Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, December 29, 2010

Hati yang Sakit (Qalbun Maridh)




Qalbun Maridh’

“Kita ini kadang aneh,” kata ustad muda itu di hadapan jamaahnya. “Jika lahiriah kita sakit, kita cepat-cepat cari obat. Jika sakitnya ringan, cukup pake ‘obat warung’. Jika agak berat, buru-buru ke dokter. Jika berat dan gak sembuh-sembuh, kita segera ke rumah sakit. Kita bahkan rela dirawat dan mengeluarkan banyak uang jika sakitnya parah dan mengharuskan kita masuk rumah sakit.”
“Tapi, coba kalau yang sakit batiniah kita, hati/kalbu kita. Kita kadang tak segera menyadarinya, apalagi merasakannya. Boro-boro terdorong untuk mencari obatnya,” imbuhnya.
“Orang sakit itu, biasanya makan/minum gak enak. Sakit demam saja, kadang segala yang masuk ke mulut terasa pahit di lidah. Padahal tak jarang, orang sakit disuguhi makanan yang enak-enak, yang lezat-lezat, kadang yang harganya mahal-mahal pula. Namun, semua terasa pahit, gak enak, gak selera,” tegasnya lagi.
“Sebetulnya, mirip dengan sakit lahiriah, sakit batiniah juga membuat penderitanya merasa ‘pahit’. Apa-apa gak enak, gak selera, gak semangat. Shalat berjamaah di masjid ‘pahit’. Shalat malam terasa gak enak. Shaum sunnah gak selera. Baca al-Quran, meski cuma satu-dua halaman, terasa berat. Hadir di majelis taklim, meski cuma satu jam, tak betah. Dakwah pun sering gak semangat. Padahal semua amalan tadi-jika diibaratkan makanan-adalah ‘enak’ dan ‘lezat’. Betapa tidak! Baca al-Quran saja, misalnya, meski hanya satu huruf, akan Allah balas dengan sepuluh kebaikan. Bagaimana jika kita membaca setiap hari satu ayat, satu halaman, apalagi satu juz yang bisa terdiri dari ratusan ayat, yang tentu terdiri dari ribuan huruf? Betapa enaknya, betapa lezatnya,” tegas ustad itu lagi mengajak jamaahnya merenung.
*****
Saya pun merenung. Saya coba menyelami kata-katanya yang penuh hikmah itu. Benar apa yang ustad muda itu sampaikan. Betapa kita sering tak menyadari apalagi merasakan bahwa hati/batiniah kita sering sakit. Padahal mungkin sudah lama kita tak merasakan lezatnya beribadah seperti shalat, membaca al-Quran, shaum, dll; tak merasakan enaknya berinfak di jalan Allah, berdakwah, melakukan amar makruf nahi mungkar, dll. Bahkan mungkin sudah lama hati kita pun tak lagi bergetar saat mendengar ayat-ayat Allah dilantunkan, apalagi sampai pipi kita ini basah oleh airmata, walau hanya setitik, saat ayat-ayat Allah diperdengarkan. Padahal Allah SWT telah mengabarkan bahwa andai al-Quran diturunkan pada gunung-
gunung yang kokoh, niscaya dia akan menjadi hancur-lebur karena takut kepada Allah (QS al-Hasyr: 21).
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah-
rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa keringnya mata dari tangisan adalah karena kerasnya hati. Hati yang keras adalah hati yang paling jauh dari Allah.” (Ibn al-Qayyim,Bada’i’ al-Fawa’id, III/743).
Ibnu al-Qayyim rahimahullah membagi hati menjadi tiga jenis. Pertama: Qalbun Mayyit(Hati yang Mati). Itulah hati yang kosong dari semua jenis kebaikan. Sebabnya, setan telah ‘merampas’ hatinya sebagai tempat tinggalnya, berkuasa penuh atasnya dan bebas berbuat apa saja di dalamnya. Inilah hati orang-orang yang kafir kepada Allah.
Kedua: Qalbun Maridh (Hati yang
Sakit). Qalbun maridh adalah hati yang
telah disinari cahaya keimanan. Namun, cahayanya kurang terang sehingga ada sisi hatinya yang masih gelap, dipenuhi oleh kegelapan syahwat dan badai hawa nafsu. Karena itu, setan masih leluasa keluar-masuk ke dalam jenis hati seperti ini. Orang yang memiliki hati yang sakit, selain tak merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah SWT, juga sering terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa, baik besar ataupun kecil. Hati yang seperti ini masih bisa terobati dengan resep-resep yang bisa menyehatkan hatinya. Namun tak jarang, ia tidak bisa lagi mengambil manfaat dari obat yang diberikan padanya, kecuali sedikit saja. Apalagi jika tak pernah diobati, penyakitnya bisa bertambah parah, yang pada akhirnya bisa berujung pada ‘kematian hati’.
Ketiga: Qalbun Salim (Hati yang Sehat)
Qalbun Salim adalah hati yang
dipenuhi oleh keimanan; telah hilang darinya badai-badai syahwat dan kegelapan-kegelapan maksiat. Cahaya keimanan itu terang-benderang di dalam hatinya. Orang yang memiliki hati semacam ini akan selalu merasakan nikmatnya beribadah (berzikir, membaca al-Quran, shalat malam, dll); merasakan lezatnya berdakwah; merasakan enaknya melakukan amar makruf nahi mungkar; bahkan merasakan nikmatnya berperang di jalan Allah SWT.
Di antara sedikit tanda orang yang memiliki hati yang sehat adalah mereka yang Allah gambarkan dalam firman-Nya: Jika dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, mereka tersungkur dengan bersujud dan menangis (TQS Maryam: 58).
Imam Al-Qurthubi berkata, “Di dalam ayat ini terdapat bukti
bahwa ayat-ayat Allah memiliki
pengaruh terhadap hati.” (al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 11/111).
Inilah juga gambaran hati para salafush-shalih dan generasi orang-orang terbaik dari kalangan umat ini. Jika salah seorang dari mereka melewati ayat-ayat yang menceritakan neraka, hati mereka seperti terasa akan copot karena takut. Jika mereka melewati ayat-ayat yang mengisahkan surga dan kenikmatannya, terasa persendian mereka gemetar karena khawatir mereka akan diharamkan masuk surge dan merasakan kenikmatan yang kekal itu. Dua keadaan inilah yang sering menyentuh hati mereka hingga mereka sering meneteskan airmata. Air mata inilah yang justru akan menyelamatkan mereka dari azab neraka sekaligus memasukkan mereka ke dalam surga. Nabi saw. bersabda, “Ada dua mata yang tak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tak tidur di malam hari karena berjaga di jalan Allah.” (HR at-Tirmidzi).
Jika kita memiliki hati yang sehat seperti ini, bersyukur dan bergembiralah. Itulah tanda bahwa hati kita sehat (qalbun salim). Hanya hati jenis inilah yang akan diterima Allah SWT saat kita menghadap kepada-Nya (QS asy-Syura: 88-89).
Namun, jika hati kita termasuk hati yang sakit, maka segeralah obati dengan tobat, jaga diri dari maksiat, dan perbanyaklah taqarrub kepada Allah SWT dengan selalu taat. Jangan biarkan hati kita makin parah sakitnya, karena bisa-bisa akhirnya hati kita menjadi mati. Na’udzu billah.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. [abi]

Tuesday, December 28, 2010

Selamatkan Indonesia Dengan Syariah Menuju Indonesia Lebih Baik




Selamatkan Indonesia Dengan Syariah Menuju Indonesia Lebih Baik (Refleksi Akhir Tahun 2010 Hizbut Tahrir Indonesia)

TAHUN 2010 segera berakhir. Fajar tahun baru 2011 segera hadir. Sepanjang tahun 2010 banyak peristiwa ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya yang telah terjadi. Terkait sejumlah peristiwa tersebut, Hizbut Tahrir Indonesia memberikan catatan sebagai berikut:
1. Demokrasi: Sistem Cacat, Menindas Rakyat.
Demokrasi di Indonesia-sekalipun mendapatkan pujian dalam Bali Democracy Forum(10/12/2010)-tidaklah memiliki wujud nyata di tengah masyarakat. Sepanjang tahun 2010, banyak tragedi yang menunjukkan dengan jelas kecacatan sistem ini. Yang paling menonjol, Indonesia dengan demokrasinya telah menempatkan diri sebagai subordinat kepentingan negara kapitalis Amerika Serikat dan sekutunya. Kunjungan Obama ke negeri ini menjadi simbol dari pola hubungan tersebut. Demikian juga perang melawan teror yang diadopsi Pemerintah Indonesia yang merupakan turunan dari GWOT (global war on terrorism)-nya AS.
Wajah buruk demokrasi terkuak. Hanya karena diberi label ‘Perang Melawan Terorisme’, sistem demokrasi kemudian membiarkan adanya penculikan, penahanan paksa dan rahasia serta penyiksaan. Korbannya semuanya Muslim. Semua itu legal hanya karena alasan demi kepentingan keamanan nasional. Sistem ini telah membuang hak asasi manusia dan prinsip-prinsip keadilan hukum. Sistem demokrasi telah menunjukkan jatidirinya yang asli: menindas rakyat.
Sistem ini pun meniscayakan perselibatan pihak penguasa dengan pengusaha. Pengusaha berkepentingan untuk mendapatkan dukungan kekuasaan demi usahanya. Sebaliknya, penguasa memerlukan dukungan (modal) pengusaha untuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya. Walhasil, demokrasi hanyalah ‘kuda tunggangan’ bagi kedua kelompok ini, sementara rakyat hanya dijadikan obyek eksploitasi kepentingan mereka. Wajar jika banyak keputusan, kebijakan, UU atau peraturan yang dihasilkan melalui proses demokrasi nyata-nyata lebih berpihak kepada mereka ketimbang kepada rakyat. Inilah demokrasi-sebuah sistem yang cacat dan mengabaikan rakyat, yang tak layak diadopsi oleh umat Islam.
2. DPR: Fasilitas ‘Wah’, Kinerja Rendah.
Gaji setiap anggota DPR saat ini sangatlah besar. Belum lagi tunjangannya yang bermacam-macam dan rata-rata juga gede. Totalnya puluhan juta rupiah perbulan. Meski begitu, berbagai upaya tetap dilakukan untuk terus menumpuk kekayaan dan fasilitas mewah para anggota DPR. Selain usulan dana aspirasi, DPR juga berencana membangun gedung baru, yang akan menghabiskan biaya Rp 1,8 triliun. Gedung itu juga akan dilengkapi dengan pusat kebugaran dan spa.
Para anggota DPR pun getol jalan-jalan keluar negeri dengan judul ‘studi banding’. Biayanya sepanjang tahun 2010 dianggarkan Rp 162,9 miliar. Jika dibagi rata kepada 560 anggota DPR, setiap orang mendapat Rp 290,97 juta setahun atau Rp 24,25 juta setiap bulan. Anggaran sebesar ini hanya untuk kunjungan kerja ke luar negeri. Anggaran kunjungan di dalam negeri malah lebih besar lagi. Audit Badan Pemeriksa Keuangan Juni 2009 menyatakan disclaimer (tidak memberikan pendapat) terhadap pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas pimpinan dan anggota DPR untuk tahun anggaran 2007 dan 2008 yang seluruhnya berjumlah Rp 341,34 miliar.
Dengan semua fasilitas yang serba ‘wah’ itu, bagaimana prestasinya? Ternyata, kinerja DPR dalam kurun terakhir ini sangat buruk. Mahkamah Konstitusi menilai, produk legislasi DPR selama ini banyak yang tak beres karena menyimpang dari arah dan strategi Program Legislasi Nasional. Dalam lima tahun terakhir, MK telah membatalkan 58 UU yang dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dari 108 UU yang diujimaterikan. Bahkan ada UU yang diuji lebih dari sekali. Selesai pasal ini, ganti pasal lainnya yang diuji. Misalnya, UU Pemerintah Daerah diuji lebih dari 5 kali, Undang-Undang KPK diuji 9 kali, Undang-Undang Pemilu diuji 8 kali.
Banyak produk UU yang ujung-ujungnya juga hanya memenuhi kepentingan individu, kelompok tertentu yang ada dalam oligarki kekuasaan serta pihak asing. Untuk rakyat cukup janji-janji kosong tentang perubahan. Faktanya, meski banyak produk UU dihasilkan, rakyat tak pernah beranjak dari penderitaannya.
3. State Corruption.
Korupsi di negeri ini makin sistemik. Artinya, korupsi bukan lagi dilakukan oleh satu-dua orang, tetapi oleh banyak orang secara bersama-sama. Terungkapnya kasus Gayus menunjukkan hal itu. Yang jauh lebih berbahaya adalah saat negara justru menjadi pelaku korupsi melalui utak-atik kebijakan dan peraturan. Inilah yang disebut state corruption(korupsi negara). Skandal Bank Century dan IPO Krakatau Steel adalah contoh nyata. Kasus itu diduga telah merugikan negara triliunan rupiah. Segala usaha pemberantasan korupsi menjadi tak banyak artinya karena pelakunya adalah negara yang dilegalisasi oleh dirinya sendiri.
4. Kebijakan Ekonomi Liberal.
Saat ini makin banyak kebijakan ekonomi liberal yang dikeluarkan pemerintah. Di antaranya adalah kenaikan tarif listrik (TDL), privatisasi sejumlah BUMN dan rencana pembatasan subsidi BBM. Kenaikan TDL sebetulnya bisa dihindari andai PLN mendapat pasokan gas. Anehnya, produksi gas yang ada, seperti Gas Donggi Senoro, 70%-nya malah akan dijual ke luar negeri.
Demikian pula privatisasi sejumlah BUMN. Bila alasannya untuk menambah modal, mengapa tak diambil dari APBN atau dari penyisihan keuntungan? Bila untuk bank kecil seperti Bank Century yang milik swasta, Pemerintah dengan sigap menggelontorkan uang lebih dari Rp 6 triliun, mengapa untuk perusahaan milik negara langkah seperti itu tak dilakukan?
Adapun rencana pembatasan BBM tak lebih merupakan usaha Pemerintah untuk menuntaskan liberalisasi sektor Migas seperti yang digariskan IMF. Kebijakan itu tentu akan membuat perusahaan asing leluasa bermain di sektor hulu dan hilir (ritel/eceran). SPBU-SPBU asing akan mengeruk keuntungan besar dengan kebijakan ini. Ini tentu sebuah ironi besar. Bagaimana mungkin rakyat membeli barang milik mereka dari pihak asing dengan harga yang ditentukan oleh mereka, justru di dalam rumah mereka sendiri?
Kebijakan ekonomi yang makin liberal itu tentu makin memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Pengangguran pun makin meningkat. Akibatnya, sebagian dari mereka pun mencari kerja ke luar negeri. Namun, bukan uang yang didapat, tetapi penderitaan dan penyiksaan seperti yang menimpa Sumiati, bahkan pembunuhan seperti yang dialami Kikim Komalasari dan sejumlah TKW lain.
5. Intervensi Asing.
DPR yang diidealkan menjadi wakil rakyat, realitasnya justru menjadi alat pengesah campur tangan asing. UU SDA yang dihasilkan DPR, misalnya, tak lain merupakan pesanan dari Bank Dunia. UU lain seperti UU Migas, UU Penanaman Modal, UU Minerba, UU Kelistrikan dll juga diduga sarat kepentingan asing.
Di sisi lain, intervensi asing, khususnya Amerika Serikat, bakal kian kokoh setelah naskah Kemitraan Komprehensif ditandatangani Pemerintah. Kunjungan Obama bulan lalu makin memperkuat cengkeraman kuku negara imperialis itu di negeri ini. Terungkapnya sejumlah dokumen diplomatik penting terkait Indonesia melalui situs Wikileaks hanyalah menegaskan tentang adanya campur tangan AS terhadap negeri ini.
6. Isu Terorisme dan Kebrutalan Densus 88.
Isu terorisme di tahun 2010 tak juga kunjung padam. Sejumlah kasus yang diklaim sebagai tindak terorisme seperti perampokan Bank CIMB - Niaga di Medan terjadi. Namun, dari investigasi yang dilakukan, terkuak sejumlah kejanggalan sekaligus kezaliman yang dilakukan Densus 88. Hal ini dipertegas oleh kesimpulan yang dilakukan Komnas HAM. Namun, Densus 88 tetap bergeming. Operasi jalan terus, nyaris tanpa kendali dan kontrol. Korban mungkin masih akan kembali berjatuhan di tahun-tahun mendatang, yang semuanya adalah Muslim.
7. Konflik Umat dan Aliran Sesat.
Sejumlah konflik umat terjadi di tahun 2010. Sesungguhnya konflik itu timbul bukan dipicu oleh umat Islam seperti yang banyak dituduhkan. Konflik umat dengan kelompok Ahmadiyah, misalnya, terjadi karena kelompok ini memang keras kepala. Mereka tak menaati SKB Tiga Menteri. Demikian juga konflik umat Islam dengan kelompok Kristen, terjadi karena mereka tak menaati ketentuan menyangkut pendirian tempat ibadah. Persoalan makin rumit saat mereka-dengan dukungan media massa dan jaringan LSM internasional-memaksakan kehendak. Terjadilah apa yang disebut ‘tirani minoritas’ yang merugikan kaum Muslim, penduduk mayoritas negeri ini.
8. Musibah dan Bencana.
Sepanjang tahun 2010 negeri ini diwarnai oleh banyak bencana: tsunami di Mentawai, longsor di Wasior Papua dan letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah/DIY. Bencana tersebut menyisakan sebuah ironi. Bila diyakini bahwa segala bencana itu adalah karena qudrah (kekuatan) dan iradah (kehendak) Allah SWT, lalu mengapa pada saat yang sama kita tetap tak mau tunduk dan taat kepada Allah SWT dalam kehidupan kita? Mengapa bangsa ini tak segera menerapkan syariah-Nya secara total dalam seluruh aspek kehidupan sebagai bukti ketaatannya kepada Allah SWT? Haruskah bangsa ini menunggu teguran lain berupa bencana yang lebih besar lagi?
Sikap Hizbut Tahrir Indonesia
Berkenaan dengan kenyataan di atas, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:
1. Ada dua faktor utama di balik berbagai persoalan yang timbul, khususnya di sepanjang tahun 2010 ini: sistem yang bobrok (yakni sistem Kapitalisme-sekular, termasuk demokrasi di dalamnya) dan pemimpin (penguasa/wakil rakyat) yang tak amanah. Karena itu, bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan di atas, kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya datang dari Zat Yang Mahabaik, Allah SWT. Itulah syariah Islam yang diterapkan dalam sistem Khilafah. Adapun pemimpin yang amanah adalah yang mau sungguh-sungguh menjalankan sistem yang baik itu itu.
2. Di sinilah sesungguhnya pentingnya seruan ”Selamatkan Indonesia dengan Syariah-Menuju Indonesia Lebih Baik”. Sebab, hanya dengan sistem yang berdasarkan syariah dalam institusi Khilafah dan dipimpin oleh pemimpin yang amanah (khalifah) Indonesia benar-benar bisa menjadi lebih baik. Dengan itu kerahmatan Islam bagi seluruh alam bisa diwujudkan secara nyata.
3. Karena itu, hendaknya seluruh umat Islam, khususnya mereka yang memiliki kekuatan dan pengaruh, berusaha dengan sungguh-sungguh memperjuangkan penerapan syariah dan Khilafah di negeri ini. Hanya dengan syariah dan Khilafah saja kita bisa menyongsong tahun mendatang dengan lebih baik.
Sebagai catatan akhir, marilah kita merenungkan ayat ini:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّـهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Saturday, December 25, 2010

Kita Bisa Menjadi Negara Adi Daya !




Kita Bisa Menjadi Negara Adi Daya !

Dengan negara Khilafah , umat Islam akan memiliki negara Adia Daya pembawa kebaikan untuk dunia, negara pemimpin bukan pengekor yang terpuruk
Salah satu kelemahan utama umat Islam sekarang ini adalah ketidakmampuan untuk melihat potensi sendiri. Akibatnya umat Islam selalu menjadi negara pengekor(follower) yang diperparah dengan penyakit rendah diri (inferior) dan mental peminta-minta . Kondisi ini membuat umat Islam selalu bergantung kepada negara-negara Barat , tunduk mengadopsi ideologi Kapitalisme Barat. Meskipun Barat dengan ideologi kapitalisme sendiri sedang mengalami kemunduran yang parah.
Padahal umat Islam telah diberkahi Allah SWT dengan semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi untuk menjadi negara adi daya yang memimpin dunia. Umat Islam memiliki kemampuan materil dan intelektual yang akan membawa manusia dari semua ras, warna kulit, dan bahasa menuju kemakmuran di dunia ini. Umat Islam diberkahi dengan aqidah dan ideologi yang mulia untuk seluruh alam. Yang tidak dimiliki oleh umat Islam sekarang hanyalah satu , yakni negara Khilafah yang menyatukan semua potensi itu. Dengan negara Khilafah ,umat Islam akan menjadi negara adi daya yang membawa berkah bagi dunia, pemimpin bukan pengekor.
Dalam buku Emerging World Order , The Islamic Khilafah State, Jafar Mumammad Abu Abdullah menggambarkan besarnya potensi umat Islam untuk menjadi negara adi daya. Betapa tidak, dunia Islam memiliki pusat populasi yang besar, lebih dari 1,5 miliyar ( 23% dari populasi dunia). Sebaliknya di saat di bagian dunia yang lain, terutama di Eropa, angka pertumbuhan penduduknya cendrung negatif (menurun) , angka pertumbuhan penduduk negeri sungguh menggembirakan, Alhamdulilah.Dengan begitu, Negara Khilafah Islamiyah akan memiliki angka tenaga kerja yang tinggi (18% tenaga kerja dunia). Dengan peningkatan kemampuan SDM dunia Islam, hal ini akan menyokong produksi secara besar-besaran dan aktifitas ekonomi yang produktif.
Kekuatan gabungan militer umat Islam melebihi negara-negara utama di dunia saat ini. Berdasarkan data yang diolah dari CIA Fact Book, dunia Islam memiliki potensi untuk menjadi suatu negara adi daya dengan kekuatan militer yang amat besar . Gabungan militer aktif dunia Islam berkekuatan 5,59 juta personil. Jauh lebih tinggi daripada kekuatan Amerika saat ini dengan 1,47 juta personil militer Aktif. Adapun Rusia memiliki 1.037.000, China memiliki 2,25 juta, dan dua anggota permanen Dewan Keamanan PBB , Prancis dan Inggris, berturut-turut hanya memiliki 0,26 dan 0,24 juta personil militer aktif. Selain itu, pertumbuhan populasi yang tinggi akan membantu Negara khilafah Islamiyah membangun kekuatan militer terbesar di dunia.
Dalam produksi agrikultur, umat Islam memproduksi 29,8% sereal sedunia, 20,7% produksi kapas, 21,06% produksi beras, 16,85% gandum sedunia, begitu pula produksi kacang hijau yang tertinggi di dunia. Potensi yang membuat negara Khilafah bisa bersikap independen karena tidak bergantung pada pasokan pangan asing. Negara Khilafah Islamiyah adalah negara kedua terbesar produksi rami (bahan dasar industri tekstil) dan mengekspornya (hampir 80%) ke pasar dunia.
Di bawah kepemimpinan Negara Khilafah Islamiyah, berarti kita memiliki 72,12%cadangan minyak dunia dan memproduksi hampir 50% produksi sedunia setiap harinya , memiliki lebih dari 61% cadangan gas dunia, 22,60% cadangan uranium, dan memiliki cadangan bijih besi yang banyak. Potensi energi yang demikian besar ini modal yang sangat penting untuk menjadi negara adi daya.
Penyatuan Negara Khilafah Islamiyah akan mengontrol lokasi-lokasi strategis utama secara geopolitik di dunia; laut, darat, dan rute udara. Aset strategis ini akan membuat Negara-negara seperti China, Jerman dan Jepang dibawah pengaruhlangsung negara Khilafah . Negara adi daya ini akan memiliki kontrol penuh atas rute-rute laut yang paling penting di dunia dari selat Gibraltar di Moroko melewati Mediterania, Bosporus,atau melalui Terusan Suez, lautan India, Selat Malaka. Itu berarti, Eropa harus menerima keinginan Negara khilafah Islamiyah atau mereka memilih menjadi negara terasingkan. Dengan Moroko di satu sisi Atlantik, Negara Khilafah Islamiyah akan mengontrol urusan-urusan di Atlantik dengan baik.
Terakhir dan yang paling penting, Negara Khilafah Islamiyah akan memiliki generasi-generasi terbaik dari manusia dengan pandangan idelogi yang jelas. Sebagaimanafirman Allah SWT : “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. Ali Imran: 110)
Tentu saja negara Khilafah tidak akan terwujud tanpa ada yang memperjuangkannya. Karena memperjuangkan tegaknya negara Khilafah tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ini harus menjadi agenda seluruh umat Islam. Atau seperti kata Rosululah SAW kita akan tetap seperti buih di lautan yang meskipun banyak tapi sangat rapuh. Kondisi yang membuat kita menjadi mangsa negara –negara Kapitalisme yang rakus. (farid wadjdi)

Tuesday, December 21, 2010

Ruu Intelijen 2010: Bentuk Tirani Baru?



Ruu Intelijen 2010: Bentuk Tirani Baru?
Oleh: Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI

Perpolitikan Indonesia memasuki babak baru dengan disetujuinya pembahasan Rancangan Undang-Undangan tentang Intelijen Negara pada program legislasi nasional 2011 oleh DPR (16/12). Dikatakan babak baru sebab, pertama, inisiatif RUU ini datang dari Dewan-bukan dari pihak yang berkepentingan langsung. Kedua, meski naskah akademisnya cukup lengkap, substansinya tidak jauh berbeda dengan RUU Intelijen yang pernah diajukan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) tahun 2006. Saat itu DPR menolak RUU tersebut.

Mungkinkah DPR dalam pengaruh eksekutif untuk meloloskan RUU tersebut? Ini perlu pendalaman. Yang pasti, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)-lah yang selama ini berteriak lantang dan ‘ngebet’ agar Indonesia memiliki UU Intelijen baru. Keinginan ini selalu disuarakan oleh Kepala BNPT Ansyaad Mbai. Alasannya, ada kelemahan intelijen khususnya dalam bidang pencegahan tindak terorisme. Karena itu, perlu ada penguatan legal frame (regulasi/UU) yang bisa menutupi kelemahan tersebut. Selama ini intelijen dianggap kurang maksimal karena tidak ada kewenangan menangkap dan menginterogasi tersangka tindak pidana terorisme. Inisiatif Dewan tampaknya ‘nyambung’ dengan keinginan BNPT.

Persoalannya, seperti halnya draft yang lama, RUU ini mengandung pasal-pasal yang multitafsir dan berpotensi melanggar hak-hak sipil warga negara. Dengan berdalih keamanan nasional aparat intelijen bisa bertindak sewenang-wenang.

Multitafsir

RUU ini terdiri atas 10 bab, dengan 46 pasal. Mengacu kepada naskah akademiknya, terorisme adalah obyek yang banyak menjadi diskursus. Dan isu serta kasus “terorisme” dijadikan basis argumentasi untuk mengonstruksi UU yang lebih efektif.

Poin-poin krusial yang perlu dikritisi di antaranya terkait wewenang khusus yang diberikan kepada aparat intelijen. Seperti yang tertuang dalam Pasal 31 Bab VI;

(1) Selain wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), lembaga koordinasi intelijen negara memiliki wewenang khusus melakukan intersepsi (penyadapan, pen.) komunikasi dan pemeriksaan aliran dana yang diduga kuat untuk membiayai terorisme, separatisme, dan ancaman, gangguan, hambatan, tantangan yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(2) Intersepsi komunikasi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diperlukan dalam menyelenggarakan fungsi intelijen.

(3) Dalam memeriksa aliran dana sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), lembaga koordinasi intelijen negara dapat meminta bantuan kepada Bank Indonesia, PPATK, lembaga keuangan bukan bank, dan lembaga jasa pengiriman uang.

Penjelasan terkait RUU itu menyebutkan:

Ayat (1); Dalam UU ini wewenang khusus melakukan intersepsi komunikasi dilakukan tanpa melalui Penetapan Ketua Pengadilan. Dan yang di maksud dengan melakukan “intersepsi komunikasi” antara lain melakukan kegiatan penyadapan telepon dan faximile, membuka e-mail, pemeriksaan surat, pemeriksaan paket.

Pasal tersebut berpotensi melahirkan tindakan yang akan mengurangi hak sipil warga hanya karena alasan atas nama dan demi keamanan negara. Mengapa? Minimal ada beberapa hal penting yang perlu dicatat.

Pertama, kewenangan khusus ini bisa nyaris tanpa kontrol karena tidak perlu lagi adanya penetapan dari pengadilan. Aspek ini membuka peluang lebar-lebar penyalahgunaan kewenangan dan seluruh fasilitas dari institusi atau personel intelijen. Pasti berdasarkan ketentuan ini, intelijen akan menuntut otonomi penuh untuk mengatur sendiri penyadapannya. Hal ini akan mengangkangi hak asasi warga negara dan supremasi hukum.

Kedua, tafsiran terhadap obyek yang dianggap bagian dari terorisme, atau ancaman, gangguan dan hambatan yang dianggap mengancam NKRI sangat ambigu. Tafsir yang berkembang biasanya sangat subyektif, tergantung kepada pemangku kewenangan. Di sinilah mindset seseorang berdasarkan paradigma tertentu akan menjadi penentu. Ditambah lagi, secara global hingga kini belum ada konsensus tentang definisi terorisme yang disepakati.

Ketiga, jika poin satu dan dua di atas tidak teruai, tidak ada jalan keluar yang elegan maka Pasal 31 ini akan menjadi sumber lahirnya monster yang bernama “state intelijen”. Setiap warga bisa berpotensi menjadi obyek penyadapan jika dianggap membahayakan NKRI dengan segala tafsiran dan argumentasinya tentang “bahaya” dan “ancaman”.

Keempat, kewenangan penindakan atau penangkapan bagi intelijen melahirkan overlapping dengan kewenangan institusi penegak hukum yang semestinya. Jika hal ini dipaksakan maka akan melahirkan tirani dan kedzaliman baru.

Kelima, tidak ada bentuk dan mekanisme kontrol yang jelas terhadap kerja intelijen. Siapa yang bisa berhak mengontrol mereka? Institusi tanpa kontrol akan melahirkan kesewenang-wenangan terhadap rakyat. Sudah cukup banyak contoh lembaga di negara ini, meski sudah dikontrol pun masih menyalahgunakan kewenangan, apalagi tidak ada kontrol.

Memang, tidak ada negara tanpa intelijen. Tapi yang perlu diingat, fungsi intelijen bukan untuk memusuhi warga negaranya. Intelijen juga bukan menjadi alat untuk kepentingan politik tertentu, apalagi intelijen digunakan untuk memberangus setiap pihak (individu atau kelompok) yang dianggap mengancam status quo. Masa rezim Orde Baru cukup menjadi pengalaman pahit bagi umat Islam. Umat Islam ‘dikuyo-kuyo’. Bahkan darah mereka tertumpah menjadi tumbal bagi kepentingan status quo, dengan delik bahwa umat Islam menjadi ancaman stabilitas keamanan dan politik, padahal hanya karena berbeda pandangan terhadap mainstream yang ada.

Inilah yang perlu diwaspadai. Lahirnya UU Intelijen Negara tidak boleh menjadi alat menggencet dan mengeliminasi Islam dan kaum Muslimin melalui bendera “War on terrorism”. Fakta menunjukkan, sebagian pihak tak lagi obyektif memandang persoalan terorisme di Indonesia. Ada proses generalisasi terorisme terhadap seluruh umat Islam, tidak dilihat kasus per kasus. Ini yang sangat berbahaya bagi kehidupan umat Islam ke depan.

Sekilas Hukum Penyadapan

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Asrama Haji Sudiang, Makasar, Sulawesi Selatan, (25/3/2010) membahas masalah ini. Nu menetapkan mengintip dan mengintai pembicaraan orang lain melalui sadap telepon adalah tidak boleh atau haram. “Hukum (penyadapan telepon, Red) itu tidak boleh, kecuali kalau untuk kepentingan penegakan hukum dan benar-benar ada gholabatuzh zhan (dugaan kuat) melakukan maksiat atau pelanggaran aturan,” kata KH Saifuddin Umar, Ketua Tim Materi Bahsul Masail Diniyah Waqiiyah NU.

Penyadapan telepon merupakan kasus yang “lazim” dalam arena dan pertarungan politik di negara-negara demokrasi modern. Dalam kasus di sejumlah negara, penyadapan telepon dilakukan aparat pemerintah terhadap pesawat-pesawat telepon milik politisi dan wartawan terkemuka di negeri-negerinya. Ini biasanya dilakukan untuk mengontrol aktivitas para politisi dan wartawan. Kasus bocornya dokumen-dokumen oleh Wikileaks mengungkap aktifitas ini.

Secara fakta, penyadapan telepon tidak lain untuk mengetahui isi pembicaraan rahasia antara dua orang yang sedang menelepon. Tindakan ini dapat dikategorikan mata-mata atau spionase atau tajassus. Tajassus, menurut Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab As Syakhshiyyah al Islamiyyah Juz 2 hal 211, adalah kegiatan menyelidiki atau mengusut suatu kabar untuk menelitinya lebih lanjut. Selain kegiatan spionase oleh badan intelejen, tajassus bisa terjadi pada wartawan yang melebihi tugasnya sebagai reporter (pengumpul dan penyebar berita), yakni melakukan investigasi untuk mendapatkan laporan-laporan yang sensasional. Termasuk dalam hal ini adalah apa yang dilakukan oleh paparrazi yang mencuri-curi momen-momen rahasia untuk difotonya.

Secara hukum Islam, kegiatan tajassus memiliki hukum sesuai dengan fakta kegiatannya. Jika aktivitas itu ditujukan kepada kaum Muslimin, baik rakyat maupun penguasa, hukumnya haram. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prangsangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain)…” (QS. Al Hujurat 12).

Menurut Imam As Shaabuni dalam tafsirnya Shafwatut Tafaasiir Juz 3 hal 218, kalimat “walaa tajassasuu” berarti janganlah mencari-cari aurat (rahasia) kaum Muslimin dan jangan memonitor aib-aib mereka. Ketika ditanya tentang kejadian menetesnya khamer (minuman keras) dari jenggot seorang yang bernama Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith, Ibnu Mas’ud r.a. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Abi Syaibah mengatakan: “Kita dilarang melakukan tajassus, jika sesuatu telah nyata bagi kita, kita akan ambil (atasi)” (lihat Imam Az Zamakhsyari, Tafsir Al Kasysyaf Juz 4 hal 363).

Larangan tajassus terhadap kaum Muslimin dalam ayat di atas bersifat umum, berlaku bagi perorangan, kelompok, maupun negara. Baik tajassus itu dilakukan untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan orang lain. Hukum larangan tajassus terhadap kaum Muslimin itu berlaku pula terhadap warga negara non Muslim (kafir dzimmi). Sebab, seorang kafir yang tunduk kepada negara Islam dan berstatus sebagai warga negara yang dilindungi, terhadapnya berlaku seluruh hukum Islam kecuali hukum-hukum yang berkenaan dengan aqidah dan ibadah, dan masalah tajassus ini tidak termasuk dalam hal itu (An Nabhani, idem, hal 212).

Namun jika sasaran tajassus adalah negara lawan atau warga negaranya yang statusnya adalah orang kafir harbi (baik kafir musta’min maupun kafir mu’ahid) yang memasuki negeri-negeri Islam atau berada di negeri mereka sendiri, maka tajassus terhadap mereka hukumnya boleh (jaiz) dilakukan oleh kaum Muslimin dan negara. Seperti dalam kasus Rasulullah SAW pernah mengutus serombongan pasukan yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy dengan membawa surat yang isinya adalah: “Jika anda melihat suratku ini, maka berjalanlah terus hingga sampai ke kebun korma antara Makkah dan Thaif, dari situ intailah orang-orang Quraisy dan sampaikanlah kepada kami informasi tentang mereka”.

Mengingat, kegiatan tajassus merupakan perkara yang harus dilakukan oleh tentara kaum Muslimin dalam rangka jihad fi sabilillah menghadapi tentara musuh, dan tidak sempurna struktur angkatan bersenjata kaum Muslimin tanpa adanya badan pelaksana kegiatan tajassus (intelejen maupun kontra intelejen), maka pembentukan badan intelejen untuk angkatan bersenjata hukumnya wajib atas negara khilafah. Ini berdasarkan kaidah syara: “Tidak sempurna suatu kewajiban tanpa adanya sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib”.

Kesimpulannya, tajassus tergantung obyeknya. Jika targetnya kaum Muslimin, maka haram. Apapun alasannya. Bahkan jika dikhawatirkan rakyat (atau aktivis) melakukan perbuatan makar. Penanganan terhadap mereka cukup dengan polisi yang menjaga ketertiban umum dan mengambil tindakan untuk aktivitas yang nyata melanggar hukum. Namun jika sasarannya adalah pihak asing yakni warga maupun staf kedubes negara adikuasa yang ingin menguasai kaum Muslimin, maka hukumnya justru wajib atas negara dan petugas intelejen negara.[]

Fajar Kemenangan




Fajar Kemenangan

Syaikh Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan dalam kitabnya, Al-Amru bi al-Ma’ruf wa an-Nahyu ‘an al-Munkar, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Bagaimana kalian ini apabila kaum perempuan kalian membangkang dan para remajanya berbuat fasik?”
Para Sahabat bertanya, “Apakah hal tersebut benar-benar terjadi, duhai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ya. Bahkan, perkara yang lebih dahsyat dari itu akan terjadi.”
Para Sahabat bertanya, “Apakah perkara yang lebih dahsyat dari itu, duhai Rasulullah?”
Rasul menjawab, “Bagaimana kalian ini apabila kalian tidak melakukan amar makruf dan tidak mencegah dari kemungkaran?”
Para Sahabat bertanya lagi, “Apakah hal tersebut benar-benar terjadi, duhai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ya. Bahkan, perkara yang lebih dahsyat dari itu akan terjadi.”
Para Sahabat bertanya lagi, “Apakah perkara yang lebih dahsyat dari itu, duhai Rasulullah?”
Rasul menjawab, “Bagaimana kalian ini apabila kalian melihat perkara makruf sebagai mungkar dan melihat perkara mungkar sebagai makruf?”
*****

Setidaknya ada tiga hal yang tidak terbayangkan oleh para Sahabat bahwa hal tersebut dapat terjadi. Dalam kehidupan Sahabat, ketiga hal itu aneh bila terjadi pada diri umat Islam. Ketiga perkara yang membuat keheranan Sahabat yang dijelaskan oleh Nabi saw. itu adalah (1) banyak perempuan yang melakukan pembangkangan dan para remajanya berbuat dosa (fasik); (2) amar makruf nahi mungkar ditinggalkan; (3) terbolak-baliknya realitas, yang benar dipandang salah dan perkara salah dipandang benar.
Sayang, ketiga hal yang aneh bila terjadi di tengah umat Islam itu justru benar-benar terjadi pada saat sekarang ini dalam tubuh kaum Muslim. Bukan hanya lelaki, sekarang tidak sedikit kaum Hawa yang melupakan ajaran Islam, membuka aurat, bergaul bebas, bahkan ada geng perempuan. Remajanya pun terlena dalam glamour kefasikan. Tidak mengherankan apabila Komnas HAM Perlindungan Anak menemukan sebanyak 62,7% remaja usia 13 tahun hingga 18 tahun (usia SMP-SMA) mengaku pernah berzina.
Amar makruf nahi munkar pun amat sulit terlihat. Dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM) amar makruf nahi munkar didudukkan sebagai pelanggaran. Sebab, dalam logika HAM, siapapun boleh melakukan apapun selama tidak ada orang lain yang merasa terganggu.Sekalipun perbuatannya haram, asalkan tidak ada yang mengaku dirugikan, semuanya bebas berjalan. Karenanya, tidak mengherankan, misalnya, di Indonesia, negeri Muslim terbesar ini beberapa waktu lalu dilakukan festival gay, festival kaum pembangkang Nabi Luth. Para penentangnya dianggap angin lalu.
Begitu juga, realitas benar dipandang salah dan salah dipandang benar, prinsip ‘orang benar dipenjara, orang salah tertawa’ seakan terjadi dengan sempurna. Kini, liberalisme dibiarkan berkembang, eks komunis diberi angin, sementara Islam Nabinya dihina, al-Qurannya dibakar, umatnya dibantai, dan dengan tuduhan gebyah-uyah terorisme para pengembannya terus dibungkam.
Melihat realitas demikian, kita patut membayangkan, apa yang dikatakan oleh Nabi saw. itu kini terdengar langsung di telinga kita, “Kaifa antum …. bagaimana kalian ini….”
Kita dapat merasakan Rasulullah saw. marah pada saat itu terjadi. Perkara yang tidak pernah terbayang di benak para Sahabat Nabi saw. benar-benar ketiganya terjadi dalam masyarakat kita. Tidak berlebihan bila saat ini kaum Muslim berada dalam titik terendah.Na’udzu billahi min dzalik.
Pada sisi lain, kondisi demikian justru mengisyaratkan bahwa fajar kemenangan akan segera menyingsing. Dari titik terendah ini, umat Islam terus merangkak naik hingga puncak. Di tengah kondisi demikian, upaya menegakkan Islam terus makin mendapat sambutan. Syaratnya, kita istiqamah dalam kebenaran itu. Menarik apa yang disampaikan oleh Syaikh Mahmas bin Abdullah bin Muhammad al-Jal’ud dalam kitabnya, “Wajib bagi setiap Muslim ketika ia mengetahui kebenaran untuk mengikutinya, seraya mengatakan kebenaran itu tanpa takut terhadap seorang pun dan tanpa bermain muka pada siapapun.Sebab, hal demikian merupakan bagian dari amar makruf nahi mungkar, padahal orang yang diam dari kebenaran ia adalah setan yang bisu. Bagaimana mungkin seseorang dapat memiliki rasa takut kepada sesama manusia melebihi rasa takutnya kepada Allah SWT?” (Al-Ja’lud, Al-Maulah wa al-Mu’adah fi asy-Syariat al-Islamiyah, I/287).
Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran apa adanya. Ingat, kata adalah senjata!
Allahu akbar wa lillahi alhamd! []

Monday, December 20, 2010

Kabar Gembira!!!!



Alhamdulillah. Akhir desember ini Buku Modul Mentor FM Plus The Secret of Happiness dan KIat Sukses Jadi Da'i Hebat telah terbit dicetak amat terbatas alias limited edition. Beli 1 dapat bonus yg banyak sgr pesan di 081330447814. Dan Nantikan Awal Januari tahun 2011 segera launching Buku Menjadi Da'i Yang Di Cinta sekarang sedang proses cetak di Gramedia. Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

Tuesday, December 14, 2010

Refleksi Muharam : Kewajiban Penegakan Negara Islam



Refleksi Muharam : Kewajiban Penegakan Negara Islam

Makna politik penting dari hijrahnya Rosulullah SAW pada bulan Muharam ke Madinah yang sering dilupakan umat Islam adalah kewajiban penegakan negara Islam (ad Daulah al Islamiyah). Hijrahnya Rosulullah SAW ke Madinah sesungguhnya merupakan tonggak penting dari babak baru perjuangan umat Islam.

Di Madinah Rosulullah SAW membangun peradaban baru dengan negara baru yang di dasarkan kepada Islam. Rosulullah SAW diangkat menjadi pemimpin negara yang bertanggungjawab mengurus urusan umat (rakyat) secara keseluruhan. Sementara hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Keberadaan pemimpin , rakyat dan hukum ini cukup untuk mengatakan apa yang dibangun oleh Rosulullah SAW di Madinah adalah sebuah negara atau memenuhi karakteristik sebuah negara .

Yang menarik negara baru yang dibangun Rosulullah SAW ini dihuni oleh warga negara yang beragam (pluralitas bukan pluralisme). Terdapat Yahudi Bani Auf, Yahudi Bani Najjar, termasuk masih teradapat orang-orang musyrik penyembah berhala. Namun pluralitas ini tidak menghalangi pemberlakuan hukum Islam oleh negara. Sebab hukum Islam memang bukan hanya untuk muslim tapi merupakan rahmat bagi seluruh manusia (rahmatan lil ‘alamin), termasuk non muslim .

Bahwa yang berlaku adalah hukum Islam tampak dari salah satu point penting dari piagam Madinah (watsiqoh al madinah) . Sebagaimana dalam Siroh Ibnu Hisyam disebutkan apabila muncul perselisihan diantara pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian wajib dikembalikan kepada Allah dan Rosulullah SAW . Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT QS An Nisa : 59.

Imam al Mawardi dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini sebagai kewajiban taat kepada Allah SWT dalam seluruh perintah dan larangan-Nya dan taat kepada Rosulullah SAW. Beliau juga mengutip penjelasan Mujahid dan Qotadah bahwa makna kembali kepada Allah dan Rosul adalah kembali kepada kitabullah dan sunnah Rosul (ila kitabillah wa sunnati rosulihi).

Yang membedakan dengan konsep negara nation-state, wilayah kekuasaan negara Islam ini tidak berhenti pada batasan-batasan kebangsaan, tapi meluas sebagai konsekuensi kewajiban mendakwah Islam ke seluruh penjuruh dunia. Jumlah penduduk yang masih sedikit di masa Rosul dengan batas wilayah masih sekitar Madinah, tidak menjadi alasan untuk mengatakan bahwa itu adalah negara. Bukankah Singapura, Brunai Darussalam, Swiss adalah tetap dikatakan negara meskipun penduduknya sedikit ? Apalagi kemudian negara Islam dimasa Khulafaur-rosyidin dan kholifah selanjutnya meluas hampir mencapai 2/3 dunia dengan jutaan orang penduduknya ?

Bukti bahwa Madinah merupakan negara Islam , tampak jelas dari apa yang dipraktikkan Rosulullah SAW sebagaimana lazimnya kepala negara. Rosulullah SAW memimpin kaum muslimin, mengatur . urusan-urusan dan kepentingan rakyatnya, memenuhi kebutuhan pokok, menjamin keamanan dan kesehatan dan melindungi penduduk Madinah.

Rosulullah SAW menjadi hakim (qodhi) saat terjadi perselisihan antara rakyatnya, termasuk mengangkat Ali bin Abi Tholib, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Musa al Asy’ari sebagai qodhi di di Yaman. Untuk membantu pemerintahannya Rosululah SAW mengangkat Mu’ad bin Jabal menjadi wali (setingkat gubernur) di Janad, Kholid bin Walid sebagai amil (setingkat walikota) di Shun’a, Ziyad bin Lubaid wali di Hadramaut, Abu Dujanah sebagai amil di Madinah.

Dalam politik luar negeri, Rosulullah saw mengirim surat-surat diplomatik ,utusan diplomatik, yang intinya mengajak negara dan kerajaan lain untuk memeluk agama Islam. Termasuk menjadi amirul jihad (pemimpin perang) dalam berbagai pertempuran. Mengirim Hamzah bin Abdul Muthalib dan sahabat lainnya dalam detasemen menyerang Quraisy, mengutus antara lain Zaid bin Haritsah menyerang Romawi, Kholid bin Walid menyerang Dumatul Jandal. Semua ini merupakan fakta tak terbantahkan bahwa Madinah adalah sebuah negara.

Adapun kewajiban mendirikan negara Islam yang kemudian disebut juga sebagai Khilafah Islam adalah merupakan konsekuensi dari kewajiban menerapkan seluruh syariah Islam sebagai bukti keimanan seorang muslim. Keberadaan negara (kekuasaan) adalah hal yang mutlak untuk itu. Kewajiban syariah Islam seperti dalam menetapkan mata uang berdasarkan dinar (emas) dan dirham (perak), mengadili pihak yang bersengketa, menjatuhkan hukuman terhadap pelaku kriminal, mengirim pasukan, menjamin pendistribusian harta di tengah masyarakat, menjamin kebutuhan pokok rakyat adalah masuk dalam wewenang negara bukan kelompok atau individu .

Karena itu menyatakan negara Islam tidak wajib adalah sebuah kebodohan , karena kewajiban menerapkan syariah Islam secara total berarti kewajiban mewujudkan negara yang didasarkan pada Islam. Termasuk kebodohan yang lain, kalau mengatakan negara Islam adalah ancaman bagi negara atau rakyat. Bagaimana mungkin negara yang akan menerapkan hukum Allah SWT yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang dikatakan sebagai ancaman bagi manusia ?

Kewajiban mulia ini tidak pernah diperdebatkan oleh ulama-ulama terkemuka dan mukhlis sebelumnya sebagaimana dinyatakan Imam an Nawawi dalam syarh Shohih Muslim : “Mereka (para imam madzhab) telah bersepakat bahwa kaum muslimin wajib mengangkat seorang Kholifah”. Walhasil refleksi terpenting dari peristiwa hijrahnya Rosulullah SAW pada bulan Muharram ini adalah kesungguhan-sungguhan untuk berjuang mengembalikan kembali Negara Islam yakni negara Khilafah yang akan menerapkan seluruh syariah Islam, menyatukan dan melindungi umat Islam (Farid Wadjdi)

Monday, December 13, 2010

Untaian Spiritual Motivation



Untaian Spiritual Motivation
Dari Spiritual Motivator N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si.

Menyendirilah beberapa saat untuk merenungkan hal-hal yang kita hadapi, untuk introspeksi diri, untuk memikirkan akherat, dan untuk memperbaiki dunia. Jauhilah dosa-dosa, sebab dia adalah sumber keresahan dan kesedihan, dan pintu ke arah musibah serta keadaan tertekan. Salam SuksesMulia!

Beristihgfarlah selalu, sebab Allah memiliki karunia di malam dan siang hari. Semoga kita mendapatkan karunia itu yang dengannya kita akan berbahagia hingga hari kiamat.Tingkatkan amal sholeh,pendekkan angan-angan, tunggulah ajal kita, jalani kehidupan hari ini dng do the best, hadapi masalah dgn penuh kesabaran, pahami zaman di mana kita hidup, dan jagalah mulutmu. Allahu Akbar!

Orang yang di dalam dadanya ada taman keimanan dan dzikir, dan di dalam benaknya ada kebun ilmu dan pengalaman, maka keduniaan yang tak kesampaian tak pernah membuatnya bersedih. Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

Masjid adalah pasar akherat.Buku adalah sahabat umur manusia. Amal perbuatan adalah teman di dalam kubur. Akhlak yang baik adalah mahkota kemuliaan. Dan, baik hati adalah pakaian yang paling indah. Dakwah melangsungkan kehidupan Islam adalah jalan kehidupan menuju surga-Nya. Allahu Akbar!

Nabi Nuh As diteror selama 950 tahun menjalankan dakwahnya. Tapi dia sabar, selalu istiqomah berdakwah dan menunggu pahala dari Allah, dan terus tetap menyebarkan dakwahnya utk kembali kepada tauhid tanpa kenal waktu. Akhirnya Allah pun menyelamtkannya dan menghancurkan musuh-musuhnya dengan banjir besar. Subhaanallah.

Sobat, Terimalah apa yang ada pada diri kita, terimalah rezeki kita, kembangkan bakat yang ada dalam diri kita, atur kemampuan kita untuk hal-hal yang bermanfaat, dan bersyukurlah kepada Allah atas semua karuniah-Nya. Alhamdulillah Ya Allah.Salam Dahsyat dan Luar Biasa! Allahu Akbar!

Tidak ada gembok yang tidak bisa dibuka.Tidak ada simpul yang tidak bisa dilepas, tidak ada jarak yang jauh yang tidak bisa didekatkan, dan tidak ada yang hilang yang tidak bisa ditemukan. Dan semua itu ada saatnya. Never give Up! Salam SuksesMulia!

JIka ditimpa musibah atau kesulitan apa pun, bersukarialah dengan hari yang terus berlalu.Karena pergantian hari demi hari akan semakin mengurangi umur dari kesulitan itu. Kesulitan adalah sebuah rentangan umur seperti umur manusia yang tidak bisa kita perkirakan kapan akan berakhir. Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

adilah seperti lebah, menyantap makanan yang baik, dan mengeluarkan sesuatu yang baik dan bermanfaat pula. Dan, jika hinggap di atas dahan dia tidak merusaknya, atau di atas bunga dia tidak mengoyak-ngoyaknya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh baginda Rasulullah SAW perumpamaan seorang mukmin itu sebagaimana lebah.Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Salam SuksesMUlia!

Sobat, jika kita harus mengingat masa lalu, maka ingatlah masa lalu kita yang indah agar kita gembira. Jika kita mengingat hari ini, maka ingatlah apa yang telah kita hasilkan, pasti kita akan merasa bahagia.Dan, jika kita mengingat hari esok, maka ingatlah mimpi-mimpi kita yg indah agar kita optimis. Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

Kita memiliki dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki satu lidah, iman, al-qur'an, dan rasa aman. Tapi di mana rasa syukur kita, wahai manusia! " Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan." Silahkan baca QS. ar-Rahman ayat 13 dan diulang berulang-ulang dalam surat ar -Rahman.

Sobat, Istighfar itu akan membukakan gembok-gembok pengunci, mendamaikan hati, dan menghilangkan kerusakan. Istighfar adalah uang panjer rezeki dan pembuka keberuntungan.Siapa yg mengabulkan permintaan org terhimpit masalah dan yg akan menghapuskan kesulitan dari kita? Dia adalah Allah SWT. Salam SuksesMulia!

Hari kemarin telah mati, hari ini dalam pengendalian, dan esok hari belum lahir. Kita adalah produk waktu.Jadikan waktu sebagai ketaatan kepada Allah, yang memberikan imbal balik berupa barang dagangan yang paling menguntungkan. Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, penulis buku Al quwwah ar ruhiyah, Kekuatan Spirit Tanpa Batas, Bila Jatuh Bangunlah, The Secret of Happiness, Kiat Sukses Menjadi Da’i Hebat. www.fikrulmustanir.blogspot.com dan email mumtaz.oke@gmail.com )

Dr Nazreen Nawaz : Kapitalisme Sumber Kekacauan Global




Dr Nazreen Nawaz : Kapitalisme Sumber Kekacauan Global
Pengantar:

Selama beberapa tahun terakhir, suatu opini global telah dibangun bahwa Islam radikal, atau dalam istilah yang lebih umum, ‘Islam Politik’, adalah ancaman bagi dunia seperti dalam propaganda Tony Blair. Betulkah propaganda tersebut? Apa sesungguhnya motif Barat di baliknya propaganda tersebut? Mengapa Islam yang dijadikan tertuduh? Bagaimana dengan Kapitalisme global yang memimpin dunia saat ini, yang justru banyak memproduksi persoalan dan menjadi sumber kekacauan global?
Untuk mengetahui lebih jauh jawaban atas beberapa pertanyaan di atas, Redaksi Al-Waiekali ini mewawancarai Dr. Nazreen Nawaz, Representasi Muslimah Hizbut Tahrir Inggris, yang tentu merasakan langsung kebijakan-kebijakan penuh kebencian dari pemerintahan di Barat atas Islam dan kaum Muslim, termasuk terus menebar propaganda yang menyerang Dunia Islam. Berikut petikan wawancaranya.
Selama beberapa tahun terakhir, suatu opini global telah dibangun bahwa Islam radikal, atau dalam istilah yang lebih umum, ‘Islam Politik’, adalah ancaman bagi dunia seperti dalam propaganda Tony Blair. Bagaimana komentar Anda? Apa motif di balik opini seperti itu?

Cerita semacam ini sering dibangun oleh para politisi, pemerintahan dan lembaga-lembaga Barat. Dengan mudahnya mereka mengalihkan perhatian dari fakta bahwa Kapitalisme global, nilai-nilai liberal sekular dan kebijakan-kebijakan luar negeri kolonial Barat adalah penyebab terbesar atas ketidakstabilan, kekacauan dan ketidakamanan di dunia. Bukanlah Islam Politik yang telah mengobarkan perang kolonial yang tak terhitung jumlahnya selama 100 tahun terakhir yang menjarah sumberdaya dari bangsa asing, melainkan negara-negara kapitalis Baratlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang menyebabkan kematian ratusan ribu warga sipil dalam bencana perang dan kehancuran Afganistan, Irak dan Pakistan; atau yang melakukan penculikan rahasia, penahanan dan penyiksaan dalam Perang Melawan Teror. Namun, pemerintah kolonial Baratlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang mengesahkan penggunaan uranium terdeplesi (depleted uranium) terhadap penduduk Irak, tetapi para pemerintahan sekularlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang membuat miskin negara-negara di dunia dan menyebabkan krisis ekonomi global, tetapi Kapitalismelah biang keladinya.

Klaim ini mencoba untuk membuat ketakutan atas keyakinan Islam Politik, seperti usaha penerapan syariah atau pembentukan Kekhalifahan di dunia Muslim, dengan mengaitkannya dengan terorisme. Hal ini telah menciptakan iklim ketakutan yang telah melayani dua tujuan. Pertama: memberikan pembenaran pemerintahan Barat kepada masyarakat di negara mereka dengan tujuan melanjutkan perang atas pendudukan yang mereka lakukan dengan brutal, mendukung pemerintahan diktator di negara-negara Islam dan melestarikan gangguan mereka atas dunia Muslim atas nama pencegahan ide-ide Islam untuk bisa terwujud. Kedua: mengesahkan undang-undang anti-teror yang kejam atas komunitas Muslim dengan maksud membungkam suara penentangan atas kebijakan luar negeri Barat dan melaksanakan kebijakan kontra-terorisme yang menganggu masyarakat Muslim. Tujuannya adalah membungkam suara tidak setuju atas kebijakan luar negeri Barat dan dukungan umat Islam di Barat atas pelaksanaan syariah di negeri-negeri Muslim yang membuat pemerintahan di Barat gerah. Tujuan keseluruhannya adalah mencegah munculnya kembali Kekhilafahan Islam ideologis yang akan menantang hegemoni negara-negara kapitalis Barat atas sumberdaya dunia dan urusan global.

Namun, cerita bahwa Islam Politik adalah seperti ‘ban berjalan’ bagi terorisme telah terbukti kepalsuannya. Laporan lembaga kajian terkemuka di Inggris pada bulan April 2010 yang berjudul, “Tepi Kekerasan” (The Edge of Violence), menyatakan, “Mungkin bagi umat Islam untuk membaca teks-teks radikal sehingga mereka menjadi kuat dan vokal menentang kebijakan luar negeri Barat, meyakini hukum syariah, mengharapkan kemunculan kembali Kekhalifahan, bahkan mendukung Muslim Afganistan dan Irak untuk memerangi pasukan sekutu; sementara pada saat yang sama mereka sangat vokal dalam mengecam terorisme yang terinspirasi al-Qaeda di negara-negara Barat.”
Dalam sebuah artikel berjudul, “Syariah: Bahaya Bagi Amerika Serikat.” (Washington Times, 2010/09/14) disebutkan bahwa ada beberapa alasan penting mengapa AS berada di bawah ancaman syariah Islam. Alasannya tidak hanya karena syariah Islam hanyalah sebuah agama ruhani, tetapi karena Islam juga membawa tugas jihad dan Kekhalifahan. Jadi, mengapa Barat begitu paranoid tentang ketiga konsep itu (Syariah, Jihad dan Khilafah)?

Seseorang perlu menarik perbedaan antara masyarakat umum di Barat dan pemerintah Barat berserta lembaga-lembaga mereka. Masyarakat Barat umumnya kurang pengetahuan tentang Islam. Di sisi lain, propaganda negatif terhadap syariah, jihad dan Khilafah yang terus-menerus dijajakan oleh beberapa media Barat beserta pendirian politik telah menciptakan pandangan sama sekali palsu atas konsekuensi dari pelaksanaan syariah Islam. Mereka percaya hal itu akan menyebabkan kemunduran, ekonomi stagnan dan munculnya negara totaliter yang haus perang yang akan menundukkan kaum wanita dan kaum minoritas non-Muslim. Mereka yang mempelajari teks-teks Islam dan sejarah telah memahami bahwa persepsi ini sangat jauh dari kebenaran.
Namun, bagi pemerintahan Barat, pelaksanaan syariah, jihad dan Khilafah adalah ancaman bagi hegemoni budaya global dan hegemoni fisik mereka untuk mengamankan kepentingan ekonomi mereka. Pendirian Khilafah akan menjadi berita besar yang akan mengakhiri kontrol mutlak, eksploitasi dan campur tangan mereka di dunia Muslim. Ini berarti berakhirnya kekuasaan rezim-rezim diktator yang berkuasa saat ini di wilayah tersebut yang tunduk pada kepentingan dan perintah dari kekuatan asing daripada tulus melayani kepentingan umat Islam. Hal ini akan menimbulkan munculnya sebuah negara yang akan mencari jalur independen daripada harus bersikap tunduk pada kolonial Barat dan pendudukan serta mengakhiri penghisapan sumberdaya tanah kaum Muslim. Kemunculan negara ini (Khilafah) akan menantang negara-negara Barat karena akan menjadi pemimpin politik dan ekonomi di dunia, mencabut penderitaan dan menghapus kemiskinan yang disebabkan Kapitalisme global dan menunjukkan kepada dunia penghargaan sejati atas kehidupan manusia, keadilan dan hak-hak manusia.

Terkait terorisme, suatu istilah yang sering digunakan sebagai alasan untuk menyerang Islam, bagaimana kita harus mengatasi kelompok-kelompok Islam yang membenarkan pembunuhan orang-orang Barat di manapun mereka berada, termasuk yang tinggal di kota-kota besar di Eropa atau Amerika, dengan alasan melakukan pembalasan yang seimbang?

Harus diperjelas bahwa Islam tidak mengizinkan pembunuhan dengan target warga sipil yang tak berdosa yang dilakukan atas nama melawan penjajahan, dengan cara yang sama saat umat Islam melawan pendudukan militer demi merespon kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Negara-negara kapitalis Barat melakukan pembantaian atas ribuan nyawa yang tidak bersalah, pengeboman yang serampangan dan penghancuran seluruh kota serta penyiksaan terhadap tahanan perang yang dilakukan atas premis ideologi yang korup bahwa ‘apapun bisa dilakukan untuk mengamankan kepentingan kami‘. Sebaliknya, Islam telah mendefinisikan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam setiap aspek kehidupan, termasuk adanya aturan perang. Pemerintahan Barat telah menunjukkan pengabaian atas kehidupan manusia secara terang-terangan, menggunakan depleted uranium dan fosfor putih sebagai alat perang. Sebaliknya, Islam mewajibkan penghargaan yang tinggi bagi kesucian hidup manusia.

Bagaimana cara terbaik bagi kaum Muslim untuk mengatasi masalah terorisme?

Kaum Muslim tidak boleh menerima atau mendukung cerita palsu bahwa karena ada sebagian individu yang melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak bersalah maka Islam merupakan ancaman terbesar bagi keamanan atau stabilitas global. Sebaliknya, apa yang perlu disorot adalah bahwa tindakan tersebut hanyalah tanggapan atas penaklukan politik atau ekonomi yang dilakukan baik oleh pemerintahan Barat maupun Muslim, di samping tindakan agresi dan pendudukan tanah Muslim oleh kekuatan asing. Hal ini telah menjadi kebijakan luar negeri Barat, juga kebijakan para penguasa tiran di dunia Muslim yang menyokong mereka. Sebagai contoh, tidak ada terorisme di Pakistan sebelum pemerintahnya mendukung invasi atas Afganistan tahun 2001 yang dipimpin Inggris-AS. Banyak sumber, termasuk sebagian yang terkait dengan pemerintah Barat, yang telah menyalahkan kebijakan luar negeri Barat bagi peningkatan ancaman keamanan nasional di Barat. Pada bulan Juli tahun ini, dalam bukti-bukti yang diajukan dalam Penyelidikan Chilcot pada perang Irak, Kepala MI5 Eliza Manningham-Buller berkomentar mengenai masalah keamanan di Inggris, bahwa Perang Irak telah ‘meradikalisasi’ generasi Muslim di Inggris.
Di sisi lain, demokrasi dan Kapitalisme diklaim sebagai pembawa kebaikan. Bagaimana menurut Anda?

Perang Melawan Teror telah mengungkap wajah demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi adalah sistem yang memungkinkan adanya penculikan, penahanan rahasia dan penyiksaan untuk mengamankan kepentingan-kepentingan nasional. Sistem ini telah membuang hak asasi manusia dan prinsip-prinsip seperti habeas corpus (hak untuk diperiksa di muka hakim, penerj.), peradilan yang adil dan terbuka, supremasi hukum dan privasi individu untuk keuntungan politik. Sistem ini telah menjadi ciri penindasan dengan pelanggaran seperti di Abu Ghraib, Guantanamo, rendisi (penyerahan atas orang atau benda kepada musuh, penerj.) yang dilakukan secara luar biasa, seperti penyiksaan sadis atas Dr Aafia.

Dunia telah melihat seperti apa sebenarnya demokrasi Barat-suatu juara ketidakadilan dan pemimpin teror yang telah menebar kekacauan dan kesengsaraan di seluruh dunia serta menaburkan kematian dan perusakan atas kemanusiaan. Di negara-negara Barat, larangan niqab, jilbab dan menara mesjid, di samping serangan terhadap al-Quran, telah menggambarkan kegagalan demokrasi untuk mengakomodasi hak-hak kaum minoritas beragama.
Kapitalisme telah berjudi dengan keuangan negara, yang menyebabkan krisis ekonomi global, dan diperparah oleh kemiskinan dunia. Sistem ekonominya yang berdasarkan riba dan privatisasi sumberdaya publik telah memberi makan kaum kaya dan membuat lapar kaum miskin. Kapitalisme telah memungkinkan pasar bebas membeli rasa hormat dari diri seorang perempuan, yang memungkinkan eksploitasi tubuhnya pada iklan, hiburan dan industri seks. Semua itu ditandai dengan kebebasan berekspresi dan kepemilikan dan dilakukan atas nama mengamankan keuntungan. Kebebasan pribadi dan kebebasan seksual telah menolak budaya sopan-santun individualistik, memuaskan diri serta melahirkan perilaku yang tak bertanggung jawab yang telah menyebabkan mewabahnya kerusakan keluarga, alkoholisme, penyalahgunaan obat, perkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan penelantaran Lansia dalam masyarakat Barat. Jelas bahwa kebebasan, demokrasi dan Kapitalisme tidak pernah bisa membawa kemajuan, martabat, keadilan dan kemakmuran yang benar bagi umat manusia.

Dunia memandang demokrasi sebagai sistem politik terbaik, yang membuat orang berdaulat dan kuat, dengan ruang terbuka bagi partisipasi politik dan penguasa dapat dikontrol oleh rakyat. Bagaimana Anda melihatnya?

Sekali lagi, waktu telah menunjukkan bahwa demokrasi mewakili sistem di mana aturan adalah untuk kepentingan orang kaya daripada untuk warga biasa. Bulan April lalu, muncul laporan bahwa kesenjangan pendapatan di Inggris antara yang termiskin dan terkaya di masyarakat adalah yang terburuk sejak tahun 1960-an, dengan pendapatan orang miskin jatuh dan bahwa orang kaya meningkat. Perusahan multinasional dan elit kayalah yang berdaulat dalam demokrasi, bukan rakyat. Bisnis besar membiayai proses pemilihan, membiayai para kandidat dan banyak pihak dalam pertukaran bagi berlakunya hukum yang melayani kepentingan finansial mereka. Kita melihat bagaimana dalam kondisi krisis keuangan ini, bisnis multi-juta terselamatkan oleh pemerintah, sedangkan usaha kecil dan warga negara biasa telah meninggalkan belas kasihan pasar sehingga menderita kehancuran finansial. Selain itu, di dunia Muslim, “demokrasi” sering digunakan untuk memberikan udara legitimasi kepada rezim diktator dimana mereka yang disangka melakukan kerusakan terhadap negara dianiaya, dipenjara dan kadang-kadang bahkan dibunuh. Di banyak negara-negara seperti Pakistan dan Bangladesh, huruf “D” pada kata Demokrasi menjadi “D” pada kata Dinasti. Sebagian kecil keluarga politik berkuasa memerintah bangsa selama beberapa dekade. Label “Demokrasi” telah menekankan kembali sistem politik layanan-diri, kepentingan diri sendiri, dan pelestarian diri dari dari para politisi korup daripada tulus melayani masyarakat.

Bisakah Anda menjelaskan sejauh mana sistem Islam di bawah naungan Khilafah bisa mewujudkan kemajuan ekonomi dan stabilitas politik dunia?

Berbeda dengan ideologi kapitalis yang mengejar laba, sistem Islam diterapkan oleh Khilafah didasarkan pada ketulusan untuk menjaga kebutuhan warganya dan peduli bagi kesejahteraan umat manusia. Sistem ini akan berdiri sebagai penghalang dan penantang global terhadap kebijakan luar negeri kolonial yang eksploitatif dari negara-negara kapitalis Barat yang telah menebarkan ketidakstabilan dan ketidakamanan di seluruh dunia. Sistem ini akan menghapus semua belenggu penjajahan dan pendudukan dari negeri-negeri Muslim dan menerapkan hukum Islam yang konsisten dengan kepercayaan rakyat daripada pemaksaan budaya impor yang asing yang telah menyebabkan kemarahan di kawasan ini. Selain itu, Khilafah-dengan kewenangan ada di tangan rakyat-memiliki penguasa terpilih, penegakan hukum, peradilan yang independen serta akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintahan dan akan menjadi kekuatan stabilisasi untuk kaum muslim dunia. Sistem ini akan menggantikan pemerintahan yang tidak representatif dan tidak akuntabel. Selain itu, sistem Islam menyediakan berbagai jalur di mana individu dapat mengekspresikan kritik atau ketidakpuasan pada tindakan penguasa, menghilangkan ketidakstabilan yang disebabkan oleh penindasan brutal karena perbedaan pendapat politik dengan rezim muslim saat ini.

Secara ekonomi, Kekhilafahan akan membebaskan dirinya dari ekonomi berbasis riba yang telah melumpuhkan baik individu maupun negara-negara dengan utang besar dan telah memaksa proporsi besar dari PDB negara-negara itu dibelanjakan untuk membayar hutang daripada diinvestasikan di bidang pendidikan dan kesehatan. Sistem ekonomi Islam didasarkan pada distribusi kekayaan yang efektif, bukan hanya produksi dan larangan penimbunan kekayaan dan akan berusaha untuk memberantas kemiskinan; bukan hanya dalam negeri, tetapi juga secara internasional. Pendapatan dari sumberdaya seperti minyak, batu bara dan gas yang dipandang sebagai milik publik menurut Islam dan dilarang diprivatisasi akan digunakan untuk meningkatkan standar hidup warga negara dan digunakan untuk mengembangkan infrastruktur negara; bukannya dijual kepada individu atau perusahaan asing di mana negara hanya sedikit meraup keuntungan mereka. Khilafah adalah sistem dengan visi besar yang akan memotong garis ketergantungan pada bantuan asing dan memanfaatkan kekayaan kolosal dan sumberdaya yang kaya dunia Muslim untuk mempromosikan kemandirian, membangun pendidikan yang berkelas dan sistem kesehatan, memberantas buta huruf dan berinvestasi pada teknologi dan penelitian. Sistem keuangannya didasarkan pada prinsip-prinsip keuangan yang sehat seperti penerapan standar emas dan perdagangan aset yang nyata daripada penerapan saham dan ekonomi yang spekulatif dan akan memberikan model teladan kemajuan ekonomi dan stabilitas yang sangat dibutuhkan dalam krisis global saat ini. [Translated by Riza]

Wednesday, December 1, 2010

Solusi Islam Mengatasi HIV/AIDS



Solusi Islam Mengatasi HIV/AIDS
Oleh Kholda Naajiyah (Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia)

Sebanyak 51 dari 100 remaja perempuan tidak lagi perawan. Itulah hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek). Rentang usia remaja yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah antara 13-18 tahun.

“Berdasar data yang kami himpun dari seratus remaja, 51 di antaranya sudah tak lagi perawan,” ujar Kepala BKKBN, Sugiri Syarief, ketika ditemui dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Minggu (28/11).

Temuan serupa terjadi di kota-kota besar lain di Indonesia. Di Surabaya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen dan Jogjakarta 37 persen. Menurut dia, data ini dikumpulkan BKKBN sepanjang kurun waktu 2010 saja. Entahlah, berapa persentasenya jika survey dilakukan di kalangan remaja laki-laki. Penulis yakin, remaja laki-laki yang sudah tidak lagi perjaka sebelum menikah, pasti lebih besar persentasenya.

INVEKSI HIV

Maraknya perilaku seks bebas, khususnya di kalangan remaja, berbanding lurus dengan infeksi HIV/AIDS. Data Kemenkes pada pertengahan 2010, di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1 persen) dan usia 30-39 tahun (30,9 persen). Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak ada di kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan IDU atau jarum suntik (40,4 persen).

Fenomena free sex di kalangan remaja, menurut dia, tak hanya menyasar pada kalangan pelajar, tapi juga jamak didapati di kelompok mahasiswa. Dari 1.660 responden mahasiswi di kota pelajar Jogjakarta, sekitar 37 persen mengaku sudah kehilangan kegadisannya. Menurut dia, di samping masalah seks pranikah, remaja dihadapkan pada dua masalah besar lainnya yang terkait dengan penularan HIV/AIDS, yakni aborsi dan penyalahgunaan narkoba.

Data Kemenkes memang menyebutkan bahwa pertumbuhan jumlah pengguna narkoba di Indonesia saat ini mencapai 3,2 juta jiwa. Sebanyak 75 persen di antaranya atau 2,5 juta jiwa adalah remaja.

Sementara tingkat kehamilan di luar nikah yang mencapai 17 persen tiap tahun, bermuara pada praktik aborsi hingga rata-rata mencapai 2,4 juta jiwa per tahun.

BOBROKNYA MORAL

Data di atas merupakan cermin, betapa sudah sedemikian bobroknya moral generasi penerus hingga tindakan yang jelas-jelas melanggar agama makin merebak. Seks bebas, aborsi dan kecanduan narkoba adalah perbuatan maksiat yang dilarang agama, namun terbukti telah menjadi gaya hidup sebagian besar remaja. Akibatnya, penyakit mematikan Aids pun menjadi ancaman generasi penerus ini.

Jumlah kasus yang terdata seperti dipaparkan di atas, tentunya belum mencerminkan keadaan sebenarnya, melainkan sebagai fenomena gunung es. Realitas di lapangan angkanya pasti jauh lebih banyak, mengingat belum semua orang dengan HIV/Aids (ODHA) terdeteksi. Di antaranya karena keengganan memeriksakan diri.

Nah, berkenaan dengan Hari AIDS Sedunia 1 Desember, tahun ini mengambil tema ‘peningkatan hak dan akses pendidikan

untuk semua guna menekan laju epidemi HIV di Indonesia menuju tercapainya tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

Pendidikan berkualitas diyakini mampu membantu generasi muda untuk membentengi diri dari berbagai macam

penyakit, termasuk HIV dan AIDS sejak usia dini. Karena itu pendidikan pencegahan

HIV dan AIDS secara berkelanjutan perlu mendapatkan prioritas sebagai bagian dari upaya

untuk mencapai target MDGs tahun 2015.

Lantas pendidikan seperti apa yang mampu mencegah penularan HIV/Aids?

PENCEGAHAN

Sejatinya, upaya pencegahan penularan HIV/Aids terus gencar dilakukan. LSM-LSM telah banyak yang memberikan edukasi kepada mereka-mereka yang rentan terkena HIV/Aids. Seperti penyuluhan pada para pelaku seks aktif, seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). Pengetahuan tentang HIV/Aids pun telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Misalnya dikemas dalam materi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan disosialisasikan ke sekolah-sekolah.

Sayang, materi penyuluhan tentang HIV/Aids untuk masyarakat umum maupun pelajar itu minus muatan moral dan agama. Bahkan faktor moral dan agama sengaja dihilangkan dan sama sekali tabu dibicarakan, karena menurut mereka, HIV/Aids sekadar fakta medis yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan moral dan agama.

Ini karena dalam pandangan mereka, tidak semua ODHA adalah para pelaku tindak amoral seperti pelaku seks bebas. Ada anak yang tertular HIV/Aids dari ibunya, atau istri baik-baik tertular dari suaminya. Jadi, dalam logika ini, memasukkan nilai-nilai moral atau agama hanya akan memvonis ODHA sebagai pelaku tindak amoral. Karena itu ODHA dibela habis-habisan. Bahkan sengaja dibaurkan dengan masyarakat sehat, sehingga upaya pencegahan penularan HIV menjadi tak ada artinya.

Padahal, akar munculnya penyakit HIV/Aids memang terkait dengan perilaku sosial yang erat kaitannya dengan moral. Sebab jika ditelusuri, munculnya HIV/Aids terjadi karena aktivitas sosial yang menyimpang dari tuntunan agama.

Ingat, virus mengerikan ini pertama kali ditemukan tahun 1978 di San Fransisco Amerika Serikat pada kalangan homoseksual, suatu perilaku yang ditentang dalam agama manapun. Di Indonesia kasus HIV/AIDS ini pertama kali ditemukan pada turis asing di Bali tahun 1981. Kita tahu, bagaimana perilaku seks turis asing, meski tak semuanya memang penganut seks bebas. Karena itu, minusnya muatan agama dalam kurikulum penyuluhan HIV/Aids dipastikan tidak akan membuat upaya pencegahan penyebaran HIV/Aids efektif. Bahkan, bisa dibilang sia-sia. Buktinya, makin gencar pencegahan HIV, makin meluas penularannya.

SOLUSI SEMU

Sementara itu, gagasan pencegahan HIV/Aids yang bersumber dari UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Syndrome) dan WHO melalui PBB juga tampak tidak mengakar.

Dalam kampanye pencegahan HIV/Aids, ada istilah ABCD. Ringkasnya, A=Abstinence alias jangan berhubungan seks; B=Be faithfull alias setialah pada pasangan, C=Condom alias pakailah kondom, atau D=no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika.

Solusi yang ditawarkan tampaknya bagus. Namun, pada realitasnya program kondomisasi lebih menonjol. Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan komdom sama saja dengan menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagi-bagikan di lokasi-lokasi prostitusi, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya transaksi seks. Apa namanya kalau bukan menganjurkan seks bebas?

Selanjutnya, karena penularan HIV/Aids banyak terjadi pada pengguna narkoba terutama suntik, maka untuk mencegah penggunaan narkoba, para pecandunya diberi solusi dengan substitusi metadon. Metadon adalah turunan dari narkoba (morfin, heroin dkk) yang mempunyai efek adiktif (nyandu) dan menyebabkan “loss control” (tidak mampu mengendalikan diri). Dengan dalih agar tidak menggunakan narkoba suntik metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut. Padahal, “loss control” dapat menyebabkan perilaku seks bebas sebagai transmisi utama penularan virus HIV/AIDS.

Lebih ironis lagi adalah legalisasi penggunaan jarum suntik pada pecandu narkoba, dengan dalih agar tidak terjadi penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. Padahal, langkah ini justru akan melestarikan penggunaan narkoba suntik. Siapa yang bisa menjamin jarum suntik akan digunakan sendiri? Sebab, fakta menunjukkan pengguna narkoba biasanya hidup berkelompok.

Jelaslah, solusi ala PBB itu tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas, namun justru melestarikannya. Jangan heran jika virus HIV/AIDS ini makin merajalela. Buktinya, tiap tahun angkanya meningkat. Sampai-sampai ada kecurigaan segelintir kalangan, bahwa HIV/Aids sengaja dipelihara sebagai upaya genocide terselubung etnis tertentu (baca: umat Islam).

SOLUSI ISLAM

Media utama penulatan HIV/AIDS adalah seks bebas. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas itu sendiri. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan Islam yang menyeluruh dan komprehensif, dimana setiap individu muslim dipahamkan untuk kembali terikat pada hukum-hukum Islam dalam interaksi sosial (nizhom ijtima’i/aturan sosial).

Seperti larangan mendekati zina dan berzina itu sendiri, larangan khalwat (beruda-duaan laki perempuan bukan mahram, seperti pacaran), larangan ikhtilat (campur baur laki perempuan), selalu menutup aurat, memalingkan pandangan dari aurat, larangan masuk rumah tanpa izin, larangan bercumbu di depan umum, dll. Sementara itu, kepada pelaku seks bebas, segera jatuhi hukuman setimpal agar jera dan tidak ditiru masyarakat umumnya. Misal pezina dirajam, pelaku aborsi dipenjara, dll.

Di sisi lain, seks bebas muncul karena maraknya rangsangan-rangsangan syahwat. Untuk itu, segala rangsangan menuju seks bebas harus dihapuskan. Negara wajib melarang pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya. Industri hiburan yang menjajakan pornografi dan pornoaksi harus ditutup. Semua harus dikenakan sanksi. Pelaku pornografi dan pornoaksi harus dihukum berat, termasuk perilaku menyimpang seperti homoseksual.

Sementara itu, kepada penderita HIV/Aids, negara harus melakukan pendataan konkret. Negara bisa memaksa pihak-pihak yang dicurigai rentan terinveksi HOV/Aids untuk diperiksa darahnya. Selanjutnya penderita dikarantina, dipisahkan dari interaksi dengan masyarakat umum. Karantina dimaksudkan bukan bentuk diskriminasi, karena negara wajib menjamin hak-hak hidupnya. Bahkan negara wajib menggratiskan biaya pengobatannya, memberinya santunan selama dikarantina, diberikan akses pendidikan, peribadatan, dan keterampilan.

Di sisi lain, negara wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk membiayai penelitian guna menemukan obat HIV/Aids. Dengan demikian, diharapkan penderita bisa disembuhkan.

KHATIMAH

Demikianlah, pencegahan seks bebas ini bisa efektif jika masyarakat dididik dan dipahamkan kembali untuk berpegang teguh pada ajaran agama. Masyarakat yang paham bahwa hubungan seks adalah sakral dan hanya bisa dilakukan dengan pasangan sah melalui pernikahan akan membentuk kehidupan sosial yang sehat.(*)

Hijrah dari Sistem Jahiliah ke Sistem Islam



Hijrah dari Sistem Jahiliah ke Sistem Islam

Tak terasa, kita kembali bertemu dengan awal tahun baru hijrah. Kali ini kita mengakhiri tahun 1431 H dan memasuki tahun 1432 Hijrah.
Hijrah, yakni peristiwa hijrah Baginda Nabi saw. dari Makkah ke Madinah, adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan kaum Muslim. Hijrah adalah peristiwa paling menentukan bagi tegaknya Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem dalam intitusi negara ketika itu, yakni Daulah Islamiyah.
Kini, sejak keruntuhan Daulah Islamiyah yang terakhir, yakni Khilafah Utsmaniyah tahun 1924 lalu, dan sejak itu kaum Muslim kembali berada dalam kungkungan ideologi dan sistem Jahiliah, tentu hijrah saat ini bukan saja masih relevan, tetapi sebuah keniscayaan. Sebab, melalui hijrahlah kaum Muslim memungkinkan untuk: meninggalkan kekufuran dan dominasi orang-orang kafir menuju iman dan kekuasaan Islam; meninggalkan darul kufur menuju Darul Islam; meninggalkan sistem Jahiliah menuju ideologi dan sistem syariah; serta meninggalkan kekalahan menuju kemenangan dan kemuliaan Islam.
Makna Hijrah
Hijrah secara bahasa berasal dari kata hajara yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Ash-Shihhah fi al-Lughah, II/243,Lisan al-‘Arab, V/250; Al-Qamus Al-Muhith, I/637). Para fukaha lalu mendefinisikan hijrahsebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam).
Lalu bagaimana kita mengamalkan kembali hijrah pada saat ini? Pasalnya, sejak keruntuhan Daulah Islamiyah yang terakhir (Khilafah Utsmaniyah) pada tahun 1924, saat ini tak ada satu pun negeri di seluruh dunia yang menerapkan sistem Islam atau menerapkan syariah Islam secara total dalam sebuah institusi negara. Dengan kata lain, saat ini tak ada yang namanya Darul Islam, karena seluruhnya adalah darul kufur, termasuk negeri-negeri Islam. Sebab, meski mayoritas penduduk di negeri-negeri Islam adalah Muslim, negeri-negeri tersebut tidak menerapkan syariah Islam (kecuali sebagian kecil) dan kekuasaannya pun secara real tidak di tangan kaum Muslim. Jika demikian, tentu menjadi kewajiban seluruh umat Islam untuk mewujudkan Darul Islam itu, yakni dalam wujud Daulah Islam atau Khilafah Islam. Hanya dengan mewujudkan kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamlah pengamalan kembali makna hijrah bisa dilaksanakan. Jika tidak, umat Islam, sebagaimana saat ini, tentu tak akan pernah dapat lepas dari kungkungan ideologi dan sistem Jahiliah-yang saat ini direpresentasikan oleh Kapitalisme-sekular maupun Sosialisme-komunis-yang justru wajib ditinggalkan, untuk segera menuju kehidupan masyarakat baru yang hanya diatur oleh ideologi dan sistem Islam.
Masyarakat Sebelum Hijrah
Masyarakat Arab sebelum Rasulullah saw. hijrah adalah masyarakat Jahiliah. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah aspek. Pertama: aspek akidah. Akidah masyarakat Arab saat itu penuh dengan kemusyrikan. Memang, kebanyakan orang-orang Arab saat itu berkeyakinan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, sebagaimana hal itu digambarkan al-Quran (Lihat: QS Luqman: 25). Namun, dalam praktiknya, mereka membuat berbagai perantara untuk menyembah Allah. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat dan menganggap para malaikat itu adalah putra perempuan Allah. Ada yang menyembah jin dan ruh terdahulu. Ada juga yang menyembah binatang, menyembah berhala. ‘Amr bin Lubayyi, penguasa Ka’bah saat itu, menaruh sebuah berhala dari batu akik yang sangat terkenal dengan nama “Hubal“.
Kedua: aspek sosial. Kehidupan sosial Makkah saat itu dicirikan dengan kebobrokan moral yang luar biasa. Rata-rata dari mereka adalah peminum arak, tukang mabuk. Pelacuran dan perzinaan di Jazirah Arab saat itu adalah hal biasa. Pencurian, pembegalan dan perampokan juga menyeruak di mana-mana. Kekejaman dan kebiadaban bangsa Arab saat itu bahkan sampai melampau batas kemanusiaan. Anak-anak perempuan yang baru lahir dibenamkan hidup-hidup ke dalam tanah, sebagaimana hal ini pun digambarkan dalam al-Quran (Lihat: QS at-Takwir: 8-9).
Ketiga: aspek ekonomi. Di bidang ekonomi bangsa Arab sebelum Rasulullah saw. adalah kebanyakan berdagang/berniaga. Bisnis yang mereka lakukan saat itu sangat kental dengan riba. Bahkan pinjaman dengan cara riba yang berlipat ganda (riba fadl) telah menjadi tradisi mereka sehingga tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.
Keempat: aspek politik. Secara politis bangsa Arab saat itu bukanlah bangsa yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Dua negara adidaya saat itu, Persia dan Kristen Byzantium, sama sekali tidak melihat Arab sebagai sebuah kekuatan politik yang patut diperhitungkan.
Masyarakat Pasca Hijrah
Jujur harus dinyatakan, bahwa setelah Rasulullah saw. berhijrah dari Makkah ke Madinah, kemudian beliau membangun Daulah Islamiyah di sana, keadaan masyarakat Arab pasca hijrah berubah total. Daulah Islamiyah (Negara Islam) yang dibangun Baginda Nabi saw. di Madinah berhasil menciptakan masyarakat Islam, dari sebelumnya masyarakat Jahiliah.
Faktanya, masyarakat Madinah bentukan Baginda Nabi saw.-melalui institusi negara yang beliau dirikan, yakni Daulah Islamiyah, dimana di tengah-tengah mereka diterapkan ideologi dan sistem Islam, yakni akidah dan syariah Islam-adalah masyarakat yang benar-benar berbeda karakternya dengan masyarakat Arab Jahiliah sebelum Hijrah. Pertama: dari sisi akidah. Yang dominan saat itu adalah akidah Islam. Bahkan akidah Islam menjadi satu-satunya asas negara dan masyarakat. Karena itu, meski saat itu terdapat kaum Yahudi dan Nasrani, aturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara keseluruhan adalah aturan (syariah) Islam.
Kedua: dari sisi sosial. Kehidupan sosial saat itu penuh dengan kedamaian dan ketenteraman serta jauh dari berbagai ragam kemaksiatan. Perjudian diperangi. Perzinaan diberantas. Segala bentuk kemaksiatan dan kriminalitas dibabat habis melalui penegakkan hukum Islam yang tegas.
Ketiga: dari sisi ekonomi. Saat itu ekonomi berbasis riba benar-benar dihapus. Penipuan dan berbagai kecurangan diberantas. Sebaliknya, cara-cara yang diakui syariah dalam meraih kekayaan dibuka seluas-luasnya.
Keempat: dari sisi politik. Jujur harus diakui, pasca Hijrahlah sesungguhnya Islam dan kaum Muslim benar-benar mulai diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Daulah Islamiyah yang dibangun Baginda Nabi saw. benar-benar disegani, bahkan ditakuti oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim. Bahkan sejarah telah membuktikan, pada akhirnya dua negara adidaya saat itu, Persia dan Byzantium, dapat ditaklukan oleh Daulah Islamiyah melalui jihad fi sabilillah. Dengan jihad yang dilancarkan oleh Daulah Islamiyah itulah hidayah Islam makin tersebar dan kekuasan Islam makin meluas.
Refleksi Hijrah Saat Ini
Masyarakat saat ini sebenarnya sangat mirip dengan masyarakat Jahiliah sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Wajar jika sebagian ulama menyebut kondisi sekarang sebagai “Jahiliah Modern”. Kondisi akidah/ideologi, sosial, ekonomi dan politik saat ini-yang berada dalam kungkungan ideologi Kapitalisme-sekular-sesungguhnya mirip dengan kondisi sebelum Rasulullah hijrah. Dari sisi akidah, berbagai kemusyrikan dan ragam aliran sesat terus bermunculan. Dari sisi sosial, kebejatan moral (maraknya perzinaan, pornografi-pornoaksi, dll), tindakan kriminal (pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, perjudian, narkoba, dll) terus menyeruak. Dari sisi ekonomi, riba masih menjadi basis kegiatan ekonomi; demikian pula banyaknya transaksi-transaksi batil lainnya. Bahkan dalam hal riba, negara adalah pelaku utamanya dengan terus menumpuk utang luar negeri berbunga tinggi. Di bidang politik, jelas negeri-negeri kaum Muslim, termasuk negeri ini, tidak pernah diperhitungkan oleh negara-negara lain; kecuali sebagai obyek penjajahan negara-negara kapitalis dalam berbagai bidang.
Karena itu, saat ini sebetulnya kaum Muslim, bahkan dunia, memerlukan tatanan baru, yakni tananan yang dibangun berdasarkan ideologi dan sistem Islam. Saat ini kita semua perlu membentuk kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islam, yang akan mampu mewujudkan kembali masyarakat Islam, sebagaimana masyarakat yang dibangun Baginda Nabi saw. pasca Hijrah. Khilafah pula yang akan mengantarkan umat ini meraih kembali kemuliaan dan kejayaannya, sebagaimana pada masa lalu. Khilafah pula yang akan menjadikan dunia ini bisa hidup dalam keamanan, kedamaian, kemakmuran, keadailan, kesejahteraan dan keberkahan.
Jelas, setelah ideologi Sosialisme-komunis runtuh, dan ideologi Kapitalisme yang mendominasi dunia saat ini terbukti rapuh-beberapa kali mengalami kebangkrutan, selain menciptakan berbagai malapetaka kemanusiaan dan gagal mewujudkan sebuah peradaban dunia yang agung dan mulia-maka selayaknya dunia berharap hanya pada ideologi dan sistem Islam, yang diterapkan oleh institusi Khilafah Islam. Khilafah Islamlah yang akan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan sekaligus menyebarluaskan hidayah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Benarlah sabda Baginda Nabi saw. yang memberikan kabar gembira kepada kita hakikat ini:
إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا
Sungguh, Allah telah memperlihatkan kepadaku bumi ini, lalu aku melihat bagian timur dan baratnya. Sungguh, kerajaan umatku akan mencapai seluruh bagian bumi yang telah ditampakkan kepadaku itu (HR Muslim).
Alhasil, marilah kita segera berhijrah: dari sistem Jahiliah saat ini ke sistem Islam. Caranya adalah dengan menegakkan kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islam. Hanya dengan itulah makna hijrah secara hakiki bisa kita amalkan. Wallahu a’lam. []

Komentar al-islam:
BKKBN: 51 Persen Remaja Jabodetabek Lakukan Seks Pranikah (Hidayatullah.com, 28/11/2010).
Na’udzu billah! Inilah bukti lain akibat negara enggan menerapkan syariah Islam.

Beli Rumah Tanpa Modal Malah dapat Penghasilan





Sudahkah Anda memiliki rumah sendiri?
Kami akan membantu Anda untuk mendapatkan rumah sendiri
TANPA MODAL, dan bahkan akan memberikan tambahan
pendapatan setiap bulan.

Teknik ini merupakan rangkuman dari berbagai seminar dan
disempurnakan dengan pengalaman kami dan
member member kami selama ini.

Oke, silahkan kunjungi website :
http://www.Beli-Rumah.net/?id=faqihsyarif

Tuesday, November 30, 2010

Waktu adalah "nyawa bagi kita"



Waktu adalah “nyawa bagi kita”

Waktu adalah harta termahal yang kita miliki di dunia.Meski begitu,kita begitu lihai menyia-nyiakannya, membunuhnya,meremehkannya.Tanpa disadari, ternyata kita sejatinya sedang membunuh diri-diri kita. Karena "Waktu adalah kehidupan".


Sobat, semua peradaban manusia berusaha menegaskan pentingnya waktu . Para filosof dan ahli hikmah memperingatkan bahaya dari meremehkan dan menyia-nyiakan waktu. Dalam agama islam sendiri, Rasulullah Saw sangat menegaskan bahaya dari menyia-nyiakan waktu dalam sabdanya:

” Dua nikmat yang sering melenakan kebanyakan manusia: Kesehatan dan waktu luang.”

Maksudnya, ada dua nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia, tetapi mereka tidak memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.Keduanya adalah kesehatan dan waktu. Orang yang berakal tidak akan menghambur-hamburkan atau menyia-nyiakan waktunya. Sebab, dengan begitu sejatinya ia sedang membunuh hidupnya. Seorang ulama besar Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, ”Wahai anak adam! Engkau ibarat berjalannya hari.Apabila satu harimu hilang, maka hilang pula sebagian hidupmu.” Orang yang berakal adalah orang yang menggunakan waktunya dengan teratur dan ideal. Ia tidak mengizinkan hal-hal sepele menyibukkan dan menggoda dirinya.

Apabila waktu adalah faktor utama manusia, lalu kenapa kebanyakan waktu manusia hilang tidak bermakna? Sobat, dengan melihat realita kehidupan manusia, kita temukan ternyata ada dua faktor yang sangat berpengaruh pada diri manusia dan mendorong mereka untuk menghambur-hamburkan waktu. Keduanya adalah nilai-nilai diri dan kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tua kita dan lingkungan kita.

Keluarga yang menanamkan pada diri anak-anaknya bagaimana menata prioritas, bagaimana cara terbaik berinteraksi dengan waktu, dan keluarga tersebut senatiasa berinteraksi dengan waktu secara teratur, tertata, dan tidak menghambur-hamburkannya,niscaya perasaan menghargai pentingnya waktu akan tumbuh pada diri anak-anak.Mereka cenderung tidak meremehkan dan menyia-nyiakan waktu. Sebaliknya, keluarga yang berinteraksi dengan serampangan dan tidak meperhatikan ’jarum jam’ akan menanamkan pada diri anaknya kecenderungan menyia-nyiakan waktu, bahkan akan membunuh nilai hakiki dari waktu mereka.

Demikian juga apabila anggota keluarga,tetangga, media informasi, atau ringkasnya masyarakat di mana kita tinggal tidak meyakini pentingnya waktu, niscaya akan menumbuhkan orang-orang yang tidak disiplin dalam berinteraksi dengan waktu.
Saya ingin sampaikan dan selalu ingin saya katakan, bahwa hanya orang-orang yang berusaha menghadang pikiran negatif, melawan dan menantangnya, dan berkomitmen untuk belajar serta menerapkan manajemen waktu yang mampu membunuhnya dan menghancurkannya.

Sobat, untuk mengasah semangat kita dan menjadikan kita seorang pemimpin yang baik bagi waktu kita, maka perhatikan hal-hal berikut :
1. Putuskan diri kita untuk menjadi manajer hebat bagi waktu kita, bukan menunda-menunda, mengundur-ngundur, dan membuang-buang waktu.
2. Kabari orang sekeliling kita dengan kehendak kita dan mintalah mereka membantu kita.
3. Visualisasikan di dalam otak kita, gambar diri kita setelah kita mampu mengendalikan waktu dan berinteraksi dengannya secara tepat dan profesional.
4. Buatlah jadwal tugas-tugas diri kita dan jadikanlah hal itu sebagai gaya hidup keseharian kita.
5. Tidurlah lebih awal dan bangunlah lebih awal dari waktu biasanya. Akal batin itu akan lebih cepat sadar di waktu pagi hari.
6. Sebelum memulai sesuatu, siapkan semua yang kita butuhkan untuk mengerjakan langkah tersebut, misalnya komputer, bolpin, penggaris,map, dan sebagainya. Hal ini akan menjauhkan kita dari buyarnya pikiran dan hilangnya waktu untuk mencari dan menyeleksi hal-hal yang hilang dan sepele.
7. Bagilah rencana besar kita menjadi rencana –rencana kecil. Kemudian lakukanlah satu demi satu, sehingga ia benar-benar tuntas.
8. Gunakan strategi sepuluh menit! Bila kita memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi kita tergoda untuk menunda dan mengakhiri, maka istirahatlah sebentar, lalu mulailah melakukan pekerjaan tersebut selama 10 menit saja. Apabila kita tergoda lagi, lakukan hal yang sama seperti itu lagi. Maka kita akan dapat menyelesaikan masalah beratnya untuk memulai pekerjaan yang memang berat. Memulai sesuatu yang jauh dan berat memang sangat membosankan.
9. Gunakan kekuatan ”pemograman diri”. Setiap hari tegaskan pada diri kita bahwa kita adalah manajer waktu yang hebat. Pengulangan kata-kata positif tersebut lebih dari satu kali akan membuat akal bawah sadar kita membantu mewujudkan apa yang kita kehendaki.
10. Gunakan rumus 21 hari. Kita berlatih diri membiasakan menata waktu untuk 21 hari ( pemograman diri, strategi 10 hari, dan gunakan daftar prioritas). Gunakan hal itu dengan teratur dan cermat selama 21 hari berturut-turut.

Sobat, berinteraksilah dengan waktu kita secara profesional.Tegaskan pada diri kita, bila kita mampu mengendalikan hidup dan hari-hari emergency kita! Belajarlah dan pintarkan diri kita dengan keterampilan menata waktu dan terapkanlah apa yang kita pelajari.
Waktu adalah harta yang paling berharga yang kita miliki. Modal terbesar yang dapat kita investasikan. Ia adalah hidup kita dan dunia kita. Ia masa kini dan masa depan kita.
Singkatnya sobat, jika kita menyia-nyiakannya maka kita sedang menyia-nyiakan hidup kita, larut dalam mimpi dan harapan kita.
Jika kita ingin berprestasi maka bertindaklah seolah-olah kita memiliki prestasi itu!
Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, S.Sos.I, M.Si, Penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah Kekuatan Spirit Tanpa Batas, www.fikrulmustanir.blogspot.com , email mumtaz.oke@gmail.com )

Monday, November 22, 2010

Membangun Percaya Diri Agar Tidak Minder ”Kekuranganku adalah kelebihanku”




Membangun Percaya Diri Agar Tidak Minder
”Kekuranganku adalah kelebihanku”

Sobat, beberapa waktu lalu saya di bel keponakanku, ” Om, ndak ada acara dalam dua minggu ke depan, bisa antar kami 1 kelas liburan dan perpisahan kelas di Jatim Park Batu Malang.karena pihak sekolah tidak ada yang mendampingi karena ada raker kepala sekolah dan para guru.Pembina Osis minta ada salah satu wali murid yang mendampingi kami” ”Alhamdulillah, Om lagi kosong”, sahut saya. Kemudian kami mengajukan usul kepada keponakanku Ifah, agar tidak sekedar wisata ramai-ramai tapi ada nuansa sosialnya, khan masih ada waktu 2 minggu sebelum liburan, Kamu kumpulkan dana sosial melalui penjualan Bazar saat raportan dan menggali donatur spontanitas ke wali murid hasilnya diberikan ke panti asuhan dan sekolah luar biasa saat kita wisata. Jadi wisata kita wisata sosial mengunjungi panti asuhan, sekolah luar biasa dan kemudian melakukan outbound di Jatim Park Batu, Malang Jawa timur. Ternyata usul saya diterima oleh anak-anak bahkan ada beberapa wali murid sangat mendukung sekali dan memberikan sumbangan dana yang cukup besar untuk kegiatan tersebut.
Saat kami kunjungan ke Panti Asuhan dan SLB di daerah gedangan Sidoarjo sebelum ke Jatim Park ada peristiwa menarik dan cukup membuka mata hati dan pikiran anak-anak kelas 1-3 SMU Negeri 9 yang rata-rata mereka memiliki orang tua yang berkecukupan dan dimanjakan dengan uang dan kekayaan orang tua mereka. Kedatangan kami disambut dengan penuh ceria dan mereka mengadakan acara sambutan para tamu dengan menampilkan berbagai atraksi diantaranya acara dibuka dengan duet MC yang luar biasa dimana yang satu buta dan yang satunya tuna rungu. Suara mereka begitu wibawa dan kompak padahal mereka mengalami cacat fisik. Kemudian dibuka dengan membaca lantunan ayat suci alqur’an yang dibacakan oleh siswa SLB yang tuna netra, kemudian parade seni drama tari dan puisi yang dilakukan oleh anak-anak SLB ada yang buntung kakinya, tuna netra, tuna rungu, bisu begitu meriah sekali sambutan mereka kepada kami.
Ada penggalan puisi yang membuat anak-anak SMU Negeri 9 meneteskan air mata.

” Diantara kami memang ada yang buta tapi kami tidak ingin buta mata hati kami, Diantara kami memang ada yang buntung tangan dan kaki kami tapi kami tidak ingin buntung mental kami, Diantara kami memang ada yang bisu tapi kami tidak ingin bisu untuk menyuarakan kebenaran, Diantara kami memang ada yang tuli tapi kami tidak ingin tuli terhadap nasehat dan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Kami yakin, dengan kekurangan kami ini bukan berarti Allah ingin membebani kami, bukan berarti Allah tidak sayang pada kami.Tapi yang kami rasakan bahwa Allah sangat menyayangi kami.”

Sobat, bagi anak-anak yang memiliki kekurangan secara fisik sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya, terutama dukungan kedua orang tua untuk menumbuhkan rasa percaya diri, penerimaan dirinya secara utuh dan adaptasi secara normal, dan pengembangan dirinya. Kebanyakan kita menganggap anak-anak tersebut perlu dikasihani, padahal bukan rasa iba yang dibutuhkan oleh anak-anak yang memiliki kekurangan secara fisik, melainkan penerimaan secara utuh terhadap kekurangan yang dimilikinya. Seorang Manager Perusahaan Penanaman Modal Asing di negeri ini, sebut aja namanya Mas Dudi yang mengalami penyakit epilepsi sejak kecil sampai dewasa pun sering kambuh. Ketika ditanya oleh Bunda Neno Warisman pada saat acara bagimu bunda di TVRI , Apa kunci sukses dia? Beliau menjawab dengan tanpa dia sadari keluar air matanya yang begitu deras melewati pipinya, ” Pada saat saya masih anak-anak, setiap kenaikan kelas atau ujian nilai saya tidak lebih dari angka lima bahkan seperti not lagu Do,Re,Mi kedua orang tua saya pun malu punya anak seperti saya. Karena anak-anak yang kena epilepsi akut biasanya mengalami keterbelakangan mental.” cerita Mas Dudi. ”Tapi saya bersyukur Bunda, mempunyai seorang kakek yang rela pensiun dini jadi kepala sekolah untuk mengajari saya dengan penuh kasih sayang. Sejak SD sampai lulus SMU. Usaha keras almarhum kakek menyadarkan kedua orang tua saya untuk tetap memperlakukan anaknya sebagai anak normal. Setiap mau tidur beliau senantiasa mencium kening saya dan membisikkan ke telinga saya, kamu anak hebat, kamu anak sholeh, Kakek yakin Kamu Pasti bisa! ” Lanjut Mas Dudi, Ada satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat yang sering dikatakan kepada saya, Fokuslah pada kelebihan kamu jangan fokus pada kelemahanmu.”

Sobat, semoga kisah di atas mampu menjadi inspirasi bagi kita untuk tidak menyerah dalam kehidupan ini, dan berusaha sekuat tenaga mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk berusaha setiap hari menorehkan sebuah prestasi yang menjadikan-Nya ridho dan layak mencintai serta menolong kita. Berikut ini ada beberapa tips agar tidak minder :
1. Selalu berpikir positif mengenai diri-sendiri. Upayakan untuk selalu melihat kelebihan, serta kekuatan yang dimiliki. Fokuslah pada kelebihan kita jangan fokus pada kelemahan kita.
2. Yakinlah bahwa diri kita memiliki kelebihan. Kita adalah spesial, kita adalah juara, kita pasti bisa.Allah menciptakan kita masing-masing adalah benar-benar spesial. Meyakini bahwa diri kita lebih hebat dari yang kita duga. Jika kita selalu berpikir tentang kelebihan daripada kekurangan, maka kita akan lebih percaya diri jika berhadapan dengan orang yang juga memiliki kelebihan.
3. Yakin bahwa setiap orang sudah cukup sibuk dengan dirinya masing-masing. Sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk memperhatikan kita secara detail. Maka jangan takut berbuat salah atau gagal, padahal orang lain belum tentu memperhatikan kesalahan atau kegagalan kita tersebut? Yang terpenting adalah belajar dari kesalahan dan kegagalan untuk senantiasa terus bangkit lagi.
4. Perluas wawasan dan pergaulan . Selalu belajar dan mengupdate berbagai informasi dari mana saja agar tidak ketinggalan informasi dan pengetahuan.Perluas juga pergaulan. Sering bergaul dengan orang-orang yang selalu berpikir positif, optimis dan bervalensi tinggi bisa membawa kita lebih percaya diri dan ikut mengalami perubahan ke arah yang lebih baik lagi.
5. Memiliki teladan yang positif yang bisa kita jadikan teladan dari sisi kepercayaan dirinya. Karena upaya memperbaiki diri, dapat dilakukan dengan dua hal, yaitu pengalaman pribadi dan mencontoh atau mempelajari orang-orang yang sudah sukses dalam bidang apapun yang ingin kita tekuni.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari penggalan kisah di atas untuk tetap optimis menjalani kehidupan ini.Tidaklah penting di mana kita bertempat tinggal. Karena yang terpenting adalah mengubah hidup kita dengan selalu memperbaiki diri dan berada pada jalan yang benar, yaitu jalan yang sesuai dengan petunjuk dan ajaran-Nya.
Sobat, Allah SWT. Tidak pernah mendzalimi dan berpaling dari kita, sebab kitalah yang berpaling dan mendzalimi diri kita sendiri. Ketaatan yang kita lakukan akan menyelamatkan kehidupan kita baik dunia dan akherat. Sungguh, Allah adalah dzat yang menguasai dan merajai alam.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa! Allahu Akbar !

( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H, S.Sos.I,M.Si, Penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah kekuatan spirit tanpa batas. www.fikrulmustanir.blogspot.com email mumtaz.oke@gmail.com )

Next Prev home

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co