Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Sunday, February 1, 2009

Artikel atau Tulisan Peserta Mentor FM Plus


SAATNYA KITA HIJRAH

Oleh : Tri Nugraheni A.

Saudaraku tahun baru Hijriyah 1430 kita kali ini penuh dengan ironi terutama oleh saudara kita di Palestina. Serangan Genosida1 yang dilakukan tentara Israel terhadap saudara kita di Palestina sungguh mengokohkan bukti akan keponggahan mereka atas ketidak berdayaan kaum muslim untuk melindungi saudaranya di Palestina.
Padahal kita semua telah mengetahui bahwa manusia penghuni dunia saat ini 1/3 adalah muslim. Jikalau 10% saja penduduk muslim ini mengerahkan tentaranya untuk mengusir tentara Israel dari bumi palestina bukanlah sesuatu hal yang mustahil akan membuat mereka terperangah dan lari tunggang langgang dari negri Palestina dengan melihat begitu dahsyatnya kekuatan kaum muslim didunia jika mereka dapat dimobilisasi dengan cara yang benar. Tapi sayang kondisi kaum muslim didunia saat ini sedang berada pada titik klimaksnya, berjumlah banyak namun tak memiliki kekuatan sedikitpun sekedar mengusir segelintiir tentara Israel di Palestina yang merasa hebat dan ponggah dengan membantai rakyat Palestina sesuka mereka.
Belum lagi krisis finansial global yang diakibatkan oleh buruknya sistem ekonomi kapitalis telah memaksa manusia didunia untuk merasakan 'getahnya' dengan imbas PHK massal hampir merata terjadi di seluruh penjuru dunia. Pabrik-pabrik gulung tikar yang pada akhirnya menimbulkan depresi sosial massal, penyakit masyarakat serta bertambahnya kemiskinan melalui cakar -cakar lembaga moneter internasional seperti IMF dan Bank Dunia.
Tak luput dari ingatan negri muslim terbesar didunia ini pernah meraih penghargaan demokrasi yang diberikan oleh IAPAC2. Rata-rata setiap 2 hari sekali ada pemilihan umum. Ironisnya, bukan kesejahteraan yang didapat. Uang triliunan rupiah terhambur dengan sia-sia. Ada yang berpendapat inilah cost yang harus dibayar agar demokrasi bisa berjalan dengan benar. Namun yang terjadi justru sebaliknya konflik horizontal antar pendukung partai dan calon bupati/walikota/gurbenur dan presiden sering tidak bisa terhindarkan atas nama demokrasi. Sudah banyak gedung perkantoran, kendaraan, mobil bahkan nyawa melayang akibat konflik ini. Apakah ini juga disebut sebagai cost demokrasi? Jika demikian, sungguh sangat berlebihan dan terlalu mahal. Apalagi hasilnya tidak ada. Rakyat tetap saja miskin. Akhirnya, wajar jika saat ini masyarakat mulai bersikap acuh dan masa bodoh. Golput marak di mana-mana.
Terakhir liberalisme telah membahayakan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Liberalisme agama telah membuat agama menjadi hal yang sepele. Orang bebas beragama , termasuk bebas 'melecehkan' agama termasuk Islam. Muncullah ajaran-ajaran sesat dengan dalih kebebasan berkeyakinan. Muncul pula kelompok LSM yang secara tegas membela kebebasan beragama ini. mereka mendukung usaha-usaha mencemari Al-Qur'an, menggugat Rasululloh, menistakan hadist, dll. Akibatnya, umat Islam terancam akidahnya. Liberalisme perilaku telah melahirkan free sex, aborsi, pornografi dan lain-lain. Angka orang yang terkena HIV/AIDS setiap tahun meningkat tajam. Faktor utamanya adalah pergaulan bebas dan seks bebas.
Saudaraku ini sudah cukup menjadi bukti bagi kita semua untuk segera melakukan moving kepada perubahan yang dapat menyelesaikan secara tuntas seluruh persoalan kaum muslim di seluruh dunia saat ini. perubahan semacam itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan membangun kekuatan politik internasional Khilafah Islamiyah yang menyatukan seluruh potensi kaum muslim, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya, serta menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam Khilafah Islamiyah tersebut. Syariah Islam akan mampu menyelesaikan berbagai berbagai problem sosial, budaya, ekonomi, politik, hankam, pendidikan, hukum pidana, dakwah, jihad dan sebagainya. Hanya dengan cara inilah kaum muslim akan mampu mengakhiri kondisi buruknya dibawah hegemoni sistem kapitalisme global menuju kehidupan mulia dan bermartabat di bawah payung institusi global Khilafah Islamiyah. Seperti dalam Firman-Nya : ”Apakah hukum jahiliyah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Alloh bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Ma'idah [5]: 50).
Benar, hukum Allah lah yang kita pilih. Karena Allah adalah Sang Pencipta kita yang sangat mengetahui tentang seluk beluk yang diciptakan-Nya. Bukan hukum buatan manusia yang sarat nafsu dan asas manfaat.

BADAI KRISIS INI KEGAGALAN KAPITALISME
OLEH : AGUS JOSIANDI
"Bahwa urat nadi perekonomian adalah kalangan usaha itu sendiri, khususnya sektor riil, terlebih golongan UMKM yang telah terbukti daya tahannya menghadapi krisis"

Tahun2008 benar-benar merupakan bulan yang kelam bagi perekonomian global. Seperti yang kita ketahui dari media massa, baik lokal maupun internasional banyak kita dapati keruntuhan lembaga-lembaga keuangan swasta dunia, sebagai dampak dari krisis finansial AS. Katakanlah LEHMAN BROTHERS Inc di AS, sebuah korporasi perbankan swasta di Amerika, yang tumbuh besar beberapa dekade terakhir ini. Yang mana catatan historis perusahaan ini sangat fantastis, yaitu mampu bertahan di tengah guncangan perang dunia ke-II kala itu. Pun akhirnya harus mendeklarasikan ke-pailit-annya di tahun 2008 ini. Hal yang sama pun terjadi di jepang, negeri yang berjuluk macan asia karena sebagai gudangnya para pemegang modal, rupa-rupanya harus mengalami kejatuhan satu persatu raksasa finansialnya. Anjloknya indeks NIKKEI jepang tercatat terparah se-asia beberapa waktu terakhir, tentunya hal ini terjadi sebagai dampak resesi ekonomi global yang diakibatkan oleh krisis financial AS.
Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Hari pertama pembukaan lantai bursa pasca libur hari raya tanggal 6 oktober 2008 kemarin. Adalah hari yang sangat memilukan bagi investor saham di BEJ. Betapa tidak, 10% lebih dalam sehari IHSG anjlok. Tercatat beberapa saham inti IHSG mengalami penurunan yang signifikan. Sebut saja BUMI resources, anak perusahaan bakrie group ini mengalami penurunan nilai saham sebesar lebih dari 30% hari itu. Tak heran, dengan segala alas an, keeesokan harinya seluruh saham bakrie group di suspent. Tak selesai disana, tepat jum’at tanggal 10 oktober 2008, pasca penutupan Bursa Efek Indonesia sebagai bentuk antisipasi terhadap kekhawatiran pasar, nilai tukar rupiah sempat anjlok hingga melebihi angka 10 ribu rupiah, walaupun berhasil ditutup di angka 9.860 rupiah. Hal inilah yang alhirnya membuat kalang kabut para stake holder keuangan Negara kita.
Sangat mengerikan sekali jika kita mau memperhatikan lebih dalam dampak dari krisis financial Negara besar semacam AS. Disadari atau tidak, keberadaan investor asing di Negara kita sangat mempengaruhi kondisi ekonomi secara makro. Anjloknya IHSG dan nilai tujar rupiah pecan lalu ada bukti nyata hal itu. Peristiwa krisis global kali ini tentu mengingatkan kita dengan kejadian 1 dasawarsa yang lalu, yaitu krisis moneter. Kendati dampak dari krisis financial global kali ini tak berdampak separah krisis moneter 97-98, yang mana krisis kala itu mampu menyentuh hingga sector riil sekalipun. Bukan tidak mungkin efek domino dari krisis kali ini pun berdampak sama, khususnya industri-industri besar yang didominasi kepemilikan sahamnya oleh asing.
Fenomena tersebut seharusnya mampu menyadarkan kita. Ada yang slah dari system perekonomian global yang kita terapkan dewasa ini. Seperti yang telah disampaikan A. Prasetyoko, pengamat ekonomi nasional, yang mengatakan bahwa, “setiap krisis akan melahirkan masyarakat baru”. Maksud dari kalimat tersebut adaah menjelaskan bahwa, harus lahir sebuah system baru sebagai bentuk evaluasi dari permasalahan (krisis) yang terjadi sebelumnya di kalangan masyarakat. Sehingga sangat konyol jika pasca 2 kali besar melanda, tidak ada sedikitpun perubahan konsep yang sangat mendasar dari system perekonomian makro kita. Disadari atau tidak, konsep ekonomi pancasila (kerakyatan) yang cenderung condong pada kapitalisme (yang diterapkan di Negara kita saat ini) mengalami kegagalan mutlak.
Perlu ada sebuah rekonstruksi terhadap pola ekonomi kita. Seperti kita tahu bersama, banyak sekali kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah yang menguntungkan kaum kapitalis (tidak pro rakyat kecil). Padahal andai kita kaji lebih dalam, UMKM (usaha menegah kecil dan mikro), sector usaha yang didominasi masyarakat kalangan menengah kebawah. Layaknya rumput, sector inilah yang mampu bertahan dari terpaan badai krisis (baik krismon 97-98 maupun krisis financial saat ini) ketika pohon-pohon besar seperti perbankan dan industri raksasa satu persatu kolaps dan jatuh bangun. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa sampai saat ini masih banyak sekali kebijakan pemerintah yang berpihak pada pohon-pohon besar itu dengan mengorbankan rakyat kecil. Katakanlah BLBI dan BPPN yang anggarannya mencapai ratusan triliyun, sungguh sangat memberatkan APBN kita kala itu, pun hanya memeperbesar borok perekonomian kita. Andaikata dana sebesar itu disalurkan sebagai kredit lunak usaha-usaha kecil, berapa banyak UMKM yang tertolong sdan mampu berkembang hingga saat ini?, betapa mandirinya Negara kita dengan itu.

Penulis:Agus Josiandi, mahasiswa jurusan manajemen fakultas ekonomi universitas Trunojoyo bergiat di beberapa lembaga pers mahasiswa universitas trunojoyo

Its mine
Oleh. Sista Novalita
Setiap orang pasti mempunyai impiannya masing-masing, apapun itu.Karena impian, seseorang dapat lebih bersemangat atau bahkan putus asa dalam menjalani kehidupan. Semua hal itu tidak lain disebabkan bagaimana cara seseorang menyikapi impian-impian itu. Memiliki impian akan dapat menjadikan seseorang fokus untuk meraihnya dan mencapai kesuksesan atau malah terbunuh oleh impiannya sendiri.
Alangkah baiknya jika seseorang lebih positif menyikapi impiannya. Percaya Allah akan membeikan yang terbaik untuk hambanya. Fokus akan apa yang ia tuju, percaya bahwa impiannya akan bermanfaat untuk dirinya sendiri dan banyak orang, berusaha dengan senang hati, belajar dari pengalaman, menganggap kegagalan adalah suatu proses yang harus dijalani untuk mencapai kesuksesan, serta tabah menghadapi cobaan yang datang dengan ikhlas. Sehingga menjadikan impian itu hal yang membuatnya lebih bersemangat dalam menjalani kehidupan. Selalu mencoba dan terus mencoba, karena segala hal mungkin terjadi di dunia ini.Serta memiliki kemauan yang tinggi untuk menjadi orang yang lebih baik dan pandai memanfaatkan kesempatan yang ada.
Sebaliknya sikap yang negative terhadap impian akan membuat seseorang pesimis, selalu merasa bahwa segala hal tidak mungkin dilakukan, atau bahkan selalu melihat apapun yang dihadapinya adalah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan, kegagalan akan membuatnya rapuh dan jatuh, atau seringkali gagal berarti sama dengan runtuhnya dunia ini, merasa jadi orang paling malang di dunia yang selalu diliputi dengan kesialan. Lantas mencari orang lain untuk disalahkan. Alangkah ruginya jika seseorang menjadi seperti ini.
Sangat tidak menyenangkan bukan apabila kita menjadi salah satu dari orang yang merugi itu, Yang hanya biasa menangisi kegagalan dengan tersedu-sedu tanpa usaha apapun yang dilakukan untuk merubahnya. So, you must be positive thinking!! Coba syukuri apapun yang terjadi, gunakan kegagalan itu menjadi peluang untuk kita lebih berhasil dari yang lain, memiliki impian itu mudah tapi untuk mewujudkannya butuh usaha keras dan do'a.
Lihatlah ke depan, masih ada banyak hal yang bisa kita pelajari dan kerjakan dengan mudah. Asal kita mau dan bertekad untuk berusaha sekuat tenaga demi mencapai impian-impian kita. Jangan mudah menyerah, karena dengan menyerah sama saja kita menjadikan impian-impian itu berakhir di tong sampah, sangat menyedihkan.
Pecayalah, akan ada banyak cara yang muncul tiba-tiba tanpa kita duga, yang dapat membantu kita untuk mewujudkan semua impian kita. Karena di dunia ini terdapat banyak kejutan yaitu berupa nikmat dari Allah SWT semata. Karena itu dalam mewujudkan impian selain berusaha dengan keras tanpa mengenal putus asa kita juga harus berdo'a, taat, dan pasrah kepada Allah SWT, serta selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita, karena semua hal datangnya dari Allah SWT.
Pagi ini seperti biasanya, setelah sholat subuh aku keluar rumah untuk menghirup udara segar. Walaupun disekitar rumahku tidak ada pepohonan, hanya tanaman-tanaman pot berdaun hijau yang begitu asri menghiasi rumah ku dan tetangga disekitarku yang saling berdekatan. Walau sebenarnya, harus diakui sepanjang jalan perkampungan ini jadi kelihatan makin sempit karena tanaman-tanaman yang berjajar itu. Tapi tidak mengurangi keindahan dan kesegarannya saat ditetesi embun pagi,hemm… sungguh menyejukkan.
sepagi ini sudah terlihat berbagai kesibukan. Setiap orang menjalankan rutinitasnya masing-masing, ada yang sedang mencuci pakaian di dekat sumur, menyiram tanaman, memanaskan kendaraan, atau hanya sekedar berjalan-jalan sambil menggendong anaknya yang masih kecil, bahkan ada yang sudah tergesa-gesa berangkat ke kantor sepagi ini. Mudah saja melihat pemandangan seperti ini setiap harinya, maklum daerah tempat tinggalku ini tergolong perkampungan yang padat penduduknya.
Seketika muncul di benakku, kenapa ya orang tua ku mesti tinggal di tempat seperti ini. Rasanya terlalu ramai, bahkan menyebalkan melihat orang-orang yang hoby sekali bergosip alias membicarakan orang lain. Kadang hal kecil saja bisa menjadi konflik yang sangat besar. Maklum perkampungan ini benar-benar multi cultural, ada orang jawa, madura, ambon, ternate, padang, wah tidak mungkin disebutkan satu per satu, yang pasti semua orang itu memiliki kebudayaan masing-masing yang jelas sangat berbeda. Tentu hal ini akan rentan menyebabkan konflik walau tidak besar tapi menurut ku cukup menyebalkan.
Tapi tiba-tiba, hati kecil ku menasehatiku, kenapa aku jadi tidak bersyukur tinggal disini, padahal aku ada di sini bersama kedua orang tua yang sangat sayang, cinta, dan menjagaku dengan sekuat tenaga, bagaimana dengan orang-orang tuna wisma yang bertebaran di jalanan. Bukankah aku lebih beruntung dari mereka. Mengapa aku mesti lebih cenderung menatap hal negative daripada hal positif yang membuat aku banyak belajar dan bersyukur. Menjadi manusia yang tangguh, belajar dari orang-orang yang berbeda budaya, konfik-konflik yang terjadi, kerja keras mereka, solidaritas mereka sebagai orang yang bertetangga. Ya ampun, aku telah melewatkan itu semua selama ini. Ini benar-benar perjalanan berharga untukku dan bukankah Allah SAW selalu memberi hambanya yang terbaik, waktu yang tepat, tempat yang tepat, keadaan yang tepat, kesempatan yang tepat untuk aku belajar dari semuanya. Sebagai bekal ku untuk menghadapi kehidupan di luar sana yang pasti lebih keras. Mungkin pengalaman-pengalaman seperti ini tidak akan aku dapatkan jika aku tinggal di tempat lain, tidak di sini.
Astagfirullahal'azhim, maafkan aku Ya Allah, seharusnya aku lebih bisa bersyukur kepada Engkau, terima kasih telah memberikan hati ini yang selalu menyadarkanku disaat aku lupa akan nikmat yang Engkau berikan.

Sujud ala fika
Oleh. Siti Ruqoyyah

Berbicara mengenai keturunan, maka itu adalah harapan dan dambaan bagi setiap pasangan suami istri. Namun ketika kita bicara bagaimana mengasuh dan mendidik anak maka tidak semua pasangan suami istri atau orang tua memahaminya. Saya selalu bertanya-tanya, bagaimana sih mendidik anak yang baik itu? Tindakan apa yang harus dilakukan agar anak menjadi soleh..? dan sebagainya. Dari sini saya ingin menceritakan sedikit tentang bagaimana seorang bapak di sebuah desa mendidik anak-anaknya. Sebut saja bapak Ibrahim. Beliau memiliki empat orang anak, satu wanita dan tiga laki-laki. Mereka adalah Fika, Toni, Akbar dan Faisal. Bapak Ibrahim memiliki watak keras, oleh karenanya beliau sangat di takuti oleh semua anak-anaknya. Apa yang di inginkan bapak Ibrahim harus dituruti. Berbeda dengan istrinya (ibu aini) yang sangat lembut dan selalu membela anak-anaknya. Sang ibu juga kerap mengalah dan cendrung menuruti kemauan suaminya, karena beliau adalah istri yang manut pada suaminya. Bapak Ibrahim sangat marah ketika melihat anaknya tidak shalat, bangun telat, tidak disiplin, malas, dsb. Beliau memberikan jadwal kepada masing-masing anaknya, jadi setiap anak memiliki agenda harian mulai dari bangun pagi hingga mau tidur lagi. Agenda tersebut di tulis sendiri oleh setiap anak atas dektean beliau, kemudian di tempel di kamar masing-masing. Ketika ada pelanggaran, maka bapak ibrahim telah menyiapkan sanksi bagi mereka. Misalnya ,di agenda dituliskan bahwa setiap malam semuanya harus belajar kecuali hari libur, biasanya mereka belajar dengan di dampingi sang bapak. Bapak Ibrahim akan memeriksa isi tas masing-masing anak. Mulai dari PR yang di berikan guru hingga kelengkapan alat tulisnya, ketika ada satu alat tulis yang hilang, misalnya penggaris maka sang bapak akan memotong uang saku anak yang menghilangkan penggaris tersebut agar alat tulisnya tersebut di lengkapi kembali. Dalam arti sang anak harus membeli penggarisnya dengan uang sakunya sendiri. Memang tidak dipungkiri bahwa dengan didikan bapak Ibrahim tersebut sang anak lebih hati-hati, selalu waspada, disiplin dan berprestasi di sekolahnya. Namun, ada kisah lain yang sangat menarik dan kalau saya bilang agak lucu. Suatu ketika fika dan Toni pulang sekolah, siang itu bapak Ibrahim sedang tidak ada di rumah. Maka fika dan Toni langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur karena kelelahan. Dalam jadwal di tuliskan bahwa mereka tidak boleh tidur kecuali sudah melaksanakan shalat dzuhur sebelumnya. Namun, tidak demikian yang dilakukan fika dan Toni pada waktu itu. Mereka tidur sebelum shalat, hingga kemudian fika mendengar suara sepeda motor mendekati rumahnya yang menandakan bahwa sang bapak telah pulang. Maka, langsung saja fika membangunkan toni dan mengabarkan bahwa bapaknya sudah pulang dan bergegas untuk mengambil mukenah dan langsung mendirikan shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu, lucunya fika langsung melakukan gerakan sujud setelah takbir.fika bersujud sangat lama dengan rasa kekhawatiran yag sangat karena takut ketahuan sang bapak kalau dia sebenarnya tidak berwudhu, dan itu bisa dilihat dari matanya yang masih merah dan raut mukanya yang kusut. Demikian juga dengan Toni,dengan sarung dan kopiahnya dia juga melakukan aksi seperti yang di lakukan kakaknya karena fika telah mengintruksikan kepada Toni untuk segera mengambil tindakan seperti yang di lakukannya. Dengan begitu sang bapak mengira bahwa anaknya telah melakukan kewajibannya. Maka fika dan toni pun merasa lega dan berulang-ulang kali mengelus dada sambil berucap “selamet, selamet”. Dari sini dapat di lihat sisi negative dari pola didik bapak Ibrahim terhadap anaknya. Jadi, sang anak melaksanakan kewajiban bukan karena pemahamannya, melainkan karena rasa takut terhadap sang bapak, hanya karena takut di marahi bapaknya. Meskipun pada dasarnya sang bapak bermaksud mencetak generasi yang sholeh dan sukses. Bapak Ibrahim terkenal sebagai salah satu orang yang disegani di kampungnya, beliau sangat memperhatikan tetangganya, sangat disiplin, konsisten, dan agamis. Apalagi beliau adalah salah satu anggota dewan dari partai islam.Seharusnya orang tua memberikan pemahaman yang benar kepada anaknya, bukan hanya dengan tekanan2, melainkan orang tua harus menjadi teladan dan memberikan contoh yang baik terhadap anaknya. Tentunya dengan berbekal ilmu. Jadi orang tua harus memahami terlebih dahulu apa yang hendak di ajarkan atau di sampaikan kepada anaknya. Ketika orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh, maka seharusnya orang tua telah mengantongi predikat sholeh terlebih dahulu. Kasus seperti yang di alami fika ini mungkin sangat tidak asing bahkan sudah sering kita dengar. Sekarang fika sudah dewasa dan dia bisa mengambil pelajaran dari kisahnya tersebut. Fika dan Toni hanya bisa tertawa ketika mengingat peristiwa itu, begitu juga dengan yang mendengarkan ceritanya. Sekarang mereka sudah sama-sama dewasa dan tidak lagi tinggal serumah dengan orang tuanya. Mereka merasa bebas, namun sesekali ada rasa kangen dan ingin mengulang peristiwa-peristiwa yang di alaminya ketika dulu ia masih kecil. Aksi sujud mendadak yang di lakukan fika hanya sebagian kisah unik dari kisah-kisah fika yang lain. Mungkin dari sini saya hendak menyampaikan bahwa menjadi orang tua itu susah dan sudah mulai kebayang di pikiran saya bagaimana sulitnya mendidik anak. Meskipun sudah banyak cara atau panduan mendidik anak yang benar, kelihatannya sih mudah memang. Namun menurut saya akan sangat berbeda ketika pola atau panduan itu di praktekkan langsung kepada anak. Akhirnya, Saya hanya berharap bahwa akan ada manfaat yang di peroleh ketika pembaca membaca tulisan saya yang sangat jauh dari sempurna ini.

( ini beberapa tulisan mhs program mentor FM Plus www.fikrulmustanir.blogspot.com atau www.mentorplus.multiply.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co