Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Sunday, April 25, 2010

Tulisan Peserta Mentor FM Plus dari Malang. Life : Be Winner

LIFE : BE WINNER

“Mengapa aku mesti diciptakan dengan keadaan yang bercukupan? Andai aku banyak uang. Punya rumah mewah…..” dan bla,,,,bla,,,,,bla,,,,Pasti jauh lebih BAHAGIA. Nah, ini yang perlu dikutip kata ”bahagia”-nya. Apa benar nih? Makna bahagia tuch engga’ jauh-jauh dari orang yang hanya dilihat segi materinyaaa.........mereka lebih banyakk. Benar nih??! ga adil donk! napa? kalo definisi hakikat kebahagiaan seperti itu maka ceritanya hanya bisa dipunyai oleh orang-orang kaya aja donk, lantas orang yang kurang secara materinya, ga’ pernah menyandang dan merasakan bahagia ? sedih banget nih?! Wah, kaya’ nya bukan perlu lagi dicross check kembali, tapi HARUSS. That’s right!
Bukan maksud menggurui nih, tapi memberikan informasi apik...taw apa dunk namanya? Ya terserah deh. Sebelum mengetahui hakikat bahagia, mesti tahu hakikat hidup dulu. Apakah hidup ini semata meraih kebahagiaan? Jawabnya boleh ”YA” Tapi apa orientasi dunia, taw akhirat semata, kalo bisa kedua, napa engga’? Pernahkah kau rasakan rasa sayang seseorang hingga kau merasa berarti dan bahagia? Pasti pernah donk. Coba objek dari predikat tadi ialah sayang Allah SWT, Sang Pengasih. Ialah sebaik-baik Pengasih. Tapi mengapa, belum juga hati ini untuk senantiasa setiap saat selalu melafalkan asma husna-Mu. Astagfirullah. ”Butuh bukti untuk semua itu?” mungkin gumam itu terbesit dihati para hambaNya. Maka jawabnya, coba tanyakan kembali, ”Apa yang tlah Dia berikan pada dirimu belum cukup?” .Ketika letih bersemanyam pada diri ini yang lemah dan terbatas, maka keluh kesah akan tanpa sadar terlontar.”Capek nih!”. Jauh disana ada yang menginginkan energik yang ada pada diri-diri ini. Namun, apa daya mereka hanya diberi keterbatasan secara fisiknya. Ketika ingin berlari kesana kemari, tak mudah. Hanya roda yang menjadi temennya. Maaf, bukan maksud memilah dan menyisihkan mereka. Yakinlah mereka pula punya arti kebahagiaan. Ambil hikmahnya dari semua itu. So,,jangan buang waktu yang sia-sia belaka. Pastikan impian ”HAPPINESS” itu senantiasa ada usaha-usaha tanpa keinginan saja.
HIDUP, ketika kata itu menjadi predikat untuk kita semua maka tidak lepas dari aturan main. Ketika main game saja, harus mengikuti semua aturan mereka, tanpa melepas sedikit aturan tadi. Dan itupun berlaku pada pertaruhan hidup ini yang penuh pertanggung jawaban kelak, maka jangan dianggap ” it’s just game”, layaknya permainan yang disebutkan tadi??? Boleh jadi, when we play on the games and ”lose” so we have change be ”winner”.
Namun, apa cukup dengan status kekalahan yang ia punya, ternyata tidak cuma itu saja. Sekali lagi, bahwasanya orang-orang yang tidak mau terikat hukumNya maka ada ganjaran yang ia terima, pertanggung jawaban. Ia akan menerima balasannya, seperti dalam firmanNya:
”Ketika (itu) belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret. (Kemudian mereka dimasukkan) ke dalam api yang sangat panas, lalu mereka dibakar di dalam api (yang menyala-nyala)” (QTS. Al-Mu’min: 71-72).
Semoga kita termasuk orang-orang yang berlindung dari siksa api neraka dan azab kuburNya. Amin.
Dari Nu’man Basyir ra, ia berkata: Aku mendengar Rasullullah bersabda:
” Seringan-ringannya siksa pada hari kiamat adalah orang yang padanya diletakkan dua bara api dibawah tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu dia merasa bahwa tidak seorangpun yang lebih berat siksaan yang diterimanya dibandingkan orang lain. Padahal sesungguhnya itulah siksa seringa-ringannya” (HR Muslim dari Jabir ra).
Jadi apakah hidup kita bisa dijadikan tawaran, halnya dengan ”game”? Cukup jawaban ada disetiap sanubari pembaca. Anggap saja finish games dari tadi itu layaknya ”yaumul hisab”. Hari Penghisaban. Disitu kita (prayer) mendapatkan ”score” kecil, kata lain amal baik kita. Akankah ada peluang kedua untuk menjadi ”winner” ?
”Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (TQS. Al Mudatsir: 38).
Dalam firman lain: ” Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, maka pasti ia melihat (balasan)nya, dan siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, juga pasti melihat (balasan)nya” (TQS. Az-Zalzalah: 7-8).
Sudah pasti....jawaban ”winner sejati” digelarnya ketika ia telah mengikuti aturan hidup di bumi ini secara ”totalitas”. Aturan ISLAM. NAH, maka dari itu, siapakah yang telah memberi hidup kepada setiap jiwa dibumi ini? Tidak ada, selain Allah Ta’ala. Subhanallah. Lihat sekarang ini, banyak manusia yang mengatur urusannya dengan aturan dia sendiri. Seharusnya sudah kita kembalikan, siapakah yang jauh lebih berkuasa memberi aturan di bumi? Jelas-jelas bumi ini bukan milik salah satu makhluk Allah yang ada dibumi ini, sekalipun itu Rasul Allah.
”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemanyam di atas ’Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at (pertolongan) kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia,,,,,,,(TQS. Yunus: 3).
Maka sudah sepatutnya kita harus serahkan sepenuhnya, tanpa tawar menawar lagi kepadaNya, baik itu urusan akhirat maupun yang ada di dunia. Bahwasanya urusan-urusan tadi tidak dipisahkan. Antara agama dengan dunia. Ketika salah satu dari kedua tadi berjalan sendiri-sendiri, maka tidak ada kesejahteraan untuk keseluruhan lapisan masyarakat. Lihat sekarang ini, banyak keadaan yang tidak asing lagi kerusakan dimana-mana akibat ulah tangan manusia itu sendiri. Angka kriminalitas semakin tinggi, angka kemiskinan melonjak naik, jumlah penggangguran tidak sedikit, kelaparan dimana-mana, harga bahan pokok dan biaya lainnya mahal, juga kualitas pendidikan yang rendah. Ini merupakan sebagian kecil dari keseluruhan masalah yang melanda di dunia ini.
”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS. Ar-Rum: 41).
Apa akar masalahnya?!
Ketika hendak berobat maka perlu menganalisa penyakitanya, maka disitu akan mudah mengetahui obatnya. Begitu pula masalah yang tengah melanda masyarakat saat ini. Akar dari masalah-masalah ini tidak lain dari sistem yang diberlakukan ditengah masyarakat, yang secara fitrah manusia tidak dapat terpenuhi. Wajar saja, sistem yang membumi ini belum bisa membuat sejahtera masyarakatnya, halnya manusia tidak akan pernah mengetahui keseluruhan karakteristik pada dirinya.
FirmanNya:
”Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan oleh Rabb Maha Terpuji”(TQS. Fushilat: 42).
Sudah jelas tampak kegagalan sistem sekarang ini (yang dibuat oleh manusia). Tidak membawa kemaslahatan untuk rakyat.
So what are we doing?!
Sekali lagi akar masalah yang harus cepat dituntaskan, halnya sakit yang harus segera diobati. ISLAM tidak hanya sebatas spiritual saja, jauh dari itu mempunyai penyelesaian dunia akhirat (tidak dapat dipisahkan). Ketahuilah dan ingatlah Islam adalah ”rahmatan lil alamin”, rahmat bagi semesta alam.
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (TQS. Al Nabiya: 107).
Dalam firman lain:
“….apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah……”(TQS. Al-Hasyr: 7).
Sistem aturan Islam, menjadi kunci jawaban masalah ditengah-tengah umat saat ini. Menerapkan sistem aturan Islam ini merupakan perjuangan setiap kaum muslimin. Hanya satu-satunyalah aturan Islam yang diterapkan secara keseluruhan yang akan membawa kesejahteraan setiap anggota masyarakat dan mendapatkan ridha Allah SWT. Mari kita semua serukan ”SYARIAT ISLAM! YES!”. Allahuakbar............
”Hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian, mencukupkan nikmatKu atas kalian, dan meridhai Islam sebagai agama kalian” (TQS. Al Ma’idah: 3).
Maka akhir tujuan hidup: HAPPINESS tidak menjadi impian belaka. Semoga ridha Allah senantiasa menyertai kita, orang-orang yang memperjuangkan agama Allah. Sesuai perintahnya dalam firman:
”Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)......”(TQS. Al-Baqarah: 208).
Raihlah kebahagiaan dunia &akhirat!! Jadi tulislah harimu dengan lembaran-lembaran amal kebajikan. Senantiasa berlomba dalam hal kebaikan.
Wallahu a’lam bi ash-Shawab. Created by dr_88 (hamba Allah dibumiNya)

Next Prev home

1 comments:

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co