Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Saturday, March 19, 2011

Obat Dakwah Yang paling mujarab




Obat Dakwah Yang paling mujarab

Sobat, ilmu merupakan santapan rohani.Penuntut ilmu berhak memperoleh permohonan ampunan dari semua makhluk setiap kali ia pergi atau pulang dari menuntut ilmu karena merasa ridho dengan apa yang telah diperbuatnya.Para malaikat menaungkan sayap mereka kepadanya dan memang ilmu berhak menjadi objek yang difardhukan oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Memberi keputusan.
Maka sudah sepatutnya menjadi kebiasaan bagi para da’i untuk senantiasa menuntut ilmu, mengamalkan dan mengajarkannya kepada umat. Pesan Al-Ghazali kepada para penuntut ilmu diantaranya adalah :
1. Orang yang menuntut ilmu harus menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan menjauhi perangai yang buruk, seperti mudah emosi, memperturutkan nafsu birahi, dengki, iri hati, sombong dan besar hati. Semua itu kata beliau merupakan kegelapan yang akan menghalangi cahaya ilmu. Parameter menguasai ilmu bukan banyaknya periwayatan dan muatan hafalan yang banyak, melainkan cahaya mata hati yang melaluinya dapat dibedakan antara perkara yang hak dan bathil, antara hal yang berbahaya dan hal yang bermanfaat, antara kebaikkan dan keburukan serta antara petunjuk dan kesesatan.
2. Penuntut ilmu harus mengurangi kesibukannya dari hal-hal yang dapat memalingkannya dari meraih ilmu dan mengonsentrasikan waktu untuknya, karena Allah tidak akan menjadikan dua hati dalam rongga seseorang.
3. Seorang yang sedang belajar tidak boleh bersikap sombong dengan ilmunya dan tidak boleh menjerumuskan pengajarnya. Ia harus patuh kepada nasehatnya sebagaimana pasien yang mematuhi dokter yang merawatnya dengan penuh kasih sayang dan sangat mengharapka kesembuhan dalam waktu singkat.Dianjurkan pula hendaknya ia bersikap rendah diri kepada pengajar atau guru dan senang melayaninya karena mengharapkan pahala dari Allah. Ilmu itu hanya dapat diraih dengan sikap rendah hati, penuh perhatian, dan mau mendengar dengan khusyuk.
4. Perhatikan dengan baik maksud, tujuan, dan kesimpulan akhir dari suatu bidang ilmu yang terpuji.Janganlah seorang penuntut ilmu membiarkannya begitu saja.
5. Janganlah seorang yang sedang menuntut suatu bidang ilmu pengetahuan mempelajari dengan sekaligus. Tapi harus tertib dan memulainya dari bagian yang paling penting.
6. Janganlah seorang penuntut ilmu beralih ke bidang lain sebeluim menguasai bidang yang sebelumnya, karena ilmu pengetahuan itu ada tertib urutannya yang harus diperhatikan, sebagiannya merupakan penghantar bagi sebagian yang lain. Orang yang memperoleh kesuksesan pasti akan memperhatikan urutan dan tahapan ini.
7. Ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya, serta ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan ilmu-ilmu tersebut.
8. Hendaknya niat sang penuntut ilmu adalah untuk menghiasi bathin dan memperindahnya dengan keutamaan. Sedangkan pada masa mendatang akan menjadi sarana baginya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Jangan sampai ia menuntut ilmu untuk meraih jabatan, harta, kedudukan, mendebat orang-orang yang kurang akalnya, menyombongkan diri, karena Allah telah menjamin akan meninggikan derajat orang-orang yang dianugerahi iman dan ilmu pengetahuan melalui firmanNya :

” Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” ( TQS. Al-Mujadilah : 11)

Sobat, semoga kita bisa ambil pelajaran yang sangat berharga dari Imam Al-Ghazali di atas dan itu merupakan salah satu kunci dan obat yang mujarab untuk menunjang keberhasilan dakwah kita. Nabi Ibrahim as menjadi orang yang sangat sukses dalam kehidupannya bahkan beliau mendapat gelar Abul Anbiya’ ( Bapaknya Para Nabi) dan kisahnya telah diabadikan Allah dalam kitab suci Al-Qur’an agar menjadi pelajaran dan teladan generasi setelahnya. Kalau kita kaji lebih dalam ternyata keberhasilan beliau dalam berdakwah dan mendidik anak keturunannya ada dua kunci utama yaitu :
1. Keteladanan ( Uswah ) : Beliau tidak sekedar memberikan taushiah dan ceramah tapi beliau memberikan contoh dan keteladan kepada anak cucunya dalam segala hal. Demikian juga baginda Rasulullah SAW adalah teladan yang baik dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak ada manusia yang demikian sempurna dapat diteladani karena di dalam dirinya terdapat berbagai sifat mulia. Nilai-nilai dan teladan kepemimpinan dan manajemen beliau wariskan masih dapat ditiru oleh para pemimpin dari tingkatan paling kecil dan sederhana yakni dirinya sendiri, kepemimpinan keluarga, bisnis, sosial, politik, pendidikan, hukum dan militer. Kita bisa baca paparan yang cukup bagus tentang keteladanan Rasulullah Saw dalam beberapa aspek kehidupan melalui karya Dr Syafi’i Antonio Muhammad SAW The Super Leader Super Manager. Hal inilah yang sekarang hilang atau hampir-hampir tidak ada pada diri para pemimpin kaum muslimin padahal inilah salah satu kunci utama keberhasilan hidup dan kelangsungan dakwah Islam.
2. Doa yang Mustajabah. Beliau Nabi Ibrahim as dan Rasulullah Saw senantiasa mendoakan anak keturunannya dan umatnya dengan ketulusan hati kepada Allah SWT. Hampir sebagian besar do’a-do’a yang ada di dalam Al qur’an adalah do’a-do’a yang dicontohkan oleh para nabi termasuk Nabi Ibrahim As. Ada do’a beliau yang singkat tapi cukup padat Rabbii Hablii Minashshoolihiin. Kalau saya teringat do’a ini saya teringat almarhum ibu saya Bunda Saudah.Ketika saya masih anak-anak dan saat bangun malam ternyata bunda sudah bangun dan sholat tahajud. Saya mendengar dan melihat dengan mata kepala saya sendiri, beliau sebut satu-persatu nama putra-putrinya, beliau sebut nama kakak saya, nama saya, nama adik-adik saya dalam setiap do’a beliau dengan membacakan surat al-fatihah dan do’a Rabbii Hablii Minashshoolihiin.Pesan dan teladan beliau sampai hari masih tertancap di sanubari penulis. Terima kasih Bunda, semoga Allah memudahkan jalan beliau dan mengampuni segala dosa dan kekhilafan beliau serta segala amal ibadahnya di terima di sisi Allah SWT. Beliau pernah berpesan kalau kamu ingin hidupmu mulia serta barokah dan bermanfaat ilmumu, jangan lupa setiap selesai sholat, kamu do’akan kedua orang tuamu, anak-anakmu, guru-gurumu, dan murid-muridmu. Kalau kamu kelak ingin anak-anakmu sholeh sholehah maka kamu harus menjadi anak yang sholeh dan sholehah itulah nasehat yang sering disampaikan kepada putra-putrinya.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari teladan yang dicontohkan Nabi Ibrahim As dan baginda Rasulullah Saw di atas. Kalau di atas kita pesan dan nasehat bagi para penuntut ilmu. Sekarang di akhir bab ini kita akan bahas kewajiban guru (Da’i) kepada murid-muridnya. Hal ini sobat juga obat mujarab bagi keberhasilan dan keberlangsungan dakwah.
1. Sayang kepada murid-murid atau obyek dakwah dan memperlakukan mereka layaknya anak-anaknya sendiri. Nabi Saw telah bersabda, ” Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah orang tua kepada anaknya. Aku mengajar kalian......” ( HR Ibnu Majah )
2. Tidak mengajar karena ingin mendapatkan imbalan dan ucapan terima kasih. Namun, dengan niat hanya karena Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
3. Tidak segan-segan untuk memberi nasehat kepada murid, bahkan setiap saat diambilnya sebagai kesempatan untuk memberikan nasehat dan bimbingan kepada muridnya.
4. Memperingatkan murid akan akhlak yang buruk sebisa mungkin dengan ungkapan sindiran, tidak secara terang-terangan. Dan dengan ungkapan yang lembut, penuh kasih sayang, serta bukan dengan ungkapan celaan.
5. Dalam memberikan pelajaran harus disesuaikan dengan kemampuan daya tangkap para murid dan berbicara kepada mereka sesuai dengan kecerdasannya. Seorang guru tidak sepantasnya menjejali mereka dengan pengetahuan yang sulit dicerna oleh jangkauan pemikiran mereka agar tidak membosankan hingga membuat mereka terpaksa harus mempelajari hal-hal yang tidak dimengerti oleh mereka.
6. Jangan menjelek-jelekkan pengetahuan orang lain di hadapan para murid. Kembangkan metode pembelajaran yang dapat menjangkau disiplin ilmu yang ada di luar mata pelajaran yang diberikan.
7. Dianjurkan saat memberikan pelajaran kepada murid atau obyek dakwah yang lemah daya tangkapnya memakai penjelasan yang sangat gamblang sesuai dengan kondisinya dan tidak menyebutkan kepadanya bahwa dibalik itu ada keterangan detail yang tidak diterangkan kepadanya, agar tidak membuatnya khawatir dan terguncang akalnya.
8. Guru ( Da’i ) hendaknya mengamalkan ilmunya, jangan sampai ucapannya mendustakan perbuatannya. Allah berfirman :
” Mengapa kamu menyuruh orang lain.( mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri.” ( TQS. Al-baqarah : 44)
” Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (TQS. Ash-Shaff : 3 )
Teman, di atas sebagian kecil tulisan yang ada di buku Menjadi dai yang dicinta karya N.Faqih Syarif H dan masih banyak lagi bekal dan tips bagaimana menjadi seorang Dai yang dicinta tidak hanya bagi audience tapi juga didoakan oleh seluruh penghuni langit dan Bumi sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya. Buku ini layak dibaca bagi setiap muslim. Bukankah masing-masing kita adalah Da'i atau Da'iyah. Sampaikanlah walaupun satu ayat itulah pesan Rasulullah SAW.

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co