Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Friday, March 4, 2011

The Power of love



The Power of Love

Cinta sungguh obat mujarab,cinta adalah jawaban atas semua tantangan dalam hidup.Setiap kali kita memberikan atau mengirim cinta, kita tidak saja akan menerimanya kembali, tapi juga mengurangi emosi-emosi negatif dan mengatasi rasa takut.

Sobat, seberapa pentingkah cinta bagi kita? Cinta sama pentingnya dengan udara yang kita hirup, makanan yang kita santap, air yang kita minum.Cinta adalah syarat bagi kehidupan yang seimbang. Dr. Murray Bannks (1950) seorang psikolog ternama dengan teorinya tentang kehidupan seimbang mengatakan bahwa untuk memiliki kehidupan, kita perlu empat hal utama :
1. Menjalani hidup
2. Mencintai dan dicintai
3. Merasa penting
4. Mengalami keberagaman.
Pernakah kita mendengar tentang orang-orang yang menempatkan hidup mereka di dalam bahaya demi seseorang yang mereka cintai? Atau mungkin tentang orang-orang yang mempertaruhkan hidup di dalam bahaya demi menyelamatkan seseorang yang mereka bahkan tidak dikenal, hanya atas alasan cinta?

Sobat, mari kita bahas pilar-pilar mencintai, dan pilar pertama dan utama adalah Mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bukankah Allah telah menciptakan kita dan mencintai kita tanpa syarat. Dialah yang pertama dan terakhir, tidak ada yang sebelum Dia dan tidak ada yang setelah Dia. Dialah kekuatan tertinggi, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Memberi dan tak peduli apa pun yang pernah kita lakukan, tak peduli berapa banyak dosa yang kita kerjakan, jika kita memohon ampunan-Nya dengan hati yang tulus, Dia akan mengampuni kita. Nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wahai anak Adam, jika dosamu setinggi langit dan engkau memohon ampunan kepada Allah, Dia akan mengampunimu” Subhaanallah, bisakah kita bayangkan betapa Allah sangat mencintai kita?
Seorang sahabat Nabi Saad bin Abi Waqas ketika dia memeluk Islam dan berjuang bersama Rasulullah Saw, ibundanya marah, mengembargonya, bahkan mengancamnya dengan melakukan demo untuk mogok makan agar Saad meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. Apa yang dikatakan Saad kepada bundanya, ”Wahai Bunda, andaikata bunda punya seratus nyawa dan setiap nyawa ke luar satu persatu, sungguh aku tidak akan tinggalkan Dien (agama) ini.” kemudian peristiwa ini disampaikan kepada Rasulullah Saw dan beliau mengatakan, ” Tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila diajak dalam kemaksiatan kepada Allah.” kemudian Saad minta kepada Rasulullah Saw untuk didoakan agar ibunya masuk Islam, kemudian Rasul pun mendoakannya. Dan ibunyapun akhirnya masuk Islam serta mendukung perjuangan Nabi dan Saad bin Abi waqas salah seorang sahabat yang menjadi Panglima Rasul yang luar biasa dan salah satu sahabat yang do’anya mustajabah serta dijamin oleh Rasul masuk surga. Allahu Akbar!

Sobat, kalau kita mau gunakan akal pikiran kita dengan sehat dan jernih maka sungguh tidak pantas kita sombong kepada Allah dan tidak taat kepada-Nya. Pernahkah kita berpikir berapa kekayaan setiap orang jika dihargai dengan uang? Berapakah harga tubuh manusia jika diuangkan? Berapa harga mata, hidung, telinga, mulut, otak, kepala, lidah, tangan kaki dan apa saja yang menjadi bagian dari tubuh manusia jika dirupiahkan?
Saat mata kita sehat, kita tak pernah berpikir betapa berharganya mata kita. Coba saja jika suatu ketika mata Anda, karena satu sebab kecelakaan tertentu, menjadi buta. Kebetulan Anda memiliki tabungan milyaran rupiah. Apa yang Anda lakukan? Anda pasti akan membayar berapa milyar pun untuk mengembalikan penglihatan Anda. Tak peduli jika untuk itu tabungan Anda terkuras nyaris habis. Saat tangan atau kaki kita sehat dan normal, kita pun mungkin jarang berpikir betapa bernilainya kedua anggota tubuh kita itu. Namun, pernahkah Anda membayangkan andai suatu saat, karena satu sebab musibah tertentu, tangan atau kaki Anda itu harus diamputasi? Pasti, jika kebetulan Anda orang kaya, Anda akan sanggup mengeluarkan ratusan juta atau bahkan milyar rupiah asal tangan atau kaki Anda tidak diamputasi dan kembali sehat serta normal seperti sedia kala. Bagaimana pula jika satu sebab bencana tertentu wajah Anda yang ganteng/cantik tiba-tiba harus menerima kenyataan rusak parah tak berbentuk akibat terbakar hebat atau terkena air keras? Pasti, Anda pun dengan ikhlas dan rela akan melepaskan harta apa saja yang Anda miliki asal wajah Anda bisa kembali ganteng/cantik seperti sedia kala.
Sudah banyak bukti, orang-orang yang berpunya sanggup mengorbankan hartanya sebanyak apapun demi mengembalikan kesehatannya; demi sembuh dari penyakit jantung, kanker, kelumpuhan, kecacatan dll. Bahkan demi mengembalikan agar kulitnya menjadi kencang, atau agar keriput di wajahnya bisa hilang, banyak orang rela merogoh sakunya dalam-dalam.
Jika sudah demikian, semestinya kita sadar, betapa kayanya setiap diri kita; hatta jika secara materi kita bukan orang berpunya. Bukankah kita akan tetap mempertahankan mata atau hidung kita meski ada orang mau menawar dan membelinya seharga ratusan juta rupiah? Bukankah kita tak akan rela melepas jantung atau paru-paru kita walau ada orang berani menawarnya seharga semilyar rupiah? Bukankah kita tak akan sudi kehilangan tangan atau kaki kita meski untuk itu kita mendapatkan kompensasi harta yang melimpah-ruah? Bukankah kita pun tak akan pernah rela menyewakan nafas kita barang lima atau 10 menit meski harga sewanya jutaan rupiah? Sebab, kita amat paham, tidak bernafas lima atau 10 menit berisiko menjadikan kita mati lemas.
Belum lagi jika kita berusaha meneliti udara yang kita hirup saat bernafas. Pikirkan pula air yang kita minum; yang digunakan untuk mandi, mencuci, memasak; dll. Renungkan pula bumi yang kita pijak, sinar matahari yang menyinari setiap hari, air hujan yang turun ke bumi, sinar bulan yang menghiasai malam, jalanan yang kita lalui, pemandangan alam yang kita nikmati, dll. Bagaimana jika semua itu harus kita beli? Berapa ratus juta bahkan berapa puluh milyar rupiah uang yang harus kita keluarkan?
Namun, alhamdulillah, semua kekayaan dan kemewahan itu Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma alias gratis! Tak sepeser pun kita dipungut oleh Allah SWT untuk membayar nikmat yang luar biasa itu. Amat pantaslah jika Allah SWT dalam Alquran surat ar-Rahman berkali-kali mengajukan pertanyaan retoris kepada manusia: Fa bi ayyi âlâ’i Rabbikumâ tukadzibân (Nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan)? Lebih dari itu, Dia-lah Tuhan Yang mengurus kita siang-malam tanpa pernah meminta upah secuil pun. Mahabenar Allah Yang berfirman (yang artinya): Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kalian pada waktu malam dan siang hari selain Zat Yang Maha Pemurah?”(TQS al-Anbiya’ [21]: 42).

Sobat, ada beberapa tips untuk membantu kita lebih dekat kepada Allah SWT :
1. Berdo’a: Berdo’alah setiap hari dengan penuh keyakinan, berdo’alah dengan penuh takdzim dan berdo’alah dengan penuh cinta.
2. Bersyukurlah dan panjatkan pujian kepada-Nya atas semua anugerah yang Dia berikan kepada kita.
3. Berdakwahlah di jalan-Nya, lakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan penuh kasih sayang kepada sesama.
4. Memberilah dan jadilah orang yang senang memberi. Berlaku baik dan ramahlah kepada semua orang yang kita kenal dan kepada siapa pun yang kita temui.
5. Kunjungilah Rumah Allah dan ramaikan dengan syiar dan pembinaan umat untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.
6. Berlaku jujurlah dalam berurusan dengan orang lain.
7. Santunilah orang miskin dan anak yatim-piatu.
8. Buanglah kebiasaan negatif dan merusak.
9. Silahkan anda tambahkan terus poin berikutnya, jadi tambahkan apa saja yang muncul di pikiran kita, yang akan membuat kita lebih dekat kepada-Nya.

Pertanyaannya sobat, Sudahkah atas semua hal di atas kita bersyukur? Ataukah kita malah sering berlaku sombong dan takabur? Sudah berapa milyar kali hamdalah kita ucapkan untuk-Nya? Ataukah kita malah gemar berkhianat kepada-Nya? Na’udzu billah.

Semoga kita semua menjadi hamba Allah SWT yang senantiasa mencintai Allah dan Rasul-Nya dan yang selalu bersyukur setiap waktu atas segala karunia-Nya yang luar biasa itu, bukan hamba yang takabur apalagi kufur kepada-Nya. Paling tidak, hal itu dibuktikan dengan keseriusan dan ketekunan kita dalam beribadah dan ber-taqarrub kepada-Nya; dalam menaati segala perintah-Nya; dalam mengorbankan apa saja untuk agama-Nya; serta dalam berjuang menegakkan akidah dan syariah-Nya demi kemuliaan Islam dan umatnya. Amin

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H Penulis Buku Al Quwwah ar ruhiyah dan Menjadi Dai yang Dicinta, www.fikrulmustanir.blogspot.com , www.penasaran.net/?ref=emmxaq, email mumtaz.oke@gmail.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co