Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Thursday, September 16, 2010

Tips Bagaimana Mengawali dan Mengakhiri dalam menulis?




Tips Bagaimana Mengawali dan mengakhiri dalam menulis?

” Menemukan sebuah paragraf yang ”manis” merupakan pintu masuk inspirasi berikutnya.Bila sebuah paragraf lahir, kalimat berikutnya tinggal menanti mengaliri keseluruhan. Namun , menemukan sebuah awal tulisan yang baik bukanlah perkara mudah, sama dengan sulitnya mengawali menulis.” (Redi Panuju)

Sobat, begitulah menurut pengalaman banyak orang, yang paling sulit dalam menulis adalah mengawalinya dan juga bagaimana mengakhirinya. Mengapa?
Pertama, keinginan yang menggebu untuk segera merespon suatu issue tapi tidak sebanding dengan bahan material yang tersedia.
Kedua, rasa ragu atau was-was yang menghantui hal ini disebabkan tidak yakin pada pendapat yang akan ditulis. Tidak yakin bisa bersumber karena ketidakvalidan data, takut pada resiko, dan akan menimbulkan kontra atau sanggahan. Ingat sobat bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna kata pepatah, tak ada gading yang tak retal. Show must go on! Ah gitu aja kok repot pinjam istilahnya Gus Dur.
Ketiga, takut tidak dimuat karena beberapa kali gagal dimuat. Memang pengalaman mendapat pemberitahuan artikel tidak dimuat sangat menyakitkan. Sudah susah memeras otak, tak tahunya hanya dikomentari oleh redaktur ’maaf kami belum dapat memuat tulisan saudara’. Jangan bingung sobat, posting aja di blog atau fb anda, yang penting menulislah untuk menginspirasi sesama dan jangan berhenti menulis. Jangan jadi orang prasejarah atau primitif! Maka menulislah sobat!
Keempat, hidup nikmat bergelimang fasilitas dan materi bisa juga membuat malas-malasan. Ketika orientasi aktualisasi ide dikalahkan dengan pragmatisme menyebabkan seseorang malas menulis. Apalagi bila ukurannya hanya honorarium, dapat dipastikan kegiatan menulis akan mengalami kebuntuan. Bayangkan sobat, hanya dengan menulis itulah kita menjadi tetap ada dan bukan manusia pra sejarah.
Kelima, degup jantung seorang penulis banyak dipicu oleh perburuan menjadikan yang terbaik dan tercepat.Sekarang issu meledak, besok adalah masa panen untuk tulisan opini, besoknya lagi sudah ganti issu yang lain. Berselancarlah di internet untuk mengakses semua rubrik opini media cetak dan kita akan dapati issu atau masalah yang hendak kita angkat belum ada yang menulis, jangan buang-buang waktu lagi. Langsunglah menulis! Bila diundur sehari saja, sangat mungkin masalah yang sama besoknya sudah muncul dan dibahas orang.
Keenam, rutinitas membuat seseorang jenuh. Kejenuhan bisa muncul karena semangat yang menggebu tanpa henti. Hal itu, ketika mencapai titik jenuh, membuat seseorang malas. Oleh karenanya, variasi untuk mengubah suasana sangat diperlukan.

Sobat, sebagamana sulitnya mengawali sebuah tulisan, mengakhiri juga tak kalah sulit, sebab sama dengan ketika kita marah, maka sulit untuk menghentikannya. Bila inspirasi sudah terlanjur mengalir seakan ada saja yang menyusul. Satu sudah diselesaikan, satu lagi antri di belakangnya. Jika tak punya teknik menagkhiri, sebuah tulisan bisa ngelantur ke mana-mana. Karena itu, sebuah peta pikiran atau outline sangat membantu untuk mencegahnya. Sebuah tulisan sulit diakhiri disebabkan ambisi untuk menerangkan sesuatu dalam scope yang luas. Atau sulit mengakhiri tulisan karena fokus yang sejak awal tidak jelas, mungkin idenya masih prematur, belum sempat diendapkan karena itu keberanian untuk memecah satu masalah dalam beberapa tulisan dan keberanian membatasi analisis, merupakan resep yang paling jitu untuk menyelesaikan sebuah tulisan.

Sobat, berikut beberapa tips mengawali dan mengakhri sebuah tulisan yang diambil dari beberapa media :
1. Teknik Deduksi tanpa penutup. Teknik deduksi adalah cara menempatkan kalimat yang bersifat umum di awal penulisan bisa berupa generalisasi atau kesimpulan, teori atau proposisi. Tanpa penutup artinya tanpa paragraf penutup mungkin karena terlalu panjang kemudian dipotong oleh redaktur.
2. Teknik Induksi dengan penutup advis. Teknik mengawali tulisan dengan mengungkapkan sebuah fakta atau peristiwa penting yang menjadi perbincangan publik atau mengawali dengan hal-hal yang detail kemudian mencapai suatu kesimpulan tertentu. Penutup dengan sebuah nasehat atau advis yang diharapkan merupakan hikmah dari sebuah masalah.
3. Teknik pembuka kausalitas dan penutup dengan usul. Teknik penulisan kausalitas sering dimaknai sebagai upaya penulisnya merangkai dimensi-dimensi sebab dan akibat dari sebuah peristiwa, baik secara empirik maupun konseptual teoritik. Dan diakhiri dengan usul.
4. Teknik pembuka Konseptual dan penutup dengan warning. Ini biasanya kalangan akademisi membuka tulisannya dengan pandangan yang bersifat konseptual teoritik. Ditutup dengan sebuah warning atau peringatan agar menjadi perhatian pembaca yang dituju.
5. Teknik membuka dengan Kutipan dan penutup Renungan. Membuka dengan mengutip apakah itu puisi, atau pidato maupun tulisan dari seorang tokoh,ulama,politisi, akademisi. Dan menutup tulisan dengan kalimat-kalimat kontemplatif. Kalimat –kalimat yang merangsang untuk direnungkan.
6. Teknik membuka dengan Paradoks dan menutup dengan Skeptis. Membuka tulisan dengan sesuatu yang bersifat dilematis, situasi yang saling berhadap-hadapan dalam satu kesatuan. Sedangkan skeptisme merupakan sikap di mana seseorang tidak begitu saja mempercayai sesuatu, meski sudah digaransi oleh sebuah teori yang sangat canggih sekalipun.
7. Teknik membuka dengan Paradoks dan menutup dengan Prediksi. Membuka dengan paradoks menutupnya dengan prediksi-prediksi untuk membuktikan kebenaran suatu teori.
8. Tanpa pembuka dan tanpa penutup. Biasanya, ini tulisan model deskriptif, yang berusaha memilih dan memilah berdasarkan elemen-elemen tertentu dan tidak berminat pada soal sebab akibat, melainkan sekedar mengurai ”pohon masalah”nya.
9. Membuka dengan hipotesis dan menutup dengan Ekspektasi. Membuka tulisan dengan dugaan. Dugaan diperlukan karena tidak cukup tersedia informasi yang cukup memastikan dalam makna seperti apa sebuah objek dikonstruksikan. Hipotesis dapat berdasarkan keterdekatan objek dengan teori,konsep, atau berdasarkan kesan dari kasus-kasus yang kerapkali muncul. Menutup tulisan dengan secercah harapan yang patut diperhatikan oleh pembacanya.
10. Membuka dengan terminologi menutup dengan ilustrasi. Terminologi acapkali menjadi pembuka yang efektif untuk menjelaskan atau memaparkan masalah yang problematik, multi tafsir, dan cenderung komlikasi. Dengan menghadirkan terminologi, masalah telah dibatasi di awal-awal sehingga dari sisi penulisnya menjadi lebih mudah dalam mengorientasikan pemikiran, bagi pembacanya menjadi lebih mengetahui lebih dini tentang perspektif dan ruang lingkup yang akan dipakai dalam tulisan tersebut. Menutup dengan memberi ilustrasi faktual dan biasanya karena bersifat ilustratif, maka cukup panjang.

Sobat, sebagai penutup dari tulisan singkat ini, Ayo ramaikan negeri ini dengan budaya membaca dan menulis untuk membangun peradaban yang adi luhung dan teruslah menginspirasi indonesia ! Salam SuksesMulia! Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, S.Sos.I,M.Si, Penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah – Kekuatan Spirit Tanpa Batas. www.fikrulmustanir.blogspot.com dan email mumtaz.oke@gmail.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co