Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, March 28, 2012

Khilafah di benci Tapi dirindukan

KHILAFAH : BENCI TAPI RINDU

Sebagai sebuah istilah dan gagasan, ‘khilafah’ telah menjadi magnet yang kuat, telah mampu menyedot perhatian semua kalangan seperti media (lokal maupun global), ulama-akademisi, politisi (muslim maupun non muslim) dan lain-lain. Jika hanya sebuah kata yang kosong makna tentu tidak bisa memantik respon luas. Tak kurang orang seperti Tony Blair, George Bush Jr, NIC (National Intelligence Council sebuah lembaga studi di bawah CIA Amerika Serikat yang beranggotakan peneliti lintas Negara dengan makalah ‘Global Mapping 2020’), termasuk Mabes TNI (2010).

Opini khilafah yang semakin hari semakin menguat telah mendapatkan respon yang luas. Respon dan tanggapan terhadapnya ada akalanya karena ketidaktahuan atau kekurangan informasi sehingga menimbulkan sikap alergi, fobia atau sinis. Dan ada kalanya disebabkan rasa cemburu, hasud, paranoid atau kebencian, seperti yang ditunjukkan oleh kebanyakan orang orientalis atau tokoh-tokoh politik Barat. Dan karena opini khilafah yang secara konsisten terus digelorakan oleh Hizbut Tahrir, maka siapapun pihak yang ingin mendapatkan informasi komprehensif tentang khilafah bisa langsung konfirmasi, cross check atau tabayun kepada Hizbut Tahrir.

Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa gagasan khilafah dalam 5 tahun terakhir semakin memudar. Fakta yang terjadi justru sebaliknya. Baik di level nasional, maupun global. Konferensi Khilafah Internasional tahun 2007 di Stadion Gelora Bung Karno yang dihadiri Prof Dr Din Syamsuddin bersama 100 ribu lebih peserta adalah merupakan awal. Selanjutnya dapat terselenggara event-event kolosal seperti Muktamar Ulama Nasional 2009 di Jakarta, Muktamar Mubalighoh 2010, Konferensi Rajab 2011 di 29 kota seluruh Indonesia dan Moslem Entrepreneur Forum pada Januari 2012 adalah bukti bahwa gagasan khilafah semakin dapat diterima berbagai segmen masyarakat. Secara global, lebih dahsyat lagi dengan terjadinya Arab Springs (‘musim semi’ kebangkitan Islam politik di Timur Tengah dan Afrika Utara). Di tengah-tengah rontoknya rezim tiran-korup di Tunisia, Mesir dan Yaman, gaung seruan khilafah semakin membahana.

Sangat tidak tepat pula jika dikatakan bahwa gagasan khilafah ini hanya sekedar retorika politik yang tidak bertanggung jawab dan sembrono. Puluhan buku referensi sudah diterbitkan secara terbuka. Sampai saat ini buku-buku itu terus dikaji dan diinduksikan kepada umat umat siang malam tanpa lelah. Buku-buku tersebut digali dari Al Quran, Al Hadits dan ijma’ shahabat dengan diperkaya kitab-kitab mu’tabar ulama-ulama salaf, sehingga buku rujukan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’iy. Jadi, sumber referensinya hanya dari Islam saja. Di antara buku-buku referensi tersebut antara lain Nidzomul Islam (deskripsi global sistem Islam), Nidzomul Iqtishody fil Islam (sistem ekonomi), Ajhizah Daulah Khilafah (struktur khilafah), Nidzomul Ijtima’iy fil Islam (sistem pergaulan pria dan wanita), Nidzomul uqubat fil Islam (sistem peradilan dalam islam), Al Amwal fid Daulah Khilafah (sistem keuangan dalam Islam), Takattulul Hizby (proses pembentukan partai politik islami) dan lain-lain.

SUBSTANSI ATAU KAFFAH ?

Islam adalah sempurna (Al Maidah 3). Kesempurnaan Islam tentu meliputi semua aspek kehidupan, sehingga tidak ada yang tidak diatur dalam Islam. Hal-hal kecil saja diatur dalam Islam apalagi hal besar dan mendasar seperti Negara. Termasuk hal-hal baru sekalipun, Islam memiliki kemampuan untuk memberikan solusi, dalam hal ini diperlukan peran strategis seorang mujtahid. Sehingga jika ada yang menolak sistem masyarakat dan sistem kenegaraan Islam, dapat diartikan dia tidak mengakui kesempurnaan Islam. Keyakinan terhadap kesempurnaan Islam merupakan bagian keyakinan/aqidah Islamiyah kita.

Dikotomi Islam substantif dengan Islam formalistik merupakan jebakan. Islam substantif seolah-olah lebih bijak, padahal dapat diartikan sebagai mentalitas inferior yang apologis terhadap gempuran pemikiran orientalis yang stigmatif terhadap Islam. Sebaliknya, Islam formalistik didiskreditkan seolah sebagai sebuah monster yang harus dijauhi dan ditinggalkan. Bentuk Negara, bentuk perusahaan, bentuk produk-produk barang komersial, bentuk baju (fashion), bentuk kemasan dan lain-lain adalah merupakan keniscayaan dalam kehidupan. Jika dikaitkan dengan kesempurnaan Islam, maka substansi dan bentuk formal keduanya penting dan tidak dapat dipisahkan. Kita diseru untuk masuk Islam secara kaffah. Sehingga jika ada yang lebih menekankan bentuk formal saja tanpa substansi juga tidak tepat.

Metafora garam dan gincu yang klise menjadi tidak relevan jika dijadikan parameter untuk menolak bentuk Negara khilafah. Mengapa kita tidak melakukan kajian yang jujur, obyektif dan serius terhadap khazanah intelektual Islam daripada melatahkan ungkapan minor yang disuarakan para orientalis untuk membonsai dan mengkerdilkan pemikiran Islam yang agung dan cemerlang.

Pemahaman sufistik memiliki andil dalam dikotomi substansi atau bentuk /formal. Seolah-olah jika sudah menggapai ‘maqom’ tertentu maka tidak diperlukan lagi ‘ syariah’ (baca bentuk/formal) karena cukup dengan ‘ma’rifat’ (baca substansi). Bahwasanya ukuran ‘ma’rifat’ yang tidak jelas justru mengaburkan syariah yang sudah baku dan ‘qoth’iy’. Bagaimana mungkin meninggalkan sholat, pernikahan, akad muamalah dan lain-lain (termasuk kategori bentuk /formal) hanya dengan substansi pada niat dan ‘eling’ saja ?

PERJUANGAN BELUM SELESAI

Islam adalah gagasan (aqidah) dan implementasi-penerapan-pengamalan (syariah). Khilafah juga sebagai gagasan sekaligus upaya perjuangan untuk diterapkan dalam kehidupan praktis. Jika secara gagasan, khilafah sudah bisa difahami dan bisa diterima, belum tentu dalam tataran implementasi dapat disetujui dan didukung. Merealisasikan sebuah ide, gagasan, desain atau cita-cita bukanlah pekerjaan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi jika gagasan itu besar dan kompleks, seperti ‘khilafah’. Kesulitan mengejawantahkan suatu gagasan sebanding dengan besar dan kompleksnya gagasan tersebut. Hal tersebut memerlukan sebuah metode untuk menerapkan gagasan. Khilafah merupakan gagasan agung dan kompleks, tentulah sulit untuk mewujudkannya, apalagi ada pihak yang mengahalanginya (baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan kontra). Sulit bukan berarti mustahil atau utopis, karena secara empirik sudah pernah ada yakni khilafah telah membentang 13 abad menjadi keabadian sejarah. Jika metode dan road map-nya sudah diteladankan Rasulullah dalam ‘shiroh nabawiyah’, maka pekerjaan mewujudkan khilafah menjadi relatif lebih ‘mudah’. Jadi, penegakan khilafah sama sekali bukan imajinasi politik seperti yang dikatakan orientalis Oliver Roy (1994).

Penerapan Islam dengan hanya mengandalkan pengamalan nilai-nilai moral/akhlak terbukti tidak efektif. Korupsi, pornografi dan seks bebas, narkoba tetap dapat mewabah di negeri muslim jika hanya diseru/dihimbau secara moral tanpa penerapan perangkat Islam lainnya seperti sistem pemberian sanksi/hukuman. Variabel nafsu, variabel syetan yang selalu menggoda dan variabel sistem-peraturan yang diterapkan lebih dominan daripada nilai/moral. Sehingga dengan pendekatan sistemik, bukan parsial dan instrumentatif seperti pengamalan nilai/moral, Islam akan mampu menyelesaikan secara tuntas berbagai penyakit/patologi sosial.

Penerapan Islam sejak zaman Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, Khulafa Umayah, Khulafa Abbasiyah sampai Khulafa Utsmaniyah telah menjadi sejarah. Sejarah haruslah disikapi sebagai fakta (sejarah kuantitatif terkait siapa, apa, kapan, di mana) dan sebagai opini (sejarah kualitatif terkait mengapa dan bagaimana). Sejarah kuantitatif relatif tidak bermasalah karena faktual, tetapi sejarah kualitatif dapat bersifat subyektif (tergantung pada world view penulisnya, juga penguasa pada masa itu). Untuk itu sejarah bukan sumber tasyri’ dalam Islam. Sumber sejarah berupa situs bersejarah, manuskrip dan buku sejarah tidak dapat dijadikan sumber tasyri’ (sebagai dasar hukum sesuatu). Hanya nash/teks Al Quran, nash hadits dan ijma’ shahabat yang dapat dijadikan sumber tasyri’. Kecuali buku sejarah yang ditulis dengan metode periwayatan hadits seperti shirah Ibnu Ishaq dan shirah Ibnu Hisyam yang notabene merupakan kompilasi hadits juga, dapat dijadikan sumber tasyri’.

Penerapan Islam dengan khilafah, sebagian kecil diterapkan dengan buruk karena oknumnya, sebagian besar diterapkan dengan keagungan dan kemajuan peradaban seperti penaklukan Andalusia dan Konstantinopel, keberadaan Imam Madzahibil Arba’ah, puluhan saintis dan teknolog sebagai peletak dasar saintek modern dewasa ini. Terlebih lagi kalau kita menggunakan pendekatan sistemnya, maka Islam kokoh tegak berwibawa di hadapan umat manusia karena sistem Islam diterapkan dengan khilafah. Sistem Islam memang paling kompatibel diterapkan dalam bentuk khilafah bukan yang lain (kerajaan, monarki, republik, imperium).

Jika dikatakan Islam sudah dapat diterapkan tanpa khilafah seperti sholat, haji, menikah dan lain-lain, maka bagaimana mungkin penerapan baitul mal (sistem keuangan steril dari riba), pelaksanaan hukuman rajam dan jilid bagi pezina, pembelaan kepada kaum muslimin Palestina dalam cengkeraman kedzaliman penjajah zionis Israel dan lain-lain tanpa eksistensi khilafah. Penerapan Islam dilakukan oleh 3 domain, yang pertama oleh individu (seperti yang disebutkan terdahulu), yang kedua oleh jamaah (seperti aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, membentuk partai politik dan lain-lain) dan yang ketiga (yang terbesar dan paling kompleks) oleh Negara, seperti penerapan sistem ekonomi non ribawi dan sistem moneter dinar-dirham, penerapan sistem peradilan, hubungan luar negeri dan futuhat dan lain-lain. Jika cakrawala pemikiran Islamnya sempit, maka batasan yang dilihat tentu hanya sebatas penglihatan katak dalam tempurung.

Masih dalam cakupan penerapan Islam adalah bagaimana seorang muslim dipilih sebagai pemimpin. Pemimpin adalah tunggal, tidak logis dan masyru’ jika kepemimpinan adalah kolektif. Bagaimana mengambil keputusan dan di mana kewenangan seorang pemimpin jika pemimpin itu kolektif? Adapun mekanisme pengangkatan secara teknis dapat memilih salah satu dari 4 teknis pemilihan seperti yang terjadi dalam pengangkatan khulafaur Rasyidin. Meskipun beragam teknisnya, metode pengangkatan hanya satu yaitu bai’at. Jadi tidak perlu bingung, rancu dan bias. Tentang syarat quraisy bagi khalifah hanyalah merupakan syarat afdholiah/keutamaan saja, bukan syarat sah/in’iqod seperti muslim, laki-laki, akil, baligh, merdeka (bukan budak) dan mampu. Sehingga memang tidak harus quraisy.

Kritis kepada gagasan khilafah sah-sah saja, seperti perlunya batasan periode memerintah khilafah, yang perlu dikemukakan adalah dalil atau landasan syar’iy-nya. Mengenai kritisme Ali Abdur Raziq (1926) yang mengatakan tidak ada sistem pemerintahan dalam Islam sudah dia cabut sendiri pada akhir hayatnya setelah gelar keulamaannya dicabut oleh Al Azhar.

Jika Prof Azyumardi Azra menyebutkan kriteria visibilitas dan viabilitas dalam masalah khilafah, maka keduanya dapat dipenuhi karena khilafah layak secara landasan syar’iy dan layak sebagai solusi dunia Islam global (solusi apa yang disodorkan bagi yang menolak khilafah?). Dan khilafah juga memiliki kemampuan berdaya tahan lama, dan terbukti 13 abad dalam pentas dunia (bandingkan dengan nasib sosialisme-komunisme yang tidak sampai 1 abad, 1917-1991). Selain itu, mekanisme check and balance dalam struktur khilafah memungkinkan sistem tersebut bertahan. Apalagi jika kemampuan khilafah mensejahterakan rakyatnya sebagaimana terjadi pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sampai-sampai tidak ada yang mau menerima zakat. Jika rakyat sejahtera lahir batin dan diperlukan dengan penuh keadilan, maka Negara stabil dan terbebas dari rongrongan politik.

Masalahnya sekarang sistem Islam belum dapat diterapkan. Masih perlu perjuangan serius dan berat untuk menerapkan sistem Islam tersebut. Perjuangan untuk menyampaikan kepada umat tentang hakikat sistem Islam, perjuangan untuk meraih opini umum dan dukungan para tokoh dan simpul umat, perjuangan untuk menyingkap makar-makar musuh Islam yang berupaya maksimal meghalangi penerapan sistem Islam tersebut dan perjuangan untuk tetap istiqomah, tetap ikhlas dan tetap bersemangat.

Jika beberapa pusat studi di Kerajaan Belanda, di Rusia dan di Amerika Serikat sudah memprediksikan akan kehadiran khilafah pada masa mendatang, jika sebagian warga non-muslim pun juga dapat memahami tentang kebutuhan mereka terhadap khilafah yang berkeadilan dan berahmatan lil alamin, jika puluhan juta orang sudah merindukan datangnya khilafah dan jika jutaan orang sudah terlibat dalam perjuangan penegakan khilafah, maka . . . bagaimana dengan Anda? (Muh. Rif’an W- LS DPD HTI Jatim)

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co