Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Tuesday, December 2, 2008

Sukses Yang Sesungguhnya


Sukses yang sesungguhnya

Oleh: Syaiful amin

(MAhasiswa Fak. Syari'ah IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Di dunia ini siapa yang tidak ingin sukses? Siapa yang tidak ingin mempunyai ilmu dan wawasan yang luas? Siapa yang tidak ingin mempunyai rumah yang megah? Siapa yang tidak ingin makan makanan yang mewah? Siapa yang tidak ingin memiliki harta yang melimpah? Dan Siapa yang tidak ingin hidup bahagia selamanya?

Saya yakin Insyallah semua orang pasti mempunyai keinginan-keinginan tersebut. Tak terkecuali orang yang secara fisik tidak sempurna, tak terkecuali orang yang miskin, bodoh, hidup sengsara, pasti mereka mempuyai keinginan untuk sukses. Akan tetapi pertanyaannya apakah kesuksesan itu hanya diukur dari kenginan-keinginan di atas?dan apa sebenarnya sikses itu?

Banyak orang yang beranggapan bahwa ketika seseorang sudah memiliki harta yang melimpah, ilmu dan wawasan yang luas itu sudah sukses, banyak pula orng yang beranggapan bahwa ketika seseorang sudah menduduki jabatan yang tinggi, semisal jadi bupati, gubernur, preseden itu sudah sukses. Padahal kesuksesan itu tidak hanya bisa diukur dengan harta, ilmu, jabatan, atau hal-hal lain yang bersifat materi. Lantas kalu seperti itu bagaimana ukuran sukses yang sebenarnya? Rasulullah pernah bersabda “barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemaren maka ia adalah orang beruntung (sukses), barang siapa yang hari sekarang sama dengan hari kemaren maka ia adalah orang rugi, barang siapa yang hari sekarang lebih buruk dari hari kemarin maka ia adalah orang yang tertipu”. Ada tiga poin pokok yang harus digarisbawahi dalam hadist ini, yaitu: pertama, adanya perubahan ke arah yang positif. Kedua, tidak adanya perubahan sama sekali. Ketiga, adanya perubahan ke arah yang nigatif.

Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa ukuran orang yang sukses adalah orang yang termasuk poin pertma, yakni orang yang selalu melakukan perbaikan terhadap dirinya secara kontinuitas. Dan yang dimaksud perbaikan dalam hal ini mencakup dimensi lahiriah dan dimensi batiniah yang terdapat dalam diri manusia. Secara lahiriah orang yang hari kemarin bisa menabung uang sebesar 10.000 dan hari sekarang bisa menabung 20.000 maka ia telah dikatakan sukses. Sebab ia telah melakukan perbaikan. Orang yang dulunya hanya punya sepeda motor dan sekarang sudah mempunyai mobil, maka secara lahiriah juga bisa dikatakan sukse. Orang yang dulunya jadi kepala RT dan sekarang sudah bisa menjadi Bupati, maka secara lahiriah ia sudah sukses. orang yang dulunya hidup serba pas-pasan dan sekarang sudah hidup dengan kebutuhan yang serba terpenuhi, maka secara lahiriah ia adalah orang yang sukses. Sebab sudah ada perubahan yang mengarah pada hal yang lebih baik. Akan tetapi yang perlu diingat bahwa ukuran secara lahiriah saja itu adalah ukuran orang yang materialistik. Maka dari itu Islam sebagai agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia mengukur kesuksesan seseorang itu secara sempurna, yakni tidak hanya dari dimensi lahiriah melainkan juga dari dimensi batiniyah. Orang yang kaya, orang yang mempunyai jabatan tinggi, dan orang yang hidupnya serba wah, secara batiniah belum tentu dikatakan sukses, sebab kekayaan dan jabatan yang dimiliki belum tentu memberikan berkah kepada dirinya dan kepada orang lain. Orang yang kaya akan dikatakan sukses secra batiniah jika kekayaannya bermanfaat bagi orang lain, misalnya ia sering bersedaqah kepada faqir miskin, membantu yatim piatu dan para du'afa', berinfaq kepada masjid, musholla, madrasah, atau lembaga-lembaga pendidikan-sosial lainnya. orang yang menduduki jabatan yang tinggi pun akan dikatakan sukses ketika jabatanya betul-betul dijadikan media atau pelantara untuk memperbaiki keadaan sosial yang semakin hari semakin memprihatinkan. Misalnya memberantas kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan semacamnya. Akan tetapi jika jabatanya dijadikan kesempatan untuk meraup keuntungan serta mendzalimi rakyatnya dengan mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan, maka ia belum dikatan sebagai orang yang sukses.

Selain itu, kesuksesan bisa diukur dengan seberapa besar kebahagian yang dirasakan oleh seseorang, karena inti dari kesuksesan adalah kebahagiaan. Bayak kita lihat orang yang kaya tapi hidupnya tidak bahagia, banyak orang yang punya jabatan tinggi tapi justu dengan jabatan itu ia semakin sengsara. Sebaliknya, banyak kita lihat orang yang hidupnya pas-pasan tapi dia selalu merasa bahagia, banyak orang yang tidak mempunyai jabatan apa-apa tapi merasa senang. Hal ini tergantung bagaiman hati seseorang menyikapi segala apa yang telah dilimpahkan oleh Allah.

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co