Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Sunday, March 8, 2009

Sebuah Kemaksiatan yang kecil dapat menimbulkan kekalahan yang besar



Sebuah Kemaksiatan yang kecil dapat menimbulkan kekalahan yang besar.(Pelajaran Berharga dari Perang Uhud)
Oleh. N.Faqih Syarif H

“Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa'at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu[1] dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai[2]. di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka[3] untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (TQS. Ali Imran : 152).
[1] Yakni: urusan pelaksanaan perintah Nabi Muhammad s.a.w. karena beliau telah memerintahkan agar regu pemanah tetap bertahan pada tempat yang telah ditunjukkan oleh beliau dalam Keadaan bagaimanapun.
[2] Yakni: kemenangan dan harta rampasan.
[3] Maksudnya: kaum muslimin tidak berhasil mengalahkan mereka.

Sobat, kalau kita perhatikan dan renungkan firman Allah di atas. Q.S. Ali Imran ayat 152 ada pelajaran yang berharga ” Sedikitnya jumlah dan kelemahan kemampuan dalam menghadapi musuh, tidaklah menjadi persoalan pokok, tetapi keburukan perbuatan dan kejelekan dosa kitalah yang menghancurkan diri kita .”

Saat perang uhud, penarikan sepertiga pasukan yang dilakukan pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Sahlul tidak berpengaruh sama sekali. Jumlah pasukan yang ditarik mundur sekitar tiga ratus orang. Bahkan pada awal pertempuran, kaum muslimin menang telak, sedangkan kaum kafir mundur, diantaranya adalah Hindun binti Atabah. Namun , akhirnya kaum muslimin mengalami kekalahan. Pemicu kekalahan dalam perang uhud tersebut, hanyalah pembangkangan sebagian kecil kaum muslimin, hanya 40 puluh tentara saja. Hanya 40 Orang! Pembangkangan itu dilakukan oleh para pemanah yang menentang perintah Rasul untuk pada tempat atau posisi mereka. Sungguhpun demikian, hal itu tetap disebut sebagai pembangkangan terhadap instruksi Rasul.
Dari Peristiwa tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa sebuah kemaksiatan yang kecil dapat menimbulkan kekalahan yang besar. Ketika itu kaum muslimin kehilangan 70 sahabat pilihan. Rasulullah pun terluka, kepala dan gigi serinya patah. Selain itu Hamzah, Singa Allah terbunuh dengan mengenaskan. Lalu bagaimanakah dengan kemaksiatan kita yang tidak terhitung?
Di dalam banyak kitab Sîrah telah diriwayatkan bahwa musuh mana pun tidak sanggup bertahan lama menghadapi para Sahabat Rasulullah saw., bahkan Kerajaan Romawi sekalipun, yang saat itu merupakan sebuah ‘negara adidaya’.
Mengapa pasukan Romawi bisa dikalahkan oleh kaum Muslim? Inilah yang juga menjadi pertanyaan Heraklius, penguasa Romawi saat itu. Saat berada di Antakiah dan pasukan Romawi pulang dalam keadaan kalah menghadapi kaum Muslim, Heraklius berkata kepada pasukannya, “Celaka kalian! Jelaskan kepadaku tentang orang-orang yang berperang melawan kalian? Bukankah mereka juga manusia seperti kalian?!”
“Benar,” jawab pasukan Romawi.
“Siapa yang lebih banyak pasukannya, kalian atau mereka?”
“Kami lebih banyak pasukannya beberapa kali lipat di semua tempat.”
“Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?” Tanya Heraklius lagi.
Salah seorang tokoh Romawi berkata, “Karena mereka biasa melakukan salat malam, berpuasa pada siang hari, menepati janji, melakukan amar makruf nahi mungkar dan berlaku adil kepada sesama mereka. Sebaliknya, kita biasa minum minuman keras, berzina, melakukan keharaman, ingkar janji, merampok, menzalimi orang, memerintahkan hal-hal haram, melarang hal-hal yang diridhai Tuhan serta membuat kerusakan di muka bumi.”
Kepada tokoh itu, Heraklius berkata, “Kamu benar!” (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Marwan al-Malik, dalam kitab Al-Bidâyah (VII/15); juga oleh Ibnu Asakir).
Sebab-sebab pembawa kemenangan juga pernah dijelaskan oleh salah seorang intel Romawi yang dikirim untuk menyelidiki kondisi kaum Muslim. Usai menjalankan tugasnya, intel itu menjelaskan kondisi kaum Muslim, “Mereka adalah ‘para biarawan’ (para ahli ibadah) pada malam hari dan para pendekar ulung pada siang hari. Jika anak penguasa mereka mencuri, mereka memotong tangannya, dan jika ia berzina, mereka merajamnya, untuk menegakkan kebenaran di tengah-tengah mereka.”
Mendengar itu, atasan sang intel itu berkata, “Jika laporanmu ini benar, perut bumi (kematian, pen.) lebih baik bagiku daripada berhadapan dengan mereka di atas permukaan bumi. Aku berharap Tuhan tidak mempertemukan aku dengan mereka.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi, dalam As-Sunan al-Kubrâ, VIII/175).

Jelas, kemenangan generasi Muslim terdahulu adalah karena keteguhan mereka dalam berpegang teguh dengan agama ini. Sebaliknya, kekalahan yang mereka alami adalah karena kebalikannya.

Sobat, saat sekarang ini semakin jelas dan tirai telah terbuka, sekaligus memperlihatkan tiga hakikat, Yaitu :

1. Kejelasan Musuh : Kini terungkaplah wajah buruk dan rasismenya yang sangat tercela. Lalu slogan-slogan menghargai HAM melalui peristiwa di baghdad dan jalur Gaza adalah kebohongan besar AS, Barat dan Israel serta antek-anteknya dengan dalih menegakkan Demokrasi dan tata dunia baru.
2. Kejelasan Pertempuran : Peperangan itu terjadi antara kebaikkan dan kebathilan, kekufuran dan keimanan.Kepercayaan – setelah beredar isyarat dan pernyataan bahwa Islam adalah musuh, Islam adalah teroris- telah jatuh. Kalimat perang salib pada lisan para musuh Islam untuk menguak dan menyingkap permusuhan yang tersembunyi di dalam hati juga telah tampak jelas.
3. Kejelasan Solusi : Itulah Islam dan tidak ada solusi lain selain dan hanya Islam. Segala solusi yang bersifat duniawi, jalan diplomasi, dan slogan-slogan nasionalis telah gagal total. Kapitalisme telah diujung tanduk dan saatnya khilafah memimpin dunia.

Sobat, jika Allah menguji kita dengan kekalahan, maka merendah dan menunduklah! Mintalah kemuliaan dan kemenangan. Karena pintu kemenangan hanya dapat dibuka dengan kunci ketundukan dan kerendahan kepada Allah Swt.
” Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar[4], Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah[5]. karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” ( TQS. Ali Imran : 123 )
[4] Pertemuan dua golongan itu - antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin - terjadi dalam perang Badar. Badar nama suatu tempat yang terletak antara Mekah dengan Madinah dimana terdapat mata air.
[5] Keadaan kaum muslimin lemah karena jumlah mereka sedikit dan perlengkapan mereka kurang mencukupi.

”Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” ( TQS. At-Taubah : 25 ).
Hal lain yang juga perlu diingat adalah jika Allah hendak memuliakan dan menolong hamba-Nya, niscaya Dia akan mengujinya dahulu agar pertolongan-Nya sesuai dengan kerendahan dan ketundukan, dan doa hamba-Nya.
Pada masa pemerintahan Abdurrahman An-Nashir, Khalifah Bani Umayyah di Andalusia, langit tidak mau menurunkan hujan. Hal ini membuat semua orang cemas dan ribut. Sang Khalifah meminta semua orang untuk melakukan sholat istisqa’. Pemangku jabatan Qadhi saat itu Al-Mundzir bin Sa’id. Beberapa waktu kemudian, sang Khalifah mengirim utusan kepada sang Qadhi agar mengimami sholat Istisqa’ tersebut. Ketika utusan Khalifah mendatangi al-Mundzir, dia bertanya pada utusan itu, ” Apa yang dilakukan Khalifah saat ini? Apakah kami akan sholat istisqa’, sedangkan ia hanya duduk di singgasana dan tidak ikut? Adakah orang yang mengetahui apa yang sedang diperbuatnya.”
Utusan tersebut menjawab, Kami tidak melihat Khalifah lebih khusyuk daripada saat ini. Dia meratap, bingung, menyendiri, berpakaian paling kasar, kepala dan jenggotnya berlumuran debu, menangis dan mengakui segala dosa-dosanya, memohon kepada Allah,” Akankah Engkau siksa rakyatku karenaku? Dan Engkau adalah hakim yang Maha Adil, maka tidak akan aku lalaikan Engkau setelah hari ini.”
Wajah al-munddzir menjadi berseri-seri dan berkata, ” Wahai sang utusan, bawalah hujan dengan kedua tanganmu!- merupakan ungkapan bahwa awan mulai datang- lalu menambahkan, ”Jika raja dunia telah tunduk, maka Raja Langit akan memberikan rahmat.” Akhirnya, sebelum orang-orang beranjak dari tempat sholat, hujan turun dengan segera.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah di atas dan tetap istiqomah dalam memperjuangkan dan menegakkan syariah dan Khilafah. Allahu Akbar !!! Amin.
( www.fikrulmustanir.blogspot.com atau www.mentorplus.multiply.com Spiritual Motivator – N. Faqih Syarif H )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co