Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Monday, October 25, 2010

Salah Satu Kunci Sukses hidup adalah memiliki karakter terbaik.


Salah satu Kunci Kesuksesan hidup adalah memiliki karakter terbaik.

” The carnegie Institute pernah manganalisa catatan 10 ribu orang dan menyimpulkan bahwa 15 % kesuksesan terkait dengan technical training.Sisanya 85% adalah karena kepribadian. Sementara unsur kepribadian yang paling utama adalah karakter atau sifat seseorang .”(the carnegie Institue)


Sobat, dalam kehidupan ini hampir semua orang di dunia menyukai karakter-karakter baik. Mereka-mereka yang sukses dalam bidang apa pun dan bisa bertahan lama adalah mereka yang memiliki karakter-karakter baik. Coba kita lihat orang-orang yang menurut anda adalah orang-orang sukses. Anda juga akan mendapati bahwa mereka punya karakter atau sifat yang baik dan anda sukai. Misalnya; bekerja keras, kreatif, pintar, dapat dipercaya, baik hati, dermawan, jujur, disiplin, dan sebaginya.

Sekarang coba anda buat pula daftar orang-orang yang menurut anda gagal dalam hidup, bisnis, atau keluarganya dan sebutkan pula sifat-sifat mereka yang tidak anda sukai yang menyebabkan kegagalan tersebut. Mungkin anda akan menemukan sifat-sifat yang tidak baik seperti ; pemalas, kasar, pemarah, tidak mau menambah skill dan knowledge, kurang kreatif, tidak disiplin dan sebagainya. Sifat-sifat inilah yang antara lain menyebabkan kegagalan.

Dari ilustarsi di atas sobat, ada dua pelajaran yang bisa kita ambil. Pertama, bahwa karakter atau sifat yang kita sukai atau tidak disukai bersifat universal. Sebab, rata-rata umat manusia menyukai sifat-sifat yang baik dan benci dengan sifat-sifat yang buruk. Bahkan orang yang bersifat buruk pun sebenarnya tidak suka dengan sifat mereka. Inilah yang menurut Dr. Syafi’i Antonio disebut anggukan universal dan gelengan universal.
Kedua, ternyata ada hubungan antara sifat-sifat yang baik dengan kesuksesan seseorang dan sifat-sifat buruk dengan kegagalan. Orang-orang sukses biasanya adalah orang-orang yang mempunyai integritas, pekerja keras, pantang menyerah, pembelajar, kreatif, dan sifat-sifat baik lainnya. Sementara orang-orang yang gagal biasanya mempunyai sifat pemalas, takut gagal, miskin ilmu, pemarah, kasar dan seterusnya.

Sobat, kalau kita tarik lebih luas lagi, ternyata ada hubungan antara kesuksesan dan kegagalan suatu perusahaan dengan karakter atau sifat-sifat orang-orang dalam perusahaan tersebut. Beberapa perusahaan yang dipimpin oleh orang-orang dengan sifat-sifat terbaik ternyata mampu membawa sukses perusahaan mereka. Sementara karena adanya sifat yang kurang baik di tingkat pimpinan membawa banyak perusahaan-perusahaan lainnya ke jurang kehancuran seperti yang dialami oleh oleh Lehman brothers,Enron, Worldcom, dan sebagainya.

Sifat-sifat terbaik yang mengantarkan kepada kesuksesan pribadi maupun perusahaan inilah sebenarnya yang ingin diungkap dan disampaikan dalam banyak cerita-cerita sukses yang ditulis dalam bentuk biografi orang terkenal atau kisah sukses perusahaan. Kisah-kisah ini senantiasa laris sepanjang masa sehingga wajar saja jika kisah-kisah sukses para pemimpin dan CEO telah, sedang, dan akan terus ditulis, mulai dari masa kecil , kisah heroik sampai yang menyentuh perasaan

Sobat, Kouzes dan Posner (2004) dalam bukunya Leadership Challenge mengungkap hasil penelitian tentang sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin yang mengantarkan mereka para pemimpin atau CEO tersebut pada kesuksesan dan dicintai banyak orang. Mereka menyebarkan kuisioner kepada lebih dari 75 ribu orang di seluruh dunia dan memperbarui temuan mereka secara kontinyu. Hasilnya yang paling mengejutkan dan paling nyata adalah bahwa secara konsisten sepanjang waktu dan seluruh benua, hanya empat karakter yang mendapat lebih dari 50 % suara yaitu :
1. Jujur
2. Berorientasi (future oriented)
3. Kompeten
4. Membangkitkan semangat.
Keempat sifat ini paling sering muncul dan membuktikan bahwa setiap pemimpin yang ingin didengar dan dituruti kata-katanya adalah pemimpion yang memiliki kualita karakter tersebut.

Bagaimana dengan sifat-sifat negatif ? Penelitian yang dilakukan oleh Robert Half internasional sebuah perusahaan konsultan bisnis, tentang alasan para pemimpin perusahaan memecat seorang karyawan. Temuan ini sangat menarik dan membuktikan pentingnya karakter atau sifat dalam dunia bisnis. Sifat-sifat negatif yang menjadi alasan pemecatan seorang karyawan adalah :

1. Tidak berkompeten
2. Tidak mampu selaras dengan karyawan lain
3. Tidak jujur atau berbohong
4. Sikap negatif
5. Kurang motivasi
6. Tidak mampu atau tidak mau mengikuti perintah.

Sobat, sifat yang kita miliki mempengaruhi apa yang akan kita lihat dan bagaimana kita mengelola perasaan. Kedua hal ini sangat berpengaruh pada tingkat kesuksesan seseorang.
Di sinilah Islam mengajarkan akan pentingnya memiliki kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyyah) yaitu menjadikan pola pikir dan pola sikap kita berlandaskan Aqidah Islam. Sehingga menjadikan kita sadar akan visi dan misi hidup kita di dunia. Setiap perbuatan kita di dunia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Tolok ukur langkah kita adalah berdasarkan halal/haram (Syariat) semata-mata mencari ridho Allah SWT bukan menghalalkan segala cara.

Sobat, pengabdian tertinggi kita adalah mentuhidkan Allah dan hanya mengabdi serta beribadah kepada-Nya. Inilah kemuliaan sesungguhnya yang akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akherat. Hanya dengan langkah inilah hidup akan mempunyai makna. Bila Tidak, apa bedanya hidup kita dengan hidup hewan? Na’udzu billahi min dzalik.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa! Salam SuksesMulia!

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, S.Sos.I,M.Si. Penulis Buku Al Quwwah ar ruhiyah Kekuatan spirit tanpa batas. www.fikrulmustanir.blogspot.com . email mumtaz.oke@gmail.com )

Thursday, October 21, 2010

Indonesia yang Kapitalistik ini Bukan Hanya Gagal tapi juga Sesat!



Indonesia yang Kapitalistik ini Bukan Hanya Gagal tapi juga Sesat !


Bila selama ini masyarakat sering mendengar adanya aliran sesat, maka kemarin (19/10) siang para peserta talkshow Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ke-23 mendengar pernyataan jubir HTI yang menyatakan bahwa Indonesia yang berdasarkan kepada asas kapitalisme-sekuler ini adalah negara sesat.

Ust Muhammad Ismail Yusanto ketika dimintai pendapatnya tentang setahun pemerintahan SBY-Boediono atau enam tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan demikian. “Negara kita ini bukan hanya gagal tetapi juga sesat!” ujarnya di hadapan 250 peserta talkshow yang bertema Quo Vadis Pemerintahan Neolib dan Masa Depan Umat: Refleksi 6 Tahun Pemerintahan SBY itu.

Alasannya, ujar jurubicara HTI tersebut, dalam Al-Qur’an Surat (QS) Al-Ahzab Ayat 36 dinyatakan barang siapa yang maksiat atau durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. “Maksiat itu apa? Maksiat itu ketika seseorang itu meninggalkan yang wajib dan melakukan yang haram!” paparnya.

Ia pun mengajak peserta untuk bersama-sama berfikir melihat segala sesuatunya dari sudut pandang tersebut. Hasilnya ternyata sistem yang berlaku di negara ini justru banyak sekali meninggalkan yang wajib dan banyak sekali melakukan yang haram dengan berbagai macam Undang-Undang yang dibuatnya.

Riba (salah satunya: bunga bank) jelas-jelas haram tapi justru dilakukan bahkan dipraktikan dengan perlindungan Undang-Undang. Kalau ada tempat yang paling keren di Sudirman-Thamrin, Jakarta, itu adalah gedung-gedung perbankan ribawi.

Pemerintah tidak pernah mengatakan itu gedung tempat maksiat, padahal itu sebenarnya tempat maksiat. Padahal tidak ada kemaksiatan yang paling keras diperangi oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW melebihi riba, sampai-sampai di Al-Qur’an di Surat Al-Baqarah Ayat 279 dikatakan bila engkau tidak meninggalkan sisa riba itu maka Allah dan Rasul itu akan memerangi kalian semua.

“Jadi keras sekali, tapi sekarang dianggap halal dan mendapatkan tempat terhormat dengan perlindungam Undang-Undang perbankan segala!” tegasnya.

Menegakkan syariah Islam secara totalitas itu wajib tetapi diharamkan oleh pemerintah. Dalam Al-Qur’an disebutkan kutiba ‘alaykum as shiyam (diwajibkan atas kalian berpuasa, QS Al-Baqarah Ayat 183, red), kutiba ‘alaykum al qishash (diwajibkan atas kalian qishah [hukuman setimpal: nyawa dibayar nyawa, dll] QS Al-Baqarah Ayat 178, red.), kutiba ‘alaykum al qital (diwajibkan atas kalian berperang/jihad, QS Al-baqarah Ayat 216, red.). Semuanya dari Al-Qur’an dan Surat yang sama semuanya pakai kutiba (telah diwajibkan).

Nah yang dilaksanakan hanya puasa saja tetapi qishah tidak. Bahkan ketika ada yang menyerukan untuk jihad (qital) orang bilang teroris. Jadi justru negara ini memusuhi pelaksanaan syariah yang nyata-nyata telah diwajibkan seperti yang disebut di atas.

Bila individu yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya disebut sesat. Kalau individu sesat itu berkumpul di dalam sebuah kelompok yang juga bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka kelompok itu juga disebut kelompok sesat. Kalau keluarga, disebut keluarga sesat. Nah kalau negara? Negara sesat! Pasti itu. Dan negara sesat itu pasti gagal. Tidak mungkin berhasil.

Kalau negara itu berhasil, katakanlah misalnya, orang sering menunjuk: lihat itu Eropa, Amerika, Singapura, Australia, berhasil! Tetapi itu sesungguhnya keberhasilan yang semu. Yang mereka tunjuk itukan biasanya adalah keberhasilan dari sisi fisik. Misalnya, pengaturan kota, kebersihan, ketertiban, hanya itu-itu saja.

Tetapi di balik itu, mereka menghadapi masalah-masalah yang lebih substansial. Apa itu? Yaitu menyangkut manusianya. Karena kota itu untuk manusia, jalan dibuat itu untuk manusia, ketertiban itu untuk manusia. Tapi bagaimana jadinya mereka hidup dilingkungan yang bersih, rapih, tetapi manusianya rusak.

Sekali waktu silakan jalan-jalan ke Sidney, Australia, ketika acara Festival Gay. Di kota yang tampak rapih dan bersih itu ada parade yang semua pesertanya adalah gay, “seperti jeruk makan jeruk,” ujarnya ketika menceritakan pengalamannya ketika ke Sidney dan disambut tawa peserta talkshow yang digelar sebulan sekali itu. Itukan salah satu contoh kerusakan yang substansial.

“Kalau kita berada di negara yang sesat seperti ini maka sangat mungkin umat kita pun akan terbawa sesat,” Ismail memperingatkan. Kecuali mereka yang terus menerus mempertahankan diri, mempertahankan akidahnya mempertahankan ketakwaannya kepada Allah SWT. dan itu tidak mudah.

Yang menjaga diri dari riba kemungkinan kena debu riba. Yang menjaga diri dari kesucian pandangan mata dia akan tercemari oleh pornografi dan pornoaksi yang merajalela. Yang ingin menegakan al haq (kebenaran) justru ditangkap, dituduh teroris seperti halnya Ust Abu Bakar Baasyir.

Jadi kaum Muslim yang hidup dalam sistem kapitalisme ini ibaratnya berada di dalam kubangan lumpur kotoran, hanya orang yang terus menerus membersihkan diri saja yang akan selamat. Kalau diam saja atau mengikut saja apa kata pemerintah yang menghalalkan keharaman dalam Al-Qur’an dan mengharamkan kewajiban dari Allah SWT, dijamin kotor.

Maka solusinya agar tidak tersesat ya kembali ke syariah dan khilafah Islam. Agar penduduk ini tidak tersesat. Di samping itu, sistem itu yang belum pernah diterapkan di negeri ini pasca hengkangnya penjajah Belanda dan Jepang. Sedangkan sistem lainnya sudah pernah dicoba dan terbukti gagal memanusiakan manusia yang misi hidupnya di planet bumi ini untuk menjalankan perintah Pencipta manusia dan menjauhi larangan-Nya.

Soekarno menjalankan roda bernegaranya dengan menggunakan sistem sosialisme, gagal. Soeharto pun gagal dengan sistem kapitalismenya. Begitu juga SBY dengan neolibnya juga gagal. Lantas mengapa tidak mau menegakkan syariah dan khilafah? (mediaumat.com, 21/10/2010)

Bongkar Pasang Menteri Bukan Solusi



Bongkar Pasang Menteri Bukan Solusi

KABINET Indonesia Bersatu (KIB) II genap berumur setahun pada 20 Oktober ini. Usia Pemerintahan SBY sendiri sudah enam tahun. Setahun usia kabinet dianggap banyak pihak sebagai saat yang tepat untuk mengevaluasi kinerja para menteri untuk selanjutnya dilakukan perbaikan. Di antara langkah yang bisa diambil Presiden SBY adalah mengganti menteri yang dinilai ‘jeblok’ dan diganti dengan menteri baru. Singkatnya, reshuffle menteri dipandang perlu agar kinerja kementeriannya membaik dan akhirnya kinerja Pemerintah secara keseluruhan juga membaik.

Presiden SBY telah membentuk Unit Kerja Presiden Bidang Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan (UKP4) yang salah satu tugasnya adalah menilai kinerja kementerian secara berkala tiap dua bulan. Pada bulan September lalu, UKP4 sudah menyerahkan hasil penilaian kinerja bulan Juli-Agustus. Hasil penilaian UKP4 itu di antaranya bahwa 25 persen kinerja menteri kurang memuaskan. Hasil penilaian itu juga menyebutkan sekitar 49 subrencana aksi dinilai mengecewakan khususnya di Kemenko Polhukam, Kemenko Perekonomian dan Kemenko Kesra. Lembaga lainnya adalah Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tiga kementerian-Kementerian Kominfo, KemkumHAM dan Kementerian PU-mendapat rapor merah. Banyak pihak mendesak agar hasil penilaian oleh UKP4 itu dijadikan salah satu acuan melakuakn reshuffle (pergantian menteri).

Namun, banyak kalangan juga menilai Pemerintahan SBY-Boediono selama setahun ini jauh dari harapan masyarakat. SBY dianggap belum bisa mewujudkan janjinya kepada masyarakat. Pemerintah dinilai belum memperlihatkan niat memulihkan dan memaksimalkan produktivitas semua potensi ekonomi di dalam negeri. Produktivitas masyarakat terhambat oleh tingginya biaya produksi. Akibatnya, pasar dalam negeri dijejali produk impor. Dalam hal investasi Pemerintah terlalu senang dengan masuknya investasi hot money dari luar negeri yang masuk ke pasar modal dan bursa efek. Padahal dana itu bersifat cepat datang cepat pergi serta tidak berpengaruh sedikitpun pada ekonomi riil. Angka pengangguran tidak kunjung turun dan jumlah rakyat miskin masih puluhan juta orang.

Di bidang hukum pemerintahan ini juga meraih nilai jeblok. Indonesia, menurut IMF, masih diselimuti ketidakpastian hukum. Korupsi makin merajalela. Banyak oknum dari sejumlah institusi negara justru menjadi aktor mafia hukum. Pemerintah dinilai tidak bertekad kuat terhadap pemberantasan korupsi dengan terus berjalannya upaya pelemahan KPK, adanya pemberian pengurangan hukuman bagi koruptor, dsb. Hukum tidak berfungsi maksimal menangani kasus-kasus besar dan melibatkan pejabat atau pengusaha seperti dalam kasus Century dan BLBI. Sebaliknya, hukum terlihat galak terhadap kasus kecil dan rakyat kecil.

Rakyat pun masih saja sulit mendapat pelayanan publik. Biaya pendidikan tetap tinggi. Rakyat juga sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Konon pelayanan publik belum bisa maksimal karena minimnya biaya yang bisa disediakan oleh Pemerintah. Ironisnya, alokasi anggaran untuk plesiran dengan bungkus studi banding baik oleh DPR atau Pemerintah mencapai total 19 triliunan rupiah.

Untuk memperbaiki kinerja Pemerintah banyak pihak mendorong dilakukan reshuffle KIB II. Tentang reshuffle itu, Yudi Latif mengatakan, “Sudah harus dilaksanakan oleh Presiden SBY. Faktor utamanya adalah kinerja para menteri bersangkutan memang sangat tidak memadai. Jumlahnya, bisa separo.” (Poskota, 3/10).

Hanya saja, tampak bahwa alasan politis lebih menonjol untuk melakukan reshuffle. Wacana reshuffle itu selama ini telah dijadikan alat untuk melakukan tawar-menawar politik.

Namun, apapun alasan yang digunakan, pertanyaannya adalah: apakah reshuffle KIB II merupakan solusi bagi masa depan negeri ini?

Sebagian pihak memang menganggap reshuffle adalah solusi, setidaknya untuk meningkatkan kinerja Pemerintah ke depan. Namun, sebagian lain menganggap reshuffle tidak akan menyelesaikan apa-apa. Menurut pengamat ekonomi politik dari Northwestern University, Amerika Serikat, Prof. Jeffrey Winters, buruknya kinerja Pemerintah tidak lepas dari sikap Presiden SBY dalam menjalankan pemerintahan. SBY dianggap lebih suka terlihat cantik, santun dan berambut rapi di depan kamera dibandingkan bekerja keras mengatasi persoalan-persoalan yang ada di Indonesia (Detiknews, 18/10).

Pengamat politik Universitas Indonesia Prof. Ibramsjah juga menilai reshuffle tidak akan menghasilkan perubahan apa pun. Menurut dia, reshuffle adalah pekerjaan yang sia-sia karena akar persoalan pemerintahan saat ini bukan di situ. Seharusnya SBY membentuk kabinet atas dasar profesionalisme dan kompetensi. Namun faktanya, Presiden lebih memilih orang-orang dari parpol yang sama sekali tak berpengalaman di bidangnya. “Akibatnya, ya kinerja kabinet sekarang di bawah standar. Tak ada kinerja kabinet yang memuaskan,” ujarnya (Okezone, 19/10).

Penilaian bahwa reshuffle tidak akan menyelesaikan apa-apa itu akan mendapatkan kenyataannya. Sebab, selain alasan yang dinyatakan itu, juga terlihat bahwa reshuffle lebih untuk tujuan politis, seperti untuk mengamankan Pemerintah di DPR, untuk meredakan kritik dari Parpol karena tak diakomodasi di dalam kabinet dan untuk menyolidkan koalisi yang ada. Jika itu yang terjadi maka secara teknis hanya mengulang kesalahan yang sama.

Lebih dari itu, akar persoalan yang sebenarnya adalah pengadopsian ideologi Kapitalisme neoliberal oleh Pemerintah saat ini maupun sebelumnya. Ideologi inilah yang mengharuskan privatisasi pendidikan dan pelayanan kesehatan yang menyebabkan pendidikan dan pelayanan kesehatan makin hari makin mahal. Ideologi ini pula yang mengharuskan penjualan BUMN-BUMN, termasuk yang strategis, dengan harga amat murah. Akibatnya, triliunan dana rakyat hilang dan Pemerintah kehilangan sebagan sumber pemasukan. Ideologi ini pulalah yang mewajibkan liberalisasi sektor energi dan migas sehingga harga BBM, tarif dasar listrik harus naik. Karena ideologi inilah, sumberdaya alam termasuk sumberdaya air diliberalisasi dan diprivatisasi. Akibatnya, kekayaan negeri ini justru lari ke kantong pihak swasta dan pihak asing. Rakyat sendiri tak mendapat apa-apa dan malah harus menanggung akibat seperti masalah kerusakan lingkungan dan bahaya akibat kerusakan lingkungan itu. Ideologi ini pulalah yang mengajarkan politik demi kekuasaan dan berbiaya mahal yang lebih banyak menghasilkan para pemimpin yang tidak mempedulikan kepentingan rakyat dan lebih mempedulikan kepentingan dirinya sendiri, kelompok dan para penyandang dana mereka.

Reshuffle sama sekali tidak menyentuh faktor ideologi dan sistem ini. Reshuffle hanyalah mengganti orang yang melaksanakan ideologi dan sistemnya itu. Dengan begitu reshuffle tidak akan menyelesaikan masalah dan membawa kebaikan yang hakiki. Sebab, sumber penyakitnya sendiri, yakni idelogi Kapitalisme neoliberal yang diterapkan di negeri ini, tidak pernah disentuh.

Untuk mewujudkan perubahan yang didambakan, jelas tidak cukup hanya dengan bongkar-pasang orang di jajaran kabinet dan lingkaran kekuasaan. Perubahan itu harus dilakukan pada dua wilayah, yakni orang dan sistem. Bahkan perubahan sistem dan ideologi sangat menentukan. Sebab, ideologi dan sistem itulah yang justru akan memformat orang-orang sesuai dengan sistem dan ideologi itu.

Karena itu, jika akar masalahnya adalah sistem dan ideologi yang rusak dan cacat, maka perubahan yang harus dilakukan adalah mengganti secara total sistem dan ideologi yang rusak dan cacat itu, yakni Kapitalisme neolibiralisme, dengan sistem dan ideologi yang baik dan membawa kebaikan, sekaligus memperbaiki orang-orangnya. Itulah ideologi dan sistem Islam yang dijalankan oleh orang-orang yang bertakwa dan amanah.

Jalan Harapan

Islam memberikan tuntunan bahwa mewujudkan kehidupan masyarakat yang didambakan harus diwujudkan melalui sistem yang baik yang dilaksanakan oleh orang-orang yang bertakwa dan amanah. Tentang pentingnya orang yang baik, Rasul saw. memberikan gambaran dalam sabda beliau:

« إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ » . قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ « إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »

Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah saat-saat kehancuran.” Orang Arab Baduwi itu berkata, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?” Beliau bersabda, “Jika urusan disandarkan (diserahkan/dipercayakan) kepada selain ahlinya maka tunggulah saat-saat kehancuran.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Para ulama dalam menafsirkan hadis ini menekankan pada perkara pemerintahan, kekuasaan, peradilan dan pengaturan urusan umat. Hal itu karena dalam perkara-perkara itu, kelayakan pejabat dan orang yang menanganinya turut menentukan baik dan tidaknya masyarakat. Ath-Thayyibi berkata, “Karena perubahan dan kerusakan wali terkait erat dengan perubahan rakyat. Bisa dikatakan bahwa masyarakat itu mengikuti agama penguasa mereka.” Artinya, jika penguasa, pejabat dan orang yang menangani urusan umat itu orang yang rusak, zalim dan tidak layak maka masyarakat akan terzalimi, menderita dan rusak.

Adapun dalam hal sistem, Allah SWT mengingatkan bahwa pengadopsian sistem hidup selain yang diturunkan oleh Allah hanya akan membuahkan kesempitan hidup di dunia. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 124).

Maknanya, “Siapa saja yang menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada rasul-Ku, ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil yang lain sebagai petunjuk maka baginya penghidupan yang sempit, yaitu di dunia, sehingga tidak ada ketenteraman baginya.” (Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr).

Dengan demikian, mengadopsi ideologi dan sistem Kapitalisme serta meninggalkan sistem dan ideologi Islam hanya akan mendatangkan kesempitan hidup. Inilah yang dirasakan oleh masyarakat saat ini. Karena itu, sistem dan ideologi Kapitalisme itu harus diganti untuk menyelesaikan kesempitan hidup yang diderita masyarakat. Penggantinya adalah sistem Islam dan syariahnya. Allah SWT telah berjanji bahwa sistem dan syariah Islam akan memberikan kehidupan, sebagaimana firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (QS al-Anfal [8]: 24).

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []

Komentar al-Islam:


Pemerintah Belum Memberikan Harapan (Republika, 19/10/2010).
Selama tak menerapkan syariah Islam, rezim manapun tak bisa diharapkan.

Thursday, October 14, 2010

Untaian Kata Spiritual Motivation




Untaian Kata Spiritual Motivation
Oleh. N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si,

Hidup layaknya mengendarai sepeda agar dalam keadaan seimbang dan tidak jatuh harus terus mengayuh supaya sepeda terus bergerak,dgn kata lain agar tetap dianggap hidup, kita harus terus bergerak.Dalam bergerak,kita tidak boleh sembarangan.Gerak dalam aspek fisik,mental,akal pikiran dan hati nurani. Salam SuksesMulia!

Gerak atau perubahan manusia harus memberikan manfaat bagi diri-sendiri dan orang lain.Dalam Islam disebut hijrah,setiap perpindahan yang kita lakukan harus memiliki makna. makna apa? Rasul pernah bersabda"Manusia yang terbaik adalah yg berguna bagi manusia yg lain." HR.Bukhari.Berubahlah 1 % tiap hari ke arah kebaikkan.Salam dahsyat dan luar biasa!

Segala kebesaran hidup ini dibangun oleh orang-orang yang biasa bergerak.Atas jasa mereka hidup initerus punya dinamika.Di dunia dakwah ada para Da'i dan aktivis pergerakan yg tak pernah diam.Mereka tak henti membimbing masyarakat,menyusun strategi, bagaimana agar agama ini semakin kukuh dan rahmatan lil'alamin benar-benar terwujud.

Sobat, memiliki makna dan tujuan hidup berarti memiliki pelita untuk berjalan dalam kegelapan. Kita menjadi tahu ada yang perlu diperjuangkan selama menjalani hidup yang singkat ini.Hidup sesungguhnya suatu perjalanan utk terus menciptakan nilai tambah diri utk keluarga, masyarakat atau umat demi kebahagiaan hidup setelah dunia.Persoalannya, sebelum menghadap ke haribaan-Nya, apa yg kita lakukan?

Dia-lah yang menyuruh kita menjadi seorang pemenang.Pastilah Dia akan bertanggungjawab.Pastilah Dia akan memampukan kita.Tinggal kita yakin atau tidak? Iblis saja masih memiliki keyakinan.Hanya ketakwaan yang ia tidak miliki.Jangan sampai kita kalah dengan Iblis! 'Audzu billahi minasy syaithonirrojiim.

Sobat,Yakin akan keberadaan Allah SWT.Yakin akan pertolongan-Nya.Tahukah kita, manusia dilarang keras berputus asa akan rahmat-Nya? Tahukah kita, putus asa itu tak ubahnya seperti atheis kecil? Karena begitu putus asa, itu berarti kita tidak lagi mengakui keberadaan dan pertolongan-Nya.Lha,apakah itu bukan atheis namanya! Salam SuksesMulia!

Terima kasih untuk semuanya. Semoga keberkahan hidup senantiasa mengiringi kita semua dan di sisa-sisa usia yang diberikan Allah, saya mampu terus membuat tanda di alam semesta dan menjadi gardu Epos bagi kebangkitan dan kemajuan umat dengan tegaknya syariah dan khilafah. Semoga saat menghadap keharibaan-Nya nanti khusnul khatimah. Amin

(Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H , penulis buku Al quwwah ar ruhiyah Kekuatan Spirit Tanpa batas .www.fikrulmustanir.blogspot.com )

Wednesday, October 13, 2010

Bencana Alam : Akibat Maksiat dan Sistem yang Bathil


Bencana Alam: Akibat Maksiat dan Sistem yang Batil

Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Tanah Air akhir-akhir ini. Yang paling memprihatinkan adalah banjir bandang yang terjadi di Kota Wasior, Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat. ‘Banjir Wasior’ benar-benar menyisakan duka dan derita yang mendalam. Betapa tidak. Dari data terakhir Kemenkokesra, tercatat sebanyak 145 orang meninggal, 185 luka berat, 535 luka ringan dan 103 orang masih dicari. Adapun sebaran pengungsi berjumlah 1.859 orang di Manokwari dan 135 orang di Kabupaten Nabire (Republika.com, 11/10/10).

Teluk Wondama merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari. Wilayah ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut dan darat. Pusat kabupaten ada di Wasior. Luas wilayah administratif kabupaten ini adalah 12.146,62 km2. Jumlah penduduknya sekitar 20.518 jiwa. Di wilayah ini terdapat kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi dan kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih yang membentang dari Timur Semenanjung Kwatisore sampai bagian Utara Pulau Rumberpon. Namun, di wilayah ini juga ada konsensi (penguasaan) atas hutan oleh PT Wapoga MutiaraTimber dan PT Dharma Mukti Persada.

Banjir: Bencana Rutin

Bencana banjir kini seolah menjadi pemandangan rutin dan biasa di negeri ini. Belakangan banjir bahkan makin meningkat baik frekuensi maupun cakupannya. Hampir semua bencana banjir di negeri ini terjadi akibat air sungai yang meluap saat musim hujan. Menurut Bappenas, di Jakarta saja kerugian akibat satu kali banjir pada tahun 2007 adalah sekitar Rp 8 triliun. Belakangan, di Kabupaten Bojonegoro, banjir bandang pada lima bulan terakhir di tahun 2010 sudah terjadi lebih dari 17 kali. Sebagian besar banjir adalah karena hujan deras yang airnya tidak bisa ditampung di 23 anak sungai Bengawan Solo akibat kerusakan hutan di bagian hulu DAS. Demikian pula banjir yang diikuti longsor yang terjadi NTT (Kompas, 6/7/10).

Menurut Ketua Hijau Indonesia Chalid Muhammad, enam bulan terakhir sudah terjadi 9 kali bencana banjir besar yang disebabkan perubahan fungsi hutan menjadi kawasan industri baik sawit, kayu maupun pertambangan. Banjir bandang Wosior adalah yang terparah karena memakan korban jiwa yang sangat besar. (Walhi.or.id).

Akibat Hutan Dibabat Habis

Menurut Presiden SBY, penyebab banjir di Wasior bukan pembalakan hutan liar, tetapi pengaruh alam; curah hujan tinggi sekali dan perubahan cuaca yang sangat terasa. Menteri Kehutanan juga menepis tudingan pembalakan liar di balik bencana di Wasior (Okezone.com, 10/10/10).

Namun, menurut Direktur Eksekutif Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Berry Nahdian Furqan, banjir di Wasior karena kerusakan lingkungan. Menurut dia, bencana itu karena faktor alam yang rentan akibat eksploitasi oleh manusia dengan intensitas sangat tinggi. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi, banjir bandang tak bisa dihindari (Metrotvnews.com, 9/10/10).

Walhi menduga dua perusahaan, yakni PT Wapoga Mutiara Timber dan PT Dharma Mukti Persada, adalah pihak yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Walhi juga menduga telah terjadi perambahan hutan di kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi. Selain itu, illegal loging (pembalakang hutan secara liar) juga dilakukan para cukong kayu yang memanfaatkan program Kopermas.

Sekretaris Eksekutif Foker LSM Papua di Jayapura, Septer Manufandu, juga menyatakan bahwa banjir bandang di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, terjadi akibat kerusakan lingkungan. Hutan di wilayah itu telah dibabat habis. Akibatnya, saat hujan datang, tanah tak bisa menyerap air dan menimbulkan bencana. Di belakang Kota Wasior itu ada sebuah telaga. Telaga itu hancur dan menciptakan banjir. Jika saja ada hutan di sekitar itu, air mungkin bisa saja diserap ke dalam tanah (Tabloidjubi.com, 11/11/10).

Merujuk pada kompilasi data dari berbagai sumber yang dilakukan Institut Hijau Indonesia dan Yayasan Yappika di awal tahun 2010, Papua Barat rentan mengalami bencana ekologis. Hal itu karena luas hutan primer Papua Barat 5.154.068 hektar dan hutan sekunder seluas 1.465.655 hektar mengalami ancaman alih fungsi yang sangat besar. Tahun 2005-2009 analisis citra satelit menunjukkan telah terjadi deforestasi (penyusutan areal hutan) seluas 1.017.841,66 hektar atau berkisar 254.460,41 hektar pertahun; menyumbang 25% dari penyusutan luas hutan nasional.

Ancaman bencana ekologis di Papua Barat terutama disumbang oleh sektor industri ekstraktif termasuk Hak Penguasaan Hutan (HPH), Pertambangan Mineral dan Batubara, serta Pertambangan Minyak dan Gas. Saat ini Pemerintah Pusat telah memberikan izin eksploitasi bagi: 20 perusahaan HPH dengan total luas 3.568.080 hektar hutan di Papua Barat; 16 perusahaan tambang mineral dan batubara dengan total luas 2.701.283 hektar hutan; 13 perusahaan tambang minyak dan gas dengan total luas konsesi 7.164.417 hektar hutan. Sejumlah perusahaan perkebunan juga telah mendapat konsesi seluas 219.021 hektar di Papua Barat. Jika seluruh perusahaan yang mengantongi izin ini menyegerakan kegiatan eksploitasinya maka bencana demi bencana di Papua Barat akan terjadi silih-berganti. Korban jiwa dan harta benda pun akan semakin besar (Walhi.or.id).

Tak hanya di Papua Barat, pembabatan hutan baik secara legal maupun ilegal juga terjadi merata di seluruh area hutan di negeri ini. Hal itu telah berlangsung puluhan tahun. Sebagaimana diketahui, sebelum mengalami kerusakan parah, areal hutan Indonesia termasuk yang paling luas di dunia; sebagian besar adalah hutan hujan tropis yang kaya dengan aneka flora dan fauna. Menurut World Bank (1994), Indonesia memiliki kawasan hutan hujan tropis yang terbesar di Asia-Pasifik, yaitu lebih dari 115 juta hektar. Namun, hingga 2001 saja, hanya dalam kurun 50 tahun, hutan alam Indonesia mengalami penurunan luas sebesar 64 juta hektar (55%). Indonesia disebut-sebut sebagai negara dengan tingkat deforestasi (penyusutan areal hutan) tercepat di dunia, dengan tingkat kehilangan lahan hutan setara 300 kali lapangan sepak bola dalam setiap jamnya! Penyempitan luas hutan yang luar biasa ini terutama akibat penebangan oleh sejumlah perusahaan besar pemilik HPH (Kompas, 10/02/2001).

Eksploitasi hutan oleh pengusaha HPH ini telah mengakibatkan kerusakan hutan yang parah di Sumatera pada tahun 2005 saja. Di Kalimantan, jika tidak ada langkah pencegahan, diramalkan hutan di sana akan punah tidak sampai sepuluh tahun ke depan. Menurut data FAO, yang pernah mengusulkan untuk memasukkan Indonesia sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia pada catatan “Guinness World Records” (di antara 44 negara lainnya), sisa luas hutan di Indonesia tinggal 88,495 juta hektar dan tingkat kerusakan hutan 1,871 juta hektar atau sekitar 2% pertahun (periode 2000-2005) (Kompas, 5/5/2005).

Itu terjadi selama masa Orde Baru. Ironisnya, sejak bergulirnya era Reformasi dan diterapkannya kebijakan otonomi daerah, laju kerusakan sumberdaya hutan dan lahan justru meningkat; diperkirakan mencapai 2,2 hingga 3,2 juta ha/tahun. Kerusakan hutan yang paling parah terjadi di Pulau Jawa, selain banyak terjadi di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Padahal di Pulau Jawa saja, rehabilitasi hutan yang rusak memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun (Garut.go.id, 20/12/2005).

Akibatnya mudah diduga. Dengan semakin berkurangnya tutupan hutan Indonesia, sebagian besar kawasan Indonesia telah menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana, baik bencana kekeringan, banjir maupun tanah longsor. Dari 1998-2003 saja tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia; 80%-nya berupa banjir dan longsor yang diakibatkan oleh kerusakan hutan (Jawa Pos, 4/5/2007).

Karena Kemaksiatan dan Sistem yang Batil

Terkait bencana banjir dan yang serupa, di dalam al-Quran Allah SWT tegas menyatakan bahwa berbagai kerusakan di daratan dan di lautan lebih banyak disebabkan karena kemaksiatan manusia:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾

Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan karena ulah (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Rum [30]: 41).

Kemaksiatan terbesar tentu saja saat hukum-hukum Allah SWT dicampakkan manusia, tidak diterapkan dalam kehidupan. Saat manusia berpaling dari syariah-Nya, maka kesempitan hiduplah yang bakal mereka rasakan, di antaranya ditimpa berbagai bencana yang menimpa mereka (Lihat: QS Thaha [20]: 124).

Solusi Islam

Pertama: terkait korban Banjir Wasior, Pemerintah serta semua elemen masyarakat harus segera memberikan bantuan. Kedua: Pemerintah segera mengoreksi kebijakan pengelolaan alam di Papua Barat dan di Indonesia secara keseluruhan yang lebih berkeadilan dan ramah sosial dan ramah lingkungan hidup. Ketiga: Pemerintah segera mencabut perizinan-perizinan yang telah diberikan yang berpotensi meningkatkan bencana ekologis dan konflik dengan penduduk lokal. Keempat: Pemerintah segera merumuskan model pembangunan di Papua yang lebih berpihak pada kepentingan mayoritas rakyat secara merata, termasuk masyarakat penduduk lokal yang selama ini diabaikan.

Lebih dari itu, harus selalu disadari, ketakwaan adalah sumber keberkahan. Sebaliknya, kemaksiatan adalah sumber bencana; baik kemaksiatan dalam bentuk pengrusakan lingkungan (pembalakan hutan secara liar, dsb), atau kemaksiatan yang lebih besar lagi, yakni pengabaian syariah Islam. Semua kemaksiatan itu akan menjadi faktor penyebab berbagai bencana yang menimpa umat secara keseluruhan, tidak hanya menimpa para pelaku kemaksiatan saja (QS al-Anfal [8]: 25).

Maka dari itu, berbagai bencana yang datang silih berganti sejatinya mendorong para penguasa dan rakyat negeri ini untuk segera mencampakkan berbagai kemaksiatan mereka kepada Allah SWT, lalu bersegera menerapkan syariah-Nya secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Itulah bukti sejati ketakwaan mereka dan itulah jalan keberkahan hidup mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS al-A’raf [7]: 96).


Secara praktis, untuk mewujudkan semua itu, hendaknya penguasa negeri ini segera menata pemerintahan secara islami, yakni dengan sistem Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. []

KOMENTAR AL-ISLAM:

Penduduk 25 Negara Kelaparan (Kompas, 12/10/2010).

Itulah hasil nyata saat dunia dikuasai Kapitalisme global.




Dibutuhkan Keberanian Politik !

Manusia mengakui sifat penakut termasuk pengecut dan dianggap sebagai sifat yang tidaklah melekat pada seorang manusia kecuali akan menciptakan dalam dirinya kehinaan dan kerendahan. Manusia sepanjang sejarah –dan masih saja hingga sekarang- sangat menghormati orang pemberani dan memberikan contoh keberanian. Rasulullah saw berlindung dari sifat pengecut sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam Shahihnya dan oleh imam Ahmad di dalam Musnadnya. Hisyam ibn Abi Abdillah menceritakan dari Qatadah dari Anas ibn Malik bahwa Nabi saw berkata di dalam doa Beliau:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالجُبْن وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ»
Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kelemahan, kemalasan, sifat penakut, sifat bakhil, dari kepikunan dan azab kubur, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah selama hidup dan fitnah kematian
Kadang kala sikap pengecut itu terjadi dihadapan musuh yang brutal atau di depan penguasa zalim, atau di depan masyarakat yang rusak atau di depan manusia yang sombong dan takabur. Kaum muslim memberikan –dan masih terus memberikan- contoh paling baik dalam hal keberanian dan sikap tak gentar dalam memerangi musuh. Jika musuh menyerang satu negeri kaum muslim, penduduk negeri itu dan kaum muslim lainnya keluar untuk membela dan mengusir serangan. Banyak contoh dalam hal itu seperti Irak, Palestina, Chechnya dan lainnya.
Kaum muslim juga memberikan contoh paling baik dalam hal keberanian dan sikap tak gentar di dalam perang di jalan Allah dan menyebarkan risalahNya hingga pasukan Islam di hadapan musuhnya menjadi pasukan yang tak terkalahkan. Rasulullah saw dan para sahabat Beliau sebelumnya telah memberikan contoh terbaik dalam hal keberanian dan tidak pengecut dalam mengemban dakwah Islamiyah kepada penduduk Mekah dan lainnya. Mereka bersabar dan menanggung semua bentuk siksaan. Tekad mereka tidak luntur hingga Allah menolong mereka dengan tegaknya daulah Islamiyah di Madinah.
Islam datang dan mendorong kaum muslim atas keberanian politik. Yaitu keberanian dalam memelihara urusan-urusan masyarakat dan mengoreksi orang yang lalai dalam melakukan ri’ayah itu. Politik (siyasah) secara bahasa artinya adalah ri’ayah (pemeliharaan). Islam datang dan menegaskan makna itu. Rasulullah saw bersabda:
«كَانَتْ ‏بَنُو إِسْرَائِيلَ ‏تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ»
Dahulu Bani Israel dipelihara urusan mereka oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, tetapi akan ada para khalifah yang banyak (Shahih Muslim)
Artinya dahulu mereka dipelihara. Rasulullah saw juga bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
Setiap kalian adalah pemelihara dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya (Shahih Bukhari)
Allah telah mewajibkan umat Islam untuk mengoreksi penguasanya, meluruskan kebengkokannya, memonitor aktifitas-aktifitas dan tindakan-tindakannya, dan menaatinya pada selain kemaksiyatan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali ‘Imran [3]: 110)
Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw lalu berkata: jihad apakah yang lebih utama?” Nabi menjawab:
كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ إِمَامٍ‏ جَائِرٍ
Kalimat yang haq di depan imam (pemimpin) yang jahat
Para sahabat memahami hukum itu yakni tak gentar dalam mengoreksi penguasa dan tidak bersikap pengecut di hadapannya. Para tabiun dan tabiut tabi’in mengikuti para sahabat dalam hal itu. Mereka memberikan contoh paling baik dalam hal itu. Kaum muslim mengoreksi Umar ibn al-Khaththab ra dalam masalah kain Yaman dan dalam hal penentuan mahar. Para sahabat mengoreksi Mu’awiyah.
Para tabi’un mengoreksi penguasa dan para wali mereka. Banyak kisah masyhur tentang Sa’id ibn Jubair bersama al-Hajaj, dan Sa’id ibn al-Musayyab dengan Abdul Malik ibn Marwan. Daalm hal itu para fukaha kaum muslim mengikuti para tabi’un seperti Ahmad ibn Hanbal, Abu Hanifah, Malik dan banyak lagi yang lain diantara ulama umat ini. Mereka tidak menerima dari penguasa adanya kelalaian dan kezaliman walau hanya dalam satu hukum padahal negara dan sistem di dalamnya berjalan sesuai hukum-hukum Islam.
Umat terus dalam keberanian politiknya antara maju atau berhenti sesuai dengan kekuatan pemahaman umat terhadap Islam. Umat telah membayar harga mahal pada zaman ini ketika bersikap pengecut dari mengoreksi para khalifah akhir dari Utsmaniyun dan ketika itu umat tidak melakukan apa yang diwajibkan oleh Allah atas mereka dengan menindak Kamal Ataturk kafir untuk mempertahankan hukum Allah agar tetap diterapkan.
Tragedi besar terjadi ketika Kamal Ataturk mengumumkan runtuhnya daulah Khilafah dan mengusir Khalifah ke luar negeri secara hina dan rendah. Dengan hilangnya khilafah dan ibu penyayang, maka sikap pengecut menyebar di tengah umat –kecuali orang yang dirahmati Allah- dan lenyaplah keberanian politik. Umat tidak lagi peduli untuk mengoreksi penguasa atau pemimpin, padahal umat sanggup memerangi penjajah dan pendudukan dan terbukti bahwa umat memiliki potensi vital dan keberanian luar biasa.
Umat pada zaman ini ditimpa bencana adanya ulama yang hati mereka dikuasai oleh rasa takut, mereka menafikan keberanian, mencintai kehinaan. Mereka tidak membiarkan umat untuk melakukan muhasabah al-hukam dan sebaliknya juga tidak memimpin umat dalam hal itu. Bahkan ketika individu atau partai mengoreksi penguasa maka mereka, para ulama itu, berdiri menghadang individu atau partai itu dan menikamnya dengan perkataan mereka atas wajibnya mentaati penguasa dan bersabar atas siksaaannya, serta tidak mencelakakan diri sendiri ke dalam kebinasaan. Dan mereka setelah itu memperbanyak pujian, sanjungan dan doa untuk penguasa itu. Akhirnya umat berada diantara dua himpitan: penguasa dan para begundalnya diantara aparat keamanan dan ulama serta fatwa-fatwa mereka.
Para penguasa dalam hal itu, mereka menopang tuan-tuan barat mereka dengan bekerja menyebarkan kepengecutan politik di tengah kaum muslim dan menghalangi kaum muslim dari keberanian politik hingga mereka bisa menjamin kelangsungan status quo dan supaya kaum muslim tidak bisa mengembalikan posisi mereka di tengah umat-umat dan mengemban kebaikan kepada seluruh manusia. Para penguasa itu melakukan pembunuhan, penyiksaan, pemenjaraan dan pengasingan terhadap setiap orang yang mengoreksi mereka dan menjelaskan kebenaran kepada mereka. Kaum Ba’ats di Irak membunuh banyak orang dari kaum muslim dan yang paling menonjol adalah syaikh Abdul Aziz al-Badri.
Si muka masam penjahat Libiya membunuh 13 orang muslim di depan kerumunan para murid dan pengajar padahal dosa mereka tidak lain karena mereka menjelaskan dan mendebatnya bahwa as-sunah an-nabawiyah –yang dihapuskan oleh al-Qadafi- merupakan bagian dari sumber yurisprudensi sebagaimana al-Quran al-Karim. Apa yang dilakukan oleh para perwira Mesir tanah Kinanah yang membunuh puluhan orang terutama Sayid Quthub.
Dan apa yang dilakukan oleh setiap rezim berupa pembantaian dan terorisme yang menghancurkan badan dan tidak cukup tempat untuk menyebutkannya. Mereka meneror masyarakat dan menyebarkan kengerian dan ketakutan seperti bahwa penguasa mengetahui segala hal. Mereka memiskinkan masyarakat dan merampas kekayaan negeri seakan masyarakat adalah budak mereka dan negara merupakan ladang bagi mereka dan anak keturunan mereka.
Mereka tidak peduli dengan orang fakir, miskin, tuna wisma atau anak-anak kecil. Yang penting bagi mereka adalah ambisi mereka dan terealisasinya keinginan-keinginan mereka. Mereka menegaskan pepatah “saya dan setelah saya adalah topan”. Mereka menyebarkan contoh dan perkataan yang asing di tengah umat, seperti “tangan tidak bisa menghancurkan bor” dan “letakkan kepalamu diantara kepala-kepala”. Semua itu tidak lain untuk membuat umat menerima dan pasrah pada realita.
Para penguasa itu mempekerjakan “ulama“ yang perhatian tertingginya adalah menjinakkan dan menundukkan umat serta membungkukkannya kepada penguasa itu. Di negeri Nejad dan Hijaz misalnya, penggunaan pekerja dan pelayan kafir adalah tidak boleh, tetapi lain pagi lain pula sore, dan jadilah penggunaan pasukan asing menjadi wajib dan boleh! Dan Anda temukan di Uzbekistan “ulama” yang berdiri membela Karimov penguasa negeri yang memerintah dengan kekufuran, memenjarakan dan membunuh ribuan kaum muslim secara terang-terangan. Dan Anda dapati di Mesir dan Yordania “ulama” yang menobatkan diri mereka untuk memberikan justifikasi perjanjian-perjanjian khianat dan melindungi entitas Yahudi dan membuat kaum muslim kelaparan di Gaza. Anda dapati di negeri Syam orang yang berdiri dan memuji rezim yang hina dan tercela pembunuh puluhan ribu kaum muslim.
Kaum muslim di Barat pun tidak selamat dari kepengecutan politik. Mereka tidak menghiasi diri dengan keberanian politik. Padahal asumsinya adalah mereka hidup di bawah sistem demokrasi yang selalu mendendangkan kebebasan dan kelapangan dada terhadap koreksi. Negara-negara barat ingin agar kaum muslim melebur di dalam masyarakat dan kaum muslim menjadi warga Eropa atau Amerika yang beragama Islam sebagaimana kondisi warga Amerika Kristen atau Yahudi atau lainnya. Artinya kaum muslim menjadi orang-orang yang melaksanakan ibadah akan tetapi hukum dan ide mereka tentang sesuatu dan perbuatan tidak disandarkan kepada Islam. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu menjadi tegak diatas kepentingan atau manfaat persis seperti kondisi kaum kapitalis.
Berdiri banyak yayasan dan organisasi yang bekerja diatas asas peleburan. Bukannya menjaga kaum muslim dan membela hak-hak mereka semuanya serta menjelaskan tatacara hidup di negeri barat, menjaga identitas Islamiyah dan berpegang teguh terhadap hukum-hukum Islam, pada saat yang sama, mereka justru bersikap pengecut, takut dan menjauhkan diri dari sikap keberanian dan tak gentar.
Bencana besar pasca tragedi 11/9, kaum muslim menjadi dianggap bersalah hingga terbukti tak bersalah. Negara-negara barat mulai membangkitkan rasa takut dan negeri, menampakkan kaum muslim bahwa mereka berbahaya dan diantara mereka adalah penjahat dan pembunuh. Itu memudahkan rezim-rezim berkuasa di barat menjerumuskan kaum muslim ke arah asosiasi dan peleburan di dalam masyarakat barat. Orang yang tidak memiliki keberanian, keluar kepada masyarakat dengan fatwa-fatwa semisal bekerja dengan intelijen dan masuk ke militer dan bekerjasama di dalam pemilu dan lainnya dan menganggap hal itu sebagai “kewajiban syar’i”. Lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi -di Amerika- bersikap pengecut menyerukan kepada warga Amerika muslim untuk tidak menyebutkan sesuatu yang diderita kaum muslim di Irak, Chechnya, atau Somalia.
Mereka tidak berani menyebut pembantaian yang terjadi atas kaum muslim di Irak misalnya, seperti peristiwa pembunuhan di Baghdad tahun 2007 yang dibocorkan oleh situs wikileaks. Padahal orang Amerika sendiri menolak hal itu dan mencelanya. Diantara hal aneh yang menyedihkan, sikap pengecut itu sampai pada diri pengacara penanggungjawab di “universitas Islam” yang membela salah seorang penyebar gambar kartun yang menodai Rasul saw. Organisasi-organisasi itu tidak membela kaum muslim yang dituduh oleh negara Amerika dengan tuduhan terorisme kecuali dalam kondisi khusus.
Organisasi-organisasi itu tidak mengoreksi presiden Amerika –yang mereka pilih- dalam banyak masalah yang penting bagi kaum muslim seperti Palestina, janji-janjinya untuk menarik militer dari Irak, keputusannya mengirimkan tambahan kekuatan ke Afganistan, perubahan perlakuan terhadap kaum muslim, atau merubah opini publik terhadap mereka.
Kepengecutan politik adalah penyakit kanker yang jika tersebar di tengah umat akan menyebabkan umat diam untuk menuntut hak-haknya dan menjatuhkan umat ke tempat paling rendah di antara umat. Rasulullah saw memperingatkan di dalam hadits masyhur dari sikap diam dan muhasabah. Beliau saw bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْكُمْ قَوْمًا ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»
Demi Dzat yang jiwaku ada di genggaman tangan-Nya, sungguh kalian memerintahkan yang makruf dan sungguh kalian melarang dari yang mungkar atau Allah akan membangkitkan suatu kaum kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak menjawab permintaan kalian (Musnad Ahmad)
Musibah mana lagi dan kondisi manalagi yang lebih buruk dari musibah dan kondisi umat saat ini?! Sungguh telah tiba waktunya bagi umat menghentikan kepengecutan. Telah tiba waktunya umat mencampakkan pakaian kehinaan dan kerendahan, lalu mengenakan pakaian keberanian dan sikap tak gentar kemudian membela hak-haknya dan menjelaskan tuntutan-tuntutannya tanpa rasa gentar atau taqiyah.
14 Syawal 1431 H
23 September 2010 M
( Spiritual Motivator - N.Faqih Syarif H, S.Sos.I,M.Si, Penulis Buku Al Quwwah ar ruhiyah Kekuatan Spirit Tanpa Batas! www.fikrulmustanir.blogspot.com )

Saturday, October 9, 2010

Kepastian Kembalinya Khilafah



Kepastian Kembalinya Khilafah

Tepat 28 Rajab 1431 H , kita telah memperingati 86 tahun momentum yang paling menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu runtuhnya Khilafah. Tanggal 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924, Kemal Attaturk (seorang agen Inggris), secara resmi membubarkan Kekhilafahan Turki Utsmani. Malam harinya, tengah malam, Khalifah Islam terakhir, Sultan Abdul Majid, diusir!
Empat bulan kemudian, 24 Juli 1924, Perjanjian Laussane ditandatangani. Di antara isinya, Inggris mengakui kemerdekaan Turki sekaligus menarik pasukannya dari Turki. Merespon sikap Inggris ini, seorang perwira Inggris saat itu memprotes Menteri Luar Negeri Inggris, Curzon. Dengan enteng Curzon menjawab, “Yang penting, Turki telah kita hancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritualnya, yaitu Khilafah dan Islam!” (Zallum, 2001: 184).
Curzon benar. Setelah sekitar 84 tahun menjadi republik, menerapkan hukum-hukum Barat sekular, dan membuang hukum-hukum Islam, Turki memang tidak pernah bangkit; kemakmuran tidak pernah terwujud; dan cita-cita untuk menjadi negara modern seperti Eropa tidak pernah terbukti. Turki bahkan nyaris bangkrut. Pada tahun 1994, 1 US$ dihargai 10.000 Turkish Lira (uang Turki). Pada tahun 2004, 1 US$ setara 1.500.000 Turkish Lira. Turki telah lama mengalami mega inflasi (di atas 100% pertahun). Di Turki ongkos naik bis kota pernah mencapai sejuta! (Fahmi Amhar, 2004).
Bandingkan kondisi Turki saat masih dalam wadah Khilafah dan menerapkan syariah. Tentang Kekhilafahan Turki Utsmani, Paul Kennedy, seorang pemikir Barat, menulis, “Imperium Utsmani lebih dari sekadar mesin militer; ia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dibandingkan dengan yang pernah dimiliki oleh Imperium Romawi…” (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000).
Kehebatan dan keagungan Khilafah Islam bukan hanya pada masa Turki Utsmani, tetapi juga pada masa-masa Kekhilafahan sebelumnya, baik Abbasiyah, Umayah dan tentu saja masa Khulafaur Rasyidin. Tentang ini, Paul Kennedy, kembali menulis, ”Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, Dunia Islam telah jauh melampaui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, rakyatnya terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim selalu berada di depan.” (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000),
Kepastian Kembalinya Khilafah
Meski sedemikian fakta sejarah membuktikan, dan pengakuan pun datang bukan hanya dari pakar Islam, tetapi juga pakar non-Muslim, tetap saja ada pihak yang meragukan kembalinya Khilafah. Bahkan ada yang menganggap kembalinya Khilafah itu mustahil, dan orang yang hendak menegakkannya kembali itu bagaikan tengah berfantasi.
Berkaitan dengan soal di atas, perlu kami tegaskan di sini, bahwa orang yang mengatakan bahwa Khilafah tidak akan bisa tegak itulah yang justru tengah berfantasi. Dengan izin Allah, Khilafah akan tegak kembali. Keyakinan ini ditopang oleh empat perkara:
Pertama, jaminan dari Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih untuk memberikan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang pernah diberikan kepada para pendahulu mereka.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).
Kedua, kabar gembira dari Rasulullah saw. berupa akan kembalinya Khilafah Rasyidah ala Minhaji Nubuwwah(berdasarkan metode kenabian), setelah fase penguasa diktator pada zaman kita ini., Nabi saw. Bersabda, sebagaimana dituturkan Hudzaifah al-Yaman:
« تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ ».
“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam.(HR Ahmad).
Ketiga, umat Islam yang hidup dan dinamis tentu akan menyambut perjuangan bagi tegaknya Khilafah dan siap mendukung perjuangan ini hingga Allah mewujudkan janji-Nya. Setelah itu, mereka akan bahu-membahu merapatkan barisan untuk menjaga Khilafah. Sesungguhnya umat ini diturunkan sebagai umat terbaik (khayra ummah), yang akan selalu bergerak untuk mewudukan predikat itu. Allah SWT berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ
Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian harus menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran serta tetap mengimani Allah. (QS Ali ‘Imran [3]: 110).
Keempat, adanya partai (hizb) yang ikhlas, yang terus bekerja dengan sungguh-sungguh siang dan malam bagi tegaknya Khilafah semata karena hingga janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw. itu benar-benar terwujud. Partai itu, sikapnya lurus, tidak pernah takut terhadap cacian orang yang mencaci, tuntutannya tidak pernah melunak serta tekadnya tidak pernah melemah sampai cita-citanya tercapai. Seolah-olah ini membenarkan sabda Nabi saw., sebagaimana dikeluarkan Muslim dan Tsauban:
« لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ…»
Akan selalu ada satu kelompok dari umatku, yang selalu memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan bisa dinistakan oleh siapa pun yang menistakan mereka, hingga urusan Allah ini menang, dan mereka pun tetap seperti itu.
Sesungguhnya berdasarkan satu faktor di atas saja cukup untuk menyatakan bahwa perjuangan demi tegaknya Khilafah bukanlah fantasi. Lalu bagaimana jika keempat fakta tersebut menyatu?
Tegaknya Khilafah adalah Cita-cita dan Perjuangan Umat Islam
Dalil-dalil yang membuktikan kewajiban untuk menegakkan kembali Khilafah sangat banyak, baik al-Quran, as-Sunnah maupun Ijmak Sahabat. Itu sudah sering dan berulang kami kemukakan dalam berbagai kesempatan. Karena itu, kami tidak perlu mengemukakannya kembali. Apalagi masalah ini merupakan perkara ma’lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah (urusan agama yang sudah diyakini urgensitasnya).
Karena itulah, lihatlah sejarah dengan jujur, sejak Baginda Rasulullah saw. wafat, umat Islam berturut-turut mengangkat para khalifah; mulai dari Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib); Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah. Selama berabad-abad umat Islam tidak pernah putus di tengah jalan untuk terus mempertahankan Khilafah. Mereka tidak pernah menunda pengangkatan khalifah baru jika khalifah sebelumnya wafat. Konsistensi sikap umat Islam ini tidak lepas dari kesadaran mereka akan wajib dan urgennya Khilafah bagi umat Islam. Ini sekaligus membuktikan kebenaran sabda Rasulullah saw.:
«وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ »
Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku; yang akan ada adalah para khalifah dan mereka berjumlah banyak.(HR al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).
Alhamdulillah, kini umat Islam pun paham, bahwa Khilafah telah menjadi satu-satunya tuntutan mereka. Umat pun telah merindukannya. Ditambah lagi dengan fakta dan peristiwa yang terjadi akibat ulah negara-negara kafir penjajah—baik di Irak, Afganistan maupun Palestina—seperti kezaliman, pembunuhan, perampokan kekayaan alam dan upaya memperbudak rakyatnya untuk memuaskan nafsu penjajahan mereka. Semuanya itu terekam dengan baik dalam benak umat, dan mereka sadar, bahwa umat ini membutuhkan kekuatan. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan Khilafah. Dengannya umat Islam di seluruh dunia ini akan bersatu padu sebagai satu umat.
Mereka juga sadar, bahwa umat Islam ini adalah satu; akidah mereka satu; agama mereka satu; al-Quran mereka satu; kiblat mereka satu; syariah mereka satu; dan kepemimpinan mereka pun—sebagaimana yang dituntut Allah dan Rasul-Nya—harusnya satu. Itulah Khilafah Islam. Kesadaran itu kini bagaikan bola salju yang terus menggelinding. Karena itu, kembalinya Khilafah tinggal soal waktu. Semuanya ada di tangan Allah. Karena itu, hanya dengan izin dan pertolongan Allah, Khilafah pasti akan tegak kembali! Wallahu a’lam.

( Spiritual Motivator - N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si, Penulis Buku Al Quwwah ar ruhiyah Kekuatan Spirit Tanpa Batas www.fikrulmustanir.blogspot.com. email mumtaz.oke@gmail.com (

Thursday, October 7, 2010

Global War On Terrorist Menghalalkan segala Cara




Global War On Terrorist Menghalalkan Segala Cara

Global War On Terrorist (GWOT) merupakan perang ala Amerika dengan karakter menghalalkan segala cara yang penuh dengan konspirasi , tipu daya dan tidak mengenal keadilan dan kemanusiaan.

Ihwal terorisme kembali menghangat,setelah penembakan dan penangkapan yang diduga pelaku perampokan di Medan. Pelakunya pun dikaitkan dengan teroris. Ditambah lagi serangan terhadap yang diduga lagi teroris terhadap Mapolsek Hamparan Perak Sumatera Utara. Bagaimana seharusnya kita mensikap hal ini ?
Adalah sangat penting memahami bahwa perang melawan terorisme tidak bisa dilepaskan dari perang global Amerika pasca perang dingin (cold war) yang disebut Global War on Terrorist (GWOT). GWOT ini kemudian digunakan untuk kepentingan politik luar negeri Amerika.

Pertama, untuk legitimasi intervensi. Dengan alasan ini AS menduduki Irak, Afghanistan, Pakistan. Termasuk campur tangan dalam urusan Sudan, Yaman, dan Thailand (Pattani), dan Filipina Selatan (Moro). Termasuk melakukan kerjasama-kerjasama yang mendikte negara lain dengan alasan memerangi terorisme.
AS kemudian membagi dunia menjadi dunia : pengikut Amerika atau pengikut teroris. Politik stick and Carrot pun dilakukan. Yang mendukung Amerika akan diberikan penghargaan sebagai kelompok atau negara moderat, cinta perdamaian, terbuka. Sementara yang menentang kebijakan Amerika akan dicap teroris, garis keras, pengacau perdamain dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Kedua, GWOT juga digunakan untuk penyesatan politik (tadhdhlil as siyasi), dalam politik penjajahan Amerika untuk menutupi kekejaman dan kebrutalan politik luar negeri Amerika . Setelah membangun monsterisasi terhadap isu terorisme, Amerika membangun anggapan bahwa perdamain dunia saat ini dalam ancaman besar terorisme. Dengan cara itu AS berupaya menutupi kerakusan dan kebuasan penjajahannya di negara-negara dunia lain. Menutupi kejahatan mereka dalam pembantaian rakyat sipil di Irak, Afghanistan, dan Yaman.

Termasuk membenarkan tindakan kejinya untuk menangkap tanpa bukti, menyiksa, dan membunuh siapapun yang dituduh oleh Amerika Serikat sebagai teroris. AS tinggal menuduh seseorang , kelompok atau negara sebagai al Qaida atau pendukung al Qaida, maka perlakuan apapun boleh dilakukan terhadap mereka, dengan alasan mereka adalah teroris besar yang mengancam perdamaian dunia.

Ketiga, dibalik GWOT ini ada maksud yang lebih penting yakni war on idea, perang pemikiran. Terorisme kemudian dikaitkan dengan kewajiban-kewajiban mulia dan penting umat Islam seperti penegakan syariah Islam secara total , Khilafah, dan jihad. Stigma negative terhadap tiga hal ini sangat penting untuk menjaukannya dari umat Islam. Amerika Serikat sangat mengerti ketiga kewajiban penting dalam Islam ini akan membahayakan eksistensi ideology Kapitalisme di dunia.
Sebuah panel ahli keamanan nasional Amerika Serikat yang dipimpin pensiunan Angkatan Darat Letjen William G. Boykin,baru-baru ini mendesak pemerintah pemerintah Obama untuk meninggalkan sikapnya bahwa Islam tidak terkait dengan terorisme dan menyatakan bahwa muslim radikal menggunakan hukum Islam untuk menumbangkan Amerika Serikat. (The Washington Times ,14/09/2010)

Artikel yang berjudul Shariah a danger to U.S., security pros say, menjelaskan ada beberapa alasan penting kenapa Shariah Islam mengancam Amerika Serikat antara lain karena syariah Islam mengajarkan segala aspek kehidupan, mengkaitkannya dengan terorisme, dan sifat ideology Islam yang ingin mengembalikan Khilafah.

Tidaklah mengherankan kalau antek-antek dan kaki tangan imperialism Amerika selalu berupaya mengkaitkan syariah, khilafah, dan jihad dengan terorisme. Mereka berupaya mengaburkan bahwa jihad yang dilakukan oleh mujahidin di Afghanista, Irak, Palestina adalah kewajiban suci dari agama Islam upaya untuk mengusir penjajah asing Barat yang telah menduduki dan menjarah negeri mereka.

Mereka juga berusaha keras mengaburkan realita bahwa khilafah dan jihad bukanlah ancaman bagi umat manusia. Sebab Islam diturunkan oleh Allah SWT dengan system aqidah dan syariahnya sebagai rahmatan lil ‘alamin, kebaikan untuk seluruh manusia, baik muslim maupun non muslim. Yang benar adalah syariah Islam merupakan ancaman bagi supremasi penjajahan Amerika Serikat di dunia ini yang berbasis pada ideology kapitalisme. Sebab penerapan syariah dan Khilafah akan secara efektif menghentikan penjajahan Amerika dan secara praktis menggantikan ideology kapitalisme dunia yang terancam bangkrut.

Mereka juga menutup mata bahwa perjuangan syariah dan Khilafah dalam Islam bukanlah dengan cara angkat senjata tapi dengan dakwah untuk menyadarkan masyarakat dan mendapat dukungan dari ahlul quwwah(elit politik strategis). Mayoritas kelompok Islam seperti Hizbut Tahrir misalkan dengan tegas menyatakan metode perjuangan (thoriqoh) yang ditempuh adalah bukan dengan angkat senjata .
Terakhir, politik luar negeri Amerika memiliki karakter menghalalkan segala (The end justifies the means). Maka GWOT tidak mengenal kemanusiaan atau keadilan, mereka akan menempuh berbagai cara meskipun harus mengorbankan rakyat mereka sendiri seperti menghancurkan gedung WTC. Atau membunuh rakyat sipil yang tidak bersalah dengan menggunakan bom dan senjata kimia yang mematikan.

Mereka juga menghalalkan segala bentuk konspirasi dan tipu daya. Tidak heran kalau dalam praktiknya banyak kejanggalan dan kebohongan yang dilakukan . Hal yang sama dipraktikkan oleh penguasa negeri Islam termasuk Indonesia yang menjadi kaki tangan imperialisme untuk menjalankan GWOT ala Amerika ini. (Farid Wadjdi)

Sunday, October 3, 2010

Never Give Up! Laa Taiasu!




Never Give Up!
Laa Taiasu

Sobat, putus asa terjadi bila seseorang kehilangan pengharapan untuk mencapai tujuan atau goal tertentu.Dalam keadaan putus harapan ia merasa apa pun yang dilakukannya, tak akan mencapai hasil, tak akan membawa perbedaan apa pun.Ia merasa yakin, apa yang diinginkannya, dan diimpikannya tidak mungkin didapatkannya, sebab semua itu berada di luar jangkauannya, di luar kendalinya dan dirinya merupakan korban keadaan yang harus menanggung kegagalan demi kegagalan.

Jika kita merasakan karakteristik gejala-gejala seperti di atas, apa yang harus kita lakukan?
Pertama, Sadarilah bahwa kita sedang beroperasi pada ranah mental pecundang.
Kedua, sistem keyakinan tidak terbentuk dalam waktu semalam,tetapi dapat diubah dalam hitungan detik jika kita benar-benar memutuskan demikian,
Dan ketiga, tidak ada yang salah dengan diri kita.
Sebaliknya sobat, bila kita tidak cepat sadar,kita akan merasa semakin terpuruk atau merasa keadaan yang satu lebih buruk dibandingkan keadaan sebelumnya. Kesadaran dan keputusan untuk bangkit mengatasi keadaan seburuk apa pun dapat membalikkan keadaan 360 derajat. Seburuk apa pun keadaan yang kita hadapi, barangkali tidak seburuk yang dialami oleh Ramlan dan Sugeng, tetapi mereka tidak berputus asa. Semoga kisah mereka di bawah ini dapat memberi kita inspirasi.

Ketika gempa meluluhlantakkan kota Padang 30 september 2009,Ramlan seorang buruh bangunan sedang bekerja di lantai tujuh suatu gedung. Ia berusaha menyelamatkan diri, namun naas, tiang beton yang diperkirakan berbobot enam ton menimpa kaki kanannya.Saat itu keadaan kacau balau dan panik sekali, teriakan minta tolong Ramlan tidak terdengar oleh sesama pekerja bangunan yang juga sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Dalam pikiran Ramlan dia harus sesegera mungkin menyelamatkan diri padahal. Dia tidak bisa ke mana-mana karena kaki kanannya penuh darah dan remuk terjepit beton dan btidak bisa keluar dari jepitan atau tindihan beton seberat 6 ton. Setengah jam kemudia datang teman-temannya datang menolong sekalipun berenam mereka tidak cukup mampu untuk menggeser tiang beton itu seinci saja. Tetapi, jika dibiarkan berlama-lama Ramlan dapat kehabisan darah dan hal itu berakibat fatal terhadap nyawanya. Akhirnya, Ramlan meminta temannya untuk memotong saja kaki kanannya agar dirinya bisa keluar dari jepiotan beton. Tetapi, teman-temannya tidak cukup tega melakukan hal tersebut.
Ramlan berada dalam situasi dilematis, namun ia tidak kehilangan harapan untuk mempertahankan nyawanya. Ia membulatkan tekad, memutuskan untuk menggergaji kakinya sendiri. Sambil merintih dan menahan sakit yang tertanggungkan ia terus menggergaji, melihat hampir tak kuat lagi, barulah teman-temannya membantu. Setelah kaki kanannya terpotong dalam kondisi darah segar yang mengucur dan hampir pingsan, Ramlan dilarikan ke rumah sakit. Ramlan memang kehilangan kaki kanannya, tetapi berhasil mempertahankan nyawanya dan lebih-lebih harapannya untuk melanjutkan hidup walaupun harus menggunakan kaki palsu.
Dalam kisah yang lainnya,Pak Sugeng yang karena kecelakaan dia harus diamputasi salah satu kakinya. Tapi dia tidak menyerah dengan kebuntungan salah satu kakinya untuk tidak bisa berprestasi. Dia buat kaki palsu untuk dirinya sendiri sehingga dia bisa berjalan dan mengendarai sepeda motor untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Hebatnya Pak Sugeng mampu menginspirasi warga desanya untuk tidak mudah putus asa dan membantu orang lain yang mengalami nasib yang sama seperti dia.Maka menarik seorang presenter ternama Andy F Noya untuk menghadirkan Pak Sugeng pada acara Kick Andy. Sekarang ini Pak Sugeng bersama Kick Andy melakukan gerakan seribu kaki palsu untuk membantu saudara-saudara kita yang mengalami nasib yang sama seperti dia untuk bisa bangkit dan berkarya bagi sesama.
Keajaiban terjadi, dalam keadaan terjepit ketika seseorang masih memiliki harapan. Nah Bagaimana dengan kita yang berada dalam keadaan normal,jauh dari perjuangan hidup mati, haruskah kita berputus asa? Mencapai tujuan dan meraih impian hanya memerlukan keajaiban yang sangat kecil. Keajaiban itu pasti terjadi begitu kita menaruh harapan yang besar, percaya dan yakin, sangat mungkin mendapatkan apa yang kita inginkan. Lakukan sesuatu, dan kita akan mengubah situasi, mengendalikan hasil akhir sesuai keinginan kita. Ingatlah sobat, Allah tidak akan membebani kita di luar batas kemampuan kita. Dan ingatlah selalu kata-kata bijak, kita boleh kehilangan segala-galanya, tetapi jangan sampai kehilangan harapan kita.
Sekarang bagaimana caranya menumbuhkan dan menguatkan keyakinan dalam hati kita terhadap tujuan atau goal kita ? Ada salah satu tips yang dapat membantu kita menurut Robert Dilts pakar NLP Internasional beliau mengatakan semakin banyak alasan yang dapat kita temukan akan semakin mudah pula untuk menumbuhkan dan menguatkan keyakinan terhadap tujuan atau goal kita. Salah satu cara untuk menemukan alasan-alasan tersebut adalah dengan mengajukan pertanyaan yang dimulai dengan menggunakan kata tanya ” mengapa”, misalnya:
1. Apakah goal ini benar-benar penting? Mengapa begitu penting?
2. Mungkinkah mencapai goal ini? Mengapa mungkin?
3. Jalan atau cara apa yang harus dilalui supaya dapat mencapai goal ini atau sampai pada tujuan ini? Mengapa cara atau jalan ini yang harus ditempuh?
4. Apakah saya memiliki kompetensi untuk menmpuh cara atau jalan ini? mengapa saya kompeten?
5. Apakah saya pantas berhak dan pantas mendapatkan apa yang saya inginkan? Mengapa saya berhak dan pantas?
Inilah cara untuk mengaudit nilai diri dan motivasi kita. Kemudian lanjutkan dengan membuat pernyataan nilai pribadi sebagai spiritual komitmen yang kita tempel di tempat-tempat yang sering kita lihat. Setiap akan memulai melakukan suatu aktivitas di pagi hari di baca dengan penuh antusias dan gemuruhkan dalam hati kita. Setelah itu katakan pada dunia Saya Adalah Spesial! Saya Adalah juara! Saya Pasti Bisa! Jangan lupa juga berdoa minta kepada Allah kekuatan lahir dan bathin tetap istiqomah di jalan-Nya.
Never Give Up! Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, S.Sos.I,M.Si, Penulis buku Al-Quwwah ar ruhiyah Kekuatan Spirit Tanpa Batas. www.fikrulmustanir.blogspot.com email mumtaz.oke@gmail.com atau www.ziyadah.dinomarket.com )

Friday, October 1, 2010



Temukan Cara Paling Cepat dan Mudah Untuk Memulai Bisnis Online Dalam 45 Menit... dan Profit Hari Ini Juga!
Anda akan temukan...

Bagaimana memulai bisnis di internet dan hasilkan uang pada hari yang sama.

Bagaimana mencetak uang anda sendiri...

Bagaimana mendatangkan aliran uang tanpa henti, tanpa perlu kerja terus menerus.

Tanpa perlu bikin produk, website, programming, dan pengelolaan yang rumit!

Anda set sekali, lalu hasilkan berkali-kali.

Bukan MLM, money game atau skema cepat kaya lainnya.
Subscribe sekarang juga dan temukan bagaimana cara kerjanya, agar anda bisa mulai jalankan bisnis mantap di internet hari ini juga!

Silahkan klik http://asetvirtual.com/?aff=faqihsyarif

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co