Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah
Bergabunglah dengan Rumah Tahfidz Daar ar-Rahmah

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Umrah dengan 1/2 Harga

LiburanMurah.co

Saturday, December 27, 2008

Dunia Butuh Khilafah, Why Not?


Dunia Butuh Khilafah, Why not?
Oleh. N. Faqih Syarif H
Selama bertahun-tahun, dunia barat terus menggembar-gemborkan bahwa umat Islam di seluruh dunia menginginkan demokrasi dan kebebasan, bukan sistem Islam. Mereka menyebut bahwa hanya sejumlah kecil orang di Pakistan dan Afghanistan yang menginginkan Islam, sementara mayoritas umat islam di dunia menyukai barat dan ingin hidup dan diatur di bawah sistem kapitalisme. Karena itu, kini banyak kalangan Islam modernis dan Islam liberalis yang menyatakan bahwa dunia Islam belum siap menerima dan juga tidak siap menerima dan juga tidak menginginkan sistem Islam. Sementara itu di sisi lain, barat semakin yakin bahwa dunia Islam memang menginginkan sistem Islam dan telah memulai proses dalam mempertahankan dirinya akan munculnya acaman itu. Setidaknya kekhawatiran Bush ketika ada Konferensi Khilafah di Gelora Bung karno 12 Agustus 2007, Dia mengatakan telah berkumpul 100 ribu Ulama radikal untuk mendirikan sebuah Negara Khilafah dari maroko sampai Indonesia dan ini membahayakan demokratisasi di dunia sebagai tata dunia baru. Dewan intelijen Nasional AS telah merilis sebuah laporan atas proyek Global 2020 yang diber judul “Mapping the Global Future” Laporan tersebut menyimpulkan bahwa gagasan di seputar sistem islam mengerucut pada keinginan untuk kembali pada akar ajaran Islam, di mana peradaban Islam berhasil mengubah tatanan dunia di bawah naungan Negara Khilafah. Laporan tersebut juga menyatakan tanpa basa basi bahwa prioritas utama dalam kebijakan AS adalah pada persiapan menghadapi kemungkinan munculnya kembali Negara Khilafah. Laporan lainnya yang dibuat para pembuat kebijakan dan pemikirpemikir di seluruh dunia menyebut-nyebut bahwa ada penyebaran luas ideology yang mengusung semangat pendirian kembali Negara Khilafah.
University of Maryland bulan April 2007 melakukan jejak pendapat di empat Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam atau muslim (Mezir, Pakistan,Maroko, dan Indonesia ), menunjukkan bahwa dukungan luas untuk berdirinya Negara Khilafah disokong olek 75% pendapat. Bangsa –bangsa tersebut mendukung penerapan syariat Islam, menentang pendudukan dan kebijakan luar negeri barat dan menentang pemaksaan penerapan nilai-nilai barat di negeri muslim dan pentingnya penyatuan negeri-negri muslim lainnya dalam semangat pan Islamisme yakni Khilafah. Jejak pendapat missal lainnya dilakukan worldpublicopinion.org di seluruh negeri Muslim di dunia, dan menghasilkan fakta bahwa 70% responden ingin hidup di bawah syariat Islam dan Khilafah. Di Indnesia juga menunjukkan kecenderungan yang sama bahkan sebanyak 80 % mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara hasil survey aktivis gerakan nasionali pada tahun 2006 di UI, ITB, UGM, Unair dan Unibraw. (Kompas,4/3/2008). Survei Roy Morgan Research yang dirilis Juni 2008 memperlihatkan sebanyak 52 % orang Indonesia mengatakan, Syariah Islam harus diterapkan di wilayah mereka.(The Jakarta Post, 24/6/2008). Survei terbaru yang dilakukan oleh SEM Institute menunjukkan sekitar 72% masyarakat Indonesia setuju dengan penerapan syariah Islam.
Di saat para pemikir dan pejabat pemerintahan barat terus menerus mengemukakan ancaman yang muncul akibat tegaknya kembali pemerintahan Islam ini artinya secara implisit mereka menerima bahwa islam memiliki sistem pemerintahan Islam, Malah justru para kaum modernis, liberalis Islam dan umat Islam sendiri yang menyatakan bahwa Islam tidak mengatur bentuk pemerintahan tertentu. Mereka terus mengatakan bahwa apa yang terjadi dalam sejarah Islam besifat spesifik pada zamannya dan tidak dapat dijadikan sebagai acuan bagi pemerintahan islam di zaman sekarang. Guna memahami mitos ini, kita perlu mengkaji kembali berbagai bukti untuk menialai apakah Islam menyediakan sebuah model pemerintahan tertentu atau tidak.
Di dalam berbagai ayat Al-Qur’an sangat menekankan kewajiban untuk memerintah dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. Orang Islam diperintahkan untuk memerintah dengan sistem Islam :
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang yang kafir.(TQS. Al-Maidah (5) :44). Lihat dan baca juga al-maidah :45,47,48 dan 49.
Selain itu, menegakkan agama dan menerapkan syariah dalam segala aspek kehidupan merupakan sebuah kewajiban umat Islam yang tertera dengan jelas dalam setiap bukti tertulis dan tafsir, dan ini tidak akan bisa tercapai bilamana tidak ada penguasa yang memiliki kekuasaan untuk melaksanakannya. Inilah sebabnya mengapa ada banyak sekali bukti bahwa mengangkat seorang pemimpin adalah sebuah kewajiban.
Bukti yang berkenaan dengan kewajiban mengangkat seorang khalifah bagi seluruh umat Islam dapat ditemukan di dalam sunnah dan ijma’ para sahabat. Untuk bukti sunnah, Nafi’ meriwayatkan : “Abdullah bin umar mengatakan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang menarik tangannya dari ketaatan kepada Allah Swt akan menemui-nya di hari kiamat tanpa bukti atasnya, dan barangsiapa yang mati tanpa baiat di lehernya (kepada Khalifah), maka dia mati dalam keadaan jahilliyah.” (HR. Muslim )
Abu Hazim meriwayatkan bahwa ia menemani Abu Hurairah selam lima tahun dan mendengar dia mengatakan sebuah hadits Nabi Saw :
“Para Nabi bergantian mengatur bani Israel, satu demi satu. Apabila seorang Nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya, tetapi tidak aka nada Nabi lagi setelahku. Akan ada Khulafa, dan jumlah mereka banyak. Para sahabat kemudian bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Rasulullah Saw berkata :”Penuhi bai’at kepada mereka satu demi satu dan berikan kepada mereka hak mereka. Allah akan menanyai mereka tentang apa yang dipercayakan kepada mereka.” (HR. Muslim)
Umat Islam perlu juga memahami bahwa sekalipun situasi global saat ini menakutkan, banyak diantara gambaran ini yang hanya sekedar khayalan dan dapat diubah serta diganti. Umat Islam tercatat dalam sejarah pernah menjadi kekuatan adidaya dan memiliki pengaruh yang besar dalam politik internasional setelah abad ke-19. Dengan hancurnya Negara Khilafah 1924, pengaruh internasionalnya pun hilang, karena umat tidak lagi memiliki Negara, dan terombang-ambing dalam situasi kegelapan dan anarki. Akan tetapi dalam satu decade terakhir, telah terjadi perubahan besar yang menandakan akan kembalinya Negara Khilafah sebagai gagasan utama, bahkan di kalangan non-muslim. Setelah merasakan korupnya barat, umat Islam di seluruh dunia menolak kapitalisme sebagaimana ditunjukan oleh hasrat dan keinginan menerapkan syariat Islam, dan kehendak Allah akan mengembalikan Negara Khilafah setelah kehancurannya sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Muhammad saw dalam hadits berikut:
“Masa kenabian akan berlangsung di tengah-tengah kalian sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu datang masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu dating masa kekuasaan yang dzalim (mulkan ‘adlan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu dating masa kekuasaan diktator bengis(mulkan jabariyyan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Setelah itu akan datang kembali masa ke-Khilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian Rasulullah terdiam.” (HR. Ahmad)
(www.faqihsyarif.com atau www.fikrulmustanir.blogspot.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment

Ingin Punya Travel Haji Sendiri?

LiburanMurah.co