Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Sunday, March 1, 2009

Pelajaran dakwah dari Si Anak kecil yang inspiratif


Niat yang baik, caranya pun harus benar!
(Pelajaran dakwah dari Si Anak kecil yang inspiratif)

Sobat, inilah impian kita, impian banyak orang. Ketulusan niat kita, terpancar dari setiap helaan nafas kita. Ada keharmonisan antara perilaku dan tutur kata kita. Kita akan menjelma menjadi sebaik-baiknya insan. Profesi apa pun yang kita geluti, kita akan menjadi yang terbaik, yang terindah, dan melegenda!

Sobat, apa pun pekerjaan yang kita tekuni, landasilah dengan niat yang sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya, semulia-mulianya. Segala hal yang kita mulai dengan niat baik, akan berbuah kebaikan. Kebaikan itu layaknya aroma mewangi yang kita tebar, keharumannya juga kita rasakan, bahkan sampai ke jiwa kita.

Sobat, Jangan bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, bekerjalah dengan segenap jiwa raga, dengan totalitas dan kebaikan semesta. Bila ini kita lakukan maka Sang Mahakuasa akan memberi kecukupan untuk kita. Ini adalah janji-Nya.
“Let’s do the best, and God will do the rest!”

Sobat , ada kisah yang menarik mengenai seorang anak kecil yang ingin menunjukkan ayahnya ke jalan yang lurus. Ketika Adzan berkumandang, si anak kecil itu langsung datang memenuhi panggilan sholat dan berada di barisan paling depan. Bahkan berdiri tepat di belakang Imam dan berada diantara orang-orang yang umurnya sudah tua. Sang Imam sudah paham betul jika anak kecil tersebut selalu membaca “Amin” dengan sangat panjang, bersuara lantang, dan berbeda dengan yang lainnya. Suara anak kecil itu sangat khas dan tidak asing. Orang yang berada di luar masjid pun pasti mendengar dan mengenal suara itu. Sang Imam ingin sekali menasihati anak kecil tersebut, agar dia segera merendahkan suaranya.
Pada suatu hari, Sang Imam menasihati anak kecil itu, tapi dia malah menjawab, “ Aku sebenarnya sadar jika aku telah melakukan satu kesalahan, akan tetapi ketahuilah bahwa ayahku tidak mau melakukan sholat dan tidak mau dengar nasihatku. Maka dari itu, aku meninggikan suara aminku dengan tujuan agar ayahku mendengarnya dan dia menjadi ingat kepadaku. Aku berharap hati ayahku menjadi luluh dan segera bertaubat kepada Allah.” Lalu Sang Imam terharu dan kagum dengan kesungguhan si kecil tersebut dan semangatnya yang membara untuk menunjukkan ayahnya ke jalan yang lurus. Kemudian para jamaah yang ada di masjid berinisiatif untuk mendatangi ayah si kecil tersebut. Dihadapannya, mereka menceritakan perihal perilaku anaknya. Mendengar penuturan itu, Sang Ayah jadi terharu dan segera bertobat kepada Allah. Akhirnya setelah itu dia menjadi salah satu jamaah masjid yang rajin.
Ada lagi si kecil Abdurrahman, yang diajak ayahnya ke rumah teman akrab ayahnya. Sampai di rumah teman ayahnya mereka dipersilahkan masuk. Kemudian Sang Ayah bermaksud ingin menggunakan computer milik temennya tersebut. Sementara temenya pergi ke dapur untuk membuatkan teh. Ketika sang ayah beserta anak kecilnya membuka-membuka program computer, tiba-tiba secara tidak sengaja mereka membuka salah satu program computer milik teman ayahnya yang isinya berupa gambar-gambar porno. Anaknya yang masih kecil Abdurrahman, merasa terpukul dengan keberadaan gambar-gambar porno tersebut. Kemudian sang Ayah buru-buru menutup program. Dia kaget bercampur biongung, apa yang harus dikatakan kepada si kecil Abdurrahman yang sudah terlanjur kesal karena mengetahui gambar porno.
Dalam suasana keheningan saat itu, tiba-tiba si kecil yang lagi kesal sambil berkata, “ Ayah, paman bukanlah orang yang baik. “ Bukankah, Ayah sering berpesan, “jangan berteman dan bergaul kecuali dengan orang-orang yang baik.” Tapi bagaimana mungkin ayah sendiri berteman dengannya. Sekarang ayah harus janji kepadaku, setelah hari ini ayah jangan sampai berbicara lagi dengan dia.” Dengan terharu sang ayah pun mencium pipi buah hatinya. Lalu dia berkata, “Aku berjanji padamu wahai anakku. Aku tidak mau lagi mau berteman dengan oranmg-orang yang jelek perilakunya, namun aku mau kamu mengatakan kepada Dia bahwa gambar-gambar porno itu haram.
Si kecil bergegas menuju dapur menemui teman ayahnya yang sedang sibuk mempersiapkan the. Si kecil bertanya, “Wahai paman, apakah kamu mencintai Allah?” Dia menjawab, “ Ya tentu, saying.Memangnya ada orang yang tidak mencintai Allah.” Si kecil bertanya lagi, “ Apakah Paman mau jika Allah mencintaimu?” ketika pertanyaan ini terlontar dia tercengang, lalu berjongkok mendekati si kecil seraya berkata, “Wahai sayang, kenapa kamu bertanya demikian?” Si Kecil membelai dengan penuh kasih saying rambut laki-laki tersebut sambil berkata, “Wahai paman, dikomputermu terdapat gambar yang tidak disukai oleh Allah.” Mendengar kata-kata polos tersebut, dia sangat kaget, malu dan hatinya hancur. Dia tahu gambar yang dimaksud oleh si kecil. Dia segera memeluknya dan air mata pun mengucur deras dari kedua matanya. Dia sangat trenyuh dengan kalimat sederhana yang keluar dari mulut mungilnya. Kata-kata yang terangkai atas izin Allah melalui mulut seorang bocah kecil. Kata-kata yang sangat menusuk hatinya sekaligus membuka mata hatinya.lalu sang ayah datang menjumpai mereka. Kemudian si kecil berkata, “Aku dan ayahku sangat mencintaimu, kami ingin kamu bersama kami di surganya Allah .” Sontak tangisan laki-laki itu bertambah sedu. Kemudia Sang ayah mencoba mengingatkan temannya agar dia bertobat kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni segala dosa. Kemudia mereka berpamitan pulang.
Tiba-tiba pada tengah malam saudara kandung laki-laki tersebut menelpon ke rumah ayah si kecil Abdurrahman. Maka mereka segera meluncur ke rumahnya bersama si kecil Abdurrahman. Mereka kaget ternyata laki-laki itu masih menangis seperti saat mereka tinggalkan pada siang hari. Waktu itu kamarnya penuh dengan para kerabatnya yang menungguinya dengan penuh kebingungan. Ketika dia melihat si kecil Abdurrahman, dia dia buru-buru memeluknya seraya mengucapkan,” Inilah anak yang telah menyinari kehidupanku. Dialah yang menyebabkan aku mendapat hidayah.” Lalu terlihat dia ber komat-kamit membaca sesuatu. Orang-orang yang hadir saat itu bertanya-tanya,” Apa sebenarnya yang terjadi?”
Di tengah kegundahan mereka, tiba-tiba si anak kecil tersebut berkata, “Wahai ayah, paman telah membaca istighfar dan kalimat Laa ilaha illa Allah.” Sejenak kemudian laki-laki tersebut jatuh lunglai. Sungguh Dia telah wafat dalam kondisi bertobat kepada Allah lantaran si kecil Abdurrahman. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah di atas dan terus melakukan muhasabah diri, banyak bertobat semoga di akhir hayat kita khusnul khotimah. Amin
(Spiritual Motivator, N. Faqih Syarif H, www.mentorplus.multiply.com atau www.fikrulmustanir.blogspot.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co