Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, February 25, 2009

Anak Kecil yang bertransaksi dengan Allah


Anak Kecil Yang Bertransaksi dengan Allah
Wahai Orang yang memeluk dunia.
Dunia ini tidak kekal, siang dan malam penuh dengan kepalsuan dan kesia-siaan
Hendaklah kamu meninggalkan dunia yang membelenggumu,
Sehingga kamu bisa segera memeluk surga firdaus
Jika kamu mencari surga yang abadi untuk kamu jadikan tempat tinggal, maka hendaknya kamu jangan merasa aman dari panasnya api neraka


Dikisahkan oleh Syaikh Abdul Wahid bin Zabad Rahimahullah, “ Suatu hari ketika kami berada di sebuah majelis,kami memutuskan agar mempersiapkan diri untuk berperang. Saat itu aku memerintahkan kepada teman-temanku untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Kemudian dalam majelis itu ada seorang laki-laki yang membaca ayat yang berbunyi,

“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (TQS. At-Taubah :111 ).

Setelah itu ada seorang bocah remaja yang usianya sekitar 15 tahun berdiri dan menemuiku, dia telah ditinggal mati ayahnya dan meninggalkan warisan untuknya dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu dia berkata, “Wahai Syeikh Abdul Wahid, sesungguhnya aku bersaksi dihadapanmu, aku berani menjual jiwa dan hartaku dengan surga.” Dia berani mengeluarkan semua hartanya. Semua dishodaqahkannya kecuali kuda, pedang dan bekalnya. Ketika keluar menuju medan perang, dia berada di garda paling depan. Jual beli kami untung karena kami telah bertransaksi dengan Allah, kemudian kaami memulai perjalanan. Dia berjalan bersama kami dan saya lihat jika siang hari dia berpuasa dan malam harinya ia gunakan untuk bermunajat kepada Allah. Dia melayani kami dan memberi makanan hewanphewan kendaraan kami. Dia menjaga kami saat kami tidur sampai akhirnya kami sampai di kawasan musuh. Pada saat itu, tiba-tiba dia bangun dan berteriak-teriak,” Betapa aku ingin berjumpa dengan mata air keridhaan ( al-‘aina’ al- mardhiyyah).” Mendengar teriakan itu kami menghampirinya dan aku pun bertanya padanya, “Wahai kekasihku, apa itu al-‘aina’ al- mardhiyyah?”. Kemudian bocah remaja itu menjawab, “ Saat kami sedang berebahan, tiba-tiba aku melihat seakan-akan ada orang yang dating dan menyuruhku agar aku pergi menemui al-‘aina’ al-mardhiyyah. Kemudian dia membimbingku ke sebuah danau. Dan tiba-tiba benar-benar saya berada di sebuah danau yang tepinya dihiasi dengan aneka permata dan perhiasan. Keindahannya tidak bisa aku gambarkan. Lalu ada banyak bidadari yang cantik-cantik dan ketika mereka melihatku, mereka tersenyum sambil, berkata,” Ini calon suami al-‘aina’ al-mardhiyyah.” Mereka menjawab, “kami semua adalah para pelayan dan pembantunya, silahkan tuan terus berjalan ke depan sana.”
Kemudian aku berjalan ke depan, tanpa terasa tiba-tiba aku sampai di suatu danau di mana airnya berupa susu dan rasanya tidap pernah berubah. Danau tersebut berada di sebuah taman yang penuh dengan keindahan. Subhanallah. Ada banyak juga bidadari yang kecantikannya membuat aku terpesona saat aku melihat mereka. Mereka tersenyum kepadaku, mereka berkata,”Sungguh ini adalah calon suami al-‘aina’ al-mardhiyyah.” Kemudian aku berkata, “Assalamu ‘alaikunna, adakah diantara kalian termasuk al-‘aina’ al-mardhiyyah?” Mereka menjawab, “wa ‘alaika As-salam,wahai kekasih Allah, kami bukan al-‘aina’ al-mardhiyyah, kami adalah pelayan dan pembantunya, berjalanlah tuan ke depan. Kemudian aku melangkahkan kakiku lagi, tiba-tiba sampailah aku di sebuah danau yang airnya adalah Khamer, bukan seperti di dunia yang memabukkan, tapi ia memiliki rasa yang sangat lezat. Subhanallah. Di tepa danau itu juga ada sederet bidadari yang menyambutku dan menyapa dengan tersenyum. Aku ucapkan salam kepadanya dan menanyakan apakah diantara mereka ada al-‘aina’ al-mardhiyyah. Mereka menjawab dengan jawaban yang sama seperti di danau sebelumnya. “Berjalanlah Tuan terus ke depan.” Kemudian aku terus melanjutkan perjalanan dan sampailah aku di suatu tempat yang amat indah di mana aku dapatkan sebuah danau yang airnya berupa madu murni. Bidadari-bidadari yang ada di tempat itu memiliki wajah yang sangat cantik dan bercahaya dan wajahnya tidak akan bisa saya lupakan. Aku pun menyapanya dengan salam dan bertanya tentang al-‘aina’ al-mardhiyyah seperti yang sebelumnya. Mereka menjawab, “Wahai kekasih Allah, kami bukanlah al-‘aina al-mardhiyyah, kami hanyalah pelayan dan pembantunya. Berjalanlah wahai tuanku ke depan.” Akhirnya untuk kesekian kali aku berjalan menuju suatu tempat yang mereka tunjukkan sampailah aku di suatu tempat di mana ada sebuah rumah yang mungil yang bangunannya terbuat dari mutiara putih nan indah. Di depan pintunya ada seorang bidadari yang amat cantik yang memakai perhiasan yang kecantikan dan keindahannya tidak bisa aku bayangkan. Dia tersenyum menatapku, lalu dia memanggil ke dalam penghuni rumah mungil tersebut, “Wahai al-‘aina al-mardhiyyah, ini suamimu sudah dating.” Masuklah wahai tuan, Engkau telah dinanti oleh al-‘aina al-maedhiyyah. Setelah aku masuk ke dalam rumah mungil yang indah itu aku melihat seorang bidadari yang amat sangat cantik dan begitu anggun sedang duduk di atas ranjang yang berhiaskan dan berukiran emas. Dia mengenakan mahkota yang berhiaskan intan dn yaqut. Aku sangat terpesona saat menatapnya. Dia berkata, “selamat dating, Wahai Kekasih Allah, Dzat Yang Maha Pengasih. Sungguh sebentar lagi kamu akan mendatangi kami.” Lalu aku menghampiri dia dan bermaksud memeluknya. Tapi, kemudian dia berkata, “ Tunggu sebentar, kamu tidak akan bisa memelukku, karena kamu masih memiliki ruh kehidupan.” Saat itu aku tersentak kaget dan aku tidak sabar ingin bertemu dengannya sampai aku engkau bangunkan wahai abdul wahid.

Syeikh Abdul wahid melanjutkan ceritanya, “percakapan kami belum sempat tuntas, tiba-tiba datang segerombolan prajurit musuh yang menyerang kami dan segera anak muda tersebut menyambut kedatangan mereka dengan gagah berani dan lincah menyabetkan pedangnya ke sana ke mari dan akhirnya dia bisa merobohkan 9 orang musuh terbunuh di tangannya. Kami berhasil mengalahkan dan mengusir mereka. Setelah itu kami mendengar teriakkan lirih tapi sangat jelas di telinga kami “al-‘aina’ al-mardhiyyah.” Aku mendekati dan menuju ke arah suara itu ternyata saya dapati seorang anak muda tersebut yang bersimbah darah. Dia tersenyum lebar sambil berkata.” Wahai Abdul Wahid , al-‘aina’ al-mardhiyyah telah benar-benar menjemputku, Subhanallah.” Akhirnya dia pun meninggal dunia sebagai syuhada’ Allah. Dia telah benar-benar bertransaksi dengan Allah. Semoga Allah meridhoinya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah ini dan menjadi orang-orang yang benar-benar bertransaksi dengan Allah. Dengan perniagaan yang tidak akan pernah rugi dan benar-benar meraih keuntungan dengan surga-Nya. Amin.
(www.mentorplus.multiply.com , Spiritual Motivator, N. Faqih Syarif H )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co