Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, March 25, 2009

Menyambut Hidayah Allah dan pentingnya pendidikan Anak


Menyambut Hidayah Allah dan pentingnya pendidikan Anak .
“ Demi Allah, apabila Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan perantaramu maka hal itu lebih baik bagimu daripada memperoleh beberapa ekor unta merah.”
( terjemahan Hr. Bukhari)

Sobat, seringkali kita mendengar banyak orang yang berkata,” Saya sih mau sholat, mau pakai jilbab tapi, gimana ya? kata orang belum dapat hidayah.” Jadi hilayah dijadikan alasan atau dalih. Padahal hidayah itu telah diberikan oleh Allah kepada kita. Ada yang gratis dan ada yang harus diupayakan atau berjuang untuk meraihnya. Contoh yang hidayah yang gratis itu adalah kita oleh Allah diberi akal, kebutuhan jasmani, dan naluri-naluri. Sehingga kita bisa membedakan antara nasi bebek dan nasinya bebek, dengan akal pikiran kita bisa menganalisa dan membedakan mana yang baik dan yang buruk. Ketika manusia mau memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri-nalurinya maka disinilah butuh hidayah berikutnya yaitu Irsyad wal bayan berupa Al-qur’an dan As-Sunnah. Maka akal pikiran kita mempelajari dan memahaminya sehingga sebelum bertindak kita akan mengetahui mana yang halal mana yang haram. Ketika kita telah menggunakan hidayah Allah yang gratis tadi kemudian melakukan sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt baru kemudian Allah memberi hidayah berupa taufiq yaitu kemudahan dalam menjalankannya dan keistiqomahan. Jadi hidayah taufiq itu harus diperjuangkan dan diupayakan bukan menunggu dan bertopang dagu.

Ada seorang guru SD yang tidak menggunakan jilbab dan seringkali pakai baju yang ketat dan tidak menutup aurat. Suatu hari ia menulis sebuah slogan untuk disampaikan kepada muridnya dengan mengutip hadits, “ Tidak sempurna iman seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Ibu guru ini menerangkan dan memerintahkan kepada murid-muridnya agar mengaplikasikan hadits ini dalam aktivitas sehari-hari.
Seorang siswa katakan si Kecil segera pulang dan memberitahu ibunya bahwa ia butuh jilbab atau jubah besar. Ibunya mengira bahwa putrinya si Kecil akan memakai jilbab atau jubah besar ini untuk acara drama di sekolah. Maka ibunya segera membelikan jilbab untuk anaknya dan si Kecil minta dibungkus dengan rapi dan minta dibelikan sekuntum bunga mawar yang indah. Di atas bungkusan dan sekuntum bunga mawar tersebut ada surat dengan tulisan, “ “Ustadzahku tercinta, aku melihat dengan cahaya hati pada setiap waktu. Aku juga memujimu dengan pujian yang indah dan syukur. Aku sangat senang kalau ibu guru sudi memakai jilbab sepertiku. Semoga Allah Swt. Allah Yang Maha Rahman. Allah yang Maha Rahim pencipta dan pengatur alam semesta ini menempatkan kita di surga.” Pada hari kedua ibu guru ini mengenakan jilbab sehingga semakin anggun dan berwibawa. Pihak sekolah mengucapkan selamat kepada ibu guru ini yang telah memakai jilbab. Lantas ia berkata, “Jangan ucapkan selamat kepadaku, tapi ucapkan selamat kepada si Kecil yang membukakan hati saya untuk menyambut hidayah Allah Swt.”

Ada seorang anak kecil yang diajak ayahnya naik mobil ke kota. Di tengah perjalanan ayahnya menghentikan mobil di pinggir jalan untuk membeli beberapa kebutuhan di pasar. Tinggal anak kecil ini di dalam mobil. Seorang polisi lalu lintas mendatanginya dan memberitahukan bahwa ayahnya telah melanggar rambu-rambu lalu lintas karena menghentikan mobil di tempat yang salah.
Anak kecil ini bertanya kepada polisi lalu lintas itu, “Apakah Engkau menunaikan sholat shubuh dengan berjamaah?”
Polisi ini merasa malu karena pertanyaan aneh ini. Dengan malu-malu polisi ini menjawab, “ Tidak, sering aku tidak menunaikan sholat shubuh apalagi berjamaah.”
“Kalau begitu bapaklah yang melanggar aturan Allah, bukan ayahku.” Tukas si kecil dengan polosnya. Polisi tersebut menyesali tindakannya. Sejak saat itu ia bertobat dan menjalankan sholat. Anak kecil inilah yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah kepadanya dan keistiqomahannya.

Sobat, Islam tidak pernah memandang remeh anak kecil. Semenjak matahari Islam terbit di jagad raya ini, anak kecil telah memiliki posisi penting. Bukankah Ali bin Abi Thalib Ra, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud masuk Islam dan menjadi pejuang Islam serta mengemban dakwah sejak masih anak-anak.
Islam menganjurkan umatnya agar memberi perhatian lebih kepada anak kecil. Bagaimana tidak, mereka adalah cahaya di pagi hari, generasi masa depan, tonggak penopang umat, fajar yang sedang terbit dan senyuman manis. Mereka adalah bahtera yang sedang mengarungi samudera masa depan menuju pantai keamanan, ketentraman, dan kebahagiaan.
Sobat, lihatlah Al-Qur’an, bagaimana ia berbicara tentang anak dan keturunan? Bagaimana ia menunjukkan para orang tua agar memperhatikan mereka dalam urusan dunia dan akherat? Silahkan baca dan renungkan kaidah pendidikan anak dalam beberapa ayat surat Luqman dari ayat 14 – 19.
Allah juga berfirman :
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa.” ( TQS. Al-Furqan : 74 ).

Sobat, hamba-hamba Ar-Rahman adalah orang-orang mukmin yang waspada dan berambisi menjadikan anak mereka sebagai anak-anak yang sholeh. Menjadi penyejuk mata dan harta simpanan dalam kehidupan dan setelah kematian. Alangkah ruginya orang-orang yang menyia-nyiakan pendidikan putra-putri mereka.
(Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H. www.fikrulmustanir.blogspot.com atau www.mentorplus.multiply.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co