Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Tuesday, January 11, 2011

Demokrasi Melahirkan Banyak Pejabat "Kriminal"



Demokrasi Melahirkan Banyak Pejabat ‘Kriminal’

[Al Islam 539] “Demokrasi ternyata gagal menghasilkan kepala daerah yang jujur, bersih, dan tahu malu.” Demikian kutipan dari editorial sebuah media harian nasional (MI, 20/1/2011). Ini adalah sebuah ungkapan jujur tentang demokrasi. Sekalipun bukan hal baru, ungkapan tersebut mengingatkan kembali umat Islam tentang hakikat dan fakta dari sistem demokrasi yang diadopsi oleh negeri ini.

Dalam berbagai forum, Indonesia mendapat pujian sebagai negara demokratis. Namun, apakah dengan status demokratisnya negeri ini telah mampu melahirkan kepemimpinan yang amanah? Apakah demokrasi bisa mewujudkan kesejahteraan dan keadilan dalam seluruh aspek kehidupan warga negaranya?

Tentu, kita merasa miris kalau melihat fakta aktual: sepanjang tahun 2010 tercatat 148 dari 244 kepala daerah menjadi tersangka. Kebanyakan tersangkut kasus korupsi. Bahkan sebagian dari pemenang Pilkada 2010 berstatus tersangka dan meringkuk di penjara. Contoh nyata, Jefferson Soleiman Montesqiu Rumajar terpilih menjadi Walikota Tomohon-Sulut periode 2010-2015 dan dilantik oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang, pada rapat paripurna istimewa DPRD Tomohon, di Jakarta, Jumat (7/1). Padahal Jefferson sedang duduk di kursi pesakitan; ia dijadikan tersangka oleh KPK karena tindak pidana Korupsi. Yang lebih menggelikan, Jeferson lalu dengan gagah perkasa melantik sejumlah pejabat Kota Tomohon di LP Cipinang. Baik yang melantik dan yang dilantik seolah sudah putus urat nadi rasa malunya. Jajaran pejabat yang akan mengurus rakyat dilantik oleh seorang terdakwa yang tersandung kasus ketika mengelola uang rakyat.

Jadi, rasanya omong-kosong kita berharap bahwa sistem demokrasi bisa melahirkan para pemimpin yang amanah. Begitu juga terkait kesejahteraan. Pasalnya, demokrasi hanya menjadi tempat bagi orang-orang dan kelompok oportunis untuk mentransaksikan kepentingan-kepentingan perut dan nafsunya.

Biaya Mahal, Hasilnya Nol

Selama tahun 2010, tercatat sebanyak 244 Pilkada dilangsungkan dengan menelan biaya lebih dari Rp 4,2 triliun. Perlu dicatat, beberapa Pilkada akhirnya juga mengalami pengulangan pada tahun 2011 seperti kasus di Tangerang Selatan, setelah MK menerima gugatan ihwal banyaknya kecurangan dalam pelaksanaannya. Biaya ini jauh lebih besar daripada Pilkada tahun sebelumnya. Pilkada Tahun 2007 yang berlangsung di 226 daerah saja, yakni di 11 provinsi dan 215 kabupaten/kota, menelan dana sekitar Rp 1,25 triliun. Penghamburan uang rakyat itu terjadi di tengah-tengah kondisi yang sangat memilukan; pada tahun 2010 tercatat lebih dari 31 juta (13,3%) dari 237 juta penduduk Indonesia dalam kondisi miskin luar biasa. Dalam hal ini, hasil Pilkada tak pernah mengubah nasib rakyat. Yang berubah nasibnya hanyalah para penguasa dan kroni-kroninya saja.

Pilkada yang bertujuan menyertakan rakyat secara langsung untuk menentukan pemimpinnya sendiri di tingkat lokal/daerah pada faktanya juga telah melahirkan dampak negatif. Masyarakat, misalnya, menjadi terkotak-kotak bahkan saling berhadap-hadapan. Hubungan sosial menjadi renggang. Tak jarang proses Pilkada ini melahirkan bentrokan yang mengarah pada tindakan kekerasan.

Semua itu niscaya terjadi karena banyak faktor. Pertama: Banyak aturan Pilkada yang tumpang-tindih. Hal ini akibat terlalu besarnya dominasi partai politik dalam Pilkada. Kedua: Masih lemahnya pendidikan politik untuk masyarakat. Lemahnya pemahaman politik masyarakat ini ditunjukkan dengan masih banyaknya incumbent (pejabat lama) yang terpilih kembali. Padahal incumbent ini telah gagal dalam mensejaherakan rakyatnya. Ketiga: terjadi kecurangan dalam proses pemilihan tanpa penyelesaian hukum yang adil, misalnya, menggunakan politik uang. Hal ini jelas menimbulkan kecemburuan di kalangan calon yang “miskin”. Faktanya, banyak Pilkada berakhir di pengadilan.

Demokrasi: Akar Masalah
Secara sederhana, politik saat ini diartikan sebagai proses interaksi pemerintah dengan masyarakat untuk menentukan kebijakan publik (public policy) demi kebaikan bersama. Sistem politik yang dianut Indonesia adalah demokrasi. Demokrasi kini telah menjelma menjadi sebuah paham, bahkan semacam ‘agama’ yang menglobal, yang nyaris tanpa koreksi. Gagasan dasar demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Intinya, kewenangan membuat hukum ada di tangan manusia. Demokrasi selalu dianggap sebagai tatanan atau sistem politik yang paling ideal. Dalam sistem demokrasi, rakyat diasumsikan akan benar-benar berdaulat dan mendapatkan seluruh aspirasinya. Dari sana, melalui proses politik yang demokratis, lantas dibayangkan bakal tercipta sebuah kehidupan masyarakat yang ideal: adil, damai, tenteram dan sejahtera.

Namun, semua itu hanyalah bayangan, bahkan tipuan. Dalam tataran praktik gagasan ideal itu tak pernah terwujud. Dalam negara demokrasi,
yang sering berlaku adalah hukum besi oligarki, yakni sekelompok penguasa (dan pengusaha) saling bekerjasama untuk menentukan kebijakan politik, sosial
dan ekonomi negara tanpa harus menanyakan bagaimana aspirasi rakyat yang sebenarnya. Partai politik dan wakilnya di Parlemen bekerja lebih untuk memenuhi aspirasinya sendiri.

Maka dari itu, tidak ada yang namanya masyarakat yang adil, damai, tenteram dan sejahtera dalam sistem demokrasi. Yang ada justru ketidakadilan yang makin menganga. Kesejahteraan memang ada, tetapi hanya untuk segelintir elit yang berkuasa. Sebaliknya, kebanyakan rakyat sengsara dan menderita; jauh dari gambaran ideal yang diharapkan.

Bagaimana bisa diharap ada keadilan bila sistem demokrasi malah melahirkan banyak pejabat dan penguasa yang lebih pantas disebut penjahat. Mereka adalah para tersangka berbagai kasus tindak pidana (terutama korupsi). Ini karena banyak dari proses politik berlangsung secara transaksional. Pragmatisme politik baik demi kekuasaan ataupun uang lebih banyak berperan. Kekuasaan diperlukan untuk mendapatkan uang. Uang diperlukan untuk mendapatkan kekuasaan atau kekuasaan yang lebih besar lagi. Kekuasaan dan uang juga diperlukan untuk menutup seluruh kebusukan yang telah dilakukan selama berkuasa.

Dalam kondisi demikian, kepentingan rakyat dengan mudah terabaikan. Bagi penguasa, rakyat hanyalah alat untuk meraih kuasa. Akhirnya, bukan kedaulatan rakyat yang menjadi ‘ruh’ dari sistem demokrasi, melainkan kedaulatan kapital dari para pemilik modal atau penguasa yang didukung oleh para pemodal. Inilah kenyataan umum di negara-negara penganut demokrasi, tanpa kecuali, termasuk di AS dan Eropa sebagai kampiun demokrasi.

Oleh karena itu, pujian terhadap Indonesia yang dianggap sebagai ‘jawara demokrasi’ dengan julukan “Indonesia’s Shining Muslim Democrazy” (Demokrasi Muslim Bersinar di Indonesia) hanya karena dianggap sukses menyelenggarakan Pileg dan Pilpres tahun 2004 dan 2009 secara damai perlu dipertanyakan. Sebab faktanya, keberhasilan itu tidak selaras dengan perbaikan hidup rakyat. Justru melalui pintu demokratisasilah liberalisasi di semua sektor kehidupan terjadi, dengan segala implikasi buruknya yang makin sulit dikendalikan.

Tak aneh bila kemudian banyak orang melihat demokrasi sesungguhnya adalah sistem politik yang bermasalah. Tokoh Barat sendiri, Winston Churchil, menyatakan, “Democracy is worst possible form of government (Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerintahan).”

Benjamin Constan juga berkata, “Demokrasi membawa kita menuju jalan yang menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.”

Jadi, benar bahwa problem politik, bahkan juga problem ekonomi, problem sosial dan budaya (perilaku amoral) berawal dari demokrasi, yang tragisnya justru dianggap sebagai sistem politik yang paling baik. Na’udzu billah.

Saatnya Kembali ke Sistem Islam

Dasar politik yang diterapkan di Indonesia adalah sekularisme, paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Hukum bersumber dari akal dan hawa nafsu manusia melalui proses demokrasi. Hukum dibuat oleh segelintir orang yang tidak lepas dari kepentingan, baik kepentingan uang ataupun kekuasaan.

Selama sekularisme dengan demokrasinya yang diterapkan, selama itu pula yang terjadi adalah kerusakan dan keterpurukan. Hanya syariah Islam yang bisa menjamin keadilan karena ia berasal dari Zat Yang Mahaadil. Tetap menerapkan sekularisme dengan demokrasinya berarti meninggalkan hukum terbaik, yakni hukum Allah SWT, sebagaimana al-Quran menegaskan:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Untuk itu, negeri ini harus segera mengubur sekularisme, lalu menggantinya dengan akidah dan syariah Islam. Segera tinggalkan demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya, lalu ubah dengan sistem Khilafah dengan kedaulatan hukum syariahnya. Inilah yang akan menjamin kesejahteran, keadilan dan keberkahan di dunia serta kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Wallahu a’lam. []

KOMENTAR AL-ISLAM

Kesenjangan pendapatan di antara kelompok masyarakat di Indonesia terus melebar. Ini terjadi lantaran belum ada keseriusan Pemerintah untuk menciptakan ekonomi yang berkeadilan (Media Indonesia, 7/1/2011).

Hanya ilusi, mengharapkan keadilan dari sistem ekonomi liberal-kapitalistik. Sistem ini hanya menjamin kesejahteraan bagi orang-orang yang ada dalam oligharki kekuasaan. Rakyat hanya jadi ’sapi perah’ penguasa dan wakil rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang memberatkan mereka: pajak, pencabutan subsidi BBM, kenaikan tarif listrik, dll. Solusi final problem ini hanya dengan menegakan sistem ekonomi Islam dalam institusi Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, yang menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan.

Thursday, January 6, 2011

Kristen dan Muslim di Mesir Perlu Kembalinya Khilafah



Kristen dan Muslim di Mesir Perlu Kembalinya Khilafah

Banyak orang terkejut oleh ledakan bom di luar sebuah Gereja Kristen Koptik di Alexandria, Mesir pada hari Sabtu, 1 Januari 2011 yang menewaskan 21 orang. Ledakan yang terjadi itu merupakan kelanjutan setelah orang Kristen di Irak menghadapi permusuhan sejak pendudukan Irak yang dipimpin Amerika.

Laporan serupa baru-baru ini juga tentang penganiayaan orang-orang Kristen di Tepi Barat dan di Pakistan. Para komentator mengutuk contoh-contoh serangan itu terhadap umat Kristen di negara-negara mayoritas Muslim sebagai tanda-tanda ketegangan antara kaum Muslim dan non-Muslim. Mereka menunjukkan contoh ‘ekstrimisme’ dan intoleransi atas non-Muslim oleh Muslim.

Celaan seperti itu jarang jarang diberikan terhadap sistem sekuler yang dikelola oleh rezim-rezim otokratis - seperti rezim Hosni Mubarak, Mahmud Abbas, Asif Ali Zardari atau Noori al Maliki (maupun para pendukung Barat mereka) - di mana atas pengawasan merekalah keamanan baik Muslim dan non-Muslim telah memburuk selama bertahun-tahun.
Faktanya adalah rezim-rezim itu sangat sedikit peduli tentang APAPUN yang terjadi atas warganya. Mereka telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mengamankan kepentingan mereka sendiri, kepentingan para pendukung di antara kaum elit di negara-negara Muslim dan perusahaan-perusahaan multinasional Barat. Bahkan jika harga-harga telah membumbung tinggi dan terjadi kekacauan diantara warga negaranya - baik Muslim, Kristen atau sebaliknya - mereka tetap tidak peduli.

Berbeda dengan negara-negara sekuler, Islam memiliki pendekatan yang sangat berbeda bagi warga non-Muslim. Warga Non-muslim dari Negara Islam (Khilafah) disebut sebagai Ahlul dzimmah yang berarti mereka menikmati hak penuh atas kewarganegaraan. Mereka adalah warga negara yang hidup, dimana kehormatan, harta dan agama mereka semuanya dilindungi di bawah hukum Syariah, seperti juga warga negara lainnya. Mereka membayar pajak yang dinamakan jizyah tetapi mereka dibebaskan dari kewajiban membayar zakat atau wajib militer.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyakiti kafir dhimmi [warga non-Muslim] maka aku adalah lawannya di Hari Kiamat.”
Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang yang membunuh seorang Mu’ahid (orang yang memiliki perjanjian dengan Negara Islam) tanpa hak maka ia tidak akan mencium wangi jannah (surga) bahkan jika baunya adalah sejauh jarak perjalanan empat puluh tahun.” [Ahmad]
Sejarah merupakan bukti bahwa kaum muslimin melaksanakan perintah-perintah di bawah Khilafah selama lebih dari ratusan tahun.
Sir Thomas Arnold dalam bukunya ‘Dakwah Islam’ menyatakan: “Kami tidak pernah mendengar tentang segala upaya untuk memaksa pihak non-Muslim untuk masuk Islam atau tentang segala penganiayaan yang bertujuan memberangus orang Kristen. Lebih lanjut dia mengatakan.” Jika khalifah telah memilih salah satu rencana, mereka tentu sudah membasmi orang Kristen semudah apa yang terjadi dengan Islam selama masa pemerintahan Ferdinand dan Isabella di Spanyol, dengan metode yang sama yang diikuti Louis XIV untuk menjadikan mereka beragama Protestan dimana para pengikutnya itu harus dihukum mati;. atau semudah mengusir orang-orang Yahudi dari Inggris selama tiga ratus lima puluh tahun “
Selama masa pemerintahannya, Kekhalifahan mengizinkan kaum non-Muslim untuk memiliki pengadilan sendiri dan hakim yang menyelesaikan sengketa hukum keluarga dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dan agama mereka.

Imam Qarafi (Ulama Islam terdahulu) menyimpulkan tanggung jawab Khalifah bagi kafir dhimmi ketika ia berkata: “Ini adalah tanggung jawab umat Islam bagi Ahli dzimmah untuk merawat mereka yang lemah, memenuhi kebutuhan orang miskin, memberi makan yang lapar, memberikan pakaian, menegur mereka dengan sopan, dan bahkan menoleransi bahwa yang mereka buat jika mereka adalah tetangga, meskipun tangan kaum Muslim berada di atas. Kaum Muslim juga harus menasehati mereka dengan tulus pada urusan mereka dan melindungi mereka terhadap siapapun yang mencoba untuk menyakiti mereka atau keluarga mereka, mencuri kekayaan mereka, atau melanggar hak-hak mereka. “
Rezim Mesir selama beberapa dekade memenjara ratusan ulama Islam dan ribuan aktifis Islam hanya karena menentang rezim itu meskipun hal seperti ini sedikit sekali yang dilaporkan di media Barat atau dilaporkan dengan semangat seperti serangan pada hari ini yang tampaknya mentargetkan penduduk Kristen.
Apakah itu merupakan intoleransi sekuler dari sistem demokrasi di Barat (harap dicatat pelarangan jilbab, niqab di Eropa, dan pelarangan menara mesjid) atau rezim-rezim otokratis di Timur Tengah, agama dan penduduk beragama sedang dianiaya pada saat ini. Sebaliknya, sistim Islam dan Khilafah menjamin hak dan perlindungan atas kaum minoritas, dan agamanya, atau seperti yang ditunjukkan oleh teks-teks Islam dan bukti-bukti sejarah Islam. (hizb.org.uk, 2/1/2011)

Takut Kepada Allah Melahirkan Jiwa Kesatria, Perkasa Dan Berwibawa (Bagian I)



Takut Kepada Allah Melahirkan Jiwa Kesatria, Perkasa Dan Berwibawa (Bagian I)
Adanya rasa takut dalam diri manusia adalah hal biasa (alami). Sebab rasa takut itu merupakan salah satu inidikasi dari naluri untuk bertahan hidup (gharîzah al-baqâ’) yang ada di dalam diri manusia. Ketika indikasi ini tergerak oleh sesuatu apapun, maka manusia akan menghadapinya dengan dorongan akidah yang dimilikinya, serta menentukan perilaku sesuai pemahamannya tentang sesuatu yang telah membangkitkan rasa takut dalam dirinya. Jika pemahamannya ini salah, maka akan melahirkan perilaku yang salah. Sebaliknya, jika pemahamannya ini benar, maka akan melahirkan perilaku yang benar pula.

Dengan demikian, rasa takut mungkin melahirkan kepengecutan dan kerendahan jika itu dihasilkan dari rasa takut kepada manusia; ia mendekat pada manusia untuk mencari kerelaannya, dan untuk mendapatkan kesenangan duniawi yang dimilikinya. Sebaliknya, rasa takut mungkin melahirkan keperkasaan dan kemuliaan jika itu dihasilkan dari rasa takut kepada Allah SWT, dengan mencari ridha-Nya, dan kenikmatan surga-Nya.

Sungguh penting sekali bagi kaum Muslim yang menginginkan kebangkitan dari bencana dan malapetaka yang mewarnai kehidupannya sepanjang hari, agar mereka tidak takut kecuali kepada Allah Yang Mahakuasa atas hamba-Nya. Sehingga mereka menjadi orang-orang yang perkasa dalam ibadahnya, serta menjadi orang-orang yang paling mulia ketika hidup dan matinya.

Allah SWT berfirman: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad Saw). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (TQS. Al-Maidah [5] : 83-85).

Allah SWT juga berfirman: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.“(TQS. Az-Zumar [39] : 23).

Sebagaimana firman Allah SWT yang lain: “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).“(TQS. Ar-Ra’d [13] : 21-22).

Dan begitu juga dengan ayat-ayat lainnya yang senantiasa memuji mereka yang di dalam hati mereka begitu besar rasa takutnya kepada Allah SWT. Sebab setiap saat mereka sangat takut akan murka dan siksaan-Nya, sehingga mereka berusaha untuk meraih ridha-Nya, dan begitu berharap untuk mendapatkan pahala dari-Nya.

Apabila warna seperti ini telah terbentuk dalam hati manusia, maka ia akan menjadi seseorang di antara mereka yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).“(TQS. Al-Ahzab [33] : 23).

Dan firman-Nya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (TQS. An-Nur [24] : 37-38).

Dengan demikian, jika tanaman yang bersih dan baik ini, benihnya telah ditanam dalam hati seorang yang mukmin dan telah berakar, maka ia akan berbuah dan memberikan banyak kebaikan. Berbeda dengan hati yang sakit, yang tidak layak untuk benih yang bersih ini, sebab tanahnya tandus, sehingga tidak layak kecuali yang keji dan kotor. Oleh karena itu, hati ada dua jenis: Pertama, hati yang baik dan bagus, yang takut kepada Allah baik ketika sendirian maupun ketika besama banyak orang; takut akan rusaknya hubungan antara dirinya dengan Allah SWT, sehingga ia berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan ridha-Nya, sekalipun hal itu harus dibeli dengan murka orang lain.

Kedua, hati yang sakit dan rusak, tidak takut kepada Allah, terang-terangan melakukan kemaksiatan, tidak peduli dengan hubungan yang menghubungkan dirinya dengan Allah, dan tidak memperhitungkan hisab (perhitungan) apapun, sehingga ia terlihat membeli kesenangan orang lain dengan murka Allah atas dirinya.

Dan berdasarkan jenis hati ini, orang-orang diklasifikasikan, dan berbagai aktivitas dilakukan. Seseorang yang mendatangi penguasa zalim dan menasihatinya, lalu ia ditangkap dan dibunuh oleh penguasa. Tentu, ini berbeda dengan seseorang yang diberi oleh Allah pengetahuan tentang hukum-hukum agama, lalu ia duduk di lantai penguasa zalim, dam membuatkannya fatwa yang membenarkan berbagai aktivitas dan kebijakan yang dilakukannya, dan seperti inilah kebanyakan mereka sekarang.

Maka yang pertama, adalah orang yang menyampaikan Islam. Apabila ia dibunuh oleh seorang penguasa zalim pada saat ia menyampaikan nasihat kepadanya, maka ia adalah syahid. Sedang yang kedua, adalah orang yang menjadikan sorban putihnya sebagai otoritas untuk mengubah kata-kata dari maksud sesungguhnya, membuat kebohongan atas nama Allah, dan memelintir nash-nash untuk memalingkan isinya, lalu disesuaikan dengan keinginannya, dalam rangka untuk menyenangkan hawa nafsu penguasa. Inilah yang difirmankan Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 174).

Dan dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.“(TQS. Ali Imran [3] : 78).

Dan begitulah hati yang buta, yang tidak ada ketakwaan dan rasa takut kepada Allah sama sekali, sebaliknya ia dipenuhi dengan rasa takut kepada para thaghut dan para wali setan. Oleh karena itu, apabila hati telah buta, maka yang diperhitungkan pertama adalah kemarahan penguasa zalim hingga melupakan murka Allah. Sehingga pahala dan siksa akhirat terlihat remeh baginya, dan menukarnya dengan kesenangan dunia yang fana dan murah!!

Jadi, jangan heran dengan adanya fatwa-fatwa aneh yang dikeluarkan oleh orang-orang seperti mereka ini, seperti fatwa bolehnya berdamai dengan negara Yahudi, bolehnya meminta bantuan kaum kafir untuk memerangi kaum Muslim, bolehnya membunuh (bughat, kaum pemberontak) yang membangkang pada penguasa yang melakukan kekufuran secara nyata, serta bolehnya menumpahkan darah, merampas harta dan kehormatan mereka yang ikhlas di antara umat ini, yaitu mereka yang melakukan amar makruf nahi munkar, karena mereka diklaim sebagai “teroris, ekstrimis, dan tidak menaati penguasa”, dan fatwa-fatwa lainnya yang dibuat oleh mereka yang telah menjual dirinya pada para penguasa jahat. Sehingga apapun pekerjaan dan ketetapan yang mereka buat, semua berujung pada kejahatan dan kriminalitas[].

Tuesday, January 4, 2011

Kisah Empat Remaja Inggris Menemukan ‘Kehidupan’ Dalam Islam



Kisah Empat Remaja Inggris Menemukan ‘Kehidupan’ Dalam Islam

Hasil survei terbaru dari Faith Matters menyatakan penyebaran Islam di Inggris lebih cepat ketimbang di negara Eropa lainnya. Per tahun, diperkirakan ada sekitar 5.000 mualaf baru di Inggris, sementara di Jerman dan Prancis jumlah mualaf per tahunnya sekitar 4.000 orang.

Peneliti dari Faith Matters menyurvei tiap masjid yang ada di London. Hasilnya, untuk Kota London saja, selama 2010 ada 1.400 mualaf baru. Ini belum termasuk data dari kota-kota di seluruh Inggris Raya.

Direktur Faith Matters, Fiyaz Mughal, mengatakan maraknya Islam di Inggris dipicu karena tingginya sorotan publik atas umat Muslim. “Warga ingin tahu apa sebenarnya Islam. Dan ketika mereka sudah tahu, sebagian kecil ada yang menjadi mualaf. Mereka menemukan kedamaian dalam Islam,” katanya.


Hana Tajima

Simak pernyataan Hana Tajima (23 tahun) yang bekerja sebagai perancang busana. “Awalnya aku memiliki beberapa teman Muslim saat kuliah. Saat itu aneh saja. Mereka jarang keluar malam, ke klub atau nongkrong,” katanya.

“Dan ketika aku mengambil mata kuliah filsafat, aku mulai bingung dengan makna hidupku. Padahal saat itu aku cukup terkenal di kampus. Aku sudah merasa cukup. Tapi aku bertanya, betulkah ini kehidupan yang aku inginkan?” kata Tajima, panjang lebar.

“Lalu aku membaca literatur tentang Islam dan perempuan. Anehnya, ternyata mereka sangat relevan. Semakin banyak aku membaca, semakin yakin aku terhadap Islam,” katanya.


Denise Horsley

Lain lagi dengan pengalaman Denise Horsley (26) yang bekerja sebagai guru menari. Ia kenal Islam lewat pacarnya. “Saat itu banyak orang bertanya apakah aku menjadi mualaf karena pacaran? Aku jawab tidak! Aku menemukan Islam. Aku tumbuh sebagai penganut Kristen,” katanya.

Horsley kini mengenakan jilbab. Ia mengatakan, jilbab adalah konsep penting dalam Islam. “Kerudung ini bukan sekedar pakaian atau tren. Mengenakan jilbab justru menyatakan kejujuran atas diri sendiri dan apa yang akan kau lakukan,” katanya.

“Sebenarnya sih, aku masih orang yang sama dengan yang sebelumnya. Cuma aku tidak minum-minuman keras, makan babi, dan sekarang aku shalat lima kali sehari,” katanya.


Dawud Beale

Pengalaman Dawud Beale (23) lebih unik. Sebelumnya, ia adalah pemuda rasis yang menyepelekan Islam. “Lalu aku berlibur ke Maroko. Di situ pertama kali aku berkenalan dengan Islam. Aku akui sebelumnya aku penganut rasis. Tapi sepekan usai pulang dari Maroko, aku memutuskan memeluk Islam,” katanya.

Beale bermukim di Somerset. Ketika ia baru-baru menjadi mualaf, sangat sukar menemukan masjid di Somerset, yang memang tidak ada. Ia lalu bertemu dengan rekan-rekan dari Hizbut Tahrir, gerakan politik Islam. “Ternyata banyak yang media barat katakan tentang Islam salah,” katanya.

“Aku yakin sudah menemukan jalan hidup yang tepat dalam Islam,” katanya lagi.


Paul Martin

Sementara Paul Martin (27) mengatakan ia menikmati gaya hidup sebagai muslim. “Awalnya aku berkenalan dengan Islam setelah mengamati gaya hidup teman-teman Muslim. Mereka tampak menikmati betul hidup, tidak merusak tubuhnya. Setelah itu, aku mendalami Alquran,” katanya.

Seorang teman Martin lantas mengenalkannya ke seorang tokoh Islam yang berprofesi sebagai dokter. Martin banyak berkonsultasi tentang Islam dengannya. Mereka mengobrolkan Islam di kafe. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat saya di kafe,” kata Martin. “Saya tahu banyak yang mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid, tapi bagi saya, Islam bukan sekedar tempat di mana kau percaya pada Allah SWT. Islam adalah tempat di hatimu,” katanya. (republika.co.id, 4/1/2011)

Kado Penguasa untuk Rakyat di Tahun Baru 2011: Kenaikan Harga BBM Lewat Pembatasan Subsidi



Kado Penguasa untuk Rakyat di Tahun Baru 2011: Kenaikan Harga BBM Lewat Pembatasan Subsidi

Setelah mendapat persetujuan DPR, mulai Maret 2011, Pemerintah akan mengurangi subsidi BBM dengan melarang mobil pribadi menggunakan BBM bersubsidi. Pembatasan tersebut akan dilakukan secara bertahap, mulai di Jabodetabek hingga mencakup seluruh Indonesia pada 2013.

Penolakan masyarakat terhadap kebijakan tersebut tidak sehebat ketika Pemerintah bermaksud menaikkan harga BBM sebagaimana tahun 2008 lalu. Padahal kebijakan pembatasan subsidi BBM juga berdampak sama dengan kenaikan harga BBM sehingga harus ditolak. Setidaknya, ada tujuh alasan yang mendasari penolakan tersebut.

Pertama: Indonesia memiliki cadangan energi termasuk migas yang sangat besar. Sayangnya, sebagian besarnya justru dikuasai pihak asing. Merujuk data produksi minyak ESDM 2009, dari total produksi minyak dan kondensat di Indonesia, Pertamina hanya memproduksi 13,8%. Sisanya dikuasai oleh swasta khususnya asing seperti Chevron (41%), Total E&P Indonesie (10%), Chonoco Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%). Pemerintah melalui BP Migas pun malah memperpanjang kontrak-kontrak pengelolaan ladang minyak dengan pihak asing ketimbang menyerahkannnya kepada Pertamina. Di sisi lain, dengan UU Migas 22/2001, Pertamina diperlakukan sama dengan perusahaan swasta sehingga harus bersaing untuk mendapatkan konsesi pengelolaan ladang minyak dari BP Migas. Kebijakan ini berkebalikan dengan Malaysia yang memberikan wewenang sangat besar kepada Petronas sehingga mampu menggeser dominasi swasta dalam pengelolaan migas negera. Di Cina dan sejumlah negara Amerika Latin seluruh sektor energi sepenuhnya juga dikuasai oleh negara. Sehingga mereka dapat mengendalikan produksi dan harga di pasar domestik sesuai dengan kepentingan politik dan ekonomi negara tersebut.

Kedua: Subsidi BBM yang selama ini dianggap membebani APBN dan sering salah sasaran merupakan pernyataan ‘menyesatkan’. Menurut definisi Pemerintah, subsidi BBM adalah selisih harga patokan dikurangi harga eceran yang dijual Pertamina (Subsidi BBM=Kuantitas yang Disalurkan x [Harga Patokan - (Harga Jual Eceran - pajak)]). Pada Perpres 71/2005 disebutkan bahwa Harga Patokan adalah harga yang dihitung setiap bulan berdasarkan MOPS rata-rata pada periode satu bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan margin. MOPS atau Mid Oil Platt’s Singapore adalah harga transaksi jual-beli pada bursa minyak di Singapura. Formulasi harga patokan yang berlaku pada tahun 2008 adalah MOPS plus alfa sebesar 9% (BPK, Laporan Hasil Pemeriksaan Subsidi Jenis BBM Tertentu Tahun Anggaran 2008 pada PT Pertamina).

Anggaran subsidi tersebut dibayarkan Pemerintah kepada Pertamina yang telah mendistribusikan dan menjual BBM dengan harga eceran yang telah ditetapkan Pemerintah yang lebih rendah dari harga patokan (internasional). Pertanyaannya: apakah Pertamina betul-betul rugi karena menjual BBM di bawah harga patokan? Jika biaya produksi hingga distribusinya lebih rendah dari harga patokan maka Pertamina tentu rugi. Namun, jika lebih tinggi maka Pertamina tetap untung.

Lalu berapa biaya produksi BBM Pertamina untuk Premium (RON 88) dan Pertamax (RON 95)? Karena tidak tersedia data dari Pertamina maka untuk menghitungnya bisa digunakan proxi persentase komponen harga rata-rata bensin (gasoline RON 95) di USA yang sebanding dengan kualitas Pertamax. Harga Bensin = Minyak Mentah (51%) + biaya pengilangan & keuntungan (15%) + biaya distribusi & pemasaran (12%) + pajak (22%) (http://tonto.eia.doe.gov). Harga minyak mentah Pertamina diperoleh dari biaya produksi, cost recovery (US$ 940,7 juta) dibagi total lifting minyak mentah 2007 sebesar 38,9 juta barel (BPK, Perhitungan Kewajiban Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kkks) Sehubungan Dengan Koreksi Alokasi Biaya Depresiasi Yang Diperhitungkan Dalam Cost Recovery Pertamina Petroleum Contract (PPC) Dan Kontrak Minyak Dan Gas Bumi Pertamina (KMGBP) Tahun 2003 S.D 2007). Hasilnya: US$ 24,2/barel atau US$ 0,15/liter atau Rp 1.368 jika dirupiahkan dengan kurs Rp 9.000. Harga ini sebenarnya cukup mahal karena cost recovery Pertamina jauh lebih tinggi daripada rata-rata cost recovery perusahaan minyak Indonesia yang berkisar US$ 13,82/perbarel pada 2007 (http://www.scribd.com/doc/38206301/Crude-Oil-Cost-Production).

Dengan memperhitungkan formula di atas maka harga Pertamax semestinya hanya sebesar Rp 2.683/liter. Premium dengan oktan yang lebih rendah tentu lebih murah. Jika dijual dengan Rp 4.500, sesungguhnya keuntungannya sudah sangat besar. Tidak aneh jika keuntungan yang sangat besar ini membuat perusahaan minyak di dunia berlomba-lomba mengeruk minyak, termasuk di negeri ini, meski harus menyengsarakan rakyatnya. Lalu mengapa harga jual di Premium dan Pertamax di SPBU Pertamina lebih mahal? Ini karena harga minyak mentah yang diperhitungkan dalam formula di atas menggunakan harga minyak di pasar internasional meski sebagian besar diproduksi oleh Pertamina sendiri. Dengan demikian, apa yang dianggap kerugian Pertamina yang kemudian diganti oleh Pemerintah bukanlah merupakan kerugian nyata, namun hanya potential loss (hilangnya potensi laba) karena dijual tidak dengan harga pasar internasional. Jika demikian maka dana subsidi Pemerintah keluar dari kantong kanan dan masuk lagi ke kantong kiri melalui laba yang diperoleh Pertamina.

Ketiga: Pembatasan BBM bersubsidi dalam jangka panjang akan menguntungkan Perusahaan Minyak Asing yang memiliki SPBU, seperti Total, Shell, dan Petronas. Selama ini SPBU-SPBU tersebut mengalami kerugian karena konsumen lebih memilih Premium yang dijual Pertamina yang harganya lebih murah. Dengan adanya pembatasan subsidi BBM maka seluruh pengguna mobil pribadi terpaksa menggunakan bahan bakar yang kadar oktannya lebih tinggi seperti Pertamax atau bensin yang diproduksi oleh SPBU asing tersebut. Dengan biaya produksi yang lebih efisien dan kualitas yang mungkin lebih baik maka produk-produk SPBU asing tersebut akan lebih bisa bersaing dengan SPBU yang berlogo Pertamina. Berdasarkan hukum penawaran dan permintaan, maka jumlah SPBU asing akan semakin menjamur. Jika tidak ada inovasi maka kegiatan bisnis Pertamina di sektor hilir menjadi tidak bisa bersaing. Hal ini tentu akan merugikan Pertamina. Sudahlah di sektor hulu tergerus, di sektor hilir pun tersingkir.

Keempat: Kegiatan usaha Pertamina belum berjalan secara efisien khususnya dalam produksi dan pengadaan minyak mentah. Menurut sejumlah sumber, termasuk temuan BPK tahun 2008 (BPK, Pengadaan Minyak Mentah dan Produk Kilang Tahun 2007 dan 2008 (Semester I) pada Pertamina), disebutkan sumber ketidakefisienan Pertamina antara lain: (a) Dalam pengadaan minyak mentah dan BBM, Pertamina cenderung mengimpor minyak mentah dan BBM melalui jasa rekanan yang sarat dengan manipulasi tender sehingga biaya pengadaan minyak impor semakin mahal. Bahkan sejumlah pengadaan melalui penunjukan langsung yang biayanya lebih mahal. (b) Pertamina lebih banyak menggunakan kapal sewa daripada kapal milik sendiri sehingga biaya angkut lebih mahal. Ini terjadi karena dari 137 kapal yang dioperasikan Pertamina, 102 di antaranya disewa dari perusahaan lain (Pertamina, Annual Report 2007). (c) Dalam jumlah tertentu, Pertamina lebih memilih untuk mengimpor daripada membeli atau menggunakan hasil produksi dalam negeri yang tidak membutuhkan biaya pengapalan. (d) Pertamina mengimpor BBM karena keterbatasan kapasitas kilang Pertamina. Kapasitasnya hanya sebesar 1 juta barel perhari yang hanya sanggup memenuhi 63% kebutuhan dalam negeri. Kapasitas kilang tersebut dalam lima tahun terakhir justru mengalami penurunan dari 282 juta barel pada tahun 2004 menjadi hanya 245 juta barel pada 2008. Padahal dengan memproduksi sendiri biayanya akan lebih murah. Sehingga, harga minyak yang dijual kepada konsumen akan lebih rendah.

Kelima: Pembatasan subsidi BBM merupakan langkah bertahap Pemerintah untuk menghapus subsidi BBM. Apalagi Bank Dunia sejak lama meminta agar Indonesia menghapus subsidi BBM karena dianggap tidak efisien.

Keenam: Pembatasan subsidi BBM akan menekan daya beli masyarakat khususnya masyarakat miskin. Pembatasan subsidi BBM akan mengakibatkan harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya mengikuti harga pasar internasional. Padahal harga pasar tersebut terbentuk oleh permintaan dan penawaran yang banyak dipengaruhi oleh kegiatan spekulasi sehingga kerap harganya tidak mencerminkan nilai yang wajar. Membiarkan harga tidak terkendali akan membuat pengeluaran pengguna BBM membengkak. Padahal tidak semua mobil plat hitam digunakan untuk transportasi pribadi. Sebagian besar angkutan barang termasuk bahan makanan dan sebagainya saat ini masih menggunakan plat hitam. Dengan demikian kenaikan penggunaan BBM non subsidi secara pasti membuat harga barang ikut naik, apalagi jika harga minyak internasional kembali meroket. Jika hal itu terjadi maka kehidupan masyarakat akan semakin sengsara akibat makin mahalnya biaya hidup.

Ketujuh: Pembatasan BBM dan kebijakan apapun yang memberikan peran lebih besar kepada pihak asing dalam pengelolaan sumberdaya alam khususnya migas merupakan kebijakan yang bertentangan syariah Islam. Minyak bumi dan gas serta kekayaan alam yang melimpah lainnya dalam pandangan Islam merupakan barang milik umum yang pengelolaannya diserahkan kepada negara untuk kesejahteraan rakyat. Sayang, pemerintah negeri ini yang dikelilingi oleh para opurtunis yang sangat loyal memegang prinsip ekonomi Kapitalisme. Padahal selain terbukti menyengsarakan rakyat dan membuat negeri ini tak lagi mandiri, Kapitalisme adalah sistem batil menurut Islam, dan karenanya harus diganti dengan sistem Islam, yang terwujud dalam institusi Khilafah Islam. Khilafah inilah yang menerapkan seluruh syariah Islam dalam kehidupan bernegara, termasuk dalam pengelolaan minyak bumi. Dalam Khilafah, kepala negara (Khalifah) bertanggung jawab mengurus segala urusan rakyatnya.

الإِمَامُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَ هُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (Khalifah) yang memimpin manusia adalah pengurus rakyat. Dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []


Komentar al-islam:


RI: Serangan Alexandria (Mesir) Bukti Terorisme Masih Mengancam (Antara, 4/1/2011).

Mengapa tidak berani menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel adalah teroris negara, yang tidak hanya mengancam, tetapi terus menebar teror dengan banyak membunuh kaum Muslim di Irak, Afganistan, Palestina dsb. Inilah kedustaan atas nama terorisme sekaligus menunjukkan sikap paranoid para penguasa Muslim.

Sunday, January 2, 2011

Info Gresss : Training Mastering Public Speaking




Mastering Public Speaking Kiat Dahsyat Menjadi Dai Hebat Bersama Spiritual Motivator N.Faqih Syarif H, Ahad 9 Januari 2011 jam 8.30 sd selesai di Museum Mpu Tantular Pemprov. jatim dekat jembatan layang kota Sidoarjo. Peserta Umum dan Terbatas. Dapatkan Diskon Khusus bagi Mahasiswa serta hadiah menarik lainnya. hub. Azri di 081331714091.

Tahun Baru : Saatnya Mengevaluasi diri dan Merajut lagi Impian



Tahun Baru :
Saatnya Mengevaluasi diri dan Merajut lagi Impian

Salam Dahsyat dan Luar Biasa!
”Sobat, tanpa tujuan yang jelas , hidup kita akan berpindah dari satu masalah ke masalah lain sebagai ganti dari berpindah dari satu peluang ke peluang lain.”


Sobat, kita telah memasuki awal tahun baru baik tahun baru hijriah atau tahun baru masehi, saatnya kita mengevaluasi diri ; apa yang sudah kita lakukan di tahun kemarin? Prestasi atau karya apa yang sudah kita berikan kepada sesama manusia yang menjadikan Allah ridho dan bangga terhadap diri kita ? Saatnya pula merajut lagi impian yang belum tercapai di tahun kemarin.
Ingatlah sobat, tanpa tujuan hidup kita akan menjadi seperti lajunya sampan di lautan yang tak bertepi.Kehidupan kita akan menghujung di padang kehidupan dalam keadaan retak-retak dan berantakan.
Apabila tujuan memiliki posisi penting, lalu mengapa manusia tidak menentukan tujuan hidup mereka? Kenapa kita takut duduk di depan kertas putih untuk menuliskan rencana-rencana dan tujuan-tujuan kita? Kenapa kita takut dengan cahaya yang meneragi jalan kita dalam kehidupan?

Sungguh, Allah SWT menegaskan kepada kita tentang pentingnya melihat masa depan, memperjelas tampilannya, dan memampukan jiwa untuk mengarungi serta berinteraksi dengannya. Rabb kita berkata, ” Dan hendaklah setiap orang melihat apa yang telah ia lakukan untuk masa depannya.” Lalu mengapa kita takut melihat hari esok? Mengapa takut membuat persiapan untuknya.
Kenapa kita harus memiliki tujuan? Setidaknya sobat, ada 5 hal mengenai urgensi memiliki tujuan :
1. Pengendalian diri. Saat seorang memiliki agenda tertata, sistematis, dan seimbang untuk mewujudkan tujuannya di seluruh sisi kehidupannya yang beragam, niscaya ia akan merasa mampu mengendalikan kebanyakan hidupnya dan masa depannya serta memiliki kemampuan untuk membuat inovasi di semua bidang kehidupan.
2. Percaya diri.Dengan sekedar menulis tujuan-tujuan kita dan membuat rencana kita, kita akan mendapati rasa percaya diri kita meningkat dengan pesat. Rasa percaya diri akan meningkat berlipat hingga memampukan kita untuk mengendalikan hidup,mewujudkan cita-cita dan mendorong kita untuk lebih maju dan berkembang.
3. Peningkatan diri. Nilai diri seorang terletak pada pencapaian-pencapaian dan tujuan-tujuan yang berhasil ia wujudkan. Dengan selesainya tujuan, maka seseorang telah maju selangkah lagi pada anak tangga kesuksesan dan kemajuan. Pencapaian tujuan akan menciptakan bentuk penghormatan seseorang pada dirinya sendiri dan penghargaan terhadap dirinya serta mendorongnya untuk percaya dan yakin penuh akan kemampuannya.Dengan begitu, sedikit demi sedikit akan menyadari peningkatan dirinya.
4. Manejemen waktu.Saat kita menentukan tujuan, niscaya kita menemukan diri kita dipaksa menata prioritas kita dan mengatur waktu kita dengan baik serta jauh dari penghamburan waktu baik itu semenit atau sedetik. Saat kita meletakkan kerangka waktu untuk mewujudkan tujuan, konsentrasi kita akan menjadi lebih kuat dan daya rentan untuk hanyut dalam menyia-nyiakan waktu juga akan lemah. Kita akan menemukan bahwa manejemen waktu dan penentuan tujuan seperti dua sisi mata uang.
5. Nikmatilah hidup kita. Tidak ada rencana dalam hidup kita akan membuat hidup seperti dalam kondisi emergensi atau bahaya. Segala sesuatu saling terkait dan terguncang. Sebaliknya, adanya rencana yang tertata dan seimbang dalam hidup kita akan selalu melahirkan kekuatan besar dan hebat dalam diri kita, yang mendorong untuk selalu menikmati hidup.

Sobat, sebagai penutup dari artikel yang singkat ini, mari kita luangkan sebentar untuk memikirkan siapa kita saat ini dan siapa kita ingin menjadi. Lihatlah diri kita satu tahun dari sekarang. Sebagaimana kebiasaan kami dalam membimbing para mahasiswa dalam mentor FM Plus setiap awal tahun kami semua membuat sepucuk surat kepada diri sendiri yang menggambarkan di mana kita akan berada satu tahun mendatang berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut ; Jika kita bisa memiliki segala sesuatu yang kita inginkan dan kita tidak mungkin gagal, akan seperti apakah itu? Apa yang paling kita inginkan untuk diri, keluarga dan umat? Ketika kita memandang kembali periode ini di dalam hidup kita, apa yang ingin kita ingat? Pengalaman apa yang ingin kita alami? Keberhasilan-keberhasilan apa? Beri tanggal surat yang kita buat dan rekat amplopnya untuk di buka hanya oleh kita sendiri, dan letakkan di tempat kita akan menemukannya kembali pada satu tahun mendatang. Subhaanallah! Allahu Akbar banyak diantara kami telah mengalami keajaiban di tahun kemarin dari apa yang kami tulis dan itu adalah perwujudan do’a kami kepada-Nya. Bukankah Allah senantiasa akan menuruti persangkaan hambanya sekaligus mengabulkan do’a kita. Hanya kepada-Nya kami beribadah dan hanya kepadanya kami meminta dan memohon pertolongan-Nya.

Ingatlah, sobat orang yang bahagia adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari hari kemarin, berinstropeksi terhadap diri sendiri, mempersiapkan diri untuk
hari esok ( akherat) dan selalu merasa diri diawasi oleh Allah baik pada saat terang-terangan maupun sembunyi.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah kekuatan spirit Tanpa Batas, Kiat Dahsyat menjadi Dai Hebat, The Secret of happiness, Menjadi Dai yang dicinta. www.fikrulmustanir.blogspot.com dan email mumtaz.oke@gmail.com)

Saturday, January 1, 2011

Fajar Islam




Fajar Islam

Saat ini kita tengah berada di awal tahun 1432H. Tiga puluh dua tahun sudah berlalu sejak dicanangkannya abad ke-15H sebagai abad kebangkitan umat Islam. Fajar kemenangan Islam pun kian tampak.

Siapa pun orang jujur akan mengetahui sekaligus mengakui bahwa Islam adalah peradaban masa depan. Dukungan terhadap Islam pun bertambah kokoh. Tren memeluk Islam di dunia Barat terus meningkat. Bahkan, masuk Islamnya adik ipar mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair, Lauren Booth, menjadi bahan pembicaraan hangat di Inggris. Diperkirakan pada tahun 2050 kaum Muslim akan menjadi 50% penduduk Eropa.

Bagaimana dengan negeri-negeri Muslim? Gambaran sederhana barangkali dapat terlihat seperti pada saat saya menunaikan ibadah haji tahun ini. Alhamdulillah, Allah SWT mempertemukan saya dengan kaum Muslim dari berbagai negara. Secara acak, saya berbicara dengan mereka. Ada yang berasal dari Saudi Arabia, Irak, Iran, Mesir, Maroko, Sudan, Nigeria, Turki, Libya, Pakistan, India, Bangladesh, dan negeri lainnya. Hal yang sama dalam setiap pembicaraan itu adalah “Kita ini umat yang satu. Allah kita satu. Al-Quran kita satu. Rasul kita satu. Islam kita satu. Ka’bah kita satu. Waktu haji kita satu. Masalahnya adalah hukum dan kepemimpinan Islam kita belum satu.” Ini merupakan isyarat sederhana bahwa kaum Muslim di berbagai penjuru dunia sebenarnya rindu akan diterapkannya hukum Islam dan menyatunya kaum Muslim.

Lebih jauh, berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan terhadap penegakkan syariah secara total makin meningkat. Pada pertengahan tahun 2010 Pew Research Center melakukan survey di tujuh negara yang mayoritas penduduknya muslim dengan cara wawancara tatap muka. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas Muslim di Indonesia, Mesir, Nigeria dan Yordania yang paling antusias untuk memberlakukan hukum Islam di negaranya. Lebih dari 3/4 responden survei di negara-negara itu memberikan pandangan yang positif terhadap peran Islam dalam politik. Mayoritas muslim di seluruh dunia memberi respon positif atas peran besar agama Islam dalam kehidupan politik sebuah negara.

Kenyataan ini membuat gelisah musuh Islam. Mereka berupaya untuk memadamkan cahaya Islam. Di Indonesia, salah satu upaya yang dilakukan adalah mencari-cari ‘kelemahan’ penerapan syariat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Human Right Watch (HRW) di Aceh. HRW dengan dukungan kelompok anti-Islam mempropagandakan bahwa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Istimewa Aceh tentang Pelarangan Khalwat dan Kewajiban Mengenakan Pakaian Muslimah bagi warga Muslim di Aceh merupakan aturan yang melanggar HAM sehingga harus dicabut atau diamandemen.

Namun, hal ini justru makin menambah deretan ketidakadilan terhadap hak umat Islam untuk menjalankan keyakinannya, di tengah ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi. Kasus Wikileaks makin membongkar keculasan penguasa, intervensi AS, dan bagaimana ketidakadilan terhadap rakyat direkayasa. Berbagai peraturan dibuat, namun ternyata ketidakadilan makin nyata. Mereka makin tahu akan kehancurannya, sebab mereka yakin dengan perkataan filosof Marcus Tullius Cicero, “The more laws, the less justice (makin banyak aturan, makin berkurang keadilan)”. Mereka pun percaya pada perkataan Martin Luther, “Injustice anywhere is a threat to justice everywhere (ketidakadilan di suatu tempat merupakan serangan terhadap keadilan di setiap tempat)”. Hasil dari semua ini adalah kezhaliman. Padahal, apabila kezhaliman memimpin di tempat manapun maka akan tampaklah keadilan di tempat manapun. Secara imani, realitas, dan historis tidak ada keadilan hakiki kecuali di dalam Islam. Ingatlah, kaidah keadilan Barat adalah “Hak mereka minimal dari apa yang bagi kami, dan beban mereka paling besar dari apa yang menjadi kewajiban kami.” Sedangkan, kaidah keadilan dalam Islam, “Mereka berhak mendapatkan apa yang menjadi hak kami, dan mereka punya kewajiban sebagaimana yang menjadi kewajiban kami (Lahum ma lana wa ‘alaihim ma ‘alaina)”. Karenanya, makin meningkatnya dukungan terhadap Islam di dunia, dan makin merajalelanya ketidakadilan/kezhaliman baik di dunia Islam maupun nonIslam semakin menunjukkan fajar Islam segera menyingsing.[MR Kurnia]

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co