Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Wednesday, December 3, 2008

Menjemput Takdir Dengan Gigih Berusaha


Menjemput Takdir Dengan Gigih Berusaha
By: Dwi Krismawati


Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S. ar-Raad:11)

Dari ayat tersebut muncul pertanyaan dalam diri kita. Apakah kita memiliki kebebasan menentukan sikap hidup kita sendiri? Bisakah kita memilih apa saja sebagai jalan kehidupan kita? Apakah kehendak kita merupakan takdir Allah?

Agus Mustofa menjawab dalam bukunya yang berjudul “Mengubah Takdir” bahwa manusia mempunyai kehendak bebas, dan bisa langsung dibuktikan. Apakah sekarang ia ingin pergi tidur? Ingin pergi belanja? Atau ingin makan? Hal ini berdasrkan surat al-Mudatstsir (74): 37-38:


Artinya: (yaitu) bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.

Kehendak bebas manusia adalah fitrah saat ia dilahirkan lewat Qadar Allah. Namun hal trsebut masih terbatas. Dengan berbekal qadar tersebut manusia menjalani takdirnya di masa depan melalui kehendak atau usahanya. Karena usaha manusia mempunyai peran penting untuk mengaplikasikan takdiranya. Sebagaimana yang terdapat dalam Q.S 53:39, Allah berfirman: “dan bahwasanya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” Dalam ayat tersebut menginterpretasikan bahwa usaha manusia memegang peranan kunci atas apa-apa yang akan diterimanya sebagai takdir di kemudian hari. Namun terbingkai dalam kendali Allah sepenuhnya melaui sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Selain itu, untuk mengaplikasikan takdir salah satunya poin penting adalah “Pantang Menyerah” atau kegigihan dan tidak mudah putus asa. Seperti kata-kata yang sering kita dengar “Mungkin ini sudah takdirmu, sudahlah mau gimana lagi”. Walaupun kadang-kadang hal tersebut digunakan sebagai peredam emosi yang berlebihan namun bila berlebihan bisa menjadikan kita putus asa. Dan Allah tidak menyukai orang yang berputus asa. Sebagaimana yang terdapat dalamsurat as-Shaffat: 60-61:

Allah memerintahkan hamba-Nya bukan menjadi hamba yang pemalas, dengan hanya menuggu pemberian-Nya yang turun dari langit. Bagaimana mungkin karunia Tuhan bisa turun bila kita tidak memintanya, dan jalan meminta itu adalah dengan jalan berusaha dengan sungguh-sungguh dengan nioat untuk ibadah mencari keridhaan-Nya.

Begitu pula dalam menentukan tujuan serta kebiasaan dalam kehidupannya sehari-hari sangat mempengaruhi keberhasilan untuk menjemput takdir Tuhan. Adapun kebiasaan-kebiasaan penunjang di antaranya:

Berusaha mencapai keunggulan.
Usaha terus-menerus dan berkesinambungan untuk meraih prestasi. Di antaranya konsisiten meningkatkan kualiatas iaman dan hhubungan pada sang khaliq, kualitas profesionalisme , spesialisasi, produksi, kapabilitas, dan efektifitas dalam bekerja serta meningkatkan kualitas dalam berhubungan positif dengan orang lain.

Menentukan tujuan: Tujuan-tujuan yang ingin dicapai harus SMART (), baik tujuan tersebut untuk jangka pendek, menengah, maupun untuk jangka panjang.
Membuat rencana. Rencana yang dimaksud di sini adalah menetapkan tujuan-tujuan hidup dalam progam kerja dengan memberikan target waktu untuk melaksanakannya.
Menyusun prioritas. Untuk semua tujuan yang telah kita daftar, pasti ada tujuan yang terpenting, atau yang lebih dulu harus dikerjakan. Sehingga dalam prioritas ini adalah mana pekerjaan, tugas-tugas, dan kewajiban-kewajiban untuk pertama yang harus dilakukan.
Fokus terhadap tugas dan tanggung jwab serta langsung dikerjakan.
Menejemen waktu. Setiap waktu yang diberikan Tuhan hendaknya dimanfaatkan untuk sebaik-baiknya agar kita tidak merugi di kemudian hari. Karena Allah sendiri telah bersumpah demi waktu dalam surat al-'Ashr sebagai berikut:

Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Berjuang melawan diri sendiri. Yaitu: menundukkan ego, menundukkan nafsu, serta siap menghadapi semua resiko. Serta teguh dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai mulia yang kita pegang.
Kepiawaian berkomunikasi. Yaitu: memberikan pengaruh positif terhadap orang lain. Tentunya seseorang untuk memberikan pengaruh positif tersebut haruslah mempunyai sifat dan akhlak-akhlak yang mulia.
Berpikir positif; optimis, menyalurkan energi positif, selalu berprasangka baik terhadap Allah dan manusia. Apalagi terhadap takdirnya, bahwa pada hakikatnya manusia ditakdirkan untuk menjadi pemenang.
Seimbang. Artinya seseorang dalam berpikir dan bertindak haruslah seimbang. Tidak didominan oleh salah satunya saja.

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co