “Puasa itu junnah (tameng atau perisai),” demikian sabda Rasulullah saw. Dengan shaum, syahwat kita dilemahkan karena tubuh kita juga dilemahkan. Syahwat yang dilemahkan ini akan menghindarkan kita dari berbuat maksiat. Pada bulan Ramadhan kita terkondisikan untuk jauh dari maksiat karena khawatir pahala shaum kita akan berkurang dan sia-sia. Ramadhan juga bulan taqarrub ila Allah karena kita terdorong untuk banyak melakukan kewajiban dan amalan-amalan sunnah yang diperintahkan Allah SWT kepada kita. Namun, ada satu lagi junnah (perisai) yang mutlak kita butuhkan, yaitu Khalifah. “Seorang imam (khalifah) adalah junnah (tameng atau perisai), di belakangnya umat berperang, dan kepada dirinya umat berlindung.” (HR Muslim). Dengan adanya Khalifah yang menerapkan seluruh hukum syariah maka negara akan menjaga umatnya dari perbuatan maksiat. Negara tidak akan membiarkan perkara-perkara yang menyebabkan kemaksiatan berkembang seperti pornografi, hiburan yang mengumbar syahwat, dll. Semua akan dilarang dan diberangus oleh negara. Sebaliknya, negara menciptakan berbagai sarana yang akan lebih mendekatkan diri seorang Muslim kepada Allah SWT. Negara mempermudah untuk melaksanakan shalat berjamaah, melaksanakan ibadah haji dan menuntut ilmu. Membangun ketakwaan itu juga dilakukan dengan memberikan sanksi bagi pelaku kemaksiatan sehingga kemaksiatan tidak berkembang dan meluas. Khilafah juga sebagai pelindung umat dari kejahatan orang, kelompok atau negara lain yang menyakiti dan menindas umat. Khilafah tidak akan membiarkan ada warga negaranya baik Muslim maupun non-Muslim disakiti apalagi dibunuh. Khilafah juga akan menggerakkan tentara-tentaranya untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang dijajah. Khilafah tidak akan membiarkan darah kaum Muslim tertumpah oleh musuh-musuh Allah SWT. Khilafah tidak akan membiarkan agama Islam yang mulia ini dihina dan dinodai, tidak akan membiarkan Rasulullah saw. dihina, tidak akan membiarkan syariah Islam dirusak dan dinodai. Khilafah akan menjadi pelindung umat dan Islam. Rasulullah saw. pernah mengusir Yahudi Bani Qainuqa’ dari Kota Madinah setelah sebelumnya mengepung mereka. Hal ini terjadi karena pembunuhan yang mereka lakukan terhadap seorang Muslim yang dikeroyok di pasar Madinah karena membela kehormatan seorang Muslimah. Rasulullah saw. pun memerangi Yahudi Bani Quraizhah karena telah berkhianat dalam Perang Ahzab. Selama 25 hari berturut-turut pasukan Islam yang dipimpin Imam Ali ra. mengepung pemukiman Yahudi itu. Musuh-musuh yang memerangi umat Islam itu pun dihukum mati. Inilah sikap tegas dan berwibawa dari seorang kepala negara yang menjadi pelindung (junnah) bagi rakyatnya. Hal yang sama dilakukan Khalifah Al-Mu’tashim ketika mendengar jeritan seorang Muslimah di Ammuriyah yang dinodai oleh pasukan Romawi. Khalifah kemudian memimpin pasukannya dengan 4000 balaq (kuda) untuk membebaskan wanita yang merupakan keturunan Rasulullah saw. itu sekaligus menaklukkan Ammuriyah. Ketika Khilafah berdiri dalam waktu dekat ini (insya Allah), Khalifah akan melakukan hal yang sama: membebaskan tanah kaum Muslim yang dirampas dan dijajah oleh rezim Budha Myanmar, Zionis Israel, Filipina, Thailand dan komunis Cina; menghentikan dengan nyata penderitaan umat Islam Rohingya, Turkistan Timur (Xianjiang), Palestina dan Afganistan yang ditindas oleh musuh-musuh Allah SWT. Tidak ada lagi nasionalisme yang menghalangi dan melumpuhkan tentara dan umat Islam untuk membebaskan saudaranya yang di depan mata dibunuh. Tidak ada lagi para penguasa sekular yang pengecut dan berkerja untuk melayani tuan-tuan mereka dari negara-negara imperialis. Yang ada adalah perintah Allah SWT untuk berjihad fi sablillah dengan dipimpin oleh Khalifah atau panglima perang yang ditunjuk untuk membebaskan umat Islam yang ditindas. Untuk itu, kewajiban kita semualah untuk berjuang dengan ikhlas, kerja keras, dan istiqamah untuk menegakkan kembali Khilafah; mewujudkan kembali junnah (perisai) yang melindungi umat. Allahu Akbar! [Farid Wadjdi]

Wednesday, August 22, 2012

Ramadhankan 11 bulan yang lainnya.

Ramadhan telah Usai,
Lanjutkan dan beristiqomahlah dalam beribadah “Sesungguhnya yang paling menentukan dalam kesuksesan hidup seseorang adalah seberapa besar manusia mengontrol dirinya, bukan seberapa pandai dia.” Sobat, Ramadhan telah usai bukan berarti kita kembali ke kebiasaan kita sebelum ramadhan,tetapi mari kita jadikan 11 bulan yang lain seperti kita melakukan ibadah di bulan suci ramadhan. Ukuran keberhasilan kita di bulan suci ramadhan bukanlah saat ramadhan, melainkan apakah setelah ramadhan terjadi perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan semakin dekat kepada Allah SWT? Inilah perjuangan kita selanjutnya di 11 bulan yang lainnya sebagai persiapan kita ketika menghadap ke haribaan Allah SWT. Sobat, Puasa mengajarkan kita untuk disiplin dan jujur serta melatih secara bijak untuk mengontrol diri ini untuk senantiasa berada di jalan-Nya. Bukankah Sesungguhnya yang paling menentukan dalam kesuksesan hidup seseorang adalah seberapa besar manusia mengontrol dirinya, bukan seberapa pandai dia. Mudah-mudahan kita mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita di bulan suci Ramadhan serta mampu menjaga dan beristiqomah dalam beribadah di 11 bulan yang lain. Aamiin. Sobat, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk berusaha menggapai kelezatan dalam beribadah. Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Bilal,” Bangkitlah Wahai Bilal dan tenangkanlah kami dengan Sholat,” karena beliau merasakan kelezatan dan kebahagiaan hati di dalamnya, dan Nabi memanjangkan sholat malam sebagai bukti atas ketenangan dan kebahagiaan yang dirasakan dalam bermunajat kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman : “ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (QS. Al-Baqarah :45) Sobat, bagaimana caranya agar meraih kenikmatan dalam beribadah? Dalam artikel singkat ini kita akan membahasnya, diantaranya sebagai berikut: 1. Berusaha terus mengajak diri kita untuk selalu taat kepada Allah SWT sehingga kita terbiasa dan senang dengannya. Terkadang jiwa ini menjauh pada permulaan langkah mengawali amal namun jika kita tetap istiqomah/konsisten dalam beramal, dan kita memiliki keinginan dan tekad yang kuat. Kita akan mendapatkannya dengan izin Allah SWT. Jadi hal ini menuntut kesabaran dan ketahanan dalam menanggung beban. Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran :200) Ibnu Rajab berkata, “Ketahuilah bahwa jiwamu itu bagaikan tungganganmu, jika ia mengetahui bahwa engkau sedang bersemangat ia pun akan bersemangat, dan jika ia mengetahui bahwa engakau sedang malas, ia akan menuntut darimu dan meminta bagiannya dalam memenuhi syahwat.” Dinukil dari kitab Ladzatul Ibadah hal. 12. 2. Menjauhi dosa-dosa, baik yang kecil maupun yang besar.Sesungguhnya kemaksiatan adalah dinding yang menghalangi seseorang dari merasakan kelezatan beribadah, karena maksiat tersebut melahirkan kekerasan hati, kekasaran dan kegersangan jiwa. Ibnu qoyyim berkata, “Setiap kali dosa-dosa bertambah banyak kegelisahan akan meningkat, dan kehidupan yang paling pahit adalah kehidupan orang yang dihantui rasa gelisah dan takut, sedangkan hidup yang paling indah adalah kehidupan orang yang tenang, seandainya orang yang berakal melihat dan membandingkan kelezatan bermaksiat dan apa-apa yang diakibatkannya dari rasa takut dan gelisah, dia akan menyadari buruknya keadaannya dan besar ketertipuannya, di mana ia menjual ketenangan ketaatan dan kenyamanan serta kemanisannya dengan kegelisahan maksiat dan apa-apa yang dilahirkannya dari rasa takut dan bahaya yang diakibatkannya.” 3. Meninggalkan makanan, minuman dan pembicaraan serta pandangan yang berlebihan, cukup bagi seorang mslim untuk memakan dan meminum yang bisa membantunya menunaikan ibadah dan amalnya, janganlah ia berlebihan dalamnya. Allah SWT berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[1], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[2]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. [1] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain. [2] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. Seorang ulama salaf berkata, ketenangan hati terletak pada sedikitnya dosa, dan ketenangan perut pada sedikitnya makanan dan ketenangan lisan pada sedikitnya berbicara. 4. Hendaklah seorang hamba meresapi bahwa ibadah yang dilakukan ini, baik sholat,zakat,puasa, haji atau apa pun selama mengikatkan diri pada hukum syara’ adalah merupakan wujud ketaatan kepada Allah SWT dan guna mengharap keridhoan-Nya, dan bahwa ibadah ini yang disukai oleh Allah SWT dan diridhoi-Nya dan ibadah inilah yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah. 5. Hendaklah seorang hamba menyadari bahwa semua ibadah yang dilakukannya tidak sia-sia dan tidak menghilang seperti sebagaimana punahnya harta duniawi, baik berupa harta atau jabatan serta kelezatannya, bahkan seorang hamba akan merasakan bahwa itulah yang paling dibutuhkannya, bahkan juga dia akan mendapatkan buahnya di dunia selain dari apa yang ditabung untuknya oleh Allah SWT di akherat berupa ganjaran yang lebih mulia dan lebih besar. Barangsiapa yang menyadarinya niscaya dia tidak akan menghiraukan apa yang tidak dapat diraihnya dari dunia, dan akan merasa senang dengan ibadah-ibadah yang ia rasakan manis dan kelezatannya tersebut. Subhaanallah! “ Orang yang akan merasakan lezatnya keimanan adalah orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagaiRasul-Nya.” ( HR Muslim) Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon maaf atas segala khilaf. Semoga iman dan takwa kita meningkat.Prestasi dan rezeki terangkat.Hidup kita semakin nikmat dan terhormat. Keluarga kita ikatannya semakin kuat dan erat dan hubungan kita dengan Allah semakin dekat dan semakin taat. Salam dahsyat dan luar biasa! Allahu Akbar (Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si, penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah kekuatan spirit tanpa batas dan buku Menjadi Dai yang dicinta. www.faqihsyarif.com )

Thursday, August 9, 2012

Mengasah jiwa kepemimpinan Ala Rasulullah SAW

Mengasah jiwa kepemimpinan Ala Rasulullah SAW Sobat, kalau kita ingin menjadi pemimpin sejati,pengusaha sukses, entrepreneurship yang handal, sekaligus sukses dunia akherat, contohlah pribadi yang ada dalam diri Nabi Muhammad SAW. (N.Faqih Syarif H) Sobat pada pertemuan ke-tiga Thank God It’s Ramadhan SMART 88.9 FM di Mercure Grand Mirama Surabaya kemarin sebagai bintang tamunya adalah Gus Ipul wakil gubernur Jawa Timur, kita kembali membahas dan menggali kepemimpinan dan spiritualitas para CEO,pimpinan perusahaan dan Instansi. Ada inspirasi yang menarik yang disampaikan oleh Gus Ipul tentang bagaimana dia memimpin selama ini baik sebagai ketua GP Anshar dulu, Menteri Negara Percepatan Daerah Tertinggal atau sekarang sebagai salah satu ketua PBNU dan wakil gubernur jawa timur. “ Segalanya adalah amanah yang harus dilakukan dengan totalitas dan penuh semangat serta berusaha menjadikan diri bermanfaat bagi sesama sebagai bekal menghadap keharibaan Allah SWT.” Jawab Gus Ipul dengan gayanya yang santai dan bersahaja. Gus ipul juga mengingatkan bahwa menjadi seorang pemimpin bukanlah sesederhana pegang komando, lantas asal beri perintah. Ganti sana, ganti sini. Perintah inilah, perintah itulah. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits mengingatkan kepada kita semua, “ Kamu semua adalah seorang pemimpin dan masing-masing kamu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT atas apa yang kamu pimpin.” Sobat, seorang pemimpin haruslah cerdas (fathonah), karena seluruh pernyataannya berimplikasi pada kehidupan orang banyak. Sekali saja ia salah melangkah, cost-nya akan sangat besar dan dampaknya bisa berimplikasi kepada yang dipimpinnya. Maka selain cerdas, seorang pemimpin harus mampu memahami situasi dan kondisi yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus berada di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya kongkow-kongkow di gedung mewah ber AC. Seorang pemimpin juga harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan ini tentunya perlu dilatih jauh hari. Sobat, Rasulullah SAW pemimpin yang paling agung,juga ternyata telah melatih sens of lesdership-nya sejak ia masih kecil. Sewaktu kecil, beliau telah menjadi penggembala kambing/domba yang setiap harinya mengatur ratusan kambing. Ia tahu betul mana kambing yang sedang sakit, mana kambing yang nakal dan mana kambing yang sedang birahi. Muhahammad juga tahu bagaimana seharusnya ia bersikap dengan kambing-kambingnya itu. Kapan ia harus menggiring ke padang rerumputan dan kapan ia harus membawanya pulang. Sebagai seorang penggembala, Muhammad kecil dilatih bersikap sabar, teliti, untuk mencurahkan perhatiannya secara ekstra untuk mengawasi kambing-kambingnya itu. Karena sekali ia lengah, maka sekawanan serigala siap memangsa hewan ternaknya itu. Sobat, dengan menjadi seorang penggembala karakter kepemimpinannya menjadi terasah dan terlatih. Kepekaan terhadap umatnya, siapapun tak bisa meragukannya. Beliau juga menjalani sebagai manusia biasa. Apa yang dimilikinya tidak serta merta turun dari langit, tapi lebih dari itu, melalui proses pembelajaran yang panjang. Beliau pernah bersabda, “ Nabi-nabi yang diutus Allah itu adalah penggembala kambing. Musa diutus,ia penggembala kambing. Daud diutus, ia penggembala kambing. Aku diutus juga adalah penggembala kambing keluargaku di Ajyad,” Sobat, menjadi pemimpin sejati dibutuhkan keuletan dan kerja keras. Thomas Alva Edison mengukapkan kata-kata yang luar biasa, gagasan(inspirasi) hanya menyumbang 1 % sedangkan yang 99 % adalah kerja keras untuk mewujudakannya (Perspirasi). Kata-kata ini patut juga kita renungkan bersama. Untuk menjadi pemimpin, keuletan dan bekerja keras menjadi salah satu factor penentu yang menyumbang kesuksesan. Jangan berharap, ketika kita bermalas-malasan, akan bisa menjadi pemimpin yang sukses. Hal di atas sangat layak kita terapkan dalam membangun jiwa-jiwa entrepreneurship. Selain tertanamnya jiwa kewirausahaan dari diri, yang terpenting juga adalah aspek eksternal untuk menjadi entrepreneurship. Semuanya menjadi factor pendukung yang komprehensip untuk dapat mengembangkan mental wirausahawan. Selain harus kreatif, inovatif,pekerja keras,tegar, dan ulet. Ada lagi beberapa hal yang bisa menjadi stimulan untuk mengasah mental entrepreneurship. 1. Pekerja keras. Rasulullah SAW ketika tidur, matanya terpejam, dan berada di tempat tidur, hatinya senantiasa terbuka, merasa dan berkontemplasi. Pikirannya selalu bekerja, berpikir, mengevaluasi dan merancang masa depan umatnya. Di dalam “kamus dir” beliau senantiasa menjadikan malam dan siang, sebagai waktu yang tak ada batasnya dalam memikirkan umatnya. Inilah teladan yang harus diambil bagi siapa saja yang menginginkan menjadi pemimpin atau entrepreneur sejati. 2. Pola pikir multi tasking dalam arti positif. Seorang pemimpin atau wirausahawan sejati mampu melihat sesuatu dalam perspektif atau dimensi yang berlainan pada satu waktu.Bahkan ia juga mampu melakukan beberapa hal sekaligus.Kemampuan inilah yang membuatnya piawai dalam menangani persoalan yang dihadapi oleh intitusi atau perusahaan yang mereka pimpin. 3. Mampu menahan nafsu untuk cepat menjadi kaya. Wirausahawan yang bijak biasanya hemat dan sangat berhati-hati dalam menggunakan uangnya. Dia mengerti juga bahwa membangun sebuah perusahaan yang kokoh dan mapan memerlukan waktu bertahun-tahun. Dia mampu menahan nafsu konsumtifnya.Baginya pengeluaran yang tidak menghasilkan akan dianggap sebagai sebuah kemewahan. 4. Berani mengambil resiko. Semakin resiko yang diambilnya, semakin besar pula kesempatan untuk meraih keuntungan karena jumlah pemain semakin sedikit. Tentunya, resiko-resiko ini sudah harus diperhitungkan terlebih dahulu. 5. Dan masih banyak lagi faktor yang belum terungkap pada tulisan ini bisa Anda lengkapi bacaan Anda dengan membaca artikel-artikel saya sebelumnya di www.faqihsyarif.com Sebagai penutup sobat, , kalau kita ingin menjadi pemimpin sejati,pengusaha sukses, entrepreneurship yang handal, sekaligus sukses dunia akherat, contohlah pribadi yang ada dalam diri Nabi Muhammad SAW. Berani mencoba! Sukses dunia dan akherat bakalan Anda raih. Salam Dahsyat dan luar biasa! ( Spiritual Motivator N.Faqih Syarif H, S.Sos.I,M.Si, Penulis buku Al quwwah ar ruhiyah kekuatan spirit tanpa batas dan buku Menjadi Dai yang Dicinta email mumtaz.oke@gmail.com )

Sunday, August 5, 2012

Belajar Bisnis dari Rasulullah SAW

Belajar bisnis dari Rasulullah SAW Sobat, sebagai figur teladan , sosok Rasulullah Muhammad SAW memiliki potensi yang luar biasa. Tidak heran bila seorang orientalis barat, Michael H.Hart, di dalam bukunya yang sangat terkenal The 100 Ranking of most influential person in History meletakkan Muhammad SAW pada nomer satu sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia. Hal ini tidak terlepas dari kegemilangannya memimpin penyebarana agama Islam. Sobat, keyakinan tentang potensi merupakan langkah awal menjadi pebisnis sukses.Setiap manusia yang lahir ke muka bumi memiliki potensi yang luar biasa. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin (95) :4) Tidak ada lagi alasan untuk tidak merasa bangga dengan segala karunia Allah SWT. Ayat ini telah membuktikan cara Allah memuliakan manusia. Seorang muslim yang tidak yakin pada potensi dirinya sama saja menafikan potensi yang ada pada diri Rasulullah SAW. Keyakinan akan potensi dirinya yang luar biasa dan membangun potensinya dengan baik akan menjadikan dia menjadi orang yang luar biasa. Lihat saja kemampuan Umar bin Khattab yang menguasai Byzantium (Romawi timur) dan Persia, Iran dan Irak, atau perhatikan kemampuan Sultan Muhammad Al-Fatih dalam menguasai kota konstantinopel (Istanbul,Turki) yang saat itu dianggap Negara paling kuat. Wright bersaudara yang berhasil menerbangkan pesawat dan masih banyak lagi individu-individu yang berhasil membangun potensi mereka. Sobat, kalau kita mau mengambil teladan pada diri Rasulullah SAW setidaknya ada 4 sifat Nabi yang harus ada dalam diri seorang pengusaha : 1. Shiddiq ( Jujur ) Jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Sifat jujur akan melahirkan sifat keyakinan dan keberanian untuk menghadapi ujian apapun bentuknya. 2. Amanah (amanah) sifat amanah mendorong seseorang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungannya. Keberadaan sifat ini akan membangun kekuatan diri dan memperbaiki kualitas hubungan sosial. 3. Tabligh (komunikatif) Seorang pebisnis harus menjadi marketing yang hebat, juga harus menjadi seorang pembicara yang unggul. 4. Fathonah ( Cerdas ) Seorang pebisnis harus memiliki kemampuan melihat sesuatu dari pandang yang berbeda. Lalu muncul kreativitas, ide dan wawasan. Pada akhirnya, produk atau jasa yang dikeluarkan pun akan menjadi produk unggulan. Karena produk yang dihasilkan unggulan, pelanggan pun senang dan menaruh kepercayaan (trust). Sobat, sekarang bagaimana mewujudkan karakter bisnis sejak kecil? Berikut ini ada 7 kegiatan sehari-hari yang sangat membantu membangun karakter pebisnis cilik. 1. Rajin membaca surat Yusuf saat anak berada dalam kandungan agar anak dalam kandungan memiliki semangat berdiri-sendiri, wajah yang elok, dan budi pekerti luhur laksana Nabi Yusuf. 2. Saat anak berusia tujuh tahun, segera ajarkan untuk mendirikan sholat agar mereka taat kepada Allah SWT. 3. Ajari anak menghargai rezeki saat makan. Caranya dengan membaca do’a agar mereka tergolong dalam golongan orang yang bersyukur. 4. Didik dengan disiplin yang tinggi untuk tujuan pendidikan dan masa depan sehingga mereka tidak lengah di kemudian hari. 5. Didik seputar pengelolaan uang saku agar bijak saat berbelanja dan tidak boros. 6. Ceritakan kepada mereka bentuk pekerjaan dan bisnis yang dapat dilakukan diri sendiri hingga timbul minat dalam diri mereka. 7. Buatlah mereka sering bercerita tentang apa saja yang ingin dilakukan di masa depan. Jika perlu, beri mereka hadiah sesuai dengan yang mereka cita-citakan kelak di masa depan, misalnya permainan alat kedokteran jika Si anak bercita-cita menjadi seorang dokter atau pemilik rumah sakit. Sobat, Kalau kita mempelajari sirah Rasul akan dapat mengambil hikmah beberapa karakter yang dibutuhkan oleh pebisnis yang sukses. Pada usia 8 tahun beliau sudah ditinggal mati oleh kedua orang tua juga kakeknya yang selama ini merawat beliau. Kemudian Dia tinggal bersama pamannya, Abu Thalib yang mengajari beliau hidup sederhana. Bahkan Rasul belajar hidup mandiri dengan dengan menggembala kambing di padang pasir. Sebuah hadits menyatakan : “Tidak ada nabi, melainkan semuanya pernah menggembalakan kambing.” Diantara nabi yang diceritakan pernah menggembala kambing adalah Nabi Adam,Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Luth dan Nabi Ismail. Menggembala kambing tidak semudah yang dibayangkan orang. Jangan sekali pun memandang remeh atau rendah pekerjaan ini. Kambing memiliki sifat berbau apek, kotor dan tidak gampang mengikuti perintah sekalipun dipukul dengan keras. Oleh karena itulah, seorang pebisnis bisa mengambil pelajaran di balik pekerjaan menggembala kambing. Ada lima prinsip yang dapat kita ambil dari hikmah pengembalaan kambing para Nabi termasuk baginda Rasulullah SAW: • Kesabaran (self-control), agresif, dan membina jiwa yang kokoh dalam bahasa sekarang adalah SQ (Spiritual Quotient). • Kerja keras dan disiplin. • Ketepatan manejemen waktu dalam kehidupan sehari-hari. • Keakuratan dan pengelolaan sumber daya. • Kebesaran Allah yaitu dengan selalu mengingat ciptaan-ciptaan Allah serta hikmah dibalik ciptaan-Nya. ( Spiritual Motivator - N.Faqih Syarif H )

Mengapa Harus Bisnis Islami ?

Mengapa harus bisnis islami? “Aku tidak memasukkan secuil pun makanan ke dalam mulutku, kecuali aku tahu dari mana makanan itu berasal dan darimana ia keluar.” Itulah kalimat dahsyat yang keluar dari sahabat nabi,panglima Islam yang tangguh di medan perang yang doanya terkenal mustajabah. Dia adalah Sa’ad bin Abi Waqqas. Sobat,jelas sekali perkataan beliau, ia tidak makan apa pun selain tahu benar kualitas kehalalannya.Dari mana makanan itu diperleh, atau dari mana makanan itu dihasilkan dan bagaimana pula membelanjakan.Kata “berasal” dan “keluar” dalam kalimat di atas menunjukkan sebuah pelajaran ketelitian, keterusterangan, transparency, kejujuran dan kredibilitas tingkat tinggi. Kalau itu dibahasakan modern sekarang, “Aku tidak akan memakan harta secuil pun, sebelum harta itu diaudit keabsahannya. Apakah ia terindikasi korupsi ataukah tidak.” Ya , ‘diaudit’ itulah kata kuncinya untuk menguji kualitas sebuah rezeki. Teridentifikasi tidaknya kehalalan sebuah rezeki pastilah setelah diaudit oleh lembaga yang kredibel. Itulah pelajaran yang bisa kita ambil dari perkataan Sa’ad bin Abi Waqas. Sobat, tidak diragukan lagi, salah satu kewjiban seorang muslim yaitu mencari nafkah yang suci dan halal untuk diri, keluarga dan umatnya. Rasulullah Saw pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “ Duhai umatku! Allah itu maha suci ( At-tayyib) dan Dia tidak menerima kecuali hanya yang suci! Allah telah menyuruh orang-orang beriman agar mengerjakan apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul-Nya.Dia berfirman,’Wahai orang-orang yang beriman! Dia juga berfirman,’wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari makanan yang halal lagi suci yang telah kami berikan.” Sobat, dahsyat dan luar biasa pesan Rasul waktu itu. Beliau berfatwa saat kondisi perniagaan dan transaksi perekonomian sedang dikepung ketidakjujuran, penipuan gampang sekali dilakukan. Ibarat kata sekarang, sulit sekali pokoknya menjemput rezeki yang halal. Orang bilang,”mencari yang haram saja susah,apalagi mencari yang halal.” Luar biasa godaan mencari harta yang halal saat itu. Pesan dahsyat Rasul itu begitu diresapi dan dipahami oleh para sahabat sehingga menelorkan seorang sahabat yang sekualitas Sa’ad bin Abi Waqqas. Meski susah mencari harta yang halal, ia tidak gentar kelaparan.Baginya, lebih baik mati berkalang tanah daripada memakan rezeki yang tidak berkah, rezeki yang tidak halal atau rezeki yang haram. Waspadalah sobat! Sesungguhnya memakan harta yang haram itu mengakibatkan doa,permohonan, atau permintaan kita tidak dikabulkan oleh Allah SWt. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi,Imam Muslim dan Imam Ahmad dikatakan : Suatu hari, Rasulullah menyebut tentang seorang musafir yang pakaiannya kumal, compang-camping dan berdebu.Musafir itu berdoa pada Allah.Ia menegadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, “ Duhai Allah, Tuhanku! Wahai Engkau Yang Maha Pemberi Rezeki…….” Lanjut Rasulullah, musafir itu berdoa sdangkan makanannya haram, minumnya haram, pakaiannya haram dan ia makan dari nafkah yang haram; bagaimana doanya bisa dikabulkan? Sobat, kita semua, bahkan para nabi sekalipun, diperintahkan menjemput rezeki yang halalan tayyibah(halal lagi baik/suci). Sementara halal lagi baik/suci bisa diperoleh dengan cara yang baik/suci dan membelanjakannya pun dengan baik/suci. Jadi, jika kita membeli makanan yang baik tetapi dengan uang hasil curian, maka makanan itu tidak halal hukumnya. Begitu pula sebaliknya, jika kita mencari uang dengan cara yang baik, tapi kemudian membelanjakannya untuk mengonsumsi barang haram, maka hal ini juga termasuk jenis yang haram. Gamblangnya, mangga itu halal hukumnya, tapi karena kita memakannya dari hasil mencuri, maka mangga itu termasuk makanan yang haram. Itu contoh yang pertama. Contoh yang kedua, duit kita itu benar-benar halal.Bukan dari mencuri tapi dari hasil mengajar matematika, kemudian duit itu kita gunakan untuk membeli sate babi atau minuman keras, maka itu juga termasuk makanan haram.karena makanan yang kita beli itu haram hukumnya. Alhasil sobat, jika kedua syarat tersebut telah kita penuhi ( cara memperoleh dan membelanjakan harta), kita berhak memperoleh reward berupa keridhoan Allah dan doa kita pasti terkabulkan. Rasulullah jaminannya. Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan : “Barangsiapa bersedekah satu biji kurma dan hartanya yang suci,niscaya Allah akan menerimanya dengan tangan kanan, dan Dia akan memberi makan keluarganya karena sedekahnya itu, seperti kalian memberi makan kuda kalian sehingga ia menjadi seperti gunung.” Jadi, sedekah yang diberikan dari harta yang tidak suci, tidak akan diterima oleh Allah walau sebanyak apapun. Sedangkan sedekah yang diberikan dari penghasilan yang suci, akan diterima Allah walaupun Cuma sebesar biji kurma. Sobat, semua hal di atas menunjukkan kepada kita bahwa mencari nafkah yang halal dan membelanjakannya ke jalan-jalan yang halal merupakan kewajiban kita umat islam. Ya wajib hukumnya,mencari dan membelanjakan harta yang halal. Tidak hanya itu Rasulullah dengan sendirinya juga mewajibkan kita untuk bekerja. Mencari makan sendiri. Mencari nafkah sendiri. Tidak menjadi parasit bagi orang lain. Tidak menggantungkan nasib pada orang lain. Jangan mengemis dan meminta-minta. Bekerjalah sekeras-kerasnya, secerdas-cerdasnya, sebaik-baiknya, sesuci-sucinya dan sehalal-halalnya! Itulah spirit utama yang hendak dikatakan Rasulullah SAW. Dan hanya kita yang mau berpikir, bertakwa, dan beramallah yang bisa menangkap spirit yang mulia ini. Subhaanallah! Salam Dahsyat dan luar biasa! ( Spiritual motivator - N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si,)

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co