Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, December 28, 2011

Buatlah Rencana ! lalu bertindak dan berkaryalah Sobat!

Faqih Syarif - Sobat! Kesuksesan itu bukan kebetulan tapi bertemunya persiapan dan perencanaan dengan kesempatan dan peluang. Mari kita simak Amru Muhammad Khalid yang bercerita tentang bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam, membuat rencana ketika akan hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa salam keluar rumah dini hari sehingga orang kafir tidak menyadarinya. Beliau pergi ke rumah Abu Bakar radhiyallahu’anhu tengah hari sehingga Abu Bakar radhiyallahu’anhu pun berkata: “Beliau datang pada saat yang tak kami kira. Siasat ini membuat orang kafir terkecoh”. Beliau kemudian memberi perintah hijrah kepada Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Keduanya meninggalkan rumah dari pintu belakang, lalu bergerak menuju ke arah selatan, padahal Madinah ada di utara.

Dengan demikian, orang-orang kafir takkan menemukan jejaknya ketika mereka menyisir jalan utara menuju ke Madinah. Setelah itu keduanya bersembunyi di gua Tsur dengan tetap bersiaga dan waspada. Abdullah bin Abu Bakar radhiyallahu’anhu datang mengabarkan perkembangan orang-orang Quraisy, sementara Asma’ binti Abu bakar radhiyallahu’anha datang dengan membawa ransum makanan.

Tak seorang pun orang Quraisy yang akan mengira ada wanita yang mengirimkan makanan, apalagi Asma’ radhiyallahu’anha saat itu tengah hamil tujuh bulan. Lalu, untuk menghilangkan jejak langkah –karena di padang pasir– Abu bakar radhiyallahu’anha menyuruh penggembala kambingnya, Abdullah bin Fahirah untuk menghapusnya. Setiap hari, ia menggiring kambingnya di jalan yang dilalui Asma’ radhiyallahu’anha seakan menggembala seperti biasa, sehingga tak seorang pun akan curiga”.

Subhanallah begitu hebat dan jitu rencana dan tindakan Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam! Oleh karena itu sobat! Marilah kita meniru dan mengambil beliau sebagai teladan dalam setiap aspek hidup dan perikehidupan kita.
Sobat, kita perlu membuat rencana kerja mewujudkan ide atau gagasan cemerlang menjadi sebuah karya yang menginspirasi banyak orang untuk bangkit dan bergerak maju. Kalau kita perhatikan sebenarnya inti rencana ada dua hal pokok yang harus ada dalam suatu perncanaan, yaitu tujuan dan bagaimana cara mencapainya? Mengapa rencana itu begitu’sederhana’? Ini agar kita tidak terjebak pada aktivitas yang hanya berkutat pada pembuatan rencana. Jangan sampai sobat, mental pandai, tapi emosi dan fisik lumpuh.

Hal Apa saja yang perlu direncanakan untuk menghasilkan sebuah karya yang inspiratif?
  1. Merumuskan tujuan, yakni merumuskan ide karya yang akan diwujudkan. Adapun ide karya yang segera kita wujudkan ini adalah ide karya prioritas prioritas pertama Anda.
  2. Merumuskan target waktu penyelesaian ide karya. Kapan ide karya itu selesai?
  3. Merumuskan langkah apa saja yang dilakukan agar ide karya terselesaikan. Sebaiknya dalam menulis langkah-langkah ini tidak terlalu rinci, tetapi juga tidak terlalu global. Kalau terlalu rinci, kita kesulitan sendiri baik pada saat membuat rencana maupun pelaksanaannya. Sebaliknya, bila terlalu global, langkah-langkah itu tidak dapat memandu kita di dalam pelaksanaannya.
  4. Menemukan tokoh panutan dan pembimbing. Tentang arti penting tokoh panutan dan pembimbing, Allah berfirman: “Sungguh pada diri Rasulullah tedapat teladan yang baik bagi kalian”. (QS Al-Ahzab: 21) dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Katakanlah (Wahai Muhammad), jika kalian benar-benar mencintai Allah, Ikutilah aku! niscaya Allah mencintai dan mengampui dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS Ali-Imran: 31). Sobat, Orang-orang yang berkarya monumental memiliki tokoh idola, pembimbing, pemberi inspirasi atau guru. Tokoh Anutan Ar-Razi, ahli kedokteran adalah Hunayn ibn Ishaq, tokoh anutan Ibnu Khaldun adalah Imam Ghazali. Tokoh yang mengilhami Ary Ginanjar adalah gurunya KH Habib Adnan, dan masih banyak lagi contoh-contoh orang-orang yang telah berkarya yang relative monumental memiliki tokoh idola dan panutan.
  5. Menentukan tempat berkarya, dan menuliskan apa saja kira-kira alat atau fasilitas yang dibutuhkan. Kita perlu memiliki tempat khusus untuk berkarya. Agar dalam berkarya kita bisa focus,tenang, dan jernih. Kita juga perlu menulis apa saja kira-kira alat atau fasilitas yang dibutuhkan.
Sobat, rencana sebagus apa pun tanpa disertai dengan tindakan tidak ada artinya. Tidak ada pilihan lain, just do it! Lakukan saja! Learning by doing! Edison pernah mengatakan bahwa:

“Genius adalah 1 % inspirasi ( idea tau rencana) dan 99 % keringat”.

Ibnu Jauzi berkata:
“Hari-hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan. Jadikanlah hari-harimu sarat dengan amalan yang terbaik. Kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda-nunda pekerjaan tanda orang yang merugi. Dan barangsiapa yang bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya”.
Sobat, di akhir tulisan ini mari kita bersama-sama menyisihkan dua jam sehari untuk berkarya, apa pun karya itu, sekecil apa pun asal bermanfaat bagi sesama dan kemajuan umat serta agama kita. Kita coba sisihkan waktu barang 2 jam setiap hari untuk berkarya, lalu, Kita jadikan kebiasaan!

Pesan Abdullah bin Mas’ud ra berkata:
“Seorang muslim tidak akan mencapai hakikat iman, hingga waktunya lebih berharga dari hartanya, dan jangan lupa selalu ingat Allah. Setiap pekerjaan bermanfaat yang tidak dimulai dengan bismillaahirrohmaanirrohim akan terputus (barokahnya)”. ( Al-Hadits)

(Spiritual Motivator - N.Faqih Syarif, H,S.Sos.I,M.Si,Penulis buku: Al-Quwwah Ar Ruhiyah, Kekuatan Spirit Tanpa Batas!)

Sunday, December 25, 2011

Tantangan Dakwah

Tantangan Dakwah


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]:18).

Ahli tafsir ternama, Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tersebut: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah! Ini adalah perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang oleh Dia. Adapun perintah ‘Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok’ artinya adalah, ‘Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Lihatlah amal-amal shalih apa yang telah kalian lakukan untuk menyongsong hari yang telah dijanjikan kepada kalian dan hari saat kalian kembali kepada Rabb kalian. Bertakwalah kepada Allah. Ini merupakan penegasan kedua untuk bertakwa. ‘Sesungguhnya Allah Mahateliti atas apa yang kalian lakukan’ maknanya adalah, ‘Ketahuilah sesungguhnya Dia Mahatahu atas semua perbuatan kalian dan keadaan kalian.’ Tidak ada secuil pun yang tersembunyi bagi Allah. Tidak ada urusan kalian yang tersembunyi dari Dia, baik perkara yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, hlm. 548).

Salah satu pelajaran penting dari ayat itu adalah bahwa hidup di dunia ini mulai dari takwa, diselingi evaluasi (muhasabah) untuk semakin meneguhkan ketakwaan tersebut.

Selama tahun 2011 suara yang menyeru untuk kembali ke pangkuan syariah makin nyaring terdengar. Kawasan Timur Tengah sepanjang tahun ini terus menerus diguncang revolusi. Tunisia, Maroko, Libya, Yaman, Suriah dan Mesir berguncang. Gejolak revolusi umat terus menggelora. Islam politik di kawasan itu mulai naik bahkan mendominasi media massa. Terlepas dari apa yang dimaksud, pernyataan Perdana Menteri Tunisia, Hamadi Jebali, menarik disimak. Hamadi menyampaikan, “Masa kini adalah momentum Ilahi pada sebuah negara baru dan mudah-mudahan merupakan Masa Kekhalifahan ke-6.”

Ucapan seperti ini dari seorang moderat menggambarkan betapa keinginan masyarakat di sana untuk menerapkan Islam demikian besar sehingga berpengaruh pada ucapan Hamadi. Memang, kecenderungan alami dari masyarakat Arab lebih tertarik pada sistem Khilafah. Inilah ajaran agama mereka dan bagian dari sejarah mereka.

Di sisi lain, Eropa sedang dilanda gunjang-ganjing. Amerika masih berada dalam kubangan krisis. Gejolak selama tahun 2011 ini mengisyaratkan dunia kemudian akan kembali pada model masa pra-1945-yang merupakan dunia multipolar-yang didominasi oleh pusat-pusat pengaruh geopolitik yang berbeda, dengan Kekhalifahan di puncaknya.

Suara yang sama berkumandang di Indonesia. Dukungan para ulama tampak jelas. Berbagai forum ulama selama kurun 2011 menyerukan syariah dan Khilafah. Begitu juga dukungan dari kalangan tokoh, intelektual, mahasiswa dan pelajar. Tidak kalah pentingnya, kembali pada syariah Islam dan menyatukan kaum Muslim ke dalam Khilafah juga diserukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Ini sebagian tanda makin dekatnya fajar kemenangan.

Bukan hanya harapan yang terang, tantangan dakwah Islam di Indonesia pun tidak menyurut. Ketidakadilan terhadap umat Islam terus berlangsung selama tahun 2011, yang bahkan dilakukan oleh sesama Muslim. Ketika terjadi bunuh diri di Cirebon dan Solo, langsung Presiden menyebut bahwa pelakunya adalah teroris hanya karena pelakunya beragama Islam. Namun, saat di Papua meledak granat disertai penembakan, buru-buru Ansyaad Mbai, Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyatakan bahwa itu tindak kriminal biasa. Pada saat umat Islam menyerukan syariah Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan, segeralah mereka dituduh sebagai pihak yang membahayakan NKRI. Sebaliknya, upaya separatisme dan disintegrasi yang secara terang-terangan dinyatakan oleh segelintir orang yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak disebut membahayakan NKRI. Bahkan TNI dan Polisi yang berupaya menindak tegas mereka segera dituduh oleh LSM-LSM komprador sebagai melanggar HAM. Intervensi Amerika Serikat (AS) dalam kasus ini tampak jelas. Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY di Nusa Dua, Bali, Senin (24/10/2011) membicarakan Papua. Berikutnya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton angkat suara mengenai konflik di Papua. Hillary menyampaikan kekhawatiran akan kondisi HAM di Papua. Ia menyerukan adanya dialog untuk memenuhi aspirasi rakyat di wilayah konflik tersebut (AFP, 11/11/11). Obama dalam pembicaraannya dengan Presiden SBY di Bali juga menyinggung masalah Papua. Irama yang ditabuh asing ini diikuti oleh antek-anteknya di dalam negeri.

Persoalan calon Gereja Yasmin di Bogor menambah rasa ketidakadilan itu. Umat Islam di Bogor dituding tidak toleran. Padahal umat Islam Bogor ditipu. Ada penipuan dalam proses pengajuan izin IMB calon gereja tersebut. Hilary Clinton bicara tentang kasus ini. Vatikan turut campur. Pada 16 Desember 2011 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengadakan rapat dengan Pemerintah membahas hal ini. Masalah ini diinternasionalisasi. Memang, kalau untuk memojokkan umat Islam, suara jarum jatuh pun terdengar ke seantero dunia!

Bukan hanya itu. Untuk mengerem gerak perjuangan Islam digembar-gemborkan istilah deradikalisasi. Selama tahun 2011 digelar berbagai acara di daerah-daerah. Pimpinan dan ormas Islam dikumpulkan. Temanya deradikalisasi. Yang mengherankan, semua yang dimaksudkan dalam istilah deradikalisasi ditujukan kepada umat Islam! Sasarannya adalah Islam. Benar apa yang diingatkan oleh pengamat politik Herman Ibrahim bahwa hakikat dari deradikalisasi merupakan deIslamisasi. Dalam deradikalisasi pun terdapat politik belah-bambu di tubuh umat Islam. Last but not least, deradikalisasi ini tidak dapat dilepaskan dari program war on terrorism yang merupakan agenda AS. Yang rugi adalah umat Islam sendiri.

Tantangan seperti ini sebenarnya merupakan sunnatullah. Setiap upaya dakwah untuk membangkitkan umat Islam senantiasa menghadapi tantangan. Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya telah menghadapi banyak tantangan. Beliau dituduh tukang sihir, tukang syair, gila, pemecah-belah bangsa Arab, dsb. Bahkan beliau diembargo selama dua tahun dan diancam pembunuhan. Justru, berbagai tantangan berupa tuduhan dan ancaman fisik menegaskan kemenangan dakwah semakin dekat. Sebab, tuduhan dan ancaman fisik dari pihak anti-Islam merupakan tanda kekalahan mereka secara intelektual. Yang penting adalah kita tetap berada di atas aturan Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda, “Sekelompok dari umatku selalu berada di atas aturan Allah, orang-orang yang menentang dan menyalahi mereka tidak akan memadaratkan bagi mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan menang atas manusia.” (HR Muslim). [MR Kurnia]

Wednesday, December 21, 2011

Tahun Baru Rezeki baru dan Keberkahan baru

SELAMAT DATANG 1433 H/ 2012 SEMOGA MEMBUKA REJEKI BARU, KEBERKAHAN BARU

“Saat terus –terusan melihat hal-hal yang mengingatkan kita akan kesuksesan masa lalu, kita pun terprogram untuk melihat diri kita sebagai pemenang-seseorang yang memiliki kesuksesan konsisten dalam kehidupan! Hal itu tidak hanya membangun kepercayaan dirimu, tapi juga membuat orang lain menaruh kepercayaan padamu.”( The Succes Principles for Teens)

Sobat, kita sekarang telah memasuki tahun baru hijriah dan sebentar lagi juga tahun baru masehi. Saatnya kita melakukan evaluasi diri akan apa yang sudah kita lakukan di tahun ini dan apa yang belum. Kegagalan di tahun ini jadikan sebagai sebuah pelajaran yang berharga dan janganlah terus diratapi sedangkan keberhasilan atau kesuksesan di tahun ini jadikanlah modal untuk membangun percaya diri dan membuat diri menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.
Ada 4 hal penting dalam menyambut tahun baru :
 Introspeksi Diri “ Self Correction “: Niatkan diri kita untuk meminta dan memohon kepada Allah saat melakukan kontemplasi atau berdoa. Duduklah pada posisi yang nyaman dan usahakan badan dalam kondisi rileks. Rasakan rasa syukur yang mengalir dari hati kita ke seluruh tubuh. Alhamdulillah Ya Alllah…. Kita akan merasakan rasa syukur itu akan menjalari tubuh kita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Silahkan rasakan sensasinya.
 Perubahan “ Change “ : Di dunia ini yang pasti adalah ketidakpastian. Perubahan adalah suatu keniscayaan. Berubahlah 1 % tiap hari ke arah kebaikan maka setahun kemudian kita akan mengalami perubahan 365 % luar biasa bukan!
 Perbaikan “ Improvement “: Yang belum baik di tahun ini lakukan perbaikan dan jangan berhenti menjadi manusia pembelajar. Tingkatkan terus valensi diri kita. Jadilah manusia yang climber yang terus melakukan “pendakian” yaitu perbaikan diri yang terus-menerus,berani menghadapi resiko dan tantangan, penuh optimis serta percaya diri.
 Mempertahankan “ Maintenance “ : Apa yang sudah baik di tahun ini perlu dipertahankan atau dimaintenance lebih baik lagi. Jangan lupa diri dan terlena dengan zona nyaman.

Sobat, setelah kita berhasil mengakses rasa syukur, mulailah kita memunculkan visualisasi tentang masa depan kita, yaitu apa yang kita cita-citakan,inginkan, dan impikan. Apa yang kita dapatkan dan menjadi apa hari ini adalah hasil dari pikiran dan keputusan serta tindakan kita di masa lalu.Maka apa yang kita dapatkan dan menjadi apa di masa depan adalah hasil dari pikiran dan keputusan dan tindakan kita saat ini. Tentu semuanya itu atas ijin dan kehendak Allah SWT.

Dalam buku Al Quwwah ar ruhiyah kekuatan spirit tanpa batas ada hal-hal yang layak sebagai bahan renungan bagi kita untuk melakukan kontemplasi. Inilah kutipannya : Sobat, Janganlah kita melupakan prioritas pertama dan utama dalam hidup kita untuk menjadikan Akherat sebagai impian dan Allah menjadi orientasi tujuan hidup yang sesungguhnya. “Barangsiapa menjadikan akherat sebagai impiannya. Allah akan menjadikan kekayaan dan rasa cukup dalam hatinya, mengumpulkan yang tercerai-berai darinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai impiannya. Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya, mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali yang telah disempitkan kepadanya.” Demikianlah pesan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa salam. Al-qur’an dan hadits mengajak kita membayangkan hari akherat bahwa kaki, telinga, tangan, mata, kulit kita akan berbicara; jadi saksi atas semua perbuatan kita di hadapan Allah subhaanahu wa ta’alaa. (Lihat dan baca QS. Yasin ayat 65 atau QS. Fushshilat ayat 20 – 21).

Visualisasi berpusat kepada Allah ini lebih menyentuh hati dan menggerakkan jiwa untuk berbuat baik. Saat memvisualisasikan akherat, bertanyalah kepada diri Anda sendiri :
• Apakah saya termasuk orang yang bisa menatap wajah Allah atau tidak?
• Apakah aku ahli surga atau neraka?
• Apakah aku selamat melintasi shirat al-mustaqim atau terjatuh?
• Apakah buku amalanku hasil catatan raqib dan atid lebih banyak memuat kisah iman dan amal sholeh atau kekafiran dan kemaksiatan?
• Apakah “rekaman perbuatanku” yang dilakukan oleh Allah, Rasul-Nya, orang beriman, manusia, diri-sendiri, dan benda-benda yang kita miliki banyak merekam kebaikkan atau keburukkan?
• Apakah tatkala matahari beberapa sentimeter di atas kepalaku, aku termasuk orang yang mendapat naungan cahaya dari Allah atau bukan?
• Apakah ketika air keringat meluap sebatas lutut; dada; hidung; bahkan sampai menenggelamkan kepala, aku termasuk mendapat pertolongan Allah atau bukan?
• Ketika manusia berbondong-bondong meminta syafa’at kepada Nabi, apakah aku termasuk orang yang menerimanya atau justru ditolak Nabi karena kita tidak pernah mengikuti tutunan dan risalahnya?

Nah, jika kita mampu membayangkan semua kejadian di akherat nanti, lalu mengapa kita tidak mampu membayangkan impian hidup kita beberapa tahun yang akan datang? Ingat, salah satu ciri orang sukses adalah dapat memvisualisasikan sebelum segala sesuatu itu terjadi.

Selamat tahun baru Hijriah,semoga membawa kesuksesan dan keberkahan bagi hidup kita.Amin

Salam dahsyat dan luar biasa! ( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si, Penulis Buku Al Quwwah ar ruhiyah Kekuatan spirit tanpa batas dan buku Menjadi Dai Yang DiCinta. www.mentorfmplus.com . email mumtaz.oke@gmail.com .twitter @faqihsmart )

Monday, December 19, 2011

Rumah Inspirasi FM

RUMAH INSPIRASI FM (FIKRUL MUSTANIR)
Basecamp : Jl. S. Parman IV A/8 Waru – Sidoarjo 61256.
Telp. 031.78226261


• Mentor FM
Mencetak Public Speaker dan Penulis yang Inspiratif

• Tes STIFin ( Finger Print )
Menemukan bakat dan potensi diri Anda lewat sidik jari.

• Bilik Tafakur FM
Bedah buku dan Kajian Keislaman

• Pustaka Mumtaz FM
Ruang baca dan peminjaman buku ( Gratis)

• Ziyadah Collection
Menyediakan buku-buku Islami, Souvenir, dan perlengkapan muslimah





Email : mumtaz.oke@gmail.com
www.faqihsyarif.com
Twitter :@faqihsmart
FB : Faqih Syarif Hasyim

Spiritual Motivator
N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si,

Tuesday, December 6, 2011

Refleksi Tahun baru Hijriah

Refleksi Tahun Baru Hijriah.

Tidak terasa, bulan demi bulan menjelang; tahun demi tahun pun berlalu. Kaum Muslim kembali memasuki bulan Muharram, menandai datangnya kembali tahun yang baru; kali ini memasuki Tahun Baru 1433 Hijrah. Tidak seperti ketika datang Tahun Baru Masehi yang disambut dengan penuh semarak oleh masyarakat, Tahun Baru Hijrah disikapi oleh kaum Muslim dengan ‘dingin-dingin’ saja.

Memang, Tahun Baru Hijrah tidak perlu disambut dengan kemeriahan pesta. Namun demikian, sangat penting jika Tahun Baru Hijrah dijadikan sebagai momentum untuk merenungkan kembali kondisi masyarakat kita saat ini. Tidak lain karena peristiwa Hijrah Nabi saw. sebetulnya lebih menggambarkan momentum perubahan masyarakat ketimbang perubahan secara individual. Peristiwa Hijrah Nabi saw. tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat Jahiliah saat itu menjadi masyarakat Islam. Inilah sebetulnya makna terpenting dari Peristiwa Hijrah Nabi saw.
Ketidakmampuan kita memahami sekaligus mewujudkan makna terpenting Hijrah ini dalam realitas kehidupan saat ini hanya akan menjadikan datangnya Tahun Baru Hijrah tidak memberikan makna apa-apa bagi kita, selain rutinitas pergantian tahun. Ini tentu tidak kita inginkan.

Makna Hijrah

Secara bahasa, hijrah berarti berpindah tempat. Adapun secara syar‘i, para fukaha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam. (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam dalam definisi ini adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariat Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan yang keamanannya berada di tangan kaum Muslim.
Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariat Islam dan keamanannya bukan di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta Hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam).

Peristiwa Hijrah, paling tidak, memberikan makna sebagai berikut:

Pertama: pemisah antara kebenaran dan kebatilan; antara Islam dan kekufuran; serta antara Darul Islam dan darul kufur. Paling tidak, demikianlah menurut Umar bin al-Khaththab ra. ketika beliau menyatakan: Hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. (HR Ibn Hajar).

Kedua: tonggak berdirinya Daulah Islamiyah (Negara Islam) untuk pertama kalinya. Dalam hal ini, para ulama dan sejarahwan Islam telah sepakat bahwa Madinah setelah Hijrah Nabi saw. telah berubah dari sekadar sebuah kota menjadi sebuah negara Islam; bahkan dengan struktur yang—menurut cendekiawan Barat, Robert N. Bellah—terlalu modern untuk ukuran zamannya. Saat itu, Muhammad Rasulullah saw. sendiri yang menjabat sebagai kepala negaranya.

Ketiga: awal kebangkitan Islam dan kaum Muslim yang pertama kalinya, setelah selama 13 tahun sejak kelahirannya, Islam dan kaum Muslim terus dikucilkan dan ditindas secara zalim oleh orang-orang kafir Makkah. Demikianlah sebagaimana pernah diisyarakatkan oleh Aisyah ra.:
“Dulu ada orang Mukmin yang lari membawa agamanya kepada Allah dan Rasul-Nya karena takut difitnah. Adapun sekarang (setelah Hijrah, red.) Allah SWT benar-benar telah memenangkan Islam, dan seorang Mukmin dapat beribadah kepada Allah SWT sesuka dia.” (HR al-Bukhari).

Setelah Hijrahlah ketertindasan dan kemalangan umat Islam berakhir. Setelah Hijrah pula Islam bangkit dan berkembang pesat hingga menyebar ke seluruh Jazirah Arab serta mampu menembus berbagai pelosok dunia. Setelah Rasulullah saw. wafat, yakni pada masa Khulafaur Rasyidin, kekuasan Islam semakin merambah ke luar Jazirah Arab.
Bahkan setelah Khulafaur Rasyidin—yakni pada masa Kekhalifahan Umayah, Abbasiyah, dan terakhir Utsmaniyah—kekuasaan Islam hampir meliputi 2/3 dunia. Islam bukan hanya berkuasa di Jazirah Arab dan seluruh Timur Tengah, tetapi juga menyebar ke Afrika dan Asia Tengah; bahkan mampu menembus ke jantung Eropa. Kekuasaan Islam malah pernah berpusat di Andalusia (Spanyol).

Mewujudkan Kembali Makna Hakiki Hijrah Nabi

Dengan mengacu pada tiga makna Hijrah di atas, dengan mengaitkannya dengan kondisi masyarakat saat ini, kita melihat:
Pertama: Saat ini umat Islam hidup di dalam darul kufur, bukan Darul Islam. Keadaan ini menjadikan umat Islam membentuk masyarakat yang tidak islami alias masyarakat Jahiliah. Masyarakat Jahiliah tidak lain adalah masyarakat yang didominasi oleh pemikiran dan perasaan umum masyarakat yang tidak islami serta sistem yang juga tidak islami.
Dalam konteks zaman Jahiliah modern saat ini, kita melihat, yang mendominasi masyarakat adalah pemikiran dan perasaan sekular serta sistem hukum sekular, yang bersumber dari akidah sekularisme; yakni akidah yang menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Saat ini masyarakat didominasi oleh pemikiran demokrasi (yang menempatkan kedaulatan rakyat di atas kedaulatan Tuhan), HAM, nasionalisme (paham kebangsaan), liberalisme (kebebasan), permissivisme (paham serba boleh), hedonisme (paham yang menjadikan kesenangan duniwai/jasadiah sebagai orientasi hidup), feminisme (paham mengenai kesetaraan jender, pria-wanita), kapitalisme, privatisasi, pasar bebas, dll.
Perasaan masyarakat pun didominasi oleh perasaan ridha dan benci atas dasar pandangan hidup sekular. Mereka meridhai semua yang bersumber dari akidah sekular dan sebaliknya membenci semua yang bertentangan dengan pandangan sekularisme; mereka meridhai demokrasi (yang menjunjung tinggi kedaulatan manusia) dan sebaliknya membenci kedaulatan Tuhan untuk mengatur manusia; mereka meridhai nasionalisme dan nation state (negara-bangsa) dan sebaliknya membenci ikatan ukhuwah islamiyah dan kesatuan kaum Muslim di bawah satu negara (Khilafah Islamiyah); mereka meridhai liberalisme (kebebasan), permissivisme (paham serba boleh), hedonisme (paham yang menjadikan kesenangan duniawi/jasadiah sebagai orientasi hidup), dan sebaliknya membenci keterikatan dengan syariah/hukum-hukum Allah dan menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup mereka; mereka meridhai sistem ekonomi kapitalisme yang berasaskan manfaat, ekonomi ribawi, privatisasi, dan pasar bebas dan sebaliknya membenci sistem ekonomi Islam; mereka pun meridhai hukum-hukum kufur yang bobrok dan sebaliknya membenci hukum-hukum Islam—seperti hukum cambuk, hukum rajam, atau hukum potong tangan—yang mendatangkan keadilan dan rahmat bagi manusia.
Lebih dari itu, sistem yang mengatur masyarakat saat ini tidak lain adalah sistem yang juga bersumber dari akidah sekularisme. Sebaliknya, sistem Islam—yakni sistem ekonomi, politik, pemerintahan, peradilan, hukum, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan negara yang bersumber dari akidah Islam—mereka campakkan. Itulah realitas masyarakat Jahiliah pada zaman modern saat ini.
Karena itu, upaya mengubah masyarakat Jahiliah menjadi masyarakat Islam, itulah di antara makna hakiki dari Peristiwa Hijrah Nabi saw. yang harus kita realisasikan kembali saat ini. Caranya tidak lain dengan menggusur dominasi pemikiran, perasaan, dan sistem sekular di tengah-tengah masyarakat saat ini; kemudian menggantinya dengan dominasi pemikiran, perasaan, dan sistem Islam. Tanpa berusaha mengubah ketiga unsur tersebut di tengah masyarakat Jahiliah saat ini, masyarakat Islam yang kita cita-citakan tentu tidak akan pernah dapat diwujudkan.
Kedua: Saat ini tidak ada satu pun negeri Islam yang layak disebut sebagai Daulah Islamiyah. Padahal kita tahu, di antara makna dari Peristiwa Hijrah Nabi saw. adalah pembentukan Daulah Islamiyah, yang saat itu ditegakkan di Madinah al-Munawwarah.
Daulah Islamiyah yang dibentuk oleh Nabi saw.—yang dalam perjalanan selanjutnya setelah beliau wafat disebut sebagai Khilafah Islamiyah—tidak lain adalah sebuah negara yang memberlakukan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena itu, upaya membangun kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah ini seharusnya menjadi cita-cita bersama umat Islam yang betul-betul ingin mewujudkan kembali makna Hijrah dalam kehidupan mereka saat ini.
Ketiga: Saat ini keadaan umat Islam di seluruh Dunia Islam sangat memprihatinkan. Di negeri-negeri di mana kaum Muslim minoritas, mereka tertindas. Bahkan, kaum Muslim di Filipina (Moro), Thailand (Pattani), India (Kashmir), dan beberapa wilayah lain merupakan saksi nyata kesengsaraan dan ketertindasan umat Islam saat ini.
Bahkan di negeri-negeri yang kaya akan kekayaan alam, namun mereka tak berdaya, dengan mudah negeri mereka diduduki dan dijajah, lihatlah Afghanistan dan Irak. Mereka ditindas hanya karena satu alasan, yakni karena mereka Muslim; persis seperti orang-orang kafir Qurays dulu memperlakukan Nabi saw. dan para Sahabatnya ketika di Makkah. Mereka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memunculkan Islam, bahkan sekadar menampilkan identitas mereka sebagai Muslim.

Sebaliknya, kaum Muslim yang tinggal di negeri-negeri di mana mereka mayoritas pun, hukum-hukum Islam tidak bisa ditegakkan. Kaum Muslim yang berpegang teguh pada aturan-aturan Allah SWT disisihkan. Mereka yang konsisten dalam perjuangan menegakkan syariat Islam terus-menerus difitnah dengan berbagai cap yang menyudutkan seperti ekstremis, radikal, fundamentalis, bahkan teroris! Akibatnya, aspirasi Islam dibungkam dan para pejuangnya pun diburu, dijebloskan ke penjara, bahkan dibunuh.
Kaum Muslim saat ini hidup tertekan dalam “penjara besar”, yakni negeri mereka sendiri, yang telah dikuasai oleh sistem kufur yang dikontrol oleh negara-negara kafir Barat imperialis. Posisi umat Islam yang pernah mengalami masa kejayaannya sejak zaman Nabi saw. sampai Kekhilafahan Ustmaniyah di Turki kini tinggal kenangan.
Apalagi setelah Peristiwa 11 September 2001, Islam dan kaum Muslim betul-betul menjadi 'bulan-bulanan' AS dan sekutu-sekutunya. Padahal, kita tahu, di antara makna dari Peristiwa Hijrah Nabi saw. adalah bangkitnya kaum Muslim setelah mereka lama tertindas dan terzalimi (kurang-lebih 13 tahun) di negeri mereka sendiri, yakni Makkah, sebagaimana diisyaratkan oleh Aisyah ra. di atas.
Karena itu, agar kaum Muslim dapat benar-benar mewujudkan kembali makna Hijrah yang sebenarnya, tidak lain, umat ini harus segera melepaskan diri dari segala bentuk kezaliman sistem kufur dan kekuasaan negara-negara imperialis Barat kafir, yang nyata-nyata telah menimbulkan ketertindasan dan kemalangan kaum Muslim dalam berbagai bidang kehidupan. Semua itu tidak lain hanya mungkin diwujudkan dengan kembali berhijrah menuju Daulah Islamiyah.
Karena saat ini ditengah Islam tidak lagi diterapkan dalam kehidupan nyata dalam sebuah negara, maka tugas seluruh kaum Muslimlah untuk mewujudkannya kembali di tengah-tengah mereka. Caranya tidak lain dengan mengubah negeri-negeri Muslim saat ini yang berada dalam kungkungan sistem kufur, yakni sistem Kapitalisme-sekular, sekaligus menghimpunnya kembali dalam satu wadah negara, yakni Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah.

Khatimah

Hanya dengan mewujudkan kembali ketiga makna Hijrah di ataslah kekufuran akan lenyap digantikan oleh keimanan; kejahiliahan akan musnah tertutup cahaya Islam; darul kufur akan terkubur oleh Darul Islam; dan masyarakat Jahiliah pun akan berubah menjadi masyarakat Islam. Hanya dengan itu pula, insya Allah, umat Islam saat ini akan berubah dari umat yang terhina menjadi umat yang akan meraih kembali posisi terhormat sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT:
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imran [3]: 110).
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

The Power of Focus



The Power of Fokus
Bidang keahlian apa pun kalau kita tekuni dan fokus,pasti bisa dan akan menjadikan kita ahli.Begitu pula kalau kita memfokuskan perhatian pada tugas dan tanggung jawab, atau pekerjaan yang ada di hadapan kita serta berusaha melaksanakannya terus-menerus, suatu ketika kita pasti akan benar-benar sampai pada tingkatan terakhir ( Faqih Syarif, Al Quwwah ar ruhiyah 2009)

Sobat, manusia memiliki kekuatan fokus, tinggal bagaimana kita menggunakan sebaik mungkin. Mulailah dari langkah kecil. Mulai dari potensi kecil yang diseriusi. Mulai dari prestasi kecil yang disyukuri. Mulai dari penghargaan diri terhadap hal-hal kecil yang Allah beri. Mentor kami sering mengingatkan segera temukan talenta anda dengan menggunakan pertanyaan; Bidang keahlian apa yang kamu kuasai saat ini? Dan Anda melaksanakan dengan penuh enjoy serta happy seakan tidak dibayarpun anda melakukan dengan senang hati. Kalau itu sudah anda temukan tinggal fokus, fokus dan fokus meningkatkan valensi diri anda. Sisihkan waktu 3 jam tiap hari selama 10 tahun untuk melakukan hal tersebut sebab bidang keahlian apa pun kalau kita tekuni dan fokus,pasti bisa dan akan menjadikan kita ahli.
Persoalan kita, mengapa tidak segera melangkah karena kita nggak focus, nggak konsen, nggak ada prioritas, nggak jelas, dan biasanya, nggak mau meski sekedar menuliskan apa yang jadi gagasan dan apa yang harus dilakukan. Padahal kuncinya sederhana : Tulis apa yang mau Anda lakukan. Lakukan apa yang Anda tuliskan. Dokumentasikan.
Sobat, ilmu meski sedikit, bila dimanfaatkan akan menjadi kekuatan, karena kita focus. Tapi kalau ilmunya banyak, kolektor kitab, diktator alias pengumpul diktat, kalau nggak fokus akan percum tak bergun.
Kini konsentrasikan diri pada kemampuan kita. Fokuslah pada kelebihan yang kita punya maka jadinya kita akan menjadi orang yang di atas rata-rata. Intinya adalah bagaimana kita punya kemampuan untuk memberikan perhatian penuh kepada tugas yang dihadapi, pada profesi yang dijalani, dalam jangka panjang, berkonsentrasi pada suatu karier, merupakan satu segi dari fokus.
Sobat, air embun aja yang fokus mampu melubangi batu cadas yang kuat. Tali yang yang fokus bisa memotong kayu. Sholat yang fokus bisa meningkatkan mutu hidup kita. Hidup yang fokus pada jalan kebenaran (Shiraathal mustaqim), nggak kemana-mana akan membuat hidup lebih bermakna, berasa dan bahagia.
Sobat, selain fokus kita mesti memperbanyak jam terbang. Penelitian kekinian juga menunjukkan bahwa orang yang ahli di bidang apa pun keahlian yang mereka tekuni ternyata mereka telah memiliki 10.000 jam terbang.
Rasulullah adalah teladan dalam segala kebaikan. Dalam berbagai kesempatan di tengah kesibukan yang amat padat, beliau mengembangkan potensi para sahabat sehingga berkembang dengan pesat. Bagaimana cara Nabi memfokuskan potensi sahabat?
1. Mengubah nama sahabat yang buruk atau berkonotasi buruk menjadi nama yang baik. Sebab nama mengandung doa, visi, harapan dan cita-cita. Inspirasi yang kita dapatkan adalah : apabila selama ini anda mendefinisikan diri dengan nama atau sebutan negative, segera ubahlah menjadi sebutan yang positif. Ganti definisi “anak nakal” menjadi anak cerdas, anak usil dibimbing jadi kreatif, ganti rasa malas dengan istilah rehat sejenak.
2. Membuka ruang ekspresi untuk unjuk gigi sehingga selalu termotivasi untuk berprestasi. Seperti Usamah bin Zaid yang baru berusia 17 tahun diangkat sebagai panglima.
3. Memberikan gelar keberanian seperti saifullah al maslul ( pedang terhunus) untuk Khalid bin Walid, Al Faruq (Pembeda kebenaran dari kebatilan) untuk Umar, Ash-shidiq (Yang benar) untuk Abu Bakar, Ali Karamallahu wajhah dan masih banyak lagi julukan yang menggugah jiwa.
4. Menghargai sekecil apapun prestasi untuk menumbuhkan percaya diri. Rasulullah memberi penghargaan para sahabat sesuai dengan prestasi masing-masing. Bilal diangkat sebagai muazin. Muadz bin jabal diutus ke yaman.
5. Mensupport yang memiliki kekurangan di satu sisi untuk menemukan kedahsyatan di sisi lain. Amru bin jamuh yang pincang diberi semangat surga. Ibnu Mas’ud yang kurus kecil disupport keunggulannya lebih dahsyat dari bukit uhud. Ibnu Maktum yang buta disiplinkan sholat berjamaah.
Sobat, para ulama dulu pun fokus di bidangnya.Imam Bukhari secara intensif menulis kitab Shahih selama enam belas tahun. Imam Nawawi konsentrasi ilmu sampai empat puluh tahun. Imam Abu Hanifah menunda nikah hingga usia empat puluh tahun karena fokus pada ilmu. Beda dengan remaja sekarang, nggak nikah-nikah tapi juga nggak punya karya, payah. Hidup lesu tanpa gairah.

Ayo Bangkitlah! Fokuskan diri kita! Miliki nilai tambah agar hidup ini penuh gairah.Perbanyak faktor kali agar kita semakin ahli. Ingatlah sobat, kita sukses dan bahagia kalau kita berorientasi pada kesuksesan dan kebahagiaan. Jangan kemana-mana. Tetaplah fokus di jalan mulia dan kebaikan yaitu jalannya para nabi,syuhada dan orang-orang mukmin dan orang-orang sholeh. Allahu Akbar!!!
( Spiritual Motivator – N. Faqih Syarif H,S.Sos.I, M.Si, penulis buku Al quwwah ar ruhiyah kekuatan Spirit Tanpa Batas dan buku Menjadi Dai Yang Dicinta, www.mentorfmplus.com email mumtaz.oke@gmail.com )

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co