Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Monday, September 14, 2009

Menggapai Nashrullah


MENGGAPAI NASHRULLAH

Kepastian Nashrullah

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya : Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesngguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (TQS. Al-Hajj : 40)

Ayat ini menjelaskan kepastian pertolongan Allah bagi orang yang menolong-Nya. Kepastian pertolongan Allah ini dapat dilihat dari penggunaan perangkat tauqid sebanyak dua kali, yaitu lam ibtida’ dan nun tauqid (nun bertasydid). Penggunaan perangkat tauqid ini bertujuan agar orang yang menerima informasi benar-benar yakin akan kebenaran isi berita yang disampaikan kepadanya. Apalagi ditekankan sampai dua kali penekanan. Maka semestinya tidak boleh ada keraguan sedikitpun dibenak kita bahwa Allah benar-benar akan menolong orang yang menolong-Nya.

Imam Al-Baghowi menjelaskan, bahwa menolong Allah yang dimaksud adalah menolong agama-Nya dan nabi-Nya. Sedangkan Imam Ath-Thobari menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah berjihad di jalan Allah, untuk meninggikan kalimat Allah atas ejekan musuh-musuh-Nya.

Menolong agamanya Allah berarti menolong agama Islam. Dengan kata lain mengembalikan posisi agama Islam sebagaimana mestinya. Islam sebagai pandangan hidup, Islam sebagai mabda’/ideologi yang seharusnya menjadi rujukan bagi setiap perundang-undangan di semua sektor kehidupan, baik ekonomi, politik, sosial, pendidikan, kesehatan, hubungan luar negeri, maupun sektor-sektor lainnya, tidak satupun boleh bertentangan dengan aqidah Islam. Ketika semua itu belum terlaksana, maka menolong agama Allah berarti segala aktivitas yang berupaya untuk mengembalikan kehidupan ini agar diatur oleh syariat Islam. Menolong Nabi Allah, berarti membela nabi celaan dan cercaan musuh-musuh Allah, baik berupa pembuatan kartun bergambar nabi dengan berbagai cercaannya, seperti yang telah dilakukan media massa di Denmark maupun anggota parlemen Belanda. Demikian juga menjelaskan kepada umat bahwa munculnya pengakuan nabi-nabi setelah Nabi Muhammad SAW adalah suatu kedustaan yang para pelakunya harus ditindak tegas karena melakukan penodaan terhadap aqidah Islam.

Menolong agama Allah berarti berjihad di jalan Allah untuk menjunjung tinggi kalimat Allah sebagaimana penjelasan Imam Ath-Thobari, dapat dilakukan dengan mendudukkan kembali makna jihad pada posisi yang tepat. Bukan jihad dalam pengertian bersungguh-sungguh dalam belajar, bersungguh-sungguh dalam bekerja, sebagaimana yang banyak diserukan oleh orang-orang yang tidak mengerti Islam, dan orang-orang yang takut diberi “stempel” teroris oleh musuh-musuh Islam. Padahal makna jihad yang sebenarnya adalah berperang untuk meninggikan kalimat Allah baik secara devensif, yakni jihad untuk membela hak-haknya yang dirampas oleh musuh seperti yang dilakukan oleh umat Islam yang ada di Palestina, Pakistan dan Afganistan maupun secara ofensif, yakni futuhat yang akan dilakukan setelah Daulah Khilafah berdiri.

Ada beberapa ayat yang lain yang menjelaskan keniscayaan pertolongan Allah bagi orang-orang yang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (TQS. Muhammad : 7)

Imam Ath-Thobari menjelaskan ayat ini, hai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu disebabkan karena pertolonganmu kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW, atas musuh-musuhnya dari orang-orang kafir, dan karena jihadmu bersama Rasul untuk meninggikan kalimat Allah. Inilah yang menyebabkan kamu ditolong Allah, karena kamu telah menolong Rasul-Nya dan kekasih-Nya.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Artinya : Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (TQS. Ghofir : 51)

Imam Ar-Rozi menegaskan, bahwa Allah SWT berjanji akan menolong para nabi dan rasul-Nya. Dan Allah akan menolong orang-orang yang menolong mereka dengan pertolongan yang nampak pengaruhnya baik di dunia maupun di akhirat.

Pada ayat ini, Allah juga menggunakan tauqid dengan dua perangkat tauqid, yaitu inna dan lam ibtida’. Hal ini menunjukkan bahwa khabar/informasi belum diyakini sepenuhnya sehingga harus ditekankan sebanyak dua kali, bahwa Allah pasti akan menolong para rasul-Nya dan orang-orang yang mengimaninya. Pertolongan Allah benar-benar dapat mereka rasakan dalam kehidupan di dunia ini, baik berupa kemenangan dalam menghadapi peperangan dengan orang-orang kafir, ataupun kemudahan dalam menyelesaikan persoalan kehdupan yang mereka hadapi, misalnya kekurangan air atau kekurangan makanan dll. Yang pasti mereka juga akan mendapat pertolongan Allah pada saat dibangkitkan di padang makhsyar pada hari kiamat nanti. Pada saat harta dan keluarga tidak dapat memberikan pertolongan, kecuali amalnya selama hidup di dunia serta syafaat dari rasul-Nya.

Setelah yakin akan kepastian pertolongan-Nya, Allah juga menjelaskan akan kekuatan dan keperkasaan-Nya dengan dua perangkat tauqid yang lain yaitu, inna dan lam ibtida’, agar orang yang menerima informasi yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa sesungguhnya Allah sunguh-sungguh Maha Kuat dan Maha Perkasa yang tidak akan bisa ditandingi dan dikalahkan oleh kekuatan dan keperkasaan manapun, sekalipun seluruh kekuatan yang ada di dunia ini bergabung untuk mengalahan kekuatan Allah, semua itu tidak ada artinya di hadapan Allah. Dengan demikian orang yang menolong Allah, yakni menolong agama Allah, menolong Nabi-Nya dan berperang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah, akan ditolong oleh Dzat yang memiliki kekuatan yang tiada tara yang tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan manapun yang ada di dunia sekalipun mereka semua bersekutu untuk mengalahkannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir pada potongan akhir ayat ini, bahwa Allah menyifati dirinya dengan Maha Kuat dan Pekasa. Dengan kekuatan-Nya Allah menciptakan segala sesuatu dengan taqdirnya, dan dengan keperkasaan-Nya tidak ada sesuatupun yang dapat memaksanya, tidak ada sesuatupun yang dapat mengalahkannya, tetapi segala sesuatu tunduk dan rendah dihadapannya. Dan barangsiapa ditolong oleh Dzat yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, maka orang tersebut pasti mendapat kemenangan dan semua musuhnya akan tunduk kepadanya.

Inilah rahasia kemenangan kaum muslimin terhadap musuh-musuhnya yang berlangsung berabad-abad lamanya. Kunci kemenangan itu terletak pada ketsiqohan mereka di dalam menolong agama Allah, dan kesetiaan mereka dalam menolong Rasulullah dalam kondisi senang atau susah, dalam kondisi berat maupun ringan, serta kesabaran mereka dalam berjihad melawan musuh-musuh Allah untuk menegakkan kalimat Allah agar tetap tegak muka bumi. Dalam keterbatasan biaya, kekurangan perbekalan, minimnya akomodasi dan persenjataan serta jumlah pasukan yang tidak sebanding, mereka tetap tsiqoh, tidak mundur sedikitpun. Terik matahari yang membakar kulit, perjalanan panjang berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak menyurutkan semangat mereka dalam membela agama Allah. Karena mereka telah menolong Allah, maka Allah yang Maha Kuat dan Maha Perkasa juga menolong mereka. Kekuatan mana yang mampu menghadapi kekuatan dan keperkasaan Allah ?


Penghalang Nashrullah

Dalam surah Al-Hajj ayat 40, Allah pasti menolong orang yang menolong Allah. Pada ayat 41, Allah menyifati orang-orang yang mendapat pertolongan tersebut :

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Artinya : (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan.

Kalau pada ayat tersebut Allah menunjukkan karakter orang-orang yang akan mendapat pertolongan Allah, maka sebaliknya pertolongan Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki karakter sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Karakter orang yang mendapat pertolongan Allah adalah orang-orang yang menjalankan/mengerjakan syariat Islam dan orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sedangkan orang-orang yang melanggar syariat Islam, apalagi berupaya mengganti syariat Islam dengan aturan yang lain, tentu pertolongan Allah tidak akan diberikan. Demikian juga orang-orang yang tidak mau melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, tentu tidak akan mendapatkan pertolongan Allah.

Karakter yang lain yang tidak akan mendapat pertolongan Allah adalah:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Artinya : Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan (TQS. Huud : 113)

Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan sifat orang yang tidak mendapat pertolongan Allah adalah orang yang cenderung kepada orang yang berbuat dzalim dan meridloi kedzaliman yang mereka lakukan serta tidak ada upaya untuk menghentikan kedzaliman mereka.


أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

Artinya : Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong (TQS. Al-Baqarah : 86)

Sedangkan pada surat Al-Baqarah ayat 86 ini, Allah menjelaskan karakter yang lain, yaitu orang-orang yang hanya mementingkan urusan dunia dan mengabaikan urusan akhirat. Pada ayat 85, yang termasuk kategori ini adalah orang-orang mengimani sebagian isi Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain.

Perbuatan-perbuatan melanggar syariat, tidak mau melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, cenderung kepada orang-orang yang berbuat dzalim, dan hanya mementingkan urusan dan mengesampingkan urusan akhirat, serta perbuatan-perbuatan maksiat inilah yang menghalangi turunnya nashrullah.

Maka, tepat apa yang dikatakan Umar, yang aku takuti bukan kekuatan dan banyaknya musuh. Tetapi yang aku takuti adalah perbuatan-perbuatan maksiat yang akan menghalangi datangnya nashrullah. Betapapun kekuatan musuh dan berapapun jumlah mereka tidak akan ada artinya dibandingkan pertolongan Allah yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.

Wallahu a’lam bish-showab
( www.fikrulmustanir.blogspot.com atau www.mentorplus.multiply.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co