Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Saturday, April 30, 2011

Haramkah Demonstrasi ?

Haramkah Demonstrasi?
Soal:

Di tengah maraknya gelombang unjuk rasa di negeri-negeri Arab, Hai’ah Kibar ‘Ulama’ Saudi mengeluarkan fatwa yang mengharamkan aksi tersebut. Bagaimana sebenarnya kedudukan aksi yang menuntut perubahan tersebut, boleh atau tidak?


Jawab:

Menarik untuk ditelaah alasan yang dijadikan dasar fatwa Hai’ah Kibar ‘Ulama’ Saudi. Dalam fatwanya dinyatakan bahwa: “Kerajaan Saudi Arabia berdiri berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul, baiat, berpegang teguh pada jamaah dan ketaatan. Karena itu, perbaikan dan nasihat terhadapnya hendaknya tidak dilakukan dengan unjuk rasa serta berbagai cara dan sarana yang bisa menimbulkan fitnah dan perpecahan jamaah. Inilah yang diharamkan oleh ulama’ negeri ini, baik dulu maupun sekarang.”

“Hai’ah menegaskan keharamnya unjuk rasa di negeri ini. Sebab, cara yang syar’i untuk mewujudkan kemaslahatan, dan tidak menimbulkan kerusakan, adalah saling memberi nasihat (munshahah). Itulah cara yang diajarkan Nabi saw. dan diikuti dengan baik oleh para Sahabat serta para pengikut mereka.”

Selain alasan di atas, banyak dinyatakan dalil-dalil yang terkait dengan menjaga persatuan (QS Ali ‘Imran [3]: 103), larangan berpecah-belah (QS Ali ‘Imran [3]: 105 dan al-An’am [6]: 109), baiat dan ketaatan (HR Muslim).

Perlu dicatat, bahwa fatwa seperti ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, ketika terjadi aksi untuk menumbangkan rezim diktator di Mesir, Husni Mubarak, mufti Arab Saudi, ‘Abd al-‘Aziz Ali as-Syaikh juga mengeluarkan fatwa tentang keharaman aksi tersebut. Fatwa ini juga ditentang oleh sejumlah ulama’ lain dari berbagai negara. Fatwa ini pun bukan untuk kepentingan Islam dan kaum Muslim, tetapi untuk kepentingan rezim Saud, yang mengabdi untuk Inggris dan Amerika.

Fatwa Hai’ah ini juga dipenuhi berbagai klaim. Pertama: Kerajaan Saudi Arabia (KSA) mengklaim konstitusinya berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, serta menjalankan hukum syariah yang bersumber dari keduanya. Ini jelas klaim bohong karena kenyataannya jelas berbeda. Sistem kerajaan itu sendiri bukanlah sistem Islam karena sistem pemerintahan Islam adalah Khilafah. Sistem kerajaan (monarki) bertentangan dengan sistem pemerintahan Islam yang tidak mengenal putra mahkota (wilayah al-‘ahd). Ini ditegaskan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Abu Bakar saat menolak cara Muawiyah mengangkat Yazid menjadi penggantinya:

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ المَدَنِي قَالَ: كُنْتُ فِي المَسْجِدِ حِيْنَ خَطَبَ مَرْوَانُ فَقَالَ: إنَّ اللهَ قَدْ أَرَى أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ رَأْياً حَسَناً فِيْ يَزِيْدٍ، وَإِنْ يَسْتَخْلِفْهُ فَقَدْ اِسْتَخْلَفَ أبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: هِرَقْلِيَّة، إنَّ أباَ بَكْرٍ وَاللهِ مَا جَعَلَهَا فِي أَحَدٍ مِنْ وَلَدِهِ وَلاَ فِي أهْلِ بَيْتِهِ

Abdullah al-Madani memberitahuku. Dia berkata, “Aku pernah berada di masjid, ketika Marwan menyampaikan pidato. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah menunjukkan kepada Amirul Mukminin pandangan yang baik pada Yazid. Sekiranya beliau menunjuknya sebagai penggantinya, sesungguhnya Abu Bakar dan Umar juga telah melakukannya.’ ‘Abdurrahman (bin Abu Bakar) berkata, “(Itu tuntunan) Heraklius. Demi Allah, sesungguhnya Abu Bakar tidak pernah menjadikan baiat untuk salah seorang anaknya, maupun anggota keluarganya.” 1


Kedua: kerajaan ini juga bukan negara kaum Muslim, tetapi entitas keluarga Saud. Ini bertentangan dengan negara yang disyariatkan dalam al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat, yaitu Khilafah.2 Khilafah adalah negara kaum Muslim di seluruh dunia, bukan hanya entitas keluarga. Bahkan kerajaan ini awalnya justru didirikan oleh Inggris sebagai hadiah atas pengkhianatan Sharif Husein terhadap Khilafah ‘Utsmaniyah.3

Ketiga: selain bentuk kerajaan yang bertentangan dengan syariah Islam, cara pembaiatan yang dilakukan kepada raja-raja Kerajaan Saudi Arabia juga bertentangan dengan syariah Islam. Sebab, baiat diberikan kepada mereka bukan untuk menjalankan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dengan menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Memang sebagian hukum syariah diterapkan di wilayah itu, tetapi di bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan serta politik luar negeri jelas-jelas tidak menerapkan Islam. Di bidang ekonomi, seluruh kekayaan milik umat, seperti minyak, gas dan tambang yang terkandung di perut bumi wilayahnya dimonopoli oleh keluarga kerajaan. Akibatnya, mereka bergelimang harta dan foya-foya, sementara 50% lebih rakyatnya tidak mempunyai rumah. Di bidang sosial, kehidupan di Riyadh, Jeddah atau kota metropolitannya tidak jauh berbeda dengan Paris maupun London. Kaum perempuan dan lelakinya banyak yang bergaul bebas, berzina, pesta seks bahkan menjadi konsumen film porno terbesar. Di bidang pendidikan, Kerajaan Saudi telah menghilangkan materi penting dalam kurikulum mereka, yaitu al-Wala’ wa al-Barra’ (loyalitas dan disloyalitas) untuk menjalankan proyek deradikalisasi AS. Dalam politik luar negerinya, kerajaan ini juga telah berkhianat kepada kaum Muslim di Palestina dan Irak. Bahkan memberikan wilayahnya kepada AS untuk membuka pangkalan militernya.

Karena itu, baiat untuk mereka justru menyalahi Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Dengan begitu, dalil baiat dan ketaatan, sebagaimana riwayat Muslim di atas, tidak relevan untuk diberlakukan. Sebab, baiat dalam hadits tersebut hanya berlaku untuk Khalifah kaum Muslim.4

Maka dari itu, apa yang dinyatakan dalam konstitusi Kerajaan Saudi itu hanya klaim penuh dusta dan penyesatan untuk menutupi pengkhianatan kerajaan ini kepada Allah, Rasul-Nya dan seluruh kaum Muslim. Inilah yang membuat kaum Muslim di sana marah dan menuntut adanya perubahan. Karena itu, tuntutan untuk melakukan perubahan yang diwujudkan dengan unjuk rasa adalah tuntutan yang sah karena justru Rasul saw. telah bersabda:

سَيّدُ الشّهُداءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمطّلِبِ وَرَجُلٌ قامَ إِلَى إِمَامِ جَائِزٍ فَأَمَرَهُ وَنَهاهُ فَقَتَلَهُ

Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib serta seseorang yang mendatangi seorang imam yang zalim, kemudian memerintah imam itu (pada kemakrufan) dan mencegah dirinya (dari kemungkaran), lalu imam itu pun membunuh dia.” 5


Keempat: puja-puji untuk KSA sebagai khadim al-Haramain (pelayan dua Tanah Suci, Makkah-Madinah), khususnya Masjid al-Haram, karena merupakan kiblat kaum Muslim yang merupakan kemuliaan bagi KSA, sebenarnya justru bertentangan dengan fakta. Di Masjid al-Haram tidak boleh ada imam/khatib menyampaikan khutbah, hatta doa yang berisi nasihat, apalagi kritik untuk KSA. Di masjid yang mulia ini tidak boleh ada ulama dari mazhab lain mengajarkan ilmunya, kecuali mazhab Wahabi. Ini berbeda dengan zaman Khilafah dulu saat Imam Syafii, Hanafi, Malik dan Ahmad maupun imam mazhab lain bisa dengan leluasa mengajarkan ilmunya di masjid mulia ini. KSA juga tidak becus mengurus jamaah haji yang merupakan tamu-tamu Allah. Bahkan KSA menjadikan haji sebagai bisnis tahunan keluarga istana. Semuanya ini bukti, bahwa dalil tentang kemuliaan Tanah Haram dan masjid al-Haram itu tidak layak diberikan kepada mereka.

Kelima: fatwa yang mengutip nas-nas tentang mitsaq yang diambil oleh Allah dari para ulama untuk menyampaikan isi al-Quran (QS Ali ‘Imran [3]: 187) dan tidak menyembunyikannya (QS al-Baqarah [2]: 159) seharusnya membuat para mufti itu malu. Sebab, ayat ini menjadi hujjah yang akan memberatkan mereka di hadapan Allah, karena mereka tidak pernah menyampaikan muhasabah dan kritik kepada raja/penguasa mereka, bahkan menutupi ayat-ayat tentang kewajiban menegakkan Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah. Namun sayangnya, mereka tidak pernah mempunyai rasa malu baik kepada Allah, Rasul-Nya maupun umat Islam. Justru mereka terus-menerus menjadi stempel kekuasaan despot, yang menjadi kaki tangan negara-negara penjajah.

Keenam, tentang alasan fitnah dan mafsadat, sebenarnya ini bukan dalil syariah. Karena itu, alasan fitnah maupun mafsadat untuk mengharamkan unjuk rasa tidak ada nilainya di dalam syariah.6 Sebaliknya, justru adanya KSA dengan segala atributnya, termasuk khadim al-Haramain, telah menjadi fitnah bagi kaum Muslim, yang menyesatkan umat dari kewajibannya untuk menegakkan Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah. KSA sering diklaim sebagai negara Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah sehingga baik rakyat Saudi maupun yang lain dininabobokkan seolah sudah ada negara Islam, yaitu KSA. Selain itu, ini juga menjadi mafsadat bagi Islam dan kaum Muslim, karena citra Islam justru diperburuk dengan prilaku KSA dan rakyatnya, termasuk Islam yang mereka praktikkan, yang tidak mencerminkan kemuliaan Islam. []


Catatan kaki:

1 Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Dar al-Fikr, Beirut, cet, 1993, IX/547.

2 An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Kitab al-Janaiz, Dar al-Fikr, Beirut, 1995, VII/ 32; Ibn Sa’ad, Atht-Thabaqat al-Kubra, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1997, III/135.

3 Lihat: Perjanjian Sykes Picot, pasal 10. Dr. Maufaq Bani Marjeh, Shahwah ar-Rajul al-Maridh, Dar al-Bayariq, Beirut, cet. VIII, 1996, hlm. 368 dan 434.

4 Mahmud al-Khalidi, Al-Bai’ah fi al-Fikr as-Siyasi al-Islami, Muassasah ar-Risalah, ‘Amman-Yordania, cet I, 1985, hlm. 32-33.

5 HR al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, cet, 1990, III/214.

6 Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Dar al-Ummah, Beirut, cet III, 2005, III/372; Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, An-Nidzam al-Ijma’i, Dar al-Ummah, Beirut, cet IV, 2003, hlm. 69-70.

Thursday, April 28, 2011

Pornografi Menghancurkan Umat dan Mengundang Bencana

Pornografi: Menghancurkan Umat, Mengundang Bencana
[Al Islam 554] Pornografi di negeri ini makin hari makin marak. Hal itu diantaranya ditandai dengan maraknya bintang film porno asing yang didatangkan untuk membintangi film nasional. Meski film yang dibuat bukan ber-genre pornografi, tapi tetap saja para aktris itu diminta melakukan beberapa adegan yang menjual erotisme. Makin maraknya pornograf juga bisa dilihat dari banyaknya kasus pornografi hingga adegan seks yang dilakukan oleh orang dewasa hingga anak-anak dan pelajar yang beredar di internet.

Komisi Perlindungan Anak (KPAI) mencemaskan kasus pornografi yang kian marak di masyarakat sehingga menyerukan darurat pornografi (Republika, 25/4). Berbagai pihak pun menyerukan agar pornografi diperangi dan para pelakunya ditindak. Sayangnya kesadaran untuk memerangi pornografi masih dinilai rendah.

Pornografi Menghancurkan Umat

Pornografi menyimpan daya rusak luar biasa terhadap masyarakat, diantaranya:
Pertama, pornografi ternyata merusak para penikmatnya terutama anak baik secara fisik maupun psikis. Diantara daftar bahaya itu terihat dalam box

Dampak fisik dan psikis pornografi terhadap anak:
• Cara menganalisis, menilai, pemahaman, pengambilan keputusan, makna hubungan dan hati nurani anak akan rusak.
• Anak mudah depresi, mudah tersinggung, menarik diri, lebih mengarah pada seks dalam berbahasa dan mengisolasi diri.
Menurut Mark B Kastleman, psikolog khusus penanganan bagi korban pornografi:
• Anak dan remaja memiliki mental model porno atau perpustakaan porno yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja
• Menyebakan kerusakan otak permanen: Visual Crack Cocain/Erototoksin)
• Anak yang belum baligh bisa menjadi pecandu pornografi seumur hidup sehingga iman akan rusak dan terkikis.
• 5 bagian otak bisa rusak : Orbito frontal midfrontal, Insula hippocampus temporal, Nucleus accumbers patumen, Cingalute dan Cerebellum.
Sumber: KPAI (Republika, 25/4)
Kedua, memicu terjadinya perzinaan dan perkosaan. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), selama tahun 2010, telah terjadi 40 kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh anak setelah pelaku menonton video porno Ariel. Para pelaku mengaku sebelum memperkosa, mereka terangsang seteah menonton video itu.

Maret lalu, di Palembang, Sumatera Selatan, sejumlah anak laki-laki berusia 12 tahun beberapa kali berpesta seks dengan pasangan mereka. Di kejadian kedua, beberapa anak memaksa dua bocah perempuan berusia 5 tahun melayani mereka, disaksikan bocah laki-laki lain. Yang ketiga kalinya, terjadi di sebuah lokasi pesta. Anak laki-laki memaksa perempuan di bawah umur mereka melakukan perbuatan seksual. Akibat perbuatan mereka, para orang tua pelaku dipanggil kepolisian (sumutpos.com, 21/3).

Ketiga, pornografi akan menyuburkan seks bebas alias perzinaan. Perzinaan pastinya mendatangkan resiko kehamilan di luar nikah. Karena kehamilan itu tidak dikehendaki, maka jalan pintasnya adalah diaborsi. Akibatnya asus aborsi akan makin banyak. Menurut data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di tahun 2010, diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta. Parahnya, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja (tribunnews.com, 1/12/2010).

Keempat, pornografi menyebabkan maraknya penyakit kelamin. Porografi memicu makin maraknya pelacuran dan seks bebas. Akibatnya penyakit kelamin pun merebak, sebab penularannya mayoritas melalui pelacuran dan seks bebas itu. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mendapatkan temuan bahwa ribuan remaja di Jakarta menderita penyakit kelamin. Angka penderita penyakit kelamin di Jakarta berjumlah 9.060 orang, dengan rincian 5.051 orang berjenis kelamin perempuan dan sisanya laki-laki. Dari total jumlah penderita tersebut, 3.007 di antaranya masih berusia antara 14 dan 24 tahun (vivanews.com, 26/4). Sementara jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia mencapai 130 ribu orang pada tahun 2010 (antaranews.com, 15/11/2010). Angka sebenarnya diperkirakan lebih besar lagi sebab angka itu diyakini hanya sebagai puncak gunung es belaka.

Kelima, pornografi menyuburkan perilaku seks bebas yang bisa menyebabkan makin banyaknya kelahiran anak di luar nikah. Sementara perilaku sek bebas khususnya di kalangan mereka yang sudah menikah bisa mengancam keharmonisan suami-istri, kekacauan nasab, makin banyak keluarga yang hancur dengan segala akibatnya, merusak tatanan kehidupan keluarga dan menghancurkan institusi keluarga yang pada akhirnya akan makin memperbesar masalah sosial di tengah masyarakat.

Keenam, Pornografi dan seks bebas menyebabkan bencana kemanusiaan. Karena selain mendatangkan bahaya penyakit fisik, keduanya merusak kehormatan dan nasab manusia. Karena seks bebas, lahirlah ribuan anak-anak yang tak jelas nasabnya. Dalam pandangan Islam ini adalah dosa yang sangat besar. Nabi saw. bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ بِاللهِ أَعْظَمُ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِيْ رَحِمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ

Tidak ada dosa sesudah syirik kepada Allah yang lebih besar dari dosa orang yang menumpahkan spermanya pada rahim yang tidak halal baginya. (HR. Ibn Abiy Dunya).

Ketujuh, Pornografi jika dibiarkan akan mengundang datangnya bencana. Rasul saw mengingatkan:

« … لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمْ الَّذِيْنَ مَضَوْا …»

… Tidaklah fahisyah -perbuatan keji termasuk pornografi, pornoaksi dan zina- nampak di suatu kaum hingga mereka melakukannya terang-terangan kecuali akan menyebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan berbagai penyakit yang belum terjadi di generasi-generasi yang sudah berlalu sebelum mereka. (HR. Ibn Majah, al-Bazar, al-Hakim, al-Bayhaqi, dan Abu Nu’aim)

Biangnya: Kapitalisme, Sekluerisme-Demokrasi & Liberalisme

Siapapun tidak ada yang ingin dirinya atau keluarganya menjadi korban pornografi, apalagi kejahatan seksual. Akan tetapi, selama sekulerisme-demokrasi dan kapitalisme menjadi pilar kehidupan bangsa, maka sepanjang itu pula masyarakat tidak akan bisa terlepas dari cengkraman pornografi dan kejahatan seksual. Sekularisme menolak peran agama dalam kehidupan umum. Nilai-nilai dan aturan agama (Islam) tidak boleh diikutkan dalam masalah publik. Liberalisme mengajarkan bahwa setiap manusia bebas berperilaku dan mengekspresikan diri selama tidak merugikan orang lain. Selama ini para pelau pornografi sealu berlindung dibalik ide kebebasan itu. Sementara demokrasi menyerahkan pembuatan aturan dan hukum kepada rakyat melalui wakil mereka. Hukum akhirnya dibelenggu oleh ide kebebasan, kepentingan dan dorongan hawa nafsu termasuk kepentingan para kapitalis.

Sementara kapitalisme mengajarkan untuk mencari keuntungan sebesar-sebarnya tanpa mempedulikan caranya benar atau salah, baik atau buruk bahkan meski mengancam masyarakat sekalipun. Pornografi dan eksploitasi erotisme menjadi jalan mudah menangguk kentungan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pornografi telah menjadi bisnis miliaran dolar. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring belanja akses situs porno dari Indonesia ternyata mencapai US$ 3.673 per detik atau setara dengan Rp 33 juta lebih setiap detiknya (vivanews.com, 15/7/2010).

Syariah Memberantas Pornografi

Melihat betapa besarnya dampak buruk, bahaya dan bencana yang bisa timbul dari pornografi, sudah sepatutnya umat menendang jauh budaya pornografi ini. Tidak ada kata lain kecuali pornografi harus dibabat habis. Namun hal itu tidak mungkin bisa dilakukan dalam bngkai sistem yang ada sekarang. Sebab ideologi dan sistem sekarang yaitu sekulerisme-demokrasi dan kapitalisme justru menjadi biang penyebabnya. Alih-alih memberantasnya, di bawah payung kebebasan, sekulerisme dan demokrasi itu kebejatan pornografi justru dimungkinkan kian menjadi.

Hanya syariah islam sajalah yang bisa membabat pornografi dan menyelamatkan masyarakat dari bahayanya. Islam dengan tegs memandang pornografi sebagai kemungkaran yang harus dilenyapkan; bukan diatur, apalagi dilegalisasi. Untuk itu, syariah islam memiliki serangkaian aturan dan hukum yang bisa membabat pornografi itu. Islam mengatur tetang aurat, yaitu bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh ditampakkan. Islam juga melarang penyebaran segala bentuk pornografi dan pornoaksi di tengah masyarakat. Siapapun yang melanggarnya akan dikenai sanksi yang berat. Islam juga melarang beberapa perilaku yang berkaitan dengan tata pergaulan pria dan wanita. Islam melarang tabarruj wanita (berhias berlebihan di ruang publik), ber-kh­alwat (berdua-duaan) dengan wanita bukan mahram (apalagi berpelukan dan berciuman), ber-ikhtilât (bercampur-baur antara pria-wanita), dan segala perbuatan yang dapat mengantarkan pada perzinaan.

Hanya dengan penerapan syariat Islam secara total di bawah payung khilafah, umat dapat merasakan keamanan dan kehormatan sebagai manusia yang sebenarnya. Wanita dimuliakan dan pergaulan dibangun dengan landasan saling tolong menolong. Karena itu sudah saatnya umat membuang sekulerisme-demokrasi dan kapitalisme dan menggantinya dengan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَأٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ

Patuhilah seruan Tuhan kalian sebelum datang suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian) (QS asy-Syura [42]: 47).

Wallâh a’lam bi ash-shawâb.[]

Tuesday, April 26, 2011

Membentuk Idealisme Anak

Membentuk Idealisme Pada Anak
Masa anak-anak adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan suatu pemahaman. Bila anak-anak mendapat pemahaman yang benar sejak dini, maka pemahaman tersebut akan mengarahkan perilakunya pada masa yang akan datang. Sebaliknya jika sejak dini anak diberi pemahaman yang salah, maka hal itu juga berpengaruh pada pola pikir dan pola sikap yang akan terbentuk. Di sinilah tanggung jawab dan peran orangtua sangat dibutuhkan dalam proses penanaman pemahaman yang benar pada diri anak agar terbentuk idealisme Islam.


Membentuk Idealisme Anak

Sebagai konsekuensi dari keyakinan pada akidah Islam, orangtua harus membentuk bangunan keluarganya atas dasar ketaatan kepada Allah SWT. Artinya, orangtua harus membangun pemahaman seluruh anggota keluarganya dalam rangka meraih keridhaan Allah SWT melalui pelaksanaan hukum-hukum syariah. Mengenalkan hukum-hukum Islam kepada anak adalah tugas pertama dan utama orangtua. Orangtualah yang akan memberikan pengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya pemahaman Islam yang utuh terhadap diri anak. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi (HR al-Bukhari).

Satu hal yang penting dan mendasar untuk ditanamkan dalam kehidupan seorang Muslim sejak awal adalah penanaman akidah. Bahkan proses ini harus dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibunya melalui lantunan ayat-ayat al-Quran serta doa yang terus dipanjatkan selama masa kehamilan. Selanjutnya, sejak dilahirkan ke dunia, anak harus dibimbing dan diarahkan agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Rabb-nya. Anak dibimbing untukmengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Demikian pula dengan pengajaran perilaku dan budi pekerti anak yang didapatkan dari sikap keseharian orangtua ketika bergaul dengan mereka. Bagaimana ia diajari untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan-santun, kasih-sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajari untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Kesimpulannya, potensi dasar untuk membentuk sosok yang idealis sebagai bagian dari pembentukan generasi berkualitas dipersiapkan oleh orangtua terutama oleh ibu. Ibu memiliki peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman, dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar omongannya. Karena itu, ibu menjadi sekolah pertama bagi anak anaknya untuk menjadi sosok yang memiliki idealisme.


Mengarahkan Idealisme Anak

Pribadi yang memiliki idealisme adalah pribadi tangguh, yang memiliki kepribadian Islam; berpikir islami dan berperilaku dengan standar hukum-hukum Allah SWT. Dengan itu ia mampu mengarungi hidup ini dengan benar dan membawa kemaslahatan. Beberapa hal yang harus ditanamkan orangtua khususnya ibu kepada anaknya dalam rangka membentuk idealisme pada anak di antaranya adalah:

1. Memahamkan anak bahwa satu-satunya agama yang diridhai Allah dan akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat adalah Islam (Lihat: QS Ali Imran [3]: 19). Penanaman pemahaman ini sangat penting agar sejak dini anak hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang harus diyakini dan diperjuangkan. Dengan begitu anak tidak akan ragu sedikit pun akan kebenaran agama yang dianutnya. Orangtua yang memiliki idealisme tentu tidak akan membiarkan anaknya mencari hakikat kehidupan seorang diri. Ia akan mengarahkan anaknya agar memahami hakikat kehidupan ini sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Orangtua juga tidak akan membiarkan anaknya memiliki pemahaman bahwa semua agama itu benar hanya karena sama-sama mengajarkan penyembahan Tuhan meski berbeda caranya. Pendapat seperti ini akan menjadi racun bagi anak dan tidak akan mengokohkan akidah yang kuat pada diri anak, selain bertentangan dengan pemahaman QS Ali Imran ayat 19 di atas.

2. Menanamkan pada anak bahwa konsekuensi mengimani al-Quran adalah membenarkan semua isinya yang mengandung petunjuk dari Allah SWT untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat. Ditanamkan pula kesadaran bahwa bukti mengakui Nabi Muhammad saw. sebagai rasul adalah percaya kepada hadis-hadis beliau. Orangtua bisa mencari contoh syariah yang mudah dicerna oleh mereka, seperti perintah untuk berbakti kepada orangtua, berinfak kepada fakir miskin, larangan mengadu domba sesama Muslim, menipu, dll. Jelaskanlah bahwa di dalam perintah Allah SWT ada yang bersifat wajib atau sunnah, serta dalam larangan Allah SWT ada yang bersifat haram atau makruh berikut konsekuensinya. Tujuannya agar anak memiliki gambaran tentang syariah Islam dan merasa terikat dengannya.

3. Memahamkan hakikat baik dan buruk, serta terpuji dan tercela; bahwa kebaikan adalah apa saja yang Allah ridhai, sedangkan keburukan adalah apa saja yang Allah murkai. Yang terpuji adalah apa saja yang dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan yang tercela adalah apa saja dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Anak-anak harus selalu dipahamkan bahwa baik-buruk sesuatu itu harus sesuai dengan aturan Allah SWT, dan terpuji tercela sesuatu haruslah apa yang dipuji dan dicela oleh Allah SWT. Perlu disampaikan kepada anak, bahwa sungguh Allah itu Maha Penyayang atas makhluk-Nya, kita tidak perlu bersusah-payah menentukan baik dan buruk sesuatu karena telah ditetapkan oleh Dia. Allah menetapkan, manusia yang berbuat menurut akal pikiran dan hawa nafsunya serta tidak mengikuti aturan-Nya adalah kufur dan ingkar, dan kita harus menjauhi sikap demikian. Dengan pemahaman seperti ini, anak akan terbiasa mengukur dan menimbang setiap perilaku dan pilihan hidupnya sesuai dengan aturan Allah SWT, bukan dengan pertimbangan perasaan apalagi mengikuti perkembangan zaman sekarang yang sudah tidak karuan ini.

4. Dengan sering melatih proses berpikir Islamnya, pemikiran anak akan semakin meluas. Kemudian seiring perkembangan usianya, orangtua juga bisa mengarahkan pemahaman anak tentang persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat saat ini, yaitu tidak adanya penerapan syariah Islam di tengah kehidupan. Selanjutnya orangtua mendorong anak untuk terbiasa melakukan amar makruf nahi mungkar dan bersama-sama berjuang demi tegaknya syariah Islam yang akan menyelesaikan semua persoalan yang ada di masyarakat.


Idealisme Islam versus Intoleransi?

Saat orangtua berhasil mencetak anak-anaknya menjadi sosok yang idealis, yang selalu terikat dengan hukum-hukum Allah SWT, berarti orangtua telah berhasil mendidik anaknya sesuai dengan arahan Islam. Betapa bahagianya orangtua yang sukses mengantarkan anaknya menjadi sosok idealis, pejuang Islam yang salih dan konsisten membela kebenaran. Bahkan kebahagiaan orangtua tersebut akan terus mengalir walaupun Allah telah memanggilnya.

Keberhasilan membentuk idealisme Islam pada diri anak haruslah menjadi cita-cita bagi setiap orangtua. Untuk itu diperlukan upaya yang sungguh-sungguh pada setiap keluarga Muslim untuk senantiasa mewarnai kehidupan keluarganya dengan warna Islam yang jelas. Dengan begitu, karakter anak yang terbentuk adalah karakter Islam yang jelas, tidak abu-abu, apalagi warna-warni. Sikap orangtua yang seperti ini bukan berarti orangtua mengajarkan anak untuk tidak memiliki sikap toleransi terhadap agama lain atau bahkan dianggap menanamkan kebencian dan kekerasan pada anak. Tuduhan seperti ini tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Para orangtua Muslim tidak boleh terjebak dengan tuduhan dari kalangan yang antara lain dilontarkan kalangan liberal ini. Orangtua harus tetap istiqamah mengarahkan pendidikan dan pembinaan anak-anaknya agar memiliki idealisme Islam sehingga terbentuk generasi Islam yang berkualitas pada masa yang akan datang. WalLahu a’lam bi ash-shawab. [majalah Al waie ed. april 2011]

Friday, April 22, 2011

Merenungkan Kembali Khittah Kartini

Merenungkan Kembali Khittah Kartini
Oleh Kholda Naajiyah

Andai Kartini masih hidup, mungkin air matanya akan jatuh. Perjuangannya membela perempuan, ditafsirkan sangat melenceng dari khittah. Profil perempuan masa kini sungguh jauh dari gambaran ideal yang dikehendaki Kartini. Yakni, perempuan yang menyadari kodratnya, cerdas, terampil dan menikmati peran sebagai istri, ibu, pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Seperti penuturan Kartini dalam suratnya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Potret generasi Kartini masa kini justru sebaliknya. Yakni perempuan yang mulai meremehkan kodratnya dan bahkan mengabaikan keterampilan terkait kewajibannya. Memang perempuan makin terdidik, namun bukan malah menjadikannya pintar menjalankan kewajibannya, melainkan disibukkan menuntut hak-haknya.

Ini karena keberhasilan perjuangan kesetaraan perempuan dan laki-laki dimaknai kesamaan peran kedua jenis kelamin itu dalam berbagai lapangan kehidupan. Emansipasi diklaim sukses jika makin banyak perempuan berkiprah menyamai laki-laki, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan sebagainya.

Ukuran keberhasilan emansipasi di bidang politik diterjemahkan sebagai: berapa banyak banyak perempuan menjadi lurah, camat, bupati, gubernur, anggota dewan, menteri dan bahkan presiden. Makin banyak, dianggap makin sukses. Padahal, fakta berbicara, tidak banyak perempuan yang suka dengan dunia politik praktis yang selama ini didominasi laki-laki.

Bukan semata-mata kurang terbukanya peluang, lebih karena kurangnya minat. Bahkan ketika kuota partisipasi perempuan di poliyik dipatok 30 persen pun, tidak lantas membuat perempuan bersuka cita berbondong-bondong memenuhinya. Ini karena citra politik yang kotor, penuh intrik dan kolutif, yang bertentangan dengan fitrah perempuan yang lemah-lembut dan penuh kasih.

Di bidang ekonomi, perempuan dianggap setara dengan ukuran: punya penghasilan sendiri, tidak tergantung pada suami dalam hal keuangan. Jadi, makin banyak perempuan bekerja, menjadi sekretaris, direksi, pengusaha wanita, dll, dianggap parameter keberhasilan emansipasi. Bahkan, makin banyak perempuan jadi artis, meski dengan membuka aurat, menanggalkan rasa malu, mengeksploitasi bagian tubuhnya yang paling tabu, demi terkenal dan kaya materi, dianggap keberhasilan emansipasi.

Dengan demikian, sosok perempuan sukses yang dijadikan ikon keberhasilan perjuangan emansipasi digambarkan sebagai perempuan mandiri, bebas menentukan nasib sendiri, bebas mengaktualisasikan diri, mendapatkan hak-haknya meski dengan meninggalkan kewajibannya.

Hasilnya, kaum hawa kini begitu menuhankan kebebasan. Bahkan ekspoitasi tubuh perempuan pun dianggap kemajuan zaman. Dengan kesadaran penuh, para perempuan menjadikan kemolekan tubuhnya sebagai aset, komoditi dan selling point yang harus disyukuri.

Perempuan masa kini lebih bangga mendapat sebutan wanita karier dibanding ibu rumah tangga. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, dengan bos atau relasinya, dibanding bercengkerama di rumah dengan suami atau anak-anaknya. Jika suami, ayah atau kerabat melarangnya, akan dikenai pasal kekerasan dalam rumah tangga. Penjara taruhannya.

Perempuan pun bersaing dengan laki-laki dalam berbagai peran, yang berujung pada banyak kaum laki-laki yang tersingkir dari percaturan publik. Ya, banyak suami yang menganggur atau di-PHK, karena perusahaan lebih suka mempekerjakan perempuan. Selain lebih telaten, teliti dan rajin, perempuan (cantik) lebih menguntungkan perusahaan karena bisa menjadi ujung tombak dalam mendatangkan pundi-pundi. Maka, profesi perempuan pelobi, sales girl, customer service, front liner, public relation dan juga personal banker, selalu mensyaratkan penampilan menarik dalam rekrutmennya.

Itu hanyalah satu dampak sosial yang ditimbulkan. Dampak lain, meningkatnya problem-problem sosial dari tahun ke tahun, seperti perselingkuhan, perzinaan, perceraian dan single parent. Juga meningkatnya kejahatan seksual, perkosaan, dan perdagangan perempuan. Belum lagi merangseknya para perempuan di lembah kriminal, seperti kasus Zarima Mirafsur, Lidya Pratiwi, Sally Yustikawati dan Malinda Dee. Penjahat masa kini bukan lagi lelaki berwajah sangar dan bertampang seram, tapi juga wanita seksi.

Jelas, semua itu bukan kehendak Kartini. Memang, Kartini terlanjur dilekatkan sebagai peletak dasar emansipasi perempuan di Tanah Air. Padahal, sebagaimana kutipan salah satu isi surat Kartini di atas, jelas-jelas Kartini tak menghendaki kaumnya diekspolitasi. Kartini sejatinya memperjuangkan agar perempuan mendapatkan haknya menikmati pendidikan, agar ia cakap menjalankan tugas kodratinya. Itu saja.

Bahkan, meski bergaul dengan perempuan bangsawan Eropa (Belanda), Kartini tidak lantas silau untuk mengadopsi gaya hidup mereka. Lihatlah petikan salah satu suratnya: “…sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradapan?”

Kritik Kartini terhadap perempuan Barat yang terlalu terbuka, bebas dan liberal, pantas dialamatkan pada generasi Kartini masa kini. Karena itu, kita hendaknya merenungkan kembali khittah perjuangan Kartini. Saatnya menghentikan emansipasi perempuan yang kebablasan. Terlebih jika itu hanya membuahkan eksploitasi perempuan.

Perempuan adalah makhluk mulia. Alangkah nistanya jika hanya dihargai sebatas penampilan fisiknya. Eksploitasi fisik dan pikirannya, tidak sejalan dengan fitrah dan nurani perempuan. Saatnya untuk menghentikan itu semua dan mengembalikan kemuliaan perempuan pada kodratnya.[]

Kholda Naajiyah, S.Si,
Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

Monday, April 18, 2011

Peradaban Emas Khilafah

Peradaban Emas Khilafah

Sepanjang sejarah Khilafah tidak semuanya lurus. Khalifah adalah manusia yang juga bisa menyimpang dari Islam. Namun, penyimpangan perilaku khalifah dari hukum syariah bukan karena kesalahan sistem Khilafahnya. Karena itu, kalau ada khalifah yang terbunuh, yang salah bukanlah sistem Khilafahnya, tetapi tindakan pembunuhan itulah yang menyimpang dari hukum syariah. Karena itu, menyerang sistem Khilafah berdasarkan praktiknya yang menyimpang dari syariah Islam tentu adalah kesalahan fatal.
Dalam sejarah sistem demokrasi Amerika Serikat, empat presidennya (Abraham Lincoln, James Abram Garfield, William McKinley, dan John F Kennedy) semuanya tewas terbunuh. Sejarah demokrasi AS juga mengalami perang saudara antara pihak Utara (Union) dengan Selatan (konfederasi). Lebih dari 500 ribu orang terbunuh dalam perang ini. Meskipun demikian, pengusung demokrasi tidak pernah menyalahkan sistem demokrasi karena adanya pembunuhan terhadap presidennya atau perang saudara tersebut.
Karena Khalifah bisa menyimpang, di dalam Islam mengoreksi Khalifah bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban. Hal ini karena Khalifah bukanlah sumber kedaulatan hukum seperti dalam sistem monarki. Khalifah adalah manusia biasa yang mungkin saja keliru. Dalam hadisnya Rasulullah saw. menyebut aktivitas mengoreksi penguasa lalim sebagai afdhal al-jihad (jihad paling utama) dan siapa pun yang meninggal karena mengoreksi pemimpin zalim sebagai sayyid asy-syuhada’.
Sekali lagi, kita harus membedakan sistem Khilafah dengan pelaksanannya dalam sejarah. Adanya penyimpangan dalam pelaksanaan sistem Khilafah tidaklah menggugurkan kewajiban menegakkan Khilafah. Sama seperti adanya orang yang keliru melaksanakan shalat bukan berarti menggugurkan kewajiban shalat. Kewajiban menegakkan Khilafah dan mengangkat kholifah tetaplah wajib adalah berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat.
Namun, dari sejarah kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap pelanggaran atau penyimpangan dari hukum syariah, meskipun di era Khilafah, akan membawa masalah. Apalagi kalau kita tidak melaksanakannya sama sekali seperti sekarang ini. Kita menegaskan pula, Khilafah yang akan kita tegakkan adalah Khilafah yang berdasarkanmanhaj Kenabian (‘ala minhaj an-Nubuwwah), bukan yang menyimpang. Kita tentu saja bertekad, tidak mengulangi penyimpangan-penyimpangan yang pernah dilakukan oleh Khalifah dalam sejarah Kekhilafahan masa lalu.
Mengangkat sebagian sejarah Khilafah yang gelap, tetapi menutup-nutupi sejarah panjang kejayaan Khilafah adalah cara pandang yang tidak obyektif dan juga ahistoris. Apalagi menyatakan sistem Khilafah membelenggu pemikiran umat tanpa disertai bukti-bukti. Bukankah justru dalam sistem Khilafah banyak bermunculan para ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka dengan karyanya yang gemilang—seperti para Imam Madzhab terkemuka, al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan banyak lagi lainnya?
Imam Syafii, misalnya, menurut al-Marwazi, karyanya mencapai 113 kitab tentang tafsir, fikih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam Al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah Al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah dan Ar-Risalah al-Jadidah.
Adapun Imam Ahmad bin Hanbal menyusun kitabnya yang terkenal, Al-Musnad. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, an-nasikh wa al-mansukh, tarikh, dll. Imam Ahmad juga menyusun kitab Al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab Ash-Shalah, kitab As-Sunnah, kitab Al-Wara‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab Al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah, dll.
Cendekiawan Muslim lainnya di era Khilafah bukan hanya fakih di bidang agama, tetapi juga menghasilkan kaya ilmu sains yang diakui dunia. Karya mereka diakui memberikan sumbangan pada era renaisaince Eropa. Menurut Sir Thomas Arnold, tanpa peran Arab (Muslim)—tentu di era Kekhilafahan Islam, ed.—peradaban modern Eropa bisa jadi tidak bangkit sama sekali. “It is highly probable that, but for the Arabs (Muslims), modern European civilization would never have arisen at all.” (Sir Thomas Arnold and Alfred Guillaume, The Legacy of Islam, 1997).
Di bidang kedokteran terdapat Ibnu Sina. Dalam Encylopedia Britannica ditulis tentang karya Ibnu Sina ini: The Canon of Medicine (Al-Qanun fi ath-Thibb) adalah buku yang paling terkenal dalam sejarah kedokteran baik di Timur dan Barat. Buku ini digunakan Sekolah Medis di Timur dan Barat selama 500 tahun. Menurut Toby E Huff, The Canon of Medicine adalah buku pertama yang mengurai obat-obatan berdasarkan pengujian, uji coba obat eksperimental klinis, uji coba terkontrol secara acak, tes efikasi, analisis faktor risiko, dan gagasan tentang sindrom dalam diagnosis penyakit tertentu (Huff, Toby, The Rise of Early Modern Science: Islam, China, and the West, Cambridge University Press, 2003).
Di bidang fisika terdapat Al-Kindi (abad IX M). Karya pakar fisika ini tentang fenomena optik diterjemahkan ke Bahasa Latin yang memberikan pengaruh besar Roger Bacon. Pakar fisika yang lain adalah Ibnu Haytam (965-1039 M). Di Barat dikenal dengan Alhazen. Ia adalah pakar di bidang optik dan pencahayaan. Sebanyak 200 judul buku tentang optic dan pencahayaan dinisbatkan kepada beliau. Teorinya lebih dulu 5 abad sebelum teori yang sama dikeluarkan Torricelli. George Sarton (1927) dalam bukunya, Introduction To The History of Science, Volume I: From Homer To Omar Khayyam, memberi gelar Ibnu Haytam dengan Fisikawan Terbesar Abad Pertengahan.
Selain itu, perpustakaan zaman Kehilafah amatlah mengagumkan. Perpustakaan Khalifah al-Hakim di Kairo, misalnya, menyediakan 1,6 juta volume buku. Mengenai hal ini, Bloom and Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf, membaca, dan menulis) Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Islam: A Thousand Years of Faith and Power).
Keemasan Khilafah ditulis secara jujur oleh sejarahwan dunia seperti Will Durant dalamStory of Civilization. “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.”
Pertanyaannya, bagaimana mungkin karya-karya cemerlang ini lahir dari sistem Khilafah yang dituduhkan jumud atau terbelakang? Namun yang paling penting, kewajiban menegakkan Khilafah bukan didasarkan pada kemaslahatan yang bisa kita raih itu. Kewajiban menegakkan Khilafah adalah kewajiban syariah yang berdasarkan akidah Islam. Kewajiban Khilafah merupakan perkara ma’lum[un] min ad-din bi asdh-dharurah. Demikianlah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “Mereka (para imam mazhab) telah bersepakat mengenai kewajiban mengangkat khalifah (menegakkan Khilafah).” [Farid Wadjdi]

Tuesday, April 12, 2011

Revolusi Timur tengah Prolog Menuju Perubahan yang Hakiki

Revolusi Timur Tengah Prolog Menuju Perubahan yang Hakiki
Oleh: Lajnah Siyasiyah DPP HTI


Gelombang revolusi melanda dunia arab, berawal dari Tunisia dan dengan cepat menyebar ke Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, Oman, Suriah, Yordania, dan mulai merembet ke Arab Saudi serta berjalan ke seluruh negeri Islam lainnya. Masyarakat marah dan turun ke jalan-jalan untuk menuntut perubahan dengan mengganti rezim yang berkuasa, mereka menginginkan perubahan yang lebih baik. Meskipun mereka berhadapan dengan moncong senjata para pendukung penguasa, mereka tetap bergerak menuntut diturunkannya rezim Mubarak, Ben Ali, Qaddafi, Ali Abdullah Saleh dkk.

Jika diamati jalannya revolusi di dunia arab yang hingga kini masih terus berlangsung dan berproses maka banyak sekali analisis dari berbagai sudut pandang yang bisa ditelurkan, selain juga terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil. Diantara pelajaran yang bisa diambil -tentu ini belum mencakup semuanya- antara lain:

Umat Islam Belum Mati

Pergerakan masyarakat di negeri-negeri kaum muslim di dunia arab secara massif dan spontan menunjukkan bahwa umat Islam belum mati. Umat masih memiliki vitalitas, meski selama ini daya vitalitas itu masih terpendam. Juga tampak jelas bahwa umat Islam bisa bergerak dan bisa digerakkan secara massif. Umat masih menyimpan kekuatan besar untuk menyuarakan aspirasi mereka. Dan umat masih memiliki mimpi dan harapan yang bisa menggerakkan mereka yang dalam kasus revolusi arab ini adalah mimpi perubahan, pergantian rezim, harapan akan hidup yang lebih baik dan bermartabat.

Pergerakan massif kaum muslim di dunia arab sekaligus juga menunjukkan bahwa segala upaya yang dilakukan oleh rezim para penguasa boneka dengan arahan tuan-tuan mereka kafir penjajah untuk membuat umat ini lumpuh dan mati rasa ternyata tidak berhasil. Segala bentuk tindakan represif dan bengis yang dilakukan para penguasa bersama para begundalnya tidak mampu memadamkan semangat umat dan membuat mereka mati kutu dihantui rasa takut untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut hak mereka. Pada awalnya upaya rezim itu terlihat berhasil pada sebagian dari umat sehingga menciutkan nyali mereka. Namun revolusi yang kita saksikan mengatakan bahwa umat telah berhasil menghancurkan penghalang berupa rasa takut itu.

Revolusi yang telah dan sedang berjalan juga mengatakan bahwa kemiskinan tidak bisa mengkooptasi kehendak umat sehingga tidak bergerak karena sibuk hanya memikirkan masalah perut dan pemenuhan keseharian hidup dan dibelenggu oleh kemiskinan mereka. Kondisi kaum muslim di Yaman, Tunisia dan Mesir yang banyak dihiasi kemiskinan tidak membuat mereka tidak bisa bergerak. Justru merekalah yang lebih dahulu bergerak menuntut perubahan. Justru kemiskinan bisa menjadi pemantik terjadinya gerakan massif. Itulah yang terlihat di Tunisia. Pergerakan massa di sana dipicu oleh seorang pemuda, Boazizi, seorang sarjana yang terpaksa berjualan sayuran di lapak gerobak kecil karena kemiskinannya, yang diperlakukan oleh aparat Tunisia secara buruk dengan merampas lapaknya, lalu ia melakukan protes dengan membakar diri hingga mati, dan berikutnya hal itu memacu pergerakan massif dan berakhir dengan tumbangnya Ben Ali.

Di sisi lain kemakmuran ternyata juga tidak bisa mematikan vitalitas umat. Kemakmuran penduduk Libya tidak membuat mereka tidak bisa bergerak. Perlu diketahui bahwa GNP Libya sekitar US $ 13.500 sampai US $ 15.000 per kapita. Setiap orang penduduk Libya mendapat santuan dari negara sekitar 300 dinar atau US $ 400 (sekitar Rp. 3,6 juta ) per bulan. Kemakmuran juga terlihat dari foto-foto suasana revolusi dimana dalam latar belakang terlihat berbagai jenis mobil mahal terlihat dengan jelas.

Semua kenyataan itu makin membesarkan optimisme bahwa perubahan hakiki itu adalah mungkin, bukan mimpi. Umat yang selama ini oleh sebagian orang dikatakan telah mati, ternyata tidak. Umat belum mati. Umat masih memiliki vitalitas. Umat hanya perlu dibangunkan dan disadarkan se-sadar-sadarnya dan dituntun untuk bergerak ke arah yang benar untuk mewujudkan perubahan yang hakiki. Dan untuk itu terlihat jelas bahwa umat masih memiliki kesiapan untuk berkorban dengan apa saja termasuk nyawa mereka. Itulah yang terlihat jelas dalam revolusi di Tunisia, Mesir, Yaman, Libya dan negeri lainnya.

Kekuatan Barat dan Yang Bersandar Pada Barat Hanyalah Semu dan Rapuh.

Dengan turunnya rezim penguasa barat, seperti Ben Ali (antek Prancis) dan Mubarak (antek Amerika), dan segera Qaddafi (antek Inggris), menyusul berikutnya Ali Abdullah Saleh (Antek Inggris) dan akan diikuti oleh yang lain, memperlihatkan bahwa negara-negara barat tidak mampu untuk menghalangi keinginan rakyat untuk menggantikan para penguasa boneka itu. Kekuatan Barat tidak berani untuk terus mempertahankan penguasa bonekanya betapapun besarnya pengabdian mereka selama ini. Semua itu juga memperlihatkan bahwa kekuatan rezim-rezim yang disandarkan pada Barat ternyata begitu rapuhnya.

Revolusi yang terjadi menegaskan kembali bahwa kekuasaan itu ada di tangan umat. Juga menegaskan bahwa kekuatan yang sebenarnya adalah dengan bersandar pada kekuatan umat. Jika umat sudah bergerak, meski hanya bergerak secara emosional dan spontan, tidak ada kekuatan baik Barat, rezim ataupun militer yang loyal kepada barat dan rezim, akan bisa menghadangnya. Bisa dibayangkan jika rakyat bergerak bukan hanya emosional dan spontan, tetapi bergerak atas dorongan dan dipandu oleh kesadaran yang benar? Jadi yang diperlukan dan ditunggu oleh umat tidak lain adalah kelomok yang bisa menanamkan kesadaran yang benar kepada mereka dan menuntun serta memimpin mereka ke arah perubahan yang benar.

Perubahan Tanpa Visi Rawan Dibajak

Dari satu sisi, peristiwa revolusi dunia arab itu memiliki realita positif yaitu telah lenyapnya rasa takut dalam diri masyarakat terhadap penguasanya yang represif dan antek barat. Peristiwa-peristiwa itu juga meneriakkan perasaan-perasaan Islami. Masyarakat bergerak dengan teriakan takbir tanpa takut terhadap tindakan represif penguasa. Dari sisi lain, pergerakan itu mula-mula bersifat emosional dengan teriakan-teriakan umum. Pergerakan semacam ini akan mudah bagi kekuatan internasional yang berpengaruh dan antek-anteknya di negeri tersebut untuk mengendalikannya. Justru, di sinilah titik rawan dari pergolakan di Timur Tengah. Perubahan tanpa visi yang jelas tentang sistem masa depan, bisa dibajak oleh siapa saja, termasuk rezim lama yang berganti wajah menjadi pendukung rakyat dan terkesan reformis. Termasuk, rawan dibajak kepentingan asing. Perubahan sebatas personel rezim menjadi cara untuk revitalisasi dominasi negara besar dengan mengangkat rezim baru yang tetap dalam kontrol mereka.

Perkara itu dipahami oleh setiap orang yang penuh perhatian dan mukhlish. Yaitu bahwa pergerakan-pergerakan itu bersifat emosional, maka mudah bagi kekuatan barat dan antek-anteknya untuk mengendalikannya. Karena itu kekuatan mukhlis itu memfokuskan kontak mereka dengan orang-orang yang melakukan perlawanan untuk menyadarkan mereka dan membuat mereka bisa melihat apa yang terjadi. Juga untuk mendorong mereka agar tidak meremehkan darah yang telah ditumpahkan dan agar mereka menjadikan tuntutan perlawanannya sesuai dengan hukum-hukum agama mereka, di mana mereka meneriakkan takbir dan tahlil… Karena itu dengan memahami hakikat perubahan sesuai dengan tuntutan agama mereka yaitu dengan perubahan sistem yang diperintahkan Allah kepada mereka yaitu sistem yang berlandaskan sistem Islam maka mereka akan memperoleh perubahan yang hakiki.

Meski perubahan yang telah dan sedang berlangsung di dunia islam saat ini, baru sebatas perubahan personel rezim, belum perubahan rezim secara total, apalagi perubahan hakiki, tetapi meski perubahan baru sebatas itu tetaplah sangat berarti dan dari satu sisi penuh berkah. Dan semoga perubahan itu akan menjadi prolog bagi terwujudnya perubahan hakiki. Setidaknya, perubahan itu akan bisa membuka ruang lebih lebar dan lebih leluasa bagi upaya edukasi umat untuk membentuk opini umum berlandaskan kesadaran. Dan tentu saja perubahan yang telah dan sedang terjadi akan makin menambah optimisme bagi terwujudnya perubahan hakiki ke depan.

Menuju Perubahan Hakiki

Perubahan sekecil apapun tidaklah datang dengan sendirinya turun dari langit. Jika terjadi perubahan di masyarakat apapun bentuk dan skala perubahan itu maka sesungguhnya pasti ada pihak-pihak di masyarakat yang berupaya mewujudkan perubahan itu. Sebab Allah SWT berfirman:

} إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ {

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah SWT mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga terjadi perubahan dari mereka dimana bisa jadi dari mereka atau orang yang mengatur dan mengurus urusan mereka atau dari orang yang menjadi bagian dari mereka menurut satu sebab (Al-Qurthubi, Jâmi’ al-Bayân li Ahkâm al-Qur`ân (Tafsîr al-Qurthubî), tafsir surat ar-Ra’d : 11).


Memahami Perubahan Hakiki

Perubahan hakiki yang dimaksud adalah revolusi yang hakiki. Yaitu perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Revolusi -yang sebenarnya bukan hanya sekedar sebutan- di seluruh dunia di manapun adalah perubahan menyeluruh atas kondisi politik, ekonomi dan semua aspek kehidupan. Itu merupakan peralihan dari kondisi yang buruk ke kondisi yang lebih baik. Revolusi itu merupakan pemulihan hak-hak umat dan kehebatan umat serta penarikan kembali kekayaan umat yang dicuri oleh para koruptor. Juga merupakan pemulihan kepribadian umat dan kehebatannya yang telah dihancurkan.

Perubahan yang hakiki itu bukan hanya perubahan orang dan personel sementara sistem yang berlaku tetap eksis. Perubahan yang hakiki itu adalah perubahan sistem yang digunakan untuk mengatur kehidupan masyarakat.

Perubahan yang terjadi di seluruh dunia termasuk yang telah dan sedang terjadi di dunia Islam memberikan pelajaran penting. Yaitu bahwa perubahan hakiki itu memerlukan dua perkara: pertama, Opini umum yang terpancar dari kesadaran umum, bukan hanya opini umum saja. Dan kedua, Nushrah (pertolongan) dari ahlul quwah, dan bukan sembarang nushrah.

Perubahan hakiki yang dimaksud itu terepresentasi dengan tegaknya Daulah Khilafah Rasyidah. Dalam hal ini Mahmud Abdul Karim Hasan menjelaskan bahwa mewujudkan Daulah Islamiyah itu berarti mewujudkan dua perkara: pertama, mewujudkan opini umum yang dipimpin oleh keimanan terhadap Islam dan memiliki kesadaran umum atas wajibnya terikat dengan Islam, wajibnya penerapan Islam dan wajibnya mewujudkan negaranya dan melindunginya. Kedua, mewujudkan kekuatan atau kekuasaan yang merealiasasi penerapan Islam, melindunginya dan memungkinkannya untuk menyebarkan dan mendakwahkan Islam di seluruh dunia (Mahmud Abdul Karim Hasan, at-Taghyîr Hatmiyah ad-Dawlah al-Islâmiyah, hal. 64-65, cet. ii. 2004).

Terwujudnya opini umum yang berdasarkan kesadaran itu pada hakikatnya adalah mewujudkan umat yang terdidik (al-ummah al-mutatsaqqafah) hingga mempunyai kesadaran umum tentang Islam, dan kesadaran politik. Kesadaran umum tentang Islam (al-wa’yu al-’am ‘an al-Islam) dalam diri umat artinya umat paham sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem pendidikan Islam, sistem sanksi hukum, politik luar negeri, dsb, meski tidak sampai detil-detilnya. Sementara kesadaran politik (al-wa’yu as-siyasi) dalam diri umat artinya umat paham kondisi, konstelasi dan peta dunia dari perspektif Islam.

Keharusan dan urgensi adanya umat yang terdidik itu juga bisa kita lihat dengan jelas dari perubahan dan revolusi yang telah dan sedang terjadi di dunia Islam bahkan di seluruh dunia, termasuk yang terjadi di negeri ini. Bergeraknya masyarakat menuntut perubahan di Tunisia, Mesir, Yaman, termasuk dahulu di negeri ini, terjadi karena adanya kelompok terdidik yang secara terus menerus menyuarakan perubahan dan menggerakkannya, meski sayang baru sebatas perubahan rezim bahkan hanya personel rezim saja.

Umat yang terdidik di atas tentu saja tidak bisa ada dengan sendirinya dan tidak mungkin terbentuk begitu saja dari tubuh umat. Untuk mewujudkannya wajib ada pihak yang mendidik/mentatsqîf umat. Edukasi untuk mewujudkan umat yang terdidik itu hanya akan bisa dilakukan oleh partai politik ideologis (hizbun siyasiyun mabda’iyun), sebab yang ingin diwujudkan adalah umat yang terdidik secara ideologi dan politik. Partai tersebut tentu saja bukan sembarang partai politik. Partai itu haruslah partai yang mempunyai master plan (rancangan induk) perubahan, atau at-tsaqafah al-mutabannat (konsep yang diadopsi dan diperjuangkan) yang menjadi fikrah-nya baik sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem pendidikan Islam, sistem sanksi, politik luar negeri, dsb. Disamping itu, partai itu juga haruslah partai yang mempunyai road map (peta jalan), atau thariqah. Thariqah-nya juga harus shahih.

Partai ideologis itu dan para aktivisnya haruslah sadar betul posisi dan tanggungjawab besarnya dalam rangka merealisasi perubahan hakiki di tengah masyarakat. Di atas pundak merekalah ditumpukan harapan umat saat ini akan terwujudnya perubahan hakiki itu. Itu artinya nasib umat ke depan bertumpu di atas pundak mereka. Hal itu menjelaskan betapa besarnya tanggungjawab sekaligus amanah yang harus dipikul oleh partai ideologis dan para aktivisnya itu. Sekaligus juga menunjukkan betapa besar dosa yang harus dipikul jika tanggungjawab dan amanah itu ditelantarkan atau tidak ditunaikan dengan semestinya.

Namun juga harus diingat bahwa perubahan selain dipengaruhi oleh adanya opini umum maka juga sangat ditentukan oleh dukungan ahlul quwah termasuk militer. Revolusi yang telah dan sedang berjalan menunjukkan dengan jelas bahwa peranan militer sangat menentukan dalam perubahan. Maka dalam mewujudkan perubahan, selain pembentukan opini umum berlandaskan kesadaran, maka juga sangat penting upaya-upaya mendapatkan dukungan dari ahlul quwah khususnya militer dan inilah yang disebut aktifitas thalab an-nushrah.

Thalab an-nushrah itu secara faktual menjadi kunci bagi terwujudnya perubahan. Lebih dari itu thalab an-nushrah sesunguhnya merupakan hukum syara’ yang harus dipegangi. Thalab an-nushrah itu merupakan bagian dari thariqah Nabi saw, yang wajib diambil dan diteladani. Hal itu terlihat dari kekonsistenan Rasul saw melakukan thalab an-nushrah bagaimanapun kesulitan yang menghadang dan penyiksaan yang menimpa. Kabilah yang pernah didatangi oleh Rasulullah antara lain: 1. banu ‘Aamir bin Sha’sha’ah, 2. Bani Muharif bin Khashfah, 3. Bani Fazarah, 4. bani Ghassan, 5. bani Murah, 6. Bani Hanifah, 7. Bani Sulaim, 8. Bani ‘Abbas, 9. Bani Nadlar, 10. Bani Baka’, 11. Bani Kindah, 12. Bani Kalb, 13. Bani Harits bin Ka’ab, 14. Bani ‘Adzrah, 15. Bani Hadlaramah, 16. Bani Bakar bin Wail. (Nama-nama itu merujuk kepada Thabaqat Ibnu Sa’ad; Sirah Ibn Hisyam), 17. Bani Syaiban (Al-Bukhari, Raudlul Anif; Ibn Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam) dan 18. Bani Hamdan (Al Mustadrak, Al Hakim, dari Jabir, shahih dengan syarat Shahihain).

Mengingat aktifitas thalab an-nushrah begitu penting dan strategis, terlebih karena wajib, Hizbut Tahrir menambahkan aktifitas thalab an-nushrah sebagai salah satu amal thariqah dalam menegakkan Khilafah Rasyidah atau mewujudkan perubahan yang hakiki. Hizb telah dan terus berupaya melakukan thalab an-nushrah dengan dua tujuan: pertama, meminta perlindungan sehingga bisa mengemban dakwah dengan aman (li himâyah ad-da’wah); dan kedua, untuk sampai pada kekuasaan guna menegakkan Khilafah dan mengembalikan berhukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah di dalam kehidupan, negara dan masyarakat.

Hizb menegaskan bahwa nushrah itu tidak boleh diminta dari individu, sebab Rasul tidak memintanya dari individu, kecuali individu itu menjadi representasi kelompok sehingga secara riil sebenarnya meminta nushrah dari jamaah. Hizb juga menegaskan, nushrah tidak boleh diminta dari jamaah yang lemah. Tetapi nushrah hanya diminta dari jamaah yang diduga kuat mampu menolong dakwah dan membelanya. Jamaah itu juga tidak bleh terikat dengan institusi asing atau terikat dengan perjanjian internasional. Nushrah yang diberikan juga tidak boleh dikaitkan dengans syarat apapun.

Meskipun thalab an-nushrah merupakan kunci, namun thalab an-nushrah tidak menjadi aktifitas Hizb, tetapi hanya salah satu dari aktifitas Hizb. Thalab an-nushrah bukan aktifitas anggota-anggota Hizb secara keseluruhan. Akan tetapi yang bekerja melakukan thalab an-nushrah di satu wilayah hanyalah sejumlah kecil anggota yang jumlahnya tidak melebihi jumlah jari di satu tangan. Tabiat aktifitas thalab an-nushrah tidak memungkinkan untuk menjadikan semua anggota melakukannya. Tabiat akfifitas thalab an-nushrah justru harus dilakukan oleh sejumlah anggota yang sangat terbatas. Disamping itu, dari sirah Nabi saw, thalab an-Nushrah kebanyakan dilakukan oleh Beliau sendiri. Sahabat yang pernah ditunjuk Rasul untuk melakukan aktifitas ini hanyalah Abu Bakar kepada Bani Bakr bin Wail dan Bani Syaiban, Ali bin AbinThalib ke Mina, dan Mush’ab bin Umair bersama As’ad bin Zurarah di Madinah.

Keberhasilan thalab an-nushrah sangat dipengaruhi oleh sejauh mana keberhasilan proses edukasi umat. Mahmud Abdul Karim Hasan menyatakan, “harus diisyaratkan di sini bahwa tidak mungkin beraktifitas untuk mewujudkan kekuatan untuk menerapkan Islam sebelum mewujudkan kesadaran umum di masyarakat dan suasana untuk itu serta kesiapan untuk menerapkannya. Demikian juga tidak mungkin mengumumkan Daulah Islamiyah sebelum adanya opini umum Islami yang menginginkan eksistensi Daulah Islamiyah dan mendukungnya, serta melihatnya sebagai hak yang wajib dan solusi yang sahih bagi kondisi dan permasalahan umat. Ia juga menambahkan, “jika terdapat kesadaran umum yang sahih tentang penegakan Daulah Islamiyah, dan melanjutkan kehidupan Islami serta eksistensi Daulah Islamiyah telah menjadi tuntutan kaum muslim, maka pada kondisi itu wajib mewujudkan kekuatan yang dengannya entitas Daulah Islam ditegakkan, sandaran dan kekuatan kufur dihilangkan dan Islam diterapkan. Dan ini bersandar pada sejauh mana penyebaran ide Islami dan ide eksistensi daulah yang menerapkannya” (Mahmud Abdul Karim Hasan, at-Taghyîr Hatmiyah ad-Dawlah al-Islâmiyah, hal. 65-66, cet. Ii. 2004).

Kenyataan itu pula yang tergambar dalam sirah Rasul saw. Jabir bin Abdillah ra menuturkan:

مَكَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ ، يَتْبَعُ النَّاسَ فِي مَنَازِلِهِمْ بعُكَاظٍ وَمَجَنَّةَ ، وَفِي الْمَوَاسِمِ بِمِنًى ، يَقُولُ : مَنْ يُؤْوِينِي ؟ مَنْ يَنْصُرُنِي حَتَّى أُبَلِّغَ رِسَالَةَ رَبِّي ، وَلَهُ الْجَنَّةُ ؟ … حَتَّى بَعَثَنَا اللَّهُ لَهُ مِنْ يَثْرِبَ ، فَآوَيْنَاهُ ، وَصَدَّقْنَاهُ ، فَيَخْرُجُ الرَّجُلُ مِنَّا فَيُؤْمِنُ بِهِ ، وَيُقْرِئُهُ الْقُرْآنَ ، فَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ فَيُسْلِمُونَ بِإِسْلاَمِهِ ، حَتَّى لَمْ يَبْقَ دَارٌ مِنْ دُورِ الأَنْصَارِ إِلاَّ وَفِيهَا رَهْطٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، يُظْهِرُونَ الإِِسْلاَمَ ، ثُمَّ ائْتَمَرُوا جَمِيعًا ، فَقُلْنَا : حَتَّى مَتَى نَتْرُكُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطْرَدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ ؟ فَرَحَلَ إِلَيْهِ مِنَّا سَبْعُونَ رَجُلاً حَتَّى قَدِمُوا عَلَيْهِ فِي الْمَوْسِمِ ، فَوَاعَدْنَاهُ شِعْبَ الْعَقَبَةِ

Rasul saw tinggal di Mekah sepuluh tahun, Beliau mendatangi orang-orang di tempat-tempat tinggal mereka di Ukazh dan Majannah dan di musim-musim haji di Mina. Beliau berkata: siapa yang mendukungku? siapa yang menolongku hingga aku bisa menyampaikan risalah Rabbku, dan baginya surga? … Hingga Allah mengutus kami dari Yatsrib, maka kami mendukung beliau dan membenarkan beliau. Seorang laki-laki dari kami beriman kepada beliau, dan beliau membacakan al-Quran kepadanya, kemudian dia pulang ke keluarganya sehingga mereka masuk Islam dengan keIslaman dia. Hingga tidak tersisa satu rumah pun dari rumah-rumah Anshar kecuali di dalamnya ada sekelompok orang muslim, mereka menampakkan agama mereka, kemudian mereka semua berkumpul (tsumma I’tamarû jamî’an). Maka kami katakan : sampai kapan kita biarkan Rasulullah saw terusir di bukit Mekah dan dicekam ketakutan? Maka 70 orang dari kami pergi hingga mereka datang di musim haji dan beliau berjanji bertemu dengan kami di celah bukit ‘Aqabah … (HR Ahmad)

Imam Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi juga mengeluarkan riwayat tersebut dengan lafazh sedikit berbeda.

… فَائْتَمَرْنَا وَاجْتَمَعْنَا وَقُلْنَا حَتَّى مَتَى رَسُوْلُ اللهِ r يُطَرَّدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ ، فَرَحَلْنَا حَتَّى قَدِمْنَا عَلَيْهِ فِي الْمَوْسِمِ فَوَاعَدْنَا بَيْعَةَ الْعَقَبَةِ …

… maka kami bermuktamar dan berkumpul, dan kami katakan “sampai kapan Rasululalh saw terusir di bukit Mekah dan dicekam ketakutan, maka kami pergi hingga kami datang kepada beliau di musim-musim haji lalu kami saling berjanji dalam Baiat al-’Aqabah II

Mahmud Abdul Karim Hasan mengomentari riwayat ini, “maka mereka menyelenggarakan muktamar di Madinah dan mereka memutuskan untuk pergi kepada Nabi saw dan membaiat beliau atas apa saja yang beliau minta dan syaratkan” (Mahmud Abdul Karim Hasan, at-Taghyîr Hatmiyah ad-Dawlah al-Islâmiyah, hal. 84, cet. Ii. 2004). Aktivitas thalab an-nushrah di Madinah itu ditugaskan oleh Rasul kepada Mush’ab bin Umair, ditemani oleh As’ad bin Zurarah. Keduanya meminta nushrah kepada para pemimpin suku Aws dan Khazraj -dua suku terbesar dan terkuat di Madinah- seperti Sa’ad bin Mu’adz, Amru bin al-Jamuh, Sa’ad bin Ubadah, dsb. Disamping aktifitas thalab an-nushrah itu mereka juga melakukan dakwah bersama kaum muslim di Madinah untuk membentuk opini umum yang terpancar dari kesadaran. Ketika opini umum berlandaskan kesadaran itu terwujud di tengah masyarakat Madinah, maka ahlul quwah terdorong memberikan nushrah kepada Rasul saw dan dengan itu tegaklah Daulah Islamiyah di Madinah dan terwujudlah perubahan hakiki di tengah masyarakat Madinah.

Tampak jelas bahwa dalam terwujudnya keberhasilan aktifitas thalab an-nushrah ini peran umat sangatlah penting. Hizb menegaskan, “kita tidak lupa di sini bahwa umat memiliki peran penting dalam menggerakkan ahlul quwah. Hal itu bahwa ahul quwah wa al-man’ah jika merasakan keterpengaruhan umat dengan Islam secara hakiki, dan bahwa umat siap secara penuh untuk berkorban demi Islam, maka ini akan menjadi faktor pentng dalam terdorongnya ahlul quwah untuk menolong Islam dan menegakkan daulahnya” (Wujûb al-‘Amal li Iqâmah ad-Dawlah al-Islâmiyyah Dhimna Jamâ’ah wa bi Tharîqah Rasûl, Silsilah Afkâr Yajibu an Tushahhah II, hal. 22, Lajnah Tsaqafiyah Hizbut Tahrir Wilayah Irak. 1426 H/2005 M).

Dengan demikian aktifitas edukasi dan pembentukan opini umum berdasarkan pada kesadaran umum memegang peranan penting bahkan bisa dikatakan sangat menentukan bagi keberhasilan akfititas thalab an-nushrah. Dan aktifitas edukasi umat itulah yang menjadi aktifitas seluruh organ, anggota dan kekuatan partai ideologis itu. Maka makin cepat dan makin besar terwujud opini umum yang berlandaskan kesadaran akan Islam dan kesadaran politik, makin cepat dan makin besar pula kemungkinan berhasilnya aktifitas thalab an-nushrah. Di sinilah kegigihan setiap orang dengan posisi, peran dan potensi masing-masing, untuk terlibat dalam proses edukasi itu, selain bernilai tinggi dan sangat mulia di hadapan Allah, juga memiliki peran strategis dan bernilai tinggi bagi terwujudnya perubahan hakiki.

Aktivitas edukasi dalam rangka menanamkan kesadaran akan Islam dan kesadaran politik itu terangkum dalam aktivitas-aktivitas yang menjadi aktivitas pada tahapan tafâ`ul ma’a al-ummah. Aktivitas pembinaan intensif dilakukan untuk mendarah dagingkan ideologi Islam dalam diri mereka yang menjadi mutsaqqif al-ummah (pendidik umat). Pembinaan umum untuk menyampaikan ideologi Islam kepada khalayak secara massal. Pergolakan pemikiran (ash-shirâ`u al-fikriy) yang difokuskan pada ide-ide dan kepentingan ghayr âniyah (bukan kekinian) termasuk grand strategi musuh yang bersifat jangka panjang. Sementara untuk edukasi terkait masalah kemaslahatan kekinian dilakukan melalui tabanni mashâlih al-ummah. Ditambah aktivitas perjuangan politis (al-kifâh as-siyâsî) yang menyasar ide-ide dan kepentingan yang bersifat âniyah (kekinian) yang secara rinci dilakukan melalui dua bentuk aktifitas, pertama, kasyf al-khuthath membongkar strategi dan taktik musuh untuk menyerang dan menghancurkan umat; dan kedua, memerangi penguasa (muqâra’ah al-hukâm) dengan cara menelanjangi jati diri dan kebobrokan penguasa yang merupakan antek barat dan pengabaian mereka terhadap kepentingan umat. Semua aktivitas itu pada dasarnya adalah aktivitas edukasi untuk menanamkan kesadaran akan Islam dan kesadaran politik dalam diri umat.

Muhammad Muhsin Radhi dalam tesisnya tentang Hizbut Tahrir di Universitas Islam Baghdad (2006/2007) mengatakan bahwa dalam tahapan ini maka seluruh struktur, anggota bahkan semua pribadi yang ada di dalam Hizb harus menjalin kontak dengan masyarakat, harus mengatakan kepada masyarakat ide-ide, pandangan-pandangan, dan hukum-hukum yang diturunkan pada fakta-fakta yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu ia harus mengetahui kejadian-kejadian kasuistik dan harus memberikan pandangan tentangnya. Jika tidak maka ia akan kehilangan topik kontak dan berikutnya kehilangan kontak (ittishal). Oleh karena itu ia harus memonitor aktifitas-aktifitas parsial yang terjadi di masyarakat. Ia juga harus menelaah kembali (muraja’ah) buku-buku Hizb untuk menegaskan pendapat-pendapat yang diterapkan pada aktifitas-aktifitas parsial atau penderivasian ide-ide mutabanat yang termaktub di buku-buku. Bagaimanapun penguasaannya akan tsaqafah Hizb maka dengan alasan apapun ia tetap perlu melakukan muraja’ah. Dan bagaimanapun kemampuannya maka ia perlu mengetahui kejadian-kejadian parsial artinya ia harus memonitor kejadian-kejadian kasuistik secara detil (Muhammad Muhsin Radhi, Hizb at-Tahrîr Tsaqâfatuhu wa Manhajuhu fî Iqâmah al-Khilâfah al-Islâmiyyah, hal. 308, Universitas Islam Baghdad, 2006/2007).

Sejauh mana dan sekualitas apa seseorang terlibat dalam melakukan semua itu mengindikasikan sejauh mana pula ia memikul tanggungjawab dan menunaikan amanah yang ada di pundaknya sebagai bagian dari kelompok yang menjadi tumpuan harapan umat saat ini. Hal ini hendaknya menjadi salah satu introspeksi wajib kita setiap hari, terutama ketika bermunajat kepada Allah dan dikala berkhalwat dengan Allah di keheningan malam.

Dalam melakukan edukasi diatas maka diperlukan fokus. Yang harus dilakukan adalah fokus pada tujuan perubahan dan fokus pada pelaksanaan aktifitas pokok marhalah tafaul yang sejatinya merupakan aktifitas dan proses edukasi yang dimaksudkan diatas. Aktifitas lain seperti yang disebut “aktifitas riil”, aktifitas sosial, pendidikan, apalagi pernak-pernik politik praktis, tidak boleh memalingkan dari aktifitas pokok itu. Para aktivis perubahan hakiki juga harus menjadikan hidupnya berporos pada tujuan itu dan pada proses edukasi tersebut. Waktunya hendaknya tidak habis sebagian besarnya untuk kepentingan dunianya, terkuras oleh pekerjaannya, dan tersedot untuk mencari kekayaan, atau bahkan lebih buruk lagi jika itu justru untuk kepentingan dunia orang lain. Setiap diri aktivis hendaknya menghindarkan diri dan aktivitasnya agar tidak merecoki proses edukasi, mengacaukan proses itu, apalagi yang lebih buruk menghambatnya, na’ûdzu billâh min dzâlika. Setiap aktivis juga harus selalu berpikir bagaimana aktivitasnya berkontribusi dalam proses edukasi umat itu.

Agar proses edukasi itu berjalan secara efektif menghasilkan pengaruh maksimal maka pembentukan opini dan kesadaran itu harus digelindingkan secara kontinu dan terorganisir dimana semua aktifitas dengan berbagai ragamnya mengerucut pada agenda opini yang telah disusun. Dalam hal itu saling kepercayaan apalagi kepercayaan kepada kepemimpinan jamaah mutlak diperlukan. Karena tanpa itu maka proses edukasi yang telah dirancang dan disusun tidak akan bisa berjalan dan menggelinding dengan baik. Disini juga mutlak ada kepatuhan, bukan kepatuhan buta dan mati tanpa ruh melainkan kepatuhan yang dinamis dan kritis konstruktif.

Maka secara keseluruhan yang harus ada adalah kematangan dan kedewasaan sikap berjamaah. Dengan begitu maka gerbong upaya mewujudkan perubahan hakiki itu akan bisa terus berjalan, dan bahkan dengan akselerasi yang terus terjaga.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa upaya mewujudkan perubahan hakiki itu pasti memerlukan pengorbanan. Pengorbanan dalam upaya mewujudkan sesuatu merupakan sesuatu yang pasti dan thabi’i. Juga harus dipahami bahwa makin besar dan tinggi sesuatu yang ingin diwujudkan, makin besar dan tinggi pula pengorbanan yang harus diberikan. Revolusi di arab yang sudah dan terus terjadi memberikan pelajaran berharga. Jika untuk mewujdukan perubahan yang masih semu saja dibutuhkan pengorbanan dalam segala bentuknya hingga pengorbanan nyawa (di Mesir setidaknya ada 400 orang meninggal, Tunisia sekitar 200 orang, di Libya perkiraan sudah lebih dari 2000 orang). Maka pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah sejauh mana pengorbanan yang sudah kita berikan dan sejauh mana kesiapan kita untuk memberikan pengorbanan? Maka hendaknya kita memupuk jiwa pengorbanan semaksimal mungkin hingga puncaknya kita siap mengorbankan segalanya sampai sampai tidak tersisa lagi yang bisa dikorbankan.

Untuk semua itu faktor keikhlasan menjadi kunci. Sebab hanya hamba yang ikhlas saja yang tidak akan bisa digoda oleh setan (QS al-Hijr [15]: 40 dan Shad [38]: 82). Keikhlasan paripurn artinya hanya Allah dan kepentingan akhirat sajalah yang menjadi satu-satunya motiv perbuatan. Keikhlasan paripurna berarti segala hal yang bersifat duniawi, baik harta, posisi, penghargaan, kebanggaan, pujian, celaan, cacian dan berbagai kepentingan dan hal duniawi tidak lagi berpengaruh. Keikhlasan juga berarti menjadikan dunia berada di genggaman tangan, bukan berada di hati, sementara hati dipenuhi oleh Allah dan kepentingan akhirat. Keikhlasan itu berarti menjadikan keridhaan dan kehidupan mulia di akhirat terus membayang di pelupuk mata, bukannya dunia, jabatan, prestise, kekayaan, dan hal-hal duniawi lainnya. Keikhlasan seperti itu akan melahirkan keistiqamahan. Keikhlasan akan menjadikan seseorang bisa memberikan kontribusi maksimal dalam posisi apapun, baik menjadi prajurit ataupun jenderal, dipimpin maupun memimpin. Keikhlasan juga akan membuahkan dan melanggengkan pengorbanan dan memaksimalkannya.

Itulah sebagian pelajaran yang bisa diambil dari perubahan dan revolusi yang telah dan sedang berlangsung di dunia Islam. Tentu masih banyak pelajaran lain yang bisa diambil. Itu pulalah sebagian hal-hal penting yang harus dilakukan, harus diwujudkan. Semua itu lebih untuk menjadi bahan instronspeksi dan kontemplasi dalam rangka memberikan yang terbaik dan maksimal di jalan perubahan hakiki ini, dan tentu saja dengan itu semoga pertolongan dengan terwujudnya perubahan hakiki akan segera diturunkan oleh Allah SWT. Dan semoga hal itu terealisir melalui tangan kita. Allâhumma anjiz lanâ mâ wa’adtaka ‘alâ rasûlika bi ‘awdat[i] al-Khilâfah ar-Râsyidah ‘alâ minhâj an-nabiyyika, Allâhumma ij’alnâ min man aqâmahâ bi aydînâ, Allâhumma tsabbit aqdâmanâ wa unshurnâ fî thâ’atika, âmîn. [ YA]

Sunday, April 3, 2011

Memaafkan adalah salah satu rahasia hidup berkelimpahan

Memaafkan adalah salah satu rahasia hidup berkelimpahan

Salah satu kunci kekuatan cinta adalah Memaafkan.Memohon Ampunan kepada Allah,Memaafkan diri anda,orang tua Anda,anak-anak Anda dan memaafkan siapa saja.Ya. Maafkan diri Anda! atas semua yg pernah anda lakukan masa lalu, dan berjanjilah kepada diri sendiri bahwa mulai sekarang Anda akan menjauhi dosa dan akan menjadi diri Anda yg terbaik yang Anda Bisa.Ingatlah, masa lalu sudah berlalu,jadi belajarlah darinya dan maafkan diri Anda.

Sobat, permaafan merupakan tindakan Tuhan semesta alam.Kalau kita melakukannya maka pastilah kita akan meraih ampunan dan kasih-Nya. Ia adalah bentuk tertinggi dari cinta; ia membebaskan kesenangan, membawa kedamaian, melemahkan emosi-emosi negatif dan mengurangi penderitaan-penderitaan dan kesengsaraan yang tak perlu. Permaafan mengizinkan cinta kembali masuk ke dalam kesadaran Anda. Permaafan adalah rahasia kebahagiaan. Salah satu rahasia hidup panjang umur dan berlimpah adalah memaafkan siapa saja dan apa saja, setiap malam sebelum kita tidur.

Suatu hari ketika Rasul duduk-duduk bersama dengan para sahabat untuk menunggu waktu sholat di masjid. Terlontar kalimat yang membuat sahabat penasaran, ” Sebentar lagi akan datang salah seorang penghuni surga.” dan sebagian sahabat mengarahkan matanya ke arah pintu masjid. Siapa gerangan yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ? Maka dari pintu masjid datanglah seorang arab baduwi menuju ruang utama masjid dan ikut berjamaah dengan para sahabat. Keesokan harinya Rasul juga mengatakan hal yang sama, ” Sebentar lagi akan datang salah seorang penghuni surga.” Maka para sahabat semakin penasaran siapa yang dimaksud oleh Rasul. Setelah itu datanglah orang arab baduwi seperti kemarin. Keesokan harinya Rasul pula mengatakan hal yang sama seperti kemarin, ”Sebentar lagi akan datang salah seorang penghuni surga.” Semakin membuat para sahabat penasaran dan siapa orang yang dimaksud oleh Rasul itu. Kemudian tidak sebeberapa lama datanglah orang yang sama yaitu seorang arab baduwi seperti kemarin. Setelah sholat berjamaah selesai, ada salah satu sahabat yang ingin belajar dan bermalam di rumah si baduwi itu. Ingin mengetahui secara langsung dan jelas. Amalan apa yang dilakukannya sehingga menjadikan Rasul mengabarkan sampai tiga kali dia termasuk salah satu penghuni surga.

”Wahai fulan ! bolehkah saya menginap barang semalam di rumah engkau karena saya lagi ada masalah dengan keluarga saya.” tanya seorang sahabat yang telah menemui si Baduwi. ” Oh, Silahkan! tapi rumah saya sederhana sekali.Mari ke rumah saya.” jawab si Baduwi. ” Terima kasih. Saya ingin berkenalan dan silaturrahim dengan Anda.” Selama semalam sahabat tadi disambut dengan ramah tamah dan penuh kekeluargaan oleh keluarga Si Baduwi tadi. Dia bertanya dan mengamati seharian amalan apa saja yang dilakukan oleh Si Baduwi kok sampai-sampai Rasul mengabarkan kepada para sahabat, dia adalah salah satu penghuni surga. Menurut pengamatan dan kesimpulan sahabat tadi selama sehari semalam tidak ada yang istemewa seperti kebanyakan kaum muslimin lainnya tidak lebih dan tidak kurang dengan kebanyakan orang. Kemudian sahabat tadi berpamitan, ”Mohon Maaf fulan, sebelum saya berpamitan. Sebenarnya kami tidak ada masalah dengan keluarga. Tapi karena saya kepingin sekali belajar sama Anda tentang sesuatu hal yang menjadikan selama tiga kali Rasul mengabarkan secara langsung bahwa Anda termasuk salah satu ahli surga.” kata si sahabat. Dengan terkejut dan wajahnya menjadi agak pucat si Baduwi mengatakan,” Amalan apa ya? Seperti yang tuan lihat dan perhatikan selama sehari semalam tidak lebih dan tidak kurang sebagaimana adanya yang tuan lihat. Apa benar Rasul mengabarkan demikian ya tuan? Alhamdulillah Ya Allah.” jawab Si Baduwi sambil bergetar tubuhnya. ” Oke. Terima kasih ya Fulan, Anda telah memberi kesempatan saya untuk menginap dan belajar sama Anda. Sekarang saya mohon diri. Terima kasih ya.”
Belum jauh melangkahkan kaki dari rumah Si Baduwi, sahabat tadi dipanggil dan kemudian disusul oleh Si Baduwi dan berkata, ” Wahai tuan! Saya punya kebiasaan setiap malam sebelum tidur, saya berdo’a : Ya Allah siapa saja orang yang pernah menyakiti atau mendzalimi saya, Ampunilah dia Ya Allah! Saya ikhlas Ya Allah bukankah Engkau Maha Pengampun dan Penyayang. Sedikitpun saya tidak punya rasa sakit hati,dendam atau hasud kepada siapapun.” Mendengar ini, sahabat tadi langsung berkata, ” Subhaanallah ! Subhaanallah! Subhaanallah! Inilah amalan yang sulit tapi luar biasa! Maka layak wahai saudaraku! Engkau dikabarkan langsung oleh baginda Rasul termasuk salah satu ahli surga. Terima kasih wahai fulan atas ilmunya”, sahabat tadi menjabat tangan si baduwi dan mencium kedua pipinya serta minta didoakan.
Inilah sobat rahasia yang dipaparkan oleh Rasul kepada kita melalui kisah sahabat di atas.Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang amat berharga ini.

Sekarang bagaimana langkah-langkah kita untuk memulai proses memaafkan?
Langkah yang pertama adalah, Kita mulai dengan memohon ampunan kepada Allah, berjanji kepada-Nya kita akan memaafkan siapa saja dan apa saja, tak peduli apa yang sudah mereka lakukan kepada kita. Kita berjanji kepada Allah dengan hati yang terbuka bahwa kita akan menghindari penilaian dan kecaman. Berdoalah kepada-Nya dengan perasaan mendalam dan penghormatan penuh. Mintalah pengampunan dari-Nya dengan kepercayaan dan pengharapan bahwa Dia akan menjawab doa-doa kita dan mengampuni dosa-dosa kita, tak peduli berapapun banyaknya, karena Allah Maha Pemurah dan Maha Pemberi. Ingatlah bahwa Allah mencintai kita melebihi siapapun di dunia ini dan akan selalu ada untuk kita.
Langkah kedua, Ya! Maafkan diri kita! atas semua yg pernah kita lakukan masa lalu, dan berjanjilah kepada diri sendiri bahwa mulai sekarang kita akan menjauhi dosa dan akan menjadi diri kita yang terbaik yang Anda Bisa.Ingatlah, masa lalu sudah berlalu,jadi belajarlah darinya dan maafkan diri kita masing-masing.
Langkah ketiga, maafkan orang tua kita. Maafkan saja mereka atas semua yang menurut kita salah dilakukan pada satu atau lain waktu. Ingatlah bahwa orang tua kita melakukan yang terbaik yang mereka bisa dengan pengetahuan yang mereka miliki, dan mereka mencintai kita melebihi siapa pun di dunia ini.
Langkah keempat, maafkan anak-anak kita. Jika kita mempunyai anak, maafkan mereka sekarang tanpa syarat apa pun. Maafkan mereka sekarang untuk semua kesalahannya.
Langkah kelima, maafkan setiap orang. Maafkan teman-teman kita atas apa pun yang mungkin pernah mereka lakukan kepada kita. Maafkan bos kita, maafkan rekan-rekan kerja kita, maafkan semua orang yang telah menyebabkan kita sakit hati dan menderita.

Ingatlah sobat, apa pun yang terjadi pada kita, selalu ada alasan dan hikmah dibaliknya. Pengalaman-pengalaman masa lalu memberi kita banyak sekali kebijaksanaan selama bertahun-tahun, kebijaksanaan yang bisa kita gunakan untuk menjadi diri kita yang terbaik,untuk diri kita dan orang-orang yang kita cintai.
Sekarang kembali ke permulaan lagi untuk memohon ampunan kepada Allah dan bertekadlah untuk membuat-Nya ridho dan menjadi diri kita yang terbaik.
Mulai hari ini menjadikan tindakan memaafkan teman terbaik kita. Undanglah Allah ke dalam hidup kita. Bersyukurlah dan berikan pujian kepada-Nya, setiap hari sebelum tidur dan setelah bangun pada pagi hari. Bersyukurlah kepada-Nya sebelum makan untuk makanan yang telah Dia berikan. Ketika kita membeli baju baru, bersyukurlah kepada-Nya atas berkah yang telah diberikan-Nya kepada kita. Seringlah berdoa.Jadilah benar-benar spiritual. Kenalilah Allah, dan kita akan menemukan bahwa segala sesuatu tidak lain hanyalah pancaran-pancaran-Nya.Insya Allah hidup kita akan berkelimpahan dan berkah. Amin
Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

( Spiritual motivator – N.Faqih Syarif H, Penulis buku Al quwwah ar ruhiyah kekuatan spirit tanpa batas, kiat dahsyat menjadi dai hebat dan Menjadi dai yang dicinta, www.fikrulmustanir.blogspot.com , email mumtaz.oke@gmail.com )

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co