Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Thursday, May 19, 2011

Penguasa Fasik

Penguasa Fasik
Akan datang kepada masyarakat tahun-tahun yang penuh tipuan. Pada tahun-tahun itu pembohong dipandang benar, yang benar dianggap bohong; pada tahun-tahun tersebut pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu yang berbicara adalah ruwaibidhah.” Lalu ada sahabat bertanya, “Apakah ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab, “Orang bodoh yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik.” (Dalam riwayat lain disebutkan, ruwaibidhah itu adalah “orang fasik yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik” dan “al-umara [pemerintah] fasik yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik”) (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan al-Bazzar).

Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab Fathul Bari bahwa riwayat hadis ini jayyid (bagus) dan Ibnu Majah menyatakan hadis ini sahih (Fathul Bari, XIII/84; Shahih Ibnu Majah, II/374).

Hadis tersebut mengingatkan kita pada peristiwa yang kini tengah terjadi di negeri-negeri Muslim. Gejolak yang terjadi di Tunisia, Mesir, Bahrain, Yaman, Libya dan Saudi menggambarkan betapa para penguasa Muslim selama ini mengabaikan rakyat, mementingkan diri dan kroninya, serta bersikap diktator. Rakyat pun bergerak menggulingkan mereka. Gejolak tersebut memberikan beberapa ‘ibrah (pelajaran). Pertama: perubahan di suatu negeri akan memberi efek domino bagi perubahan di negeri lainnya. Artinya, bila suatu ketika Khilafah Islam berhasil ditegakkan di suatu negeri maka dengan cepat hal ini akan menjalar ke negeri lain. Kedua: rakyat makin mengetahui kebobrokan penguasanya. Ketiga: rakyat makin berani bersuara di hadapan penguasanya yang zalim. Keempat: rakyat makin sadar bahwa kekuasaan ada di tangannya. Kelima: rakyat semakin percaya bahwa mereka mampu melakukan perubahan.

Di Indonesia hal ini tampak dalam wajah lain. Bulan Maret lalu Indonesia diguncang berita Wikileaks, bahwa Presiden SBY menyalahgunakan kekuasaan. Bagi orang-orang yang berkecimpung dengan berbagai persoalan politik berita tersebut tidak mengagetkan. Sebab, selama ini rumor itu sudah santer terdengar. Bahkan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, dengan tegas menyatakan adanya kebohongan yang dilakukan Pemerintah. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, juga menyampaikan bahwa negara ini telah gagal dan salah satu cara untuk menutupi kegagalannya itu adalah berbohong.

Dengan berbagai dalih yang diilmiah-ilmiahkan, Pemerintah akan segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) atau membatasinya. Rakyat kecil tentu akan menjadi pihak pertama yang terkena dampak kenaikan harga-harga. Di tengah situasi demikian, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) justru ngotot akan membangun gedung baru senilai senilai Rp 1,138 triliun. Padahal kalau dana ini digunakan untuk membangun rumah sederhana di desa seharga Rp 50 juta perrumah maka akan cukup untuk membangun rumah untuk 22.760 keluarga. DPR RI juga mengusulkan kenaikan anggaran dari Rp 3,025 triliun menjadi Rp 3,5 triliun untuk tahun anggaran 2012. Pemerintah dan DPR juga sedang menggodok rancangan undang-undang (RUU) Intelijen. Inti dari RUU ini adalah mengawasi gerak-gerik rakyatnya sendiri dan membangkitkan kembali rezim represif. Komisi I DPR-RI pun melakukan pelesiran dengan dalih studi banding tentang intelijen ke Amerika, Turki, Rusia dan Prancis. Berapa dana untuk pelesiran tersebut? Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menyebutkan anggaran yang digunakan untuk pelesiran tersebut sebesar Rp 4,5 miliar selama bulan April 2011. Dengan kata lain, biaya pelesiran Rp 150.000.000 sehari! Fantastik! Kalau dana ini dibelikan nasi bungkus seharga Rp 15.000 maka uang tersebut cukup untuk memberi makan 300.000 orang miskin!

Ini semua menggambarkan sikap tidak amanah, alias khianat. Karena itu, tidak mengherankan, survei terbaru yang dilakukan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menyatakan 96 persen responden mengaku merasa tidak terwakili oleh DPR.

Dalam kondisi demikian, umat memerlukan kepemimpinan baru yang amanah, yang berjuang penuh kesungguhan bagi perubahan hakiki sesuai ajaran Islam. Untuk itulah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terus menggalang langkah dengan berbagai komponen, termasuk ormas-ormas Islam. Sekadar contoh, pada akhir Maret 2011, beberapa pimpinan ormas (MUI, Al-Irsyad Al-Islamiyah, SP BUMN Strategis, Al-Ittihadiyah, PB PII, KAHMI, PBB dan HTI) membahas konspirasi di balik rencana pembatasan subsidi BBM di Kantor DPP Hizbut Tahrir Indonesia, Jakarta. Mereka memiliki pandangan yang sama bahwa pembatasan subsidi BBM ataupun kenaikan harga BBM merupakan jalan tol menuju liberalisasi BBM. Mereka pun melihat bahwa secara syar’i liberalisasi BBM hukumnya haram dan secara politik sama dengan menyerahkan leher kepada kafir penjajah untuk digorok. Karena itu, liberalisasi BBM harus ditolak.

Penyadaran pun terus dilakukan. Pada awal April 2011, enam belas ormas Islam berdiskusi tentang RUU Intelijen di Kantor DPP HTI. Setelah berdiskusi, dilanjutkan dengan Konferensi Pers. Para pimpinan ormas itu memiliki satu sikap: menolak RUU Intelijen! Setidaknya ada empat alasan utama. Pertama: banyak pasal karet yang tidak didefinisikan sehingga akan melahirkan penafsiran sewenang-wenang. Kedua: penyadapan tanpa lewat keputusan pengadilan yang akan melahirkan teror terhadap aktivis Islam. Ketiga: wewenang penangkapan yang akan menjamurkan penculikan. Keempat: RUU tersebut akan membangkitkan kembali rezim represif.

Dalam situasi demikian, ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan: berpegang pada kebenaran Islam dan menyampaikan kebenaran itu! Ingat, kata adalah senjata! Tanpa orang-orang yang berkarakter demikian maka pembohong akan tetap dianggap benar, pengkhianat akan terus diberi amanat, dan urusan publik dikelola oleh ruwaibidhah. Kita perlu menjadi bagian dari kelompok yang dinyatakan oleh Rasulullah saw., “Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang berpegang pada kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menyalahi mereka hingga datang kemenangan dari Allah pada saat mereka dalam keadaan demikian itu.” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Wallahu a’lam. []

Moderat

Moderat
Oleh: Fahmy Zarkasyi

Tahun 2008 Japan Institute of International Affair (JIIA) menggelar symposium di Tokyo. Temanya “Islam and Asia: Revisiting the Socio-Political Dimension of Islam”, yakni tentang masa depan politik Islam. Pesertanya mayoritas dari negara-negara Islam seperti Mesir, Pakistan, Iran, Turkey, Tunis, Indonesia dan Malaysia, ditambah seorang dari Amerika dan beberapa dari Jepang sendiri. Nampaknya simposium ini bertujuan untuk mengukur masa depan kekuatan politik Islam pasca peristiwa 11 September, akan ditangan radikal atau moderat.

Maka dari itu diantara isu yang dilontarkan disitu adalah tentang arti Muslim moderat. Istilah ini nampaknya berfungsi sebagai penjinak terorisme. Mirip dengan fungsi sekularisme tahun 70an sebagai penjinak fundamentalisme. Mulanya para peserta merespon dengan datar-datar saja. “Moderate” artinya tidak berlebihan ghuluww (ekstrim) dalam menjalankan agama. Bagi Professor Bedoui Abdelmajid, dari Tunis moderat dalam Islam tercermin dalam keimanan, peribadatan, hubugan sosial, tradisi dan dalam pemikiran maupun dalam kehidupan nyata.

Tapi masalahnya menjadi krusial ketika Angel Rabasa, wakil dari Rand Coorporation Amerika Syerikat mendefinisikan. Muslim moderat adalah yang mau menerima pluralisme, feminisme dan kesetaraan gender, demokratisasi, humanisme dan civil society. Dr.Sohail Mahmud dari Pakistan menganggap definisi Rabasa itu sarat dengan kepentingan Barat. Azzam Tamimi, Direktur TV al-Hiwar London, menolak definisi itu dan menegaskan bahwa mayoritas Muslim menurut kriteria Islam adalah moderat meskipun tidak setuju dengan pluralisme, feminisme, humanisme dsb.

Saya pun ikut merespon. “Pengertian anda itu sekarang di Indonesia disebut dengan “Islam Liberal”, mestinya anda tahu itu. Dan “Islam Liberal” di Indonesia itu tidak moderat tapi ekstrim. Jika anda katakan “Islam liberal” adalah moderat maka konsekuensinya mayoritas umat Islam yang tidak liberal, termasuk NU dan Muhammadiyah, adalah fundamentalis, ekstrimis dan tidak moderat.

Masataka Takeshita, Professor Studi Islam dari Universitas Tokyo segera bertanya, apa yang anda maksud “Islam liberal”? saya katakan “Islam Liberal” itu terlalu kontekstual, artinya cenderung menafsirkan Islam hanya untuk menjustifikasi konsep-konsep dalam konteks masyarakat Barat. Contohnya, di kalangan liberal ada yang menafikan hukum Tuhan (syariah), mempersoalkan otentisitas al-Qur’an, menyoal otoritas ulama agar kemudian dapat menghalalkan homoseks dan lesbi, nikah beda agama dsb. Rabasa tetap pada pendiriannya, tapi diluar forum terus terang dia terkejut dan tidak percaya jika ada orang liberal Indonesia yang setuju dengan homoseks dan lesbi. I will check it, katanya.

Rabasa tak bergeming karena pasca 9/11, Rand Coorporation giat menjual “Islam moderat”. Setelah American Journal of Islamic Social Sciences mengangkat tema ini secara serial lima tahun lalu, petanya semakin jelas. sedikitnya ada tiga kelompok: anti-Islam, Barat dan Islam.

Definisi Islam moderat yang anti Islam dalam dilihat pada situs “muslimsagainstshariah”. Disitu ditulis begini diantaranya: tidak anti bangsa semit, menentang kekhalifahan, kritis terhadap Islam, menganggap Nabi bukan contoh yang perlu ditiru, menentang jihad, pro Israel atau netral, tidak berreaksi ketika Islam dan Nabi Muhammad dikritik, menentang pakaian Islam, syariah, dan terrorisme. Andrew McCarthy dalam National Review Online, August 24, 2010 malah tegas-tegas menyatakan siapapun yang membela syariah tidak dapat dikatakan moderat. (no one who advocates shariah can be a moderate). Kedua pengertian ini sungguh-sungguh tidak moderat.

Islam moderat dalam perspektif Barat hampir seragam. Rabasa, Graham E Fuller dan Ariel Cohen sudah seperti ijma. Muslim moderat, kata Fuller adalah yang menolak literalism dalam memahami kitab suci, tidak monopoli penafsiran Islam dan menekankan persamaan dengan agama lain dan bahkan tidak menolak kebenaran agama lain. Inilah yang ditirukan orang liberal di Indonesia. Fuller bahkan ngelantur moderat adalah yang mendukung kebijakan dan kepentingan Amerika dalam mengatur dunia. Senada tapi lebih ekstrim lagi, Ariel Cohen mengartikan moderat sebagai menghormati hak menafsirkan al-Qur’an, hak menyembah Allah dengan caranya sendiri, atau tidak menyembah atau bahkan tidak percaya. Lagi-lagi ini alam pikiran kelompok “Islam Liberal” yang kental bau orientalismenya.

Definisi Rabasa, Graham maupun Cohen memang benar-benar liberal. Dan mungkin bagi orang liberal itu biasa dan “nothing wrong”. Tapi yang justru menemukan kesalahannya adalah John L Esposito. Dengan bijak dan adil dia kritik begini: pertama jika definisi Barat itu diterima maka Muslim konservatif dan tradisionalis menjadi tidak moderat. Selain itu jika seorang wanita Muslim memimpin Sholat Jumat menjadi kriteria moderat, maka banyak orang Kristen, Yahudi dan penganut agama lain termasuk Paus John Paul II yang patrialistik itu justru tidak masuk kriteria moderat.

Louay Safi dan Ubid Ullah Jan tokoh Muslim di Canada, memiliki kesan yang sama. Pengertian moderat yang pro-Barat ataupun yang anti Islam sama saja. Seorang Muslim belum dianggap moderat jika belum menolak al-Qur’an secara publik. Tapi masalahnya, menurut Esposito jika untuk menjadi moderat orang harus mengingkari kitab sucinya, maka Yahudi moderat juga harus mengingkari kitab sucinya yang menjadi penyebab klaim negara Israel dan pendudukan tanah Palestina. Itu kesalahan yang kedua.

Kerancuan lain juga ditemukan Safi. Menurutnya pengertian “Muslim moderat” di Barat adalah “a person who is not comfortable with his/her Islamic roots and heritage, and openly hostile to Islam, and eager to transcend all Islamic norms”. Contoh yang nyata, katanya ada pada figur Irsyad Manji seorang feminis yang terkenal mengkritik Syariah (bukunya The Trouble with Islam: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith), tapi pada saat yang sama mengaku sebagai pelaku lesbi. Anehnya figur seperti ini oleh Barat dianggap sebagai “the voice of moderation”.

Bagi Muqtedar Khan, cendekiwan Muslim asal Canada moderat itu adalah yang berfikiran terbuka, kritis, menghormati semua orang, bermoral, beramar ma’ruf nahi munkar (QS 5:48; 3:110), tidak ada intimidasi dan kekerasan. Sahabatnya Ubid Ullah Jan, menambahi Muslim yang menolak ketidak adilan atau Muslim yang hidupnya hanya untuk ibadah masih dianggap moderat. Tentu semua itu tanpa kekerasan. Jadi, untuk mengalahkan radikalisme tidak perlu liberalisme dan agar menang melawan hegemoni kolonialisme Barat tidak perlu ekstremisme. Kebajikanlah yang akan mengalahkan kejahatan atau kekerasan, vincit vim virtus. Wallahu a’lam

Sumber: insistnet.com (18/5/2011)

Revolusi Prematur dunia Islam

Revolusi Prematur Dunia Islam
Tidak ada kawasan di dunia yang bergejolak sepanas dan semenarik Timur Tengah. Selama beberapa bulan belakangan dunia menatap dengan serius dan penuh kecemasan terhadap gelombang revolusi di kawasan tersebut. Ada keyakinan bahwa angin perubahan yang terjadi di negeri-negeri itu dapat mempengaruhi wajah dunia.

Ketertarikan dan kecemasan dunia, khususnya Barat, terhadap pergolakan di wilayah Timur Tengah jelas beralasan. Sebutlah faktor minyak. Gejolak politik di Libya sudah mengubah harga minyak dunia dari 80 dolar menjadi 110 dolar perbarel. Minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di harga US$ 116,44 perbarel. Kenaikan ini mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Adapun minyak mentah sewwt crode berada di level US$ 104,88 perbarel.

Namun, yang paling menarik sekaligus mencemaskan pihak Barat adalah ketakutan seandainya angin perubahan di jantung Dunia Islam itu bergerak menuju kebangkitan umat Islam. Barat khawatir revolusi itu sanggup mentransformasikan Dunia Islam sekarang yang carut-marut dan berada dalam dominasi menjadi sebuah kekuatan baru: Khilafah Islamiyah.

Apakah pergolakan di kawasan Timur Tengah itu memang tengah membalikkan pendulum politik ke arah kebangkitan Islam? Perlu telaah mendalam terhadap rentetan revolusi di kawasan tersebut.



Rezim-Rezim Korup dan Represif

Menimbang revolusi di negeri-negeri muslim, hipotesis Lord Acton seperti menemui kebenarannya; power attends to corrupt, absolute power corrupt absolutely. Para rezim negeri Muslim rata-rata sudah berkuasa puluhan tahun dan mencengkeram penuh semua lini kehidupan serta untouchable. Mereka membungkam lawan politik dan menguasai kekayaan negara nyaris tanpa batas. Kondisi inilah yang menjadi bahan bakar api revolusi di kawasan Timur Tengah; korupsi yang menggila dan tindakan represif tanpa batas.

Rezim Mubarak yang sudah memimpin Mesir lebih dari 30 tahun telah menumpuk kekayaan luar biasa. Belakangan, setelah dihitung, aset Mubarak mencapai US$ 70 miliar atau setara dengan Rp 630 triliun. Sebagian besar di antaranya disimpan di sejumlah bank Swiss atau diinvestasikan untuk real estate di New York, Los Angeles, serta London. Kekayaan senilai 70 miliar dolar AS itu menempatkan Mubarak di posisi orang terkaya di dunia dengan menyisihkan pengusaha Meksiko, Carlos Slim Helu, dengan kekayaan senilai 53,5 miliar dollar AS serta pendiri Microsoft, Bill Gates, orang terkaya di AS dengan kekayaan mencapai 53 miliar dollar AS. Mubarak mengumpulkan kekayaan dengan mengatur kewajiban bagi pengusaha asing untuk menyerahkan 51 persen saham dari sebagian besar usaha ke kalangan bisnis lokal. Yang dimaksud pebisnis lokal sudah pasti Mubarak dan keluarganya.

Suzanne, istri Mubarak, memiliki rekening untuk penampungan dana yang diperoleh dari bantuan asing untuk perpustakaan Alexandria. Mubarak memberikan mandat sepenuhnya kepada Suzanne untuk mengurus perpustakaan itu. Dalam semua rekening atas nama Suzanne ada total uang sekitar 145 juta dollar AS. Suzanne masih punya beberapa rekening lain di bank lain di Mesir.

Anak-anak Mubarak juga mendapatkan bagian kekayaan dari perekonomian negerinya. Gamal memiliki beberapa rekening di Bank Al-Ahli, masing-masing bernilai 500.000 dollar AS dan 45,736 juta pound Mesir (sekitar 7,5 juta dolar AS), 41,856 juta pound Mesir (sekitar 7 juta dolar AS) dan 10,456 juta pound Mesir (sekitar 1,8 juta dolar AS).

Alaa memiliki beberapa rekening di Bank Al-Ahli, masing-masing berisi dana 70 juta pound Mesir (12 juta dolar AS), 10 juta pound Mesir (1,7 juta dolar AS) dan 10 juta pound Mesir. Alaa masih mempunyai beberapa rekening dalam bentuk dolar dan euro. Sebagian besar kekayaan Alaa dan Gamal didapat dari upeti sebagai broker untuk para investor asing yang berinvestasi di Mesir.

Manipulasi kekuasaan yang menciptakan korupsi juga terjadi di Libya. Rezim Qaddafi, yang sering tinggal di tenda untuk mencitrakan dirinya ‘merakyat’, sama tamaknya. Doug Saunders, jurnalis Kanada, dalam artikelnya di The Globe Mail yang bertajuk. “The Business of Doing Business in Gadhafi’s Oil Kingdom” menguak rahasia kekayaan keluarga rezim yang telah berkuasa selama 41 tahun itu. Dalam tulisannya, peraih tiga National Newspaper Award—penghargaan jurnalistik Kanada yang setara dengan Pulitzer di Amerika Serikat—itu coba membuka sejumlah fakta di balik sepak terjang Qaddafi sebagai pemimpin sekaligus pengusaha sukses. Selama memimpin Libya, konon Qadhafi mampu menimbun harta yang ditaksir mencapai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp 180 triliun.

Angka ini tentu tidak terlepas dari produksi minyak Libya yang mencapai kisaran 1,6 juta barel perhari. Bekal itu, kata Saunders, yang kemudian dimanfaatkan Qaddafi sebagai alat tawar-menawar dengan investor asing. ‘’Dan pada akhirnya, para investor dari luar Libya menjalin kerjasama dengan kerajaan aneh itu (keluarga Qaddafi). Mereka semua dapat hidup mewah dengan syarat menutup mulut,’’ katanya.

Tidak hanya menguasai sektor hulu minyak atau produksi, keluarga Qaddafi juga memiliki usaha di hilir yang meliputi bidang distribusi, penjualan ritel dan penyimpanan minyak. Sejumlah pusat pengisian bahan bakar di Eropa menjadi kepanjangan tangannya. Pada tahun 1988 Qaddafi mendirikan Tamoil, perusahaan produksi dan penjualan minyak Eropa yang memiliki nama resmi Oilinvest (Netherlands) BV Group dan berkantor pusat di Ridderkerk, Belanda.

Tamoil mempunyai kilang minyak di Cremona (Italia), Hamburg (Jerman) dan Collombey (Swiss) serta berbagai pusat distribusi di Italia, Jerman, Swiss, Belanda, Spanyol, Siprus dan Monako. Di Belanda saja, Tamoil mempunyai 160 stasiun pengisian bahan bakar. Di Eropa, Tamoil mengoperasikan 2.811 stasiun pengisian bahan bakar yang sebagian besar berada di Italia, menjadikan dia pemain minyak nomor satu di negeri Pizza itu.

Italia tercatat mengambil 38 persen ekspor minyak Libya dan tentu saja sebagian mengalir ke pengilangan Tamoil di Cremona. Dari distribusi minyak di benua biru, Tamoil mampu menghasilkan keuntungan sebesar 7,5 miliar dolar AS pertahun. Sebagian keuntungan itu tentu saja mengucur ke kas keluarga Qaddafi.

Dengan kekayaan yang berlimpah itu, keluarga sang Kolonel gemar berfoya-foya. Qaddafi gemar mengoleksi mobil mewah. Salah satunya yang diklaim sebagai mobil teraman di dunia dinamakan The Saroukh el-Jamahiriya (Roket Libya). Dinamakan demikian, karena bodi mobil dibuat dengan desain menyerupai roket. Mobil ini berkapasitas lima penumpang dan menggunakan mesin V6/230 horse power. Interiornya dilengkapi jok kulit dan karpet khas Libya. Diperkirakan, mobil ini dijual sekitar 2 Juta Euro pada 1999 silam.

Anak-anak Qadhafi juga kerap mengadakan private party dengan mengundang selebritis Hollywood. Pada perayaan tahun baru 2010, Mutasim-Billah, putra Muammar Qaddafi, menghadirkan penyanyi seksi Beyonce Knowless dengan bayaran USD 1,2 juta (sekitar Rp 10,9 miliar).

Pada pesta yang dihadiri sejumlah selebriti Hollywood seperti Jon Bon Jovi, Usher, Lindsay Lohan, tuan rumah menyuguhkan minuman keras dan ikutan mabuk. Sang penyanyi, Beyonce tampil dengan pakaian seksi menghibur mereka. Selain untuk Beyonce, keluarga Qaddafi juga menghamburkan jutaan dolar untuk mendatangkan pesohor Hollywood lain seperti Nelly Furtado dan Mariah Carey.

Kehidupan glamor dan bergelimang kekayaan para rezim itu kontras dengan kehidupan rakyat mereka. Di Mesir jutaan rakyat Mesir hidup dalam kemiskinan dan menghuni wilayah kumuh yang tidak jauh dari Tahrir Square yang telah menjadi simbol revolusi rakyat Mesir. Masyarakat miskin di daerah kumuh perkotaan Mesir tinggal di komplek pekuburan. Ada lebih dari 50 kuburan di Kairo, baik kuburan Muslim maupun Kristen. Semua kuburan itu dihuni oleh beberapa juta rakyat miskin. Ada lima kuburan utama di Ibukota, termasuk Pemakaman Utara, pemakaman Bab el-Nasr, Pemakaman Selatan, Pemakaman Besar, dan pemakaman Bab el-Wazir menjadi tempat tinggal warga miskin Mesir. Kelima pemakaman utama di ibukota tersebut dikenal sebagai “Kota Mati.”

Kemiskinan juga membelit kehidupan sebagian rakyat Libya meski negerinya bergelimang minyak dan tergolong sebagai negara dengan pendapatan perkapita tinggi. Bank Dunia mencatat, lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Libya diperoleh dari industri minyak dan gas. Pada 2009, PDB Libya sebesar US$ 62,36 miliar. Dengan penduduk yang hanya 6,4 juta, pendapatan perkapita negeri itu US$ 12.020. Sangat tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia yang pada 2010 saja baru US$ 3.000.

Akan tetapi, sepertiga rakyat Libya berada di garis kemiskinan. Banyak warga Libya yang memiliki dua pekerjaan untuk menyambung hidup. Sekitar 50 persen dari total penduduk, atau sekitar hampir 6 juta jiwa, adalah di bawah usia 20 tahun. Mereka frustrasi melihat peluang kerja yang kian sempit karena seperlima lapangan kerja dipegang ekspatriat dari sejumlah negara. Hampir 10 persen penduduk Libya hidup di bawah garis kemiskinan, terutama di perkotaan yang mencapai 88 persen dari total penduduk.

Cerita tentang rezim Timur Tengah yang lain setali tiga uang. Di jalanan Riyadh mobil-mobil mewah seharga jutaan dolar milik keluarga Kerajaan mendesing di atas kemiskinan rakyat Saudi. Tidak aneh, mereka menumpuk kekayaan karena semua konsesi pertambangan di Arab Saudi otomatis milik keluarga Kerajaan melalui perusahaan pertambangan Aramco. Keluarga Kerajaan juga kerap menghabiskan uang dan liburan mereka di tempat-tempat maksiat di Eropa dan Amerika Serikat. Wikileaks pernah membocorkan pesta rahasia pangeran Saudi dari Keluarga ath-Thunayan. Minuman keras, narkoba dan pelacur beredar di tengah pesta.

Pada tahun 2002, seorang pangeran Saudi yang bernama Nayef bin Fawwaz al-Shalaan dilaporkan oleh Drug Enforcement Agency di Miami, membawa 2 ton kokain senilai US$ 15 juta dari Kolombia ke sebuah bandara di luar Paris, menggunakan status diplomatik dan sebuah jet 727 milik keluarga Kerajaan. Cucu pendiri Kerajaan Arab Saudi ini hingga kini menjadi buronan interpol, tetapi bisa tinggal dengan nyaman di Saudi karena perlindungan keluarga Kerajaan.1

Sebaliknya, kemiskinan menjerat banyak rakyat Saudi. Secara resmi, pemerintah Saudi menyatakan angka pengangguran ‘hanya’ 8%. Akan tetapi, pengamat ekonomi menyatakan pengangguran di Saudi bisa mencapai 25%, dengan pertimbangan masih banyak anak muda yang tinggal dengan orang tua mereka.

Di hampir semua kawasan di Timur Tengah, kondisinya serupa. Dari Tunisia hingga Maroko, para rezim mabuk kekuasaan dan menumpuk kekayaan untuk dinasti mereka sendiri. Lalu mereka mengeluarkan kebijakan tangan besi untuk mengamankan kekuasaan dan kekayaan mereka. Rezim Saudi, misalnya, menindak tegas para ulama dan khatib yang mengkritik keluarga kerajaan, termasuk membungkam para ulama yang mengkritik kebijakan raja yang pro AS dan sekutunya. Pada tahun 2009, polisi Saudi menangkap seorang dosen di Universitas King Khaled yang bernama Syaikh Awad al-Qarni karena mengeluarkan fatwa mendukung Palestina dan anti-Israel. Hanya mereka yang berasal dari klan Wahabi dan mau menjilat keluarga Kerajaan yang diperbolehkan menjadi khatib dan imam mesjid.

Rezim Qaddafi bahkan tidak segan mengeksekusi dengan kejam para penentangnya, termasuk para juru dakwah yang menyerukan penegakkan syariah dan Khilafah. Pada tahun 1983, Qaddfi memerintahkan militer untuk menghukum mati 14 syabab Hizbut Tahrir. Sebagian dari mereka dieksekusi di tempat mereka bekerja; di kampus dan di sekolah tempat mereka mengajar sambil disaksikan mahasiswa dan murid-murid mereka.



Prematur dan Miskin Visi

Melihat realitas akar penyebab revolusi di Timur Tengah, sebenarnya gelombang yang terjadi jauh dari visi yang jelas. Tuntutan perubahan hanya bersifat emosional menuntut kesejahteraan dan keadilan, serta kebencian terhadap rezim lama. Akibatnya, arah perubahan yang dituntut menjadi tidak jelas. Meski ada dorongan ke arah Islam, revolusi tenggelam dalam hiruk-pikuk emosional. Bahkan yang mencuat ke permukaan serta menjadi headline banyak media massa adalah tuntutan menuju demokratisasi.

Pada tahap inilah kemudian terjadi pembajakan arah perubahan. Barat yang sebenarnya telah lama memainkan perannya dalam merawat rezim-rezim lama, kembali men-drive arah perubahan yang pastinya tetap menjaga kepentingan mereka. Mesir dan Tunisia adalah contoh nyata. Pasca tumbangnya Mubarak, kekuasaan justru dipegang Dewan Militer. Nama yang mengemuka ke permukaan sebagai pengganti Mubarak justru mereka yang dekat dengan Barat, khususnya AS, yakni Omar Suleiman dan El-Baradei. Nama pertama adalah tangan kanan Mubarak dalam intelijen serta pernah dilatih khusus oleh CIA. Adapun El-Baradei adalah kepala badan PBB dan bekerja di badan nuklir dunia IAEA—lembaga internasional yang notabene banyak dimanfaatkan oleh negara-negara Barat. Tragisnya, pasca revolusi, militer Mesir—meski tampak berusaha mengakomo-dasi kepentingan masyarakat—justru mengambil kebijakan untuk melarang demonstrasi lagi.

Pemerintahan baru Tunisia malah mengambil kebijakan lebih represif. Setelah tergulingnya presiden Ben Ali, semua partai berlandaskan Islam malah dilarang. Pemerintah Tunisia mengatakan bahwa mereka tidak akan memberikan status hukum kepada lima partai politik, tiga di antaranya dalam kelompok agama, termasuk Hizbut Tahrir. Selain Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan), Partai As-Salam (Perdamaian), Partai Kebebasan Populer Demokrat, Partai Sunni Tunisia dan juga Partai Demokrat Liberal Tunisia tidak mendapat pengesahan. Alasannya, mereka telah melanggar ketentuan undang-undang tentang partai politik tahun 1988, kata pernyataan kementerian pemerintah.

Dari serangkaian revolusi yang terjadi di Timur Tengah, terdapat pelajaran berharga bahwa sebuah perubahan nyata tidak akan terwujud hanya dengan mengandalkan kebencian pada rezim semata, atau karena ketidakadilan ekonomi. Perubahan yang kini harus dilakukan adalah perubahan yang mendasar, yakni mencabut akar persoalan umat dan melakukan perubahan sistemik.

Untuk itu diperlukan konsep yang jelas perubahan menuju kehidupan Islam. Tidak ada kompromi dengan ideologi lain dan pihak lain yang ingin mengail di air keruh. Masuknya andil asing (Barat) ke dalam arus revolusi di Timur Tengah adalah akibat dari ketiadaan konsep perubahan yang jernih serta sikap berkompromi dengan berbagai pihak dan kepentingan. [Iwan Januar]

Wednesday, May 11, 2011

Jadikan Hidup Lebih bermakna

JADIKAN HIDUP LEBIH BERMAKNA
(Tulisan Rini A. Peserta Mentor FM Plus )

Banyak orang yang berekspresi dan berujar "Hidup itu indah" bagi yang jatuh cinta, "Hidup itu bikin orang sengsara" bagi yang bermasalah, "Hidupku sudah gak ada artinya" bagi orang yang gagal. Pertanyaannya bagaimana caranya membuat semua orang itu hidupnya bermakna? Let's check this out sehingga semua orang mendapat efek positifnya.

Hal ironis didengar ketika masih ada seorang guru bertanya kepada muridnya tentang makhluk hidup yang kemudian dijawab luar biasa oleh muridnya dan guru itu seolah-olah meragukan anak itu, "kok bisa?", itu jawabnya. "Anak-anak coba sebutkan yang termasuk makhluk hidup?" Semua mengacungkan tangan seraya jawabannya pun kompak "hewan dan manusia". "Iya betul", jawab sang guru. Satu lagi anak menyahut "Saya Pak bisa, selain hewan dan manusia, tumbuhan juga makhluk hidup." "Loh kok bisa?", sanggah Sang guru. "Iya Pak, dia tumbuh dan berkembang. Berarti dia makhluk hidup", tukas si anak. "Kok pinter kamu diajari siapa?", Tanya guru keheranan padahak dia baru saja duduk di kelas 1. "Tahu dari alam yang diciptakan Alloh, jawabnya". Pada akhirnya seorang guru itu pun diam dan mengakui kecerdasan anak itu.

Sobat apapun yang diindera oleh kita ketika dia tumbuh dan berkembang, baik itu tumbuhan, hewan, dan manusia semua adalah makhluk hidup, semua sama-sama mencari makan dan minum, butuh oksigen, butuh berekosistem, dan lain sebagainya. Secara biologis semua aktivitas manusia, hean dan tumbuhan tidak jauh beda. Adapun penampakan sesuatu yang hidup dengan sesuatu yang mati. Sobat coba perhatikan sebuah sungai yang di situ terdapat bermacam-maacam benda, ada ikan, batu, bahkan sampah sekali pun jadi satu. Aliran sungai tetap mengalir, tapi yang namanya ikan dia gak bakalan ngikut air sungai itu terus ketika dia hidup meski sesekali dia ikut, pasti kita akan jumpai ikan-ikan tersebut mempunyai gerakan khas untuk melawan arus-arus itu sederas apapun.

Pertanyaan yang dapat kita simpulkan dari fenomena ini adalah bagaimanakah model atau cara khas yang bisa kita tonjolkan untuk mengalami kehidupan ini? Sudahkah kita menunjukkan seseorang yang hidup atau apakah sebaliknya. Kalau demikian kita gak jauh beda dengan benda mati. Untuk lebih jelasnya apakah selama ini kita mempunyai gerakan yang khas yang mempunyai arah, tujuan. Maka inilah yang dinamakan hidup secara biologis, makhluk berkembang biak, bergerak, dan tumbuh.

Satu pelajaran lagi yang dapat kita ambil dari koloni-koloni semut. Mereka saling bekerja sama, berkelompok untuk mendapatkan makanan. Begitu juga manusia, mereka adalah makhluk social yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Pasti anda sering mendengar seseorang yang sedang marah berkata " Ah..Aku gak butuh kamu lihat saja nanti", atau orang yang berputus asa berkata " Alloh gak adil.. kenapa aku kok miskin terus" sepintas tanpa sadar kata-kata itu terucap tapi pembuktian itu tidak dapat mereka lakukan tanpa pertolongan Alloh. Sobat, sombonglah kita kalau ngejudge bahwa kita gak butuh bantuan kawan lebih-lebih Sang Maha Pembuat hidup.

Sobat, satu lagi yang sering dilupakan, kata syukur itu sebenarnya gak berat terucapkan, tetapi realisasi setelah manusia itu enjoy dengan keberadaan di dunia beserta isinya maka jarang sekali kata syukur itu terlontar setidaknya untuk memaknai rasa terimakasih terhadap apa-apa yang Alloh berikan. Secara teori terkadang kita nyadar kalau manusia itu makhluk sempurna dibanding hewan, diberi akal untuk membedakan mana yang haram dan halal, mana yang boleh atau tidak boleh dilakukan, diperintah untuk melaksanakan seluruh perintah Alloh termasuk didalamnya mencari tahu ilmu Alloh agar bisa melaksanakan seluruh perintahNya, dan memenuh seluruh potensinya sesuai dengan aturan-aturan Alloh.

Manusia diciptakan Alloh tidak hanya dilepas begitu saja seperti halnya kambing-kambing dipadang rumput yang bebas kemana saja, tetapi mereka dibekali aturan-aturan Alloh yang musti dilakukan agar terselamatkan selama dia hidup di dunia yang nantinya akan berlanjut ke akhirat. Kedaulatan ada di tangan syara' dan mutlak dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh manusia di dunia. Berbeda dengan hewan, dalam kehidupannya mereka tidak diatur secara formalitas, maka hukum rimba pun berlaku disini, yang kuat itulah yang menang dan berkuasa. Kalau pun masih ada segolongan orang-orang yang seperti ini, maka mereka tidak jauh beda dengan hewan Na'udzubillah... Semoga kita selalu menjadi orang-orang yang selalu diberi petunjuk.

Dalam hidupnya hewan semata memenuhi kebutuhan fisik dan naluirinya, sementara manusia dalam hidupnya disamping memenuhi kebutuhan fisiknya, juga berupaya untuk meraih 4 nilai dalam kehidupan, yaitu nilai ruhiyah yaitu dengan menunaikan ibadah mahdah kepada Alloh (sholat, puasa, mengaji, haji, zakat, dll), nilai khuluqiyah ( berkasih sayang dengan saudara seakidah, menghormati orang tua, dll), nilai insaniyah (peduli kepada sesame manusia tanpa pandang bulu siapa pun mereka, saling mengingatkan dan menguatkan dalam kebaikan, dll), nilai materi/madiah dengan mendapatkan rizki sesuai dengan hukum-hukum Alloh. Semua nilai itu bisa tercapai hanya dengan melakukan seluruh hukum islam tanpa perlu tahu tentang teori nilai-nilai tersebut. Satu-satunya cara dengan menerapkan dan melaksanakan seluruh aturan islam serta menjadikan hidup ini untuk beribadah. Sebagaimana firman Alloh :

" Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya". (ath-Thur [52]: 21)

Tidaklah Alloh memerintah dan mengatur manusia tanpa balasan, barangsiapa yang mentaatinya maka jannah menunggu di akhirat sana. Alloh berfirman
"Dan barangsiapa yang menta'ati Alloh dan RosulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang soleh.Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (TQS. An Nisa [4]:69)

Balasan bagi orang-orang yang berbuat baik (al-Abrar) dan sesuai dengan aturan syariat. Alloh berfirman:
"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." (TQS. Yunus [10]: 26)

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di ndalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya 9demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka." (TQS. Ar Ra'd [13]: 35)
Itu adalah beberapa janji-janji Alloh bagi orang-orang yang lurus senantiasa melaksanakan aturan-aturanNya, termasuk di dalamnya adalah menolong agamaNya/berdakwa. Sebaliknya, bila hidup manusia tidak sesuai dengan aturan-aturan Alloh nestapalah dia baik di dunia maupun akhirat. Alloh berfirman " Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik." QS. Al-Hadid [57]:16)

Ayat tersebut benar-benar peringatan bagi mereka yang tidak mau hidupnya terikat dengan dengan aturan-aturan Alloh, mereka yang suka berkehendak dan membuat aturan hidupnya sendiri. Kapan lagi ketaatan, kepatuhan dan ketundukan manusia itu dilakukan kalau bukan sekaranglah waktunya! Belum tentu esok pagi Alloh memberi kesempatan kita untuk bernapas lagi, bisa jadi nanti pun Alloh mengambil nyawa kita. Dia berhak atas segala-galanya, karena Dialah Sang Maha Pencipta. Sebelumnya kita semua juga diingatkan oleh Rasululloh SAW:

" Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: apakah yang kalian nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia adalah sejele-jelek yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan." (HR. At turmudzi)

Sobat, maka tanpa harus berpikir panjang, ketika kita terlahir islam maka saat itu jugalah Alloh membeli jiwa dan harta kaum muslimin. Semua yang kita punya pasti akan kembali, karena hidup ini bak musafir yang mampir sebentar untuk minum dan nantinya akan berpulang dengan segala amal yang kita lakukan di dunia fana ini. Jangan khawatir, tidak ada ruginya ketika kita berbisnis di jalan Alloh. Maka kepalkan tangan hapus semua tinta hitam, buka lagi lembaran baru, anda tuliskan, yakinkan diri, bahkan jalankan bahwa mulai detik ini hidupku, ibadahku, matiku hanya untuk Alloh semata. Maka hidup akan bermakna bila kita hidup dibawah perintah dan semua hukum-hukum Alloh.

Monday, May 9, 2011

Negara Islam Bukan Ancaman dan Bukan Ide Kampungan

Negara Islam Bukan Ancaman dan Bukan Ide Kampungan !

Negara Islam yang menerapkan syariah Islam yang rahmatan lil ‘alamin bukanlah ancaman, justru kapitalisme lah ancaman nyata bangsa ini.

Isu Negara Islam kembali ramai dibicarakan. Beberapa teror bom disebut-sebut dilakukan kelompok yang mengatasnamakan NII (Negara Islam Indonesia). Meskipun belum bisa dipastikan kebenarannya , kelompok ini diduga terlibat cuci otak beberapa mahasiswa yang tiba-tiba menghilang. Termasuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan dana .

Beberapa media pun dengan gencar mengopinikan bahaya mendirikan negara Islam yang dikatakan menj adi tujuan kelompok ini. Perjuangan mendirikan negara Islam dianggap membahayakan Indonesia dan menjadi ideologi kelompok teroris.

Ironisnya , salah seorang petinggi partai yang dulu mengklaim partai Islam dan sekarang sudah menjadi partai terbuka (sekuler) , menyatakan ide negara Islam adalah kampungan.

Adalah penting bagi kita untuk memahami , perjuangan mendirikan negara Islam sesungguhnya adalah perjuangan yang mulia. Sebab negara Islam, dalam pengertian negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah adalah kewajiban syar’i. Sebab , tanpa ada negara yang didasarkan kepada Islam, kewajiban menerapkan seluruh syariah Islam, yang menjadi konsekuensi keimanan seorang muslim, mustahil bisa dilakukan.

Sebab, banyak hukum syariah Islam yang membutuhkan institusi politik yang sekarang disebut negara. Hukum syariah Islam yang berkaitan dengan hudud seperti potong tangan bagi pencuri,rajam bagi pezina, tentu membutuhkan institusi politik atau otoritas yang legal atau negara.

Demikian juga menerapkan kebijakan mata uang yang didasarkan pada dinar dan dirham (berbasis emas dan perak), pendidikan dan kesehatan gratis, pengaturan pemilikan umum (milkiyah ‘amah) seperti barang tambang yang melimpah (emas, minyak, batu bara) harus dikelola negara , tidak boleh diberikan kepada swasta asing, dan hasilnya harus digunakan untuk kepentingan rakyat, tentu membutuhkan otoritas negara.

Imam Abul Qasim Al-hasan bin Muhammad bin Habib bin Ayyub Asy-syafi’I An-naisaburi, menjelaskan “…umat telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khitab (”maka jilidlah”) adalah imam. Dengan demikian mereka berhujjah atas wajibnya mengangkat imam. Sebab, apabila suatu kewajiban itu tidak sempurna tanpa adanya sesuatu tersebut maka ada sesuatu tersebut menjadi wajib pula”(Tafsir An-naisaburi, juz 5 hal 465)

Kewajiban membangun otoritas politik seperti inilah yang oleh para ulama disebut imamah atau khilafah, amirul mukminan yang makna sama. Syeikh Muhammad Abu Zahrah menjelaskan Khilafah adalah imamah al-kubra (imamah yang agung). Disebut khilafah karena yang memegang dan yang menjadi penguasa yang agung atas kaum Muslim menggantikan Nabi SAW dalam mengatur urusan mereka. Disebut imamah karena khalifah itu disebut Imam. Karena ta’at padanya adalah wajib. Karena manusia berjalan di belakang imam tersebut layaknya mereka shalat dibelakang yang menjadi imam shalat mereka” (Tarikh Al-madzahib Al-islamiyyah, juz I hal 21)

Kewajiban imamah atau khilafah ini berdasarkan kepada al Qur’an , As Sunnah dan ijma’ush shohabah, dimana kewajiban ini disepakati oleh para ulama. …”. Imam Mansur bin Yunus bin Idris Al-bahuti Al-hanafi menjelaskan : “…(mengangkat Imam yang agung itu) atas kaum Muslimin (adalah fardhu kifayah). Karena manusia membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), menjaga konsistensi (agama), penegakan had, penunaian hak serta amar ma’ruf dan nahi munkar (Kasyful Qina’ an Matnil Iqna’, juz 21 hal. 61)

Syariah Islam yang diterapkan dalam Daulah Islam (negara Islam) yang disebut Khilafah , bukanlah merupakan ancaman bagi masyarakat. Bagaimana mungkin syariah Islam yang berasal dari Allah SWT yang memiliki sifat ar rahman dan ar rahim disebut sebagai ancaman. Syariah Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah justru merupakan rahmatan lil ‘alamin, memberikan kebaikan kepada manusia baik muslim ataupun non muslim .

Bagaimana mungkin syariah Islam yang mengatur bahwa pendidikan dan kesehatan harus gratis bagi seluruh rakyat, negara wajib menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat (sandang, pangan, dan papan), hukuman yang tegas (hukuman mati) bagi pembunuh, larangan bughot (memisahkan diri) dari negara, barang tambang harus dikelola negara dengan baik dan hasilnya untuk kepentingan rakyat disebut mengancam masyarakat ?

Sesungguhnya sistem kapitalisme yang dipraktikkan oleh elit sekuler Indonesia sekarang inilah yang menjadi ancaman negara, musuh negara, karena membahayakan rakyat dan negara. Puluhan juta rakyat miskin, tingginya angka pengangguran, meluasnya kemaksiatan, perampokan atas nama privatisasi BUMN , investasi, dan pasar bebas, termasuk maraknya korupsi dan manipulasi merupakan dampak nyata dari penerapan sistem kapitalisme di negara kita.

Namun mendirikan negara Islam tentu bukan dengan cara-cara yang bertentang dengan syariah Islam seperti teror bom, mengkafirkan orang tua atau pihak lain , menganggap militer dan kepolisian sebagai ancaman atau kafir , cuci otak, penipuan atau perampokan. Semua itu jelas-jelas bertentangan dengan syariah Islam.

Cara seperti itu justru kontroproduktif dan dapat dimanfaatkan untuk memberikan stigma negatif terhadap Islam , negara Islam atau syariah Islam. Kalau cara-cara seperti itu dibiarkan atau dipelihara, kita tentu wajar curiga kalau semua itu memang sengaja dan direkaya , untuk menyudutkan Islam. Tujuannya, agar umat jauh dari Syariah Islam, sehingga penjajah kapitalisme tetap kokoh di negeri ini. (Farid Wajdi)

Thursday, May 5, 2011

Kunci Perubahan - Thalabun Nushrah

Thalabun-Nushrah: Kunci Perubahan

Pengantar

Banyak pelajaran penting yang dapat dipetik dari perubahan politik Timur Tengah belakangan ini. Dua pelajaran terpenting adalah: Pertama, pembentukan opini umum berlandaskan kesadaran umum ternyata kurang optimal. Perubahan yang ada tak konsepsional, tetapi cenderung emosional. Dengan kata lain, perubahan lebih banyak didorong oleh opini sesaat yang berlandaskan sentimen, bukan didorong oleh kesadaran akan pentingnya syariah atau Khilafah. Maka dari itu, agenda mendesak ke depan ialah bagaimana menggencarkan penyadaran di tengah-tengah umat sebagai landasan opini umum yang mendukung Khilafah.

Kedua: proses peralihan kekuasaan tidak menghasilkan kekuasaan baru sesuai tuntutan Islam. Negara Khilafah tak kunjung lahir, sementara demokrasi yang kufur tetap bercokol. Yang terjadi bukan pergantian sistem, melainkan sebatas pergantian rezim melalui mekanisme pemerintahan sementara untuk mempersiapkan Pemilu yang dipercepat di bawah kontrol Barat sepenuhnya. Dengan kata lain, proses peralihan kekuasaan dalam Islam melalui metode thalabun-nushrah tidak berjalan hingga kini. Ahlun Nushrah (pihak yang mampu memberikan kekuasaan) dari kalangan militer pun belum muncul, padahal eksistensi dan peran mereka mutlak untuk thalabun-nushrah, karena tanpa Ahlun Nushrah tak akan terjadi thalabun-nushrah. Maka dari itu, agenda mendesak ke depan ialah bagaimana melaksanakan thalabun-nushrah dari Ahlun Nushrah yang mampu mengambil alih kekuasaan untuk menegakkan Khilafah. Tulisan ini bertujuan menerangkan beberapa aspek terpenting yang terkait dengan thalabun-nushrah.



Pengertian dan Tujuan

Thalabun-nushrah adalah aktivitas mencari perlindungan dan kekuasaan yang dilakukan partai politik Islam pada penghujung tahapan kedua dakwah, yaitu tahapan berinteraksi dengan umat (at-tafa’ul ma’a al-ummah). Thalabun-nushrah bukanlah suatu tahapan (marhalah) dakwah, melainkan suatu amal (aktivitas) dakwah dalam suatu tahapan dakwah.

Thalabun-nushrah dilakukan pada saat masyarakat, khususnya para pemimpinnya, menolak penerapan Islam dalam kehidupan bernegara dan terjadi tindakan represif seperti penganiayaan terhadap para aktivis partai politik yang berjuang menegakkan Khilafah (M. Husain Abdullah, Ath-Thariqah asy-Syar’iyah li Isti’naf al-Hayah al-Islamiyah, hlm. 90).

Thalabun-nushrah mempunyai dua tujuan: Pertama, mendapatkan perlindungan (himayah) bagi para individu pengemban dakwah dan kegiatan dakwahnya. Misal, Rasulullah saw. mendapat perlindungan dari pamannya (Abu Thalib), atau Rasulullah saw. mendapat jaminan keamanan dari Muth’im bin Adi sepulangnya dari Thaif. Kedua, untuk mendapatkan kekuasaan (al-hukm) guna menegakkan hukum Allah dalam negara Khilafah. Misal, dulu Rasulullah saw. menerima kekuasaan dari kaum Anshar sehingga beliau kemudian dapat menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah (Manhaj Hizbut Tahrir, 2009, hal. 49; M. Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital, I/409).



Metode Mendirikan Khilafah

Thalabun-nushrah adalah thariqah (metode) yang tetap dan wajib dilaksanakan untuk menegakkan Khilafah. Jadi, thalabun-nushrah bukan uslub (cara) yang hukumnya mubah yang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi. (Ahmad Al-Mahmud, Ad-Da’wah ila al-Islam, hlm. 34).

Kewajiban thalabun-nushrah didasarkan pada teladan Rasulullah saw. dalam perjuangan beliau mencari perlindungan dan kekuasaan dari para kepala kabilah (suku) saat itu. Rasulullah saw. mulai melakukannya pada tahun ke-8 kenabian, khususnya setelah wafatnya paman beliau Abu Thalib dan istri beliau Khadijah, dan semakin meningkatnya gangguan fisik dari kaum Quraisy kepada beliau. Rasulullah saw. melakukan thalabun-nushrah kepada banyak kabilah, baik di kampung mereka maupun di tempat-tempat mereka saat musim haji di Makkah. Ibnu Saad dalam kitabnya At-Thabaqat menyebutkan 15 kabilah yang didatangi Rasulullah saw. dalam rangka thalabun-nushrah, di antaranya kabilah Kindah, Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Kalb, Bakar bin Wail, Hamdan, dan lain-lain. Kepada setiap kabilah Rasulullah saw. mengajak mereka untuk beriman dan memberi nushrah kepada beliau untuk memberikan kekuasaan demi tegaknya agama Allah. (M. Abdullah Al-Mas’ari, Al-Mana’ah wa Thalab an-Nushrah, hlm. 3-8).

Sungguh, upaya ini memang tidak mudah. Penolakan demi penolakan datang beruntun silih berganti. Namun, Rasulullah saw. tidak mengubah cara ini dengan cara lain dan terus memegang teguh cara ini dengan gigih walaupun sering menghadapi kegagalan dan penolakan. Ini merupakan qarinah (indikasi) yang jazim (tegas) bahwa thalabun-nushrah yang dilakukan Rasulullah saw. adalah suatu kewajiban dan perintah syar’i, yakni perintah dari Allah SWT, bukan inisiatif Rasulullah saw. sendiri atau sekadar tuntutan keadaan. Alhamdulillah, akhirnya Rasulullah saw. berhasil mendapatkan nushrah dari kaum Anshar pada tahun ke-12 kenabian yang menyerahkan kekuasaan mereka di Madinah kepada beliau (‘Atha bin Khalil, Taysir al-Wushul ila al-Ushul, hlm. 21; Ahmad al-Mahmud, Ad-Da’wah ila al-Islam, hlm. 35; M. Muhsin Radhi, Hizb at-Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu, hlm. 311).

Jelaslah, satu-satunya metode yang sahih untuk mendapatkan kekuasaan dan mendirikan Khilafah adalah thalabun-nushrah; bukan dengan cara-cara lain semisal mendirikan masjid, rumah sakit, sekolah; atau menolong kaum fakir-miskin dan mengajak pada akhlaqul karimah. Ini semua amal salih, tetapi bukan metode menegakkan Khilafah. Metodenya bukan pula dengan mengangkat senjata memerangi penguasa, atau dengan terjun ke politik praktis dengan masuk parlemen atau pemerintahan sekular, atau dengan pengerahan massa (people power) untuk menggulingkan kekuasaan. Semua cara ini adalah penyimpangan (mukhalafah) dari teladan thalabun-nushrah yang dicontohkan Rasulullah saw. untuk menegakkan Daulah Islamiyah (Ahmad al-Mahmud, Ad-Da’wah ila al-Islam, hlm. 37).

Thalabun nushrah-tidaklah identik dengan kudeta militer (al-inqilab al-‘askari). Thalabun-nushrah adalah aktivitas politik, bukan aktivitas militer. Jadi keliru kalau ada yang berpendapat thalabun-nushrah sama saja dengan kudeta militer. Yang benar, kudeta militer hanyalah salah satu cara (uslub)—bukan satu-satunya cara—yang dapat dilaksanakan oleh Ahlun Nushrah. Sebagai metode, thalabun-nushrah adalah langkah prinsipil yang tunggal dan tetap yang dilakukan oleh jamaah/harakah dakwah kepada Ahlun Nushrah demi peralihan kekuasaan. Adapun teknis peralihan kekuasaannya bergantung sepenuhnya kepada Ahlun Nushrah; boleh jadi dengan kudeta militer atau dengan cara lain yang damai, tergantung situasi yang ada. Bahkan dulu kaum Anshar memberikan kekuasaan kepada Rasulullah saw. dengan cara damai, karena memang saat itu kaum Anshar sendirilah yang sedang memegang kekuasaan (Hazim ‘Ied Badar, Thariqah Hizb at-Tahrir fi at-Taghyir, hlm.18).



Seputar Ahlun Nushrah

Ahlun Nushrah atau disebut juga Ahlul Quwwah artinya adalah al-qadirun ‘ala i’tha’ al-hukm, yaitu orang-orang yang berkemampuan untuk memberikan kekuasaan. Mereka bisa jadi adalah orang-orang yang sedang memegang kekuasaan, misalnya presiden atau panglima militer, atau bisa jadi tidak sedang memegang kekuasaan, namun memiliki pengaruh yang kuat kepada masyarakat, misalnya kepala kabilah, pimpinan partai politik, dsb (Abu Al-Harits, Thalab an-Nushrah, hlm. 1; M. Muhsin Radhi, Hizb at-Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu, hlm. 312).

Berdasarkan Sirah Nabi saw., dapat disimpulkan beberapa poin penting terkait Ahlun Nushrah. Pertama: Ahlun Nushrah haruslah sebuah kelompok (jama’ah), bukan individu. Sebab, Rasulullah saw. hanya meminta nushrah dari kelompok, bukan dari individu-individu, kecuali individu itu adalah representasi dari sebuah kelompok. Dulu Rasulullah saw. mendatangi kabilah Tsaqif di Thaif, yang kedudukan kabilah itu setara dengan negara. Beliau juga mendatangi kabilah Kalb sebagai kelompok yang kuat dalam sebuah negara. Beliau juga mendatangi Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah sebagai individu-individu yang merepresentasikan sebuah negara (M. Muhsin Radhi, Hizb at-Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu, hlm. 311-313).

Kedua: Ahlun Nushrah haruslah kelompok yang kuat, yakni berkemampuan menyerahkan kekuasaan, termasuk mampu mempertahan-kan Khilafah kalau sudah berdiri. Jadi thalabun-nushrah tak boleh berasal dari kelompok yang lemah. Dulu Rasulullah saw. pernah meminta nushrah dari kabilah Bakar bin Wail. Namun, Rasulullah saw. kemudian membatalkannya setelah tahu kabilah itu tidak berkemampuan. Rasulullah saw. bertanya kepada kabilah Bakar bin Wail, “Berapa jumlah kalian?” Mereka menjawab, “Banyak, seperti butiran tanah.” Rasulullah saw. bertanya lagi, “Bagaimana kekuatan kalian?” Mereka menjawab, “Tak ada kekuatan (laa mana’ah). Kami bertetangga dengan Persia, tetapi kami tak mampu melindungi kami dari mereka…” Akhirnya Rasulullah saw. hanya mengajak mereka ingat kepada Allah dan mengabarkan kerasulan beliau (M. Abdullah Al-Mas’ari, Al-Mana’ah wa Thalab an-Nushrah, hlm. 4; M. Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital, I/411).

Ketiga: Ahlun Nushrah wajib orang-orang Muslim, tak boleh non-Muslim. Hal ini tampak jelas dari aktivitas Rasulullah saw. dalam thalabun-nushrah kepada berbagai kabilah. Beliau meminta mereka beriman lebih dulu, setelah itu baru meminta mereka memberikan perlindungan kepada Rasulullah saw. Ini jika nushrah yang diminta berupa dukungan untuk memperoleh kekuasaan. Adapun jika untuk kepentingan perlindungan pribadi (himayah syakhshiyah), boleh berasal dari non-Muslim, seperti halnya Rasulullah saw. yang mendapat perlindungan dari paman beliau Abu Thalib yang non-Muslim (M. Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital, I/408).

Keempat: Ahlun Nushrah haruslah orang-orang yang mendukung syariah dan Khilafah, bukan orang yang memusuhi Islam seperti kaum sekular, liberal, dsb. Dulu Rasulullah saw. mendapatkan nushrah dari kabilah Aus dan Khazraj setelah kedua kabilah itu mendapatkan pengajaran agama Islam dari Mushab bin Umair ra. di Madinah. Jadi, Ahlun Nushrah wajib mengikuti pembinaan lebih dulu sebagai pelajar (daris) dalam halqah untuk mempelajari Islam dalam partai politik yang melakukan thalabun-nushrah, meski tidak disyaratkan harus menjadi anggota partai politik itu (M. Muhsin Radhi, Hizb at-Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu, hlm. 315).

Kelima: Ahlun Nushrah harus berada sepenuhnya di bawah kendali partai politik yang mereka dukung, bukan menjadi kekuatan terpisah di luar kontrol. Ini dapat dilihat dari bagaimana Rasulullah saw. mengendalikan sepenuhnya kabilah Aus dan Khazraj yang memberikan nushrah. Misalnya, Rasulullah saw. meminta kabilah Aus dan Khazraj untuk memilih 12 orang dari mereka sebagai wakil mereka untuk bermusyawarah dengan Rasulullah saw. Rasulullah saw. juga melarang kabilah Aus dan Khazraj untuk memerangi penduduk Mina. Ini menunjukkan semua urusan Ahlun Nushrah berada sepenuhnya di bawah kendali Rasulullah saw. (M. Muhsin Radhi, Hizb at-Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu, hlm. 315).

Keenam: Ahlun Nushrah tidak dibenarkan meminta kompensasi atau konsesi tertentu sebagai imbalan melakukan thalabun-nushrah, misalnya meminta jabatan tertentu setelah Khilafah berdiri. Ini tampak jelas dari penolakan Rasulullah saw. terhadap permintaan kabilah Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah yang mensyaratkan agar setelah Rasululah saw. meninggal kekuasaan diserahkan kepada mereka (M. Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital, I/411).

Ketujuh: Ahlun Nushrah disyaratkan tidak terikat dengan perjanjian internasional yang bertentangan dengan dakwah, sementara mereka pun tak mampu melepaskan diri dari perjanjian internasional itu. Jadi, tak diterima, misalnya, Ahlun Nushrah yang masih terikat dengan perjanjian Camp David dengan AS untuk melindungi Israel. Hal ini karena Rasulullah saw. dulu tidak jadi meminta nushrah dari kabilah Bani Syaiban, karena mereka masih terikat perjanjian dengan Kerajaan Persia untuk tidak saling menyerang, sedang mereka pun tidak mampu melepaskan diri dari perjanjian itu (M. Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital, I/414)



Langkah Praktis Thalabun Nushrah

Thalabun-nushrah adalah aktivitas yang berat sekaligus berisiko. Tidak setiap anggota partai politik mampu memikul tugas mulia ini. Maka dari itu, thalabun-nushrah tak menjadi kewajiban umum untuk setiap anggota partai politik, namun hanya menjadi kewajiban sebagian anggotanya saja. Bisa jadi hanya diperlukan satu delegasi, atau bahkan satu orang, untuk melakukan thalabun-nushrah kepada seorang presiden, atau seorang jenderal pimpinan militer, atau seorang ketua partai politik, atau seorang pimpinan kelompok besar yang berpengaruh.

Jadi, thalabun-nushrah adalah aktivitas yang khusus dan rahasia. Sebab, tabiat thalabun-nushrah memang hanya menghendaki keterlibatan sejumlah kecil orang saja, bukan banyak orang (M. Muhsin Radhi, Hizb at-Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu, hlm. 312).

Aktivitas itu tentu berbeda dengan aktivitas umum yang menjadi kewajiban umum yang mampu dijalankan oleh setiap aktivis partai politik, seperti pembinaan dan pengkaderan dalam halqah murakkazah (intensif), atau aktivitas pembinaan umum seperti seminar, tablig akbar, masirah, dan sebagainya.

Aktivitas umum dan thalabun-nushrah ini akan saling melengkapi dan membutuhkan. Sebab, thalabun-nushrah yang berhasil membutuhkan suasana yang kondusif, yaitu terwujudnya opini umum berlandaskan kesadaran umum yang mendukung Syariah dan Khilafah (M. Husain Abdullah, Ath-Thariqah asy-Syar’iyah li Isti’naf al-Hayah al-Islamiyah, hlm. 90).

Wallahu a’lam. []



Daftar Bacaan

Abdullah, Muhammad Husain, Ath-Thariqah asy-Syar’iyah li Isti’naf al-Hayah al-Islamiyah (Beirut: Dar Al-Bayariq), t.t.
Al-Mas’ari, Muhammad Abdullah, Al-Mana’ah wa Thalab an-Nushrah (London: Lajnah al-Difa’ ‘an al-Huquq sy-Syar’iyah), 2002.
Al-Syuwaiki, Muhammad, Ath-Thariq ila Dawlah Al-Khilafah (Baitul Maqdis: t.p.), 1411 H.
Badar, Hazim ‘Ied, Thariqah Hizb at-Tahrir fi at-Taghyir Thariqah Hashriyah La Yujad Ghayruha La Syar’an wa La Waqi’an, www.shamela.ws.
Haikal, Muhammad Khair, Al-Jihad wa al-Qital fi as-Siyasah asy-Syar’iyah (Beirut: Dar Al-Bayariq), 1992.
Hasan, Mahmud Abdul Karim, At-Taghyir Hatmiyah ad-Dawlah al-Islamiyah (t.tp.: t.p.), Cet. II, 2004.
Radhi, Muhammad Muhsin, Hizb at-Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamah Dawlah al-Khilafah al-Islamiyah (Baghdad: t.p.), 2006.

Tuesday, May 3, 2011

Musuh Negara yang Sejati

Musuh Negara yang Sejati
“Musuh negara itu bukan Islam, tetapi imperialisme, kapitalisme, individualisme, komunisme!” tegas Jenderal (purn) Tyasno Sudarto. Mantan Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) mengkritik frasa “musuh negara” dalam Rancangan Undang-Undang Intelijen yang tengah digodog Dewan Perwakilan rakyat.

Pernyataan Tyasno yang disampaikan dalam Halaqoh Islam Perabadaban (HIP) ke-29 ini penting kita kutip , mengingat selama ini ada upaya sistematis dari kelompok-kelompok liberal untuk menempatkan Islam sebagai musuh. Apalagi kalau tidak dengan tudingan ekstrim kanan, radikal, teroris dan sebagainya. Menjadikan Islam sebagai musuh negara, disamping keliru juga sangat berbahaya.

Keliru , karena sesungguhnya Islam yang tidak bisa dipisahkan dari aqidah dan syariahnya, sesungguhnya adalah rahmatan lil ‘alamin. Sehingga kalau syariah Islam diterapkan justru akan memberikan kebaikan pada seluruh umat manusia baik muslim maupun non muslim. Tentu tidak masuk akal, aqidah Islam dan syariah Islam yang berasal dari Allah SWT yang arrahman dan arrahim membahayakan manusia, masyarakat atau bangsa ini. Adapun negara yang didasarkan kepada Islam (ad daulah Khilafah) adalah konsekuensi logis dari kewajiban menerapkan syariah Islam secara kaffah. Karena tanpa otoritas politik dalam hal ini negara , syariah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tentu tidak bisa diterapkan.

Khilafah juga menjadi institusi pemersatu umat Islam seluruh dunia, karena persatuan pastilah membutuhkan kesatuan politik dan kepemimpinan. Dan persatuan yang didasarkan aqidah Islam ini tentu akan sangat kokoh daya eratnya dan luas daya jangkaunya. Sementara kita sering menyatakan bersatu kita teguh , bercerai kita rubuh. Khilafah sekaligus akan menjadi pelindung umat (al junnah), yang melindungi umat dari cengkraman penjajahan, intervensi asing, dan pembunuhan negara-negara musuh.

Menjadikan ajaran Islam berupa aqidah dan syariahnya sebagai ancaman sama saja dengan menjauhkan Islam dari kehidupan masyarakat. Padahal tidak diterapkannya Islam-lah yangmenjadi biang kerok dari berbagai persoalan masyarakat kita.

Menjadikan Islam sebagai musuh juga berbahaya. Karena berarti negara akan menganggap perjuangan syariah Islam sebagai tindakan makar dan rakyat yang memperjuangkannya sebagai pelaku subversi. Tindakan represif pun akan dilakukan atas nama keamanan negara. Seperti menangkap , menculik, menyiksa, memenjarakan, dan membunuh aktifis-aktifis Islam yang sesungguhnya ingin menyelamatkan bangsa dan negara dengan menerapkan syariah Islam.

Dan ketika negara menjadikan Islam sebagai ancaman, negara secara langsung telah menjadi kaki tangan atau boneka penjajah imperialis. Karena sesungguhnya dalam pandangan negara-negara imperialis Islam adalah ancaman bagi eksistensi penjajahan mereka. Tony Blair pernah secara terbuka menuding cita-cita umat Islam untuk menegakkan syariah Islam, khilafah, dan sikap penolakan umat Islam terhadap keberadaan negara zionis sebagai cerminan ideologi iblis.

Tidak mengherankan kalau penguasa-penguasa diktator bengis seperti Suharto, Husni Mubarak, Zainal Abidin bin Ali, Muamar Qadzafi bersikap represif terhadap gerakan Islam ideologis yang ingin memperjuangkan syariah Islam. Mereka menjadi kaki tangan negara penjajah yang tidak ingin rakyatnya bangkit dan maju dengan syariah Islam.

Ribuan aktifis Islam di tangkap , dipenjara, dan disiksa dengan keji . Hal yang sama dilakukan oleh rezim Fatah di Palestina dan rezim tirani Saudi Arabia. Penguasa diktator dan bengis ini lebih memilih menjalankan titah sang tuan meskipun harus membunuh rakyatnya sendiri. Penguasa telah menjadi musuh bagi rakyatnya sendiri.

Meskipun sudah menghamba sedemikian rupa kepada , tetap saja nasib akhir mereka sangat menyedihkan. Suharto, Zainal Abidin bin Ali, Husni Mubarak akhirnya ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri yang melaknat mereka. Dicampakkan oleh tuannya sendiri yang tidak lagi menganggap penting mereka. Termasuk tentu mereka akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mereka kepada Allah SWT karena telah mendzolimi ulama dan wali Allah SWT yang ingin menegakkan dinul Islam.

Karena itu, adalah penting dalam RUU intelijen yang sedang digodok dengan tegas mengatakan bahwa Islam bukanlah ancaman. Dan dengan tegas juga mengatakan sistem kapitalisme yang diusung oleh negara-negara imperialis itulah yang menjadi ancaman negara, musuh negara, karena membahayakan rakyat dan negara.Perlu kita tegaskan ancaman kapitalisme ini bukan lagi potensi nyata, tapi terbukti di depan mata.

Puluhan juta rakyat miskin, tingginya angka pengangguran, meluasnya kemaksiatan, merupakan dampak nyata dari penerapan sistem kapitalisme di negara kita. Lahirnya uu neo liberal seperti uu migas, uu kelistrikan, uu investasi telah menjadi sarana legal memuluskan perampokan terhadap kekayaan alam kita oleh negara-negara asing. Kekayaan yang sebenarnya milik rakyat dan seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Dan bukan rahasia lagi pembuatan uu neo liberal ini merupakan bentuk intervensi langsung dari negara-negara imperialis. Bayangkan di gedung parlemen Indonesia terdapat kantor non-govermental organization atau LSM asing . Logo UNDP ada di sebuah ruangan di lantai tiga gedung DPD RI dan lantai 7 gedung Sekretariat Jenderal DPR RI. Padahal gedung negara menyimpan dokumen yang sangat penting.

Amendemen UUD 2002 tidak lepas dari dana asing. NDI (National Democration Institute) dan CETRO dengan program Constitutional Reform mendapat dana USD 4,4 milyar dan mendapat fasilitas di Badan Pekerja . Demikian juga, ADB dan USAID seperti yang dirilis di situs (www.usaid.gov) telah bekerja sama untuk membuat draf ruu migas pada tahun 2000.

Ide demokrasi dan HAM yang menjadi pilar sistem kepitalisme juga telah memperlemah negara dan menjadi alat memecah belah negara kita. Bukankah atas dasar hak menentukan nasib sendiri Timor Timur lepas ? Ancaman disintegrasi wilayah lain menyusul, tampak dari pengkondisian yang sama di lakukan di Papua dan Aceh .

Merujuk kepada syariah Islam, siapa yang sesungguhnya menjadi musuh negara adalah sangat jelas. Yaitu negara-negara yang masuk dalam katagori muhariban fi’lan , negara-negara imperialis yang secara langsung telah melakukan peperangan terhadap negeri-negeri Islam. Yaitu negara-negara imperialis seperti Amerika, Inggris, Prancis dan sekutunya yang secara nyata telah melakukan pembunuhan terhadap umat Islam di Irak, Afghanistan, Pakistan dan negeri-negeri lain.

Sikap yang harus diambil oleh negara adalah memutus hubungan dalam bentuk apapun dengan negara-negara penjajah ini. Tidak membiarkan keberadaan kedubes negara-negara penjajah ini yang menjadi markas spionase asing untuk menghancurkan negeri ini . Sehingga negara tidak memberikan jalan sedikitpun kepada mereka untuk mempengaruhi,mendominasi ,apalagi menguasai negeri Islam. Setiap aktifitas intelijen negara seharusnya difokuskan untuk mengamati berbagai gerakan negara-negara imperialis ini terutama orang-orang atau LSM yang yang diduga keras menjadi kaki tangan mereka. Sebab merekalah musuh negara yang sejati ! (Farid Wadjdi)

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co